Tugas Mata Kuliah
Tradisi Sastra Nusantara
Oleh:
Augtri Asokawati (0806353394)
Fitri Nuraeni (0806466254)
Wahyu Awaludin (0806466380)
Program Studi Indonesia
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
2009
BAB I
PENDAHULUAN
Definisi dari naskah adalah “produk peninggalan masyarakat dahulu kala yang berupa bahan-bahan tulisan yang di dalamnya mengandung hal-hal mengenai sejarah, bahasa, sastra, dan falsafah milik bangsa yang melahirkannya” (Tradisi Tulis Nusantara, 1997: 143). Jumlah sebenarnya dari naskah Indonesia yang diciptakan mungkin tak seorangpun yang mengetahuinya. Apa yang bisa kita ketahui sekarang adalah jumlah naskah yang selamat, terkumpul dan dipelihara di berbagai perpustakaan di dunia, misalnya di Library of Congress, Washington DC, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Pusat Dokumentasi Riau, Arkib Brunei Darussalam, dan Pusat kebangsaan Manuskrip Melayu di Perpustakaan Negara Malaysia. Dikatakan bahwa hingga saat ini, jumlah naskah Jawa saja yang diketahui ada 19.000 naskah. Itu belum termasuk bahasa Sunda, Batak, dan lain-lain. Sedangkan naskah yang kini berada di luar negeri diperkirakan lebih dari 8.000 naskah (Tradisi Tulis Nusantara, 1997: 145).
Sastra Indonesia lama yang begitu banyak jumlahnya itu sudah menjadi warisan budaya bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya yang seyogyianya dihargai dan dilestarikan dengan cara pengalihaksaraan, pendokumentasian, digitalisasi melalui foto atau mikrofilm, penerjemahan, dan penerbitan sastra daerah itu (Mu’jizah, 1995: v).
Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari pelestarian sastra lama, misalnya kita bisa memandang bahwa itu adalah sebuah dialog budaya antardaerah, salah satu alat yang bisa mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan, sebagai warisan rohani kebudayaan dan kearifan bangsa Indonesia zaman dahulu, dan lain-lain.
Sebagai salah satu propinsi di Indonesia, Sumatra Selatan menyimpan sekitar 128 naskah dengan rincian 4 naskah dari Palembang, 22 naskah dari Bangka, 17 naskah dari Belitung, 7 naskah dari Ogan, 21 naskah dari Komering, 11 naskah dari Besemah, 9 naskah dari Musi, 8 naskah dari K.Agung, 9 naskah dari Belide, 7 naskah dari Panesak, 3 naskah dari Ranau, 4 naskah dari Enim, dan 6 naskah dari Rawas (Ekspresi Semiotik, 1997: 14-18). Naskah Palembang sendiri misalnya “Pulau Kemarau”, “Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat”, “Sekerak labu”, dan lain-lain (Ekspresi Semiotik, 1997: 14). Akan tetapi, penulis hanya akan memfokuskan pembahasan pada naskah “Hikayat Nakhoda Asyik.”
Menurut katalogus Ronkel (1909), Howard (1966), dan Sutaarga (1978), naskah “Hikayat Nakhoda Asyik” adalah naskah tunggal atau codex unicus. Hikayat Nakhoda Asyik yang berasal dari Palembang ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta, dengan kode ML (Melayu) 263 dan berukuran 31,5 cm x 22 cm. Naskah ini terdiri dari 140 halaman dan tiap halaman berisi 15 baris. Teks ini ditulis dengan aksara Arab Melayu pada kertas folio polos dan tulisannya masih begitu jelas, jadi masih mudah dibaca. “Hikayat Nakhoda Asyik” ini disalin oleh Encik Muhammad Bakir bin Sofyan Usman Fudoli di Pecenongan, Langgar Tinggi, Betawi, pada tanggal 17 Maret 1890. Sedangkan edisi cetaknya ditulis kembali oleh Mu’jizah , seorang dosen luar biasa Universitas Indonesia yang mengajar sastra Melayu. “Hikayat Nakhoda Asyik” ini diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1995.
Sebenarnya ada begitu banyak hal menarik dari “Hikayat Nakhoda Asyik”. Misalnya saja menurut Abdul Hadi W.M bahwa “Hikayat Nakhoda Asyik termasuk karya sastra campuran antara Hindu dan Islam (www.icas-indonesia.org). Juga hasil dari penelitian yang berjudul “Tiga Karya Penyalin Betawi Muhammad Bakir: Analisis Struktur dan Makna” yang dilakukan oleh Mu’jizah, Sri Sayekti, dan Zainal Hakim tahun 2000 yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, disimpulkan:
“Dalam “Hikayat Nakhoda Asyik” ada hal yang menarik dari struktur ceritanya, yaitu nama tokoh yang dimunculkan sudah menggambarkan karekter sang tokoh, begitu juga dengan latarnya. Nama-nama tempat yang digunakan sudah menggambarkan suasana tempat. Gaya penyampaiannya sangat humoris dan menggunakan bahasa Betawi sebagai sarana” (pusatbahasa.diknas.go.id)
Akan tetapi, penulis hanya akan memfokuskan untuk membahas amanat dari “Hikayat Nakhoda Asyik” saja. Hal ini untuk menghindari agar tidak terjadi pelebaran pembahasan. Tujuan penulis adalah untuk mengetahui amanat-amanat yang terkandung di naskah “Hikayat Nakhoda Asyik” dimana itu merupakan salah satu upaya untuk melestarikan khazanah sastra lama Nusantara. Metode yang penulis gunakan adalah studi kepustakaan.
BAB II
RINGKASAN “HIKAYAT NAKHODA ASYIK”
Di suatu masa terdapat sebuah negeri bernama Negeri Diyarul Asyik. Pemimpin dari negeri tersebut adalah seorang raja yang bernama Raja Sultan Alam Kanjul Patah. Beliau mempunyai istri yang sangat setia bernama Asma Pengasi. Mereka hidup berbahagia karena negeri yang dipimpinnya makmur sentosa. Tidak ada kekurangan sedikit pun dalam segi materi. Akan tetapi, ada hal yang masih membuat raja dan istrinya itu sedih, yaitu ketidakhadiran seorang anak yang pada nantinya akan mewarisi tahta kerajaan.
Raja pun mulai cemas dan ia berinisiatif untuk pergi ke sebuah gunung. Gunung tersebut adalah Gunung Mandali Dilaila. Konon, siapa saja yang memohon dan berdoa di gunung tersebut segala permintaannya akan dikabulkan. Akhirnya, Raja Sultan Alam Kanjul Patah beserta istri dan para pengikutnya pergi ke gunung tersebut. Setelah sampai di gunung itu, mereka bertemu dengan penjaga yang bernama Pendeta Bermanah Berma Bermadu. Pendeta itulah yang memberi tahu tempat berdoa yang tepat. Setelah meminta dan berdoa mngenai apa yang ada di dalam hatinya. Raja beserta istri dan rombongannya kembali ke negeri Diyarul Asyik dengan penuh harapan.
Setelah tiga bulan berselang istri raja itu akhirnya mengandung. Setelah sembilan bulan berada di dalam kandungan, anak yang mereka nantikan akhirnya lahir dan diberi nama Sunkar Bilmalih. Sunkar Bilmalih bertambah usia dan raja pun memberikan pendidikan yang cukup untuknya seperti mengaji, belajar ilmu makna, tafsir, ilmu babad dan ilmu aturan sehingga Sunkar Bilmalih tumbuh menjadi anak yang santun perangainya dan ia mengetahui mana bahasa yang halus dan bahasa yang rendah.
Setelah umur Sunkar Bilmalih genap dua belas tahun, ayahnya ingin memberikan takhta kerajaan padanya dan menawarkan Sunkar Bilmalih untuk memilih perempuan yang ia sukai untuk dinikahinya. Akan tetapi, Sunkar Bilmalih tidak menerima apa yang disarankan oleh ayahnya. Ia malah meminta agar diizinkan untuk pergi ke negeri lain sebagai seorang nakhoda dengan alasan untuk menuntut ilmu dan pergi berdagang karena ia merasa dirinya belum sempurna sebelum melakukan perjalanan ke negeri lain. Raja Sultan Alam Kanjul Patah merasa senang dengan keputusan anaknya yang bikjaksana, ia pun mengizinkan anaknya untuk pergi dan memberikan sebuah kapal beserta isinya untuk diperdagangkan. Beberapa pengikut dari Negeri Diyarul Asyik pun ikut menjadi awak kapal.
Pelayaran pun dilakukan, sampailah di suatu negeri bernama negeri Dendam Kecubung, rajanya bernama laila Sekebun. Melihat Sunkar Bilmalih membawa kapal yang bagus dan barang dagangannya yang mewah banyak rakyat yang menyambutnya dengan suka cita. Di negeri itulah Sunkar Bilmalih mendapatkan banyak sahabat. Setelah beberapa lama berada di dalam negeri Dendam Kecubung, Sunkar Bilmalih ingin melakukan pelayaran ke negeri lain. Sebelum melakukan perjalanan lagi, Sunkar Bilmalih memerintahkan pada Encik Muhibat, seorang yang dituakan dari negeri Diyarul Asyik untuk mengelola dagangannya di negeri Dendam Kecubung. Setelah itu, barulah Sunkar Bilmalih melakukan perjalanan pelayaran.
Di dalam perjalanannya mengarungi lautan, Sunkar Bilmalih melihat ada seorang wanita cantik memakai perhiasan bertahta kerajaan mengapung di lautan. Sunkar Bilmalih pun menyelamatkan wanita itu. Ternyata wanita itu sengaja menceburkan dirinya ke laut karena negerinya sedang mengalami peperangan. Sunkar Bilmalih pun mengajaknya untuk kembali ke negeri wanita itu yang bernama negeri Pasir Berhambur. Di dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan sekoci, ternyata sekoci itu berpenumpang ayah dan ibu dari wanita itu. Mereka melarikan diri dari Negeri Pasir Berhambur karena di sana sedang ada perang antar raja.
Sunkar Bilmalih sangat gembira ketika mengetahui bahwa penumpang sekoci itu adalah raja Anta Berduka, yakni raja negeri Pasir Berhambur. Raja Anta Berduka pun begitu bahagia karena ternyata anaknya, putri Asma Penglipur ada di dalam kapal milik nakhoda Sunkar Bilmalih. Setelah melepas rindu, mereka berdiskusi tentang keadaan negeri Pasir Berhambur dan Sunkar Bilmalih mengambil keputusan untuk menuju ke negeri itu demi menolong.
Akan tetapi, di pelabuhan perbatasan terjadi keributan kecil yang dipicu raja Besi Biru. Menteri Janggarawan, yakni salah satu menteri negeri Pasir Berhambur yang menyamar menjadi rakyat biasa untuk mencari raja Anta Berduka dan putri Asma Penglipur tertarik akan keributan yang terjadi. Tak disangka-sangka Menteri Janggarawan malah bertemu dengan raja Anta Berduka dan putri Asma Penglipur. Hati Menteri Janggarawan begitu senangnya.
Akan tetapi, keadaan di negeri Pasir Berhambur makin genting. Maka Sunkar Bilmalih dan lain-lainnya segera bermusyawarah. Sunkar Bilmalih mengirim surat untuk orangtuanya untuk meminta bantuan pasukan. Maka ketika Sultan Alam Kanjul Fatah membaca surat itu, mengalirlah pasukan dalam jumlah besar menuju negeri Pasir Berhambur. Ketika pasukan besar itu sampai, mereka mendapati pangeran Sunkar Bilmalih dalam kesukaran. Maka, terjadilah peperangan besar yang dimenangkan gabungan kekuatan negeri Pasir Berhambur dan negeri Diyarul Asyik.
Ketika pesta kemenangan sedang berlangsung, raja Anta Berduka dan istrinya berdiskusi tentang calon suami putri Penglipur Lara dan setuju bahwa yang pantas mendampinginya hanyalah Sunkar Bilmalih. Merasa saling jatuh cinta, akhirnya Sunkar Bilmalih dan Asma Panglipur menikah dengan restu dari Raja Anta Berduka. Mereka hidup berbahagia.
Setelah tujuh bulan berada di Negeri Pasir Berhambur sang Nakhoda Sunkar Bilmalih memutuskan untuk kembali berdagang dan melakukan pelayaran ke negeri lain. Dengan berat hati Asma Panglipur merelakan kepergian suaminya. Pelayaran pun dilakukan, dalam perjalanannya sang nakhoda sangat sedih mengingat istrinya. Ia sangat rindu pada Asma Panglipur. Dalam perjalanan tersebut, ia mengganti namanya menjadi Nakhoda Asyik Cinta Berlekat. Akhirnya, pelayaran itu berhenti di sebuah negeri bernama Negeri Diyarul Maksuk. Negeri itu diperintahkan oleh seorang raja bernama Suka Birawan dan beliau mempunyai seorang menteri bernama Menteri Kakanda Titiran. Di dalam negeri itu terdapat sebuah kampung yang bernama Kampung Maksuk Berdendang, di dalam kampung itu banyak terdapat wanita cantik yang pandai bersyair. Lelaki mana pun yang datang ke tempat itu pasti terlena melihat kecantikan dan merdunya para wanita itu bersyair.
Karena terlalu rindu pada istrinya, Nakhoda Asyik Cinta Berlekat pergi ke kampung itu untuk menghibur hatinya. Ia pun bertemu dengan gadis yang amat cantik bernama Asma Tuturan yang merupakan anak dari Ma Manis. Nakhoda Asyik Cinta Berlekat jatuh cinta pada Asma Tuturan begitu pun sebaliknya. Namun cinta mereka tidak tidak begitu saja dapat diresmikan. Nakhoda Asyik harus membeli wanita itu dengan harga yang sangat tinggi. Ia pun memberikan semua kekayaannya pada Ma manis yang merupakan ibu dari Asma Tuturan. Setelah persyaratan itu ditunaikan, akhirnya mereka pun menikah. Tetapi sekarang sang Nakhoda sudah jatuh miskin karena seluruh harta kekayaannya dipakai untuk membeli Asma Tuturan.
Kecantikan Asma Tuturan memang membuat siapa saja merasa terpikat dan menginginkannya untuk dijadikan istri. Begitu juga yang dialami Menteri Kakanda Titiran. Ia sangat menyukai Asma Tuturan. Ia tidak peduli walaupun Asma Tuturan adalah istri dari Nakhoda Asyik Cinta Berlekat. Menteri Kanda Titiran pun akhirnya mencari akal dengan jalan yang sangat tidak manusiawi. Ia menipu Nakhoda Asyik Cinta Berlekat dengan mengajaknya berlibur. Nakhoda Asyik Cinta Berlekat pun ikut dalam perjalanan tersebut. Ternyata Menteri Kanda Titiran mengajaknya ke tempat yang sepi dan sunyi dan di sanalah Menteri Kanda Titiran menyuruh keempat orang suruhannya untuk membunuh Nakhoda Asyik Cinta Berlekat. Akhirnya sang Nakhoda diikat pada sebatang pohon lalu dihanyutkan ke dalam sungai.
Setelah kejadian itu, Menteri Kanda Titiran memberi tahu kepada Asma Tuturan kalau suaminya itu telah diterkam harimau di dalam hutan. Asma Tuturan pun menjadi seperti orang gila yang ditinggal mati oleh suaminya. Asma Tuturan akhirnya melapor pada Raja Suka Birawan bahwa menterinya yang bernama Kanda Titiran telah berbuat jahat pada suaminya. Karena merasa dipermalukan dan takut kalau Raja Suka Birawan tidak menjadikannya menteri lagi, ia pun memfitnah Asma Tuturan dan akhirnya Asma Tuturan dimasukkan oleh Raja Suka Birawan ke dalam penjara. Di dalam penjara Asma Tuturan merasa sangat sedih karena teringat oleh suaminya. Ia yakin kalu suaminya itu belum meninggal. Di dalam penjara Asma Tuturan terus menerus bersyair. Melihat hal itu Raja Suka Birawan merasa iba dan mengeluarkan Asma Tuturan dari penjara.
Setelah dibebaskan, Asma Tuturan meminta kepada Raja Suka Birawan agar diizinkan untuk mencari suaminya. Raja pun memberikan izin kepadanya. Ia mencari suaminya hari demi hari hingga ia sampai di kaki Gunung Gempar Pilu. Di sana ia bertemu dengan seorang tukang kayu. Tukang kayu itu sangat menyukai Asma Tuturan dan tukang kayu itu pun mengajak Asma Tuturan untuk menikah dengannya. Akan tetapi Asma Tuturan menolak ajakan tukang kayu itu. Ternyata tolakan dari Asma Tuturan membuat si tukang kayu amat penasaran. Ia pun menyekap Asma Tuturan dan diikatkan pada sebuah pohon.
Saudagar Asyik Cinta Berlekat telah dianiaya orang. Tubuhnya diikat lalu diceburkan ke sungai. Akan tetapi, setelah beberapa lama terbawa ombak, tubuh Saudagar Asyik pun ditemukan oleh Encik Muhibat. Encik Muhibat senang karena tuannya itu masih hidup. Lalu tubuh Saudagar Asyik pun dibawa berlayar sampai terdampar di kaki Gunung Mandali Dilaila. Di gunung itu, mereka bertemu dengan pendeta Bermadu. Saudagar Asyik pun diobati sampai sembuh. Mereka berdua tinggal di gunung itu selama empat puluh hari. Setelah itu, mereka memutuskan untuk kembali ke negerinya, yaitu Negeri Diyarul Asyik.
Di perjalanan, Encik Muhibat bercerita kepada Saudagar Asyik ketika menemukannya terapung di lautan. Semenjak itu, Saudagar Asyik sadar bahwa dirinya telah dianiaya orang, yaitu Menteri Kanda Titiran, maka muncullah keinginannya untuk balas dendam. Sesampainya di Negeri Diyarul Asyik, Saudagar Asyik bertemu dengan ayah dan bundanya. Bundanya sempat tekejut karena melihat penampilan anaknya yang seperti mayat hidup. Namun setelah itu, mereka merayakan kedatangan Saudagar Asyik selama empat puluh hari.
Di Negeri Diyarul Maksuk, Raja Syauki Birawan sangat merindukan Asma Tuturan yang sedang pergi mencari kekasihnya. Karena lama tidak kembali, raja menyuruh utusannya mencari Asma Tuturan. Di sebuah gunung, seorang hulubalang menemukan Asma Tuturan sedang dianiaya oleh tukang kayu. Lalu, hulubalang itu menolongnya dan membawanya pulang menghadap raja. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan tukang kayu. Karena marah, hulubalang itu pun membunuh tukang kayu tadi. Setelah sampai di istana, raja menuruh Asma Tuturan tinggal.
Di Negeri Diyarul Asyik, Sunkar Bilmalih bermusyawarah dengan teman-temannya hendak menghadap Sultan Kanjul Fatah untuk meminta izin akan menyerang sebuah negeri demi membalas perbuatan Menteri Kanda Titiran. Namun, raja tidak memberi izin maka sedihlah ia. Raja heran karena melihat Sunkar Bilmalih terus bersedih. Lalu suatu hari, raja bertanya kepada Sunkar Bilmalih perihal kelakuannya yang terus murung itu. Sukar Bilmalih menjawab bahwa ia sedih karena telah meninggalkan istrinya di Negeri Pasir Berhambur dan sekarang ia sangat merindukan istrinya itu. Akan tetapi, ia tidak berani mengungkapkan masalah balas dendamnya lagi. Setelah mendengar perkataan anaknya, raja mengizinkan Sunkar Bilmalih pergi untuk menjemput istrinya, yaitu Asma Penglipur. Ia pergi bersama sebagian rakyat dan bala tentara dengan tujuh buah kapal. Sebelum sampai ke tujuan, mereka singgah dulu di Gunung Mandali Dilaila untuk memberi harta dan makanan kepada pendeta. Tetapi setelah ditemui, pendeta ingin ikut. Jadi, mereka pergi bersama-sama. Setelah beberapa lama, mereka tiba di Negeri Pasir Berhambur. Kedatangan mereka disambut dengan meriah.
Di Negeri Darul Maksuk, Asma Tuturan tidak henti-hentinya bersyair mengingat kekasihnya yang tak kunjung kembali. Menteri Kanda Titiran yang baru saja dilepaskan dari penjara merasa tidak tahan dan kecewa karena cintanya pada Asma Tuturan hanya bertepuk sebelah tangan. Demi melampiaskan kekecewaannya itu, menteri dan para pengikutnya membuat huru-hara hingga akhirnya menteri itu dihukum mati oleh raja karena terbukti bersalah.
Di Negeri Pasir Berhambur, Sunkar Bilmalih beserta istrinya, Asma Penglipur, menghadap Raja Anta Berduka untuk memohon undur diri karena sudah waktunya bagi mereka melaksanakan rencana selanjutnya, yaitu menyerang Negeri Darul Maksuk. Di sana terjadi peperangan besar antara Sunkar Bilmalih beserta rakyat Diyarul Asyik dengan Raja Birawan beserta rakyat Darul Maksuknya. Asma Penglipur dan Asma Tuturan pun ikut berperang dengan memakai baju laki-laki membantu Sunkar Bilmalih. Raja Birawan tewas dalam pertempuran itu. Setelah perang itu usai, Sunkar Bilmalih sangat sedih karena istri dan kekasihnya tidak kunjung kembali. Selain itu ia sedih karena ternyata ia masih bersaudara dengan Raja Birawan yang tewas itu. Lalu ia meminta Sunca Rama menggantikan posisinya sebagai raja. Kedua istrinya pun dilepaskan dari penjara. Sunkar Bilmalih pulang ke Negeri Diyarul Asyik bersama kedua istrinya. Mereka disambut gembira oleh ayah dan bundanya.
Namun, tidak lama dari itu Raja Kanjul Fatah meninggal karena sakit, lalu Sunkar Bilmalih menggantikan posisinya sebagai raja. Selama hidupnya, ia dikaruniai dua orang anak dari Asma Penglipur. Yang pertama bernama Bujangga Tala dan yang kedua bernama Sahriuna. Sejak kecil mereka telah diajari berbagai macam ilmu pengetahuan karena ayahnya (Sunkar Bilmalih) ingin anak-anaknya menjadi penerus kerajaan. Namun sayang, setelah Sunkar Bilmalih wafat, anak-anaknya berselisih karena berebut kekuasaan. Akhirnya, Bujangga Tala keluar dari kerajaan bersama istrinya dan Sahriuna menjadi raja di Negeri Diyarul Asyik yang kemudian diganti menjadi Negeri Banduburi.
BAB III
AMANAT YANG TERKANDUNG DALAM
”HIKAYAT NAKHODA ASYIK”
Dalam “Hikayat Nakhoda Asyik”, terdapat banyak amanat yang tersirat, di antaranya:
3.1 Rajin Menuntut Ilmu
Ketika Sultan Kanjul Fatah ingin mengangkat Sunkar Bilmalih sebagai raja di kerajaan Diyarul Asik dan menyuruhnya untuk mencari seorang istri untuk menemani kehidupannya, Sunkar Bilmalih menolak secara halus kerena ingin menuntut ilmu terlebih dahulu.
3.2 Berani Mengelilingi Dunia untuk Berbisnis
Setelah Sunkar Bilmalih selesai menuntut ilmu, beliau berkehendak untuk berdagang bermacam-macam dagangan ke luar negeri untuk melihat satu per satu peraturan dan adat tabiat yang sempurna di negeri yang akan dikunjunginya.
3.3 Sikap Tolong Menolong dalam Kehidupan
Sunkar Bilmalih mau membantu kerajaan yang sedang mengalami kerusuhan di salah satu negeri yaitu Negeri Pasir Berhambur. Beliau bersikap ksatria dan tidak takut berperang dengan ketiga raja di negeri tersebut yang sedang berselisih.
3.4 Jangan Mencintai Seseorang secara Berlebihan
Dalam cerita ini dikisahkan ada seorang gadis bernama Asma Tuturan yang mempunyai wajah cantik. Setiap pemuda yang melihatnya akan terpesona dengan kecantikannya. Banyak pemuda yang dibuat mabuk kepayang oleh gadis tersebut, salah satunya adalah Sunkar Bilmalih dan Menteri Kanda Titiran. Walaupun Sunkar Bilmalih telah mempunyai istri di negeri sebelumnya, beliau tetap menikahi gadis tersebut. Begitu juga dengan Menteri Kanda Titiran, karena terlalu cintanya ia oleh Asma Tuturan hingga membuatnya berani berbuat nekat untuk merebut gadis yang dicintainya itu dari suaminya, yaitu Sunkar Bilmalih.
3.5 Jangan Bertindak Gegabah
Peristiwa ini terjadi saat Sunkar Bilmalih menyerang kerajaan Diyarul Maksuk tanpa sepengetahuan ayahnya yaitu Kanjul Fattah. Pada saat Negeri Diyarul Maksuk kedatangan menteri yang ingin menguasai semua wanita penyair dari kampung Maksuk Berdendang, banyak orang yang ingin mempertahankannya sehingga terjadi keributan besar. Nakhoda Asyik pun ada di situ dan ikut dalam pertempuran. Ternyata, Suka Birawan, teman Nakhoda Asyik itu yang berkhianat. Dalam perkelahian itu, Nakhoda Asyik membunuh Suka Birawan yang faktanya adalah pamannya sendiri. Hal ini membuat Nakhoda Asyik sanagt menyesal.
3.6 Perselisihan Antarsaudara akan Menimbulkan Kerugian
Dalam cerita ini dikisahkan, sepeninggal Sunkar Bilamlih, kedua anaknya yang bernama Sahriuna dan Bujang Tala saling berselisih untuk merebut kekuasaan di kerajaan peninggalan ayahnya. Hal ini membuat mereka berdua terpecah dan tali persaudaraan mereka terputus.
3.7 Jangan Menjadi Seorang Pendendam
Hal ini terbukti dari dendam Sunkar Bilmalih kepada Menteri Kanda Titiran karena telah berlaku tidak manusiawi kepadanya, hal ini membuat hati Sunkar Bilmalih menjadi tidak tenang karena diliputi oleh perasaan dendam ingin membalas perbuatan Kanda Titiran.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sebagai salah satu naskah sastra Indonesia lama, “Hikayat Nakhoda Asyik” perlu dilestarikan. Salah satu caranya adalah lewat penyalinan kembali karena “Hikayat Nakhoda Asyik” menyimpan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, seperti kebiasaan nenek moyang bangsa Indonesia yang suka melaut. Namun, penelitian kami lebih difokuskan kepada nilai amanat yang terkandung dalam “Hikayat Nakhoda Asyik” tersebut.
Kami menyimpulkan bahwa “Hikayat Nakhoda Asyik” mengandung nilai-nilai amanat yang terpuji seperti rajin menuntut ilmu, berani mengelilingi dunia untuk berbisnis, sikap tolong menolong dalam kehidupan, dan lain-lain. Di samping sikap terpuji, “Hikayat Nakhoda Asyik” juga mengandung sikap tercela yang sebaiknya kita jadikan pelajaran dalam kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
—. Tradisi Tulis Nusantara; Kumpulan Makalah Simposium Tradisi Tulis Indonesia 4-6 Juni 1996. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara, 1997.
Behrend, T.E., editor. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4; Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor dan Cole Francaise D’extreme-Orient, 1998.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ekspresi Semiotik; Tokoh Mitos dan Legendaris dalam Tutur Sastra Nusantara di Sumatera Selatan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1997.
Ekajati, Edi Suhardi dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Direktori Naskah Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000
Pudjiastuti, Titik. Naskah dan Studi Naskah. Bogor: Academia, 2006.
Yumsari Yusuf. Unsur Sejarah dalam Naskah Melayu Koleksi Museum Nasional. Jakarta: Proyek Pengembangan Museum Nasional, 1987
Internet
Tempointeraktif.com (diakses 27 Maret 2009)
—. “Mu’jizah.” Style Sheet. http://openlibrary.org/a/OL99505A/Mu%27jizah (diakses 27 Maret 2009)
—, “Penelitian.” Style Sheet. http://pusatbahasa.diknas.go.id/laman/index.php?info=penelitian&infocmd=show&penelitian_name=&penelitian_title=&penelitian_subyek=&infoid=341&row=3 (diakses 27 Maret 2009)
—, “Hikayat Nakhoda Asyik”. Style Sheet. http://dewey.petra.ac.id/lib_search_simple.php?kode=899&keyword=Mu%27jizah&source=author&npage=1 (diakses 27 Maret 2009)
W.M, Abdul Hadi. “Sejarah Intelektualisme Islam Nusantara.” Style Sheet. http://www.icas-indonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=362&Itemid=1&lang=iso-8859-1(diakses 27 Maret 2009)
Untuk mentranslate bahasa