Jangan Membaca Buku Sastra 18 September 2009
Posted by nyanyianbahasa in Sastra Populer.trackback
Oleh: Wahyu Awaludin
Kita tentu tahu bahwa bapak dari menulis adalah membaca. Maksudnya, untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bagus, kita harus membaca banyak. Silakan saja tanya para penulis dan kamu akan menemukan bahwa prinsip ini mutlak. Paling tidak, itulah yang dianjurkan Jonru seperti yang dituliskannya dalam artikel ini. Lihat Juga artikel ini, itu, di sini, dan di sana.
Sayangnya, mungkin ada banyak penulis (atau calon penulis) yang salah paham dengan prinsip ini. Dikiranya “banyak membaca” berarti” banyak membaca buku sastra”. Padahl, menurut Andrea Hirata, seorang penulis jangan hanya membaca buku sastra. Baca juga buku yang lainnya. Itulah yang dilakukan Andrea sehingga bisa menghasilkan maha karya Laskar Pelangi, satu buku ajaib yang mampu menembus penjualan 1 juta eksemplar. Metode Andrea itu terungkap dalam wawancaranya bersama Hernowo. Versi audionya bisa diunduh di sini.
Ngomong-ngomong, sekarang ada semacam rumus –saya ndak tahu bung Andrea setuju ndak…UNTUK JADI PENULIS YANG BAIK MEMANG AWALNYA MEMBACA…”
Andrea: “Saya kira begini…kenyatannya: saya ini bukan pembaca sastra, pak…”
Hernowo: “Ok, ya, ya…”
Andrea: “Sampai saat ini saya baru membaca…”
Hernowo: “Tapi saya dengar kan di bab-bab terakhir Laskar Pelangi waktu anda tukang pos itu, Anda kan membaca. Maksud saya bukan hanya sastra. Dan saya kira anda benar-benar pembaca yang luar biasa. Bukan hanya sastra ya, maksud saya memang buku-buku yang mampu memperkaya diri Anda..”
Andrea: “Jadi: SAYA ADALAH SEORANG PEMBACA…”
Hernowo: “Ok, ya, ya…”
Andrea: “Tapi, baru sedikit membaca sastra. Sekarang, sebagai gambaran, saya waktu itu dinas di Telkom Surabaya, saya dipindah ke Telkom Medan, berkemaslah saya. Mengepak gitu…Buku demi buku demi buku, setelah saya timbang: BUKU SAYA BERATNYA 1,5 TON…”
Hernowo: “dari kontrakan atau kosan anda saja itu ya…”
Andrea : “Buku-buku science, temuan-temuan terbaru, Kimia, Fisika, Biologi, IT, Matematika, Statistika, hasil-hasil riset, jurnal-jurnal luar negeri –tentang ekonomi, makro, mikro…Memang hanya sedikit novel…”
Hernowo: “Kalau anda sebut tadi Antonio Carmetta* itu?”
Andrea: “Nah, itu sebenarnya sesudah baca Laskar Pelangi. Ah, sebelum, sebelum menulis Laskar Pelangi…Sebelum nulis Laskar Pelangi saya Cuma sempat membaca satu novel seumur hidup saya..”
Hernowo: “Apa itu?”
Andrea: ………(Maaf, tidak jelas)
Hernowo: “Oh…”
Andrea: “Tapi, saya selalu membaca buku-buku science, makanya di Laskar Pelangi atau di tiga buku itu, saya cukup kontekstual ya ketika saya menceritakan fenomena Fisika, ketika saya menceritakan sedikit sosiologi, psikologi, saya lumayan dapet feelnya. Dan kontekstual…ya dapet juga. Walaupun tulisan itu menjadi tidak terlalu sastrawi. Dan saya pikir dalam keseimbangan dua hal itulah pembaca menikmati karya-karya itu.”
Hernowo: “Memang yang tidak ingin saya katakan itu kita Cuma membaca satu bidang tertentu saja, atau misalnya sastra saja. Bukan, bukan…Justru yang saya bayangkan itu kita memperlebar pikiran kita.”
Andrea: “Saya sarankan, saran saya buat para penulis: JANGAN HANYA MEMBACA SASTRA.”
Hernowo: “Hahaha!”
Andrea: “Jadi, itu ibaratnya seperti pelukis. Pelukis itu disarankan jangan hanya melukis kan, tapi banyak banyak membaca kan?”
Hernowo: “Betul, betul. Saya kira iya, betul…”
Andrea: “Begitu pula penulis. Penulis memang disarankan membaca, tapi jangan hanya membaca sastra. Baca itu: Penemuan terbaru, bagaimana kebijakan politik Amerika, temuan terbaru tentang energy alternatif, temuan terbaru tentang bangkrutnya teori evolusi, temuan terbaru yang ternyata dinosaurus selama ini semakin terpatahkan teorinya. Nah, itu kan akibatnya luar biasa terhadap tulisan.”
Hernowo: “Ya…itulah yang saya ambil kesimpulan. Itu yang buat itu..apa..possibility muncul di tulisan-tulisan kita.”
Andrea: “Iya. Jangan hanya membaca buku tentang bagaimana orang menggambarkan matahari terbenam. Capeee deeehh!!
Lembayung…Senja…Itu, sudah 3 juta buah buku sastra sudah begitu. Ya cukup sedikit saja: Matahari gelap. Malam menelan siang. Cukup!”
Hernowo: “Menurut saya, kalau banyak membaca, nanti bahasa seperti itu keluar dengan sendirinya itu!”
Andrea: “Iya, karena kita sudah meninabobokan diri kita dengan bahasa-bahasa yang terlalu sastrawi…Kita sudah sama sekali tidak terbuka otak supaya berpikir tentang konteks.”
Andrea berpendapat bahwa hanya membaca sastra bisa membatasi sudut pandang kita. Seperti yang tertulis di atas, gaya bahasa kita akan terbatas pada gaya bahasa sastra. Sibuk bermelankolis ria, mendayu-dayu, melupakan “inti” tulisan yang ingin disampaikan.
Ini hanya saran, hanya pendapat, hanya satu metode di antara metode-metode yang dipakai berbagai macam penulis untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Saran saya, coba saja. Jika cocok, lanjutkan. Jika tidak cocok, cari lagi metode yang cocok untukmu. Atau sekalian saja ciptakan metodemu sendiri.
Semangat! Ganbatte!
Ini videonya:





Kamu baca apa saja, yu? ^^
@melody: buku apa saja yang bisa saya baca..tapi saya agak gak nyambung sama buku hukum sih…
ahahah. tidak ada yg salah dgn membaca sastra.
justru sudah lelah baca yg lain makanya saya baca sastra.
@rima: haha, memang tidak ada yang salah kok…
@Rima: ahaha, memang nggak ada yang salah kok dengan membaca sastra..
by Wahyu
Judulny kurang lengkap ini, mungkin sebaiknya Jangan Hanya Membaca Sastra ;D
@Melody: Bukannya kurang lengkap, tapi memang sengaja saya buat begitu judulnya…kalo orang sih: agar kontroversial gitu, hehe…sesuatu yang kontroversial itu membuat orang penasaran. Orang yang penasaran akan membaca artikel ini deh! Itu tujuannya..
by Wahyu
yu, gue mau buat di wordpress..ajarin gue, gak bisa ngotak ngatiknya dari dulu2
Lha kan lo dah punya Multiply? yang griya karya alfi itu…
emang mau bikin berapa blog nih ceritanya??
by Wahyu