Teman-teman yang ingin memajang puisinya untuk berbagi dengan yang lain, silakan terbitkan di bagian komentar (puisi terbaru ada di bagian terbawah).
Puisi pertama adalah karya Arnita Setiawati. Selamat menikmati!
Pembalasan Itu Sangat Kejam
Kamu punya kartu, aku mendamba kartu lain
Aku tak punya pelita, kamu menghilang dan menjauh
Aku kembali disinari, kamu juga mempunyai sinar
Sangat lama aku disinari cahaya matahari nan hangat
Kau pun demikian
Kita berbahagia mengarungi keping-keping persahabatan
Lalu sinar yang menghangatkanku hilang dan tiba-tiba gelap
Kau pun sudah jauh di sana, tak terjangkau
Saat kau datang membawa kartu lagi
Saat itu pula sinar yang menghangatkanku kembali benderang
Bodohnya aku lebih memilih sinar palsu daripada sebuah anugrah-Nya
Lalu sinar itu benar-benar menghilang
Namun kau masih nyaman dalam sayap-sayap malaikat
Hingga saat ini, aku mendamba kartumu
Namun kau masih menyimpan kartumu yang dulu dalam gudang yang tak pernah kaubuka
Aku tak sanggup mengacuhkan semuanya
Mungkin rasa ini yang dulu kaurasakan, 4 putaran masa
Sekarang aku merasakannya hingga sulit untuk bernafas…
Arnita Setiawati
Jakarta, 30 Juni 2009
Untuk sahabatku yang baik, yang kuharapkan agar melihatku saat ini sebelum semuanya berubah kembali dan… HILANG LAGI
Puisi berikutnya adalah karya-karya Meidy Ardyan Kautsar Arriv (13 Februari 2009).
Kentang
Sebuah kentang di kulkas
Menunggu tuan mengupas
Ia termenung
Mengkhawatirkan mata pisau
Atau tempat sampah yang terlalu bau
Tapi ia bisa menebak
Ia tak mungkin di kulkas selamanya
Ternyata benarlah terjadi
Berbulan-bulan lamanya
Ia pun bertolak dari kulkas
Dan rasa khawatirnya
Ternyata benarlah terjadi
***
Gelombang
Radio saya sedang kalap menangkap gelombang pelacur
Gemerlap seperti petasan tahun baru
Ada gelombang yang suka mengeluh tentang api dan air
Gelombang yang lain mengeluh soal harga dirinya
Tapi satu gelombang
Belum pernah merasakan buang air besar
Saya putar
Dan putar
Lalu putar lagi sampai tiga ratus enam puluh derajat
Sampai saya menemukan frekuensi yang cocok
Yang mencolok telinga dan mengocok perut saya
O
Di seberang sana
Televisi saya menyala
Ia sedang menangkap gelombang pelacur
Gemerlap seperti pesta persetubuhan kita




pulang adalah suatu hal yang tak bisa saya pikirkan, sekarang
Tidak Semua Orang bisa Pulang Ketempat Semula,hehehe ^_^
mu pulang kemana lok, gk pux rumah..,^_^
Labirin ini kutinggalkan
aku tak berencana untuk menyapa dan mengenal
apalagi untuk mengisi sedikit dari perlintasan waktumu
membayangkan kau ada saja tidak!
Selama ini aku terjebak dalam labirin idealismeku
kesempurnaan yang kuagung-agungkan
kebahagiaan yang terlalu semu tuk sekedar dibayangkan
aku hanya ingin memberikan
terimakasih
untuk segala rasa yang pernah kita alami dan mendewasakan kita
maaf
akan segala hal yang pernah membuat kecewa
dan selamat datang
bagimu
yang mampu mengajakku ke dunia yang sebenarnya
dan mengajakku untuk belajar bersama
…thank you for your love forever…
terima kasih atas partisipasi yosefin
Dalam Labirin hanya ada satu Pintu Keluar
Banyak jalan untuk menuju kesana
dan banyak pula hambatan untuk keluar
Jalan keluar tersebut akan bermuara pada satu muara
Mimpi, Idealis, Cinta, Bahkan Realita Pun akan bermuara kesana
Di pintu Keluar Labirin tersebut akan ada orang yang akan menunggu
Seseorang yang telah menemukan jalan keluarnya dari gelapnya labirin
Maaf, Karena Orang tersebut akan tetap terus berusaha dan bersemangat
Mencari Jalan keluar dari Labirin yang telah ditinggalkan.
hay temen kita boleh kasih komentarkan?
puisi kamu bagus…tapi bahasa yang kamu gunakan kurang tajam, ada baiknya kamu lebih aktif lagi dalam membuat karya=karya inovasi baru…
sukses ya untuk kamu…
salam kenal aja…hee
terima kasih komentarnya ^^
Salam kenal juga, makasih2. Untuk Standar yang bukan berkecimpung didunia sastra spesialnya sastra indonesia lumayanlah. Biar bagaimanapun sarannya sangat konstruktif dan mudah2 an dapat membuat karangan yang lebih dinamis lagi. Amin, ririn juga buat karangan dung. jadi ndak sabar nunggunya.
wat km yg wat puisi ni bgus bgt klu wat aq.
sukses trus wat karya’a snga mkn sukses.
Amin….
terima kasih, nanti mampir lagi ya
Terasa hangat sairnya
kami tunggu juga puisi dari Slami
salam budaya………………………???
salam budaya..
q psan video malam jahanam dong
wah, kami baru tahu kalau malam jahanam ada videonya..nanti kami cari dulu ya,,
tolong dong puisi nya
minta puisi karya sastra dongggg!!!!!!!!!
Tiara bisa mendapatkannya dalam buku2 puisi karya penyair besar yang sudah diterbitkan…
[...] Galeri Puisi [...]
Hujan Ibukota
Hari ini, hujan merata di Jakarta-Bekasi,
wajah-wajah basah bermunculan
Protokol sepi, jalan tol sepi klakson
Dari jendela mobil, hujan memahat kaca
Hujan yang begitu lain kali ini
Dingin bukan beku
Nyeri bukan kenangan
Mata nanar
Aku pergi,
berharap menggenapi hari
diam menantikan malam
BUNDA
Bunda…………………..
Kau adalah darah ku.
Kau adalah jantungku,
Kau adalah nafasku,
Disetiap detik-detik nafas ku,
Hanyalah nama mu,
Bunda,
Kau pelita hidup ku,
Kau yang melahirkan ku,
Kau adalah darah dalam tubuhku,
Tanpa mu tiadalah aku,
Ibu…ibu…ibu……………,
Ibu engkaulah darah ku,
engkaulah penyejuk jiwa ku,
Tanpamu tiadalah aku.
Dear : Uvy,
makasi
mampir lagi ya
Rindu itu
selembar daun tua
yg memutuskan gugur dari ranting yg mencintainya sepanjang waktu
“sudah saatnya kita berpisah
agar kau bisa mencintai kuncup-kuncup muda”
aku tetap hanya manusia biasa,
aku bukan matahari yang mampu menyinari setiap saat…
terkadang aku menginginkan sepercik api yang menjadikan luka ‘dingin’,
agar setitik harap kebangkitan hadir dalam ruang waktuku …
aku lelah,
sekejap saja ingin kusandarkan berat beban ini..
tapi tak ada dan tak bisa bahkan tak biasa
sesaat saja ingin ku terlelap dalam kehampaan,
namun, ia tak nampak dalam senduku …
aku ingin melayang diantara paradigma masaku,
namun tetap ia tak biasa ..
aku di beli keluh,
aku dibayar resah dan aku menjual asa..
dan akhir langkahku tiada apa menjamahku …
malam ku terasa sunyi …
karena senyumu tak lagi
da di benak qw…
indahnya cintamu,,,
yang telah bersandar di sanubariku..
hilang bersama nyanyian lazuardi…
dalam pekat yang sunyi
dalam melodi yang menghampiri…