Oleh: Wahyu Awaludin (0806466380)
Mungkin ada beberapa perbedaan antara sastra anak dan sastra dewasa. Namun, perbedaan mendasar dari kedua hal itu adalah sasarannya. Sastra anak adalah sastra yang mengacu kepada dunia anak; kehidupannya, alur cerita-ceritanya, dan bahasa yang digunakan (Kurniawan, 2009: 22). Sedangkan sastra dewasa berkebalikannya.
Dari definisi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sastra anak terbatas pada “karyanya”. Sedangkan penulisnya, penerbitnya, agen naskah, dan lain-lain, tidak harus seorang anak yang terlibat. Bahkan, selayaknya orang dewasa lah yang melakukan itu semua supaya mereka dapat mengerti dan memahami seperti apa seluk-beluk dunia anak itu sendiri, sehingga itu membuat orang dewasa lebih bijak mengambil sikap dalam mendidik anak.
Kita bisa mengambil turunan pemahaman dari paragraf-paragraf di atas tentang perbedaan sekunder lainnya antara sastra dewasa dan sastra anak. Misalnya, pertama, sastra anak sebaiknya berisi kehidupan-kehidupan yang dekat dengan dunia anak. Contohnya kehidupan bermain, kehidupan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, kehidupan imajinasi, kehidupan di rumah, serta kehidupan-kehidupan lain yang dekat. Ini berbeda dengan sastra dewasa yang bisa mengambil setting kehidupan yang lebih luas: dunia kerja, dunia kuliah, bahkan dunia malam. Rasanya tidak etis jika sastra anak berisi tentang kehidupan malam.
Kedua, alur cerita-ceritanya. Alur cerita dalam sastra anak biasanya sederhana dan tidak rumit. Konflik yang terjadi pun adalah konflik yang kecil dan sederhana, seperti pertengkaran antar teman karena berebut pensil, kemudian mereka berbaikan. Ini disesuaikan dengan tingkat pemikiran mereka yang masih sederhana. Tentu saja berbeda dengan sastra dewasa yang bisa melibatkan alur cerita yang lebih rumit, misalnya alur cerita kebangsaan seperti pada Tetralogi Buru, simbol-simbol kuno seperti pada The Lost Symbol, ataupun alur pembunuhan seperti pada novel the Farfume.
Ketiga, bahasa yang digunakan. Dalam sastra anak, bahasa yang digunakan sebaiknya adalah bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti dalam alur pikiran anak SD. Tabu jika kita memasukkan istilah sastra atau kedokteran di sana. Kalaupun ingin memasukkan suatu amanat, pergunakan dengan kalimat yang terang, jelas, dan eksplisit pada akhir cerita, karena biasanya seorang anak belum mampu menangkap apa yang ada di balik cerita tersebut. Tentu saja ini berbeda dengan sastra dewasa. Sastra dewasa lazim memakai banyak istilah -jika diperlukan. Justru istilah-istilah itu dipergunakan untuk memperkuat kesan cerita. Adapun masalah amanat, sastra dewasa biasanya lebih bersifat implisit dan sudah terkandung di dalam cerita. Orang dewasa tidak suka digurui, juga tingkat intelektualitas mereka lebih tinggi sehingga menyadari amanat itu walaupun tidak diungkapkan dengan jelas.
Referensi
Kurniawan, Heru. 2009. Sastra Anak: Dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.



