Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Gender dalam Sastra’ Category

Makalah Ini Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Kuliah Gender dalam Sastra di FIB UI

Oleh

Erin Nuzulia Istiqomah

1006699215

Jakarta, 26 Desember 2012

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

UNIVERSITAS INDONESIA

 

Kata Pengantar

 

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan inspirasi dalam pembuatan karya tulis yang berjudul “Beban Stereotipe, Permasalahan Gender daam Berjuta Rasanya”  sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Karya tulis  ini disusun dengan menggunakan metode penelitian pustaka yang diharapkan mampu membuka wawasan lebih dalam. Penyusunan karya tulis ini tak lepas dari bantuan dan arahan berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan dosen pembimbing atas dukungan dan masukannya.

Saya menyadari karya tulis yang disusun ini masih jauh dari sempurna. Meski begitu, saya berharap karya ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dan saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat memperbaiki karya ilmiah ini menjadi lebih baik.  Semoga karya tulis ini bisa menambah wawasan pembaca sekalian.

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

  1. A.           Latar Belakang

Semakin hari sastra semakin berkembang pesat. Hal ini dapat kita lihat dari begitu banyaknya karya sastra khususnya dalam bentuk prosa yang dijual di pasaran. Karya prosa ini hadir dalam berbagai bentuk, bisa berupa novel, kumpulan cerpen, atau kumpulan prosa mini. Karya prosa  yang hadir di pasaran memiliki ide cerita yang bervariasi dan tentu saja setiap karya memiliki kelebihan maupun kekurangan yang makin memperkaya khazanah sastra yang ada di Indonesia. Hadirnya berbagai karya dalam bentuk prosa  tersebut memotivasi kita untuk dapat mempelajari sastra dengan lebih mendalam.

Dari sekian banyak buku yang hadir, saya tertarik untuk menganalisis lebih dalam dari kumpulan kisah atau kumpulan cerpen karya Tere Liye yang berjudul Berjuta Rasanya. Saya amat tertarik dengan buku ini karena sebelas dari lima belas judul cerita yang ada dalam buku ini membahas perempuan sebagai peran utama. Melihat latar belakang penulisnya, Tere Liye bukanlah seorang feminis. Oleh karena itu akan menjadi menarik bila buku ini mendapatkan kesempatan untuk dibahas lebih dalam. Adapun kesebelas judul cerita yang menonjolkan aspek perempuan antara lain Bila Semua Wanita Cantik, Hiks Kupikir Kau Naksir Aku, Cinta Zooplankton, Harga Sebuah Pertemuan, Mimpi-Mimpi Laila Majnun, Kutukan Kecantikan Miss X, Kupu-Kupu Monarch, Kutukan Kecantikan Miss X-2, Lily dan Tiga Pria itu, Pandangan Pertama Zalaiva, dan Antara Kau dan Aku

Dari kelima belas cerita yang ada dalam buku ini, saya akan memfokuskan pada cerita pertama “Bila semua Wanita Cantik”. Cerita ini memiliki fokus utama berupa stereotip yang cukup mengganggu sang tokoh. Lima belas cerita yang ada di dalam buku ini bukanlah sekadar cerita pendek biasa. Tere Liye memasukkan pandangannya di akhir tiap-tiap kisah mengenai permasalahan yang diilustrasikannya. Meskipun perempuan menjadi bagian penting dalam lima belas cerita yang ada, hanya sebelas cerita yang sangat menonjolkan perempuan dalam ceritanya. Tak sekadar bercerita, Tere Liye juga berusaha mengarahkan pandangan pembacanya untuk dapat mengerti dengan maksud yang ingin dicapainya dari cerita yang dibuatnya. Sangat terasa bahwa buku ini kaya akan nilai yang ingin ia tanamkan kepada pembacanya, yang sepertinya akan lebih banyak perempuan.

 

  1. B.            Rumusan Masalah

Analisis masalah dalam penelitian ini dibagi menjadi :

  • Bagaimana stereotipe yang ada dalam masyarakat terhadap perempuan yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya?
  • Bagaimana pandangan perempuan (tokoh) dalam menanggapi stereotipe tersebut sesuai yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik” di buku Berjuta Rasanya ?

 

  1. C.           Tujuan Penelitian

Analisis dalam penelitian ini bertujuan untuk :

  • Mengetahui stereotipe yang ada dalam masyarakat luas terhadap perempuan yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya
  • Mengetahui pandangan perempuan (tokoh) dalam menanggapi stereotipe tersebut sesuai yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya

 

  1. D.           Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan manfaat dan sumbangsih bagi karya sastra Indonesia, khususnya di bidang gender dalam sastra.

 

  1. E.            Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menggunakan hasil metode penelitian kepustakaan (Library Research).

 

  1. F.            Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab III Beban Stereotip

Bab IV Penutup

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

   Dalam penelitian ini, penyusun perlu menyusun suatu kerangka teori atau pemikiran yang berfungsi sebagai landasan berpikir. Tidak hanya itu, landasan teori imi juga berfungsi untuk menggambarkan sudut pandang penelitian masalah yang akan dibahas dan diteliti.

  • Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan.
  • Ada satu konsep yang dilukiskan sebagai ‘gambaran dalam kepala kita’ dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok (guru, polisi, perempuan, laki-laki, dsb) yang merupakan generalisasi tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa didukung oleh fakta objektif. Contohnya adalah seorang perempuan cerewet, sedangkan laki-laki seorang yang kuat.
  • Ideologi gender menghasilkan pandangan manusia tentang peran jenis dalam masyarakat. Peran jenis (sex role) adalah satu kelompok perilaku, kesenangan, dan sifat serta sikap yang dipunyai oleh satu jenis tertentu, dan tidak dimiliki oleh jenis lain. dengan adanya peran jenis maka muncul stereotip jenis. Stereotip jenis adalah pembakuan suatu pandangan terhadap kelompok manusia dengan memberi ciri-ciri tertentu, tanpa memperhatikan variasi perseorangan. Stereotip terhadap jenis, telah membakukan pandangan tentang  bagaimana perempuan “seharusnya”, dan bagaimana laki-laki “seharusnya”. Kedua, tanpa memberi kesempatan untuk “keluar” dari ciri yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pandangan stereotip ini, membuat seorang pribadi laki-laki merasa bersalah apabila ia melakukan tindakan dengan ciri keperempuanan, atau sebaliknya. (Murniati, 2004: 62)
  • Jelas bahwa dalam setiap lingkungan budaya ada pembagian peran gender (gender specific roles) yang dapat diamati, ditiru, dan diperkenalkan secara khusus pada anak laki-laki dan anak perempuan. Dengan demikian, dalam setiap budaya juga ada stereotip tertentu tentang apa yang “pantas” bagi perempuan atau laki-laki.(Sadli, 2010: 8)

 

BAB III

 

BEBAN STEREOTIP

 

  1. A.           Sinopsis

Dalam buku ini, Tere Liye berusaha untuk menceritakan berjuta rasa cinta. Ia memasukkan nilai-nilai baru di setiap pemahaman aspek-aspek percintaan yang saat ini banyak menyapa para kaula muda. Di kisah pertama dalam buku ini yang menjadi fokus dalam penelitian ini bercerita tentang pemahaman sebuah kecantikan. Vin, seorang gadis yang sejak kecil sudah gendut merasa bosan dengan penderitaan yang selama ini dirasakan. Ia sering diolok-olok temannya di mana pun ia berada. Belum lagi sejak ia dewasa, ia semakin tertekan dengan tidak adanya lelaki yang mendekatinya.

Tiga puluh tahun Vin hidup dengan beban “ketidakcantikan” bersama seorang teman yang juga bernasib sama, Jo. Ia seorang gadis dengan penderitaan yang kurang lebih sama, bedanya ia lebih bijak memahami hidup. Jo, seorang gadis kurus tinggi yang berwajah penuh dengan jerawat. Vin selalu menceritakan segala keluh kesahnya kepada Jo. Seperti biasa Jo akan selalu berusaha membesarkan hati Vin dan mencoba menyadarkan bahwa apa yang mereka alami bukanlah hal yang menyedihkan jika dinikmati.

Namun Vin terlampau sedih memaknai hidup, dalam keputusasaanya suatu malam ia berdoa agar semua orang di dunia ini jelek seperti dirinya. Ternyata esok hari semua berubah. Semua orang justru menjadi cantik bukan main. Hanya ia dan Jo yang tetap pada kondisi semula. Semua laki-laki dimanjakan dengan paras cantik wanita di setiap sudut kota, bahkan tak ada bedanya kecantikan antara Miss Universe dengan gadis penjual permen atau ibu-ibu pengemis yang menegadahkan tangan di pinggir jalan. Inilah titik balik, para laki-laki mulai bosan dengan “cantik” yang mereka lihat. Masyarakat kembali merekonstruksikan definisi cantik dengan sesuatu yang berbeda dari biasa. Vin serta Jo lah yang mendapatkan predikat tersebut.

Mendadak kehidupan Vin dan Jo berubah. Termasuk kehidupan percintaan mereka. Namun inilah hidup, semua berjalan dengan alasan. Vin belajar banyak hal ketika ia menjadi “cantik”, termasuk memahami arti cantik itu sendiri.

 

  1. B.            Analisis

                                                                                   

  • Stereotipe Masyarakat terhadap Perempuan dalam “Bila Semua Wanita Cantik” di buku Berjuta Rasanya

 

Masyarakat Indonesia ternyata masih terjebak dalam permasalahan gender sehingga kita masih mendapati banyak perempuannya merasa tidak sanggup untuk memenuhi stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan.

Ideologi gender menghasilkan pandangan manusia tentang peran jenis dalam masyarakat. Peran jenis (sex role) adalah satu kelompok perilaku, kesenangan, dan sifat serta sikap yang dipunyai oleh satu jenis tertentu, dan tidak dimiliki oleh jenis lain. dengan adanya peran jenis maka muncul stereotip jenis. Stereotip jenis adalah pembakuan suatu pandangan terhadap kelompok manusia dengan memberi ciri-ciri tertentu, tanpa memperhatikan variasi perseorangan. Stereotip terhadap jenis, telah membakukan pandangan tentang  bagaimana perempuan “seharusnya”, dan bagaimana laki-laki “seharusnya”. Kedua, tanpa memberi kesempatan untuk “keluar” dari ciri yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pandangan stereotip ini, membuat seorang pribadi laki-laki merasa bersalah apabila ia melakukan tindakan dengan ciri keperempuanan, atau sebaliknya. (Murniati, 2004: 62).

Adapun stereotip yang terbangun dalam cerita “Bila Semua Wanita Cantik” yang terdalat dalam buku Berjuta Rasanya adalah sebuah konstruksi “cantik” menurut masyarakat yang diejawantahkan dalam paradigma berpikir para tokohnya. Hal ini terlihat dari cuplikan paragraf yang terdapat dalam cerita tersebut

“….Karena cowok-cowok itu bersepakat cantik dan seksi itu harus ramping, perut datar, mata hitam menggoda, rambut seperti ini, kulit harus putih, bibir merah sensual, dan seterusnya, maka cewek otomatis harus seperti itu untuk dibilang cantik” (Tere Liye, 2012: 7)

 

Stereotip “cantik” yang dikonstruksikan di cerita ini jelas-jelas disebutkan sebagai sebuah kesepakatan yang dibentuk dalam masyarakat. Vin sebagai tokoh utama dalam cerita ini yang tidak masuk dalam konstruksi tersebut. Ada satu konsep yang dilukiskan sebagai ‘gambaran dalam kepala kita’ dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok (guru, polisi, perempuan, laki-laki, dsb) yang merupakan generalisasi tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa didukung oleh fakta objektif. Contohnya adalah seorang perempuan cerewet, sedangkan laki-laki seorang yang kuat, dan contoh yang terjadi pada cerita ini.

Jelas bahwa dalam setiap lingkungan budaya ada pembagian peran gender (gender specific roles) yang dapat diamati, ditiru, dan diperkenalkan secara khusus pada anak laki-laki dan anak perempuan. Dengan demikian, dalam setiap budaya juga ada stereotip tertentu tentang apa yang “pantas” bagi perempuan atau laki-laki (Sadli, 2010: 8). Stereotip ini juga digambarkan oleh Tere Liye dalam bagian paragraf lainnya, yaitu

“… Bukankah mereka selama ini ingin merasakan memiliki pasangan yang terlihat lebih “oke” dibandingkan pasangan temannya?” (Tere Liye, 2012: 16)

 

Mereka di sini adalah laki-laki yang merasa perlu untuk memiliki pasangan yang memiliki kelebihan dibanding pasangan temannya. Tak hanya terkungkung oleh stereotip, ternyata perempuan digiring menjadi objek yang dianggap “pantas” untuk dibandingkan dengan perempuan lainnya sebagai salah satu bentuk kebanggaan laki-laki.

Hal di atas menunjukkan betapa dunia perempuan amat dibatasi oleh stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Lebih dari itu perempuan justru menikmati stereotip yang berkembang dalam masyarakat dengan berusaha memenuhi stereotip tersebut dengan berbagai cara. Ketika perempuan sudah merasa tidak sanggup memenuhi upaya untuk mencapai stereotip yang berkembang, perempuan akan cenderung merasa terasing dan kalah dengan keadaan. Hal inilah yang semakin menguatkan posisi stereotip yang berkembang dalam masyarakat menjadi beban bagi perempuan karena mau tidak mau perempuan justru berusaha untuk memenuhinya.

 

  • Pandangan Perempuan (tokoh) dalam Menanggapi Stereotipe yang ada dalam Berjuta Rasanya

 

Tere Liye berusaha untuk memperlihatkan tanggapan perempuan atas stereotip yang ada dalam masyarakat atas labelling terhadap perempuan dengan dua sudut pandang. Vin dan Jo dipisahkan oleh perbedaan paradigma atas stereotip yang dibangun dalam cerita tersebut. Berikut merupakan salah satu contoh paradigma yang dimiliki Jo dalam menghadapi stereotip yang mengkungkung perempuan dalam cerita ini.

“Lah, come-on! Bukankah itu menjelaskan semuanya. Lu pikir semua orang di dunia ini akan cantik? Akan seksi? Nggak, kan? Pasti ada yang tidak cantik, kurang seksi—“ (Tere Liye, 2012: 2)

 

Jo dalam konstruksi paradigma yang tidak terkungkung oleh stereotip tetap berusaha untuk menularkan pemikirannya kepada Vin, sahabatnya yang menjadi korban atas beban gender yang terdapat dalam cerita ini.

“Tapi yakinlah, Vin, tak selamanya menjadi cantik dan seksi itu menyenangkan…” Jo menghentikan tawanya. (Tere Liye, 2012: 7)

 

Jo juga berusaha membesarkan hati Vin dengan berbagai upaya, termasuk dengan memberikan pandangannya bahwa kemungkinan atas stereotip yang terbangun di masyarakat belum tentu merupakan keadaan yang menyenangkan.

Di awal kedewasaan mereka dalam menyadari dan menghadapi stereotip dalam masyarakat, mereka cenderung untuk beradaptasi dengan keadaan meski sudah merasa ada ketidakadilan atas stereotip yang ada di masyarakat dan dampak yang mereka dapatkan.

“Vin dan Jo hanya jadi penonton di acara tersebut. Memandang sirik cewek-cewek berpakaian seksi berlalu lalang bersama pasangan mereka” (Tere Liye, 2012: 7)

Perbedaan kedua sahabat ini dalam menghadapi stereotip yang berkembang di masyarakat cukup tinggi. Jo dengan kedewasaaannya mampu menjadi perempuan yang tidak terjebak dengan stereotip dan tidak menjadi korban beban atas permasalahan stereotip di dalam gender. Hal ini ditunjukkan oleh Tere Liye dalam paragraf dalam cerita yang dibuatnya, yaitu

“… Bagi Jo, ada atau tidak ada cowok yang melirik mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati kepada mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati kepada mereka, itu tidak penting. Hidup ini tetap indah meski tanpa kehdupan percintaan yang mengharu-biru. Tapi bagi Vin tidak. Ia bosan dengan kesendiriannya. Bosan dianggap tidak ada oleh cowok-cowok. Celakanya lagi, Vin justru mengidolakan cowok terkeren kota ini. teman satu kantornya” (Tere Liye, 2012: 7)

 

Vin, sebagai tokoh yang menjadi korban atas beban gender dalam memahami stereotip masyarakat atas pemahaman “cantik”, cukup digambarkan merasa lelah atas upaya-upaya pemenuhan yang tak mampu dilakukannya.

“Belakangan, setiap kali mereka bertemu, semakin seringlah Vin mengeluhkan soal itu. Bertanya hal-hal prinsip seperti,

“Apakah wajah itu penting saat kau jatuh cinta?”, “bukankah banyak yang bilang, karakter nomor satu, fisik nomor dua?” Bahkan, kadang berteriak sebal tentang “Omong kosong! Semua itu bohong! Siapa bilang kita selalu terlahir dengan takdir jodoh bersama kita? Itu hanya untuk membesar-besarkan hati saja!” Kemudian menutup pembicaraan dengan keluh-kesah-resah.” (Tere Liye, 2012: 4)

 

Hal yang merupakan pesan penting yang ingin disampaikan oleh Tere Liye adalah bahwa Tere Liye ingin menegaskan bahwa sebagai perempuan kita tak perlu untuk melakukan upaya pemenuhan stereotip jika ternyata hal tersebut malah membebani hidup kita. Di akhir cerita, Tere Liye mengatakan bahwa jika cinta didasarkan oleh standar fisik semata, bisa jadi suatu saat kelak kita akan ditinggalkan karena alasan fisik juga. Sedangkan “kecantikan” hati haruslah lebih utama dibanding apapun. Dengan adanya pesan ini, Tere Liye berupaya menanamkan kepada pembacanya, khususnya perempuan untuk tidak menjadi korban dalam beban gender dalam kasus stereotip pemaknaan ‘cantik’.

BAB III

 

PENUTUP

 

  1. A.           Simpulan

 

Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Pelabelan atas stereotip yang ada dalam masyarakat atas pemaknaan “cantik” membuat banyak perempuan yang tidak masuk dalam kriteria stereotip tersebut justru malah membuat masalah baru.

Perempuan yang dalam upaya pemenuhannya mengalami banyak kegagalan dan hambatan merasa terbebani atas stereotip ini. Perempuan menjadi korban atas beban gender dalam stereotip yang menempel dalam “kecantikan” perempuan. Tere Liye menggambarkan betapa perempuan yang menjadi korban beban tersebut justru mengalami hidup yang tidak nyaman. Hal inilah yang menjadi sorotan oleh Tere Liye hingga di akhir cerita, ia berusaha menanamkan pesan bahwa stereotip tersebut tidak serta merta harus dipenuhi oleh perempuan karena sejatinya ada “kecantikan” yang lebih hakiki dan penting yang tidak menjadi stereotip oleh masyarakat yang justru harus dipenuhi, yaitu kecantikan hati.

 

  1. B.            Saran

 

Buku ini patut untuk dibaca karena memuat berbagai perspektif gender yang tertuang dalam berbagai cerita yang ada dalam kehidupan percintaan sehari-hari. Kehidupan percintaan menjadi topik utama dalam cerita yang tertuang dalam buku Berjuta Rasanya. Berbagai permasalahan tentang gender, mulai dari stereotip, marjinalisasi, atau kekerasan diungkap dalam kehidupan cinta. Namun akan lebih baik lagi jika buku ini tidak hanya membahas gender dalam kehidupan percintaan saja, tetapi juga aspek lain terutama aspek kehidupan baik, sosial maupun individu.

 

Daftar Pustaka

 

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional

Keraf, Gorys. 2003.  Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa Indonesia. Jakarta : Nusa Indah

Liye, Tere. 2012. Berjuta Rasanya. Jakarta : Mahaka Publishing

Murniati, A. Nunik. 2004. Getar Gender. Magelang: Yayasan Indonesiatera

Sadli, Saparinah. 2010. Berbeda tetapi Setara. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

Tim Penyusun. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Utorodewo, Felicia N, dkk. 2010.  Bahasa Indonesia  Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. Jakarta : Badan Penerbit FK UI

 

Read Full Post »

Erin Nuzulia Istiqomah

1006699215

Gender dalam Sastra

Rabu, 10 Oktober 2012

Gender menjadi salah satu hal yang menarik untuk dibahas pada perkembangannya kini. Hal ini tentu saja bukan karena keberhasilannya dalam meyakinkan publik jika kesetaraan gender bisa tercapai dalam keberlangsungan kehidupan, khususnya di Indonesia. Indonesia yang secara umum menganut sistem patriarki, mengahadapi beberapa kesulitan untuk dapat menciptakan keadilan gender. Ketidakadilan gender terhadap perempuan masih sering terjadi di masyarakat Indonesia. Ketidakadilan gender ini masih termanifestasikan dalam berbagai bentuk kehidupan terutama dalam bentuk marginalisasi,  suubordinasi, stereotipe, beban ganda, dan kekerasan terhadap perempuan dalam masyarakat. (lebih…)

Read Full Post »

oleh Nila Rahma

            Sutan Takdir Alisjahbana lahir pada 11 Februari 1908 di Natal, Tapanuli. Ia pernah menjadi anggota Sociatte de Linguistique de Paris (sejak 1951) dan Comite Directeur de Federation Internationale des Societes de Philosophie di Brussel (1954-1959). STA, begitu dia disebut oleh publik. Banyak karya telah dihasilkannya, antara lain berupa novel, antologi puisi, kritik, buku mengenai kebudayaan, bahasa, serta filsafat. Layar Terkembang adalah salah satu novelnya yang mengangkat tema peranan wanita di antara kebudayaan Barat dan Timur. Beberapa antologi puisinya adalah Tebaran Mega (1936) dan Perempuan di Persimpangan Zaman (1980). Dalam tulisan ini, penulis akan membahas dua puisi yang diambil dari kumpulan sajak Perempuan di Simpang Jalan, yakni ”Kesunyian Baru” dan ”Sama-sama Bermimpi dan Berjuang”. Kedua puisi ini mengangkat tema perempuan.

Kesunyian Baru

 

Barbahagiakah aku sekarang,

Setelah membuktikan kecakapan jiwa dan raga

Setelah membanting tulang dan mencucurkan keringat,

Tak terkalahkan di segala gelanggang,

bebas dari suami

dan tak dibebani anak dan rumah?

 

Dalam kesibukan kerja dan bakti,

Penuh tanggung jawab dan siasat,

Dalam kepusingan menghadapi tandingan dan tantangan,

Penuh kepercayaan menangkis dan menyerang,

Datang mengetuk hati perempuanku yang abadi.

Dari jauh dan dalam ia menghimbau,

Merindukan cinta dan penyerahan.

 

 

Makin memanjang usiaku,

Dan tubuhku melewati puncak kecergasannya,

Makin menekan kehampaan dalam jiwaku.

Sebagai kembang yang melihat kelopaknya

Lesu melisut dan terkulai mengering

Hatiku meratapi koderat alam,

Yang tak mencapai tujuannya,

Karena terkelok ditengah jalan.

 

Lambat laun sadarlah aku,

Tak ada yang lebih agung memenuhi jiwa

Dari pada penyerahan cinta

Sebagai kekasih,

Sebagai ibu,

Yang seumpama matahari tak henti-hentinya

Mencurahkan panas dan cahyanya,

Memberi kehangatan dan tenaga

Ke seluruh buana.

Dalam sajak ”Kesunyian Baru”, Aku lirik mengungkapkan sebuah refleksi diri. Refleksi ini ia lakukan usai mencapai berbagai hal yang dinginkannya di waktu lampau. Ia telah membuktikan kecakapan jiwa dan raga, bekerja keras, serta berpisah dari suami dan anak. Dengan tercapainya itu semua, ia berharap mampu meraih kebahagiaan dan kebebasan. Dugaannya untuk mendapatkan kebahagiaan tak berakhir sesuai harapannya hingga ia bertanya pada dirinya sendiri. Hal ini terungkap pada bait pertama

Berbahagiakah aku sekarang,

Setelah membuktikan kecakapan jiwa dan raga,

Setelah membanting tulang dan mencucurkan keringat,

Tak terkalahkan di segala gelanggang,

bebas dari suami.

Dan tak dibebani anak dan rumah?

            Perjalanan yang ditempuh oleh Aku lirik begitu berat. Ia sibuk dalam menghadapi tantangan yang silih berganti. Saat perjalanan meraih kebahagiaan yang begitu keras, ia terpanggil nuraninya sebagai seorang perempuan yang lekat dengan kerinduan akan cinta dan penyerahan seperti yang diungkapkan dalam bait berikutnya

            Dalam kesibukan kerja dan bakti,

            Penuh tanggung jawab dan siasat,

            Dalam kepusingan menghadapi tandingan dan tantangan,

            Penuh kepercayaan menangkis dan menyerang,

            Datang mengetuk hati perempuanku yang abadi.

            Dari jauh dan dalam ia menghimbau,

            Merindukan cinta dan penyerahan.

            Pada bait ketiga, Aku lirik mengisahkan usianya yang semakin tua. Penurunan kekuatan dan kelincahan menjadikannya pesimis sebab ia tak mampu lagi beraktivitas sekeras dulu. Ia sedih sebab perjuangannya di waktu lalu yang begitu keras terhambat dengan keadaannya yang semakin renta. Ia tak mampu mencapai tujuannya.

            Makin memanjang usiaku,

            Dan tubuhku melewati puncak kecergasannya,

            Makin menekan kehampaan dalam jiwaku.

            Sebagai kembang yang melihat kelopaknya

            Lesu melisut dan terkulai mengering

            Hatiku meratapi koderat alam,

            Yang tak mencapai tujuannya,

            Karena terkelok ditengah jalan.

            Dalam refleksi yang dijalani, Aku lirik menyadari bahwa seorang perempuan memiliki tujuan naluriah yang selalu ingin dekat pada penyerahan cinta. Perempuan selayaknya mampu menebar cinta kasih sebagai ibu bagi anak-ankanya dan menebar cahaya di setiap penjuru lingkungannya. Ia menemukan kesadarannya di akhir bait puisi ini.

            Lambat laun sadarlah aku,

            Tak ada yang lebih agung memenuhi jiwa

            Dari pada penyerahan cinta

            Sebagai kekasih,

            Sebagai ibu,

            Yang seumpama matahari tak henti-hentinya

            Mencurahkan panas dan cahyanya,

            Memberi kehangatan dan tenaga

            Ke seluruh buana.

 

 

            ”Sama-sama Bermimpi dan Berjuang” dalam kumpulan sajak Perempuan di Persimpangan Zaman memiliki kesamaan dengan sajak sebelumnya, ”Kesunyian Baru”, yaitu mengangkat tema perempuan atas sebuah kesadaran.

Sama-sama Bermimpi dan Berjuang

 

Kekasihku sayang, aku tahu

Di zaman baru yang sedang mengorak kelopak

Pengasuhan dan pendidikan anak akan berkurang,

Berkat penuh sesaknya bumi kita.

Aku tahu, bahwa kemajuan zaman kita

Meringankan pekerjaan rumah

Bagi isteri dan ibu,

Sehingga dapatlah ia lebih bebas berkembang,

 

Wahai,

Dapatkah dalam masyarakat yang akan datang

Kami kaum perempuan

Mencapai hidup yang wajar,

Sebagai kekasih,

Sebagai ibu,

Dan sebagai pribadi,

Yang serta mengembangkan kebudayaan,

Dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran yang penuh?

 

Kekasihku, sayang, mari kita bersama,

Bermimpi dan berjuang dalam kemesraan kasih,

Girang membangun masyarakat dan kebudayaan,

Dimana tugas dan pekerjaan,

Hak dan kewajiban,

Dan bersama itu cinta dan bahagia,

rata terbagi antara umat manusia.

 

Tugu, 11 Juli 1976 

 

            Kesemua bait dalam puisi ini mengungkap celoteh seorang perempuan kepada pasangannya tanpa ada sahutan dari pihak pasangan. Pada bait pertama, Aku lirik menggambarkan keadaan di zaman modern ini dengan cukup kompleks, tentang pengasuhan, pendidikan, dan teknologi. Kemajuan zaman ini dirasa mampu memfasilitasi kehidupan seorang perempuan untuk terjun ke ranah publik.

            Kekasihku sayang, aku tahu

            Di zaman baru yang sedang mengorak kelopak

            Pengasuhan dan pendidikan anak akan berkurang,

            Berkat penuh sesaknya bumi kita.

            Aku tahu, bahwa kemajuan zaman kita

            Meringankan pekerjaan rumah

            Bagi isteri dna ibu,

            Sehingga dapatlah ia lebih bebas berkembang,

            Aku lirik meneruskan celotehannya dengan mengungkap sebuah harapan di masa mendatang. Di sini, disuratkan harapan dari seorang perempuan untuk mampu menjadi sebagai pasangan dan ibu sekaligus berperan dalam perkembangan kebudayaan, tanpa menelantarkan salah satunya.

Wahai,

Dapatkah dalam masyarakat yang akan datang

Kami kaum perempuan

Mencapai hidup yang wajar,

Sebagai kekasih,

Sebagai ibu,

Dan sebagai pribadi,

Yang serta mengembangkan kebudayaan,

Dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran yang penuh?

            Optimisme perempuan sangat terasa dalam bait terakhir puisi ini. Aku lirik mengajak pasangannya untuk melangkah bersama guna menggenggam cita-cita. Meraih mimpi dalam kemesraan kasih serta membangun masyarakat adalah harapannya. Ia yakin bahwa kesemua itu dapat diperoleh dengan melangkah bersama dengan membagi tugas sesuai porsi yang tepat hingga memunculkan hasil yang memang pantas didapat oleh keduanya, perempuan dan laki-laki.

            Kekasihku, sayang, mari kita bersama,

Bermimpi dan berjuang dalam kemesraan kasih,

Girnag membangun masyarakat dan kebudayaan,

Dimana tugas dan pekerjaan,

Hak dan kewajiban,

Dan bersama itu cinta dan bahagia,

rata terbagi antara umat manusia.

            Kedua sajak di atas, ”Kesunyian Baru” dan ”Sama-sama Bermimpi dan Berjuang”, membuktikan bahwa membincang perempuan tak ada habisnya. Hak, kewajiban, dan penghargaan, kesemuanya menjadi menarik saat dilekatkan padanya. Perempuan semakin menarik diperbincangkan saat ditelisik peranannya dalam ranah publik. Tuntutan untuk memperoleh porsi yang sama menjadi senjata ampuh untuk memperjuangkan hak perempuan. Apakah memang harus begitu? Apakah keadilan selalu merujuk pada kalkulasi angka senilai, 50:50?

            Dua jenis manusia  di dunia ini ada dua, perempuan dan laki-laki. Diciptakannya jenis yang lebih dari satu ini pasti ada maksudnya, saling melengkapi ataupun yang lain. Allah berfirman dalam QS An-Nisa:1 sebagai berikut

Wahai manusia!  Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan               perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga  dan mengawasimu.

            Jika dalam suatu situasi dan kondisi ditemukan lebih dari satu orang, secara otomatis, satu orang akan jadi pemimpin dan yang lain akan dipimpinnya. Jika tidak, kondisi dan situasi akan kacau karena tak ada yang bersedia dipimpin ataupun sebaliknya. Kepemimpinan bukan berarti mutlak dipahami bahwa satunya lebih tinggi dari yang lain, melainkan sebuah cara untuk menciptakan kondisi ideal secara bersama-sama sehingga tujuan dapat dicapai dengan baik dengan sebelumnya menempatkan segala sesuatunya pada tempat yang tepat. Hal ini terlihat pada kemauan berjalan bebarengan Aku lirik dan pasangannya dalam sajak “Sama-sama Bermimpi dan Berjuang”. Di dalamnya terlihat bahwa keduanya memiliki kesadaran atas hak dan kewajiban.

            Kekasihku, sayang, mari kita bersama,

            Bermimpi dan berjuang dalam kemesraan kasih,

            Girang membangun masyarakat dan kebudayaan,

            Dimana tugas dan pekerjaan,

            Hak dan kewajiban,

            Dan bersama itu cinta dan bahagia,

            rata terbagi antara umat manusia.

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan akan mendapat suraga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan mendapat tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.

            Kedua ayat di atas, QS At-Taubah 71-72, memberikan jaminan dan kedudukan yang sama bagi mu’min laki-laki dan mu’min perempuan di hadapan Allah. Jika dipandang dari segala seginya, niscaya terlihat bahwa kedudukan perempuan mendapat jaminan yang tinggi dan mulia. Keduanya sama-sama memikul kewajiban dan mendapat hak. Keduanya bertugas menegakkan kebenaran dan keadilan, mengokohkan akhlak yang tinggi dalam pembangunan masyarakat, menjauhkan kerusakan akhlak, dan menentramkan bila terjadi kekacauan.

 

            Kesamaan memiliki hak dan kewajiban di antara laki-laki dan perempuan bukanlah berarti bahwa kesemua pekerjaan yang dapat dilakukan laki-laki dapat juga dilakukan oleh perempuan. Oleh sebab itu, meskipun sama-sama berhak dan sama-sama berkewajiban, pekerjaan harus dibagi. Jika keduanya mengerjakan pekerjaan yang sama akan timbul hasil yang sia-sia, bahkan ada yang tak terlaksana. Hal seperti ini mengisyaratkan kepada kita bahwa sebenarnya keadilan tak sepenuhnya ditunjukkan oleh kalkulasi angka senilai, 50:50, melainkan ketepatan dalam peletakan segala hal hingga memunculkan hasil yang memang tepat dan pantas didapat dengan kesadaran atas hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan seperti diungkap dalam kedua puisi di atas.

Bahan Pustaka

 

Alisjahbana, S. Takdir. 1980. Perempuan di Perimpangan Jalan. Jakarta: PT Dian Rakyat.

Al-Qur’anul karim

Hamka. 1984. Kedudukan Perempuan dalam Islam. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Irmler, Maria. Peny. 2008. Antologia de Poeticas. Jakarta: Gramedia.

Megawangi, Ratna. 1999. Membiarkan Berbeda?: Sudut Pandang Baru tentang Relasi        Gender. Bandung: Mizan.

Rosidi, Ajip. 1975. Membicarakan Puisi Indonesia. Bandung: CV Peladjar Bandung.

Read Full Post »

oleh Nila Rahma

Segerombolan perempuan mendatangi segerombolan lelaki yang tengah asik membuka suatu jendela situs web di sebuah warnet. Terkejutlah segerombolan lelaki itu karena didatangi tiba-tiba dengan tuntutan pertanggungjawaban. Seorang gadis SMA, Rahma, terbukti hamil sebagai buah perbuatan terlarang.

Teman Rahma, Savina, begitu membela temannya yang terbukti hamil saat itu.. Menjadi masalah besar saat Rahma mengatakan bahwa dirinya tak hanya melakukan hubungan seks dengan seorang saja, melainkan bergiliran. Saat itu, tak ada solusi lain, kecuali pengundian. Suasana tegang dirasai oleh Savina dan teman-temannya kala pengundian.

Akan tetapi, ketegangan tak dirasa sama oleh para lelaki itu sebab mereka telah menyusun skenario, bahkan dijadikan lelucon oleh mereka. Beberapa lelaki berkompromi untuk menulisakn hanya satu nama pada tiap lipatan kertas, Yanto. Pastinya sudah disangka sebelumnya, yang akan menikahi Rahma adalah Yanto.

Di kemudian hari, Savina bertemu lagi dengan seorang bernama Jay, seorang lelaki yang ditemuinya pertama kali saat peristiwa penuntutan pertanggungjawaban di warnet kala itu. Jay, seorang lelaki yang muncul sebagai sosok mahasiswa meliriknya. Muncullah getar cinta di antara keduanya. Jay berpikir Savina menjadi sosok yang menantang karena ia menganggap Saavina sebagai cewek yang tidak murahan.

Hingga kesekian kalinya, kebutuhan pembuktian cinta yang diharapkan Jay dari Savina terpenuhi. Savina mengatakan bahwa ia hanya akan menyerahkan tubuhnya kepada seseorang yang benar-benar ia cintai. Terjadilah hubungan itu.

Tanpa diduga, Jay meninggalkan Jogjakarta untuk kembali ke Jakarta, tempat asalnya. Ia adalah wartawan yang menyamar sebagai mahasiswa untuk meneliti pergaulan bebas di Jogja. Dalam laporan pemberitaannya, ia mengungkapkan bahwa terjadi kondisi yang akut dalam pergaulan antara lelaki dan perempuan di sana.

Sementara itu, Savina, gadis yang telah dirasainya memunculkan tanggapan yang mengagetkan bahwa Jay telah menipu semua orang karena dia pun telah terlibat di dalamnya dengan melakukan perbuatan semacam itu.

Melihat cerita di atas, kita menemui fenomena krusial, yakni pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Jika ditilik dari konsep gender, akan dikatakan bahwa perempuan dijadikan objek oleh lelaki. Akan tetapi, tidak demikian semestinya. Jika suatu peristiwa terjadi atas adanya pengaruh dari dua pihak atau lebih, akan menjadi tanggung jawab bagi kesemuanya atas hasil yang baik atau buruk kemudian. Menjadi aneh saat diketahui bahwa Rahma hamil, bahkan ia tak tahu jawaban atas pertanyaan, “Siapakah ayah dari janin ini?”. Hal ini menandakan bahwa Rahma dan gerombolan lelaki tak bermoral itu memiliki andil besar dalam memunculkan fenomena ini. Tak bisa disalahkan salah satunya, tetapi mutlak keduanya bersalah atas andil masing-masing.

Begitupun dengan kasus Savina dan Jay. Meskipun Savina berdalih bahwa ia telah menyerahkan tubuhnya pada orang yang begitu ia cintai, ini tak menjadikan Jay sepenuhnya salah sehingga Savina patut dibela dan dikasihani oleh semua orang. Sama seperti kasus sebelumnya, keduanya memiliki andil dalam memunculkan masalah. Jay, seorang lelaki yang berdalih meneliti pergaulan bebas tak seharusnya juga melakukan perbuatan semacam itu.

Segala hal akan tepat bila diletakkan pada tempatnya. Sebagai perempuan ataupun lelaki, selayaknya menyadari andil yang seharusnya kita berikan dalam kehidupan ini, tidak sekadar menuntut ataupun menyalahkan. Ada batasan ataupun aturan dalam pergaulan lelaki dan perempuan yang dapat memunculkan situasi harmonis, bukan kekacauan.

Berhubungan seks antara laki-laki dan perempuan yang saling mencintai tidak selalu dikatakan benar jika tempatnya tidak tepat, apakah hubungan mereka telah diikat dalam ikatan yang sah atau tidak. Jika tidak, niscaya kekacauanlah yang akan muncul.

Read Full Post »

oleh Khairun Nisa


1. Pengantar

Gender berbeda dengan seks, pengertian diantara kedua kadang-kadang disalahartikan masyarakat umum. Pengertian seks sendiri adalah perbedaan jenis kelamin atau perbedaan perempuan dan laki-laki dilihat dari sisi biologis. Gender sendiri memiliki pengertian perbedaan antara perempuan dan laki-laki dipandang dari psikologis dan budaya (Mantik, 2006: 34—37).

Dukungan kesetaraan gender dalam sastra tidak hanya datang dari kaum perempuan, tetapi juga dari kaum laki-laki. Salah satunya adalah Putu Oka Sukanta, seorang sastrawan yang lahir di Singaraja. Tempat kelahirannya jugalah yang menjadi inspirasinya menjadikan latar untuk beberapa cerpennya, termasuk dalam kumpulan cerpennya Keringat Mutiara. Dalam kumpulan cerpennya ini Putu Oka Sukanta mencoba untuk mengatakan bahwa perempuan itu bukan manusia yang lemah, ia sebenarnya sangat tegar dan dapat menggantikan peran seorang laki-laki dalam keluarga.

Menganalisis tema perempuan dari penulis laki-laki sangat menarik perhatian untuk dianalisis. Sampai sejauh manakah Putu Oka Sukanta mengubah cara pandang para tokohnya terhadap perempuan, baik dari perempuan itu sendiri atau laki-laki yang ada di dekatnya? Apakah Oka Sukanta sanggup mengubah pandangan itu keluar dari intersivying atau penguatan stereotipe perempuan yang sudah ada sejak dulu?

2. Sekilas Tentang Pengarang

Putu Oka Sukanta adalah seorang sastrawan dan akupunturis yang sebelumnya pernah bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Beliau pernah mendekam di penjara sebagai tahanan politik pada masa orde baru selama sepuluh tahun.

Kini dengan keahliannya yang didapat dari penjara, ia membuka praktik akupuntur. Dia juga seorang aktivis pembela ODHA karena dia merasakan persamaan nasib dengan mereka, yaitu sama-sama terpinggirkan oleh masyarakat bahkan pemerintah.

Karya-karyanya yang telah terbit adalah Selat Bali (kumpulan puisi) 1982, The Song of the Starlings (kumpulan puisi) 1986, Greetings (kumpulan puisi) 1986, The Sweat of Pearls (kumpulan cerpen) 1991, Die Tasche (kumpulan cerpen) 1987, Die Sonna Die Mauer Berlin (kumpulan cerpen) 1988, Kelakar Air, Air Berkelakar (novel) 1999, Perjalanan Penyair (kumpulan puisi) 1999, Merajut Harkat (novel) 1999, Kerlap Kerlip Mozaic (novel) 2000, Di Atas Siang di Bawah Malam (novel) 2004, Rindu Terluka (kumpulan cerpen) 2005.

3. Ringkasan Cerita

a. Luh Galuh

Luh Galuh, perempuan bekas penari tenar ini harus membanting tulang menghidupi dirinya sendiri. Ia digambarkan sebagai perempuan Bali yang terpinggirkan, bahkan oleh keluarganya sendiri. Meski perkembangan zaman semakin pesat, dia harus tetap bekerja demi sesuap nasi. Luh Galuh pun membuang kehormatannya sebagai perempuan dengan malu-malu meminta uang kepada laki-laki bule yang ingin memotret foto dirinya.

b. Tas

Tokoh utama dalam cerpen ini bernama Bawa, seorang narapidana. Lia adalah kekasih Bawa yang setia menunggu Bawa dan terus mengirimanya tas berupa perbekalan makanan pada Bawa sebagai penyambung hidup. Suatu hari Bawa memintanya untuk memilih jalan yang paling membahagiakannya. Lia tetap tidak menikah dengan orang lain, tetapi tas yang biasa dikirimnya tidak lagi datang pada Bawa.

c. Mega Hitam Pulau Khayangan

Tokoh utama cerpen ini adalah perempuan yang bernama Ida Ayu Ketut Sumartini. Kebebasannya mencintai laki-laki diusik oleh keluarganya karena kasta kekasihnya lebih rendah dari dirinya. Sumartini merasa kebebasan mencintai seseorang yang berkasta rendah tidak didapat oleh dirinya yang seorang perempuan, sedangkan kakak laki-lakinya bisa. Keluarganya yang khawatir menganggap dia diguna-gunai oleh kekasihnya. Hal ini membuat Sumartini merasa kecewa. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mengambil kebebasannya sebagai perempuan yang bebas mencintainya dengan jalan kawin lari.

d. Menanti

Tokoh utama cerpen ini kembali seorang perempuan, namanya Bu Samijan. Ia harus mengambil peran ibu dan ayah sekaligus untuk kedua anaknya, Romli dan Aminah. Suaminya ditangkap karena dituduh ikut Gestapu. Ketegaran Bu Samijan tetap bertahan demi anak-anak dan suaminya. Stereotipe perempuan yang manja dan lemah tidak ada lagi pada dirinya yang harus berperan ganda dalam keluarga. Sampai akhirnya penantiannya terus berlanjut hingga suaminya dibuang ke Pulau Buru.

e. Meme Mokoh

Tokoh utama cerpen ini bernama Plutut yang merasa dirinya tidak disayangi oleh ibu kandungnya sendiri. Ia menganggap Meme Mokoh seperti ibu baginya daripada ibu kandungnya sendiri. Meme Mokoh digambarkan sebagai perempuan yang tidak hanya tegar, tapi juga mengambil peran sebagai laki-laki di dalam rumah tangga. Ia dengan mantap menolak lamaran seorang laki-laki kampung dan saat adiknya (ibunya Plutut) menikah, ia juga yang ikut membantu menafkahi keluarga adiknya itu.

4. Perempuan di Balik Pena Putu Oka Sukanta

Novel ataupun cerpen dengan tokoh sentral perempuan di Indonesia diawali dengan hadirnya novel Azab dan Sengsara tahun 1920 dan disusul dengan novel Siti Nurbaya tahun 1922 (Rustapa, 1992:1). Seperti halnya kedua novel tersebut, kumpulan cerpen Keringat Mutiara juga dikarang oleh laki-laki. Kebanyakan karya sastra yang dibuat oleh laki-laki menampilkan perempuan sebagai sosok yang manja, lemah, lembut, dan keibuan (Djajanegara, 2000:19). Namun, kumpulan cerpen Keringat Mutiara tidak demikian, perempuan-perempuan dalam kumpulan cerpen ini digambarkan sebagai sosok yang tegar dan memiliki keinginan sendiri yang merupakan pilihan hidupnya untuk bahagia.

Keringat Mutiara adalah kumpulan cerpen yang mengangkat keinginan perempuan untuk lepas dari pandangan budaya yang mengikat mereka. Dalam cerpen “Luh Galuh” kita dapat melihat Luh Galuh yang sebenarnya rikuh dan cemas dipotret oleh laki-laki bule karena pandangan budaya yang menganggap hal itu tidak baik. Meski begitu dia cukup gembira dengan uang yang didapatnya.

“Bibi Luh, ini tamu mau memotret bibi,” kata pemuda berkulit coklat itu. “Hii, aku sudah tua dan buruk. Bikin malu saja,” sahutnya seketika. Ia menutup mukanya dengan ujung handuk yang menggelayut dari bahunya. Tetapi tamu itu tanpa menunggu persetujuannya, telah menjepretnya berulang kali. Dari dekat dan dari jauh.

“Tidak apa-apa,” kata tamu itu di dalam bahasa Indonesia patah-patah.

“Saya malu,” desisnya sekali lagi. Ia melepas ujung handuk dan membiarkan tamu itu menjepretnya sesuka hati (Sukanta, 2006:16—17).

“Mintakan Bibi uang sedikit saja,” mukanya menatap laki-laki itu silih berganti. Ketiganya terdiam. Seperti ada yang menyumbat kerongkongannya. Kemudian sekali, tamu itu merogoh sakunya. Selembar limaratusan rupiah diserahkan kepada Luh Galuh. (Sukanta, 2006:18).

Cerpen “Luh Galuh” mencoba mengubah pandangan Luh Galuh menjadi decomposing. Akan tetapi, keadaanlah yang membuat Luh Galuh terpaksa menerima bahwa pandangan budaya harus berubah demi kelangsungan hidup, bukan karena pemikirannya sendiri sebagai perempuan seutuhnya.

Dalam cerpen “Tas”, decomposing terjadi pada tokoh utama yang berjenis kelamin laki-laki. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.

“… Lihat tuh, berapa banyak orang yang menjadi PA karena istrinya kawin?”

“Pernahkah kau membalik keadaan kenyataan ini? Apa yang kau lakukan, kalau istrimu yang di sini sedang engkau di luar?”

Semuanya terdiam. Bawa menghujamkan tikaman-tikaman ujung pisaunya.

“Kita terlalu egois. Kita menuntut orang lain ikut memikul beban kita. Kita selalu menilai segalanya dari sudut kepentingan kita sendiri, bukan dari kepentingan orang lain. Meskipun, itu seorang istri yang sedang kita tiduri setiap malam. Dia toh seorang manusia yang mempunyai batas kemampuan. Punya hak dan bukan embel-embel…” (Sukanta, 2006:40).

Tokoh Bawa mencoba untuk berpikir bagaimana sulitnya menjadi seorang perempuan yang harus setia menanti kekasihnya pulang. Ia mengerti bahwa perempuan tidak berbeda dengan laki-laki yang juga mempunyai hasrat seksual karena mereka sama-sama manusia.

Tokoh Sumartini dalam cerpen “Mega Hitam Pulau Khayangan” sedikit drastis. Dia telah mengubah pandangan sampai Recomposing karena ia berani menentang sistem kasta yang disodorkan budaya dan agamanya. Menurutnya manusia dilahirkan sama dan sederajat.

Pada hari-hari pertamanya di Bali ia selalu berdebat dengan Dayu Biang, ibunya. Tidak dapat diterima oleh pikirannya, mengapa kakak laki-lakinya boleh kawin dengan gadis jabe. Sedangkan ia sebagai seorang wanita Brahmana selalu dihalangi menikah dengan lelaki jabe. Mengapa? Lagipula di jaman sudah maju kayak sekarang.

“Kalau laki-laki, ia dapat mengangkat istrinya yang berasal dari jabe ke kasta kita. Perempuan itu diangkat oleh kita. Tapi kalau kamu sebaliknya. Diangakat kemana engkau oleh lelaki jabe itu? Engkau diseret ke bawah. Ke bawah! Engkau akan kehilangan martabatmu. Apakah engkau tidak malu? Kami akan malu.”

“Tapi ini tidak adil. Tuhan melahirkan kita sama.” Jawab Tini dengan ketus (Sukanta, 2006:63).

Dalam cerpen “Menanti”, Bu Samijan sebagai tokoh utama harus berjuang berperan sebagai ibu dan ayah sekaligus. Pekerjaan yang dilakukannya dengan membanting tulang seakan-akan Bu Samijan telah mencapai tingkat poses kehidupan decomposing. Ternyata tidak seperti itu, dia melakukan karena keterpaksaan, sama dengan Luh Galuh dalam cerpen “Luh Galuh”. Bu Samijan sebenarnya masih dalam tahap intersivying. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.

“Ya, suruh Ramli yang memetik. Kamu jangan naik-naik. Perempuan tidak sopan naik pohon.”

“Tapi Ibu naik ke atap.”

“Ya, sudahlah.” (Sukanta, 2006:117).

Dalam cerpen “Meme Mokoh” digambarkan satu keluarga sudah mengalami tahap decomposing begitu juga kampung yang ditinggali  mereka.

Meme mokoh tidak berhenti untuk makan sebelum pekerjaannya selesai. Kami anak-anak selalu diberi makan lebih dahulu daripada orangtua. Tidak seperti tetangga-tetangga kami yang anak-anaknya terpaksa menahan lapar dan menahan air liur menunggu sampai orangtuanya selesai makan dan jatahnya adalah makanan kelas dua. Kelas satu selalu untuk orangtua (Sukanta, 2006: 157—158).

Mereka bagaikan perempuan-perempuan yang menolak nasibnya harus bergantung kepada suami atau lelaki. Bahkan mereka menjawab dengan caranya masing-masing bahwa tanpa suami mereka juga bisa hidup dan tidak hanya hidup, tetapi juga menghidupi manusia sekitarnya (Sukanta, 2006: 169).

Dari beberapa cerpen Putu Oka Sukanta, kita dapat mengetahui bahwa para tokohnya dapat mencapai tahap decomposing karena keterpaksaan. Nasib membuat Luh Galuh dan Bu Samijan terpaksa bekerja membanting tulang yang awalnya menurut mereka harus dikerjakan laki-laki. Proses perubahan kehidupan dalam perspektif gender dinilai masih agak sulit jika kita melihat dari beberapa cerpen di atas. Namun, Putu Oka Sukanta sudah mampu meninggalkan stereotipe perempuan yang ideal haruslah setia, penurut, manja, cengeng, dan lemah.

5. Kesimpulan

Putu Oka Sukanta belum bisa membuat para tokoh dalam kumpulan cerpennya ini memasuki tahap deconstruction dan reconstruction. Dari sini kita juga dapat mengetahui bahwa budaya dan pandangan masyarakat kita belum bisa berubah secara drastis. Pandangan masyarakat tentang perempuan berada di bawah laki-laki benar-benar sudah mengakar sehingga kalau dicabut dengan paksa akan membuat guncangan kebudayaan.

Proses kehidupan manusia dalam perspektif gender, pelan tapi pasti telah melaju ke arah yang lebih baik. Sudah banyak perempuan yang merasa diperlakukan tidak adil sehingga mampu berpikir dan memberontak dengan pikiran-pikiran yang cerdas. Meski kadang-kadang perbuatan yang harus dilakukan cukup radikal, seperti Sumartini yang berani membuang keluarga dan kampung halamannya demi mendapatkan kebebasan sebagai perempuan yang merupakan manusia juga seperti laki-laki.

6. Sumber Data

Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Elson, Diane, dan Ruth Pearson. 1984. “The Subordination of Women and the Internastionalisation of Factory Production.” Of Marriage and the Market: Women’s Subordination Internationally and its Lesson. London:Routledge.

Mantik, Maria Josephine Kumaat. 2006. Gender dalam Sastra: Studi Kasus Drama Mega-Mega. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Rustapa, Anita K., dkk. 1992. Tokoh Wanita dalam Novel Indonesia Tahun 1920—1980-an. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sukanta, Putu Oka. 2006. Keringat Mutiara. Yogyakarta: Ombak.

Read Full Post »

oleh Tuslianingsih


  1. 1. Pendahuluan

Pembicaraan mengenai perempuan telah mengalahkan pergeseran yang cukup mendasar pada saat konsep “gender” digunakan sebagai perspektif. Gender lebih menunjuk kepada relasi laki-laki dan perempuan dalam berinteraksi. Dengan cara ini, fokus kajian tidak hanya tertuju pada perempuan tetapi juga pada laki-laki. Pendekatan semacam ini telah memberikan nuansa baru, terutama dalam menjelaskan dominasi dan subordinasi atau hubungan-hubungan kekuasaan secara umum yang ternyata memberi pengaruh sangat penting dalam kehidupan perempuan secara luas.

Di dalam kehidupan manusia, terdapat proses kehidupan yang semakin lama semakin meningkat. Dengan kata lain, kehidupan manusia mengalami perubahan. Di dalam novel Namaku Hiroko, terdapat proses kehidupan wanita Jepang yang bernama Hiroko. Pada awalnya Hiroko adalah seorang yang sangat mematuhi adat istidat Jepang pada umumnya. Namun, watak Hiroko mengalami perkembangan, sejalan dengan proses kehidupannya.

Hal ini sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut. Oleh karena itu, penulis akan membahas proses kehidupan Hiroko dalam perspektif gender. Dengan demikian, penulis akan mencoba memaparkan proses kehidupan Hiroko berdasarkan kedudukannya sebagai seorang perempuan.

 

 

 

  1. 2. Proses Kehidupan Manusia dalam Perspektif Gender

Proses kehidupan manusia dalam perspektif gender meliputi intensifying, decomposing, recomposing, deconstruction, dan reconstruction.

  1. Intensifying, jika dianalogikan dengan rumah, intersifying adalah rumah yang berbentuk normal. Bentuknya biasa saja, monoton, terdiri dari jendela dan pintu yang standar, seperti rumah kebanyakan. Oleh karena itu, tahapan seseorang di dalam intensifying adalah masa penguatan diri, belum ada pemberontakan di dalam dirinya atas keadaan yang terjadi pada dirinya maupun pada sekitarnya.
  2. Decomposing, rumah tersebut komposisinya berubah meskipun rumah tersebut masih terlihat rumah. Misalnya, hanya terdiri dari pintu saja atau bahkan dengan jendela yang banyak tetapi dengan posisi yang masih pada tempatnya.
  3. Recomposing, terdapat komposisi baru yaitu jendela berada di atas atap, yang tidak lazim seperti rumah kebanyakan.
  4. Deconstruction, konstruksinya bersubah, dari bentuk rumah yang standar, kini bentuknya bisa beraneka ragam tetapi masih tahap wajar.
  5. Reconstruction merupakan kontruksi baru dari sebuah rumah. Masih dianggap sebuah rumah, tetapi bentuknya bukan lagi sebuah rumah. Bahkan terlihat tidak seperti rumah.

 

Dari penjelasan tersebut, penulis akan mencoba mencari tahu, apakah di dalam novel Namaku Hiroko ini terdapat hal-hal tersebut. Setelah itu, penulis akan menguraikan proses kehidupan apa saja yang telah Hiroko alami. Namun, sebelum kepenjelasan yang lebih lanjut. Penulis akan memberikan sinopsis novel Namaku Hiroko.

Novel ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang gadis Jepang bernama Hiroko yang sangat menyukai namanya sehingga dia selalu menyebut nama Hiroko di depan nama keluarganya. Di desa tempat tinggalnya, dia tinggal bersama Ayah, Ibu tiri, dan adik-adiknya. Ayah Hiroko menanggung beban pekerjaan di ladang sendirian. Ibu tirinya bahkan jauh lebih baik dan perhatian daripada ibu kandungnya yang telah tiada, sedangkan kedua adik lelakinya merupakan dua orang yang cerewet dan hanya memikirkan diri sendiri. Hiroko tidak melanjutkan sekolah setelah SMA karena keputusan ayahnya yang sebagai kepala keluarga yang kata-katanya tidak bisa dilanggar.

Hiroko menjalani kehidupan di desa dan mematuhi segala adat karena merasa itulah yang harus dilakukannya. Suatu ketika, seorang tengkulak menawari sang ayah untuk mempekerjakan Hiroko sebagai pembantu rumah tangga di kota. Ayahnya pun menyetujui. Sejak itu hidup Hiroko berubah. Ia melihat kebiasaan wanita-wanita di kota, perbincangan para pembantu, sampai kemudian harus kembali membantu ayahnya di desa.

Tomiko, teman Hiroko yang pandai bergaul dan tampil memesona, berhasil meyakinkan ayah Hiroko untuk mengizinkan Hiroko ke kota dan bekerja lagi di sana. Akhirnya, ayah Hiroko menyetujuinya. Di kota, mulanya Hiroko bekerja pada sepasang suami istri yang belum mempunyai anak. Di sanalah, untuk pertama kalinya dia merasakan sentuhan seorang pria yang tak lain adalah adik dari majikan wanitanya sendiri. Namun Sanao, nama adik majikannya, pergi dan kemudian tak kembali lagi. Hiroko tetap bekerja di sana, tetapi kali ini Hiroko menjadi incaran nafsu tuannya.

Hiroko mengundurkan diri dari majikan lamanya kemudian mencari pekerjaan lain sebagai pegawai toko, sampai menjadi model sekaligus penari telanjang di kabaret. Dari sana, Hiroko mulai banyak mengenal jenis pria dan berhubungan intim dengan pria yang sesuai dengan tipenya. Novel ini diakhiri dengan perkataan Hiroko yang tak pernah menyesal dengan jalan hidupnya yang pada saat itu menempati posisi sebagai simpanan dari suami sahabatnya sendiri.

 

  1. 3. Proses Kehidupan Hiroko di dalam Novel Namaku Hiroko

Penulis menemukan beberapa proses perubahan tokoh Hiroko yang berhubungan dengan kekuasaan, pekerjaan, dan seksualitas.

Di Jepang (abad ke-19) dalam masalah pendidikan antara perempuan dan laki-laki dibedakan. Selama masa pendidikan wajib 6 tahun, baik anak laki-laki maupun anak perempuan memperoleh pengajaran secara bersamaan; tidak ada diskriminasi dalam pelajran-pelajaran yang diberikan. Perbedaan timbul pada tingkatan yang kedua: anak laki-laki melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah (5 tahun) atau pendidikan keterampilan, sedangkan anak-anak perempuan memasuki Sekolah Menengah Khusus bagi mereka (4 atau 5 tahun) (Okamura, 1983: 53-54).

Sistem diskriminasi ini berlandaskan sebuah sikap yang terungkapkan dalam pepatah feodal “pendidikan tak perlu bagi kaum wanita”. Gagasan ini merupakan pendukung dari stereotip perempuan dipersiapkan agar dia dapat baik dan mampu sebagai ibu rumah tangga sedangkan laki-laki diyakini sebagai pencari naskah. Dengan keterangan tersebut, Hiroko sebagai perempuan Jepang pada masanya tidak mendapatkan hak berpendidikan.

Hiroko dengan kepolosannya, ketidakmengertiannya, pada awal cerita, diceritakan bahwa dia sangat intensifying dengan peraturan yang ada di sekelilingnya. Termasuk dalam hal pendidikan dan pekerjaan, seperti pada kutipan berikut ini.

 

Empat hari kemudian aku duduk di samping sopir truk yang membawa hasil panen desa ke kota. Waktu itu umurku hampir enam belas tahun. Sudah dua tahun aku tidak bersekolah. Keputusan yang diambil ayahku merupakan peraturan yang harus dituruti tanpa dirunding pihak yang bersangkutan. Pada waktu itu aku menerimanya dengan kewajaran abadi penuh ketaatan. Ayahku seorang yang menentukan dalam kehidupan kami. Dan aku yang dibesarkan dengan lingkungan adat kepala tunduk untuk mengiyakan semua perintah orangtua, tidak melihat alasan apa pun buat membantahnya. Padahal waktu itu aku khawatir. (NH:15)

 

Dalam kutipan tersebut, jelas otoritas sang ayah di dalam keluarganya sangat dipatuhi oleh Hiroko. Hiroko tidak berani membantah ataupun membela diri. Menurutnya, hal tersebut wajar karena di Jepang memang ada Undang-Undang yang menuliskan bahwa seorang perempuan selayaknya tunduk kepada ayahnya, kemudian kepada suaminya, dan pada hari tuanya kepada anak laki-laki nya yang menduduki posisi kepala keluarga (Okamura, 1983:6).

Hal ini berarti sama seperti yang ada di artikel “The Subordination of Woman and the International of Factory Production” yang ditulis oleh Diane Elson and Ruth Pearson yang menyebutkan contoh kasus intensifying adalah mencoba untuk memelihara bentuk tradisional dari kekuatan partiarki. Dengan demikian, otoritas ayah di atas segalanya. Motif ayah untuk mengontrol anak perempuan bekerja di suatu tempat meskipun anaknya tersebut tidak menyukai pekerjaan itu. Yang paling diutamakan adalah anak perempuan tersebut menghasilkan uang, motif ekonomi.

Perkembangan kapitalisme Jepang mendorong banyak wanita untuk meninggalkan rumah dan memasuki pasaran tenaga kerja, akan tetapi mereka melakukan hal demikian bukanlah sebagai kebanggaan dan kegembiraan akan kehidupan yang bebas sebagai buruh perseorangan, melainkan sebagai akibat kebutuhan untuk membantu anggaran rumah tangga.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Hiroko, ketika ayahnya menyuruhnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah kota. Meskipun dia merasa khawatir tetapi dia tidak membantah demi kepatuhan pada orangtua dan demi keluarganya. Belum lagi perbedaan dirinya dengan adik-adiknya yang semuanya laki-laki. Jelas berbeda kedudukannya di dalam keluarga. Ketika berada di rumah, perlakuan ayah dan ibunya kepada adik-adiknya sangat berbeda dengan dirinya. Di rumah, Hiroko diharuskan membantu pekerjaan ibunya, sedangkan adik-adiknya hanya melakukan kesenangan saja.

 

Kedua adikku tidak banyak menolong di rumah. Kalau mereka tidak di sekolah mungkin di ladang, atau di rumah tetangga melihat televisi atau bermain dengan anak-anak lain. aku tidak pernah mendengar ibu menyuruh mereka mengerjakan sesuatu pun di ladang. Sedangkan ayahku hanya sekali aku pernah mendengarnya menyuruh adikku agar menengok ke jalan raya, kalau-kalau truk kelihatan mendatang guna mengangkut hasil panen ke tempa pengumpulan. (NH: 15).

 

Pada tahap ini Hiroko masih dalam tahap intersifying yaitu bertahan pada keadaan dan perbedaan tersebut. Begitu pun ketika nenek dari ibunya meninggal dunia, ayah Hiroko menyuruhnya kembali ke desa untuk menyembahyangkan neneknya. Dengan segala kepatuhannya, Hiroko segera pulang. Tersurat pada kutipan pembicaraan antara Hiroko dengan majikannya ketika dia akan pulang berikut ini:

 

“Kau akan segera kembali?”

“Saya kira begitulah. Ayah yang akan menentukan.”

Memang pada waktu itu semua tergantung kepada ayahku. (NH: 22).

 

Ketika Hiroko bekerja sebagai pembantu di kota. Dia mendapatkan pekerjaan pada majikan perempuan yang rewel. Dengan sifatnya yang intensifying, Hiroko berusaha bertahan dengan pekerjaannya tersebut karena dia belum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Hiroko berusaha mematuhi peraturan dari majikannya tersebut, termasuk hanya boleh cuti sebanyak satu hari selama sebulan. Belum lagi, perempuan, sebagai kelompok atau golongan, tidak terbebas dari sikap diskriminatif. Apalagi perempuan memiliki keunggulan (kekurangan?) yang tidak dipunyai lawan jenisnya (Adhitama, 2000: 7) sehingga ada beberapa perlakuan yang tidak senonoh yang dilakukan oleh suami majikannya tersebut kepada Hiroko karena keunggulan (kekurangan?) yang ada ditubuhnya itu.

 

Pandang matanya menyelidik sudut bilikku sekilas, kasur yang tergelar, bahu dan dadaku. Perlahan aku menenggelamkan diri, mencari lapisan kasur, menyelimuti seluruh badan hingga leher. Amat asing rasanya aku berbaring di depannya. (NH: 39)

 

Pada akhirnya, perbuatan tak senonoh dari majikannya itu sampai pada puncaknya yaitu memaksa Hiroko untuk melayaninya. Hal ini merupakan ketimpangan di dalam praktik seksual yaitu pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan oleh majikannya terhadap dirinya.

 

Selama delapan hari aku menanggung kerewelan tuan. Selama itu kualami kejadian yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Dengan sikap kelaki-lakiannya yang memerintah ia menyuurh aku mengerjakan segala khayal yang dikehendakinya. ….. Dengan sikap pasip yang mendendam bercampur rasa ingin tahu, aku menurutinya. Kemudian jika perbuatan itu telah berlalu, aku berkata keras-keras dalam hati memberanikan diri, esok aku akan menolaknya, akan berkata terus terang kepadanya bahwa aku tidak mencintainya sedikit pun, dan aku membencinya. (NH: 77)

 

Dari kutipan tersebut terlihat jelas bahwa sebenarnya Hiroko tidak menyukai kedudukannya itu. Namun, karena ada faktor lain, Hiroko masih dapat bertahan. Bahkan untuk terus bertahan, Hiroko malah berniat meminta bayaran kepada tuannya atas pelayanannya yang terpaksa itu agar sama-sama mendapat keuntungan. Dalam hal ini, Hiroko menggunakan hak atas dirinya sendiri. Meskipun hal itu tidak dituruti oleh majikannya.

 

Setelah beberapa waktu berlalu, aku semakin menyadari bahwa tidur dengan dia tidak lagi merupakan kenikmatan, melainkan siksaan yang mengesalkan. Dua kali aku mencoba mengatakan kepadanya bahwa seharusnya dia memberiku sedikit uang saku. (NH: 77)

 

Dalam tahap ini, Hiroko masih tetap dalam ruang lingkup intensifying. Tidak bisa berbuat apa-apa, belum mampu berontak karena dari dalam dirinya, keinginan atas perubahan tersebut belum begitu besar. Namun, ada sedikit pemberontakan dengan meminta bayaran terebut. Akhirnya, semakin lama, di dalam dirinya pemberontakan-pemberontakan tersebut semakin membesar dan mencapai batasnya. Hal inilah yang memicu terjadinya proses decomposing.

 

Kupikir segala sesuatu harus ada batasnya. Karena aku tidak tidak dapat menolak paksaan majikanku, aku akan keluar sebelum nyonya berangkat hendak melahirkan. (NH: 78)

 

Atas bantuan temannya pun, dia mengundurkan diri secara tiba-tiba sehingga membuat majikan perempuannya kelimpungan dan terheran-heran. Sedangkan suami majikannya tersebut, tidak mengetahui pengunduran diri tersebut. Dalam tahap ini, Hiroko telah berhasil keluar dari suatu kungkungan atas dasar pemikirannya. Dia berusaha melawan egonya (kenikmatan berhubungan seksual), dengan ego lain yang menurutnya lebih masuk akal. Hiroko telah keluar dari intensifying dan menuju decomposing. Berikut ini pembuktian dari keberhasilannya.

 

Di dalam taksi kami berdua tertawa terkikih tak henti. Aku merasa bahagia dapat meninggalkan rumah tersebut, sedangkan Tomiko kegelian melihat wajah nyonya yang kebingungan. (NH: 80)

 

Di dalam novel Namaku Hiroko perkembangan watak dari tokoh utama sangat jelas terlihat. Baik dari pemikiran tokoh utama maupun perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. Salah satu pemikirannya yang berubah yaitu

 

Di negeriku, waktu itu kedudukan wanita jauh di bawah laki-laki. Baik dalam tata cara adat maupun undang-undang. Sejauh ingatanku, selama di desa aku tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang aneh atau menimpang dari kebiasaan. Aku menerimanya seperti juga aku menerima kebanyakan hal lainnya. Keluar dari rengkuhan keluarga, bekerja dari satu kota ke kota lain, bertambah luasnya lingkungan pergaulan, aku baru melihat kepincangan-kepincangan yang semula tidak kuperhatikan. (NH: 169)

 

Dari kutipan tersebut, jelaslah terlihat pemberontakan pemikiran oleh Hiroko. Pemikiran tersebut, menjadikan Hiroko lebih kuat dalam menjalani hidup dan tidak lagi lemah terhadap laki-laki. Bahkan untuk berhubungan seks, Hiroko termasuk tipe pemilih. Hal ini membuktikan bahwa tokoh Hirokolah yang memilih seorang laki-laki bukan laki-laki yang memilihnya. Jelaslah hal ini merupakan proses perubahan decomposing tokoh Hiroko. Dari seseorang yang mau saja tidur dengan suami majikannya yang tidak ia sukai menjadi seorang pemilih dan dapat menguasai hasratnya sendiri. Penjelasan tersebut juga didasarkan oleh kutipan-kutipan berikut ini.

 

Jika aku hidup bersama seorang laki-laki, mauku laki-laki itu bagus wajah dan tubuhnya. Karena bagiku, cinta serta perasaan keeratan terhadap seseorang amat di pengaruhi oleh rupa jasmaniah. Watak budi bahasa terletak di belakangnya. (NH: 171)

 

Aku tidur hanya dengan laki-laki yang menarik hatiku, yang cocok dengan selera dan rangsang kehendakku. (NH: 205)

 

Aku telah mengalami dua kali berhubungan dengan laki-laki yang tidak kusukai. Itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tidak terlalu memerlukan uang. Kalau aku ke hotel bersama seorang laki-laki, aku harus telah mendapat kepastian bahwa aku juga akan merasakan kenikmatan sejenak seperti pasanganku. Dan itu hanya kuperoleh sepenuhnya jika aku tertarik oleh laki-laki tersebut. (NH: 205)

 

Hal-hal tersebut juga memecahkan stereorip bahwa hanya laki-laki yang melihat pasangannya dari fisik. Ternyata perempuan pun ada yang berpikir seperti itu. Bahkan, dia ingin merasakan kenikmatan sejenak dalam hubungan intim yang singakat. Hal ini sangatlah jarang diucapkan oleh perempuan. Namun, Hiroko telah berani mengakui hal tersebut. Paling tidak, dia telah jujur terhadap dirinya sendiri.

Mengenai pandangannya terhadap desa pun telah berubah. Hiroko sudah tidak peduli dengan aturan yang dulu terdapat di desanya. Bahkan, niat untuk mengunjungi desanya pun tidak ada. Ayahnya yang dulu memegang kekuasaan penuh, sudah tidak begitu di mata Hiroko. Ayahnya sudah tidak pernah lagi memerintah Hiroko karena kiriman uang tiap bulan yang diberikan Hiroko. Dengan demikian, Hiroko memegang kendali atas ayahnya. Hal ini menandakan adanya proses perubahan decontruction, di mana struktur gender menjadi lebih imbang dari sebelumnya.

Selain masalah tersebut, deconstruction sepertinya terdapat dalam kasus pengambilan keputusan yang akhirnya dilakukan oleh Hiroko ketika dia memutuskan menjadi wanita simpanan dari suami temannya sendiri. Awalnya Hiroko adalah seorang yang meskipun mempunyai hak sepenuhnya atas tubuhnya, dia bukanlah seorang yang mudah begitu saja dekat dengan seorang laki-laki. Begitu pun ketika dia dekat dengan Yoshida, suami temannya, dia menyadari bahwa sebenarnya hubungan tersebut tidak lazim dilakukan. Selain belum menikah, Yoshida sudah beristri. Namun, karena rasa cinta yang semakin besar dan penghidupan yang layak yang diberikan oleh Yoshida membuatnya bersedia menjalani kehidupan tersebut.

 

Aku mendapat sebutan perempuan simpanan dari mulut masyarakat. Tetapi itu tidak menyinggung perasaanku. Aku dan Yoshida saling membutuhkan. Dia memberiku semua yang kuminta. (NH: 242)

 

Ya. Aku puas dengan kehidupanku. Hidup di tengah kota yang beragam. Dan aku tidak menyesali pengalaman-pengalamanku. (NH: 242)

 

Dari pengakuan Hiroko tersebut, terlihat persamaan gender antara laki-laki dan perempuan. Hiroko tidak menempatkan dirinya di sisi yang tertindas karena menjadi simpanan adalah keputusannya sendiri, guna memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Dia menggunakan hak atas dirinya, tidak peduli dengan pendapat masyarakat sekitarnya. Hal ini merupakan proses deconstruction yang memancing proses reconstruction. Namun proses kehidupan Hiroko belumlah samapai pada recomposing dan reconstruction.

 

  1. 4. Penutup

Perempuan di Jepang pada zaman dahulu memang dianggap kotor. Mereka menduduki posisi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut merupakan hal yang wajar bahkan pernah ada undang-undang yang menyebutkan bahwa seorang perempuan selayaknya tunduk kepada ayahnya, kemudian kepada suaminya, dan pada hari tuanya kepada anak laki-lakinya yang menduduki posisi kepala keluarga. Awalnya Hiroko memang seperti itu, menuruti segala aturan yang ada termasuk mematuhi tanpa komentar setiap perintah ayahnya. Dia tidak pernah mempermasalahkan kepada ayah dan ibunya tentang perbedaan sikap terhadap anak laki-laki dan perempuan di dalam keluarganya.

Hiroko mengalami pengalaman hidup yang membuat pemikirannya berkembang. Meskipun pendidikannya rendah tetapi diceritakan bahwa Hiroko mampu mendapat pekerjaan yang lebih dari sekedar pembantu, yaitu menjadi pelayan toko pada pagi hari serta pada malam hari sebagai penari kabaret. Hal itu menjadikannya seorang pemilik toko tersebut dan juga sebagai pemilik bar tempatnya bekerja sebagai penari kabaret. Dia pun menjadi seorang perempuan yang sangat pemilih dalam menentukan lawan jenis untuk berhubungan intim. Kini kehidupannya sudah meningkat, dari seorang gadis desa yang tidak mempunyai apa-apa menjadi seorang wanita kaya yang meskipun juga seorang simpanan suami temannya sendiri.

Dari perubahan-perubahan tersebut, penulis dapat menemukan proses intensifying, decomposing, dan decontruction di dalam kehidupan Hiroko. Untuk proses recomposing dan recontruction, tidak penulis temukan. Kemungkinan atas dasar ketidaktelitian dari penulis atau bahkan karena sedikitnya pengetahuan yang dimiliki oleh penulis atas proses kehidupan manusia dalam perspektif gender.

Kesimpulan yang penulis dapatkan adalah sebenarnya pada akhirnya kaum perempuan sendiri atau kesadaran kaum wanita sendiri, yang amat menentukan kemungkinan peningkatan status mereka, meskipun tentu perlu diperkuat dengan sistem hukum dan keterbukaan struktur sosial untuk perubahan-perubahan yang mendasar.

 


Daftar Pustaka

 

Abdullah, Irwan. 2001. Seks, Gender & Reproduksi Kekuasaan. Yogyakarta: Tarawang Press.

Dini, Nh. 2002. Namaku Hiroko. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Elson, Diane and Ruth Pearson. “The Subordination Women and the Internationalisation of Factory Production” dalam

Okamaru, Masu. Peranan Wanita Jepang. :Surabaya Gajah Mada University Press.

Thowok, Didik Nini. 2005. “Image Orang Jepang di Mata Didik Nini Thowok” dalam buku Image Jepang: Jepang di Mata Orang Indonesia. Jakarta: The Japan Foundation Jakarta.

Utorodewo, Felicia N., dkk. 2006. Bahasa Indonesia Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. Depok.

 

Read Full Post »

oleh Melody Violine dan Fitri M.I.

Sejak dulu, pola pengasuhan anak yang merupakan belahan jiwa dan penerus generasi selalu melibatkan orang ketiga. Karena berbagai alasan, tidak sepenuhnya orang tua dapat merawat dan mengawasi tumbuh kembang buah hatinya. Orang ketiga biasanya dari keluarga dekat (kakak-nenek, paman-bibi, kakak, sepupu) atau dari pihak luar seperti pembantu dalam bermacam bahasa (abdi dalem, mbok emban, dayang, rewang, baby sitter, juga babu) intinya orang lain yang mengambil alih tugas mengasuh anak dalam sebuah keluarga.

Pariyem yang datang dari desa dengan tujuan semula mbeboro dan ngenger ing nDalem Suryamentaraman berhasil naik pangkat dari babu menjadi menantu dengan cara yang kurang etis, karena keberhasilan Pariyem yang selalu sesumbar melaksanakan semua tugas yang diembannya dengan lego lilo, menjadi kabur dan mengundang beragam reaksi, menghilangkan simpati karena jujur Pariyem dengan bangga mengakui telah berhasil memerawani den Bagus Ario yang masih lugu, seperti menggunting dalam lipatan.

Sebagai perempuan yang sudah kenal betul hasrat lelaki, Pariyem yang pembantu sudah seharusnya menjaga amanat majikan, menjaga diri sebagai perempuan dan menghindari segala kemungkinan terjadinya hubungan yang tidak selayaknya itu, tetapi Pariyem justru menikmati dan mengajari den Bagus Ario yang masih suci bermain asmara hingga berbuah Endang Sri Setianingsih. Maka wajar jika pengakuannya menimbulkan berbagai opini.

Seperti membunuh dengan tersenyum, Pariyem bebas melenggang bermain asmara dengan anak bendaranya kapan pun, di mana pun, bahkan kadang Pariyem sendiri yang ketagihan berani menggoda tanpa ketahuan oleh siapa pun. Ke mana pembantu yang lain? Ndalem Suryamentaraman yang sangat luas pasti memiliki banyak pembantu jadi bagaimana mungkin sampai kecolongan? Mungkinkah mereka juga melakukan gerakan OPM seperti Pariyem dan apa untungnya bagi mereka para abdi dalem yang sangat dikenal loyalitasnya? Anehnya, tidak disebutkan ada orang lain yang mengurus rumah selain Pariyem, mungkinkah Pariyem seorang super woman yang mengurus semuanya sendirian? Kesendirian yang melelahkan sekaligus menguntungkan?

Lantas ke mana nDoro nKanjen Rama yang wicaksono yang selalu ngasih wejangan untuk orang lain dan juga memiliki selir di banyak papan? Apakah tugasnya yang harus mondar-mandir Betawi-Jogja membuatnya lupa membekali wejangan pada putra sulungya?.

Kemana nDoro Ayu, ibunda yang anggun dan luhur budinya? Walaupun jaman sudah bergeser, naluri seorang ibu tidak akan tumpul untuk melihat keganjilan dan perubahan pada putranya. Pariyem yang sudah banyak pengalaman boleh bungkam tetapi sorot mata seorang pemuda yang tengah kasmaran bagaimana mungkin bisa lepas dari penglihatan seorang yang ibu yang peduli terhadap anaknya?

Pola pengasuhan seperti apakah yang ada di nDalem Suryomenretaman? Benarkah seorang yang punya kedudukan dan keturunan begitu tinggi membiarkan putranya bermain asmara dengan babu yang janda dan jauh dari syarat 3B (Bobot, Bibit, Bebet)? Jika sekedar bermain asmara mungkin sudah biasa tetapi ini berbuah keturunan , bagaimana nasib anaknya?

Pariyem yang digambarkan Linus memang tampak berlebihan untuk ukuran perempuan desa yang tidak tamat SD, tetapi menyimak cerita masa kecilnya, bapaknya pemain Kethoprak dan simbok yang seorang ledhek kemudian naik pangkat menjadi sindhen wayang kulit dan seringnya Pariyem ikut simboknya nembang dan duduk di belakang dalang membuatnya pintar berceritera lakon-lakon dunia pewayangan dan Kethoprak dan membandingkannya dengan kehidupannya sekarang.

Kedekatannya dengan simbah yang merupakan orang ketiga yang mengasuhnya mempengaruhi sikap dan pandangan Pariyem tentang nilai kehidupan dan hubungannya dengan sesama maupun dengan sang pencipta. Di nDalem Suryamenteramanpun kebiasaan Pariyem menyimak cerita-pasang kuping dari berbagai sumber membuatnya bertambah pintar, suatu kenyataan yang masuk diakal bahwa belajar tidak hanya di  sekolah, belajar juga bisa dari pengalaman dalam perjalanan hidup. Sangat disayangkan Pariyem yang cerdas tumbuh dewasa dalam pola pengasuhan yang kurang mendapat siraman agama yang membuatnya gamang mencari pembenaran.

Pariyem masuk ke nDalem Suryamentaraman untuk ngenger dengan membawa luka setelah Paidi Kliwon yang mengajarinya menikmati hubungan menceraikannya tanpa alasan  kemudian bertemu dengan den Bagus Ario yang sedang beranjak dewasa dan mendapatkan sinyal-sinyal seksual yang ditanggapi Pariyem dengan kebanggaan, keduanya menyatu dalam ikatan asmara tanpa ada yang menyoal tentang status mereka. tanpa ada kegemparan seperti dalam sinetron kita, semuanya berakhir seperti air yang mengalir, tenang seperti sungai….

Benarkah demikian? Benarkah pariyem bahagia? Tidak! simaklah pengakuannya, sebuah pengakuan yang hanya berani dia sampaikan kepada Paimin yang mempunyai status sosial sama dan berharap mendapat tanggapan yang menyejukkan hatinya yang tengah gundah, merana,getir dan anyel(kesal) karena den Bagus Ario sudah memiliki kekasih yang sepadan.

Pariyem harus berkaca dan nrima ing pandum bahwa dirinya hanya selir yang patut sebagai biyung emban atau limbuk dan tidak berhak menuntut perlakuan istimewa karena Pariyem harus menjaga nama baik dan tidak ingin mempermalukan keluarga besar majikannya.

Pariyem memang hanya sebuah prosa lirik tetapi dengan latar belakang cerita hubungan loro loroning atunggal yang janggal, hubungan anak majikan dan pembantu. pembaca seperti disodorkan pada pertanyaan benarkah ini hanya cerita fiksi atau cerita asli yang dibumbui oleh penulisnya dengan mengaduk-aduk kepribadiannya sendiri merasuk ke dalam tokoh ciptaannya untuk menyamarkan kenyataan yang mengarah pada seorang tokoh besar?

Pengakuan Pariyem jika hanya sebuah obrolan di warung kopi meskipun itu nyata mungkin tidak akan menuai banyak polemik, seperti ceritera di koran merah yang esok sudah dibuang di tong sampah, tapi pangakuan Pariyem dalam bentuk prosa lirik telah melanglang buana dalam banyak bahasa, sebagai anak yang 100% berdarah jawa meski darah priyayi saya hanya dari simbah yang mantri guru, saya sedikit paham mengapa orang gerah pada Pariyem yang bicaranya terkesan saru, blak-blakan seperti wong jawa wis ora njawani,

Pengakuan Pariyem dianggap saru karena kita-pembaca bukan Paiman, tapi anak  sekolahan, coba tempatkan diri kita sebagai Paiman, dalam kelas sosial mereka obrolan seperti itu sudah biasa, buktinya dari mana Kliwon tahu teknik ngongklok untuk menghindari terjadinya pembuahan kalau tidak berguru pada obrolan saru yang biasa dia dengar dari lingkungannya.

Berbeda dengan den Bagus yang lugu dan merasa tabu membicarakan hal seperti itu dan membuatnya tampak blo’on, kalah dari adiknya nDoro putri Wiwit yang mungkin karena anak perempuan serjana Wiyata jadi lebih tahu tentang alat kontasepsi yang aman, tapi dari mana nDoro Putri belajar? Dari kekasihnya yang dosen, teman atau  Iklan?.

Pariyem memang saru, tapi den Bagus dan nDoro Putri lebih saru, sebagai priyayi dan anak kuliahan gaya bahasanya dalam parikan berani menabrak tatanan pendidikan menjadi plesedan yang tidak sopan, sepertinya itu tidak mungkin dalam kenyataan apalagi terjadi tiga dasa warsa yang silam. Bagaimana tanggapan pembaca khususnya dari manca negara tentang pemuda sekolahan, keturunan ningrat Jawa mungkinkah mereka bertutur kata demikian?

Prosa lirik ini memang saru, dan Ibu yang masih menyensor semua bacaan yang saya bawa, termasuk tugas kuliah, merasa tidak nyaman membacanya, bagaimana mungkin prosa lirik ini harus dibaca oleh anak yang baru lulus SMA? Apalagi menjadi bacaan sastra SMP-SMA sepertinya akan kena sensor Undang-Undang Anti Pornogafi yang sedang dibahas di DPR.

Tapi yang lebih merisaukan hati saya adalah happy ending yang mengalir datar, seperti sebuah mimpi yang dipaksakan. Ulah anak korban salah pengasuhan yang ditutup-tutupi orangtua karena anak polah bapa kepradah, tanpa hukuman, tanpa teguran hanya sekedar tanggung jawab lisan.

Lantas bagaimana nasib Endang nanti yang sekarang dalam pengasuhan keluarga Pariyem di desa, tanpa status yang jelas yang akan berpengaruh pada pola pikir dan pandangannya akan hari depan? Akankah sejarah terus terulang dan hak anak terabaikan?

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 402 pengikut lainnya.