oleh Prima Hariyanto
Menurut Yudiono K.S., di Indonesia terdapat tiga momentum besar sebagai tonggak-tonggak pembatas perubahan sosial, politik, dan budaya, yaitu proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, geger politik dan tragedi nasional 30 September 1965, dan reformasi politik 21 Mei 1998. Dari ketiga peristiwa tersebut, muncullah empat pengelompokan sastra, yaitu masa pertumbuhan atau masa kebangkitan (1900-1945), masa pergolakan atau masa revolusi (1945-1965), masa pemapanan (1965-1998), dan masa pembebasan (1998-sekarang).
Menurut saya yang disebut sebagai Sastra Reformasi adalah masa ketika karya-karya sastra muncul pada masa sekitar era reformasi (beberapa tahun sebelum 1998 sampai sekarang) yang tentu saja sangat dipengaruhi oleh semangat reformasi yang sedang marak digembar-gemborkan pada saat itu. Semangat reformasi tersebut menuntut adanya kebebasan untuk menyuarakan pendapat individu yang selalu dibungkam dan adanya “pemasungan kreativitas” pada masa Orde Baru. Hal inilah yang membuat sifat dari Sastra Reformasi itu bebas dan demokratis. Pada masa inilah terjadi pembebasan kretivitas sastra.
Reformasi politik yang terjadi sejak 1998 ini banyak melatarbelakangi lahirnya karya-karya sastra baik puisi, prosa, maupun drama, yang kebanyakan merefleksikan keadaan sosial politik serta kritik terhadap keadaan bangsa Indonesia pada saat itu. Bahkan, banyak penyair seperti seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer yang sebelumnya jarang mengangkat tema sosial politik ikut meramaikan suasana dengan puisi-puisi sosial politiknya.
Sejak reformasi 1998, mengalirnya semangat kebebasan semakin deras. Semangat ini akhirnya menabrak norma-norma yang berlaku sebelumnya. Hal-hal yang dianggap tabu seperti masalah seks dan kelamin malah marak diperbincangkan. Karya-karya seperti Saman, Larung (karya Ayu Utami), Mereka Bilang Saya Monyet, Jangan Main-Main dengan Kelaminmu, Nayla (karya Djenar Maesa Ayu), Tuan dan Nyonya Kosong (karya Hudan Hidayat), Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur, Adam dan Hawa (karya Muhidin M. Dahlan), dan beberapa karya lainnya justru banyak digemari oleh pembaca Indonesia.
Selain itu, muncul pula karya-karya feminis. Karya-karya Djenar Maesa Ayu yang telah disebutkan di atas merupakan contoh karya feminis. Pada masa itu muncul juga apa yang disebut sebagai sastra wangi, yaitu karya-karya sastra perempuan.
Seiring berkembangnya fiksi seksual, berkembang pula fiksi Islami yang dipelopori oleh para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) dan berhasil menjadi bacaan alternatif yang lebih sehat bagi masyarakat. Di antara karya para penulis FLP, seperti karya Asma Nadia, Pipiet Senja, dan Habiburrahman El-Shirazy. Bahkan, novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy telah menjadi best seller dan dapat melampaui angka penjualan novel Saman, Ayu Utami.
Muncul pula buku-buku chicklit dan teenlit bercerita tentang keseharian perempuan di kota besar, perempuan dewasa muda (20-30) yang sedang memperjuangkan karier dan kehidupan cintanya.
Selain itu, banyak pula muncul fiksi-fiksi dengan tema kemanusiaan yang universal (humanisme universal). Terdapat pula fiksi-fiksi yang mengeksplorasi kearifan dan kekayaan budaya lokal, seperti karya-karya Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, Taufik Ikram Jamil, dan Dianing Widya Yudistira. Sedangkan Seno Gumira Ajidarma, selain mengangkat dunia pewayangan, juga banyak menggarap tema-tema sosial. Banyak pula bermunculan novel-novel yang mengangkat sejarah, seperti Dyah Pitaloka (2005) karya Hermawan Aksan dan trilogi novel Gajah Mada (2006-2007) karya Langit Kresna Hariadi.
Bibliografi
Amirudin, Mariana. 2004. “Penulisan Feminin dan Maskulin, Daya Hidup, Seks, dan Narasi Kematian dalam Semangat Tubuh,” dalam Kompas, 3 November.
Herfanda, Ahmadun Yosi. 2005. “Pergeseran Konstelasi Sastra Indonesia Mutakhir,” dalam www.republika.co.id, 31 Juli.
Herfanda, Ahmadun Yosi. 2005. “Sastra Mutakhir dan Degradasi Peran Sastrawan,” dalam Republika, 3 Juni.
Jalaindra. 2007. “Sastra, Kebebasan dan Seks,” dalam www.jalaindra.wordpress.com, 10 Agustus.
Yudiono. 2004. “Format Baru Sejarah Sastra Indonesia,” dalam www.kompas.com, 07 Maret.




hidup Yudiono K.S \(^0^)/
beliau mrpkn salah satu dosen FIB Undip, yang ‘pintar’ dan rajin menulis buku, hehe
ajak Pak Yudiono mampir ke sini dong