Nama: Wahyu Awaludin (0806466380)
Prodi Indonesia 2008
Puisi adalah karya seni. Ia adalah karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna (Pradopo, 1995: 3). Sesuatu yang mempunyai makna, tentu mempunyai fungsi pula. Horace mengatakan bahwa puisi itu indah dan berguna (dulce et utile). Indah dalam arti ia puitis, bisa membuat pembaca terharu, sedih, semangat, atau bahagia. Berguna dalam arti ia memberikan pencerahan. Untuk mengetahui penjabaran dari dulce et utile itu, mari sejenak kita membaca puisi-puisi yang akan penulis tuliskan di sini.
Kita adalah Pemilik Syah Republik Ini
Taufik Ismail
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku?”
Tidak ada pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk ople dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk, dan hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka
Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus.
1966
Puisi karya Taufik Ismail ini tercipta pada tahun 1966. Saat itu Indonesia sedang bergejolak. Tentu yang dimaksud dengan “bergejolak” itu adalah pembunuhan terhadap jenderal-jenderal angkatan Darat, Gerakan 30 September, dan kudeta terhadap Soekarno. Kondisi Indonesia sangat kritis. Terjadi kerusuhan. Terjadi pembantaian anggota PKI dengan jumlah korban berkisar antara 500.000 orang sampai 3 juta orang. Namun, Indonesia tak punya pilihan selain tetap berjalan, karena diam atau mundur berarti hancur.
Puisi Taufik Ismail ini merekam suasana tegang itu dengan bagus. Secara tidak langsung, puisi ini berfungsi sebagai propaganda, yakni penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu (KBBI, 2005: 898). Dalam memuluskan propaganda “terus berjalan” ini, Taufik Ismail memilih kata-kata yang bersifat menyemangati sekaligus ironi, seperti “Kita harus berjalan terus, karena berhenti atau mundur berarti hancur”.
Puisi, menurut Remy Sylado, tidak harus serius. Tidak harus begini begitu. Ia bisa saja berupa lawakan, kekonyolan, ironi, atau sesuatu yang tidak jelas. Ia bukanlah kata keramat. Jadi, fungsi puisi di sini lebih bersifat menghibur.
DI BLOK APA?
Oleh: Remy Sylado
Kalau
Chairil Anwar
Binatang jalang
Di blok apa
Tempatnya
Di Ragunan
Remy Sylado rupanya berseloroh. Seperti yang kita tahu, “Aku ini binatang jalang” adalah bagian dari puisi serius yang diciptakan Chairil Anwar. Itu menunjukkan makna kemarahan dan tekad. Namun, Remy Sylado mendobraknya. Ia malah bertanya, kalau Chairil itu binatang jalang, di blok mana tempatnya di Ragunan? Kita yang membaca itu akan terpana lalu tertawa. Di sini, puisi lebih bersifat menghibur dan lelucon.
Selain itu, bisa jadi puisi juga mempunyai fungsi sebagai curahan hati penyair. Dadanya yang sesak, berkecamuk, ia tuangkan semuanya lewat kata-kata dan puisi.
Aku Ingin
Oleh: Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencaintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
1989
Inilah puisi yang sangat terkenal di kalangan anak muda. Puisi “Aku Ingin” ini mempunyai daya magis yang sangat hebat karena pemilihan kata-katanya yang sangat pas. Sapardi bereksperimen, memilih kata-kata dengan sangat cermat. Ia memilih kata-kata yang liris, berima, dan romantis. Di sini, puisi ini lebih berfungsi sebagai curahan hati sang penyair. Dari berbagai fungsi yang penulis sebutkan di atas, semuanya adalah penjabaran dari fungsi puisi seperti yang dikatakan oleh Horace, yakni dulce et utile. Sebenarnya masih banyak penjabaran fungsi puisi, tapi penulis mencukupkan 3 puisi saja.
Daftar Pustaka
Aveling, Harry. 2003. Rahasia Membutuhkan Kata. Magelang: Indonesiatera.
Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Pradopo, Rahmat Djoko. 1995. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.




wah artikelnya sangat bermanfaat sekali….
saya jadi bisa menambah pengetahuan saya tentang sastra..
artikel yang sangat baik dan bermanfaat…
terima kasih
Terima kasih ini menjadikan inspirasi buat saya
sama2
mampir lagi ya…
terima kasih, ini dapat membantu sya menyelesaikan tugas.
yap2 mampir lagi ya
YAP2 MAMPIR LGI YA:D