Feeds:
Tulisan
Komentar

Blog ini berisi tulisan-tulisan tentang bahasa dan sastra Indonesia. Silakan cari tulisan yang teman-teman ingin baca di pilihan kategori (sebelah kanan dari tulisan ini).

Selain itu, teman-teman juga bisa berbagi karya berupa cerpen, puisi, esai, resensi, dan lain-lain. Khusus puisi, kami sediakan halaman tersendiri. Kalau mau memajang karya kalian, kirim saja ke ratron kami di nyanyianbahasa@gmail.com.

Semua tulisan di blog ini boleh dibaca GRATIS. Jika teman-teman ingin memakai tulisan di blog ini sebagai referensi, teman-teman boleh mengutipnya asalkan mencantumkan sumbernya dengan jelas.

Silakan menikmati ^_^

Ikutilah kami di Twitter dengan mengeklik gambar di bawah ini!

Pengelola: Melody Violine & Wahyu Awaludin

Oleh Erin Nuzulia, Shiro Matsugata, Inayatillah, dan Wulansari

Mengenai perbedaan wacana, teks, dan kalimat, Lyons membedakan “system- sentence” dengan “text-sentence”. System-sentence adalah kalimat sebagai satuan dalam kategori sintaksis, sedangkan text-sentence adalah kalimat sebagai kategori semantis. Untuk memahami perbedaan ini, diberi contoh kalimat ;

(1) Amin makan nasi                           (2) Makan                                (3) Nasi

Dari sudut sintaksis, proses analisis contoh (1) dapat ditinjau berdasarkan kedudukan dari setiap kata yang meliputi subjek, predikat, atau objek. Bentuk ini dapat terterima sebagai sebuah kalimat lengkap. Sementara itu, contoh (2) dan (3) tidak dapat disebut kalimat karena tidak memenuhi persyaratan tersebut.

Namun, dari sudut semantis kalimat (1), (2), dan (3) dapat disebut sebagai  “text-sentence” karena kegiatan ujaran tersebut terikat dengan konteks dan situasi tertentu. Misalnya, contoh (1) diujarkan dalam kaitan dengan konteks pertanyaan “Kenapa Amin tidak sarapan?” yang merujuk pada situasi : di meja makan hanya terhidang sayuran, bukan nasi. Sementara itu, kalimat (2) dan (3) juga dapat dihubungkan dengan pertanyaan yang sesuai dengan konteks dan keadaan pada saat tuturan itu berlangsung.

Tata Bahasa dan Tata Wacana

            Hoed menjelaskan bahwa kalimat merupakan satuan gramatikal, sedangkan wacana merupakan satuan semantis. Dalam hal ini, Hoed mengaitkan perbedaan antara kalimat dan wacana dengan konsep langue dan parole yang diajukan oleh de Saussure. Langue adalah aspek abstraksi suatu bahasa yang berada di tingkatan sosial dan budaya, sedangkan parole adalah aspek perwujudan suatu bahasa.

Dikotomi ini digunakan oleh Hoed untuk memisahkan pengertian wacana dari teks. Dalam hal ini, Hoed mengutip pernyataan van Dijk yang menganggap wacana sebagai suatu bentuk teoritis yang abstrak dan belum dapat dilihat sebagai perwujudan fisik suatu bahasa (1977: 3). Oleh karena itu, kedudukan wacana dapat ditempatkan setingkat dengan langue, seperti halnya tata bahasa sehingga belum dapat dilihat sebagai perwujudan fisik bahasa. Wacana berada pada tingkat langue seperti tata bahasa. Tata bahasa adalah suatu sistem yang mengatur hubungan antara bentuk dan makna, sedangkan tata wacana adalah suatu sistem yang mengatur hubungan antara ujaran dan lingkungannya.

Pada tataran langue, ada dua jenis sistem. Sistem yang pertama adalah tata bahasa yang mengatur kalimat. Sistem yang kedua adalah tata wacana yang mengatur hubungan semantis antara juaran dengan lingkungannya.

Kerangka Acuan Wacana

Menurut van Dijk, makna sebuah ujaran yang kita sebut wacana dikaji dalam kaitan dengan unsur-unsur di luar dirinya. Seperti ujaran Kanan, yang akan dipahami maknanya jika dikaitkan dengan kerangka acuan. Kerangka acuan merupakan situasi. Ujaran kanan jika diucapkan di dalam mobil oleh seseorang kepada yang menyetir mobil, mengandung makna ‘berbeloklah ke kanan’. Wacana bukan ujaran itu sendiri secara fisik, tetapi bangun teoritis yang membentuk hubungan antara semantik leksem kanan dengan seluruh kerangka acuan itu.

Dua ujaran di dalam sebuah wacana tidak harus memiliki hubungan makna, sejauh kedua ujaran tersebut membentuk perkaitan semantis (sistem, hubungan paradigmatis atau asosiatif) dengan kerangka acuannya. Sedangkan urutan proposisinya disebut struktrur. Kalimat dan wacana terletak dalam tataran langue. Kalimat dikaji tanpa kerangka acuan dan memperlihatkan hubungan semantis antara proposisi-proposisi atau komponen semantis yang lebih kecil. Wacana adalah bangun teoritis yang memperlihatkan hubungan semantis antara satu proposisi atau sejumlah proposisi dan kerangka acuannya. Wacana bersifat terbuka.

Teks termasuk dalam tataran parole. Wacana dan teks memiliki perbedaan yang dapat dilihat dengan dua tataran analisis. Tataran pertama yaitu langue yang di dalamnya termasuk wacana sebagai suatu bangun teoritis. Kedua adalah tatarang parole yang di dalamnya termasuk teks. Teks merupakan perwujudan wacana dan sejajar dengan kalimat karena memiliki sistem dan struktur. Perbedaannya, kalimat merupakan ujaran sebagai produk sehingga tertutup, sedangkan teks merupakan ujaran sebagai proses sehingga terbuka. Teks terdapat dalam proses komunikasi, sedangkan kalimat tidak.

Sistem dan Struktur Wacana

            Hoed mempermudah pengertian sistem dan struktur dalam wacana dengan menggunakan piramida terbalik. Ia memulainya dengan sistem dan struktur yang terdapat dalam wacana berita.

Untitled

Hubungan antarkomponen alur tersebut membentuk sistem, sedangkan urutan komponen-komponen tersebut membentuk struktur. Bangun teoretis teretis tersebutlah yang kita kenal sebagai wacana.

Kohesi dan Koherensi

Kohesi terdapat dalam teks yang memiliki lebih dari satu ujaran. Pada tataran teks, kohesi merupakan kaitan semantik antara satu ujaran dengan ujaran lainnya di dalam teks tersebut. Sementara itu, pada tataran wacana, kohesi adalah keterkaitan semantik antara satu proposisi dan proposisi lainnya dalam wacana itu. Dalam tataran teks, alat kohesi dapat berupa unsur gramatikal atau leksikal, misalnya penggunaan kata ganti, kata tunjuk,  kata sambung, dan kata yang diulang-ulang.

Pada tataran wacana kohesi berarti koherensi, yaitu kepaduan semantik antara proposisi yang satu dengan proposisi lainnya. Kepaduan tersebut dapat terjadi jika terdapat kesesuaian dengan kerangka acuan sehingga apabila penutur dan mitra tutur tidak memiliki kerangka acuan yang sama, penafsiran mereka terhadap suatu wacana akan berbeda. Kerangka acuan tersebut merupakan konteks atau pengetahuan antara penutur dan mitra tutur. Jadi, koherensi atau kepaduan wacana bisa saja terjadi tanpa alat kohesi asalkan penutur dan mitra tutur memiliki kerangka acuan yang sama.

 

 

 

 

 

Oleh Erin Nuzulia Istiqomah, 1006699215

 

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek kodikologi yang diuraikan dalam seminar hasil penelitian oleh Yanasa. Kodikologi adalah  ilmu kodeks. Kodeks adalah bahan tulisan tangan atau menurut The New Oxford Dictionary (1928) : Manuscript volume, esp of ancient text ‘gulungan atau buku tulisan tangan dari teks-teks naskah klasik’. Kodikologi mempelajari seluk beluk atau semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Baried, 1994 : 56). Berdasarkan hal tersebut, saya dapat menemukan aspek kodikologi yang dipaparkan kelima pembicara dalam hasil penelitian tersebut.

Bapak Syahrial, M.Hum yang mengkaji tentang “Syair Ken Tambuhan Versi M.Bakir dan Klinkert” menjabarkan bahwa aspek kodikologi yang terdapat dalam hasil penelitiannya antara lain adalah adanya sebelas versi yang ditemukan, Syair Ken Tambuhan versi M. Bakir adalah dua genersi, sedangkan versi Klinkert tiga generasi, dan nomor Katalogus Syair Ken Tambuhan versi M. Bakir adalah ML 247 dan versi Klinkert adalah ML 718.

Ibu Prisilia F. Limbong yang mengkaji tentang ”Konsep Sufisme dalam Naskah Fath- Ar-Rahman”  mengemukakan bahwa aspek kodikologi yang terdapat dalam hasil kajiannya adalah belum adanya edisi teks dari Naskah Fath- Ar-Rahman (bahasa arabnya terlalu banyak, berhubungan dengan konsep sufisme), naskah tersebut bukanlah naskah tunggal, terdapat beberapa varian, berbentuk tembang narasi prosa, dan terkenal pada abad ke 17-19.

“Sir Akhsaf” merupakan salah satu hasil kajian dalam penelitian tersebut. Dalam naskah “Sir Akhsaf” ditemukan aspek kodikologi berupa naskah tersebut terdiri dari empat naskah yang terbagi menjadi : dua naskah bertempat di Perpustakaan nasional Indonesia, dan dua naskah lainnya terdapat di Leiden. Naskah ini diperkirakan ditemukan pada abad ke-17.

Bapak Ali Akbar yang meneliti tentang kaligrafi dalam Al Quran Kuno mengemukakan aspek kodikologi dalam penelitiannya berupa adanya 63 Quran yang ada dan dipilih 11 Quran untuk penelitian, terdapat empat jenis kaligrafi dalam Quran (Kaligrafi teks/ nash Quran, Kaligrafi nama-nama surat, Kaligrafi teks pias/ juz, hizb, nisf yang terdapat di pinggir naskah, dan Kaligrafi yang terdapat dalam doa-doa sebelum atau setelah teks), Ragam kaligrafi yang dipakai disesuaikan dengan fungsinya dalam bagian Quran, dan nomor katalogus naskah antara lain : A.47 ( Melayu), A.49 (Ternate), A.50 (Banten, kertas emas), Surat dari india, A.51 a-e (Banten), A.52 a-k (banten), A.53 a-k (Banten), A.54 (Banten), A. 694 (Aceh), dan Br 04 (Aceh).

Ibu Zuriati yang memaparkan hasil tesisnya tentang “Pengaruh Tasawuf dann Dinamika Hukum Adat di Bawah Pengaruh Hukum Islam”, aspek kodikologinya berupa adanya 83 naskah yang tersimpan di 5 negara, 21 dari naskah tersebut tersimpan di PNRI, kertas yang digunakan adalah kertas Eropa, nomor katalogusnya ML. 428, dan naskah tersebut menggunakan aksara Jawi (Melayu Minangkabau).

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek kodikologi hasil penelitian yang telah dilaksanakan hampir tujuh tahun lalu ini adalah hampir semua naskah bukan merupakan naskah tunggal karena memiliki beberapa varian, dan naskah-naskah tersebut tersebar tak hanya disimpan di Indonesia.


[1] Rabu, 29 Februari  2012, Ruang 4101 FIB UI

Makalah Ini Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Kuliah Gender dalam Sastra di FIB UI

Oleh

Erin Nuzulia Istiqomah

1006699215

Jakarta, 26 Desember 2012

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

UNIVERSITAS INDONESIA

 

Kata Pengantar

 

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan inspirasi dalam pembuatan karya tulis yang berjudul “Beban Stereotipe, Permasalahan Gender daam Berjuta Rasanya”  sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Karya tulis  ini disusun dengan menggunakan metode penelitian pustaka yang diharapkan mampu membuka wawasan lebih dalam. Penyusunan karya tulis ini tak lepas dari bantuan dan arahan berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan dosen pembimbing atas dukungan dan masukannya.

Saya menyadari karya tulis yang disusun ini masih jauh dari sempurna. Meski begitu, saya berharap karya ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dan saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat memperbaiki karya ilmiah ini menjadi lebih baik.  Semoga karya tulis ini bisa menambah wawasan pembaca sekalian.

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

  1. A.           Latar Belakang

Semakin hari sastra semakin berkembang pesat. Hal ini dapat kita lihat dari begitu banyaknya karya sastra khususnya dalam bentuk prosa yang dijual di pasaran. Karya prosa ini hadir dalam berbagai bentuk, bisa berupa novel, kumpulan cerpen, atau kumpulan prosa mini. Karya prosa  yang hadir di pasaran memiliki ide cerita yang bervariasi dan tentu saja setiap karya memiliki kelebihan maupun kekurangan yang makin memperkaya khazanah sastra yang ada di Indonesia. Hadirnya berbagai karya dalam bentuk prosa  tersebut memotivasi kita untuk dapat mempelajari sastra dengan lebih mendalam.

Dari sekian banyak buku yang hadir, saya tertarik untuk menganalisis lebih dalam dari kumpulan kisah atau kumpulan cerpen karya Tere Liye yang berjudul Berjuta Rasanya. Saya amat tertarik dengan buku ini karena sebelas dari lima belas judul cerita yang ada dalam buku ini membahas perempuan sebagai peran utama. Melihat latar belakang penulisnya, Tere Liye bukanlah seorang feminis. Oleh karena itu akan menjadi menarik bila buku ini mendapatkan kesempatan untuk dibahas lebih dalam. Adapun kesebelas judul cerita yang menonjolkan aspek perempuan antara lain Bila Semua Wanita Cantik, Hiks Kupikir Kau Naksir Aku, Cinta Zooplankton, Harga Sebuah Pertemuan, Mimpi-Mimpi Laila Majnun, Kutukan Kecantikan Miss X, Kupu-Kupu Monarch, Kutukan Kecantikan Miss X-2, Lily dan Tiga Pria itu, Pandangan Pertama Zalaiva, dan Antara Kau dan Aku

Dari kelima belas cerita yang ada dalam buku ini, saya akan memfokuskan pada cerita pertama “Bila semua Wanita Cantik”. Cerita ini memiliki fokus utama berupa stereotip yang cukup mengganggu sang tokoh. Lima belas cerita yang ada di dalam buku ini bukanlah sekadar cerita pendek biasa. Tere Liye memasukkan pandangannya di akhir tiap-tiap kisah mengenai permasalahan yang diilustrasikannya. Meskipun perempuan menjadi bagian penting dalam lima belas cerita yang ada, hanya sebelas cerita yang sangat menonjolkan perempuan dalam ceritanya. Tak sekadar bercerita, Tere Liye juga berusaha mengarahkan pandangan pembacanya untuk dapat mengerti dengan maksud yang ingin dicapainya dari cerita yang dibuatnya. Sangat terasa bahwa buku ini kaya akan nilai yang ingin ia tanamkan kepada pembacanya, yang sepertinya akan lebih banyak perempuan.

 

  1. B.            Rumusan Masalah

Analisis masalah dalam penelitian ini dibagi menjadi :

  • Bagaimana stereotipe yang ada dalam masyarakat terhadap perempuan yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya?
  • Bagaimana pandangan perempuan (tokoh) dalam menanggapi stereotipe tersebut sesuai yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik” di buku Berjuta Rasanya ?

 

  1. C.           Tujuan Penelitian

Analisis dalam penelitian ini bertujuan untuk :

  • Mengetahui stereotipe yang ada dalam masyarakat luas terhadap perempuan yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya
  • Mengetahui pandangan perempuan (tokoh) dalam menanggapi stereotipe tersebut sesuai yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya

 

  1. D.           Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan manfaat dan sumbangsih bagi karya sastra Indonesia, khususnya di bidang gender dalam sastra.

 

  1. E.            Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menggunakan hasil metode penelitian kepustakaan (Library Research).

 

  1. F.            Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab III Beban Stereotip

Bab IV Penutup

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

   Dalam penelitian ini, penyusun perlu menyusun suatu kerangka teori atau pemikiran yang berfungsi sebagai landasan berpikir. Tidak hanya itu, landasan teori imi juga berfungsi untuk menggambarkan sudut pandang penelitian masalah yang akan dibahas dan diteliti.

  • Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan.
  • Ada satu konsep yang dilukiskan sebagai ‘gambaran dalam kepala kita’ dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok (guru, polisi, perempuan, laki-laki, dsb) yang merupakan generalisasi tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa didukung oleh fakta objektif. Contohnya adalah seorang perempuan cerewet, sedangkan laki-laki seorang yang kuat.
  • Ideologi gender menghasilkan pandangan manusia tentang peran jenis dalam masyarakat. Peran jenis (sex role) adalah satu kelompok perilaku, kesenangan, dan sifat serta sikap yang dipunyai oleh satu jenis tertentu, dan tidak dimiliki oleh jenis lain. dengan adanya peran jenis maka muncul stereotip jenis. Stereotip jenis adalah pembakuan suatu pandangan terhadap kelompok manusia dengan memberi ciri-ciri tertentu, tanpa memperhatikan variasi perseorangan. Stereotip terhadap jenis, telah membakukan pandangan tentang  bagaimana perempuan “seharusnya”, dan bagaimana laki-laki “seharusnya”. Kedua, tanpa memberi kesempatan untuk “keluar” dari ciri yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pandangan stereotip ini, membuat seorang pribadi laki-laki merasa bersalah apabila ia melakukan tindakan dengan ciri keperempuanan, atau sebaliknya. (Murniati, 2004: 62)
  • Jelas bahwa dalam setiap lingkungan budaya ada pembagian peran gender (gender specific roles) yang dapat diamati, ditiru, dan diperkenalkan secara khusus pada anak laki-laki dan anak perempuan. Dengan demikian, dalam setiap budaya juga ada stereotip tertentu tentang apa yang “pantas” bagi perempuan atau laki-laki.(Sadli, 2010: 8)

 

BAB III

 

BEBAN STEREOTIP

 

  1. A.           Sinopsis

Dalam buku ini, Tere Liye berusaha untuk menceritakan berjuta rasa cinta. Ia memasukkan nilai-nilai baru di setiap pemahaman aspek-aspek percintaan yang saat ini banyak menyapa para kaula muda. Di kisah pertama dalam buku ini yang menjadi fokus dalam penelitian ini bercerita tentang pemahaman sebuah kecantikan. Vin, seorang gadis yang sejak kecil sudah gendut merasa bosan dengan penderitaan yang selama ini dirasakan. Ia sering diolok-olok temannya di mana pun ia berada. Belum lagi sejak ia dewasa, ia semakin tertekan dengan tidak adanya lelaki yang mendekatinya.

Tiga puluh tahun Vin hidup dengan beban “ketidakcantikan” bersama seorang teman yang juga bernasib sama, Jo. Ia seorang gadis dengan penderitaan yang kurang lebih sama, bedanya ia lebih bijak memahami hidup. Jo, seorang gadis kurus tinggi yang berwajah penuh dengan jerawat. Vin selalu menceritakan segala keluh kesahnya kepada Jo. Seperti biasa Jo akan selalu berusaha membesarkan hati Vin dan mencoba menyadarkan bahwa apa yang mereka alami bukanlah hal yang menyedihkan jika dinikmati.

Namun Vin terlampau sedih memaknai hidup, dalam keputusasaanya suatu malam ia berdoa agar semua orang di dunia ini jelek seperti dirinya. Ternyata esok hari semua berubah. Semua orang justru menjadi cantik bukan main. Hanya ia dan Jo yang tetap pada kondisi semula. Semua laki-laki dimanjakan dengan paras cantik wanita di setiap sudut kota, bahkan tak ada bedanya kecantikan antara Miss Universe dengan gadis penjual permen atau ibu-ibu pengemis yang menegadahkan tangan di pinggir jalan. Inilah titik balik, para laki-laki mulai bosan dengan “cantik” yang mereka lihat. Masyarakat kembali merekonstruksikan definisi cantik dengan sesuatu yang berbeda dari biasa. Vin serta Jo lah yang mendapatkan predikat tersebut.

Mendadak kehidupan Vin dan Jo berubah. Termasuk kehidupan percintaan mereka. Namun inilah hidup, semua berjalan dengan alasan. Vin belajar banyak hal ketika ia menjadi “cantik”, termasuk memahami arti cantik itu sendiri.

 

  1. B.            Analisis

                                                                                   

  • Stereotipe Masyarakat terhadap Perempuan dalam “Bila Semua Wanita Cantik” di buku Berjuta Rasanya

 

Masyarakat Indonesia ternyata masih terjebak dalam permasalahan gender sehingga kita masih mendapati banyak perempuannya merasa tidak sanggup untuk memenuhi stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan.

Ideologi gender menghasilkan pandangan manusia tentang peran jenis dalam masyarakat. Peran jenis (sex role) adalah satu kelompok perilaku, kesenangan, dan sifat serta sikap yang dipunyai oleh satu jenis tertentu, dan tidak dimiliki oleh jenis lain. dengan adanya peran jenis maka muncul stereotip jenis. Stereotip jenis adalah pembakuan suatu pandangan terhadap kelompok manusia dengan memberi ciri-ciri tertentu, tanpa memperhatikan variasi perseorangan. Stereotip terhadap jenis, telah membakukan pandangan tentang  bagaimana perempuan “seharusnya”, dan bagaimana laki-laki “seharusnya”. Kedua, tanpa memberi kesempatan untuk “keluar” dari ciri yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pandangan stereotip ini, membuat seorang pribadi laki-laki merasa bersalah apabila ia melakukan tindakan dengan ciri keperempuanan, atau sebaliknya. (Murniati, 2004: 62).

Adapun stereotip yang terbangun dalam cerita “Bila Semua Wanita Cantik” yang terdalat dalam buku Berjuta Rasanya adalah sebuah konstruksi “cantik” menurut masyarakat yang diejawantahkan dalam paradigma berpikir para tokohnya. Hal ini terlihat dari cuplikan paragraf yang terdapat dalam cerita tersebut

“….Karena cowok-cowok itu bersepakat cantik dan seksi itu harus ramping, perut datar, mata hitam menggoda, rambut seperti ini, kulit harus putih, bibir merah sensual, dan seterusnya, maka cewek otomatis harus seperti itu untuk dibilang cantik” (Tere Liye, 2012: 7)

 

Stereotip “cantik” yang dikonstruksikan di cerita ini jelas-jelas disebutkan sebagai sebuah kesepakatan yang dibentuk dalam masyarakat. Vin sebagai tokoh utama dalam cerita ini yang tidak masuk dalam konstruksi tersebut. Ada satu konsep yang dilukiskan sebagai ‘gambaran dalam kepala kita’ dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok (guru, polisi, perempuan, laki-laki, dsb) yang merupakan generalisasi tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa didukung oleh fakta objektif. Contohnya adalah seorang perempuan cerewet, sedangkan laki-laki seorang yang kuat, dan contoh yang terjadi pada cerita ini.

Jelas bahwa dalam setiap lingkungan budaya ada pembagian peran gender (gender specific roles) yang dapat diamati, ditiru, dan diperkenalkan secara khusus pada anak laki-laki dan anak perempuan. Dengan demikian, dalam setiap budaya juga ada stereotip tertentu tentang apa yang “pantas” bagi perempuan atau laki-laki (Sadli, 2010: 8). Stereotip ini juga digambarkan oleh Tere Liye dalam bagian paragraf lainnya, yaitu

“… Bukankah mereka selama ini ingin merasakan memiliki pasangan yang terlihat lebih “oke” dibandingkan pasangan temannya?” (Tere Liye, 2012: 16)

 

Mereka di sini adalah laki-laki yang merasa perlu untuk memiliki pasangan yang memiliki kelebihan dibanding pasangan temannya. Tak hanya terkungkung oleh stereotip, ternyata perempuan digiring menjadi objek yang dianggap “pantas” untuk dibandingkan dengan perempuan lainnya sebagai salah satu bentuk kebanggaan laki-laki.

Hal di atas menunjukkan betapa dunia perempuan amat dibatasi oleh stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Lebih dari itu perempuan justru menikmati stereotip yang berkembang dalam masyarakat dengan berusaha memenuhi stereotip tersebut dengan berbagai cara. Ketika perempuan sudah merasa tidak sanggup memenuhi upaya untuk mencapai stereotip yang berkembang, perempuan akan cenderung merasa terasing dan kalah dengan keadaan. Hal inilah yang semakin menguatkan posisi stereotip yang berkembang dalam masyarakat menjadi beban bagi perempuan karena mau tidak mau perempuan justru berusaha untuk memenuhinya.

 

  • Pandangan Perempuan (tokoh) dalam Menanggapi Stereotipe yang ada dalam Berjuta Rasanya

 

Tere Liye berusaha untuk memperlihatkan tanggapan perempuan atas stereotip yang ada dalam masyarakat atas labelling terhadap perempuan dengan dua sudut pandang. Vin dan Jo dipisahkan oleh perbedaan paradigma atas stereotip yang dibangun dalam cerita tersebut. Berikut merupakan salah satu contoh paradigma yang dimiliki Jo dalam menghadapi stereotip yang mengkungkung perempuan dalam cerita ini.

“Lah, come-on! Bukankah itu menjelaskan semuanya. Lu pikir semua orang di dunia ini akan cantik? Akan seksi? Nggak, kan? Pasti ada yang tidak cantik, kurang seksi—“ (Tere Liye, 2012: 2)

 

Jo dalam konstruksi paradigma yang tidak terkungkung oleh stereotip tetap berusaha untuk menularkan pemikirannya kepada Vin, sahabatnya yang menjadi korban atas beban gender yang terdapat dalam cerita ini.

“Tapi yakinlah, Vin, tak selamanya menjadi cantik dan seksi itu menyenangkan…” Jo menghentikan tawanya. (Tere Liye, 2012: 7)

 

Jo juga berusaha membesarkan hati Vin dengan berbagai upaya, termasuk dengan memberikan pandangannya bahwa kemungkinan atas stereotip yang terbangun di masyarakat belum tentu merupakan keadaan yang menyenangkan.

Di awal kedewasaan mereka dalam menyadari dan menghadapi stereotip dalam masyarakat, mereka cenderung untuk beradaptasi dengan keadaan meski sudah merasa ada ketidakadilan atas stereotip yang ada di masyarakat dan dampak yang mereka dapatkan.

“Vin dan Jo hanya jadi penonton di acara tersebut. Memandang sirik cewek-cewek berpakaian seksi berlalu lalang bersama pasangan mereka” (Tere Liye, 2012: 7)

Perbedaan kedua sahabat ini dalam menghadapi stereotip yang berkembang di masyarakat cukup tinggi. Jo dengan kedewasaaannya mampu menjadi perempuan yang tidak terjebak dengan stereotip dan tidak menjadi korban beban atas permasalahan stereotip di dalam gender. Hal ini ditunjukkan oleh Tere Liye dalam paragraf dalam cerita yang dibuatnya, yaitu

“… Bagi Jo, ada atau tidak ada cowok yang melirik mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati kepada mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati kepada mereka, itu tidak penting. Hidup ini tetap indah meski tanpa kehdupan percintaan yang mengharu-biru. Tapi bagi Vin tidak. Ia bosan dengan kesendiriannya. Bosan dianggap tidak ada oleh cowok-cowok. Celakanya lagi, Vin justru mengidolakan cowok terkeren kota ini. teman satu kantornya” (Tere Liye, 2012: 7)

 

Vin, sebagai tokoh yang menjadi korban atas beban gender dalam memahami stereotip masyarakat atas pemahaman “cantik”, cukup digambarkan merasa lelah atas upaya-upaya pemenuhan yang tak mampu dilakukannya.

“Belakangan, setiap kali mereka bertemu, semakin seringlah Vin mengeluhkan soal itu. Bertanya hal-hal prinsip seperti,

“Apakah wajah itu penting saat kau jatuh cinta?”, “bukankah banyak yang bilang, karakter nomor satu, fisik nomor dua?” Bahkan, kadang berteriak sebal tentang “Omong kosong! Semua itu bohong! Siapa bilang kita selalu terlahir dengan takdir jodoh bersama kita? Itu hanya untuk membesar-besarkan hati saja!” Kemudian menutup pembicaraan dengan keluh-kesah-resah.” (Tere Liye, 2012: 4)

 

Hal yang merupakan pesan penting yang ingin disampaikan oleh Tere Liye adalah bahwa Tere Liye ingin menegaskan bahwa sebagai perempuan kita tak perlu untuk melakukan upaya pemenuhan stereotip jika ternyata hal tersebut malah membebani hidup kita. Di akhir cerita, Tere Liye mengatakan bahwa jika cinta didasarkan oleh standar fisik semata, bisa jadi suatu saat kelak kita akan ditinggalkan karena alasan fisik juga. Sedangkan “kecantikan” hati haruslah lebih utama dibanding apapun. Dengan adanya pesan ini, Tere Liye berupaya menanamkan kepada pembacanya, khususnya perempuan untuk tidak menjadi korban dalam beban gender dalam kasus stereotip pemaknaan ‘cantik’.

BAB III

 

PENUTUP

 

  1. A.           Simpulan

 

Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Pelabelan atas stereotip yang ada dalam masyarakat atas pemaknaan “cantik” membuat banyak perempuan yang tidak masuk dalam kriteria stereotip tersebut justru malah membuat masalah baru.

Perempuan yang dalam upaya pemenuhannya mengalami banyak kegagalan dan hambatan merasa terbebani atas stereotip ini. Perempuan menjadi korban atas beban gender dalam stereotip yang menempel dalam “kecantikan” perempuan. Tere Liye menggambarkan betapa perempuan yang menjadi korban beban tersebut justru mengalami hidup yang tidak nyaman. Hal inilah yang menjadi sorotan oleh Tere Liye hingga di akhir cerita, ia berusaha menanamkan pesan bahwa stereotip tersebut tidak serta merta harus dipenuhi oleh perempuan karena sejatinya ada “kecantikan” yang lebih hakiki dan penting yang tidak menjadi stereotip oleh masyarakat yang justru harus dipenuhi, yaitu kecantikan hati.

 

  1. B.            Saran

 

Buku ini patut untuk dibaca karena memuat berbagai perspektif gender yang tertuang dalam berbagai cerita yang ada dalam kehidupan percintaan sehari-hari. Kehidupan percintaan menjadi topik utama dalam cerita yang tertuang dalam buku Berjuta Rasanya. Berbagai permasalahan tentang gender, mulai dari stereotip, marjinalisasi, atau kekerasan diungkap dalam kehidupan cinta. Namun akan lebih baik lagi jika buku ini tidak hanya membahas gender dalam kehidupan percintaan saja, tetapi juga aspek lain terutama aspek kehidupan baik, sosial maupun individu.

 

Daftar Pustaka

 

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional

Keraf, Gorys. 2003.  Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa Indonesia. Jakarta : Nusa Indah

Liye, Tere. 2012. Berjuta Rasanya. Jakarta : Mahaka Publishing

Murniati, A. Nunik. 2004. Getar Gender. Magelang: Yayasan Indonesiatera

Sadli, Saparinah. 2010. Berbeda tetapi Setara. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

Tim Penyusun. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Utorodewo, Felicia N, dkk. 2010.  Bahasa Indonesia  Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. Jakarta : Badan Penerbit FK UI

 

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

 Universitas Indonesia

Erin Nuzulia Istiqomah

 

Nirwan Dewanto kembali hadir menggebrak dunia perpuisian Indonesia dengan buku puisinya yang berjudul Buli-Buli Lima Kaki. Buku puisi ini hadir setelah buku pendahulunya yang berjudul  Jantung Lebah Ratu yang telah memenangkan Hadiah Sastra Kathulistiwa. Ia menamatkan studi terakhirnya di Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung. Tinggal di Jakarta, ia bekerja sebagai penyunting sastra dan penyelia kesenian. Ia ikut mendirikan jurnal kebudayaan Kalam dan kini menjaga lembar sastra Koran Tempo edisi Minggu. Pada musim gugur 2007 ia berhimpun dengan International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, tempat ia merampungkan buku puisi ini. Lanjut Baca »

Erin Nuzulia Istiqomah

Senin (2013/3/12) lalu, bertempat di Auditorim Gedung 1 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, diadakan salah satu acara yang masuk dalam rangkaian acara dies natalis FIB UI di hari jadinya yang ke-72. Adapun acara tersebut adalah Forum Budaya “Menggali Potensi Budaya Bumi Sriwijaya” dan Penghargaan Kebudayaan. Acara ini mendapat sambutan yang luar biasa dari sivitas akademika FIB UI, terlihat dari ramainya pengunjung yang hadir dan tidak mendapatkan tempat duduk. Lanjut Baca »

Oleh Erin Nuzulia Istiqamah

Bahasa manusia lebih banyak dan beragam dibandingkan dengan penutur bahasa besar di dunia. Belakangan ini ada penelitian yang mengindikasikan adanya satu sumber bahasa dari seluruh bahasa. Kini terdapat kekhawatiran akan eksistensi sebuah bahasa. Bahasa-bahasa di dunia menunjukkan adanya perubahan. Baru-baru ini sebuah penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara keluarga bahasa. Berbagai bahasa manusia mungkin terjadi karena adanya variasi bentuk alam di dunia. Lanjut Baca »

Bahasa Tagalog

Erin Nuzulia Istiqomah

Suci Indriyani

  1. I.                                           Pendahuluan

Tagalog adalah salah satu dari dua bahasa terbesar di Filipina. Terdapat lebih dri 17 juta penutur bahasa ini. Pada tahun 1937, bahasa Tagalog terpilih sebagai bahasa nasional di Filipina, yang kemudian dideklrasikan sebagai bahasa nasional Filipina pada tahun 1946. perbedaan antara bahasa Filipino dengan bahasa Tagalog secara umum adalah leksikal, secara sistemetis leksikon bahasa Filipino dikembangkan oleh Institut bahasa Nasional. Karena kebanggaan atas bahasa nasional, dan media edukasi dan lembaga umum di Filipina, Tagalog juga dikenal luas sebagai bahasa kedua (diperkirakan digunakan oleh 70-90% dari populasi di Filipina). Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 396 pengikut lainnya.