Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Sastra Wayang’ Kategori


oleh Putri Susanti

 

I.          Pengantar

Mahabharata merupakan salah satu epos dari India. kitab ini ditulis oleh Vyasa dalam bentuk sloka. Karya ini cukup terkenal sehingga menyebabkan banyak penulis membuat versi lainnya. Tema sentral dalam Mahabharata adalah cerita perang besar antara keturunan Bharata, yaitu Pandawa dan Kurawa. Puncak ketegangan dalam perang besar tesebut terjadi di Kuruksetra. Perang ini memakan banyak korban sehingga seperti banjir darah.

Mahabharata tidak hanya bercerita tentang perang saudara, tetapi juga mengajarkan darma atau ajaran tentang kehidupan, seperti agama, etika, politik dan  pemerintahan, dan filsafat. Dalam bidang agama, para tokoh dalam Mahabharata menjunjung tinggi dewa-dewi. Dalam bidang etika, hal ini dapat dilihat dari sikap Pandawa yang selalu hormat kepada ibunya dan kesetiaan Drupadi kepada Pandawa. Contoh dalam politik dan pemerintahan dapat dilihat dari pengangkatan Pandu sebagai raja walaupun dia anak kedua. Ini disebabkan oleh kecacatan Dastarastra. Dalam filsafat, nasihat-nasihat Kresna sangat membantu para Pandawa yang kadang mempertanyakan banyak hal.[1]

Terdapat tiga acuan untuk melihat konstruksi cerita dalam Mahabharata dan Ramayana di Indonesia. Mahabharata yang semula merupakan puisi dalam bahasa Sanskrit, telah mengalami penggubahan dan saduran ke bentuk Kakawin dan lakon-lakon dalam wayang kulit. Tiga acuan tersebut adalah sebagai berikut.

 

  1. Pokok atau Pakem; alur kisah yang mengikuti pola 18 parwa dan tidak mengalami penambahan tokoh dan alur cerita. Secara utuh, kisah Mahabharata masih dalam jangkauan mendekati cerita aslinya. Misalnya, tentang asal usul Pandawa.
  2. Carangan; gubahan baru yang diciptakan pujangga Jawa pada masa Mataram II, Pakubuwono II, dll. Kisah carangan telah menjadi cerita yang utuh dan sering dipentaskan. Cerita carangan tidak akan pernah dapat ditemukan  dalam pokok Mahabharata. Misalnya, munculnya Panakawan, yaitu Lurah Semar dan anak-anaknya.
  3. Sempalan; gubahan yang lebih baru dari carangan. Tingkat penyimpangannya lebih tinggi daripada carangan. Misalnya, cerita yang mengisahkan Abimanyu sebagai keturunan Bima.[2]

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, penulis akan membahas novel yang berjudul Rikmadenda Mencari Tuhan yang ditulis oleh Ajip Rosidi. Novel ini berasal dari pertunjukan wayang yang dibawakan oleh Dalang Abyor. Novel ini merupakan sebuah lakon wayang carangan (Rosidi, 1991: xvii-xix).

 

 

II.        Ringkasan Cerita

Novel ini terbagi dalam tujuh babak, yaitu

  1. Kahiangan

Pada babak ini diceritakan bahwa Kahiangan menjadi gempar dengan kehadiran seorang manusia di Kahiangan. Manusia itu adalah putra mahkota kerajaan Girimustaka. Ia disuruh ayahandanya menyampaikan sembah ke hadapan Batara Guru sekaligus mencari Ilmu Ketuhanan untuk bekalnya memimpin negara menggantikan ayahnya yang telah tua.

  1. Karang Tumaritis

Pada babak ini diceritakan pertempuran yang terjadi di Karang Tumaritis antara Panakawan dengan raksasa suruhan Raja Astinapura yang baru. Raksasa itu disuruh rajanya membunuh Semar dan anak-cucunya. Akan tetapi, usaha raksasa mencoba membunuh Panakawan digagalkan oleh Gatotgaca yang sebenarnya berniat menemui Rama Pandawa di Amartapura. Gatotgaca hendak bertemu ramanya untuk memberi tahu perihal berita yang ia dengar mengenai pergantian penguasa Astinapura.

  1. Amartapura

Babak ini memuat cerita perseteruan antara Sang Baginda Sri Maha Prabu Catut Bawana Kemput, Raja Astipura yang baru, atau lebih dikenal sebagai Belawan Dorna dengan Prabu Dwarawati atau Batara Kresna. Perseteruan itu terjadi karena ketidaksukaan Batara Kresna dengan tingkah laku Prabu Catut Bawana Kemput yang serakah dan kejam. Selain itu, Kresna juga tidak menerima sikap pasrah Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa yang menyerahkan kerajaan yang mereka pimpin kepada Belawan Dorna tanpa meminta pertimbangan rakyat mereka terlebih dahulu. Kemudian, terjadi pula perang antara wadiabala Astina dan wadiabala Amarta yang tidak terima dengan sikap Raja Astina yang ingin menguasai Amartapura.

  1. Pitungwiung

Babak ini memuat cerita mengenai Batara Kresna yang datang ke Kahiangan Pitungwiung untuk meminta petunjuk kepada Sanghiang Wenang. Setelah mendapat pencerahan, Batara Kresna diminta Sanghiang Wenang menjawab pertanyaan yang diajukan Rikmadenda tentang Tuhan. Ternyata, jawaban yang diberikan Batara Kresna dapat memuaskan Rikmadenda. Kehausan Rikmadenda pada ilmu ketuhanan dapat dipuaskan oleh Batara Kresna.

  1. Girimustaka

Babak ini menceritakan kegelisahan Prabu Mustakaluhur menanti putra mahkota satu-satunya kembali dari kahiangan. Prabu Mustakaluhur menitahkan putranya ke Kahiangan mencari tahu tentang Tuhan. Karena putranya tak kunjung kembali, Prabu Mustakaluhur memutuskan untuk menyusul putranya tersebut  ke Kahiangan. Sesaat sebelum Prabu Mustakaluhur berangkat, Rikmadenda, Putra Mahkota Girimustaka datang.

Setibanya Rikmadenda di negara Girimustaka, Prabu Mustakaluhur langsung menanyakan jawaban Batara Guru tentang ilmu Tuhan kepada Rikmadenda. lalu, diceritakan oleh Rikmadenda perihal proses pencarian jawaban itu. Rikmadenda baru terpuaskan rasa penasarannya setelah mendengar jawaban Batara Kresna. Rikmadenda memberitahukan jawaban yang ia dapatkan dari Batara Kresna itu kepada ayahnya. Akan tetapi, jawaban Batara Kresna yang disampaikan Rikmadenda tidak memuaskan Prabu Mustakaluhur. Kemudian, berangkatlah Prabu Mustakaluhur dan Rikmadenda menemui Batara Kresna di Amartapura.

 

  1. Pertapaan Rasamulya

Babak ini memuat cerita mengenai Dipati Arjuna yang sedang berguru di Pertapaan Rasamulya. Dikisahkan bahwa Dipati Arjuna telah beristri dengan putri Pendita Begawan Rajsati yang bernama Endang Rasaninggrum. Suatu saat Dipati Arjuna yang dilanda kegelisahan didatangi oleh kedua istrinya yang tinggal di Madukara. Wara Subadra dan Wara Srikandi datang untuk mewartakan kehancuran yang dialami negara Amarta dan Madukara. Kehancuran itu disebabkan oleh penyerangan wadiabala Astina. Berkat muslihat dari Batara Kresna, berangkatlah Dipati Arjuna ke Amartapura dengan niat membalaskan sakit hatinya kepada Begawan Guru.

  1. Amartapura

Babak ini memuat cerita pertemuran yang terjadi di Amarta. Wadiabala Amarta yang mulai kewalahan mendapat bantuan dari Prabu Mustakaluhur, Rikmadenda, dan Dipati Arjuna. Wadiabala Astina dapat dimusnakah oleh Arjuna. Prabu Catut Bawana Kemput berhasil dikalahkan oleh Prabu Mustakaluhur yang tidak kalah sakti dengan Prabu Catut Bawana Kemput. Lalu, keluarlah iblis yang selama ini mendiami tubuh dan membisiki hati Prabu Catut Bawana Kemput. Iblis itu pun pergi karena telah terusir dari tubuh Prabu Catut Bawana Kemput. Setelah pertempuran itu berakhir, Batara Kresna mewaluyokan sehingga negara Amartapura kembali seperti semula.

 

 

III.       Pencarian Manusia atas Tuhan

Rikmadenda adalah manusia yang sangat tinggi rasa keingintahuannya. Ia berusaha mencari tahu tentang Tuhan dengan bertanya kepada ulama, pendita, dan ahli agama lainnya di seluruh negeri. Ia juga mendalami semua agama untuk mengetahui hakikat Tuhan sebenarnya. Tak hanya itu, Rikmadenda juga mencari tahu dengan bertanya langsung kepada Dewata.

Usaha pencarian atas Tuhan yang dilakukan Rikmadenda bahkan menuntunnya menemui Batara Guru, raja para dewa. Setelah melewati rintangan yang berat, Rikmadenda berhasil menemui Batara Guru di Kahiangan. Rasa ingin tahu yang sudah tak terbendung lagi segera ditumpahkan Rikmadenda kepada Batara Guru. Jawaban yang diberikan oleh Batara Guru dapat dilihat pada kutipan berikut.

 

“Tuhan itu tak berwarna tak berbentuk, karena itu tidak dapat dilihat dan tidak pula dapat diperumpamakan.” (Rosidi, 1991: 30)

“Tuhan itu bukan lelaki bukan wanita.” (Rosidi, 1991: 31)

 

Akan tetapi, jawaban yang telah diberikan Batara Guru tidak memuaskan Rikmadenda. Lalu, Rikmadenda pergi ke Kahiangan Pitungwiung menemui Sanghiang Tunggal, ayah dari Batara Guru. Jawaban yang diberikan oleh Sanghiang Tunggal dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

 

“Kalau engkau menanyakan sesuatu, sebelumnya engkau sudah harus mengetahuinya. Kalau engkau mencari sesuatu, sebelumnya engkau sudah harus tahu apa yang kau cari. Kalau engkau menghendaki sesuatu, sebelumnya engkau harus sudah mempunyainya. Kalau tidak engkau akan kecele.” (Rosidi, 1991: 124)

 

 

Maksud dari jawaban Sanghiang Tunggal adalah meminta Rikmadenda memahami dulu tentang Tuhan sebelum bertanya kepada orang lain agar ia tidak dibodoh-bodohi orang lain. Jawaban Sanghiang Tunggal tersebut masih tidak dapat memuaskan batin Rikmadenda. pergilah ia ke kediaman Sanghiang Wenang, ayah dari Sanghiang Tunggal dan kakek dari Batara Guru. Di sana, ia bertemu justru diberi tahu mengenai Tuhan oleh Batara Kresna yang sebelumnya meminta wejangan dari Sanghiang Wenang. Berikut ini jawaban Batara Kresna terhadap pertanyaan Rikmadenda tentang Tuhan.

 

“Tuhan adalah Yang Maha Pemurah. DiberiNya makhlukNya berbagai kemudahan tanpa meminta bayaran….” (Rosidi, 1991: 145)

“Tuhan Maha Pengasih karena untuk kepentingan makhluk yang diciptakanNya segala yang dibutuhkan….” (Rosidi, 1991: 150)

 

Jawaban dari Batara Kresna tersebutlah yang mampu memuaskan hari Rikmadenda. Begitu pula halnya dengan ayahanda Rikmadenda, Prabu Mustakaluhur.

 

IV.       Kesimpulan

Novel yang berjudul Rikmadenda Mencari Tuhan ini ditulis oleh Ajip Rosidi. Novel ini berasal dari pertunjukan wayang yang dibawakan oleh Dalang Abyor. Novel ini merupakan sebuah lakon wayang carangan.

Novel ini mengajarkan nilai ketuhanan sehingga Rikmadenda yang sangat haus dengan ilmu tersebut dapat terpuaskan dengan penjelasan yang bijaksana. Tuhan bukanlah makhluk yang dapat dilihat dengan mata. Tuhan adalah pencipta segala alam raya ini dengan segala kebesaranNya. Hanya Tuhan yang memiliki nilai kebesaran itu.

 

Daftar Pustaka

Darmoko. 2006. Kresna dan Baratayuda pun Terjadi. Jakarta: Akademia.

Rosidi, Ajip. 1991. Rikmadenda Mencari Tuhan Sebuah Lakon Wayang

Carangan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tim Senawangi. 1999. Ensiklopedi Wayang jilid 3 dan 4. Jakarta: Senawangi.

 


[1] Diambil dari bahan ajar matakuliah Sastra Wayang tahun 2008.

[2] Sumber: Kresna dan Baratayudha pun Terjadi karya Darmoko dan Ensiklopedi Wayang jilid 3 dan 4 oleh Tim Senawangi.

Read Full Post »

Boma: Pencarian Jati Diri dan

Representasi Ambiguitas Hakikat Kebenaran[1]

oleh Ratih Dewi

1. Pendahuluan

Seni merupakan unsur kebudayaan yang merefleksikan tradisi serta ekspresi masyarakatnya. Tak heran, wujud seni sebagai kebudayaan telah ada sejak manusia lahir dan bermasyarakat. Seni tradisional yang telah mengakar dalam kebudayaan Indonesia, khususnya masyarakat Jawa adalah wayang. Wayang sebagai seni pertunjukan diartikan sebagai pertunjukan bayang-bayang[2]. Pertunjukan wayang berdasar atas cerita Ramayana dan Mahabharata, yang merupakan karya sastra (epos) terkenal dari India. Seiring dengan proses akulturasi, kedua cerita ini berkembang luas di Indonesia. Kisah pewayangan disukai masyarakat karena selain bertujuan untuk menghibur pembacanya, kisah ini juga berfungsi sebagai media pendidikan. Kisah pewayangan dapat memberikan ajaran moral dan hakikat keberadaan manusia di dunia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Oleh karena itu, kisah pewayangan banyak mengilhami para penulis, baik menjadi tema utama maupun hanya sebagai latar belakang dalam karya mereka.

Salah satu penulis yang terinspirasi dari kisah pewayangan adalah Yanusa Nugroho. Dengan tulisan-tulisannya, penulis yang lahir di Surabaya, 2 Januari 1960 ini telah mengisi halaman-halaman media massa sebagai penulis lepas. Beberapa buku kumpulan cerpennya telah diterbitkan, antara lain Bulan Bugil Bulat, Cerita di Daun Tol, dan Kuda Kayu Bersayap. Kecintaan Nugroho pada dunia wayang menghasilkan novel Di Batas Angin, Manyura, dan Boma. Berdasarkan kecintaannya itu pula, bersama Ki Manteb Sudharsono, Nugroho juga membuat konsep pertunjukan wayang kulit televisi Kalasinema. Dalam makalah kali ini, penulis akan membahas novel Nugroho yang berjudul Boma.

Boma mengisahkan seorang anak bernama Boma yang tidak diketahui asal-usulnya. Boma ditemukan oleh keluarga pejabat. Sejak bayi, Boma diangkat anak oleh seorang pejabat yang bernama Suwondo—beristrikan Winda. Suatu ketika, Boma yang sudah beranjak dewasa bertengkar dengan kawannya. Penyebab pertengkaran itu karena Boma diolok-olok oleh temannya tu bahwa ia hanyalah anak angkat. Tidak terima, Boma pun berkelahi dengan temannya yang menyebabkan temannya itu tewas. Walaupun telah menewaskan orang, Boma selamat dari ancaman hukuman penjara karena dirinya anak pejabat. Setelah itu, Boma menceritakan penyebab dirinya berkelahi dengan temannya kepada ibunya. Akhirnya, ibunya bercerita bahwa Boma memang anak angkat yang ia temukan di dekat rumah.

Merasa tak dapat menerima berita menyedihkan itu, Boma meninggalkan rumah Suwondo. Boma kemudian bekerja menjadi tangan kanan seorang pejabat yang bernama Hastomo. Kekuatan Boma membuatnya menjadi alat pembunuh bagi kepentingan Hastomo. Sementara itu, Hastomo mempunyai anak angkat yang bernama Mega. Keelokan paras dan sikap Mega membuat Boma jatuh hati kepadanya. Mereka pun akhirnya menjalin kasih. Akan tetapi, diam-diam Mega mempunyai hubungan khusus dengan Sam, anak seorang yang sangat berkuasa, Kris (bos Hastomo).

Selama menjadi tangan kanan Hastomo, Boma telah banyak membuat orang terluka bahkan tak jarang hingga membuat orang-orang yang dihajarnya tewas. Suatu kali, Hastomo memanfaatkan Boma untuk membunuh Sirajudin Umbu (Sira) karena orang itu dianggap menghalangi kepentingan Hastomo. Tidak disangka, pertemuan Boma dengan Sira justru membawa jalan lain bagi Boma. Dalam pertemuan itu, Boma tidak dapat mengalahkan Sira yang ternyata juga memiliki kekuatan supranatural seperti Boma. Sira menasihati Boma agar tidak lagi menjadi alat pembunuh bagi Hastomo. Sira juga mengingatkan Boma dengan konflik batin yang selama ini dialami Boma, yaitu pencarian jati diri. Dengan sabar dan persuasif, Sira pun menaklukkan hati Boma. Boma pun kemudian berpihak kepada Sira dan memfokuskan diri untuk mencari asal-usulnya.

Pertentangan antara kedua pihak, Hastomo dan Sira membuat Kris  turun tangan. Terlebih lagi setelah Hastomo tewas oleh Boma, Kris berang dan memanfaatkan Mega untuk mencari Boma. Mega bingung, di satu sisi ia diberitahu Sam bahwa Boma, laki-laki yang dicintainya itu adalah anak Kris (saudara tiri Sam), di sisi lain Boma telah membunuh ayah angkatnya, Hastomo. Dalam pencariannya itu, Mega bertemu dengan Kapi, seorang manusia setengah kera berbulu hitam yang mempunyai kekuatan luar biasa seperti Boma. Kapi yang mempunyai kekuatan supranatural datang ke kota untuk mencari saudaranya, yang tak lain adalah Boma.

Boma yang kini berpihak pada Sira, bertemu dengan Buang dan Wage. Mereka lalu berniat melawan Kris, yang selama ini telah berlaku sewenang-wenang dan membunuh orang seenaknya demi kepentingannya. Mega dan Kapi kemudian bergabung setelah dijelaskan Sira bahwa pihak yang jahat sebenarnya adalah Kris. Mereka menyusun kekuatan untuk melawan Kris. Di saat-saat kritis, Kris memberitahu Boma bahwa ia adalah ayah kandung Boma. Boma pun bingung dan terbujuk oleh kata-kata Kris yang mengatakan bahwa ayah dan ibu angkatnya telah dibunuh orang-orang tak bertanggung jawab. Boma mengamuk, menjadi mesin penghancur dan membunuh orang-orang. Namun, Kapi berhasil menyadarkannya ketika bertarung dengan Boma. Akhirnya, bersama Kapi, Boma berbalik menyerang Kris, ayah mereka sendiri. Kedua orang itu lalu mengorbankan nyawa mereka untuk mengurung Kris ke dalam dimensi lain. Cerita pun tamat dengan informasi bahwa Mega mengandung anak Boma.

2. Perbandingan Kisah Boma versi Wayang dan Versi Nugroho

Cerita Boma sesungguhnya diangkat dari salah satu kisah pewayangan tentang Prabu Bomanarakasura. Ada dua versi asal-usul Boma. Pertama, dalam Ensiklopedi Wayang Indonesia, dikisahkan, Boma yang awalnya bernama Sitija itu lahir karena cinta yang salah antara Batara Wisnu dan Dewi Pertiwi[3]. Ketika Wisnu bertanding dengan seorang gandarwa, Prabu Kebondanu, Wisnu rindu pada istrinya, Dewi Pertiwi. Karena rasa rindu itu, jatuhlah benihnya dan berbaur dengan keringat Kebondanu. Setelah Kebondanu tewas, raksasa itu bersumpah akan menyatu dengan benih itu. Kemudian lahirlah Boma, putra dari Batara Wisni dan Dewi Pertiwi dengan campur tangan Kebondanu. Cerita selanjutnya tentang Boma hampir sama dengan Hikayat Sang Boma.

Versi kedua, dalam Hikayat Sang Boma, diceritakan bahwa Boma merupakan anak yang dibuang (hasil hubungan Wisnu dan Dewi Pertiwi), tetapi diangkat anak oleh Batara Brahma. Karena malu mempunyai anak yang jahat rupanya, Dewi Pertiwi membuang anak itu. Namun, Boma yang diangkat anak oleh Brahma mempunyai kesaktian luar biasa. Namanya di masa muda adalah Sitija, tetapi karena ia membunuh Prabu Bomantara dan Prabu Narakasura, maka ia sering disebut Bomanakarakasura.

Sementara itu, Wisnu menitis menjadi  Prabu Krisna yang salah satu istrinya bernama Dewi Jambuwati. Dewi Jambuwati kemudian melahirkan putra bernama Samba, titisan dari Darma Dewa (dalam Ensiklopedi Wayang Nusantara disebut Batara Drema). Konflik dimulai ketika Boma secara paksa meminang Januwati[4], putri Prabu Narakasura. Ternyata, Januwati adalah titisan dari Darma Dewi (dalam Ensiklopedi Wayang Nusantara disebut Batari Dremi) yang berjodoh dengan Darma Dewa ketika di kayangan. Percintaan segitiga antara Boma, Januwati, dan Samba menyebabkan perkelahian besar sehingga dewa-dewa di kayangan pun turun tangan. Namun, karena Boma bersikap kasar dan berbuat onar di kayangan dengan menculik bidadari demi permintaan Januwati, Prabu Krisna (Wisnu) lebih memihak Samba, yang memang ditakdirkan berjodoh dengan Januwati.

Sebelumnya, kisah ini pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka berjudul Sang Boma, tahun 1959. Sang Boma bersumber dari naskah lama, Hikayat Sang Boma yang terfokus pada tokoh Samba dan Januwati, sedangkan tokoh Boma sebagai tokoh sampingan saja. Sementara itu, menurut Teeuw dalam disertasinya, Het Bhomakawya, naskah Hikayat Sang Boma kalau tidak seluruhnya, paling sedikit sebagian besar berasal dari Bhomakawya[5]. Sebagaimana dikutip dalam buku Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, Teeuw berpendapat bahwa dalam Hikayat Sang Boma kesatuan plot telah terpelihara, artinya seluruh hikayat itu adalah cerita Samba[6]. Sebaliknya, dalam Bhomakawya ada dua bagian cerita, yang pertama adalah cerita Samba dan Januwati dan kedua adalah cerita Boma dibunuh Krisna, ayahnya sendiri. Namun, dalam Hikayat Sang Boma, tokoh Boma tewas oleh Hanuman. Kematian boma pun masih diperdebatkan. Ada tiga versi mengenai kematian Boma ini[7]. Pertama, Boma yang marah melihat istrinya berselingkuh dengan Samba, tewas terkena senjata Cakra Gatotkaca dan diceburkan ke dalam kawah Candra Dimuka. Kedua, Boma yang sangat sakti terkena senjata Krisna dan tercebur ke laut. Terakhir, Boma tewas dibunuh Krisna ketika bertarung dengan ayahnya sendiri itu.

Setelah membaca ringkasan Boma versi Nugroho, kita dapat menyimpulkan bahwa Nugroho terinspirasi oleh kisah Boma dalam Bhomakawya. Nugroho kemudian mengembangkan bagian tersebut menjadi tema baru, yaitu tentang pencarian jati diri dan ambiguitas hakikat kebenaran. Selain perbedaan tema dan plot, latar modern juga membuat Boma semakin menarik. Membaca Boma, kita akan dihadapkan pada gaya penulisan populer dari visualisasi wayang yang futuristik. Pertarungan antara Boma dkk dan Kris tidak digambarkan dengan senjata, melainkan dengan kekuatan magis dan supranatural, persis ketika menonton pertunjukan wayang sehingga penonton pun seakan masuk ke dalam dunia lain yang penuh

Di samping itu, dengan cerdik Nugroho juga meluaskan interpretasi pembaca. Jika dalam Hikayat Sang Boma tokoh Boma digambarkan sebagai tokoh yang sombong, pembuat keonaran, dan mementingkan dirinya sendiri, dalam Boma Nugroho lebih menyorot aspek kemanusiaan tokoh tersebut dengan menceritakan kegelisahan Boma yang tidak tahu asal-usulnya serta kurang dapat mengendalikan emosi dan kekuatannya. Tak hanya tokoh Boma, tokoh Kris (perwujudan Prabu Krisna yang dianggap bijaksana) pun digambarkan “sisi gelapnya”, yaitu hanya mementingkan kepentingannya sendiri.

3. Tokoh Boma: Pencarian Jati Diri dan Representasi Ambiguitas Hakikat Kebenaran

Boma mengisahkan pencarian jati diri manusia dan menampilkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Kisah pencarian jati diri Boma serta pertarungan antara kebaikan dan kejahatan diceritakan Nugroho dengan penuh aksi, imajinasi, dan kreatifitas. Pertarungan tersebut tidak digambarkan kontras hitam putih, melainkan ada wilayah abu-abu yang merepresentasikan keragu-raguan dan ambiguitas antara pihak yang baik dan jahat, antara pihak yang benar dan salah. Tokoh Boma mewakili representasi itu, yaitu ketika ia mencari kebenaran tentang jati dirinya—apakah ia berpihak pada dirinya sendiri atau berpihak pada orang-orang yang telah dikenalnya. Ternyata, pikiran Boma yang sebelumnya banyak diracuni Hastomo dan Kris, lebih memilih ajakan Sira—bahwa ada hal yang lebih penting selain usaha untuk mencari jati diri, yaitu membela kebenaran dan menjaga ketentraman masyarakat. Mari kita lihat perkataan Sira yang menyadarkan Boma dalam kutipan di bawah ini.

“Kamu hidup mengabdikan diri pada sistem yang dibuat manusia. Sistem yang dibuat untuk memenangkan dirinya sendiri dan menghancurkan orang lain. Gitu kok kamu ikuti. Kamu akan hancur sebagaimana komponen lain pada sebuah mesin. Ngerti Ndak?”[...]

“Nak, apa hakmu membunuh manusia? Apa kau pernah menciptakan manusia sehingga berhak melenyapkannya? Kenapa kamu hanya membiarkan sang amarah membakar jiwamu? [...] Jangan menghina sang pencipta dengan membutakan diri seperti itu. Kita semua sudah dibekali kelengkapan untuk mencari jalan ‘kembali’ kepada-Nya. Kurang ajar temen, kamu berani menjadi penentu segalanya.” (Boma: 71-72)

Boma adalah tokoh bulat, yang dapat diketahui perubahan sifatnya. Awalnya, ia bersikap dingin dan tidak peduli dengan orang lain. Namun, lambat laun ia melunak dan hangat. Perubahan ini merefleksikan gejolak anak muda yang mencari idealisme. Di saat semuanya telah terpenuhi (Boma dan Mega sama-sama anak angkat pejabat yang berkuasa), Boma masih belum puas dan mencari sesuatu yang hilang dari diri mereka, yaitu kebebasan untuk berpikir dan menentukan nasib diri sendiri.

Boma menjadi tangan kanan Hastomo dan selalu melakukan perintah apa saja dari bosnya itu tanpa memikirkan perbuatan itu benar atau salah. Hastomo yang bertindak sewenang-wenang menyuruh Boma untuk menyuap, mengintimidasi, mengancam, hingga membunuh orang-orang yang menghalangi jalannya. Meskipun Boma patuh dan setia kepada Hastomo, ia tidak merasakan kepuasan batin. Boma mengancam dan membunuh orang justru karena ia ingin meredakan kemarahannya; menghilangkan kegundahan hatinya yang terluka dan kecewa pada orangtua kandungnya. Boma menganggap nyawa tidak ada harganya karena beranggapan sejak bayi pun ia telah dibuang orangtua kandungnya.

Akibat anggapannya itu, Boma selalu merasa sendiri. Namun, sejak ia bertemu dengan Mega, Sira, Buang, Wage, dan Kapi yang ternyata juga tak jelas asal-usulnya (mereka tak mengetahui siapa orangtua kandung mereka), Boma merasa berarti—ternyata ada orang-orang yang senasib dengannya. Di sinilah makna pencarian jati diri begitu penting karena merupakan dasar dari terbentuknya pemikiran seorang manusia. Karena rasa senasib itu, bahwa banyak orang yang bisa menerima identitas mereka meskipun dengan kepahitan, Boma lalu jatuh cinta pada Mega, menghormati Buang dan Wage, serta menerima Kapi sebagai saudaranya (satu ayah, Kris). Dari merekalah Boma belajar memaknai kehidupan. Ia sadar dan tidak mau hanya dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan Kris, yang padahal adalah ayahnya sendiri. Sebaliknya, sejak awal Kris memang telah menganggap Boma sebagai alat dengan memanfaatkan kekuatan Boma yang luar biasa itu untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Hingga penghabisan cerita pun Kris tidak mengakui kesalahannya dan memilih bertarung dengan anaknya sendiri. Ia bahkan mengatakan Boma sebagai anak yang tak tahu diuntung. Kris merupakan representasi dari orangtua yang menyayangi anak semata-mata untuk keuntungan saja. Mari kita lihat kutipan di bawah ini.

“Anak-anak tak tahu diuntung…,” teriakan Kris mengaum.

“Cari anakmu yang bisa memberimu keuntungan,” sergah Boma sambil melancarkan tangannya. (Boma: 230).

Tokoh Kris merupakan tokoh yang salah memahami hakikat kebenaran. Ia berpikir bahwa ia dapat menghabisi nyawa orang lain seenaknya demi memperbaiki dunia. Kris berpendapat bahwa satu-satunya cara untuk memperbaiki dunia adalah dengan membersihkannya dari “orang-orang kotor”. Tanpa mengenal belas kasihan, Kris membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi jalannya. Akan tetapi, semua itu tak dilakukannya sendiri, melainkan dengan menyuruh kaki-tangannya seperti Hastomo. Bahkan, demi melanggengkan kekuasaannya, ia memanfaatkan anaknya sendiri, Boma, untuk menjadi mesin penghancur. Kris membujuk Boma agar sepaham dengannya. Kutipan di bawah ini menarik untuk disimak.

“Apakah ini perkara kaya-miskin? Yang kaya kaya bisa membeli surga dan karenanya menjadi pendosa seenaknya untuk kemudian di hari tuanya dia berderma sebanyak mungkin. Dan, para pemuka agama, entah mengapa, membenarkan pandangan itu… ‘lebih baik jadi mantan penjahat, daripada mantan orang suci…’ Apa itu? Bagaimana mungkin kalimat seperti itu mereka putar balikkan? Mengapa mereka hanya pandai bersilat lidah? Uang. Mereka bicara karena uang. Mereka memahat berhala, lalu membungkusnya dengan baju agama. Uang. Sekali lagi uang. Yang miskin, bangga dengan kemiskinannya dan menjadi penghalal segala cara atas nama kemiskinannya. Kemalasan, kebodohan, kebejatan, disembunyikan dalam wajah memelas dan kelaparan. Mereka membungkus semuanya dengan ‘menjual’ nama Tuhan. Pohon rapuh macam ini, harus ditumbangkan. Dan, aku membutuhkan kekuatanmu, Boma.” (Boma: 200).

Perubahan karakter tokoh ini tampaknya sengaja dilakukan Nugroho sebagai reinterpretasi pemahaman realitas. Berbagai konflik akibat adanya sifat-sifat manusiawi dimunculkan dalam masa kontemporer. Tak hanya pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, Nugroho juga mengusung tema kebimbangan atau keragu-raguan dalam pertarungan itu—sebuah wilayah abu-abu yang menekankan ambiguitas dari hakikat kebenaran. Hakikat kebenaran pun dipertanyakan, yang salah menjadi benar atau yang benar menjadi salah, tergantung dari mana kita memandangnya. Hal ini sejalan dengan kisah pewayangan, yang sesungguhnya lebih rumit dari sekadar tema hitam putih dunia. Nugroho mengembangkan tema hitam putih, antara kebaikan dan kejahatan, menjadi antara mana yang lebih benar dan baik demi kepentingan masyarakat. Tujuan Nugroho adalah untuk membuka kesadaran pembaca bahwa ada yang lebih penting dari idealisme kebaikan dan kejahatan itu, yaitu nilai-nilai moral dan ketuhanan, bahwa manusia tidak berhak menilai atau menghukum orang lain.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari Boma karya Yanusa Nugroho ini adalah kisah ini merupakan hasil dari pemikiran baru, sebuah reinterpretasi atas karakter tokoh-tokoh wayang, serta perluasan tema dan perwatakan. Hal ini dimungkinkan karena wayang mempunyai landasan sifat “homot, hamong, dan hamemangkat[8]” (keterbukaan, penyaringan, dan penghasilan nilai-nilai baru) terhadap unsur-unsur budaya lainnya. Ketiga prinsip ini membuat wayang memiliki daya tahan dan daya kembang terhadap perkembangan zaman. Hal ini pula yang memungkinkan Nugroho atau penulis-penulis lain dapat melakukan reinterpretasi dan transformasi terhadap wayang.

4. Silsilah Singkat Asal-Usul Boma dalam Kisah Pewayangan

Untuk memudahkan pembaca dalam memahami asal-usul tokoh Boma, penulis membuat silsilah singkat di bawah ini.

Batara Wisnu menitis pada Prabu Krisna

dan mempunyai empat orang istri

Dewi Jembawati Dewi Rukmini Setyakoma Dewi Pertiwi

(putri seorang pendeta,

Kapi Jembawan yang

berwujud kera)

Samba    Gunadewa       Dewi             Sarana      Setyaka        Sitija       Siti

(titisan                            Titisari Dewa                             atau         Sundari

Batara                          (istri Arjuna)                                            Boma (istri

Drema)                                                                       Narakasura     Abimanyu)

Januwati atau Dewi Agnyanawati atau Dewi Sugawati

Dwara Watuaji

(pewaris tahta)

5. Penutup

Boma karya Yanusa Nugroho menceritakan kisah seorang manusia yang mencari jati dirinya. Novel ini merepresentasikan ambiguitas hakikat kebenaran. Tokoh Boma yang terinspirasi dari kisah pewayangan merefleksikan pesan bahwa ada hal yang lebih penting dibanding idealisme tentang hitam dan putihnya dunia, yaitu mana yang lebih benar dan baik demi kepentingan masyarakat. Pesan lain yang terungkap dari novel ini adalah bahwa manusia tidak berhak untuk menilai dan menghukum orang lain dengan seenaknya.

Daftar Pustaka

Amir, Hazim. 1991. Nilai-Nilai Etis dalam Wayang. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Balai Pustaka. 1959. Sang Boma, cet. Ke-3. Jakarta: Dinas Penerbitan Balai Pustaka.

Canting. 15 Desember 2005. “Antara Boma dengan Kambing”. Style Sheet. http://a.1asphost.com/satunet/_Indonesia/_Bedah_Jiwa/Bedah_Jiwa.asp?No=%7B36B5E0D8-9FE4-11DA-87BF-BEF29184401D%7D

Liaw Yock Fang. 1991. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik Jilid I . Jakarta: Erlangga.

Mulyono, Sri. 1979. Wayang dan Karakter Manusia. Jakarta: Gunung Agung.

—————. 1989. Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang. Jakarta: CV Haji Masagung.

Nugroho, Yanusa. 2005. Boma. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Tim Penulis. 1999. Ensiklopedi Wayang Indonesia Jilid I. Jakarta: Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia dan PT Sakanindo Printama.


[1] Makalah ini disusun sebagai tugas akhir mata kuliah Sastra Wayang semester gasal  tahun ajaran 2007/2008.

[2] Sri Mulyono, Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (Jakarta: CV Haji Masagung, 1989), hlm.51.

[3] Tim Penulis, Ensiklopedi Wayang Indonesia Jilid I, (Jakarta: Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia dan PT Sakanindo Printama, 1999), hlm. 319-321.

[4] Dalam Ensiklopedi Wayang Nusantara disebut sebagai Dewi Agnyanawati atau Dewi Sugawati, hlm. 67-68.

[5] A. Teeuw, Het Bhomakawya, (Disertasi, tidak diterbitkan, Groningen: 1946) dikutip dalam buku Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik Jilid I karangan Liaw Yock Fang, (Jakarta: Erlangga, 1991), hlm.92.

[6] Ibid.

[7] Op.Cit, Ensiklopedi Wayang Nusantara Jilid I, hlm.321.

[8] Op.Cit, Ensiklopedi Wayang Nusantara Jilid I, hlm.29.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 395 pengikut lainnya.