Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus 2nd, 2013

 

                                                            Erin Nuzulia Istiqomah

                                                            1006699215

                                                            Penyuntingan

                                                            Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

                                                            Universitas Indonesia

 

Di Indonesia, perkembangan bahasa terjadi dengan cukup cepat, mengingat Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah serta bahasa persatuan yang kesemuanya mengalami berbagai dinamika kebahasaan. Masing-masing bahasa tersebut memiliki strategi dalam menghadapi terjangan bahasa asing maupun bentuk perkembangan bahasa lainnya. Hal ini dilakukan dalam upaya mempertahankan eksistensi bahasa tersebut atau upaya menghindari kepunahan bahasa yang saat ini marak terjadi.

Masyarakat bahasa, terutama yang berada di masyarakat perkotaan akan semakin mudah menerima berbagai unsur yang masuk dalam mempengaruhi perkembangan bahasa. Masyarakat bahasa yang berada di perkotaan merupakan sekumpulan masyarakat yang berasal dari berbagai etnis suku bangsa, latar belakang sosial, serta mata pencaharian yang berbeda. Pada masyarakat bahasa, terdapat sikap bahasa yang dimiliki oleh masyarakat bahasa dalam menyikapi kebahasaan mereka. Sikap bahasa ini juga sewajarnya dimiliki oleh masyarakat kota yang juga merupakan masyarakat bahasa dalam kehidupan berbahasa.

Sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenal bahasa, mengenai objek bahasa, yang memberikan kecendrungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya (Anderson, dalam Chaer, 1995:151). Sikap bahasa itu bisa positif jika dinilai disukai atau bisa negatif jika tidak disukai. Sikap bahasa inilah yang digunakan masyarakat dalam menyikapi berbagai fenomena kebahasaan yang dewasa ini begitu banyak terjadi di masyarakat Indonesia.

Fenomena kebahasaan yang kini begitu booming terjadi adalah maraknya penggunaan kata-kata gaul oleh remaja Indonesia, khususnya remaja perkotaan di kehidupan sehari-harinya. Adapun penggunaan bahasa gaul yang saat ini marak digunakan oleh remaja, baik yang masih duduk di bangku sekolah atau bahkan yang tidak mengenyam pendidikan adalah bahasa-bahasa gaul yang sejatinya diperkenalkan oleh media massa elektronik seperti iklan di televisi, sinetron khusus remaja, atau bahkan bahasa yang digunakan oleh selebritis di infotainment.

Menurut Sahertian (1990), bahasa gaul sendiri sudah terkenal di Indonesia pada akhir 1980-an. Awalnya istilah dalam bahasa gaul itu adalah untuk merahasiakan isi obrolan atau pembicaraan dalam komunitas tertentu, namun karena sering juga digunakan di luar komunitas mereka, lama-lama istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari. Bahasa gaul awalnya digunakan oleh para preman yang kehidupanya dekat dengan kekerasan, narkoba, dan minuman keras. Istilah-istilah baru, mereka ciptakan agar orang- orang di luar komunitas mereka tidak mengerti. Penggunaan bahasa gaul mulai ramai digunakan setelah Debby Sahertian menerbitkan kamus yang berjudul Kamus Bahasa Gaul.

Kosakata bahasa gaul di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Bahasa gaul berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasa gaul, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain.

Kata-kata yang merujuk pada bahasa gaul yang booming pada saat ini seperti ciyus ‘serius’, miapah ‘demi apa’, dan enelan ‘beneran’. Sepintas, kata-kata seperti itu terkesan lumrah terdengar sehari-hari. Penggunaannya marak digunakan oleh berbagai kalangan khususnya para remaja. Banyak yang menganggap jika penggunaan kata-kata tersebut dianggap wajar dan lucu atau bahkan mencirikan identitas dari sekelompok masyarakat bahasa tertentu.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah identitas.  Identitas terbagi menjadi dua, yaitu identitas personal dan identitas sosial. Identitas personal menurut William James, dalam Walgito (2003:97) merupakan skema yang berisi kumpulan keyakinan dan perasaan mengenai diri sendiri yang terorganisasi. Konsep ini merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dan kemudian akan mempengaruhi perilakunya sehari-hari.  Pembentukan identitas personal dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain.  Identitas sosial adalah pribadi yang terlibat dalam interaksi sosial (James, dalam Walgito, 2003:98).  Dalam hal ini, seseorang tidak dilihat sebagai satu individu, tetapi merupakan bagian dari suatu kelompok sosial tertentu atau disebut juga depersonalisasi.  Identitas seseorang, baik personal maupun sosial, akan sangat mempengaruhi penggunaan bahasanya.

Maraknya penggunaan kata-kata gaul tersebut dalam kehidupan remaja dianggap mencirikan sebuah kelompok tertentu yang bangga akan eksistensi identitas kelompok tersebut. Identitas sosial yang terkandung dalam penggunaan kata-kata gaul tersebut sangat mempengaruhi penggunaan bahasa dari seorang individu, terutama remaja,  sehingga penggunaan kata-kata gaul tersebut kian eksis dalam jangka waktu tertentu. Adapun penilaian ini didasarkan pada sikap masyarakat bahasa khususnya masyarakat kota yang memiliki sikap bahasa negatif atas kata-kata yang mereka gunakan.

Penggunaan kata-kata tersebut pada masa kini tak lagi diucapkan pada kelompok tutur sebaya, namun terkadang remaja saat ini dengan tidak sadar ataupun tidak sengaja melakukan tindak tutur dengan menggunakan bahasa tersebut kepada orang yang lebih tua. Unsur-unsur atau pihak-pihak yang terlibat dalam tindak tutur itu sama sekali tidak dihiraukan dalam tindak bahasanya. Hal ini amat mengkhawatirkan. Hanya dari kesalahan penggunaan bahasa, bisa menimbulkan banyak kesalahan persepsi yang menyebabkan berbagai gesekan yang timbul dalam masyarakat. Hal inilah yang menimbulkan masyarakat bahasa cenderung bersikap negatif atas penggunaan kata-kata gaul tersebut.

Tidak hanya itu, penggunaan kata-kata tersebut cukup mengkhawatirkan bagi masyarakat Indonesia. Mengingat pengaplikasian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan belum terkondisikan dengan cukup baik. Penggunaan bahasa Indonesia masih harus diperhatikan lebih lanjut karena posisinya yang juga bersaing dengan penggunaan bahasa daerah maupun bahasa asing yang masuk di wilayah Indonesia.

Kata-kata gaul yang digunakan oleh para remaja dianggap mampu mengganggu stabilitas penggunaan bahasa Indonesia. Remaja yang merupakan agen pembawa keberlangsungan bahasa Indonesia harus berjuang lebih keras dalam upaya mempertahankan bahasa persatuannya dari berbagai pengaruh yang cenderung negatif tersebut. Oleh karena itu, remaja Indonesia diharapkan mampu memberikan usaha terbaiknya dalam mempertahankan keberlangsungan bahasa Indonesia yang baik, tanpa menghilangkan identitas  kebahasaan sehingga remaja Indonesia tidak mudah terpapar oleh pengaruh-pengaruh negatif dalam hal kebahasaan tersebut.

Iklan

Read Full Post »