oleh Khairun Nisa
1. Pengantar
Fakta sejarah bisa berbeda tergantung bagaimana sang saksi mata dipengaruhi sesuatu atau ada kepentingan lain di baliknya. Saat ini, sejarah mengenai kekejaman PKI diragukan, ada yang berspekulasi sejarah PKI yang sudah lama beredar karena ingin memperlihat kesuperioritasan Soeharto. Adanya fakta sejarah yang berbeda dari yang beredar selama ini ternyata juga terjadi pada peristiwa perang Paderi. Basyral Hamidy Harahap dalam bukunya Greget Tuanku Rao menyatakan bahwa kaum Paderi membunuh tanpa pandang bulu, memperkosa perempuan-perempuan, bahkan menjual mereka untuk dijadikan budak atau untuk dibarter dengan mesiu (Harahap, 2007:95).
Greget Tuanku Rao lebih menceritakan pasukan Paderi di tanah Batak dan lagi buku ini sangat kontroversial sehingga kebenarannya masih diragukan. Inilah yang membuat saya tidak bisa menjadikan buku ini sebagai data landasan utama dari novel yang saya analisis. Novel Bidadari Paderi karya Saiful A. Imam menceritakan sebuah kisah dengan latar di daerah Kamang, dekat Bukittinggi. Sama halnya dengan buku karya Dobbin, buku beliau lebih menitikberatkan pada kehidupan ekonomi di tanah Minang. Saya lebih memilih buku Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang karya Rusli Amran sebagai landasan utama analisis makalah ini. Meski bukunya terbit 27 tahun yang lalu, saya rasa buku ini lebih netral melihat gerakan paderi dari berbagai sisi dan ditulis bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Novel Bidadari Paderi berlatar belakang sejarah dengan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya merupakan tokoh fiktif. Meskipun demikian, beberapa tokoh sejarah juga disebut tanpa dilibatkan langsung dengan konflik yang terjadi pada tokoh utama. Berikut kutipan dari novel tersebut.
“…. Kita perlu menentukan waktu latihan dan tempatnya. Untuk pelatihnya, Tuanku Imam Bonjol siap mengirim orangnya ke mari. Selain itu, kita sudah menghubungi pula pasukan pasukan Tuanku Nan Renceh di Kamang.”(Imam, 2007:20).
Sastra sejarah menurut Zarah Ibrahim bermula dari kepercayaan mengenai adanya suatu peristiwa tertentu (Ibrahim, 1986: 7). Zarah Ibrahim lebih menitikberatkan pengertiannya untuk sastra sejarah melayu klasik. Sedangkan, jika kita melihat hasil karya sastra sejarah saat ini, kesimpulan sementara, sastra sejarah dibuat berdasarkan dari data sejarah yang sudah ada dan penulis sastra sejarah saat ini umumnya ingin memperlihatkan sebuah latar sejarah untuk memancing pembaca mencari tahu sejarah sebenarnya dari sastra sejarah tersebut.
Jika dalam sastra zaman klasik, karya tersebut dipercaya benar-benar terjadi oleh penulisnya, sekarang ini penulis karya sastra sejarah menyadari bahwa karya mereka memang tidak bisa dijadikan data sejarah karena penulisannya tidak ilmiah dan data yang diambil belum tentu berdasarkan data sejarah yang valid. Untuk itu saya ingin menganalisis sejauh mana pengetahuan penulis mengenai sejarah gerakan paderi berdasarkan data sejarah yang ada. Dengan catatan, saya menyingkirkan isu-isu yang berbau kontroversi dan SARA karena takut ada ketidaknetralan di dalamnya. Makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami novel Bidadari Paderi dengan latar yang didasarkan fakta sejarah.
2. Identitas pengarang[*]
Saiful A. Imam bernama lengkap Saiful Ardi Imam Sinaro, Lc, lahir di Matur, Bukittinggi, 20 November 1978 sebagai anak pertama dari empat bersaudara.
Penulis memperoleh pendidikan pada Sekolah Dasar (SD) Tengah Sawah di Bukittinggi (1985—1991), MTsN di Bukittinggi (1991—1994), dan MAN di Koto Baru Padang Panjang (1994—1997).
Pendidikan tingginya dilalui di program I’dad Lughawi (Bahasa Arab) pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta (1999—2000). Penulis juga pernah kuliah di fakultas Psikologi sebuah PTS di Jakarta selama tiga semester (1998—2000, tidak selesai).
Gelar sarjana diperoleh penulis setelah menyelesaikan program S1 di jurusan Fikih Komparatif, Fakultas Syariah Universitas Imam Muhammad Ibu Su’ud (LIPIA) Jakarta (2000—2004).
Pengalaman organisasi penulis peroleh dari mengikuti Basic Training Pelajar Islam Indonesia (PII) Bukittinggi (1996), Latihan Kepemimpinan Himpunan Mahasiswa (HMI) cabang Jakarta (1997), menjadi pengurus departemen Kajian Strategis KASTRAT Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Jakarta II (1998—2000), Ketua Komisariat KAMMI LIPIA Jakarta periode 2000—2001, dan pengurus Departemen Penelitian dan Pengembangan LITBANG Lembaga Kajian Islam LKI Al Fatih LIPIA Jakarta (2001—2002), dan Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Padang Panjang (2007—2008).
Karya penulis antara lain, cerpen “Kembali ke Nagari” (juara LMCPI Annida 2003), 7 Terapi Islami (Penerbit Al Mawardi Prima Jakarta, 2004, dan The Agent of Change Keberanian Memimpin Perubahan (Pena Pundi Aksara Jakarta, 2005).
Penulis yang menikah dengan Yusnizawati S.Ag. dan dikaruniai seorang puteri, Nafisa Imamia, sekarang bermukim di Padang Panjang, Sumatera Barat.
3. Sinopsis Novel
Tokoh utama dalam novel ini adalah Jauhari. Ia lahir dan tumbuh dalam masyarakat Minangkabau yang kuat memegang adat pada masa berkembangnya gerakan Paderi dalam rentang waktu 1800—1830an. gerakan paderi yang diceritakan dalam novel ini adalah gerakan yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh di daerah Kamang yang berjarak beberapa kilometer dari Bukittinggi. Cerita ini dimulai dari tahun 1821—1837.
Sebagai anak tunggal yatim piatu, Jauhari selalu membantu nenek dan gaeknya (kakek) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Setiap pagi ia mengumpulkan kayu bakar untuk dijual di pasar dan menggarap lahan sawah dengan keahlian pas-pasan, sebab nenek dan gaeknya melarang ia untuk bekerja di sawah sejak kecil. Orangtua Jauhari dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyukai tindakan ayah Jauhari yang selalu membantu gerakan paderi dengan menyumbangkan sebagian hasil perniagaannya. Setelah dewasa Jauhari menyadari bahwa hanya dengan mencari kayu bakar untuk ditukarkan dengan sedikit bahan makanan tidak dapat menjamin masa depannya. Ia bertekad untuk melanjutkan profesi ayahnya yaitu menjadi saudagar di negeri rantau.
Seorang perempuan bernama Nilam jatuh cinta pada Jauhari. Mereka sesama pengajar pengajian di surau desa mereka. Nilam sendiri adalah keponakan dari Imam Mudo, pemuka agama di desa mereka. Jauhari yang menjadi kepercayaan Imam Mudo tidak disukai oleh Johan dan kelompoknya. Mereka mengira bahwa Jauhari hendak mendapatkan Nilam, sang bungo kambang bapaga duri (bunga kembang berpagar duri), dengan berpura-pura mendekati Imam Mudo. Pada suatu malam, Johan dan kawan-kawannya melancarkan serangan pada Jauhar sambil mengenakan penutup kepala hitam agar tidak dikenali. Mereka terlibat perkelahian yang tak imbang. Jauhar dalam posisi terjepit berusaha membela diri, ia melawan gerombolan penjahat itu, hingga akhirnya salah seorang diantara mereka mengeluarkan pisau untuk membunuh Jauhar. Akan tetapi, yang terjadi sebaliknya, salah satu anak buah Johan terkena tusukan. Kejadian ini membuat Jauhari difitnah dan membuatnya terbuang dari desanya itu.
Lamaran Imam Mudo kepada Jauhari untuk keponakannya itu ditangguhkan karena kasus tersebut. Ternyata di perantauan Jauhari kembali difitnah. Hal ini membuat Imam Mudo menarik lamarannya kepada Jauhari dan Jauhari sempat akan dieksekusi mati. Beruntung fitnah tersebut dapat dibersihkan saat detik-detik terakhir. Tidak lama Jauhari menikah dengan Rafiah, puteri dari Sutan Sinaro, salah seorang pemimpin gerakan Paderi sekaligus penyelamat Jauhari.
Dalam peperangan melawan Belanda, Rafiah beserta ayah dan ibunya meninggal, sedangkan Jauhari hanya terluka parah. Akhirnya, Jauhari menikah dengan Nilam dan mendapatkan dua anak bernama Hasan dan Husein dari pernikahan mereka. Sayang, Hasan meninggal karena akal licik Johan. Nilam yang bernafsu membalas dendam anaknya, meninggal ditembak, begitu pula Jauhari yang ingin menyelamatkan isterinya.
4. Gerakan Paderi dalam Novel Bidadari Paderi Karya Saiful A. Imam dan Fakta Sejarahnya
Dalam pelajaran sekolah, gerakan Paderi atau perang Paderi adalah perang kaum paderi yang ingin memurnikan Islam di tanah Sumatera Barat dengan kaum adat yang tetap ingin berpegang pada adat. Perang paderi yang merupakan perang saudara ini berhasil ditunggangi Belanda dengan bergabungnya sebagian kelompok adat kepada bangsa asing tersebut (Matroji, 2000:58—59).
Pengetahuan sejarah tentang perang Paderi yang paling mendasar ini ternyata cocok dengan latar sejarah keseluruhan isi novel yang dikarang Saiful A. Imam. Kaum Paderi digambarkan sebagai kaum yang memerangi Belanda. Namun, ternyata pengarang tidak terperangkap bahwa Kaum Paderi adalah kaum yang baik dan sempurna. Pengarang juga mengakui bahwa perang saudara ini dimulai karena aliran Wahabi yang diusung kaum Paderi, padahal agama Islam sudah diterima sebelumnya oleh orang-orang Minang, tetapi kebanyakan orang adat menyukai sabung ayam dan arak yang jelas dilarang oleh agama mereka.
Sutan Pamuncak yang tadi bersandar maju lagi. Ia mengangkat tangan dan bersuara, “Angku Imam Mudo. Saya ingin bicara terus terang. Bagi kami lebih baik tidak ikut daripada dilatih oleh orang Paderi itu. Kami semua sudah tahu kalau kaum Paderi yang telah membuat banyak darah tumpah di Luhak Agam ini sejak dua puluh tahun yang lalu. Bagi kami, menerima ajakan orang Paderi sama saja dengan menjilat ludah. Kami, kaum pendekar dan kaum adat dari dulu sudah menyatakan perang terhadap kaum Paderi pengacau itu…” (Imam, 2007:21).
Seperti juga yang diungkapkan oleh Rusli Amran, gerakan paderi ini awalnya memang ingin memurnikan agama Islam dengan turun ke lapangan, sesuai dengan cara modern. Namun, seiring berjalannya waktu gerakan ini berjalan dengan memaksakan kehendak kepada orang-orang yang tidak mematuhi ajaran agama Islam, bahkan ada keharusan seperti berpenampilan kearab-araban, bagi perempuan dan laki-laki. Beberapa pemimpin kaum Paderi juga mulai melakukan tindak sewenang-wenang karena fanatik sempit, bahkan sampai menghilangkan nyawa manusia. (Amran, 1981:388).
Tokoh Jauhari dalam novel ini bertugas merakit senjata untuk berperang melawan Belanda. Senjata bagi kaum Paderi juga didapat dari pemberian dan pembelian dengan pihak luar.
“Alhamdulillah. Akhirnya, Allah memberi jalan keluar atas kesulitan kita membeli senjata. Dengan dana 20 Rupiah ini, setidaknya kita bisa membeli beberapa senjata berikut amunisinya,” Imam Mudo tampak sangat bersyukur atas bantuan yang diterimanya. “Sambil menunggu pasokan senjata dari Bonjol dan Bukittinggi, rasanya ini lumayan.” (Imam, 2007: 147).
Mengenai persenjataan untuk pertempuran melawan pasukan Belanda, kaum paderi memang tidak kalah. Senapan didapat dari buatan atau rakitan sendiri, pembelian dari luar negeri, dan pemberian dari daerah-daerah yang bersimpati dengan perjuangan mereka. Mengenai teknik pertempuran kaum Paderi sebenarnya tidak kalah, hanya saja Belanda lebih lihai melancarkan akal bulusnya dengan mengadu domba orang-orang Sumatera itu sehingga perang saudara masih terus terjadi. (Amran, 1981:391).
Pada tahun 1822, perang dengan pihak Belanda kembali berkobar. Kali ini perlawanan kaum Paderi sampai pada puncaknya. Tokoh Jauhari ikut ambil bagian dalam perang besar ini demi melindungi daerah Kamang. Pada bagian ini ternyata pengarang memasukkan dua tokoh nyata ke dalam karya fiksinya. Mereka adalah Tuanku Nan Renceh dan Kolonel Raff. Latar tempat dan waktu ini memang sangat berkaitan dengan dua orang penting ini karena mereka adalah dua tokoh penting dalam fakta sejarah di Kamang tahun 1822.
“Angku-Angku semua. Perhatikanlah peta ini. Ini adalah wilayah kaki Gunung Merapi,” Tuanku Nan Renceh, Panglima Besar Paderi di Kamang membuka sebuah peta di atas meja. Tujuh orang Wakil Panglima mengitari laki-laki bertubuh kecil dengan sorot yang menyala-nyala itu. (Imam, 2007: 323).
Kolonel Raff duduk di atas kudanya dan memandang ke depan sambil tersenyum penuh kemenangan. Mengintip dari teropong di tangannya, pimpinan pasukan Belanda itu tampak girang. (Imam, 2007: 343).
Daerah Kampang adalah daerah terakhir yang didatangi Raff pada tahun 1822. Daerah inilah yang menjadi sisa pertempuran kaum Paderi karena setelah tahun 1822 kekuatan kaum Paderi menurun (Amran, 1981:411—415). Tuanku Nan Renceh, pemimpin kaum Paderi daerah kampang, yang terluka parah juga tidak lama bisa hidup. Meski begitu perlawanan kaum Paderi masih terus dilakukan, saat melawan Van den Bosch mereka bisa memenangkan pertempuran.
Bagian terakhir novel ini menceritakan sedikit mengenai ditangkapnya Tuanku Imam Bonjol dan berakhirlah perang antara kaum Paderi dengan Belanda.
“Ya. Gara-gara dia berkhianat, Belanda bisa masuk ke Matur dan menyerang Bonjol. Sekarang, Tuanku Imam Bonjol sudah tertangkap. Kabarnya dia dibuang ke Jawa.”
“Berarti, orang Paderi sudah kalah Gaek?” tanya Husain. “Berarti, ayah dan umi meninggal sia-sia?” (Imam, 2007: 390).
Hampir semua latar waktu dan tempat dapat dibuktikan kebenaran sejarahnya. Bukti bahwa pengarang tidak main-main menulis novelnya. Hanya saja ada satu bagian yang kontradiksi dengan dengan ketiga sumber bacaan sejarah yang saya pegang. Dalam novel itu digambarkan ketidaksetujuan Rafiah mengenai ibunya yang memasak singgang ayam untuk keluarga di tempat lain. Hal ini tidak ada dalam sunnah Nabi sehingga Rafiah menganggapnya Bid’ah. Ternyata Sutan Sinaro, tokoh penting kaum Paderi di Kamang, menjawab kalau hal itu bukanlah bid’ah dan merujuknya dengan kesamaan memberi hadiah yang merupakan sunnah Nabi. (Imam, 2007:304—305).
Dari ketiga sumber sejarah yang saya pegang, jelas-jelas dikatakan bahwa kaum Paderi adalah kaum yang menganut paham Wahabi yang ketat menjaga kemurnian Islam dan kadang-kadang cukup kelewatan. Bisa dikatakan mereka seperti pemerintahan Taliban di Afghanistan. Namun, jawaban Sutan Sinaro kepada anaknya itu bertolak belakang dengan fakta sejarah. Ada kemungkinan pengarang ingin mengatakan bahwa adat ada yang bisa terus dipertahankan, tapi masih sejalan dengan agama. Hal ini sah-sah saja jika mengingat bahwa novel ini termasuk sastra sejarah.
5. Kesimpulan
Sastra sejarah sekarang ini ditulis dengan diawali dari data dan fakta sejarah dan pengetahuan penulis dengan fakta sejarah sesungguhnya. Ada juga motif keinginan pengarang agar pembaca tergerak mencari rujukan mengenai fakta sejarah yang disuguhkan dalam karya sastra sejarah.
Novel Bidadari Paderi adalah novel romantisme Islami dengan latar sejarah dan sedikit unsur budaya. Pengarang dengan lihai memaparkan sejarah dan latar Minang sehingga pembaca dapat merasakan juga bagaimana hidup di tanah Minang pada masa gerakan Paderi. Hal ini membuat pembaca tidak jemu saat membaca beberapa paragraf mengenai latar sejarah. Tidak ada kesan bahwa novel ini merupakan dokumentasi sejarah maupun menggurui.
6. Bibliografi
Amran, Rusli. 1981. Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
Dobbin, Christine. 2008. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri. Depok: Komunitas Bambu.
Harahap, Basyral Hamidy. 2007. Greget Tuanku Rao. Depok: Komunitas Bambu.
Ibrahim, Zahrah. 1986. Sastra Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajar Malaysia.
Iman, Saiful Ardi. 2007. Bidadari Paderi. Jakarta: Republika.
Matroji. 2000. IPS Sejarah Untuk SLTP Kelas 2. Jakarta: Erlangga.
[*] Diambil dari bagian “Tentang Penulis” novel Bidadari Paderi hlm. 391—392





