NASIONALISME DALAM TRAGEDI KERETA API MAUT[1]
oleh Prima Hariyanto
Drama merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dibahas. Istilah drama berasal dari Yunani, yaitu dramoi yang berarti ‘aksi’ atau ‘perbuatan’[2]. Drama pada awalnya digunakan dalam suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Akan tetapi, ritual tersebut mengalami perkembangan menjadi oratoria, yaitu seni berbicara, kemudian berkembang menjadi drama.
Drama merupakan genre atau jenis karya sastra yang tersendiri dan istimewa. Berbeda dengan prosa dan puisi, drama diciptakan tidak hanya untuk dibaca, melainkan juga untuk dipentaskan. Terlepas apakah sebuah drama dipentaskan atau hanya sekadar naskah yang hanya dibaca saja (lebih dikenal closet drama), yang disebut dengan drama adalah salah satu genre sastra yang memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada.[3]
Selain adanya cakapan para tokoh yang disusun sedemikian rupa, salah satu ciri yang khas dari sebuah drama adalah adanya stage directions atau petunjuk pemanggungan, yaitu sejenis petunjuk yang memberikan gambaran tentang bagaimana suasana, lokasi, atau hal yang harus dilakukan oleh sang tokoh. Petunjuk pemanggungan ini biasanya diletakkan dalam tanda kurung atau ditulis miring di antara dialog para tokoh.
Naskah Drama Kereta Api Maut
Naskah ini disusun oleh Achmad Toha, B.A. berdasarkan kisah nyata peristiwa 23 November 1947 yang terkenal dengan sebutan “Peristiwa Gerbong Maut Bondowoso, Jawa Timur”. Peristiwa ini memakan korban sebanyak 46 orang tewas dan 11 orang sakit sehingga dibawa ke rumah sakit Karang Mendjangan, Surabaya. Sisanya, sebanyak 43 orang, meskipun sudah tidak kuat untuk berjalan karena lemasnya, dibawa ke Kamp Tawanan di Bubutan, Surabaya.
Kereta Api Maut pertama kali dipentaskan saat acara Peringatan Dwi Windu Berdirinya Departeman Kesedjahteraan Sosial. Pementasan pertama dari drama ini disutradarai oleh Sofia Waldy bersama rekan-rekannya dengan pemainnya antara lain W.D. Muchtar (sebagai Karsono), A. Hamid Arief (Si Kelap), Lilik Sulastri (sebagai Lasmi), A. Hadi, Anie Poniman, dan sebagainya.
Tujuan dari diterbitkannya naskah drama ini adalah sebagai bahan penyuluhan kepada masyarakat oleh petugas penyuluhan sosial khususnya dalam bidang Gerakan Penyuluhan Sosial Audio-Visual untuk menanamkan dan memperluas pengenalan arti dan tugas pekerjaan sosial. Naskah ini diterbitkan di Jakarta oleh Departemen Kesedjahteraan Sosial, Djawatan Pekerdjaan Sosial pada bulan Agustus 1961.
Drama Kereta Api Maut bercerita tentang penderitaan rakyat Indonesia ketika ditindas oleh penjajah (Belanda). Di dalam penjara Bondowoso, dikurung beberapa tahanan penjajah. Penjara tersebut sangat sempit dan gelap. Di suatu hari pada pukul tiga pagi, beberapa tahanan tidak dapat memejamkan mata. Kuswari, Karsono, Pak Achmad, Pak Asmonah, dan Rasmun berbincang-bincang. Mereka mengutuk kekejaman penjajah terhadap rakyat Indonesia.
Sersan KNIL datang bersama Kopral dan Serdadu KNIL membangunkan para tahanan. Rasmun yang tidak terima pemimpinnya dihina oleh tentara KNIL mencoba melawan, tetapi dia malah dipukul dan dihina habis-habisan. Ketika itu, terjadilah perseteruan antara para tahanan dan tentara KNIL.
Akhirnya pada pukul lima pagi, para tahanan digiring menuju Stasiun Bondowoso. Di sana, Karsono bertemu dengan tunangannya, Lasmi, yang sedang bersama ibunya. Terjadilah perlakuan sewang-wenang tentara KNIL terhadap Lasmi dan Karsono. Para tahanan mencoba ikut melawan tentara KNIL. Lasmi dan ibunya diusir dari stasiun tersebut.
Para tahanan dimasukkan ke dalam gerbong dan ditutup rapat. Inilah penyiksaan yang tiada berperikemanusiaan. Para tahanan harus merasakan siksaan di dalam gerbong tanpa udara bebas dalam perjalanan dari Bondowoso ke Surabaya. Banyak tahanan yang tewas karena tidak kuat dengan siksaan tersebut. Mayatnya terinjak-injak tahanan yang lain karena sempitnya gerbong.
Semantara itu di dalam hutan rimba, Kelap, seorang tahanan yang berhasil meloloskan diri sedang menghimpun kekuatan bersama pejuang-pejuang lainnya. Mereka bertekad untuk menghancurkan penjajah yang biadab. Karsono datang dengan membawa goloknya yang berlumuran darah. Ia mengaku telah membunuh tentara KNIL yang menyiksanya dan juga pejuang lainnya.
Para pejuang tersebut semakin bulat tekadnya untuk menghancurkan para penjajah. Mereka sepakat akan langsung menyerbu markas KNIL. Semangat mereka bertambah kuat dengan dukungan dari semua rakyat termasuk keluarga mereka yang rela ditinggal. Meskipun mereka tahu hal itu sangatlah berbahaya bagi nyawa mereka, mereka tidak peduli. Harga diri bangsa lebih tinggi nilainya daripada nyawanya.
Nasionalisme dalam Kereta Api Maut
Pihak Belanda maupun pihak revolusioner Indonesia menganggap bahwa Revolusi Indonesia adalah kelanjutan dari perjuangan masa lampau. Bagi Belanda, tujuannya adalah menghancurkan sebuah negara baru dan melanjutkan rezim kolonial yang telah mereka bangun selama 350 tahun. Bagi Indonesia, tujuannya adalah menyempurnakan proses penyatuan dan kebangkitan nasional yang sudah dirintis sebelumnya.
Sekitar bulan Mei 1947, Belanda memutuskan untuk menyerang Indonesia secara langsung. Hal ini disebabkan biaya perawatan pasukan persenjataan di Jawa yang mahal dirasa sia-sia jika tidak dimanfaatkan, mengingat perekonomian Belanda yang hancur karena perang. Pada tanggal 20 Juli 1947, Belanda mulai menggerakkan pasukannya untuk menduduki Jawa Barat, Madura, dan Jawa Timur. Perkebunan di sekitar Medan serta instalasi minyak dan batubara di Palembang dan Padang juga telah diduduki Belanda.
Pihak Belanda terus maju dalam membentuk negara-negara federal di wilayah yang berhasil mereka rebut. Namun, keberhasilan yang mereka dapatkan sangat kecil karena dukungan yang mereka peroleh dengan cepat menghilang. Belanda berhasil membentuk 15 negara federal di seluruh wilayah yang telah mereka rebut, di antaranya Negara Sumatra Timur, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, dan sebagainya. Akan tetapi, di negara-negara federal tersebut terdapat perasaan pro-Republik (Indonesia) yang sangat besar di kalangan elite dan dukungan yang tidak begitu besar terhadap federalisme di kalangan rakyat.[4]
Kereta Api Maut merupakan cerminan keadaan bangsa Indonesia ketika negeri ini kembali diduduki oleh Belanda. Dengan tanpa rasa belas kasihan, bangsa penjajah menyiksa rakyat Indonesia, baik secara lahiriah lebih-lebih batiniahnya. Bangsa Indonesia benar-benar merasakan siksaaan dan tekanan yang begitu kejam. Namun, di balik siksaan yang begitu berat, mereka bukan bertambah lemah, melainkan bertambah kuat pendiriannya dan bertambah tebal rasa nasionalismenya. Mereka bersama-sama melawan para penjajah agar segera minggat dari negeri ini dan bangsa Indonesia bebas mengatur negaranya sendiri.
Naskah drama ini dibuka dengan suara jiwa yang berisi semangat nasionalisme para pejuang. Mereka menuntut revolusi dan menentang kaum penjajah yang sangat sadis menyiksa rakyat Indonesia. Mereka tidak ingin bangsa yang telah membuat mereka menderita selama 350 tahun kembali dengan tujuan yang lebih licik, yaitu menghancurkan negara Indonesia yang baru saja terbentuk.
SUARA DJIWA:
Darah jang membasahi pangkuan Ibu Pertiwi dan Tjertjah mata para bunda jang tersembilu karena keguguran putra²nja, telah membakar semangatku, menuntut bela menentang kehendak Pendjadjah jang ingin merampas hak sesama, dan merobek² PERIKEMANUSIAAN. Gema revolusi mendjilat kemuntjak angkasa, menandingi kebuasan SRIGALA jang puas melihat kemelaratan dan derita rakjat kita jang telah kenjang dengan siksa dan hinaan. (Toha, 1961:11)
Kutipan di atas menunjukkan bagaimana perasaan rakyat Indonesia ketika penjajah membuat mereka sungguh menderita. Bangsa Indonesia begitu membenci dan dendam kepada bangsa penjajah yang telah menciptakan penderitaan bagi bangsa Indonesia. Dalam kutipan di atas terlihat jelas bagaimana kebencian rakyat Indonesia terhadap penjajah. Belanda mereka sebut sebagai SRIGALA yang berpesta pora melihat penderitaan dan kemelaratan rakyat Indonesia dengan harta yang mereka rampas dari bangsa Indonesia.
Semakin disiksa dan menderita, bangsa Indonesia juga semakin besar semangatnya untuk segera merebut kembali kemerdekaan yang telah mereka raih dengan susah payah yang sedang dicoba dirampas oleh Belanda. Ketika itu perjuangan tak memandang pangkat, umur, dan jenis kelamin. Semua rakyat Indonesia sebisa mungkin membantu perjuangan ini. Dengan cara apa pun, tenaga, harta, dan pikiran mereka disumbangkan untuk merebut kembali kemerdekaan negeri ini.
Di dalam hati masing-masing telah tertanam tekad yang sudah bulat. Lebih baik mati daripada harus hidup di tanah air sendiri, tetapi di bawah tangan penjajah. Tak sudi mereka dipimpin oleh orang asing yang membuat penderitaa rakyat. Para pejuang dengan semangatnya yang menggebu-gebu ingin segera mengusir bangsa Belanda dari negeri ini. Keteguhan hati dan kebulatan tekad para pejuang terlihat dalam kutipan di bawah ini.
SI KELAP : Sebelum kita berangkat….malam ini, djangan lupa pesanku: diantara kita jangan sampai ada jang djatuh imannja….karena budjukan musuh, lalu berubah pendirian….djadi pengetjut. Dan siapa diantara kita jang masih hendak mengekor serta mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa lain, silahkan njingkir !!!
LIHAN : Tidak Pak! Kita sudah berdjanji memegang teguh martabat kita, dan martabat leluhur kita jang telah membentuk wudjud Kepribadian kita.
Adjakan Si Kelap segera terdengar berupa aba² jang bersemangat:
RASJIDIN : Siaaap ! mari kita tinggalkan tempat ini…….dan kalau sampai besok kita melihat dunia……maka kita akan terus berdjuang untuk nusa dan bangsa !!!!!
kissah KERETA API MAUT telah lampau, tetapi kita tetap menuntut !!!!!!! “sampai tertjapai……Indonesia MERDEKA….:” (Toha, 1961:45)
Kutipan di atas memperlihatkan kepada kita bahwa jangan sampai ada di antara kita yang berada di pihak penjajah. Orang seperti itu adalah seorang pengkhianat bangsa. Lebih baik hidup miskin bersama saudara kita setanah air dari pada hidup berharta dengan hasil rampasan saudara kita. Para pejuang dengan semangatnya menginginkan tercapainya Indonesia merdeka seutuhnya.
Bangsa Indonesia ingin segera lepas dari kungkungan penjajah yang begitu kejam ini. Mereka tak ingin lebih lama lagi hidup menderita. Kutipan di bawah ini menggambarkan cita-cita bangsa Indonesia yang ingin segera bebas dari penjajah.
P. ACHMAD : Jah….hari besok masih kuharapkan dan belenggu ini, akan kupatahkan pada suatu saat jang baik…..hingga aku dapat menikmati alam BONDOWOSO jang indah. (Toha, 1961:12)
Mereka menganggap selama bangsa penjajah berada di Indonesia, kita tak pantas hanya berdiam diri melihat saudara kita berjuang. Kita harus dapat membantu mereka mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Kutipan di bawah ini mengingatkan kita akan hal tersebut dan peringatan agar kita jangan sampai pengkhianat bangsa dengan berada di belakang pihak penjajah.
SI KELAP : Selagi pendjadjah masih hidup dibumi INDONESIA, selama itu INDONESIA terus bergolak, dan kita sebagai putra²nja, tidak pantas hanja djadi penonton, apa lagi djadi pentjoleng bagi bangsanja sendiri untuk kepentingan bangsa asing!! (Toha, 1961:42)
Seperti yang telah diuraikan di atas, perjuangan ini tak memandang usia, pangkat, dan jenis kelamin. Semuanya mempunyai kewajiban yang sama untuk merebut kembali kemerdekaan kita yang sebelumnya telah kita raih.
RASJIDIN : Dalam membela tanah-air, tidak ada istilah terlalu muda, selain pembuktian… setia atau tidak pada tjita² bangsanja. (Toha, 1961:43)
Sekarang kita telah dapat merasakan perjuangan berat pendahulu kita. Bangsa Indonesia telah merdeka secara fisik, tetapi secara moral mungkin bangsa kita belum sepenuhnya merdeka. Dengan melihat perjuangan pejuang kita yang begitu berat dan penuh darah dan keringat, kita diharapkan mampu menghargai jasa-jasa mereka yang begitu agung. Tragedi Kereta Api Maut hanyalah sebagian kecil penderitaan yang diperoleh bangsa Indonesia.
Sudah sepantasnya dan bahkan seharusnya kita meneruskan perjuangan para pahlawan kita. Tugas mengisi dan mempertahankan kemerdekaan akan lebih berat daripada meraihnya. Perjuangan mengisi dan mempertahankan kemerdekaan bersifat abstrak dan kita tak akan sadar jika moral kita terjajah oleh penjajah versi milenium. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada dan siap sedia menerima serta menyaring ajaran moral yang datang dari pihak asing. Hal ini juga berlaku dalam bidang ekonomi dan kebudayaan kita. Semua itu membutuhkan pengorbanan kita sebagai putra-putri bangsa. Kita harus berjuang untuk memajukan dan memakmurkan bangsa Indonesia. Abdikanlah diri kita untuk negeri tercinta. Bangsa ini membutuhkan kita.
Drama Tragedi dan Kereta Api Maut
Menurut Japi Tambajong, tragedi adalah drama yang berujung dengan dukacita yang ditandai dengan maut menjemput tokoh utama. Adapun untuk pertama kalinya, definisi tragedi diungkapkan oleh Aristoteles di dalam bukunya, Poetics. Menurutnya, di dalam tragedi ada seorang tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi, seperti raja atau ratu, yang kemudian jatuh karena tindakannya sendiri. Tokoh tersebut benar-benar disegani masyarakat tidak hanya karena kedudukannya melainkan juga pembawaannya yang berwibawa.
Di dalam drama tragedi terkuak masalah yang saling berkaitan yang disebabkan oleh tindakan seorang tokoh. Pada dasarnya, yang disebut sebagai drama tragedi adalah yang berisi atau berakhir dengan dukacita. Yang dimaksud dengan dukacita di sini bukan saja berarti kematian tokoh, tetapi juga penderitaan yang menyebabkan kesedihan bagi penonton atau pembaca.
Dalam drama Kereta Api Maut, tragedi sebagai puncaknya terdapat dalam adegan ketika para tawanan penjajah dimasukkan ke dalam gerbong. Gerbong yang tertutup rapat tersebut membawa mereka dari Bondowoso ke Surabaya. Tragedi ini mulai memuncak pada saat sang tokoh, Karsono, yang sedang sakit kerena disiksa di dalam penjara disuruh berjalan menuju stasiun Bondowoso.
SUARA DJIWA : Beberapa hari jang silam, kemanusiaanku mentjari hakeket, dan disaat-saat itu aku bergulat dengan aneka derita.
Kini kakiku setengah lumpuh……tetapi aku harus tunduk perintah…………berdjalan menudju setasiun
B O N D O W O S O. (Toha, 1961:18)
Para tawanan belum dapat melawan karena keadaan mereka yang lemah. Mereka harus menurut kepada tentara KNIL meskipun raga mereka sudah tak memungkinkan lagi untuk berjalan.
Di stasiun Bondowoso mereka dipaksa masuk ke dalam sebuah gerbong yang akan membawa mereka ke Kamp Tahanan di Surabaya. Gerbong tersebut tertutup rapat sehingga para tawanan tak dapat bernafas. Berada di dalam sana merupakan suatu siksaan yang sangat pedih. Panas dan haus menjadi hidangan mereka selama dalam perjalanan menuju Surabaya. Tak ada kesempatan bagi mereka untuk sedikit menghirup udara bebas di luar gerbong. Keringat dan darah menjadi pengobat kehausan mereka.
Keadaan di dalam gerbong sungguh sangat memilukan. Teriakan mengaduh kepanasan dan kehausan menjadi musik alami yang bergema di dalam gerbong. Bagi siapa pun yang mendengarnya, pasti akan miris hatinya membayangkan siksaan tersebut. Kutipan di bawah ini menggambarkan keadaan tawanan di dalam gerbong.
SUARA DJIWA : Gerbong ditutup………………………….. Panas sengar-sengar menjesakkan nafas, inilah puntjak siksaan sidjahanam jang tak berperikemanusiaan………………………. Dorongan apa jang mendorong SIPENDJAJAH BEGITU KEDJAM jang berbuat semena-mena tanpa batas.
…
TAWANAN : Aduuuuuuuuh…..! Panasssssssssssss…..! Panas…….! Tidak Tahannnnnnn…. akuuuuuu……..!!!
…
TERINJAK : Aduuuuuuuh kepalaku keindjak……aduuuuuh!!!!!
JANG LAIN : ADUH…. aduuuuh…..! tanganku……. kau indjak…..aduhhhhhh!
TAWANAN : ADUH…. aduuuh….. tanganku…. aduuuuuh! (suara ngeri).
…
KUSWARI : Hauuuus…….! Panassssss….. noraka! Jahhhh….. kita berada di Noraka Djahanammmm…. Airrrrrrrrrrrrrrrrr….!!!!
…
KUSWARI : Tolooooooong! (Ia lantas muntah darah mengenai dada Karsono). Airrrrr! Aduuhhh…..Panasssss…..!!!!
(Toha, 1961:29—32)
Di dalam gerbong banyak tawanan yang tidak tahan dengan siksaan tersebut. Mereka memilih mati dengan membawa darah nasionalisme dan perjuangan mereka. Mereka bukan tak mau lagi memperjuangkan kemerdekaan bangsa, tetapi raga mereka yang telah disiksa di dalam penjara tak mampu lagi merasakan siksaan yang lebih di dalam gerbong tersebut. Jika arwah mereka mampu membantu para pejuang yang masih hidup, arwah mereka pasti dengan semangatnya akan membalas dendam rakyat Indonesia yang menderita dan mengalami kemelaratan karena tindakan penjajah.
Bagaimana pun rakyat Indonesia ketika itu bahkan kini pun pasti akan sakit hati melihat saudara setanah airnya dengan tanpa rasa perikemanusiaan disiksa dengan begitu keji. Mereka akan mengeluarkan sumpah serapah yang ditujukan untuk penjajah yang tanpa memiliki rasa belas kasihan tersebut. Gambaran seperti ini terlihat dalam kutipan di bawah ini.
LASMI : Aku tidak perlu berkenalan dengan manusia biadab, sematjam kau! Pendjajah busuk! Kau brani mengatakan Pemuda² harapan bangsa kita sebagai Garong…? Enak sadja Tuan² mengutjapkan kata-kata jang kotor dan kasar, seperti Inlanders, rampokkers, Ektremisten dan lain lainnja! Kau garong! Kau pentjuri! Kau maling…harta kekajaan bangsa Indonesia. heh!!! Tanpa Indonesia…maka kau akan mati kelaparan…, biadab!!! (Toha, 1961:23)
Lasmi sebagai seorang perempuan, ia bertindak sangat berani, mengucapkan kata-kata seperti itu di depan tentara KNIL meskipun hal tersebut mengakibatkan dirinya harus terkena siksaan tentara KNIL atas perkataanya. Namun, ia tak menghiraukan semuanya itu, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana agar dia dan seluruh rakyat Indonesia bebas dari para penjajah yang tak berperikemanusiaan. Mungkin perasaan sakit hati tersebut dipendam oleh seluruh rakyat Indonesia ketika itu. Mereka begitu membenci para penjajah yang membuat mereka menderita.
Bagi mereka, kaum penjajah telah merampas seluruh hak mereka sebagai manusia yang hidup di tanah airnya sendiri. Termasuk di dalamnya perikemanusiaan. Mereka tak lagi memiliki rasa perikemanusiaan dalam memperlakukan bangsa Indonesia. Mungkin bagi mereka, bangsa dianggap tak lebih dari binatang yang pantas diperlakukan seenak hati mereka.
Hal tersebut sangat menyakitkan hati bangsa Indonesia. Bangsa yang dibangun dengan susah payah, kini hendak diinjak-injak sesuai kemauan mereka. Para penjajah sudah kehilangan hati nurani untuk merasakan derita bangsa Indonesia. Kutipan di bawah ini menunjukkan bagaimana rintihan bangsa Indonesia menghadapi kebengisan bangsa penjajah.
SUARA DJIWA : Rupa²-nja……seluruh milikku hendak dirampas oleh PENDJADJAH jang tak mau kenal PERIKEMANUSIAAN……. Hingga ketjintaanku jang sekilas itupun…..sudah pula dihantjurkan dengan kesudahan jang menjembilu lubuk hatiku. Tinggallah………tuntutanku jang kini bisu…… pada saatnja akan menghantjurkan PENDJADJAH itu, karena kekedjian dan keserakahannja (Toha, 1961:37).
Kini bangsa Belanda telah pergi meninggalkan bangsa Indonesia dengan sisa-sisa penjajahan mereka yang kita pergunakan pula, seperti fasilitas umum, gedung-gedung, jalan raya maupun kereta api, sistem pemerintahan, dan sebagainya. Fasilitas-fasilitas tersebut memang dibangun oleh penjajah. Namun, semua itu menggunakan modal dan keringat nenek moyang kita.
Dengan melihat gambaran perjuangan para pahlawan kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, sudah seharusnya kita menghargai cucuran keringat dan darah mereka. Tugas kita selanjutnya adalah mengisi dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih ini. Namun, kita jangan terlena dengan kebebasan ini. Penjajahan dapat muncul kapan saja dengan bentuk yang berbeda dan tidak kita sadari.
Daftar Pustaka
Budianta, Melani, dkk. 2006. Membaca Sastra. Magelang: IndonesiaTera.
M.C. Ricklefs. 2001. A History of Modern Indonesia since c. 1200 Third Edition, (Sejarah Indonesia Modern 1200—2004). Terj. Satrio Wahono, dkk. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Sarumpaet, Riris K. Toha. (ed.) 1999. Bacaan Kuliah Pengkajian Drama. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Tambojang, Japi. 1981. Dasar-Dasar Dramaturgi. Bandung: Pustaka Prima.
Sumber Data
Toha, Achmad. 1961. Kereta Api Maut: Kisah Kekedjaman Kolonialis, Merusak Kehidupan Sosial. Jakarta: Departemen Kesedjahteraan Sosial Djawatan Pekerdjaan Sosial.
[1] Makalah ini disusun dan ditujukan untuk memenuhi tugas akhir semester Mata Kuliah Pengkajian Drama Indonesia (Kelas Ibnu Wahyudi).
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/drama
[3] Melani Budianta dkk. Membaca Sastra, (IndonesiaTera, 2006), hlm. 99.
[4] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200—2004, (Serambi Ilmu Semesta, 2001), hlm. 455.




mnurut sya crita.a bgitu mngenaskan………………………………..
smpai” blu kduk sya mrinding…………………………
iiiiihhhhhhhhh seeereeemmmmm deeeecccchhhhhhhh………
ooowwwwwhhhhhhhh……………………………………………
emnkk.a sreeeemmmm baaangeedddd eeeaaaa…………..
uwaaa…sereeem..
mari kita berjuang demi bangsa ini
mampir lagi ya…