oleh Melody Violine
Salah satu alat bagi suatu kelompok sosial untuk mengidentifikasi dirinya adalah bahasa. Bahasa bisa menjadi identitas kolektif etnik, tetapi bahasa bisa juga menjadi identitas yang lebih luas dari etnik yaitu bangsa. Ciri yang menonjol dari identitas bangsa Indonesia tercermin dari adanya bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia (www.duniaesai.com).
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada tahun 1938 bahwa
yang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ yaitu bahasa Melayu yang sungguhpun pokoknya berasal dari ‘Melayu Riau’ akan tetapi yang sudah ditambah, diubah, atau dikurangi menurut keperluan zaman dan alam baru, hingga bahasa itu lalu mudah dipakai oleh rakyat seluruh Indonesia; pembaruan bahasa Melayu hingga menjadi bahasa Indonesia itu harus dilakukan oleh kaum ahli yang beralam baru, ialah alam kebangsaan Indonesia[1],
bahasa Indonesia memang berasal dari bahasa Melayu. Para pelopor kemerdekaan Indonesia telah memilih bahasa Melayu—yang kemudian menjadi bahasa Indonesia—sebagai bahasa persatuan. Tentunya pilihan ini diambil atas berbagai pertimbangan dan memicu terjadinya banyak hal baru.
Mempunyai Bahasa Persatuan
Bercokolnya Belanda di Indonesia selama ratusan tahun membuktikan bahwa hanya persatuan seluruh bangsa Indonesialah yang dapat menentang mereka. Salah satu unsur yang harus disatukan adalah bahasa. Daerah Indonesia terpecah menjadi beratus-ratus kesatuan geografi dan kebudayaan yang masing-masing mempunyai bahasanya sendiri. Tentunya berbahaya sekali membangun sebuah negara tanpa menyepakati sebuah bahasa persatuan. Tanpa adanya bahasa persatuan, Indonesia hanyalah bagaikan sobekan-sobekan kertas yang direkatkan, bukan sehelai kertas yang benar-benar utuh.
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa persatuan, sekaligus menjadi identitas bangsa Indonesia. Apabila Bahasa Indonesia sebagai unsur dari sistem negara pada suatu saat tidak mampu memberikan fungsinya sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa persatuan, atau identitas bangsa maka akan terbayangkan adanya kegoncangan sistem sosial-budaya. Dalam peristiwa kenegaraan pasti akan terjadi kekacauan karena tidak ada bahasa kenegaraan. Semua orang akan membenarkan bahasa yang mereka gunakan sesuai etnisnya walau masing-masing berbeda bahasa. Tidak akan ada bahasa persatuan yang menjadi bahasa pengantar bagi masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang etnis dan bahasa beraneka macam. Tidak akan ada bahasa yang dijadikan identitas kebersamaan bahwa semua unsur itu menjadi bagian dari sistem yang bernama negara Indonesia. Inilah yang disebut sebagai disintegrasi atau distabilitas sistem negara.[2]
Pendidikan yang diberikan oleh Belanda sebagai bagian dari Politik Etis meningkatkan kesadaran yang terus berkembang terhadap nilai-nilai yang dipunyai bangsa Indonesia sendiri. Sayangnya, penyelenggaraan pendidikan Barat oleh Belanda di Indonesia sengaja diturunkan kualitasnya oleh pemerintah kolonial. Hal ini memicu kekecewaan rakyat pribumi. Pamor bahasa Belanda menurun drastis. Rakyat Indonesia membutuhkan bahasa baru sebagai alat mencapai kebudayaan modern.
Mengapa Bahasa Melayu?
Bahasa Melayu, dalam bentuknya yang sederhana, telah menjadi lingua franca, bahkan sebelum orang Belanda menginjakkan kakinya di Indonesia. Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dan agama Buddha berperan besar dalam menjadikan bahasa Melayu lingua franca kepulauan ini.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika bahasa Melayu dipilih menjadi bahasa persatuan Indonesia, kemudian menjadi bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Melayu bersifat terbuka untuk bahan bahasa sekelilingnya berdasarkan komunikasi ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Bahasa Melayu juga mempunyai struktur yang sederhana, sehingga mudah dipelajari. Dalam bahasa Melayu, tidak ada tingkat-tingkat (bergantung pada mitra tutur dan konteks tuturan) seperti dalam bahasa Jawa.
Budi Utomo pada awalnya merupakan sebuah organisasi yang bersifat kejawaan. Akan tetapi, sebagai gerakan yang menyadari nilai-nilai diri bangsa Indonesia, ia menggunakan bahasa Melayu dalam kebanyakan publikasinya supaya terjangkau pula oleh suku-suku lainnya. Bangsa Belanda pun sudah lama memakai bahasa Melayu dalam pemerintahan di Indonesia dan dalam korespondensi mereka dengan bangsa Indonesia.
Pemilihan bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan akan selalu dianggap sebagai pengistimewaan yang berlebihan, bahkan upaya pengambilalihan negara dari suku-suku lainnya. Bahasa Jawa tidak akan menjadi faktor pemersatu, melainkan akan menumbuhkan semangat separatisme.
Seperti pernah dikemukakan, perjuangan batin yang hebat bagi penduduk yang berbahasa Jawa untuk melepaskan bahasa Jawa dari kesempatan menjadi bahasa persatuan … semata-mata untuk mencapai keuntungan yang lebih besar, guna menghidupkan jiwa persatuan (Usman, 1970: 67).
Dampak Dipilihnya Bahasa Persatuan
Keuntungan dari memilih bahasa persatuan sendiri seperti ini adalah Indonesia mendapat kesempatan untuk memikirkan kembali soal-soal bahasanya dari awal. Tiba-tiba bahasa Indonesia berkembang dengan amat cepat. Bahkan, dapat dikatakan bahwa bahasa ini dipaksakan agar sesegera mungkin dapat melakukan fungsi suatu bahasa modern yang sudah matang.
Bahasa Melayu diasosiasikan oleh semua orang dengan nasionalisme Indonesia. Belanda agak terlambat menyadari perkembangan ini. Ditambah lagi, kebijaksanaan resmi terhadap bahasa Belanda tidak menunjukkan perubahan yang berarti, bahkan terjadi kemerosotan pengajaran bahasa Belanda.
Bahasa Melayu membuat orang-orang non-Jawa tidak merasa terpinggirkan, melainkan menjadi satu. Penelitian yang dilakukan oleh Chomsky juga membuktikan adanya kaitan antara bahasa dengan identitas bangsa.
Proses adaptasi bahasa dalam seorang individu memandunya untuk mengidentifikasikan dirinya pada kelompok yang memiliki bahasa yang sama dengan dirinya. Maka dari itu proses alamiah tersebut perlahan membentuk ikatan sosial antara individu dengan individu yang lain dalam sebuah kelompok masyarakat.[3]
DAFTAR PUSTAKA
”Peran Bahasa Indonesia dalam Usaha Persatuan Indonesia” Style Sheet. . http://fiqihsantoso.wordpress.com/ (27 Februari 2008)
————-. “Pertumbuhan Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Dunia,” Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, ed. Kridalaksana, Harimurti. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.
Alisjahbana, Sutan Takdir. “Sejarah Bahasa Indonesia,” Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, ed. Kridalaksana, Harimurti. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.
Brata, Nugroho Trisnu. “Bahasa dan Dinamika Masyarakat: Sebuah Wacana tentang Identitas Kebersamaan.” Style Sheet. www.duniaesai.com/antro/antro2.html (27 Februari 2008)
Kridalaksana, Harimurti. “Bahasa dan Linguistik,” Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik, ed. Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Samekto. “Politik Bahasa yang Bersangkutan dengan Hubungan antara Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu antara Tahun 1900 dan 1940,” Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, ed. Kridalaksana, Harimurti. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.
Teeuw, A. “Sejarah Bahasa Melayu,” Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, ed. Kridalaksana, Harimurti. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.
Usman, Zuber. Bahasa Persatuan: Kedudukan, Sedjarah, Persoalan-persoalannja. Jakarta: PT Gunung Agung, 1970.
[1] dikutip dengan penyesuaian EYD dari Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, Harimurti Kridalaksana, hal. 2.
[3] http://fiqihsantoso.wordpress.com/




Ulasan yang bagus, trima kasih untuk kesediaan berbagi, oh ya saya suka dengan studi bahasa, Mbak Violine bisa dihubungi via mail nggk ya?
Silakan hubungi saya di melody.violine@gmail.com
Terima kasih =)
[...] Mengapa bahasa Melayu? Bahasa Melayu mempunyai sejarah yang panjang sebagai lingua franca (1991: 196) atau bahasa penghubung di daerah yang sekarang menjadi wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Itulah mengapa bahasa Melayu menjadi bahasa nasional di keempat negara tersebut. Alasan-alasan lainnya dapat dilihat di tautan ini. [...]