Ada Nyanyian Apa di Blog Ini? 21 Juli 2009
Posted by nyanyianbahasa in Ucapan.11 comments
Blog ini berisi tulisan-tulisan tentang bahasa dan sastra Indonesia. Silakan cari tulisan yang teman-teman ingin baca di pilihan kategori (sebelah kanan bawah dari tulisan ini).
Selain itu, teman-teman juga bisa berbagi karya berupa cerpen, puisi, esai, resensi, dan lain-lain. Khusus puisi, kami sediakan halaman tersendiri. Kalau mau memajang karya kalian, kirim saja ke ratron kami di nyanyianbahasa@gmail.com.
Semua tulisan di blog ini boleh dibaca GRATIS. Jika teman-teman ingin memakai tulisan di blog ini sebagai referensi, teman-teman boleh mengutipnya asalkan mencantumkan sumbernya dengan jelas.
Silakan menikmati ^_^
Kalau mau mengikuti perkembangan blog ini, silakan klik di sini.
Pengelola: Melody Violine & Wahyu Awaludin
Jadilah Sang Pemimpi 16 Desember 2009
Posted by nyanyianbahasa in Ucapan.Tags: sang pemimpi
add a comment
Call for Papers Jurnal Kohesi BEM FIB UI 2009 22 November 2009
Posted by nyanyianbahasa in Berita Bahasa, Kepenulisan, Lomba.add a comment
Deadline: 25 November 2009
Redifinisi Identitas Indonesia Melalui Kajian Budaya
“Sebuah bangsa adalah komunitas yang dibayangkan” (Benedict Anderson)
Bagaimana kita membayangkan Indonesia? Konon, benih-benih nation bernama Indonesia lahir ketika para pemuda yang hidup di berbagai daerah koloni bersumpah untuk hidup sebagai satu kelompok yang utuh dan tidak bersekat-sekat. Mereka berjanji untuk “menihilkan” identitas primordial mereka demi sebuah cita-cita yang lebih besar dan lebih luhur. Namun, di era kemerdekaan ini, mutlak dibutuhkan pemaknaan identitas sebuah bangsa majemuk yang bukan hanya sekedar consensus masyarakat. “Indonesia” tidak bisa dengan mudah kita definisikan dengan menunjuk suatu entitas tertentu, karena pada akhirnya “Indonesia” adalah peleburan berbagai macam komponen multietnis pada dirinya sendiri.
Jika kita mendefinisikan identitas sebagai representasi diri yang membuat seseorang atau kelompok dikenal sebagai entitas sosial-budaya, maka setiap upaya redifinisi identitas Indonesia adalah sebuah upaya yang tak mengenal kata akhir. Menyadari hal tersebut, penting bagi kita untuk terus-menerus merumuskan kembali apa itu “Indonesia”. Tapi, adakah satu rumusan yang paling tepat? Bukankah setiap rumusan orang atas “Indonesia” pada akhirnya bermacam-macam dan bahkan saling bertentangan satu sama lain?
Di sini peran culture studies menjadi penting. Melalui kajian budaya kita bisa memperdebatkan wacana identitas bangsa melalui perspektif yang dinamis dengan menunjukkan signifikansi sosial dan kultural identitas itu sendiri. Telusur kekayaan budaya local dalam rangka penemuan unsur “keindonesiaan”, dapat dijadikan sebuah cara perumusan benang merah penjalin identitas tiap elemen bangsa. Dengan kata lain, proses konstruksi identitas bangsa melalui kajian budaya adalah sebuah arena pergulatan banyak pihak dalam upaya memberikan aksentuasi masing-masing ke dalam ruang kosong bernama “Indonesia”.
Departemen Kajian Budaya BEM FIB UI mengajak anda untuk ikut serta berkontribusi dalam penyusunan jurnal mahasiswa yang diberi nama “Kohesi” Volume pertama. Sebagai wadah para intelektual muda untuk memberikan aksentuasi dalam proses pemaknaan “Indonesia” melalui perspektif kajian budaya. Tuliskan gagasan anda dalam bentuk makalah ilmiah dengan ketentuan sebagai berikut:
Prasyarat
1. Warga negara Indonesia.
2. Mahasiswa aktif program sarjana strata satu atau S1.
Ketentuan
1. Paper merupakan hasil tulisan individu bukan kelompok.
2. Tema: “Redifinisi Identitas Indonesia Melalui Kajian Budaya”.
3. Panjang makalah 8 – 12 halaman A4, spasi 1.5, jenis huruf Times New Roman ukuran font 12. Tuliskan abstrak dan kata kunci pada awal makalah.
4. Makalah dikirim dalam bentuk softcopy berformat ms word (.doc atau .rtf) ke alamat e-mail redaksi@kohesi.org
5. Sertakan pula curriculum Vitae (CV) penulis yang minimal berisi:
- Nama lengkap.
- Tempat tanggal lahir.
- Alamat rumah.
- Nomor pokok mahasiswa (NPM).
- Nomor telp/handphone.
- Jurusan dan asal universitas.
- Daftar tulisan ilmiah yang pernah dibuat.
6. CV dan makalah ilmiah dibuat dalam dua file berbeda yang disertakan sebagai attachment e-mail.
7. Dikirim paling lambat tanggal 25 November 2009 pukul 24:00 WIB.
Setiap makalah yang lolos proses penyuntingan oleh dewan redaksi akan diterbitkan pada Jurnal Kohesi volume 1 yang akan diluncurkan pada tanggal 8 Desember 2009 bersamaan dengan seminar nasional Rescuing Our Culture di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia.
Jurnal ini akan dicetak dalam bentuk buku dan didistribusikan ke contributor, perpustakaan, BEM di beberapa universitas luar UI, dan lembaga-lembaga keilmuan tertentu secara gratis. Selain itu, tulisan yang lolos seleksi akan dipublikasikan pula dalam situs resmi Jurnal di http://www.kohesi.org
Apresiasi
12 orang contributor yang tulisannya dicetak dalam format jurnal ilmiah akan diundang dalam acara seminar nasional rescuing our culture tanggal 8 Desember 2009 di kampus FIB UI Depok. Apresiasi berupa piagam penghargaan dan hadiah uang kepada tiga tulisan terbaik.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan gunakan fasilitas forum diskusi di situs http://www.kohesi.org/forum atau hubungi saudara Dimas di:
- 081519950517 (telpon dan sms)
- 021 23745370 (telepon saja).
Mari para intelektual muda, berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia dalam Jurnal Kohesi “Menalar budaya, Menarik makna”.
Salam budaya,
Dimas Prasetyo Muharam
Mahasiswa Prodi Inggris 2007
(Pemimpin Redaksi)
Sumber: http://www.kohesi.org
HIKAYAT NAKHODA ASYIK: RINGKASAN DAN AMANAT YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA 15 November 2009
Posted by nyanyianbahasa in Filologi.Tags: esai, Filologi, hikayat nakhoda asyik, wahyu awaludin
add a comment
Tugas Mata Kuliah
Tradisi Sastra Nusantara
Oleh:
Augtri Asokawati (0806353394)
Fitri Nuraeni (0806466254)
Wahyu Awaludin (0806466380)
Program Studi Indonesia
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
2009
BAB I
PENDAHULUAN
Definisi dari naskah adalah “produk peninggalan masyarakat dahulu kala yang berupa bahan-bahan tulisan yang di dalamnya mengandung hal-hal mengenai sejarah, bahasa, sastra, dan falsafah milik bangsa yang melahirkannya” (Tradisi Tulis Nusantara, 1997: 143). Jumlah sebenarnya dari naskah Indonesia yang diciptakan mungkin tak seorangpun yang mengetahuinya. Apa yang bisa kita ketahui sekarang adalah jumlah naskah yang selamat, terkumpul dan dipelihara di berbagai perpustakaan di dunia, misalnya di Library of Congress, Washington DC, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Pusat Dokumentasi Riau, Arkib Brunei Darussalam, dan Pusat kebangsaan Manuskrip Melayu di Perpustakaan Negara Malaysia. Dikatakan bahwa hingga saat ini, jumlah naskah Jawa saja yang diketahui ada 19.000 naskah. Itu belum termasuk bahasa Sunda, Batak, dan lain-lain. Sedangkan naskah yang kini berada di luar negeri diperkirakan lebih dari 8.000 naskah (Tradisi Tulis Nusantara, 1997: 145).
Sastra Indonesia lama yang begitu banyak jumlahnya itu sudah menjadi warisan budaya bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya yang seyogyianya dihargai dan dilestarikan dengan cara pengalihaksaraan, pendokumentasian, digitalisasi melalui foto atau mikrofilm, penerjemahan, dan penerbitan sastra daerah itu (Mu’jizah, 1995: v).
Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari pelestarian sastra lama, misalnya kita bisa memandang bahwa itu adalah sebuah dialog budaya antardaerah, salah satu alat yang bisa mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan, sebagai warisan rohani kebudayaan dan kearifan bangsa Indonesia zaman dahulu, dan lain-lain.
Sebagai salah satu propinsi di Indonesia, Sumatra Selatan menyimpan sekitar 128 naskah dengan rincian 4 naskah dari Palembang, 22 naskah dari Bangka, 17 naskah dari Belitung, 7 naskah dari Ogan, 21 naskah dari Komering, 11 naskah dari Besemah, 9 naskah dari Musi, 8 naskah dari K.Agung, 9 naskah dari Belide, 7 naskah dari Panesak, 3 naskah dari Ranau, 4 naskah dari Enim, dan 6 naskah dari Rawas (Ekspresi Semiotik, 1997: 14-18). Naskah Palembang sendiri misalnya “Pulau Kemarau”, “Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat”, “Sekerak labu”, dan lain-lain (Ekspresi Semiotik, 1997: 14). Akan tetapi, penulis hanya akan memfokuskan pembahasan pada naskah “Hikayat Nakhoda Asyik.”
Menurut katalogus Ronkel (1909), Howard (1966), dan Sutaarga (1978), naskah “Hikayat Nakhoda Asyik” adalah naskah tunggal atau codex unicus. Hikayat Nakhoda Asyik yang berasal dari Palembang ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta, dengan kode ML (Melayu) 263 dan berukuran 31,5 cm x 22 cm. Naskah ini terdiri dari 140 halaman dan tiap halaman berisi 15 baris. Teks ini ditulis dengan aksara Arab Melayu pada kertas folio polos dan tulisannya masih begitu jelas, jadi masih mudah dibaca. “Hikayat Nakhoda Asyik” ini disalin oleh Encik Muhammad Bakir bin Sofyan Usman Fudoli di Pecenongan, Langgar Tinggi, Betawi, pada tanggal 17 Maret 1890. Sedangkan edisi cetaknya ditulis kembali oleh Mu’jizah , seorang dosen luar biasa Universitas Indonesia yang mengajar sastra Melayu. “Hikayat Nakhoda Asyik” ini diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1995.
Sebenarnya ada begitu banyak hal menarik dari “Hikayat Nakhoda Asyik”. Misalnya saja menurut Abdul Hadi W.M bahwa “Hikayat Nakhoda Asyik termasuk karya sastra campuran antara Hindu dan Islam (www.icas-indonesia.org). Juga hasil dari penelitian yang berjudul “Tiga Karya Penyalin Betawi Muhammad Bakir: Analisis Struktur dan Makna” yang dilakukan oleh Mu’jizah, Sri Sayekti, dan Zainal Hakim tahun 2000 yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, disimpulkan:
“Dalam “Hikayat Nakhoda Asyik” ada hal yang menarik dari struktur ceritanya, yaitu nama tokoh yang dimunculkan sudah menggambarkan karekter sang tokoh, begitu juga dengan latarnya. Nama-nama tempat yang digunakan sudah menggambarkan suasana tempat. Gaya penyampaiannya sangat humoris dan menggunakan bahasa Betawi sebagai sarana” (pusatbahasa.diknas.go.id)
Akan tetapi, penulis hanya akan memfokuskan untuk membahas amanat dari “Hikayat Nakhoda Asyik” saja. Hal ini untuk menghindari agar tidak terjadi pelebaran pembahasan. Tujuan penulis adalah untuk mengetahui amanat-amanat yang terkandung di naskah “Hikayat Nakhoda Asyik” dimana itu merupakan salah satu upaya untuk melestarikan khazanah sastra lama Nusantara. Metode yang penulis gunakan adalah studi kepustakaan.
BAB II
RINGKASAN “HIKAYAT NAKHODA ASYIK”
Di suatu masa terdapat sebuah negeri bernama Negeri Diyarul Asyik. Pemimpin dari negeri tersebut adalah seorang raja yang bernama Raja Sultan Alam Kanjul Patah. Beliau mempunyai istri yang sangat setia bernama Asma Pengasi. Mereka hidup berbahagia karena negeri yang dipimpinnya makmur sentosa. Tidak ada kekurangan sedikit pun dalam segi materi. Akan tetapi, ada hal yang masih membuat raja dan istrinya itu sedih, yaitu ketidakhadiran seorang anak yang pada nantinya akan mewarisi tahta kerajaan.
Raja pun mulai cemas dan ia berinisiatif untuk pergi ke sebuah gunung. Gunung tersebut adalah Gunung Mandali Dilaila. Konon, siapa saja yang memohon dan berdoa di gunung tersebut segala permintaannya akan dikabulkan. Akhirnya, Raja Sultan Alam Kanjul Patah beserta istri dan para pengikutnya pergi ke gunung tersebut. Setelah sampai di gunung itu, mereka bertemu dengan penjaga yang bernama Pendeta Bermanah Berma Bermadu. Pendeta itulah yang memberi tahu tempat berdoa yang tepat. Setelah meminta dan berdoa mngenai apa yang ada di dalam hatinya. Raja beserta istri dan rombongannya kembali ke negeri Diyarul Asyik dengan penuh harapan.
Setelah tiga bulan berselang istri raja itu akhirnya mengandung. Setelah sembilan bulan berada di dalam kandungan, anak yang mereka nantikan akhirnya lahir dan diberi nama Sunkar Bilmalih. Sunkar Bilmalih bertambah usia dan raja pun memberikan pendidikan yang cukup untuknya seperti mengaji, belajar ilmu makna, tafsir, ilmu babad dan ilmu aturan sehingga Sunkar Bilmalih tumbuh menjadi anak yang santun perangainya dan ia mengetahui mana bahasa yang halus dan bahasa yang rendah.
Setelah umur Sunkar Bilmalih genap dua belas tahun, ayahnya ingin memberikan takhta kerajaan padanya dan menawarkan Sunkar Bilmalih untuk memilih perempuan yang ia sukai untuk dinikahinya. Akan tetapi, Sunkar Bilmalih tidak menerima apa yang disarankan oleh ayahnya. Ia malah meminta agar diizinkan untuk pergi ke negeri lain sebagai seorang nakhoda dengan alasan untuk menuntut ilmu dan pergi berdagang karena ia merasa dirinya belum sempurna sebelum melakukan perjalanan ke negeri lain. Raja Sultan Alam Kanjul Patah merasa senang dengan keputusan anaknya yang bikjaksana, ia pun mengizinkan anaknya untuk pergi dan memberikan sebuah kapal beserta isinya untuk diperdagangkan. Beberapa pengikut dari Negeri Diyarul Asyik pun ikut menjadi awak kapal.
Pelayaran pun dilakukan, sampailah di suatu negeri bernama negeri Dendam Kecubung, rajanya bernama laila Sekebun. Melihat Sunkar Bilmalih membawa kapal yang bagus dan barang dagangannya yang mewah banyak rakyat yang menyambutnya dengan suka cita. Di negeri itulah Sunkar Bilmalih mendapatkan banyak sahabat. Setelah beberapa lama berada di dalam negeri Dendam Kecubung, Sunkar Bilmalih ingin melakukan pelayaran ke negeri lain. Sebelum melakukan perjalanan lagi, Sunkar Bilmalih memerintahkan pada Encik Muhibat, seorang yang dituakan dari negeri Diyarul Asyik untuk mengelola dagangannya di negeri Dendam Kecubung. Setelah itu, barulah Sunkar Bilmalih melakukan perjalanan pelayaran.
Di dalam perjalanannya mengarungi lautan, Sunkar Bilmalih melihat ada seorang wanita cantik memakai perhiasan bertahta kerajaan mengapung di lautan. Sunkar Bilmalih pun menyelamatkan wanita itu. Ternyata wanita itu sengaja menceburkan dirinya ke laut karena negerinya sedang mengalami peperangan. Sunkar Bilmalih pun mengajaknya untuk kembali ke negeri wanita itu yang bernama negeri Pasir Berhambur. Di dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan sekoci, ternyata sekoci itu berpenumpang ayah dan ibu dari wanita itu. Mereka melarikan diri dari Negeri Pasir Berhambur karena di sana sedang ada perang antar raja.
Sunkar Bilmalih sangat gembira ketika mengetahui bahwa penumpang sekoci itu adalah raja Anta Berduka, yakni raja negeri Pasir Berhambur. Raja Anta Berduka pun begitu bahagia karena ternyata anaknya, putri Asma Penglipur ada di dalam kapal milik nakhoda Sunkar Bilmalih. Setelah melepas rindu, mereka berdiskusi tentang keadaan negeri Pasir Berhambur dan Sunkar Bilmalih mengambil keputusan untuk menuju ke negeri itu demi menolong.
Akan tetapi, di pelabuhan perbatasan terjadi keributan kecil yang dipicu raja Besi Biru. Menteri Janggarawan, yakni salah satu menteri negeri Pasir Berhambur yang menyamar menjadi rakyat biasa untuk mencari raja Anta Berduka dan putri Asma Penglipur tertarik akan keributan yang terjadi. Tak disangka-sangka Menteri Janggarawan malah bertemu dengan raja Anta Berduka dan putri Asma Penglipur. Hati Menteri Janggarawan begitu senangnya.
Akan tetapi, keadaan di negeri Pasir Berhambur makin genting. Maka Sunkar Bilmalih dan lain-lainnya segera bermusyawarah. Sunkar Bilmalih mengirim surat untuk orangtuanya untuk meminta bantuan pasukan. Maka ketika Sultan Alam Kanjul Fatah membaca surat itu, mengalirlah pasukan dalam jumlah besar menuju negeri Pasir Berhambur. Ketika pasukan besar itu sampai, mereka mendapati pangeran Sunkar Bilmalih dalam kesukaran. Maka, terjadilah peperangan besar yang dimenangkan gabungan kekuatan negeri Pasir Berhambur dan negeri Diyarul Asyik.
Ketika pesta kemenangan sedang berlangsung, raja Anta Berduka dan istrinya berdiskusi tentang calon suami putri Penglipur Lara dan setuju bahwa yang pantas mendampinginya hanyalah Sunkar Bilmalih. Merasa saling jatuh cinta, akhirnya Sunkar Bilmalih dan Asma Panglipur menikah dengan restu dari Raja Anta Berduka. Mereka hidup berbahagia.
Setelah tujuh bulan berada di Negeri Pasir Berhambur sang Nakhoda Sunkar Bilmalih memutuskan untuk kembali berdagang dan melakukan pelayaran ke negeri lain. Dengan berat hati Asma Panglipur merelakan kepergian suaminya. Pelayaran pun dilakukan, dalam perjalanannya sang nakhoda sangat sedih mengingat istrinya. Ia sangat rindu pada Asma Panglipur. Dalam perjalanan tersebut, ia mengganti namanya menjadi Nakhoda Asyik Cinta Berlekat. Akhirnya, pelayaran itu berhenti di sebuah negeri bernama Negeri Diyarul Maksuk. Negeri itu diperintahkan oleh seorang raja bernama Suka Birawan dan beliau mempunyai seorang menteri bernama Menteri Kakanda Titiran. Di dalam negeri itu terdapat sebuah kampung yang bernama Kampung Maksuk Berdendang, di dalam kampung itu banyak terdapat wanita cantik yang pandai bersyair. Lelaki mana pun yang datang ke tempat itu pasti terlena melihat kecantikan dan merdunya para wanita itu bersyair.
Karena terlalu rindu pada istrinya, Nakhoda Asyik Cinta Berlekat pergi ke kampung itu untuk menghibur hatinya. Ia pun bertemu dengan gadis yang amat cantik bernama Asma Tuturan yang merupakan anak dari Ma Manis. Nakhoda Asyik Cinta Berlekat jatuh cinta pada Asma Tuturan begitu pun sebaliknya. Namun cinta mereka tidak tidak begitu saja dapat diresmikan. Nakhoda Asyik harus membeli wanita itu dengan harga yang sangat tinggi. Ia pun memberikan semua kekayaannya pada Ma manis yang merupakan ibu dari Asma Tuturan. Setelah persyaratan itu ditunaikan, akhirnya mereka pun menikah. Tetapi sekarang sang Nakhoda sudah jatuh miskin karena seluruh harta kekayaannya dipakai untuk membeli Asma Tuturan.
Kecantikan Asma Tuturan memang membuat siapa saja merasa terpikat dan menginginkannya untuk dijadikan istri. Begitu juga yang dialami Menteri Kakanda Titiran. Ia sangat menyukai Asma Tuturan. Ia tidak peduli walaupun Asma Tuturan adalah istri dari Nakhoda Asyik Cinta Berlekat. Menteri Kanda Titiran pun akhirnya mencari akal dengan jalan yang sangat tidak manusiawi. Ia menipu Nakhoda Asyik Cinta Berlekat dengan mengajaknya berlibur. Nakhoda Asyik Cinta Berlekat pun ikut dalam perjalanan tersebut. Ternyata Menteri Kanda Titiran mengajaknya ke tempat yang sepi dan sunyi dan di sanalah Menteri Kanda Titiran menyuruh keempat orang suruhannya untuk membunuh Nakhoda Asyik Cinta Berlekat. Akhirnya sang Nakhoda diikat pada sebatang pohon lalu dihanyutkan ke dalam sungai.
Setelah kejadian itu, Menteri Kanda Titiran memberi tahu kepada Asma Tuturan kalau suaminya itu telah diterkam harimau di dalam hutan. Asma Tuturan pun menjadi seperti orang gila yang ditinggal mati oleh suaminya. Asma Tuturan akhirnya melapor pada Raja Suka Birawan bahwa menterinya yang bernama Kanda Titiran telah berbuat jahat pada suaminya. Karena merasa dipermalukan dan takut kalau Raja Suka Birawan tidak menjadikannya menteri lagi, ia pun memfitnah Asma Tuturan dan akhirnya Asma Tuturan dimasukkan oleh Raja Suka Birawan ke dalam penjara. Di dalam penjara Asma Tuturan merasa sangat sedih karena teringat oleh suaminya. Ia yakin kalu suaminya itu belum meninggal. Di dalam penjara Asma Tuturan terus menerus bersyair. Melihat hal itu Raja Suka Birawan merasa iba dan mengeluarkan Asma Tuturan dari penjara.
Setelah dibebaskan, Asma Tuturan meminta kepada Raja Suka Birawan agar diizinkan untuk mencari suaminya. Raja pun memberikan izin kepadanya. Ia mencari suaminya hari demi hari hingga ia sampai di kaki Gunung Gempar Pilu. Di sana ia bertemu dengan seorang tukang kayu. Tukang kayu itu sangat menyukai Asma Tuturan dan tukang kayu itu pun mengajak Asma Tuturan untuk menikah dengannya. Akan tetapi Asma Tuturan menolak ajakan tukang kayu itu. Ternyata tolakan dari Asma Tuturan membuat si tukang kayu amat penasaran. Ia pun menyekap Asma Tuturan dan diikatkan pada sebuah pohon.
Saudagar Asyik Cinta Berlekat telah dianiaya orang. Tubuhnya diikat lalu diceburkan ke sungai. Akan tetapi, setelah beberapa lama terbawa ombak, tubuh Saudagar Asyik pun ditemukan oleh Encik Muhibat. Encik Muhibat senang karena tuannya itu masih hidup. Lalu tubuh Saudagar Asyik pun dibawa berlayar sampai terdampar di kaki Gunung Mandali Dilaila. Di gunung itu, mereka bertemu dengan pendeta Bermadu. Saudagar Asyik pun diobati sampai sembuh. Mereka berdua tinggal di gunung itu selama empat puluh hari. Setelah itu, mereka memutuskan untuk kembali ke negerinya, yaitu Negeri Diyarul Asyik.
Di perjalanan, Encik Muhibat bercerita kepada Saudagar Asyik ketika menemukannya terapung di lautan. Semenjak itu, Saudagar Asyik sadar bahwa dirinya telah dianiaya orang, yaitu Menteri Kanda Titiran, maka muncullah keinginannya untuk balas dendam. Sesampainya di Negeri Diyarul Asyik, Saudagar Asyik bertemu dengan ayah dan bundanya. Bundanya sempat tekejut karena melihat penampilan anaknya yang seperti mayat hidup. Namun setelah itu, mereka merayakan kedatangan Saudagar Asyik selama empat puluh hari.
Di Negeri Diyarul Maksuk, Raja Syauki Birawan sangat merindukan Asma Tuturan yang sedang pergi mencari kekasihnya. Karena lama tidak kembali, raja menyuruh utusannya mencari Asma Tuturan. Di sebuah gunung, seorang hulubalang menemukan Asma Tuturan sedang dianiaya oleh tukang kayu. Lalu, hulubalang itu menolongnya dan membawanya pulang menghadap raja. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan tukang kayu. Karena marah, hulubalang itu pun membunuh tukang kayu tadi. Setelah sampai di istana, raja menuruh Asma Tuturan tinggal.
Di Negeri Diyarul Asyik, Sunkar Bilmalih bermusyawarah dengan teman-temannya hendak menghadap Sultan Kanjul Fatah untuk meminta izin akan menyerang sebuah negeri demi membalas perbuatan Menteri Kanda Titiran. Namun, raja tidak memberi izin maka sedihlah ia. Raja heran karena melihat Sunkar Bilmalih terus bersedih. Lalu suatu hari, raja bertanya kepada Sunkar Bilmalih perihal kelakuannya yang terus murung itu. Sukar Bilmalih menjawab bahwa ia sedih karena telah meninggalkan istrinya di Negeri Pasir Berhambur dan sekarang ia sangat merindukan istrinya itu. Akan tetapi, ia tidak berani mengungkapkan masalah balas dendamnya lagi. Setelah mendengar perkataan anaknya, raja mengizinkan Sunkar Bilmalih pergi untuk menjemput istrinya, yaitu Asma Penglipur. Ia pergi bersama sebagian rakyat dan bala tentara dengan tujuh buah kapal. Sebelum sampai ke tujuan, mereka singgah dulu di Gunung Mandali Dilaila untuk memberi harta dan makanan kepada pendeta. Tetapi setelah ditemui, pendeta ingin ikut. Jadi, mereka pergi bersama-sama. Setelah beberapa lama, mereka tiba di Negeri Pasir Berhambur. Kedatangan mereka disambut dengan meriah.
Di Negeri Darul Maksuk, Asma Tuturan tidak henti-hentinya bersyair mengingat kekasihnya yang tak kunjung kembali. Menteri Kanda Titiran yang baru saja dilepaskan dari penjara merasa tidak tahan dan kecewa karena cintanya pada Asma Tuturan hanya bertepuk sebelah tangan. Demi melampiaskan kekecewaannya itu, menteri dan para pengikutnya membuat huru-hara hingga akhirnya menteri itu dihukum mati oleh raja karena terbukti bersalah.
Di Negeri Pasir Berhambur, Sunkar Bilmalih beserta istrinya, Asma Penglipur, menghadap Raja Anta Berduka untuk memohon undur diri karena sudah waktunya bagi mereka melaksanakan rencana selanjutnya, yaitu menyerang Negeri Darul Maksuk. Di sana terjadi peperangan besar antara Sunkar Bilmalih beserta rakyat Diyarul Asyik dengan Raja Birawan beserta rakyat Darul Maksuknya. Asma Penglipur dan Asma Tuturan pun ikut berperang dengan memakai baju laki-laki membantu Sunkar Bilmalih. Raja Birawan tewas dalam pertempuran itu. Setelah perang itu usai, Sunkar Bilmalih sangat sedih karena istri dan kekasihnya tidak kunjung kembali. Selain itu ia sedih karena ternyata ia masih bersaudara dengan Raja Birawan yang tewas itu. Lalu ia meminta Sunca Rama menggantikan posisinya sebagai raja. Kedua istrinya pun dilepaskan dari penjara. Sunkar Bilmalih pulang ke Negeri Diyarul Asyik bersama kedua istrinya. Mereka disambut gembira oleh ayah dan bundanya.
Namun, tidak lama dari itu Raja Kanjul Fatah meninggal karena sakit, lalu Sunkar Bilmalih menggantikan posisinya sebagai raja. Selama hidupnya, ia dikaruniai dua orang anak dari Asma Penglipur. Yang pertama bernama Bujangga Tala dan yang kedua bernama Sahriuna. Sejak kecil mereka telah diajari berbagai macam ilmu pengetahuan karena ayahnya (Sunkar Bilmalih) ingin anak-anaknya menjadi penerus kerajaan. Namun sayang, setelah Sunkar Bilmalih wafat, anak-anaknya berselisih karena berebut kekuasaan. Akhirnya, Bujangga Tala keluar dari kerajaan bersama istrinya dan Sahriuna menjadi raja di Negeri Diyarul Asyik yang kemudian diganti menjadi Negeri Banduburi.
BAB III
AMANAT YANG TERKANDUNG DALAM
”HIKAYAT NAKHODA ASYIK”
Dalam “Hikayat Nakhoda Asyik”, terdapat banyak amanat yang tersirat, di antaranya:
3.1 Rajin Menuntut Ilmu
Ketika Sultan Kanjul Fatah ingin mengangkat Sunkar Bilmalih sebagai raja di kerajaan Diyarul Asik dan menyuruhnya untuk mencari seorang istri untuk menemani kehidupannya, Sunkar Bilmalih menolak secara halus kerena ingin menuntut ilmu terlebih dahulu.
3.2 Berani Mengelilingi Dunia untuk Berbisnis
Setelah Sunkar Bilmalih selesai menuntut ilmu, beliau berkehendak untuk berdagang bermacam-macam dagangan ke luar negeri untuk melihat satu per satu peraturan dan adat tabiat yang sempurna di negeri yang akan dikunjunginya.
3.3 Sikap Tolong Menolong dalam Kehidupan
Sunkar Bilmalih mau membantu kerajaan yang sedang mengalami kerusuhan di salah satu negeri yaitu Negeri Pasir Berhambur. Beliau bersikap ksatria dan tidak takut berperang dengan ketiga raja di negeri tersebut yang sedang berselisih.
3.4 Jangan Mencintai Seseorang secara Berlebihan
Dalam cerita ini dikisahkan ada seorang gadis bernama Asma Tuturan yang mempunyai wajah cantik. Setiap pemuda yang melihatnya akan terpesona dengan kecantikannya. Banyak pemuda yang dibuat mabuk kepayang oleh gadis tersebut, salah satunya adalah Sunkar Bilmalih dan Menteri Kanda Titiran. Walaupun Sunkar Bilmalih telah mempunyai istri di negeri sebelumnya, beliau tetap menikahi gadis tersebut. Begitu juga dengan Menteri Kanda Titiran, karena terlalu cintanya ia oleh Asma Tuturan hingga membuatnya berani berbuat nekat untuk merebut gadis yang dicintainya itu dari suaminya, yaitu Sunkar Bilmalih.
3.5 Jangan Bertindak Gegabah
Peristiwa ini terjadi saat Sunkar Bilmalih menyerang kerajaan Diyarul Maksuk tanpa sepengetahuan ayahnya yaitu Kanjul Fattah. Pada saat Negeri Diyarul Maksuk kedatangan menteri yang ingin menguasai semua wanita penyair dari kampung Maksuk Berdendang, banyak orang yang ingin mempertahankannya sehingga terjadi keributan besar. Nakhoda Asyik pun ada di situ dan ikut dalam pertempuran. Ternyata, Suka Birawan, teman Nakhoda Asyik itu yang berkhianat. Dalam perkelahian itu, Nakhoda Asyik membunuh Suka Birawan yang faktanya adalah pamannya sendiri. Hal ini membuat Nakhoda Asyik sanagt menyesal.
3.6 Perselisihan Antarsaudara akan Menimbulkan Kerugian
Dalam cerita ini dikisahkan, sepeninggal Sunkar Bilamlih, kedua anaknya yang bernama Sahriuna dan Bujang Tala saling berselisih untuk merebut kekuasaan di kerajaan peninggalan ayahnya. Hal ini membuat mereka berdua terpecah dan tali persaudaraan mereka terputus.
3.7 Jangan Menjadi Seorang Pendendam
Hal ini terbukti dari dendam Sunkar Bilmalih kepada Menteri Kanda Titiran karena telah berlaku tidak manusiawi kepadanya, hal ini membuat hati Sunkar Bilmalih menjadi tidak tenang karena diliputi oleh perasaan dendam ingin membalas perbuatan Kanda Titiran.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sebagai salah satu naskah sastra Indonesia lama, “Hikayat Nakhoda Asyik” perlu dilestarikan. Salah satu caranya adalah lewat penyalinan kembali karena “Hikayat Nakhoda Asyik” menyimpan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, seperti kebiasaan nenek moyang bangsa Indonesia yang suka melaut. Namun, penelitian kami lebih difokuskan kepada nilai amanat yang terkandung dalam “Hikayat Nakhoda Asyik” tersebut.
Kami menyimpulkan bahwa “Hikayat Nakhoda Asyik” mengandung nilai-nilai amanat yang terpuji seperti rajin menuntut ilmu, berani mengelilingi dunia untuk berbisnis, sikap tolong menolong dalam kehidupan, dan lain-lain. Di samping sikap terpuji, “Hikayat Nakhoda Asyik” juga mengandung sikap tercela yang sebaiknya kita jadikan pelajaran dalam kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
—. Tradisi Tulis Nusantara; Kumpulan Makalah Simposium Tradisi Tulis Indonesia 4-6 Juni 1996. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara, 1997.
Behrend, T.E., editor. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4; Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor dan Cole Francaise D’extreme-Orient, 1998.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ekspresi Semiotik; Tokoh Mitos dan Legendaris dalam Tutur Sastra Nusantara di Sumatera Selatan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1997.
Ekajati, Edi Suhardi dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Direktori Naskah Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000
Pudjiastuti, Titik. Naskah dan Studi Naskah. Bogor: Academia, 2006.
Yumsari Yusuf. Unsur Sejarah dalam Naskah Melayu Koleksi Museum Nasional. Jakarta: Proyek Pengembangan Museum Nasional, 1987
Internet
Tempointeraktif.com (diakses 27 Maret 2009)
—. “Mu’jizah.” Style Sheet. http://openlibrary.org/a/OL99505A/Mu%27jizah (diakses 27 Maret 2009)
—, “Penelitian.” Style Sheet. http://pusatbahasa.diknas.go.id/laman/index.php?info=penelitian&infocmd=show&penelitian_name=&penelitian_title=&penelitian_subyek=&infoid=341&row=3 (diakses 27 Maret 2009)
—, “Hikayat Nakhoda Asyik”. Style Sheet. http://dewey.petra.ac.id/lib_search_simple.php?kode=899&keyword=Mu%27jizah&source=author&npage=1 (diakses 27 Maret 2009)
W.M, Abdul Hadi. “Sejarah Intelektualisme Islam Nusantara.” Style Sheet. http://www.icas-indonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=362&Itemid=1&lang=iso-8859-1(diakses 27 Maret 2009)
[Cerpen] Aaarrgh!!! 14 November 2009
Posted by nyanyianbahasa in Ucapan.3 comments
Oleh: Tuslianingsih
Mahasiswa Sastra Indonesia UI angkatan 2006
Tugas Mata Kuliah
Penulisan Populer 1 Bertema Bebas
Aku baca kembali tulisanku sebelum menge-save-nya untuk blogku. Setelah yakin bahwa tidak ada kata-kata yang salah, aku pun memilih submit agar tulisan tersebut dapat dibaca oleh orang yang mengaksesnya, kemudian aku menghapus airmataku yang sudah mengalir sejak tadi.
“Kenapa harus selalu seperti ini? Emangnya gue diciptakan hanya untuk patah hati?” tanyaku lebih kepada diri sendiri.
Sudah tiga kali aku berpacaran dan entah kenapa ketiganya berakhir dengan menyakitkan.
Temanku pernah berkata, “Udah deh, nggak usah dipikirin! Cowok emang gitu, kan gue pernah bilang, di dunia ini hanya ada dua jenis cowok, kalau nggak brengsek berarti dia gay!”
Saat itu aku tertawa terbahak-bahak, meskipun tidak sepenuhnya benar tetapi aku merasa senang dengan kalimat tersebut dan jujur saja, hal itu sedikit menghiburku. “Berarti cowok brengsek normal ya…ha…ha…!” balasku ketika itu, tentu saja sambil tertawa dan menghibur diri.
Aku mengucek-ngucek mataku dengan kesal karena airmataku terus saja mengalir. “Udahlah Mel, ngapain sih lo masih mikirin cowok-cowok brengsek itu.” Umpatku pada diri sendiri.
Aku berbaring di atas kasurku sambil menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba saja aku teringat dengan kisah cintaku yang tidak sempurna. Semua kenangan itu mengalir begitu saja dalam ingatanku.
Pacar pertamaku, kukenal ketika aku masih di kelas 2 SMA. Aku bergabung dengan band sekolah sebagai vokalis. Aku adalah satu-satunya wanita dalam grup band tersebut dan satu-satunya anak 2 IPA. Tidak lama bergabung dengan band itu, aku dekat dengan sang gitaris bernama Fendi. Pada akhirnya dia berhasil meyakinkanku dan aku pun bersedia menjadi pacarnya. Dengan alasan menjaga kesolidan dengan sesama personil, kami pun sepakat untuk merahasiakan hubungan kami.
Fendi merupakan pria paling romantis yang pernah aku kenal. Seringkali dia datang ke rumahku dengan gitarnya dan memberiku bunga lalu menyanyikan sebuah lagu ciptaannya yang dia buat khusus untukku. Aku pun seperti merasa di atas awan mendengar lagunya yang begitu indah. Tak jarang, kami menyanyikannya bersama dan merekamnya di MP4 milikku.
Kebersamaan kami memang hanya di rumahku karena waktu kami terbagi antara sekolah dan latihan band. Di sekolah, kami sulit untuk bertemu karena pelajaran kelas IPA jauh lebih padat dibandingkan IPS, sedangkan saat latihan band kami bersikap sebagai teman untuk menyembunyikan hubungan kami yang sebenarnya kepada personil band lainnya.
Pada suatu hari, Fendi tidak ikut berlatih dengan alasan sakit. Ketika itu, kami sedang merasa bosan, lagu ciptaan kami belum banyak. Akhirnya aku memutuskan untuk menyanyikan lagu ciptaan Fendi. Aku memutar rekaman yang telah kami rekam dan mendengarkannya untuk yang lain. Sesaat mereka berpandangan dan secara bersamaan menatapku dengan ekspresi heran.
“Itu bukannya lagu yang dimainin Fendi waktu nembak Sandra ya?” tanya salah satu dari mereka untuk memastikan.
“Iya bener! Kok lo bisa dapet rekamannya?” tanya yang lain.
Deg!!! Seketika duniaku seperti berhenti. “Sandra? Siapa? Fendi nembak Sandra?” tanyaku tanpa sadar, suaraku pun seperti berbisik.
Saat itu, barulah aku mengetahui yang sebenarnya, bahwa sebelum denganku, Fendi berpacaran dengan Sandra, lalu hubungan mereka bermasalah dan akhirnya mereka memutuskan untuk break. Di saat itulah, Fendi menembakku dan kami berpacaran. Selama kami berpacaran, Fendi tidak pernah bercerita sedikit pun tentang Sandra.
Tiga bulan kami berpacaran, Sandra memohon untuk melanjutkan hubungan mereka dan akhirnya Fendi menyetujuinya. Dan aku sama sekali tidak tahu menahu tentang hubungan mereka. Dengan kata lain, aku merasakan sakit karena perselingkuhan. Setelah tahu, aku langsung meminta putus dan tidak peduli akan permintaan maaf darinya. Fendi adalah pacar pertamaku. Maka, wajar jika seketika itu hatiku hancur, seperti kaca yang telah jatuh berkeping-keping. Meskipun ada permintaan maaf, tetap saja, kaca yang sudah hancur akan sulit untuk disatukan seperti sedia kala.
Setelah itu, selama beberapa bulan, aku sendiri. Kekosongan itu, kuisi dengan belajar, membaca buku-buku pelajaran, hingga setelah Ujian Akhir 3 SMA, aku mulai membuka diri. Kuikuti semua kegiatan yang dibuat oleh teman-teman sekelasku, mulai dari acara ulang tahun, pergi ke taman hiburan, hingga hanya kumpul-kumpul biasa.
Sampai akhirnya aku tertarik dengan salah satu temanku, bagiku dia pria yang unik, karena sering bertanya padaku tentang wanita, baik secara fisik maupun sifat. Dari situlah aku tahu bahwa dia tidak pernah pacaran. Aku merasa lucu saja dengan keluguannya, apalagi ketika dia berkata, “Gue pengen banget ngerasain pacaran sebelum lulus SMA deh.”
Saat mendengarnya aku tertawa. “Kasian banget sih lo…. Ngapain sih pacaran, nggak guna.” kataku ketika itu.
“Elo sih enak bilang gitu soalnya lo pernah pacaran. Lha gue? Sekalinya nembak cewek ditolak, makanya gue nggak pernah lagi nembak cewek.” Jawabnya ketika itu dengan wajah yang cemberut.
Ini dia salah satu yang membuatku menyukainya. Sikapnya yang childish sangat menggemaskan, membuatku tertantang dan ingin membantunya. “Makanya kalau mau nembak cewek liat-liat, lagian nembak cewek yang populer, mana mungkin dia mau sama elo,” kataku sambil tertawa.
“Terus siapa dong?” tanyanya sambil menatapku. Aku membalas tatapannya dan tersenyum.
Akhirnya ketika kelulusan, dia pun menembakku. Aku menerimanya dengan senang hati. Ketika itu aku hanya tertantang untuk memberinya kesempatan berpacaran, tetapi ketika menjalaninya aku merasa sangat sayang padanya. Bahkan aku merelakan ciuman pertamaku untuknya. Abis, sebelum dia menciumku, dia berkata. “Boleh nggak, suatu hari nanti aku cium kamu?”
Aku bahagia karena aku menyayanginya meskipun setelah itu kami berkuliah di tempat yang berbeda dan membuat kami hanya bertemu seminggu sekali karena kegiatan yang juga berbeda. Hubungan tersebut berjalan sampai setahun lamanya. Namun, aku merasa hubungan itu sudah berbeda. Kami sangat jarang bertemu, jika aku tidak meneleponnya maka ia akan beralasan untuk tidak bertemu. Aku memercayainya seratus persen, meskipun dia seseorang yang mudah disukai tetapi aku sangat yakin bahwa dia tidak akan menduakanku seperti mantanku yang terdahulu. Oleh karena itu, aku terus berpikir positif.
Namun, karena merasa hubungan kami menggantung. Tepat satu tahun lebih seminggu hubungan kami berjalan, aku pun meminta putus darinya. Dia langsung menolak dan berkata tidak mau putus dariku. Akhirnya aku memintanya untuk introspeksi diri dan aku memutuskan untuk break selama sebulan. Dia pun menyetujuinya.
Selama sebulan itu, dia selalu meng-sms setiap hari, menelepon seminggu sekali tetapi tidak kuijinkan dia untuk datang ke rumah. Setelah sebulan berlalu, aku memintanya datang. Akhirnya kami bertemu, setelah berbicara baik-baik dan kutanyakan apakah dia akan mengubah sikapnya. Dia hanya terdiam dan akhirnya kami memutuskan untuk putus. Kami pun putus secara baik-baik.
Kala itu aku lega karena pada akhirnya aku bisa mengakhiri suatu hubungan secara baik-baik tidak dengan perselingkuhan dari pasanganku. Namun, kebahagianku hanya berlangsung sesaat karena mendengar perkataan temanku.
“Lo udah putus sama Marcel ya?” tanya temanku memastikan. “Siapa yang mutusin?” tanyanya kembali ketika melihatku mengangguk.
“Sama-sama, kita putus secara baik-baik kok,” jawabku.
Temanku mengangguk-angguk.
“Emang kenapa?” tanyaku setelah melihat temanku hanya mengangguk-angguk.
“Enggak, gue pikir dia ngeduain elo soalnya gue sering banget ngeliat dia jalan sama cewek yang sama, bahkan waktu tahun baruan, dia bawa cewek itu nginep di hotel. Eh nggak tahunya emang udah putus,” jelas temanku sambil tersenyum.
Seketika aku terkejut. “Tahun baru?” tanyaku memastikan. “Gue tuh putus sama dia baru sebulan yang lalu, tahun baru tuh gue belum putus.” kataku setengah menjerit. “Lo tahu darimana kalau mereka nginep di hotel?”
“Marcel sms cowok gue nanyain gimana caranya supaya ceweknya nggak hamil soalnya mereka maen nggak pake pengaman,” jelas temanku. “Tadinya gue pikir itu elo, tapi kata cowok gue bukan.”
“Kok lo nggak ngomong ke gue?” tanyaku menyalahkannya.
“Maaf….!!! Karena gue pikir lo berdua udah putus, lagian kita kan baru ketemu sekarang.” Kata temanku sambil mengatupkan tangannya.
“Kan lo bisa sms gue!” teriakku padanya. Tetapi ketika menyadari bahwa temanku tak bersalah. Aku pun hanya bisa berteriak. “Aaaaarrrrgggh!!!” teriakku histeris. “Kenapa sih dia juga brengsek, gue pikir kita putus secara baik-baik tapi ternyata…. Anjrit! Gue digilir! Kebayang nggak sih, abis dia nyium tuh cewek, terus dia nyium gue? Iiiih, amit-amit!!!” kataku sambil menggosok-gosok bibirku berulang-ulang. “Untung gue nggak ML sama dia, kalau sampe gue ngasih keperawanan gue ke dia, bisa bunuh diri saking nyeselnya!!!” teriakku emosi. “Ugh, gue sumpahin dia kena Raja….”
Temanku langsung membekap mulutku agar tidak melanjutkan sumpah serapahku itu. “Ya udahlah, lo lupain aja, seharusnya lo bersyukur karena lo tahu belakangan dan lo dijauhin sama cowok brengsek kayak dia.”
“Nah itu masalahnya!!!” sahutku. “Gue emang beruntung bisa terlepas dari dia tapi yang nggak gue terima, dia ngeduain gue dan gue baru tahu setelah putus. Bodoh banget kan gue.” Teriakku, tiba-tiba airmataku mengalir. “Setidaknya kalau sebelum putus gue tahu perbuatannya, kan gue bisa nampar dia, gue bisa caci maki dia. Tapi sekarang? Gue udah nggak ada hak untuk marah-marah ke dia.” Temanku pun langsung memelukku ketika melihatku sesugukkan. “Tadinya gue rasa, dia mantan gue yang paling gue sayang dan yang paling sayang sama gue, tapi ternyata….. Dan yang lebih sakit, gue putus secara baik-baik sehingga terakhir yang gue kenal Marcel yang baik bukan Marcel tukang selingkuh.”
Lama aku larut dalam kesedihan itu. Bahkan teman-temanku berkata bahwa aku hidup dalam ekspresi semu. Wajahku tertawa dan selalu dihiasi senyum bahkan suaraku selalu terdengar ceria. Akan tetapi mereka berkata bahwa mataku kosong.
Semua itu terus berlanjut selama setahun lamanya, hingga pada suatu organisasi aku dikenalkan temanku kepada seorang cowok dari universitas lain. Nama cowok itu Erik. Dari Erik lah aku tahu apa itu cinta. Cinta bukanlah kata-kata indah yang akan membuat seorang wanita luluh. Cinta juga bukan pengucapan kata cinta dan sayang tanpa sebuah pembuktian. Namun cinta adalah pengorbanan. Dan Erik telah melakukannya untukku.
Selama pendekatan, tidak pernah sekalipun dia mengucapkan kata cinta dan sayang. Dia hanya memperhatikanku dari jauh, awalnya aku heran tetapi ketika dia melihatku mengalami kesulitan, dia langsung membantuku bahkan tanpa berkata-kata. Setelah membantuku dan aku mengucapkan terima kasih maka dia hanya tersenyum, mengangguk, dan kembali ke tempatnya semula.
Sampai pada suatu hari, aku hampir mengalami kecelakaan karena aku cenderung melamun setiap waktu karena pengkhiatan mantan pacarku sebelumnya. Ketika itu, aku menolak diantar pulang olehnya sehingga ia mengantarku sampai jalan raya. Ketika aku menyuruhnya untuk pergi karena angkutan umum yang kutunggu sudah datang, dia pun menurut. Namun, ketika kunaik, tiba-tiba ada motor yang menyerempet tubuhku sehingga aku terlempar dan mengalami luka ringan. Semenjak itu, dia memaksaku agar aku mau diantar jemput olehnya, baik ke kampus ataupun ke perkumpulan organisasi tersebut. Padahal rumah kami berjauhan dan universitas kami pun berlawanan arah tetapi dia tetap memaksaku.
Saat itu dia berkata. “Gua harap lo nggak nolak, kalaupun lo tetep nggak mau gua anter jemput, berarti lo harus janji sama gua kalau lo nggak akan bengong lagi, lo juga harus janji sama gua kalau tatapan mata lo nggak akan sedih lagi.”
Saat mendengar itu, aku terdiam. Beberapa saat kemudian, aku menjawab. “Kalau itu gue nggak bisa janji.” Jawabku singkat.
“Kalau gitu, gua akan anter jemput lo karena gua nggak bisa ngeliat elo terluka kayak kemarin.” Jawabnya sambil menatapku tajam.
Dan memang benar, setelah itu Erik selalu mengantar jemput aku dengan motornya, selama mengendarai motor pun dia selalu berhati-hati. Hari-hari terus berlalu, segala pengorbanannya membuat aku mulai mencintainya. Hingga tepat di hari ulang tahunku, jam dua belas malam, dia datang ke rumahku dengan membawa bunga, parcel cokelat, dan blackfores.
“Gua dateng ke sini hanya untuk nganterin semua kesukaan lo dan ngucapin….” tiba-tiba dia menciumku. “Selamat ulang tahun.” Begitulah, tanpa ucapan cinta dan sayang, aku dan Erik pun berpacaran.
Aku seperti mempunyai hari baru yang penuh warna, hatiku yang retak mulai menyatu perlahan-lahan, dan saat itu aku merasa sangat bahagia berada di sampingnya. Dan aku pun mulai menulis blog di friendster, kutulis kebahagianku, primary foto pun kutampilkan fotoku bersama Erik. Hingga pada suatu hari, kutemui pesan di friendsterku.
“Lo siapa? Ada hubungan apa sama Erik? Gue cuma mau ngasih tahu, kalau Erik itu tunangan gue.” Kalimat-kalimat itulah yang tertera di sana, pada primary fotonya menampilkan wajah seorang wanita. Cantik. Bahkan sangat cantik.
Esoknya langsung kutanyakan kebenaran hal itu pada Erik. Erik terdiam sesaat kemudian menghela napas. “Iya, aku emang udah tunangan sama dia.”
Hatiku yang sudah mulai pulih, kembali hancur. Aku menangis.
Melihat itu, Erik langsung memegang tanganku. “Tapi pertunangan itu nggak berdasarkan cinta.”
“Lalu apa? Kamu mau bilang kalau kamu dijodohin sama orangtua kamu? Sama aja Rik, kamu udah ngebohongin aku. Toh, akhirnya kamu nikah sama dia. Lalu aku? Lebih baik dari awal aku nggak pernah kenal sama kamu kalau akhirnya aku harus ngelepas kamu.”
“Maafin aku. Coba aja aku nggak ngelakuin kesalahan itu jadi aku nggak akan tunangan sama dia.” jelas Erik sambil tetap menggenggam tanganku.
“Kesalahan?”
“Waktu prom night aku mabok, sehingga aku ngelakuin “itu” sama dia. Besoknya, dia minta aku untuk nikahin dia karena aku udah ngambil keperawanannya, aku nggak mau. Akhirnya, dia dan orangtuanya dateng ke rumah untuk minta pertanggungjawaban. Tapi karena dia nggak hamil, orangtuaku dan orangtuanya pun sepakat agar aku tunangan sama dia terlebih dahulu.” Setelah berkata seperti itu, dia terus menatapku penuh harap.
Aku membalasnya dengan tatapan penuh benci. Seketika dia sadar bahwa aku belum memafkannya.
“Tolong jangan tinggalin aku, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku sama sekali nggak cinta sama dia.” Ucapnya seketika.
Seharusnya aku gembira mendengar kalimat-kalimat itu karena baru kali itu dia menyatakan cinta dan sayang dengan perkataan. Tapi semua telah terlambat. Aku sudah meyakinkan diriku bahwa aku tidak percaya lagi akan kata cinta.
Wajar jika Anjing dan Babi tidak pernah setia pada pasangannya.
Toh, mereka hanya memiliki hawa nafsu
dan tidak mempunyai akal untuk berpikir.
Akan tetapi….
jika manusia tetap selingkuh padahal bisa mengendalikan hawa nafsu
dan mempunyai akal untuk berpikir.
Itu berarti dia tak ubahnya seperti Anjing dan Babi.
Bahkan di mata gue,
Anjing dan Babi masih lebih tinggi derajatnya daripada manusia itu.
Beberapa bulan kemudian …..
Kini aku berpacaran dengan dua orang cowok. Dua-duanya berkata bahwa mereka mencintai dan menyayangiku melebihi pacar mereka masing-masing. Sering mereka berjanji bahwa suatu hari nanti mereka akan memutuskan kekasih mereka agar bisa menjadi milikku seutuhnya. Aku pun hanya tersenyum tidak berkomentar karena bagiku kata cinta yang mereka ucapkan tak lebih dari sekadar kata, kata sayang hanyalah kata lain dari ego yang hanya ingin memiliki, menguasai, dan mengejar status. Oleh karena itu, aku lebih memilih diam dan menikmati menjadi selingkuhan dari dua orang laki-laki yang tidak mengenal satu sama lain itu.
Biarlah mereka menyangka bahwa aku sangat cinta dan sayang pada mereka sehingga aku mau menjadi selingkuhan mereka. Namun, yang sebenarnya, aku begini karena aku lelah patah hati, aku lelah dengan hubungan yang berakhir dengan perselingkuhan, aku lelah menjalani kisah cinta yang penuh dengan kepura-puraan. Aku lebih memilih seperti ini, setidaknya bukan aku yang mereka selingkuhi, bukan?
Dan yang lebih enaknya, jika nanti aku mulai bosan dengan mereka, aku akan meninggalkan mereka dan mencari “Anjing” dan “Babi” lainnya untuk kujinakkan.
Peralihan Teater Profesional ke Teater Amatur 14 November 2009
Posted by nyanyianbahasa in Cerpen, Penulisan Populer.add a comment
Oleh: Wahyu Awaludin
Mahasiswa Sastra Indonesia UI 2008
Zaman Jepang menunjukkan dengan jelas peralihan teater profesional ke teater amatur. Teater profesional adalah teater yang lebih mementingkan unsur seni dan hiburan, sedangkan teater amatur lebih mementingkan unsur pemikiran. Peralihan ini terlihat jelas jika kita mengamati perbedaan-perbedaan antara teater profesional dan teater amatur pada zaman itu. Berikut beberapa perbandingannya.
Dari segi tempat pertunjukan: teater profesional bersifat berpindah-pindah tempat. Hal ini bisa terjadi karena mata pencaharian tim teater profesional memang dari bermain teater, jadi mereka harus “mencari penonton” dan “lahan basah”, sedangkan teater amatur biasanya terpusat di satu kota dan lebih mementingkan berpentas di tempat-tempat bergengsi, karena tujuan mereka memang menyebarkan pemikiran tertentu. Dan tim teater amatur bisa melakukan itu karena mata pencaharian mereka sebenarnya begitu beragam (bukan dari bermain teater).
Dari segi naskah: teater profesional memandang naskah hanya sebagai tema besar. Ketika mementaskannya, mereka melakukan banyak improvisasi. Hal ini bisa dimengerti karena mereka sudah terbiasa bermain, sedangkan tim teater amatur harus menghafalkan naskah karena mereka tidak terbiasa bermain teater.
Dari segi para pemain: pemain teater profesional biasanya terdiri dari para petani dan rakyat kecil lainnya, sedangkan tim teater amatur biasanya dari para pelajar dan kaum intelektual. Ini bisa dimengerti karena memang tujuan teater amatur adalah menyebarkan pemikiran.
Dari segi penonton: biasanya para penonton teater profesional datang hanya untuk bersenang-senang dan terdiri dari berbagai lapisan, sedangkan penonton teater amatur menonton untuk mencari hiburan sekaligus mendapatkan pemikiran baru dan penontonnya biasanya dari kalangan kaum terpelajar.
Dari segi pendanaan: teater profesional mungkin mempunyai satu atau dua orang investor yang berminat menanamkan modalnya di dunia seni teater untuk komersialisme, sedangkan teater amatur mutlak harus mempunyai investor yang ingin menanamkan modalnya di segi intelektualisme, karena teater amatur jelas tidak menguntungkan. Proytek teater amatur adalah proyek idealisme.
Dari perbandingan di atas, jika ingin mencari kualitas, carilah tim teater amatur, tetapi jika ingin mencari teater yang mudah dimengerti, carilah tim teater profesional. Dalam perkembangannya (di zaman Jepang), yang mendominasi sejarah teater adalah teater amatur, sedangkan seni teater profesional bergeser ke arah seni film Indonesia.
Teater Indonesia tahun 1950-an
Pelopor Sandiwara Maya
Seni modern Indonesia mulai berkembang mulai di zaman Jepang. Pada waktu itu, para seniman berkumpul di Pusat Kebudayaan yang didirikan oleh pemerintah Jepang. Di sana berkumpul golongan tua dari Balai Pustaka maupun golongan muda seperti Chairil Anwar (sastra), Umar Ismail (teater), dan lain-lain.
Pada tanggal 27 Mei 1944, Umar Ismail membentuk “sandiwara penggemar” Maya. Menurut HB Jassin, Armijn Pane, dan lain-lain, tim teater inilah yang menjadi pelopor seni teater modern Indonesia dan yang menjadi dasar inspirasi grup-grup teater selanjutnya.
Taksonomi Hierarki Verba Ambil 8 November 2009
Posted by nyanyianbahasa in Ucapan.add a comment
Ini makalah yang dibuat oleh Kinanti Putri Utami sebagai tugas ujian akhir semester mata kuliah Semantik.




