oleh Puspita Nuari
Ting tong.
Ini sudah yang kelima kalinya aku memencet bel. Agaknya benda putih mungil itu juga mulai bosan memanggil si empunya rumah. Kucoba menelpon ke ponselnya, masih juga tidak diangkat. Jangan-jangan dia sedang pergi? Ah, mana mungkin. Masak Din lupa aku mau ke rumahnya? Aku sudah bersiap menelponnya lagi saat Mbak Har, asisten rumah tangga di rumah Din, keluar untuk membukakanku pintu.
”Oh, ternyata Mbak Ita. Maaf, saya kira salesman. Mari masuk, Mbak. Tunggu di kamar Mbak Din saja,” ujarnya mempersilakanku untuk masuk.
”Memang Din lagi apa, Mbak?” tanyaku ingin tahu.
”Oh, Mbak Din lagi luluran.”
Aku bengong. Luluran? Pantas, kutelpon berkali-kali tidak diangkat. Rupanya dia lagi asyik main bersama Nyonya Menir… Baiklah, aku tunggu saja di kamarnya.
”Permisi, Mbak,” pamitku dan aku pun langsung menuju kamarnya di lantai atas.
Kubuka perlahan pintu kamarnya, lalu kumasuki kamar yang sudah hampir dua tahun tidak kukunjungi itu. Hmm, tidak banyak yang berubah. Lemari pakaiannya masih yang itu. Lemari bukunya masih yang berpintu kaca itu. Meja belajarnya juga masih yang dulu. Kurasa yang berubah hanya letaknya.
Terakhir aku kemari, begitu kubuka pintu kamar, aku akan langsung melihat lemari pakaian di dinding seberang pintu. Berturut-turut ke samping kiri lemari-pakaian-bermerk-Olympic itu ada meja belajar lalu lemari buku. Di seberang meja belajar dan lemari buku, atau di sebelah kiri pintu masuk, terdapat spring bed dengan ukuran untuk satu orang, eh, maksudku untuk dua orang karena di bagian bawahnya terdapat satu tempat tidur lagi yang dapat ditarik keluar bila ingin digunakan.
Kini, yang ada di sebelah kiri pintu masuk adalah si Olympic. Si Olympic yang berpintu dua ini berhadapan dengan meja belajar yang posisinya tidak berubah sejak terakhir aku kemari. Tempat tidur yang hari ini dibungkus dengan seprai motif daun mint menempel rapat ke di dinding sebelah kiri. Posisi yang demikian menyebabkan tempat tidur yang berada di bawahnya tidak dapat ditarik keluar karena terhalang oleh salah satu sisi meja belajar dan salah satu sisi si Olympic. Dan lemari bukunya? Ah, si Olympic kedua ini ada di depanku sekarang, tetapi dia menghadap ke dinding kiri.
Ups, aku baru sadar aku belum menutup pintu. Saat aku menutupnya, tidak sengaja aku menjatuhkan salah satu tas yang tadinya tergantung di balik pintu. Kukembalikan tas vintage tersebut ke gantungan yang sudah penuh dengan tas-tas lain. Pantas jatuh, pikirku. Berapa banyak sih tas yang mau Din taruh di sini? Dari tas kecil untuk ke pesta sampai tas bahu yang cukup besar, semua didesakkan di gantungan yang hanya berkepala empat ini. Ah, di antara tas-tas ini, aku tidak melihat tas punggung. Yah, aku malah akan heran kalau seorang yang feminin seperti Din memiliki tas punggung, apalagi memakainya ke kampus.
Duh, Din masih lama tidak, ya, lulurannya?
Aku memutuskan untuk duduk di lantai. Lantai kamar Din adalah tipe lantai favoritku karena aku suka sekali dengan sesuatu yang bertekstur kayu. Kuluruskan kakiku setelah kutaruh ranselku di sebelah kananku, lalu kusandarkan punggungku pada si Olympic pertama.
Uh, lelahnya. Perjalanan dari Bekasi ke Rawamangun membuatku mandi keringat. Panas-panas begini paling enak ngadem di kamar ber-AC. Lho? Kamar Din ini kan ber-AC, tetapi kok dari tadi aku berkipas diri menggunakan tangan? Aku melirik ke arah AC yang menempel di dinding sebelah kiri, di atas tempat tidur. Ya, ampun. Terang saja panas, wong AC-nya bocor! Airnya sampai merembes ke dinding begitu….
Aku berusaha menyesuaikan suhu tubuhku dengan suhu kamar ini, tetapi setelah aku berhasil pun, Din tetap belum kembali ke kamar. Lulurannya berapa bungkus sih? Centil amat. Din, aku mulai bosan nih.
Kulirik si Olympic kedua yang berada di sebelah kananku. Maksudku, aku ingin lihat, barangkali ada buku yang bisa kubaca sambil menunggu Din. Ternyata tidak kelihatan sebab hanya setengah bagian atas saja yang pintunya terbuat dari kaca, sedangkan bagian bawahnya tetap berpintu kayu. Aku yang sedang duduk ini terpaksa berdiri (lagi) untuk bisa melihat koleksi buku Din.
Hm, banyak juga koleksinya, tetapi hampir semua koleksinya adalah novel terjemahan. Duh, jadi tidak minat baca. Habis, aku lebih suka novel lokal, sih. Selain novel terjemahan, ada pula buku-buku kuliah Din yang tentu saja ’berbau’ farmasi. Ada dua buku-berbau-farmasi yang menarik perhatianku. Buku pertama adalah kamus (atau ensiklopedia?) tentang meracik obat. Aku tertarik karena bentuknya mirip dengan KBBI yang biasa kuanggurkan di rumah. Buku kedua, buku setebal lebih kurang 3,5 cm dengan tajuk Anatomi Fisiologis Manusia. Ya, Tuhan. Apa pula ini? Isinya adalah semua tentang organ tubuh kita, baik yang ada di luar, maupun yang di dalam tubuh. Ckckck, anak farmasi belajar hal begini juga, ya?
Bosan melihat buku-buku Din, aku beralih ke meja belajarnya. Tidak tahu juga harus kusebut apa meja yang penuh dengan barang ini. Sepertinya sudah tidak pernah berfungsi sebagaimana mestinya lagi. Ya, banyak benda-benda ’ajaib’ di meja multifungsi ini. Ada celengan berbentuk figur Superman yang tinggal setengah badan, ada Nokia (entah seri yang mana) tanpa penutup baterainya (tetapi masih bisa menyala), ada sebuah tabung plastik bening berisi undangan prom nite dua tahun lalu (Din memang lulus setahun lebih dulu dariku), bahkan Din masih menyimpan radio mini yang antenanya sudah patah beberapa tahun yang lalu!
”Hayoo, mau komentar apa tentang meja gua?”
Aku terkejut karena tiba-tiba Din sudah ada di belakangku.
”Sori, Ta. Tadi waktu lo dateng, gua itu baru mulai luluran! Makanya gua buru-buru nyelesein ’hajat’ gua karena takut lo lumutan di sini,” ujar Din disusul tawanya yang khas.
”Hm, ” sahutku singkat, pura-pura merajuk.
Tiba-tiba Din mengambil radio mini itu dari tanganku.
”Lo pasti heran karena gua masih nyimpen radio rusak ini. Ya, kan?”
Aku tidak menjawab dengan kata, tetapi sepertinya Din juga tidak membutuhkan jawabanku karena dia langsung menjawab sendiri pertanyaanya.
”Gua nggak akan membuang hadiah pertama dari sahabat pertama gua.”
Aku tertegun mendengar jawaban Din.
Din tersenyum.
Dan aku pun ikut tersenyum. Kamu juga sahabatku yang pertama, Din.



