Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Blog ini berisi tulisan-tulisan tentang bahasa dan sastra Indonesia. Silakan cari tulisan yang teman-teman ingin baca di pilihan kategori (sebelah kanan dari tulisan ini).

Selain itu, teman-teman juga bisa berbagi karya berupa cerpen, puisi, esai, resensi, dan lain-lain. Khusus puisi, kami sediakan halaman tersendiri. Kalau mau memajang karya kalian, kirim saja ke ratron kami di nyanyianbahasa@gmail.com.

Semua tulisan di blog ini boleh dibaca GRATIS. Jika teman-teman ingin memakai tulisan di blog ini sebagai referensi, teman-teman boleh mengutipnya asalkan mencantumkan sumbernya dengan jelas.

Silakan menikmati ^_^

Ikutilah kami di Twitter dengan mengeklik gambar di bawah ini!

Pengelola: Melody Violine & Wahyu Awaludin

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 59.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 22 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Melody Violine

Rangkuman Bacaan Dialektologi

Perkembangan Dialektologi 1800-1950

Meskipun dalam waktu singkat dan tidak berkala, perbedaan lokal dalam tuturan telah menarik perhatian selama berabad-abad (Petyt, 1980: 37). Misalnya, komentar-komentar tentang ciri-ciri bahasa kedaerahan mungkin telah ada sejak abad ke-12 (Petyt, 1980: 37). Pada abad ke-18 telah muncul sejumlah daftar kata dialek yang sepertinya khusus bagi daerah (locality) tertentu saja (Petyt, 1980: 37). Bagaimanapun, perkembangan filologi bandingan pada abad ke-19 memberikan rangsangan terbesar bagi dialektologi karena filolog menginginkan data yang paling “murni” dari setiap bahasa (Petyt, 1980: 37). Para filolog menyari bahwa dialek sering melestarikan bentuk-bentuk yang lebih tua dan lebih teratur daripada bahasa standar (Petyt, 1980: 37-38). Berkat meningkatnya ketertarikan terhadap dialek, muncul lebih banyak daftar kata dialek dan tatabahasa dialek (Petyt, 1980: 38).

Pada 1821 Johann Andreas Schmeller menerbitkan The Dialects of Bavaria, yaitu sebuah “penyajian bahasa Jerman secara historis-geografis-gramatikal” dan memasukkan sebuah peta kecil yang mengklasifikasi dialek-dialek Bavaria (Petyt, 1980: 38). Lebih dari lima puluh tahun kemudian, yaitu pada 1873, L. Liebich melakukan survei dialek pertama dengan mengirim kuesioner lewat pos kepada guru-guru SD di semua wilayah berbahasa Jerman di Alsace (Petyt, 1980: 39).

Empat peristiwa penting, baik bagi linguistik secara umum maupun dialektologi, terjadi pada 1876. Pertama, Eduard Sievers menerbitkan Elements of Phonetics yang “membantu fonetik menjadi ilmu yang lebih tepat dan ini menjadi alat yang penting bagi semua investigasi linguistik” (Petyt, 1980: 39). Kedua, kelompok neogrammarian mengusulkan aksioma “hukum-hukum fonetik tidak mengenal kekecualian” (Petyt, 1980: 39). Ketiga, Jost Winteler dari Swis (murid Sievers) “menerbitkan sebuah monograf tentang dialek Kerenzen di Kanton, Glarus” yang menjadi model bagi banyak kajian-kajian lain tentang dialek satu daerah (Petyt, 1980: 39). Keempat, Georg Wenker dari Düsseldorf mulai mengerjakan survei dialek-dialek di daerah itu (Petyt, 1980: 39). Survei yang dikerjakan oleh Wenker inilah yang berkembang menjadi survei dialek besar pertama (Petyt, 1980: 40).

Wenker mengirim kuesioner ke setiap desa yang punya sekolah (Petyt, 1980: 40). Pada saat itu ilmu fonetik dan sistem transkripsi fonetik relatif belum berkembang, maka guru-guru yang membalas kuesioner itu harus berusaha sebisanya dengan ortografi atau ejaan (Petyt, 1980: 40). Meskipun demikian, lebih dari 52.000 kuesioner diisi dan dikirimkan kembali kepada Wenker (Petyt, 1980: 40). The University of Marburg menjadi tempat Wenker (dibantu oleh Ferdinand Wrede mulai 1887) menyunting dan menerjemahkan banyaknya data yang telah dia terima (Petyt, 1980: 40). Sayangnya, dia meninggal pada tahun 1911 ketika proyek ini masih jauh dari selesai (Petyt, 1980: 40). Selepas kematian Wenker, Wrede menggantikan posisinya sebagai direktur Linguistic Atlas of the German Empire (Petyt, 1980: 40). Posisi Wrede diteruskan oleh Walter Mitzka pada 1933 (Petyt, 1980: 40). Peta-peta bahasa mulai muncul pada akhirnya, tapi hanya sebagian kecil diterbitkan sebelum proyek tersebut dihentikan pada 1956 (Petyt, 1980: 40).

Sekitar dua puluh tahun setelah Wenker memulai survei di Jerman, survei nasional besar kedua dimulai di Prancis (Petyt, 1980: 40). Pada tahun 1888 Gaston Paris mengumumkan di koran sebuah permintaan untuk mengerjakan survei dialek-dialek setempat di Prancis sebelum dialek-dialek tersebut kalah dari Bahasa Prancis Standar (Petyt, 1980: 40). Permintaan ini diterima oleh seorang sarjana Swis bernama Jules Gilliéron. Dia pernah menerbitkan sebuah atlas bahasa pada 1880 yang meliputi 25 daerah di wilayah berbahasa Prancis di Swis, tepatnya di selatan Rhone (Petyt, 1980: 41).

Tidak seperti Wenker, Gilliéron menggunakan metode investigasi langsung dengan mengutus Edmond Edmont yang merupakan seorang fonetisi amatir (Petyt, 1980: 41). Dengan sepeda, mulai 1897 Edmont melakukan survei ke 639 daerah pedesaan di Prancis dan daerah-daerah berbahasa Prancis di Belgia, Swis, dan Italia (Petyt, 1980: 41). Setelah proyek ini selesai, Edmont berangkat lagi pada usia lebih dari 60 tahun untuk melakukan survei di 44 daerah di Korsika untuk Atlas Linguistique de la Corse yang diterbitkan pada 1914 (Petyt, 1980: 41). Hasil kerja Gilliéron dan Edmont ini selesai pada 1901 dan peta-petanya diterbitkan antara 1902 dan 1910 (Petyt, 1980: 41).

Dua murid Gilliéron, yaitu Karl Jaberg dan Jakob Jud menyempurnakan metode guru mereka saat mereka mengerjakan dialek-dialek Italia di Italia dan Swis Selatan (Petyt, 1980: 42). Mereka menginvestigasi 405 daerah dengan kuesioner sekitar 2.000 butir dengan tiga pekerja lapangan (Petyt, 1980: 42). Ketua pekerja lapangan mereka, Paul Scheuermeier, membuat tulisan tentang “Pengamatan dan Pengalaman Pribadi” yang bersifat instrukstif dan menghibur tentang pekerjaan ini (Petyt, 1980: 42). Atlas yang disusun oleh Jaberg dan Jud pun terbit dalam delapan volume antara 1928 dan 1940 (Petyt, 1980: 42).

Sebagian orang menganggap atlas Gilliéron terlalu luas dan mempunyai kelemahan-kelemahan lain, sehingga terbitlah sejumlah atlas regional, yang dimulai oleh Albert Dauzat pada 1939 dengan judul Atlas Linguistique Régional de la France (Petyt, 1980: 42-43). Atlas regional ini pada awalnya hanya direncanakan berisi dua belas survei regional, tapi pada tahun 1970-an sebanyak 23 wilayah sudah berada dalam berbagai tahap pengerjaan (Petyt, 1980: 42).

Banyak dari hal-hal yang baik dalam cara kerja Gilliéron dipertahankan, tapi berbagai perbaikan diusulkan, misalnya perbaikan teknik kerja lapangan, investigasi pendahuluan sebelum survei utama, pengurangan dan penambahan butir tanyaan, juga pemisahan kuesioner menjadi bagian umum dan bagian khusus daerah tertentu (Petyt, 1980: 43). Semua daerah yang telah disurvei oleh Gilliéron pun diperiksa kembali untuk melihat perubahan apa saja yang telah muncul selama setengah abad (Petyt, 1980: 43). Di Jerman lebih dari tiga puluh proyek yang ditujukan untuk mengumpukan kosakata daerah secara individual dimulai sebelum Perang Dunia Kedua (Petyt, 1980: 43).

Masyarakat Dialek Amerika (American Dialect Society) didirikan pada 1889 dan Dialect Notes mulai diterbitkan, tapi masih agak lama sebelum dilaksanakannya sebuah survei berskala luas (Petyt, 1980: 43). Hans Kurath menjadi direktur proyek Linguistic Atlas of the United States and Canada, tapi survei dilakukan secara regional, bukan keseluruhan (Petyt, 1980: 43). Kerja lapangan untuk proyek tersebut dimulai pada 1931 oleh sembilan pekerja lapangan yang melakukan 416 wawancara (Petyt, 1980: 43).

Sebelum mulai mengerjakan proyek tersebut, Kurath berdiskusi dengan Jaberg dan Jud, serta ketua pekerja lapangan mereka, yaitu Scheuermeier (Petyt, 1980: 44). Mereka sadar bahwa situasi dialek di Amerika berbeda kalau dibandingkan dengan kebanyakan negara Eropa (Petyt, 1980: 44). Oleh karena itu, mereka memutuskan bahwa survei Amerika tidak boleh terbatas kepada orang desa berpendidikan rendah sebagaimana biasanya dalam survei Eropa (Petyt, 1980: 44).

Kajian dialek regional di Inggris sempat terhambat oleh junjungan terhadap Bahasa Inggris Standar (Petyt, 1980: 68). Namun, sejak abad ke-14 beberapa penulis sudah menyadari adanya perbedaan dialek dalam bahasa Inggris (Petyt, 1980: 69). Usaha pertama terhadap dialek-dialek bahasa Inggris secara umum dilakukan oleh Alexander Gil dengan bukunya yang berjudul Logonomia Anglica diterbitkan pada 1619 (Petyt, 1980: 69). Masyarakat Dialek Inggris (English Dialect Society) didirikan pada 1870 dan English Dialect Dictionary (diedit oleh Joseph Wright) diselesaikan pada 1905 (Petyt, 1980: 70). Perkembangan signifikan berikutnya terjadi pada 1948 ketika Eugen Dieth dan Harold Orton bekerja sama dalam proyek The Survey of English Dialects (Petyt, 1980: 88). Survei yang dilakukan dalam proyek ini dianggap “tradisional” oleh Petyt (1980: 89-90) karena dikonsentrasikan kepada generasi tertua penutur pedesaan. Terlebih lagi, “pertanyaan-pertanyaan fonologisnya lebih diarahkan untuk menemukan turunan-turunan bunyi historis Bahasa Inggris Zaman Pertengahan daripada ‘sistem’ yang ada masa kini di setiap daerah” (Petyt, 1980: 90).

Menurut Petyt (1980: 45), prinsip-prinsip Gilliéron perlu ditilik lebih lanjut karena inilah yang menjadi pola proyek-proyek dialektologi berikutnya. Gilliéron menetapkan titik daerah yang diinvestiasi dengan cara yang cukup mekanis, yaitu pola geometris, meskipun belakangan disesuaikan oleh Edmont sebagai pekerja lapangan (Petyt, 1980: 46). Sekarang ini, daerah bisa ditentukan terlebih dulu sebagaimana yang dilakukan oleh Gilliéron, namun biasanya itu dilakukan setelah survei rintisan (Petyt, 1980: 46). Mengenai metode, Gilliéron (dalam Petyt, 1980: 46) bersikeras survei dialektologi harus dilakukan dengan metode langsung demi memperoleh semua informasi yang dibutuhkan dan mengklarifikasi hal-hal yang meragukan dalam tanggapan informan (Petyt, 1980: 46). Meskipun demikian, Petyt (1980: 46) menyebutkan bahwa metode tidak langsung masih cocok untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya pengumpulan data leksikal.

Beberapa pendekatan dalam kuesioner Gilliéron telah ditinggalkan, misalnya meminta informan untuk sekadar menerjemahkan sebuah bentuk dari Bahasa Prancis Standar ke dalam dialek setempat (Petyt, 1980: 46-47). Pendekatan lainnya yang telah ditinggalkan adalah merekam tanggapan pertama informan karena bisa saja informan salah ingat atau latah mengikuti lafal pekerja yang mewawancarainya (Petyt, 1980: 47). Anggapan Gilliéron bahwa hanya boleh ada satu pekerja lapangan yang bukan linguis profesional juga diragukan karena tidak praktis dan Edmont sendiri terpengaruh latar belakang Prancis Utaranya (Petyt, 1980: 48). Tidak seperti Gilliéron yang hanya menggunakan satu informan untuk satu daerah, kebanyakan survei berikutnya pun menggunakan informan sebanyak dua orang atau lebih karena belum tentu satu orang itu tahu setiap butir yang ditanyakan (Petyt, 1980: 49). Kesimpulan yang ditarik oleh Petyt (1980: 49) adalah perencanaan dan pelatihan yang hati-hati memang penting agar waktu, uang, dan usaha tidak sia-sia, tetapi perencanaan tidak perlu terlalu kaku karena modifikasi perlu dibuat saat proyek berjalan.

Daftar Pustaka

Petyt, K.M. 1980. The Study of Dialect: An Introduction to Dialectology. London: André Deutsch Limited.

Persyaratan

A.    Persyaratan Umum
1.      Peserta Sayembara adalah Mahasiswa S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (baik Program Studi Pendidikan atau Non-Pendidikan) di seluruh wilayah Indonesia.
2.      Karya harus asli, belum pernah dipublikasikan, dan belum pernah diikutsertakan dalam sayembara apa pun (jika diketahui karya merupakan karya jiplakan, proses hukum akan diberlakukan).
3.      Karya ditulis dalam bahasa Indonesia berbentuk naskah diketik rapih 1,5 spasi di atas  kertas A4 dengan huruf Time New Roman 12 dan rata tepi kertas 3-3-3-3 (tidak bolak-balik).
4.      Karya dikirim kepada panitia ke alamat pos-el/e-mail berikut: psdmimabsii@gmail.com. Karya paling lambat sudah diterima oleh panitia pada tanggal 24 April 2011.
5.      Peserta harus melampirkan biodata, bukti/pernyataan sebagai mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia (Pendidikan atau non-pendidikan), alamat lengkap, dan nomor telepon/HP agar mudah dihubungi melalui pos atau telepon.
6.      Apabila di kemudian hari pemenang diketahui melakukan kekeliruan, manipulasi, dan/atau kecurangan dalam data, predikat kepemenangan serta hadiah akan dibatalkan.
7.      Cerita yang masuk akan menjadi milik IMABSII.
8.      Antologi ketujuh karya ini tanpa biaya pendaftaran.
B.     Persyaratan Khusus
1.      Makalah Simposium
a.       Tema makalah adalah “Melacak Perkembangan Bahasa-bahasa Serumpun”.
b.      Jumlah halaman isi minimal 10 lembar.
c.       Mencantumkan refrensi secara lengkap.
d.      Peserta hanya boleh mengirimkan satu makalah kepada Panitia Semarak Tujuh Tahun IMABSII.
e.       Pemenang sayembara harus bersedia mempersentasikan makalahnya pada Simposium Internasional Mahasiswa.
2.      Esai Sastra
a.       Tema esai bebas tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
b.      Panjang karangan maksimal 5 halaman.
c.       Peserta hanya boleh mengirimkan satu judul naskah esai kepada Panitia Semarak Tujuh Tahun IMABSII.
3.      Naskah Drama
a.       Tema sayembara penulisan naskah drama ini bebas, tidak mengandung pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
b.      Naskah drama yang diikutkan sayembara ini harus asli (bukan saduran, terjemahan, dan jiplakan).
c.       Jika dipentaskan drama ini berdurasi kurang lebih 30 menit.
d.      Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu judul naskah drama yang terdiri atas 10—30 halaman.
4.      Cerita Pendek
a.       Tema cerpen bebas, tidak mengarah pada pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
b.      Cerpen harus asli (bukan saduran atau terjemahan)
c.       Panjang karangan minimal 5 halaman.
5.      Biografi Tokoh Bahasa, Sastra, atau Budaya Lokal
a.       Tokoh yang diangkat masih hidup.
b.      Tokoh pantas menjadi panutan atau dapat memotivasi karena kesungguhannya dalam bidang yang digeluti.
c.       Tokoh belum begitu dikenal dikalangan nasional.
d.      Panjang karangan maksimal 5 halaman.
6.      Cerita Rakyat
a.       Cerita bersumber dari cerita rakyat yang masih dilisankan dan belum pernah dipublikasikan.
b.      Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim satu cerita.
c.       Panjang cerita sekitar 8—15 halaman.
7.      Puisi
a.       Tema Sayembara Cipta Puisi ini tidak ditentukan oleh panitia, tidak mengandung pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
b.      Naskah puisi ini harus asli (bukan saduran, terjemahan, jiplakan).
c.       Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu karya.
*Informasi lebih lanjut mengenai Sayembara dapat menghubungi
Adi/Universitas Negeri Jakarta (08568167600)
Dissa/Universitas Diponegoro (085696103430)

Sejak zaman dahulu, sastra diyakini mempunyai hubungan tertentu dengan masyarakat. Hal ini karena sastra adalah semacam lembaga sosial yang memakai medium bahasa. De Bonald mengatakan bahwa “sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat”.

Hakikat hubungan antara sastra dengan masyarakat bisa dibagi menjadi tiga poin. Pertama adalah sosiologi pengarang. Termasuk di sini adalah latar belakang pengarang, status sosial pengarang, dan ideologi pengarang. Kedua adalah isi karya sastra tersebut, terutama yang berkaitan dengan hal-hal sosial. Ketiga adalah dampak karya sastra tersebut terhadap pembaca dan masyarakat secara umum.

Sejauh manakah latar belakang pengarang menyumbang hubungan antara sastra dan masyarakat? Statistik menunjukkan bahwa pengarang-pengarang Eropa berasal dari kelas menengah. Namun, ternyata pengarang-pengarang komunis seperti di Rusia tidak hanya berasal dari kelas menengah. Akhirnya, penulis berkesimpulan bahwa latar belakang pengarang hanya mempunyai andil kecil dalam menjawab hubungan antara sastra dan masyarakat.

Apakah sebuah buku benar-benar mempunyai hubungan dengan masyarakat? Apakah Uncle Tom’s Cabin benar-benar penyebab perang saudara di Amerika? Kohn-Bramstedt mengatakan bahwa hanya  orang yang mempunyai pengetahuan mendalam di luar sastra lah yang dapat merumuskan hubungan antara sastra dan masyarakat. Namun, jika ingin mencari buktinya, memang ada karya sastra yang mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya itu ditulis. Misalnya, pada zaman awal kebudayaan, kita menganggap bahwa lintah darat itu buruk. Citra buruk ini turun ke dalam karya Moliere yang berjudul L’avare, Shakespeare, ataupun Shylock. Memang jika diteliti lebih jauh, kita bisa mendapati ciri-ciri sosial pada zaman itu pada karya-karya sastra yang ada, misalnya alegori-alegori yang aneh atau gambaran kehidupan gembala dan alam pedesaan.

Tentang pengaruh karya sastra terhadap masyarakat, penulis sendiri belum bisa mengambil kesimpulan yang pasti. Hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan para sastrawan itu sendiri. Max Scheler, Max Weber, dan Karl Mannheim mengupas sosiologi pengetahuan. Namun, teori ini mempunyai kelemahan karena masih melihat dari satu sisi saja. Misalnya, Weber hanya membicarakan faktor agama saja. Bisa jadi hubungan sastra dan masyarakat itu terjadi lewat faktor yang lain (agama hanya salah satu saja). Kita baru bisa menjawab dengan pasti apakah sebuah karya sastra berpengaruh terhadap masyarakat kalau faktor penentu sosial dan bentuk-bentuk sastra sudah diketemukan.

Salah satu pengurus Nyanyian Bahasa, yaitu Melody Violine, akan menjadi pemakalah dalam Konferensi Linguistik Tahunan 9 di Universitas Atmajaya akhir bulan ini. Info lebih lanjut tentang Kolita 9 bisa diperoleh di link ini.

Berikut ini adalah abstrak makalah yang akan disajikannya.

PENGARUH PEMINJAMAN LEKSIKAL DARI BAHASA BELANDA TERHADAP PEMINJAMAN LEKSIKAL DARI BAHASA INGGRIS DALAM BAHASA INDONESIA

 Melody Violine

Universitas Indonesia

Abstrak

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional Republik Indonesia, yang berkembang dari bahasa Melayu yang juga merupakan pendahulu dari bahasa Melayu modern. Salah satu cara bahasa Indonesia memperkaya kosakatanya adalah lewat peminjaman kata dari banyak bahasa lain. Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah pengaruh peminjaman leksikal bahasa Belanda terhadap peminjaman leksikal bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia. Peminjaman dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia lebih dulu lazim dilakukan daripada peminjaman dari bahasa Inggris. Akibatnya, peminjaman dari bahasa Belanda mempengaruhi peminjaman dari bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia secara leksikal. Pengaruh tersebut tampak pada substitusi bunyi dan padanan imbuhan.

Senja di Citayam

perjalanan semakin terasa jauh

saat tubuh kian rapuh

apa sebaiknya menunggu?

tidak, tidak,

menunggu adalah pekerjaan paling tolol

yang sering kulakukan

aku tak ingin menunggu

biar saja orang-orang menunggu

aku ingin berlari

dan terus berlari

sampai nanti

sampai mati

tapi aku tak mau menunggu

sebab menunggu

adalah jemu

adalah kelu

Asep Sambodja

Citayam, 5 Juni 2009

Puisi di atas dikutip dari buku kumpulan puisi Asep Sambodja yang ini

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.