oleh Muhammad Adi Nugroho Bukan sulap dan juga bukan sihir bila memperbincangkan bahasa. Sebagai sebuah alat, bahasa menjadikan dirinya sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Salah satunya tentu bahasa kita, bahasa Indonesia. Ajaibnya bahasa Indonesia ini. Ungkapan adanya kejaiban terhadap bahasa Indonesia adalah istilah yang dilontarkan oleh ahli linguistik Joshua Fishman. Entah apa yang dimaksud dengan [...]
Arsip untuk ‘Sejarah Bahasa’ Kategori
Ajaibkah Bahasa Indonesia?
Diposkan dalam Sejarah Bahasa pada 3 Januari 2010 | 2 Komentar »
Angkatan ’80-an (7): Sastra Dangdut, Sastra yang Merakyat
Diposkan dalam Sejarah Bahasa pada 29 September 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
oleh Evlin, Melody Violine, dan Saktiana Dwi Hastuti Pada tahun 80-an, rakyat Indonesia sedang dalam proses belajar mengerti sastra. Banyak rakyat yang tidak mengenal sastra modern. Dalam keadaan ini, masih banyak pengarang atau sastrawan yang menuding orang-orang yang tidak dapat menikmati karya-karya mereka sebagai orang-orang bodoh yang masih perlu di-up-grade. Dalam Horison edisi yang sama, [...]
Mengapa Bahasa Melayu menjadi Bahasa Persatuan Indonesia?
Diposkan dalam Bahasa, Sejarah Bahasa pada 17 September 2009 | 3 Komentar »
oleh Melody Violine Salah satu alat bagi suatu kelompok sosial untuk mengidentifikasi dirinya adalah bahasa. Bahasa bisa menjadi identitas kolektif etnik, tetapi bahasa bisa juga menjadi identitas yang lebih luas dari etnik yaitu bangsa. Ciri yang menonjol dari identitas bangsa Indonesia tercermin dari adanya bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia (www.duniaesai.com). Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki [...]
Indonesia dan Malaysia Bersaudara di dalam Bahasa
Diposkan dalam Sejarah Bahasa pada 12 Juli 2009 | 6 Komentar »
Inilah salah satu hal yang kita “perebutkan” dengan negeri tetangga—bahasa. Sebagian orang yang awam terhadap ilmu bahasa (linguistik) mungkin bingung. Apakah bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia memang sama? Kalau pengguna kedua bahasa ini bisa saling mengerti tanpa mengikuti kursus bahasa asing dulu, mengapa tidak memakai nama yang sama saja—bahasa Melayu misalnya?



