oleh Evlin, Melody Violine, dan Saktiana Dwi Hastuti
Sastra 80-an berada di tengah lingkungan yang masyarakatnya mengalami depolitisasi yang nyaris total. Aktivitas-aktivitas politik mahasiswa ditertibkan dan mahasiswa sepenuhnya dijadikan organ kampus yang dilepaskan dari segala macam aktivitas politik. Mimbar bebas tidak lagi dibolehan dan bahkan indoktrinasi berupa penataran P4 mulai menjadi bagian integral dari kehidupan kampus.
Politik stabilitas, security approach, normalisasi kehidupan kampus, dan asas tunggal merupakan lingkungan tempat para sastrawan era 80-an hidup. Majalah sastra hanya ada Horison dan Basis. TIM sebagai pusat kesenian tidak seleluasa dulu, baik dalam masalah dana maupun kegiatan (Sarjono, ed., 2001: 180-181).
Karya sastra yang lahir pada tahun 80-an dipengaruhi proses depolitisasi tersebut. Oleh karena itu, sastra yang muncul pun jadi tidak sesuai dengan realitas sosial politik serta tidak menunjukkan kegelisahan dan kesakitan kolektif masyarakat pada masa itu.
Globalisasi dengan ekonomi sebagai panglima menempatkan pusat dunia tidak lagi pada lembar-lembar diskursif sastrawi. Jargon-jargon politik yang hiruk-pikuk dan menakutkan telah berlalu. Mereka digantikan oleh jargon-jargon modisme yang meriah, kerlap-kerlip, dan tidak terasa menakutkan. Ditambah lagi, terdapat ancaman pembredelan-pembredelan terhadap karya sastra dan faktor-faktor keamanan lainnya.
Karya sastra yang lahir pada tahun 80-an dipengaruhi proses depolitisasi yang melanda masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, sastra yang muncul pun jadi tidak sesuai dengan realitas sosial politik serta tidak menunjukkan kegelisahan dan kesakitan kolektif masyarakat pada masa itu.
Prosa Indonesia pada masa ini didominasi oleh karya-karya yang bernuansa lokal sebagai pendobrakan karya-karya sebelumnya yang “kota sentris”. Perpuisian Indonesia didominasi oleh sajak-sajak ketuhanan, kecenderungan sufistik, dan sajak-sajak gelap. Drama Indonesia masih cenderung konvensional meskipun terdapat sedikit inovasi. Sayangnya, ramainya karya-karya terjemahan di Indonesia mengakibatkan para sastrawan Indonesia mengalami penurunan kuantitas dalam memproduksi karya sastra.
Wacana-wacana sastra yang sempat muncul ke permukaan adalah keterpencilan sastra, sastra kontekstual, sastra lokal, sastra kota, sastra intelektual, sastra yang merakyat (sastra dangdut), sastra tergugat, sastra sufistik, sastra gelap, sastra koran, sastra kiri, dan sastra pop remaja.
Daftar Pustaka
(berlaku bagi semua artikel “Angkatan ’80-an” di dalam blog ini)
“Dasawarsa 80-an.” Style Sheet. http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia (10 Desember 2006)
“Menggugat Stagnasi Sastra Indonesia,” Swadesi, 2 Januari, 1988, hal. 4.
Al-Pauhi, Syukri Datasan. “Tentang Keterpencilan Sastra Kita,” Singgalang, 15 Agustus 1988, hal. 6.
Asi, Harry Ganda. “Dilemma Sastra Kita,” Merdeka, 9 Agustus, 1984, hal. 7.
Baryadi, Praptomo. “Lagi, Tentang Keterpencilan Sastra di Tengah Masyarakatnya,” Kedaulatan Rakyat, 14 Desember, 1983, hal. 7.
Eneste, Pamusuk. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Djambatan, 1988.
————-. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern Edisi Baru. Jakarta: Djambatan, 1990.
F-1. “Penyair Muda Tidak Protes Lagi,” Suara Karya Minggu, 13 September, 1987, hal. 2.
GM, Baharuddin. “Kenapa Terjadi Krisis Sastra?” Pelita, 20 April, 1982, hal. 5.
H.B. Jassin. Koran dan Sastra Indonesia. Jakarta: Puspa Swara, 1994.
Hagguman, Willy A. “Kritik Sastra Sawo Manila,” Suara Karya Minggu, 7 Februari, 1988, hal. 2.
Heryanto, Ariel, ed. Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: Rajawali Pers, 1985.
I Made Suantha. “Kritik Sastra, Sebuah Proses pematangan,” Berita Buana, 2 Agustus, 1988, hal. 4.
Imran, Ahda. “Puisi Sufistik Lengang Sendiri.” Style Sheet. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/102006/07/khazanah/index.html (10 Desember 2006)
Johan. “Blog: Termasuk Karya Sastra?” Style Sheet. http://yuljeworo.sekolah-bisnis.com/?p=12 (10 Desember 2006)
M.S., Pamudji. “Memotret Sastra Indonesia Dewasa Ini,” Sinar Harapan, 10 Juli, 1986, hal. 7.
Pracahyo, Budoyo. “Polemik Sastra Berkembang Melejit,” Harian Terbit, 19 Agustus, 1989, hal. 5.
Prahara, Naim Emel. “Melihat Sketsa Sastra Indonesia,” Eksponen, 5 Oktober, 1986, hal. 8 dan 12.
Prekantoro, Mulyono. “Kritik dalam Karya Sastra Sufisme,” Yudha Minggu, 24 Juli, 1988, hal. 4.
R-32. “Angkatan dalam Kesusastraan Indonesia Dipertanyakan Bisakah Diwujudkan?” Pelita, 15 Agustus, 1988, hal. 6.
Rahman, Jamal D. “Angkatan Sastra Neo-Sufistik,” Majalah Gong Mahasiswa, I (Agustus, 1989), hal. 15.
Ramadhan, Reza Aditya. “Suasana Lain Sastra Pop,” Mingguan Aceh Post, 11 November 1989, hal. 8.
Rampan, Korrie Layun. “Angkatan 80 dalam Sastra Indonesia,” Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia. ed. E. Ulrich Kratz. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000.
————-. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo, 2000.
Rasyidin, Amir. “Sastra yang Merakyat,“ Merdeka Minggu, 31 Maret 1985, hal. 6.
Riyono, Eddy Soet. “Peranan ‘Kritik Diam’ Dalam Dunia Sastra Kita,” Pikiran Rakyat Bandung, 28 April, 1981, hal. 7.
Runua, Noeng. “Sastra Koran Sebuah Persoalan,” Suara Karya, 4 Februari, 1983, hal.4.
Sarjono, Agus R. Sastra Indonesia dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang, 2001.
Setia, Beni. “Dandyisme Puisi ‘80-an.” Style Sheet. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=160829 (10 Desember 2006)
S.R.H. Sitanggang, Zainal Hakim, dan Agus Sri Danardhana. Struktur Drama Indonesia Modern 1980-1990. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1995.
Sukayono, Edi. “Warna Lokal Ditilik dari Pengarang dan Pengamat Sastra,” Suara Karya Minggu, 26 Juni, 1988, hal. 5.
Winarno, Budi. “Sastra Indoenesia, Sastra Tergugat,” Minggu Ini, VII (Maret, 1987), hal. 8.



