oleh Evlin, Melody Violine, dan Saktiana Dwi Hastuti
- 1. Pendahuluan
Drama merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dibahas. Istilah drama berasal dari Yunani, yaitu dramoi yang berarti ‘aksi’ atau ‘perbuatan’[1]. Istilah drama itu sendiri sudah menyiratkan makna ‘peristiwa’, ‘karangan’, dan ‘risalah’[2].
Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di anatara tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi, 2006: 104).
Drama pada awalnya digunakan dalam suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Akan tetapi, ritual tersebut mengalami perkembangan menjadi oratoria, yaitu seni berbicara, kemudian berkembang menjadi drama.
Salah satu jenis drama yang berkembang adalah drama realisme. Realisme adalah aliran atau ajaran yang selalu berpegang pada kenyataan, dan dalam kesenian, aliran ini berusaha mengungkapkan sesuatu sebagaimana kenyataan yang ada[3]. Realisme digambarkan sebagai peniruan, bukan dari karya seni tradisi, melainkan peniruan dari aslinya yang disajikan oleh alam.
Drama realis bermula pada abad 19. Drama ini bertolak dari pikiran positifitis orang Eropa. Drama realis pada umumnya merupakan usaha untuk menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana subjek itu tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa melebih-lebihkan. Drama realis ingin memberikan wawasan dalam kenyataan kehidupan, memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan keburukan-keburukan yang ada. Pada umumnya, apa yang dikemukakan oleh drama realis adalah suatu kebenaran umum atau wajar.
Malam Jahanam merupakan sebuah drama ciptaan Motinggo Busje yang ditulis pada tanggal 1 Juni 1958 di Teluk Betung. Malam Jahanam pernah memenangkan sayembara penulisan lakon yang diadakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1958. Drama ini merupakan drama satu babak yang menampilkan sisi gelap manusia di samping aspek ketulusan dan kelembutan hati.
Dalam makalah ini, penulis menggunakan pendekatan objektif sebagai pendekatan dalam menganalisis Malam Jahanam. Pendekatan objektif merupakan sebuah pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang sedikit banyak bersifat otonom (Teeuw, 2003: 100). Pendekatan ini mencoba untuk memaparkan suatu karya sastra secara struktural. Dalam makalah ini, penulis mencoba menganalisis drama Malam Jahanam sebagai suatu karya yang mempunyai otonomi penuh. Oleh karena itu, penulis tidak mengaitkan karya dengan lingkungannya, seperti pengarang dan pembacanya. Penulis hanya membahas sistem formalnya yang membangun keutuhan karya, yaitu alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat.
2. Ringkasan Malam Jahanam
Di sebuah perkampungan nelayan, tinggallah Mat Kontan beserta istri (Paijah) dan anaknya (Mat Kontan Kecil). Soleman, teman dekat Mat Kontan, tinggal di seberang rumah mereka. Suatu malam, Paijah menunggu suaminya yang belum juga pulang. Ia mengkhawatirkan anaknya yang sedang sakit. Akhirnya, Mat Kontan pulang membawa seekor burung. Saat mengobrol dengan Soleman di teras rumahnya, dia menyombongkan burung perkututnya yang baru, juga istri dan anaknya. Soleman yang tidak tahan mendengarnya mengungkit-ungkit ketakutan Mat Kontan ketika nyawanya hampir melayang karena terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan yang ketakutan rahasianya dibongkar langsung berbaik-baik pada Soleman.
Tak lama kemudian, Mat Kontan mulai menyombongkan diri lagi. Dia juga menuduh Soleman iri karena dia mempunyai istri yang cantik dan seorang anak. Soleman bahkan dianggap takut menyentuh perempuan karena sampai sekarang belum juga beristri.
Mat Kontan masuk untuk melihat burung beo kesayangannya tapi tidak menemukannya. Utai, seorang warga kampung itu yang setengah pandir, mengaku pernah melihat bangkai burung tersebut di dekat sumur dengan leher tergorok. Mat Kontan yang jadi marah besar mengajak Utai menemaninya ke tukang nujum untuk mengetahui siapa pembunuhnya.
Paijah yang ketakutan bertanya pada Soleman apa yang sebaiknya ia katakan bila ditanya oleh Mat Kontan nanti. Ternyata, Solemanlah yang membunuh burung beo kesayangan Mat Kontan agar perselingkuhannya dengan Paijah tidak ketahuan. Soleman berjanji akan melindungi Paijah.
Mat Kontan segera pulang karena tukang nujum yang hendak ditemuinya sudah meninggal. Dia pun marah-marah pada Paijah, bertanya siapa yang membunuh burung beonya. Paijah balas mengungkapkan kekesalannya pada Mat Kontan yang tidak pernah memikirkan dan menyayangi dirinya dan anaknya tapi selalu membangga-banggakan mereka pada semua orang.
Awalnya, Soleman membela Paijah dari amarah Mat Kontan. Lama-lama Soleman diam saja. Paijah kecewa pada Soleman dan mengaku sebagai pembunuh burung beo Mat Kontan. Soleman pun mengaku bahwa dialah pembunuh burung beo Mat Kontan dan bahwa dialah ayah dari anak Paijah, anak yang selama ini Mat Kontan bangga-banggakan sebagai anaknya.
Mat Kontan marah dan mengangkat goloknya. Soleman membuat Mat Kontan takut lagi dengan mengingatkannya tentang saat dia terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan pergi dan menyerahkan Paijah serta anaknya pada Soleman.
Soleman menyusul Mat Kontan yang dikiranya hendak bunuh diri. Ternyata, Mat Kontan dan Utai sudah menunggu untuk membunuhnya. Soleman berhasil meloloskan diri dan pergi ke stasiun kereta api. Utai mati karena ditendang oleh Soleman.
Mat Kontan kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Dia bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk mengobati penyakitnya. Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.
3. Analisis Malam Jahanam
3.1. Realisme dalam Malam Jahanam
Karakteristik drama realis adalah sesuatu tidak boleh diperindah/diperburuk dari keadaan sebenarnya; menyampaikan ke permukaan tanpa harus menutupi kebenaran yang terjadi di sekitarnya; menolak seni untuk seni karena visualisasi digunakan untuk kepentingan masyarakat[4].
Selain itu, drama realis juga menggunakan bentuk well made play yang ciri-cirinya adalah eksposisi secara jelas menggambarkan situasi dan watak tokoh; pengolahan situasi sangat cermat menuju peristiwa berikutnya; suspens muncul tak terduga dan berbalik menurut logika; plot berlangsung kontinyu dan memuncak; dan resolusi terjadi secara logis dan meyakinkan.
Sesuai dengan salah satu karakteristik drama realis, Malam Jahanam tidak memperindah maupun memperburuk sesuatu dari keadaan sebenarnya. Drama ini menceritakan perselingkuhan sebagaimana adanya pada masa naskah drama ini ditulis, yaitu pada tahun 1950-an.
Malam Jahanam juga menyampaikan perselingkuhan ini ke permukaan tanpa menutupi kebenaran yang terjadi di sekitarnya. Motinggo Busye dengan jujur mengemukakan bagaimana tanggapan masyarakat saat itu dan reaksi orang-orang yang berhubungan dengan perselingkuhan ini.
Drama ini merupakan penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat. Penyebab dan dampak dari perselingkuhan Paijah dengan Soleman, kematian Mat Kontan Kecil yang tragis, dan keegoisan Mat Kontan dapat dipelajari oleh masyarakat dan dipetik hikmah serta amanatnya. Dengan demikian, Malam Jahanam dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat.
Karakteristik drama realis yang tidak kalah penting adalah manusia diharuskan mampu mempertahankan dirinya di tengah lingkungan tanpa harus melarikan diri dari kenyataan. Tokoh-tokohnya dihadapkan pada cobaan-cobaan yang memojokkan mereka. Baik Soleman, Paijah, maupun Mat Kontan, ketiganya mempunyai masalah yang membuat mereka tertekan. Akan tetapi, mereka tidak sanggup menghadapinya secara langsung dan memilih untuk melarikan diri di balik rahasia dan keyakinan palsu yang dibuat-buat.
Malam Jahanam juga memenuhi bentuk well made play. Pengolahan situasinya sangat cermat menuju peristiwa berikutnya. Sebab-akibat antarperistiwa terlihat jelas. Contohnya adalah pada adegan ke-V Soleman meminta diceritakan tentang perkutut atau beo saja daripada tentang Paijah dan Mat Kontan Kecil yang membuatnya kesal. Oleh karena itu, Mat Kontan teringat pada burung beo yang sudah dilupakannya selama dua hari. Mat Kontan tidak dapat menemukan burung tersebut. Pencarian burung beo ini pada akhirnya mengungkapkan perselingkuhan Soleman dengan Paijah.
Suspense atau unsur ketegangan dalam Malam Jahanam muncul secara tak terduga dan berbalik menurut logika. Pembaca mungkin terkejut ketika Soleman mengatakan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anaknya. Akan tetapi, setelah mengingat-ingat atau membaca kembali bagian awal Malam Jahanam saat Mat Kontan mengatakan bahwa dulu dia sering diolok-olok mandul oleh teman-temannya, pembaca tersadar bahwa pernyataan Soleman itu masuk akal dan menurut logika.
Plot Malam Jahanam berlangsung kontinyu dan memuncak. Alurnya maju, tidak ada flashback, tidak ada plot sampingan, dan tidak ada adegan yang tidak penting maupun yang tidak relevan. Ketegangan terus memuncak. Penanda-penanda yang paling jelas adalah amarah Mat Kontan dan ketakutan Paijah yang semakin lama semakin meninggi.
Resolusi atau pemecahan akhir, yaitu kematian Mat Kontan Kecil, terjadi secara logis dan meyakinkan. Bayi itu sudah sakit sejak drama dimulai, tapi baru pada akhir cerita Mat Kontan pergi mencari dukun untuk mengobatinya. Hal ini membuat pembaca teriris hatinya dan khawatir kemungkinan terburuk terjadi pada bayi itu. Tiba-tiba tangisnya terhenti. Kekhawatiran pembaca menjadi kenyataan. Paijah keluar rumah sambil berteriak-teriak mengatakan kalau anaknya sudah mati.
3.2. Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan menyatakan bahwa alur adalah roh drama (Sumardjo, 1994: 141). Alur Malam Jahanam adalah alur maju atau linear, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya (chronological order) secara berurutan. Alur ini berlangsung secara kontinyu dan memuncak.
Unsur-unsur alur dalam drama ada tiga (Sumardjo, 1994: 141), yaitu:
- Unsur ketegangan (suspense)
Ketidakpastian yang berkepanjangan dan semakin menjadi-jadi akan menimbulkan ketegangan. Adanya ketegangan dalam drama menumbuhkan dan memelihara rasa ingin tahu penonton dari awal sampai akhir suatu cerita.
- Unsur dadakan (surprise)
Unsur dadakan akan menyusun cerita sedemikian rupa hingga muncul dugaan-dugaan yang tidak disangka-sangka oleh pembaca dan mengagetkan.
3. Unsur ironi dramatik
Unsur ini membentuk pernyataan-pernyataan atau perbuatan-perbuatan tokoh cerita yang seakan-akan meramalkan apa yang akan terjadi.
Dalam drama Malam Jahanam, terlihat unsur ketegangan dan unsur dadakan. Unsur ketegangan terjadi ketika Soleman mengaku kepada Mat Kontan bahwa dialah yang membunuh burung beo dan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anak kandungnya.
Soleman : Sayalah yang melakukannya!
Mat Kontan : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman : Ya, Saya iri!
Mat Kontan : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman : Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat Kontan : Memang kau jahanam!
Soleman : Memang saya jahanam. Tapi kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga jahanam!
Mat Kontan : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman : Ia bukan anakmu![5]
Unsur dadakan dalam drama Malam Jahanam terlihat ketika Soleman mengaku kepada Paijah bahwa dialah yang membunuh burung beo milik Mat Kontan. Pengakuan Soleman membuat kejutan atau dadakan bagi pembacanya.
Soleman : Mungkin saya juga, Jah. Sekarang saya lebih baik mengaku saja (mereka kini saling berpandang). Saya juga punya takut (diam). Mungkin juga Nabi. Tapi Jah, saya bunuh beo itu karena binatang jahanam itu telah menyiksa saya!
Paijah : (terkejut mendengar berita baru itu) Apa? Kau bunuh? Kau yang memotong lehernya?[6]
3.3. Latar
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita (Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44). Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material (Hudson dalam Teeuw, 2003: 44). Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya. Latar sosial dalam Malam Jahanam yaitu lingkungan para pelayan yang hidup dalam kemiskinan. Bahasa yang mereka gunakan kasar dan kurang sopan.
Di pinggir laut kota kami, para nelayan tampaknya selalu gembira, biarpun betapa miskinnya. Rumah mereka terdiri dari geribik, tonggak bambu dan beratap daun kelapa. Suara mereka yang keras dan gurau kasar mereka, seolah-olah mengesankan bahwa mereka kurang berpendidikan.[7]
Latar fisik dalam drama Malam Jahanam yaitu di sebuah perkampungan nelayan. Penggambaran latar fisik dalam drama ini sangat jelas dan mendetail, seperti yang dicirikan dalam sebuah karya drama realis.
3.4. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991: 16). Tokoh-tokoh dalam drama ini adalah Mat Kontan, Paijah, Soleman, Utai dan Tukang Pijat. Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral dapat dibagi menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan wirawan atau wirawati.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan atau tokoh utama dan menjadi pusat sorotan dalam kisahan. Tokoh antagonis adalah tokoh yang merupakan penentang utama dari protagonis. Tokoh wirawan atau wirawati juga merupakan tokoh penting yang cenderung dapat menggeser kedudukan tokoh utama. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.
Tokoh protagonis dalam Malam Jahanam adalah Soleman sedangkan tokoh antagonisnya adalah Mat Kontan. Paijah memegang peranan sebagai tokoh wirawati. Tokoh-tokoh bawahannya adalah Utai dan Tukang Pijat.
Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi tokoh datar (tokoh sederhana) dan tokoh bulat (tokoh kompleks). Tokoh datar diungkapkan satu segi wataknya saja sedangkan tokoh bulat ditampilkan lebih dari satu. Selain itu, tokoh bulat juga mampu memberikan kejutan dengan munculnya segi watak lain yang tak terduga. Tokoh-tokoh datar dalam Malam Jahanam adalah Utai dan Tukang Pijat. Tokoh-tokoh bulat adalah Mat Kontan, Paijah, dan Soleman.
Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (Sudjiman dalam Sudjiman, 1991: 23). Metode penyajian penokohan dapat dibagi menjadi metode langsung, tak langsung, dan kontekstual. Metode langsung dipakai pengarang yang langsung mengisahkan sifat-sifat tokoh hasrat, pikiran, dan perasaannya. Jika pembaca harus menyimpulkan watak tokoh dari pikiran, cakapan, dan lakuan, metode yang dipakai adalah metode tak langsung. Metode kontekstual adalah metode yang dapat menyimpulkan watak tokoh dari bahasa pengarang. Malam Jahanam menggunakan metode langsung dan tak langsung.
Watak Mat Kontan adalah sombong, angkuh, penakut, egois, emosional, dan sok tahu. Mat Kontan juga merupakan orang yang lari dari kenyataan. Dia tetap membanggakan istri dan anaknya padahal dia sudah menduga bahwa istrinya tidak setia dan Mat Kontan Kecil bukanlah anak kandungnya. Mat Kontan dapat disebut penakut karena dia takut Soleman akan membongkar rahasianya yang pernah terperosok ke dalam pasir.
Mat Kontan : (takut) Jangan bilang perkataan itu, Man. Saya paling takut kalau kaubilang perkataan itu (melepaskan). O, aku takut kalau kauulangi cerita lama itu. Saya adalah orang yang kepingin panjang umur, Man. He, kau masih ingat peristiwa itu, Man?[8]
Mat Kontan egois karena meskipun selalu membangga-banggakan Paijah dan anaknya, dia tidak memedulikan anaknya yang sedang sakit. Dia hanya memedulikan koleksi burung dan kebahagiannya sendiri. Mat Kontan mudah marah bila menyangkut burung dan harga dirinya.
Watak Soleman adalah pengecut, besar mulut, dan pembual. Ketika Paijah menceritakan ketakutannya terhadap Mat Kontan kepada Soleman, Soleman berjanji akan melindungi Paijah. Soleman berkata bahwa dia bukan penakut. Padahal, sebenarnya dia adalah pengecut. Karena takut terhadap amarah Mat Kontan, Soleman kabur naik kereta api, meninggalkan Paijah dan anak kandungnya yang sedang sakit.
Watak Paijah adalah pencemas dan tidak setia. Ia takut Soleman dan dirinya sendiri akan dibunuh oleh Mat Kontan apabila masalah burung beo dan perselingkuhan mereka terungkap. Ia juga takut dirinya dan Soleman akan diusir dari kampung apabila ada yang mengetahui perihal perselingkuhan mereka.
Paijah juga seorang istri yang tidak setia. Ia berselingkuh dengan Soleman yang merupakan teman dekat suaminya. Meskipun Mat Kontan egois dan mandul, tidak seharusnya Paijah lari ke dalam pelukan laki-laki lain selama statusnya masih sebagai istri Mat Kontan.
Watak Utai adalah setia. Dia selalu menuruti perintah Mat Kontan, bahkan dapat dikatakan bahwa Utai adalah tangan kanannya. Watak Tukang Pijat tidak begitu terlihat karena kemunculannya terlalu singkat.
3.5. Tema dan Amanat
Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra itu (Sudjiman, 1991: 50). Tema Malam Jahanam adalah sisi buruk dan baik manusia. Dalam drama ini, kita bisa melihat sisi buruk manusia melalui Mat Kontan yang tidak menghargai orang lain, Paijah yang berselingkuh dengan Soleman, serta Soleman yang berhubungan istri teman dekatnya sendiri. Sisi baik manusia dapat kita lihat pada kelembutan hati Paijah terhadap anaknya serta Soleman yang mengakui kesalahannya pada Mat Kontan. Perselingkuhan juga diangkat dalam drama ini, yaitu perselingkuhan antara Paijah dengan Soleman.
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Amanat Malam Jahanam adalah kita harus dapat menghargai orang lain. Mat Kontan yang kurang menghargai Paijah dan Soleman akhirnya dikhianati oleh mereka. Kita juga harus bertanggung jawab akan semua yang telah kita lakukan walaupun akan berdampak buruk bagi kita. Seperti halnya Paijah dan Soleman yang mengakui kesalahan mereka dan harus bersedia menanggung akibatnya.
Amanat lainnya adalah orang yang lemah akan selalu menjadi korban. Amanat ini dapat kita ambil dari Utai. Dia setia terhadap Mat Kontan, tetapi harus menjadi korban dan meninggal ketika melawan Soleman demi Mat Kontan. Korban yang lebih malang lagi adalah Mat Kotan Kecil, bayi yang lemah dan tidak berdaya, yang meninggal akibat keteledoran dan keegoisan orang tuanya.
Amanat yang tidak kalah pentingnya adalah tentang kesetiaan. Seorang istri seharusnya setia kepada suaminya dan berkompromi mengenai kekurangan mereka masing-masing.
- 4. Kesimpulan
Malam Jahanam merupakan sebuah drama realis. Drama ini memenuhi karakteristik-karakteristik drama realis, mengharuskan tokoh-tokohnya bertahan di tengah lingkungan tanpa melarikan diri dari masalah, dan menggunakan bentuk well made play.
Setelah menganalisis Malam Jahanam dengan pendekatan objektif, kami menemukan bahwa tema drama ini adalah sisi buruk dan baik manusia dengan mengangkat masalah perselingkuhan. Alur drama ini adalah alur maju atau linear yang berlangsung secara kontinyu dan memuncak. Amanat Malam Jahanam adalah kita harus dapat menghargai orang lain, kesetiaan, dan orang yang lemah akan selalu menjadi korban.
DAFTAR PUSTAKA
Budianta, Melani, dkk. 2006. Membaca Sastra. Magelang: IndonesiaTera.
Busye, Motinggo. 1995. Malam Jahanam. Jakarta: Pustaka Jaya.
Ivaty, Susi. “Kejahanaman dalam Diri Manusia.” Style Sheet. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/07/seni/2617979.htm (12 Desember 2006)
Jassin, H.B. 1985. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei IV. Jakarta: Gramedia.
Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya.
Yudiaryani. 2002. Panggung Teater Dunia.Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli.
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/drama (12 Desember 2006)
[2] Melani Budianta dkk. Membaca Sastra, (IndonesiaTera, 2006), hlm. 99.
[3] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/07/seni/2617979.htm (12 Desember 2006)
[4] Yudiaryani. Panggung Teater Dunia, (Pustaka Gondho Suli, 2002), hlm. 157-158.
[5] Motinggo Busye. Malam Jahanam, (Pustaka Jaya, 1995), hlm. 65.
[6] Ibid. hlm. 46.
[7] Ibid. hlm. 7.
[8] Ibid. hlm. 25.




makasih banget……..
saya jadi bisa mengerjakan tugas saya
terimakasih karena sudah meringankan beban saya……:)
sama2, tapi hati2 jangan plagiat ya…
gile banget………
menggugah hati para pembaca….
makalahnya atau dramanya? hehehee
drama ini pernah saya mainkan dulu ketika saya masih duduk dibangku SMA kelas satu. drama dengan amanat yang sangat menyentuh, dengan segala konflik-konfliknya. dan drama ini akhirnya mengantarkan saya dan tim saya menjuarai Festival Teater Pelajar se-kota saya, juara dua.
waaaah, selamat ya ^^
terima kasih sudah berbagi cerita
cara dapatin naskah drama malam jahanam gy mana????tolong yaaaaa.,,.
please d bls.,.,..
http://banknaskah-fs.blogspot.com/2009/04/malam-jahanam.html
unsur ekstrinsik malam jahanam ada tidak??d bls yaaa.,.,.,
wah, kalo itu kami belum ada..maaf ya…
klo unsur ekstrinsiknya ada????
kami belum mendapatkan artikel tentang unsur ekstrinsik drama Malam Jahanam, silakan kalau wahyu mau mengirim ke sini nyanyianbahasa@gmail.com
thakz aja,,sya jd punya rferensi bwt presentasi kuliah “Sejarah Sastra” ^^
kami sangat senang kalau artikel ini bisa berguna..
terimksih bnget yaaaa ats artikelnya,,,,! bisa sya jdikan bhan reverensi untuk mata kuliah kajian drama