Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Sastra’ Kategori

Limbuk Njaluk Married

Saksikan pertunjukan teater amal “Limbuk Njaluk Married” karya Asep Sambodja dengan tema “Segenap Asa Untuk Asep Sambodja” di Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 14 November 2010.

Dua kali pementasan dalam sehari pukul 15.00 dan 19.30 WIB.

Pementasan ini terselenggara atas kerjasama Ikatan Keluarga Besar Sastra Indonesia FIB UI dengan Teater Bejana, Teater UI dan Gedung Kesenian Jakarta.

HTM umum: 100rb (tengah) 80rb (depan, belakang, balkon)
HTM mahasiswa: 50rb (balkon) harus bawa KTM

 

Hasil penjualan tiket acara ini akan diberikan untuk Mas Asep yang sedang sakit kanker usus.

 

Untuk info lebih lanjut, silakan hubungi
Lembu: 0856 108 6741 / 0878 8877 01149 / 02198777165
Opank: 0856 95 111 633

Untuk mentranslate bahasa

Membaca Novel di Dunia Maya

Seorang teman kita sedang membuat novel yang berhubungan dengan linguistik. Kalian bisa membacanya di http://morninghours.wordpress.com/.

Berikut ini adalah ringkasan yang kami kutip dari blog tersebut.

Novel yang saya buat ini berkisah tentang seorang Profesor Linguistik bernama Drina Hutabarat. Dia memiliki kemampuan tersembunyi untuk mendengar suara-suara terselubung ketika mendengar manusia di sekelilingnya menyatakan sesuatu. Suara-suara terselubung inilah yang disebut “Suara-Suara Ilokusi.”

Kalau kalian belajar linguistik, mungkin kalian tahu bahwa ilokusi adalah sesuatu yang ingin disampaikan oleh manusia saat mengucapkan tuturan nyata (lokusi)-nya. Ilokusi tidak selalu sama dengan lokusi. Kadang manusia menyatakan sesuatu, tapi niatannya untuk menyatakan itu berbeda sama sekali dengan tuturannya. Drina dapat mendengar suara-suara ilokusi ini sejak kecil, tapi setelah dia dewasa, mempelajari ilmu linguistik, dan membuatnya jadi berpikiran sedikit positif terhadap suara-suara ilokusi itu, kemampuannya jadi mulai menghilang.

Suatu hari, Drina yang sudah hidup tenang pada usia 63 tahun, menerima permintaan seorang anak perempuan bernama Karmina untuk membaca suara-suara ilokusi yang mungkin dapat didengar dari surat bunuh diri yang ditulis oleh kakeknya. Permintaan ini awalnya ditolak oleh Drina karena ia tidak ingin mendengar suara-suara ilokusi lagi. Selain itu Drina pun tidak yakin kalau suara ilokusi dapat diketahui dari bentuk tuturan yang berupa tulisan. Akan tetapi, ada sesuatu dari surat bunuh diri tersebut yang sangat ingin ia selidiki hingga ia pun rela untuk berusaha kembali mendengar suara-suara ilokusi yang sudah lama tidak ia dengar.

Untuk mentranslate bahasa

Gurindam Dua Belas

Transliterasi Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat di bawah ini diambil dari wikipedia.

Tanda baca dan cetak tebal tidak ada dalam naskahnya yang asli.

Kajian tentang Gurindam Dua Belas dapat dilihat di tautan ini.

Ingin tahu lebih banyak tentang kesusastraan di Pulau Penyengat? Silakan simak tautan ini.

dari sungaikuantan.com

Ini gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat,maka ia itulah orang ma’rifat Barang siapa mengenal Allah,suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri,maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari. Barang siapa mengenal dunia,tahulah ia barang yang terpedaya. Barang siapa mengenal akhirat,tahulah ia dunia melarat.

Ini gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut. Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang. Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua temasya. Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat. Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.

dari id.wikipedia.org

Ini gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Ini gurindam pasal yang keempat:

Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

dari soalumugm-sukses.blogspot.com

Ini gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Ini gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Raja Ali Haji (gambar dari kantorposkijang29151.blogspot.com)

Ini gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Ini gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat (gambar dari aristars.blogspot.com)

Ini gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

dari kaskus.us

Ini gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Ini gurindam pasal yang kedua belas:

Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

Untuk mentranslate bahasa

oleh Maria Christa

Tokoh Sinta memang dapat dikatakan sebagai tokoh sentral dalam epos besar Ramayana karena ia adalah tokoh yang diutamakan dalam penceritaan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

“…. Jika Rama mengasingkan diri ke hutan, itu juga berlaku untuk Sinta. Sinta adalah bagian dari Rama. Aku akan berjalan di depanmu. Akan kubuka dan kupersiapkan jalan supaya kau bisa berjalan dengan nyaman. Jangan menganggapku kepala batu. Ayahanda dan ibunda mendidikku dengan dharma. Apa yang kau katakan bertentangan sepenuhnya dengan apa yang mereka ajarkan. Satu-satunya jalan yang terbentang di depanku adalah bersamamu ke mana pun kakimu melangkah…” (Rajagopalachari, 2008: 126 )

Pada kutipan di atas terlihat Rajagopalachari menggambarkan Sinta sebagai perempuan yang setia. Kebanyakan orang yang tahu atau pernah membaca kisah Ramayana akan berpendapat kurang lebih sama seperti Rajagopalachari atau bahkan Walmiki yang menggambarkan Sinta sebagai sosok yang setia.

Namun tidak bagi Dorothea Rosa Herliany, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, dan Soni Farid Maulana. Para penyair ini berusaha menampilkan perspektif mereka tentang Sinta. Sinta yang tidak melulu hadir sebagai perempuan setia dan taat kepada suami tetapi juga sebagai perempuan yang berani menentukan nasibnya sendiri.

Secara tegas Dorothea membuka puisinya Elegi Sinta dengan penolakan Sinta untuk melompat ke dalam api. Tidak hanya menolak, Sinta juga memaki Rama sebagai “lelaki yang paling pengecut” dan “para penakut dan pendusta”. Kemarahan besar menjadi hal wajar bagi seorang perempuan yang telah bersungguh-sungguh setia. Akan tetapi, kesetiaan itu justru diragukan oleh laki-laki yang untuknya ia setia.

Kuburu rahwana,

Dan kuminta ia menyetubuhi nafasku

Menuju kehampaan langit

Kubiarkan terbang, agar tangan yang

takut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.

(Elegi Sinta-Dorothea Rossa Herliany)

Sinta bahkan lebih memilih Rahwana untuk menyetubuhinya daripada ia harus kembali ke tangan Rama. Sinta ingin membiarkan keraguan Rama padanya benar-benar menjadi nyata. Sebuah pengakuan juga terlontar dari seorang Sinta tentang cintanya yang abu, cinta yang tak sepenuhnya putih. Dorothea memperjelas kesedihan Sinta dengan menggunakan kata “elegi” pada judul puisinya. Menggunakan kata elegi yang berarti syair atau nyanyian yg mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pd peristiwa kematian) saya pikir telak merepresentasikan ungkapan dukacita Sinta.

Terbebas juga akhirnya aku-

Entah dari cakar garuda

Atau lengan Dasamuka.

Sendiri,

di menara tinggi,

kusaksikan di atas

langit

yang tak luntur dingin-birunya;

dan di bawah

api

yang disulut Rama –

berkobar bagi rindu abadi.

(Sita Sihir-Sapardi Djoko Damono)

Sapardi memberikan awal yang baik bagi Sita karena ia dapat bebas baik dari cakar garuda yang ingin menyelamatkannya maupun dari Dasamuka (sebutan lain Rahwana). Namun, setelah itu ia menggambarkan Sita yang baru saja merasakan sedikit kebebasan untuk selanjutnya merasakan kesendirian. Rama seakan tidak sabar untuk melihat Sita melompat dari atas menara. Menurutnya hanya dengan cara itu kesucian atau kemurnian Sita dapat kembali. Terungkap keinginan Sita untuk bebas pula dari sihir Rama. Sihir yang memaksanya tunduk pada keraguan Rama. Keraguan yang kemudian membawanya ke menara tinggi menghampiri kesendirian.

Sita yang hamil itu tetap diam: pesona. “Tetapi Raksasa itu ayahandamu sendiri, benih yang menjadikanmu, apakah ia juga yang membenihimu, apakah…” Sita yang hamil itu tetap diam, mencoba menafsirkan kehendak para dewa. (Benih-Sapardi Djoko Damono)

Benih karya Sapardi yang mengangkat fragmen Rama mempertanyakan kehamilan Sinta membingungkan karena sebuah pernyataan Rama bahwa Sinta adalah ‘benih’ alias anak dari Rahwana. Jika Rama sudah mengetahui hal ini mengapa ia harus menaruh curiga terhadap Rahwana yang sebenarnya adalah ayah Sita sendiri. Namun kecurigaan itu tetap muncul. Dalam pernyataannya itu Rama masih tetap berpikir bahwa Rahwana lah yang menghamili Sita.

Sita diungkapkan Sapardi diam seribu bahasa. Ia seakan menerima pernyataan Rama atau memang ia sudah mengetahui bahwa Rahwana adalah ayahnya. Sapardi menuntaskan puisi ini dalam ke’diam’an Sita yang mencoba berpikir apa kehendak dewa atas dirinya.

Momen Sita berada di tengah kobaran api digunakan Subagio Sastrowardoyo untuk menyampaikan pandangannya tentang Sita. Entah mengapa Subagio memberi judul Asmaradana yang sepengetahuan saya adalah tembang/macapat Jawa yang menceritakan kisah cinta sedih antara Anjasmara dan Damarwulan. Kisah cinta antara Rama dan Sinta dengan kisah cinta antara Anjasmara dan Damarwulan memang sama-sama mengalami akhir yang sedih. Keduanya tidak dapat merasakan akhir yang indah dari sebuah kisah cinta.

Ironi yang diciptakan Subagio mengejutkan dan mendobrak citra Sita selama ini. Dengan jelas Subagio menuliskan bahwa Sita menyukai kejantanan Rahwana. Hubungan intim penuh berahi pun tidak dapat dihindari. Tidak pernah ada rasa bersalah dan berdosa pada diri Sita karena telah melakukan hal itu. Hanya “sekadar menurutkan naluri”. Sebagai perempuan yang normal tentu saja hasrat bersetubuh ketika melihat laki-laki yang jantan muncul secara alami. Ini juga yang terjadi pada Sita saat melihat Rahwana. Sedikit menarik kaitannya dengan Hawa, ia pula yang tidak dapat menahan nafsu melihat buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat kemudian mengajak serta Adam memakannya1. Sifat perempuan seperti ini lah yang diangkat dalam puisi Asmaradana ini. Tanpa beban Sita melompat ke dalam api karena memang merasa sudah tidak suci lagi.

Pada geliat sekarat terlompat doa

Jangan juga hangus dalam api

Sisa mimpi dari sanggama

(Asmaradana-Subagio Sastrowardoyo)

Selanjutnya Subagio menutup puisi ini dengan doa singkat Sita yang sekarat dalam kobaran api. Doa yang masih meminta agar nikmat dari persetubuhannya dengan Rahwana tidak turut terbakar dalam kobaran api. Penggambaran Sita yang benar-benar berbeda telah dilakukan Subagio.

Soni Farid mempunyai gambaran tersendiri mengenai Sita. Serupa dengan Subagio, Soni mengungkapkan bahwa Sita jatuh cinta kepada Rahwana. Perbedaannya terletak pada cinta yang dirasakan Sita. Dalam Asmaradana jelas sekali bahwa cinta itu sekadar nafsu , sekadar pemuas birahi Sita sedangkan dalam Sita Obong cinta Sita adalah cinta yang tulus. Mengapa tulus? Bagaimana tidak seorang perempuan rela lompat ke dalam api hanya untuk cintanya. Sita terkapar di ranjang juga karena cintanya pada Rahwana.

Demikian senja turun dan Sita terkapar

Di ranjang. Walau begitu jangan kau tanya

Mengapa semua ini terjadi;

Pada kobaran api yang menyala di tegalan,

(Sita Obong-Soni Farid)

Sita menegaskan pula pada Rama agar jangan bertanya mengapa ia bisa jatuh cinta pada Rahwana. Soni menekankan cinta Sita kepada Rahwana pada bagian akhir dengan mengungkapkan ketidakmengertian Hanoman tentang bagaimana cinta dapat membuat orang rela mati karenanya (karena cinta).

Penyair Indonesia dapat dengan bebas mengubah atau melakukan modifikasi terhadap sebuah epos besar (dalam hal ini Ramayana) sesuai perspektif mereka masing-masing. Dengan begitu pembaca juga dapat dengan bebas pula menafsirkan dan mengintepretasi sebuah karya sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko. 1994. Hujan Bulan Juni. Jakarta: Grasindo

Herliany, Dorothea Rosa. 2006. Santa Rosa. Yogyakarta: Indonesia Tera.

Maulana, Soni Farid. 2004. Tepi Waktu Tepi Salju. Bandung: Kelir.

Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005

Rajagopalachari. 2008. Ramayana. Yogyakarta: IRCiSoD.

Sastrowardoyo, Subagio. 1995. Dan Kematian Makin Akrab. Jakarta: Grasindo

Untuk mentranslate bahasa

Fungsi-Fungsi Puisi

Nama: Wahyu Awaludin (0806466380)

Prodi Indonesia 2008

Puisi adalah karya seni. Ia adalah karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna (Pradopo, 1995: 3). Sesuatu yang mempunyai makna, tentu mempunyai fungsi pula. Horace mengatakan bahwa puisi itu indah dan berguna (dulce et utile). Indah dalam arti ia puitis, bisa membuat pembaca terharu, sedih, semangat, atau bahagia. Berguna dalam arti ia memberikan pencerahan. Untuk mengetahui penjabaran dari dulce et utile itu, mari sejenak kita membaca puisi-puisi yang akan penulis tuliskan di sini.

Kita adalah Pemilik Syah Republik Ini

Taufik Ismail

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku?”

Tidak ada pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk ople dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk, dan hama

Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka

Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus.

1966

Puisi karya Taufik Ismail ini tercipta pada tahun 1966. Saat itu Indonesia sedang bergejolak. Tentu yang dimaksud dengan “bergejolak” itu adalah pembunuhan terhadap jenderal-jenderal angkatan Darat, Gerakan 30 September, dan kudeta terhadap Soekarno. Kondisi Indonesia sangat kritis. Terjadi kerusuhan. Terjadi pembantaian anggota PKI dengan jumlah korban berkisar antara 500.000 orang sampai 3 juta orang. Namun, Indonesia tak punya pilihan selain tetap berjalan, karena diam atau mundur berarti hancur.

Puisi Taufik Ismail ini merekam suasana tegang itu dengan bagus. Secara tidak langsung, puisi ini berfungsi sebagai propaganda, yakni penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu (KBBI, 2005: 898). Dalam memuluskan propaganda “terus berjalan” ini, Taufik Ismail memilih kata-kata yang bersifat menyemangati sekaligus ironi, seperti “Kita harus berjalan terus, karena berhenti atau mundur berarti hancur”.

Puisi, menurut Remy Sylado, tidak harus serius. Tidak harus begini begitu. Ia bisa saja berupa lawakan, kekonyolan, ironi, atau sesuatu yang tidak jelas. Ia bukanlah kata keramat. Jadi, fungsi puisi di sini lebih bersifat menghibur.

DI BLOK APA?

Oleh: Remy Sylado

Kalau

Chairil Anwar

Binatang jalang

Di blok apa

Tempatnya

Di Ragunan

Remy Sylado rupanya berseloroh. Seperti yang kita tahu, “Aku ini binatang jalang” adalah bagian dari puisi serius yang diciptakan Chairil Anwar. Itu menunjukkan makna kemarahan dan tekad. Namun, Remy Sylado mendobraknya. Ia malah bertanya, kalau Chairil itu binatang jalang, di blok mana tempatnya di Ragunan? Kita yang membaca itu akan terpana lalu tertawa. Di sini, puisi lebih bersifat menghibur dan lelucon.

Selain itu, bisa jadi puisi juga mempunyai fungsi sebagai curahan hati penyair. Dadanya yang sesak, berkecamuk, ia tuangkan semuanya lewat kata-kata dan puisi.

Aku Ingin

Oleh: Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencaintaimu dengan sederhana:

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

1989

Inilah puisi yang sangat terkenal di kalangan anak muda. Puisi “Aku Ingin” ini mempunyai daya magis yang sangat hebat karena pemilihan kata-katanya yang sangat pas. Sapardi bereksperimen, memilih kata-kata dengan sangat cermat. Ia memilih kata-kata yang liris, berima, dan romantis. Di sini, puisi ini lebih berfungsi sebagai curahan hati sang penyair. Dari berbagai fungsi yang penulis sebutkan di atas, semuanya adalah penjabaran dari fungsi puisi seperti yang dikatakan oleh Horace, yakni dulce et utile. Sebenarnya masih banyak penjabaran fungsi puisi, tapi penulis mencukupkan 3 puisi saja.

Daftar Pustaka

Aveling, Harry. 2003. Rahasia Membutuhkan Kata. Magelang: Indonesiatera.

Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Pradopo, Rahmat Djoko. 1995. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Untuk mentranslate bahasa

Nama: Wahyu Awaludin (0806466380)

Prodi Indonesia FIB UI angk.2008

Asmaradana

Goenawan Mohamad

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.


Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

Menurut Pradopo, seperti yang dikutip Rokhmansyah, Puisi adalah karya sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif. Puisi merupakan suatu karya sastra yang inspiratif dan mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Sehingga setiap kata atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak dan memberikan imaji terhadap pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks (http://cahsasindo.blogspot.com).

Asmaradana adalah sebuah tembang macapat dari Jawa, biasanya ditujukan untuk pemuda-pemuda yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Asmaradana dalam tembang macapat Jawa mengisahkan tentang cinta Damarwulan dan Anjasmara. Goenawan Mohamad (GM) memang menulis puisi dalam tema yang luas. Kadang ia membahas tentang politik, perjuangan, sosial, tapi juga kadang membahas tentang hidup dan cinta. Puisi Asmaradana ini menangkap momen ketika Anjasmara berpisah dengan Damarwulan, kekasihnya. GM melukiskan perpisahan itu dengan menyayat hati dan kepasrahan total.

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

GM melukiskan perpisahan ini dengan menggambarkan latar alam yang suram sekaligus romantik. Suasana sehabis hujan pada malam hari mempunyai misteri magis tersendiri untuk perasaan kita: dingin, mencekam, suram. GM menggambarkan pada saat itu ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun. Langit yang tadi gelap gulita karena hujan deras kembali cerah menampakkan galaksi bimasakti yang jauh, tetapi tetap saja suasana gelap karena sudah malam. Kuda-kuda meringkik resah. Mereka seolah bisa merasakan kegelisahan hati tuannya. Hati Damarwulan dan Anjasmara bergejolak, ingin menyampaikan banyak hal: kesedihan, tangis, kecemasan, dan ketidakberdayaan. Namun, mereka tidak ada yang berkata-kata. Bungkam.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Damarwulan tahu, nasibnya bagaikan buah simalakama. Jika ia menang melawan Minak Jingga, ia akan dianugerahi jabatan dan ia akan menjadi kaum elit kerajaan Majapahit. Ia pun akan diminta menikah dengan perempuan lain -yang lebih elit. Namun, pilihan itu terasa absurd karena Minak Jingga sangat tangguh. Ia sangat sakti. Kemungkinan yang paling besar adalah Damarwulan dan Minak Jinggo akan bertarung sampai mati. Maka, pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir bagi dua kekasih itu.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.

Namun, Damarwulan tahu Anjasmara adalah wanita yang tegar. Ia takkan menangis walaupun nanti pagi ada tapak kaki dirinya yang menuju utara -menuju medan perang. Ia buang semua masa lalu dalam kepalanya hingga ia tak punya lagi alasan untuk bersedih.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

Dalam remang-remang malam dikelilingi puluhan kunang-kunang, Damarwulan pun meminta Anjasmara untuk melupakannya, karena ia pun akan melupakan Anjasmara. Damarwulan meminta Anjasmara agar tunduk kepada takdir, pasrah.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang asmara. Lebih dari itu, ia berbicara tentang kehidupan. Puisi ini mendorong seorang lelaki untuk gagah berani maju berperang untuk membela negara walaupun untuk itu ia harus tewas dan meninggalkan keluarganya yang tenang tenteram. Puisi ini juga mengajak agar para istri rela melepas suaminya untuk berjuang, walaupun untuk itu ia harus siap mendengar kabar kematian atau suaminya menikah dengan perempuan lain.

Selain itu, puisi Asmaradana juga bermain dengan takdir. Hidup tidaklah selamanya mulus. Ada saat-saat di atas dan ada pula saat-saat di bawah. Ketika kita menghadapi saat-saat yang buruk dan tanpa harapan, kita harus tetap melangkah dengan tegar dan menghadapinya dengan hati yang lapang. Kita harus memainkan peran kita sebaik mungkin dalam hidup ini sampai kita mati. Secara tidak langsung, puisi ini membuat kita semakin menghargai arti kehidupan, perpisahan, keluarga, dan cinta.

Puisi GM seringkali mengambil latar mitos. Ini adalah suatu perlawanan akan “keterlupaan sejarah” akut yang melanda negeri ini. Seolah-olah GM menyindir Indonesia bahwa dirinya masih menguasai kisah-kisah klasik dan menantang apakah kita bisa memahami puisinya atau tidak. Saat kita tidak memahami konteks budaya dan sejarah puisi ini (tentang kisah Damarwulan dan Anjasmara), GM tertawa sinis akan kebutaan akut kita tentang budaya dan sejarah negeri kita sendiri.

Daftar Pustaka

—. http://goenawanmohamad.com. “Goenawan Mohamad dan Asmaradana (Sebuah Renungan Kehidupan)”. Diakses pada 16 Maret 2010.

Damono, Sapardi Djoko. 1999. Sihir Rendra: Permainan Makna. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Rokhmansyah, Alfian. http://cahsasindo.blogspot.com. “ANALISIS STRATA NORMA DAN SEMIOTIK DALAM PUISI ASMARADANA KARYA GOENAWAN MUHAMAD”. Diakses pada 16 Maret 2010.

Untuk mentranslate bahasa

Tulisan yang Lebih Tua »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.