Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus 8th, 2013

Makalah Ini Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Kuliah Gender dalam Sastra di FIB UI

Oleh

Erin Nuzulia Istiqomah

1006699215

Jakarta, 26 Desember 2012

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

UNIVERSITAS INDONESIA

 

Kata Pengantar

 

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan inspirasi dalam pembuatan karya tulis yang berjudul “Beban Stereotipe, Permasalahan Gender daam Berjuta Rasanya”  sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Karya tulis  ini disusun dengan menggunakan metode penelitian pustaka yang diharapkan mampu membuka wawasan lebih dalam. Penyusunan karya tulis ini tak lepas dari bantuan dan arahan berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan dosen pembimbing atas dukungan dan masukannya.

Saya menyadari karya tulis yang disusun ini masih jauh dari sempurna. Meski begitu, saya berharap karya ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dan saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat memperbaiki karya ilmiah ini menjadi lebih baik.  Semoga karya tulis ini bisa menambah wawasan pembaca sekalian.

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

  1. A.           Latar Belakang

Semakin hari sastra semakin berkembang pesat. Hal ini dapat kita lihat dari begitu banyaknya karya sastra khususnya dalam bentuk prosa yang dijual di pasaran. Karya prosa ini hadir dalam berbagai bentuk, bisa berupa novel, kumpulan cerpen, atau kumpulan prosa mini. Karya prosa  yang hadir di pasaran memiliki ide cerita yang bervariasi dan tentu saja setiap karya memiliki kelebihan maupun kekurangan yang makin memperkaya khazanah sastra yang ada di Indonesia. Hadirnya berbagai karya dalam bentuk prosa  tersebut memotivasi kita untuk dapat mempelajari sastra dengan lebih mendalam.

Dari sekian banyak buku yang hadir, saya tertarik untuk menganalisis lebih dalam dari kumpulan kisah atau kumpulan cerpen karya Tere Liye yang berjudul Berjuta Rasanya. Saya amat tertarik dengan buku ini karena sebelas dari lima belas judul cerita yang ada dalam buku ini membahas perempuan sebagai peran utama. Melihat latar belakang penulisnya, Tere Liye bukanlah seorang feminis. Oleh karena itu akan menjadi menarik bila buku ini mendapatkan kesempatan untuk dibahas lebih dalam. Adapun kesebelas judul cerita yang menonjolkan aspek perempuan antara lain Bila Semua Wanita Cantik, Hiks Kupikir Kau Naksir Aku, Cinta Zooplankton, Harga Sebuah Pertemuan, Mimpi-Mimpi Laila Majnun, Kutukan Kecantikan Miss X, Kupu-Kupu Monarch, Kutukan Kecantikan Miss X-2, Lily dan Tiga Pria itu, Pandangan Pertama Zalaiva, dan Antara Kau dan Aku

Dari kelima belas cerita yang ada dalam buku ini, saya akan memfokuskan pada cerita pertama “Bila semua Wanita Cantik”. Cerita ini memiliki fokus utama berupa stereotip yang cukup mengganggu sang tokoh. Lima belas cerita yang ada di dalam buku ini bukanlah sekadar cerita pendek biasa. Tere Liye memasukkan pandangannya di akhir tiap-tiap kisah mengenai permasalahan yang diilustrasikannya. Meskipun perempuan menjadi bagian penting dalam lima belas cerita yang ada, hanya sebelas cerita yang sangat menonjolkan perempuan dalam ceritanya. Tak sekadar bercerita, Tere Liye juga berusaha mengarahkan pandangan pembacanya untuk dapat mengerti dengan maksud yang ingin dicapainya dari cerita yang dibuatnya. Sangat terasa bahwa buku ini kaya akan nilai yang ingin ia tanamkan kepada pembacanya, yang sepertinya akan lebih banyak perempuan.

 

  1. B.            Rumusan Masalah

Analisis masalah dalam penelitian ini dibagi menjadi :

  • Bagaimana stereotipe yang ada dalam masyarakat terhadap perempuan yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya?
  • Bagaimana pandangan perempuan (tokoh) dalam menanggapi stereotipe tersebut sesuai yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik” di buku Berjuta Rasanya ?

 

  1. C.           Tujuan Penelitian

Analisis dalam penelitian ini bertujuan untuk :

  • Mengetahui stereotipe yang ada dalam masyarakat luas terhadap perempuan yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya
  • Mengetahui pandangan perempuan (tokoh) dalam menanggapi stereotipe tersebut sesuai yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya

 

  1. D.           Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan manfaat dan sumbangsih bagi karya sastra Indonesia, khususnya di bidang gender dalam sastra.

 

  1. E.            Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menggunakan hasil metode penelitian kepustakaan (Library Research).

 

  1. F.            Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab III Beban Stereotip

Bab IV Penutup

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

   Dalam penelitian ini, penyusun perlu menyusun suatu kerangka teori atau pemikiran yang berfungsi sebagai landasan berpikir. Tidak hanya itu, landasan teori imi juga berfungsi untuk menggambarkan sudut pandang penelitian masalah yang akan dibahas dan diteliti.

  • Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan.
  • Ada satu konsep yang dilukiskan sebagai ‘gambaran dalam kepala kita’ dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok (guru, polisi, perempuan, laki-laki, dsb) yang merupakan generalisasi tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa didukung oleh fakta objektif. Contohnya adalah seorang perempuan cerewet, sedangkan laki-laki seorang yang kuat.
  • Ideologi gender menghasilkan pandangan manusia tentang peran jenis dalam masyarakat. Peran jenis (sex role) adalah satu kelompok perilaku, kesenangan, dan sifat serta sikap yang dipunyai oleh satu jenis tertentu, dan tidak dimiliki oleh jenis lain. dengan adanya peran jenis maka muncul stereotip jenis. Stereotip jenis adalah pembakuan suatu pandangan terhadap kelompok manusia dengan memberi ciri-ciri tertentu, tanpa memperhatikan variasi perseorangan. Stereotip terhadap jenis, telah membakukan pandangan tentang  bagaimana perempuan “seharusnya”, dan bagaimana laki-laki “seharusnya”. Kedua, tanpa memberi kesempatan untuk “keluar” dari ciri yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pandangan stereotip ini, membuat seorang pribadi laki-laki merasa bersalah apabila ia melakukan tindakan dengan ciri keperempuanan, atau sebaliknya. (Murniati, 2004: 62)
  • Jelas bahwa dalam setiap lingkungan budaya ada pembagian peran gender (gender specific roles) yang dapat diamati, ditiru, dan diperkenalkan secara khusus pada anak laki-laki dan anak perempuan. Dengan demikian, dalam setiap budaya juga ada stereotip tertentu tentang apa yang “pantas” bagi perempuan atau laki-laki.(Sadli, 2010: 8)

 

BAB III

 

BEBAN STEREOTIP

 

  1. A.           Sinopsis

Dalam buku ini, Tere Liye berusaha untuk menceritakan berjuta rasa cinta. Ia memasukkan nilai-nilai baru di setiap pemahaman aspek-aspek percintaan yang saat ini banyak menyapa para kaula muda. Di kisah pertama dalam buku ini yang menjadi fokus dalam penelitian ini bercerita tentang pemahaman sebuah kecantikan. Vin, seorang gadis yang sejak kecil sudah gendut merasa bosan dengan penderitaan yang selama ini dirasakan. Ia sering diolok-olok temannya di mana pun ia berada. Belum lagi sejak ia dewasa, ia semakin tertekan dengan tidak adanya lelaki yang mendekatinya.

Tiga puluh tahun Vin hidup dengan beban “ketidakcantikan” bersama seorang teman yang juga bernasib sama, Jo. Ia seorang gadis dengan penderitaan yang kurang lebih sama, bedanya ia lebih bijak memahami hidup. Jo, seorang gadis kurus tinggi yang berwajah penuh dengan jerawat. Vin selalu menceritakan segala keluh kesahnya kepada Jo. Seperti biasa Jo akan selalu berusaha membesarkan hati Vin dan mencoba menyadarkan bahwa apa yang mereka alami bukanlah hal yang menyedihkan jika dinikmati.

Namun Vin terlampau sedih memaknai hidup, dalam keputusasaanya suatu malam ia berdoa agar semua orang di dunia ini jelek seperti dirinya. Ternyata esok hari semua berubah. Semua orang justru menjadi cantik bukan main. Hanya ia dan Jo yang tetap pada kondisi semula. Semua laki-laki dimanjakan dengan paras cantik wanita di setiap sudut kota, bahkan tak ada bedanya kecantikan antara Miss Universe dengan gadis penjual permen atau ibu-ibu pengemis yang menegadahkan tangan di pinggir jalan. Inilah titik balik, para laki-laki mulai bosan dengan “cantik” yang mereka lihat. Masyarakat kembali merekonstruksikan definisi cantik dengan sesuatu yang berbeda dari biasa. Vin serta Jo lah yang mendapatkan predikat tersebut.

Mendadak kehidupan Vin dan Jo berubah. Termasuk kehidupan percintaan mereka. Namun inilah hidup, semua berjalan dengan alasan. Vin belajar banyak hal ketika ia menjadi “cantik”, termasuk memahami arti cantik itu sendiri.

 

  1. B.            Analisis

                                                                                   

  • Stereotipe Masyarakat terhadap Perempuan dalam “Bila Semua Wanita Cantik” di buku Berjuta Rasanya

 

Masyarakat Indonesia ternyata masih terjebak dalam permasalahan gender sehingga kita masih mendapati banyak perempuannya merasa tidak sanggup untuk memenuhi stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan.

Ideologi gender menghasilkan pandangan manusia tentang peran jenis dalam masyarakat. Peran jenis (sex role) adalah satu kelompok perilaku, kesenangan, dan sifat serta sikap yang dipunyai oleh satu jenis tertentu, dan tidak dimiliki oleh jenis lain. dengan adanya peran jenis maka muncul stereotip jenis. Stereotip jenis adalah pembakuan suatu pandangan terhadap kelompok manusia dengan memberi ciri-ciri tertentu, tanpa memperhatikan variasi perseorangan. Stereotip terhadap jenis, telah membakukan pandangan tentang  bagaimana perempuan “seharusnya”, dan bagaimana laki-laki “seharusnya”. Kedua, tanpa memberi kesempatan untuk “keluar” dari ciri yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pandangan stereotip ini, membuat seorang pribadi laki-laki merasa bersalah apabila ia melakukan tindakan dengan ciri keperempuanan, atau sebaliknya. (Murniati, 2004: 62).

Adapun stereotip yang terbangun dalam cerita “Bila Semua Wanita Cantik” yang terdalat dalam buku Berjuta Rasanya adalah sebuah konstruksi “cantik” menurut masyarakat yang diejawantahkan dalam paradigma berpikir para tokohnya. Hal ini terlihat dari cuplikan paragraf yang terdapat dalam cerita tersebut

“….Karena cowok-cowok itu bersepakat cantik dan seksi itu harus ramping, perut datar, mata hitam menggoda, rambut seperti ini, kulit harus putih, bibir merah sensual, dan seterusnya, maka cewek otomatis harus seperti itu untuk dibilang cantik” (Tere Liye, 2012: 7)

 

Stereotip “cantik” yang dikonstruksikan di cerita ini jelas-jelas disebutkan sebagai sebuah kesepakatan yang dibentuk dalam masyarakat. Vin sebagai tokoh utama dalam cerita ini yang tidak masuk dalam konstruksi tersebut. Ada satu konsep yang dilukiskan sebagai ‘gambaran dalam kepala kita’ dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok (guru, polisi, perempuan, laki-laki, dsb) yang merupakan generalisasi tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa didukung oleh fakta objektif. Contohnya adalah seorang perempuan cerewet, sedangkan laki-laki seorang yang kuat, dan contoh yang terjadi pada cerita ini.

Jelas bahwa dalam setiap lingkungan budaya ada pembagian peran gender (gender specific roles) yang dapat diamati, ditiru, dan diperkenalkan secara khusus pada anak laki-laki dan anak perempuan. Dengan demikian, dalam setiap budaya juga ada stereotip tertentu tentang apa yang “pantas” bagi perempuan atau laki-laki (Sadli, 2010: 8). Stereotip ini juga digambarkan oleh Tere Liye dalam bagian paragraf lainnya, yaitu

“… Bukankah mereka selama ini ingin merasakan memiliki pasangan yang terlihat lebih “oke” dibandingkan pasangan temannya?” (Tere Liye, 2012: 16)

 

Mereka di sini adalah laki-laki yang merasa perlu untuk memiliki pasangan yang memiliki kelebihan dibanding pasangan temannya. Tak hanya terkungkung oleh stereotip, ternyata perempuan digiring menjadi objek yang dianggap “pantas” untuk dibandingkan dengan perempuan lainnya sebagai salah satu bentuk kebanggaan laki-laki.

Hal di atas menunjukkan betapa dunia perempuan amat dibatasi oleh stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Lebih dari itu perempuan justru menikmati stereotip yang berkembang dalam masyarakat dengan berusaha memenuhi stereotip tersebut dengan berbagai cara. Ketika perempuan sudah merasa tidak sanggup memenuhi upaya untuk mencapai stereotip yang berkembang, perempuan akan cenderung merasa terasing dan kalah dengan keadaan. Hal inilah yang semakin menguatkan posisi stereotip yang berkembang dalam masyarakat menjadi beban bagi perempuan karena mau tidak mau perempuan justru berusaha untuk memenuhinya.

 

  • Pandangan Perempuan (tokoh) dalam Menanggapi Stereotipe yang ada dalam Berjuta Rasanya

 

Tere Liye berusaha untuk memperlihatkan tanggapan perempuan atas stereotip yang ada dalam masyarakat atas labelling terhadap perempuan dengan dua sudut pandang. Vin dan Jo dipisahkan oleh perbedaan paradigma atas stereotip yang dibangun dalam cerita tersebut. Berikut merupakan salah satu contoh paradigma yang dimiliki Jo dalam menghadapi stereotip yang mengkungkung perempuan dalam cerita ini.

“Lah, come-on! Bukankah itu menjelaskan semuanya. Lu pikir semua orang di dunia ini akan cantik? Akan seksi? Nggak, kan? Pasti ada yang tidak cantik, kurang seksi—“ (Tere Liye, 2012: 2)

 

Jo dalam konstruksi paradigma yang tidak terkungkung oleh stereotip tetap berusaha untuk menularkan pemikirannya kepada Vin, sahabatnya yang menjadi korban atas beban gender yang terdapat dalam cerita ini.

“Tapi yakinlah, Vin, tak selamanya menjadi cantik dan seksi itu menyenangkan…” Jo menghentikan tawanya. (Tere Liye, 2012: 7)

 

Jo juga berusaha membesarkan hati Vin dengan berbagai upaya, termasuk dengan memberikan pandangannya bahwa kemungkinan atas stereotip yang terbangun di masyarakat belum tentu merupakan keadaan yang menyenangkan.

Di awal kedewasaan mereka dalam menyadari dan menghadapi stereotip dalam masyarakat, mereka cenderung untuk beradaptasi dengan keadaan meski sudah merasa ada ketidakadilan atas stereotip yang ada di masyarakat dan dampak yang mereka dapatkan.

“Vin dan Jo hanya jadi penonton di acara tersebut. Memandang sirik cewek-cewek berpakaian seksi berlalu lalang bersama pasangan mereka” (Tere Liye, 2012: 7)

Perbedaan kedua sahabat ini dalam menghadapi stereotip yang berkembang di masyarakat cukup tinggi. Jo dengan kedewasaaannya mampu menjadi perempuan yang tidak terjebak dengan stereotip dan tidak menjadi korban beban atas permasalahan stereotip di dalam gender. Hal ini ditunjukkan oleh Tere Liye dalam paragraf dalam cerita yang dibuatnya, yaitu

“… Bagi Jo, ada atau tidak ada cowok yang melirik mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati kepada mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati kepada mereka, itu tidak penting. Hidup ini tetap indah meski tanpa kehdupan percintaan yang mengharu-biru. Tapi bagi Vin tidak. Ia bosan dengan kesendiriannya. Bosan dianggap tidak ada oleh cowok-cowok. Celakanya lagi, Vin justru mengidolakan cowok terkeren kota ini. teman satu kantornya” (Tere Liye, 2012: 7)

 

Vin, sebagai tokoh yang menjadi korban atas beban gender dalam memahami stereotip masyarakat atas pemahaman “cantik”, cukup digambarkan merasa lelah atas upaya-upaya pemenuhan yang tak mampu dilakukannya.

“Belakangan, setiap kali mereka bertemu, semakin seringlah Vin mengeluhkan soal itu. Bertanya hal-hal prinsip seperti,

“Apakah wajah itu penting saat kau jatuh cinta?”, “bukankah banyak yang bilang, karakter nomor satu, fisik nomor dua?” Bahkan, kadang berteriak sebal tentang “Omong kosong! Semua itu bohong! Siapa bilang kita selalu terlahir dengan takdir jodoh bersama kita? Itu hanya untuk membesar-besarkan hati saja!” Kemudian menutup pembicaraan dengan keluh-kesah-resah.” (Tere Liye, 2012: 4)

 

Hal yang merupakan pesan penting yang ingin disampaikan oleh Tere Liye adalah bahwa Tere Liye ingin menegaskan bahwa sebagai perempuan kita tak perlu untuk melakukan upaya pemenuhan stereotip jika ternyata hal tersebut malah membebani hidup kita. Di akhir cerita, Tere Liye mengatakan bahwa jika cinta didasarkan oleh standar fisik semata, bisa jadi suatu saat kelak kita akan ditinggalkan karena alasan fisik juga. Sedangkan “kecantikan” hati haruslah lebih utama dibanding apapun. Dengan adanya pesan ini, Tere Liye berupaya menanamkan kepada pembacanya, khususnya perempuan untuk tidak menjadi korban dalam beban gender dalam kasus stereotip pemaknaan ‘cantik’.

BAB III

 

PENUTUP

 

  1. A.           Simpulan

 

Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Pelabelan atas stereotip yang ada dalam masyarakat atas pemaknaan “cantik” membuat banyak perempuan yang tidak masuk dalam kriteria stereotip tersebut justru malah membuat masalah baru.

Perempuan yang dalam upaya pemenuhannya mengalami banyak kegagalan dan hambatan merasa terbebani atas stereotip ini. Perempuan menjadi korban atas beban gender dalam stereotip yang menempel dalam “kecantikan” perempuan. Tere Liye menggambarkan betapa perempuan yang menjadi korban beban tersebut justru mengalami hidup yang tidak nyaman. Hal inilah yang menjadi sorotan oleh Tere Liye hingga di akhir cerita, ia berusaha menanamkan pesan bahwa stereotip tersebut tidak serta merta harus dipenuhi oleh perempuan karena sejatinya ada “kecantikan” yang lebih hakiki dan penting yang tidak menjadi stereotip oleh masyarakat yang justru harus dipenuhi, yaitu kecantikan hati.

 

  1. B.            Saran

 

Buku ini patut untuk dibaca karena memuat berbagai perspektif gender yang tertuang dalam berbagai cerita yang ada dalam kehidupan percintaan sehari-hari. Kehidupan percintaan menjadi topik utama dalam cerita yang tertuang dalam buku Berjuta Rasanya. Berbagai permasalahan tentang gender, mulai dari stereotip, marjinalisasi, atau kekerasan diungkap dalam kehidupan cinta. Namun akan lebih baik lagi jika buku ini tidak hanya membahas gender dalam kehidupan percintaan saja, tetapi juga aspek lain terutama aspek kehidupan baik, sosial maupun individu.

 

Daftar Pustaka

 

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional

Keraf, Gorys. 2003.  Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa Indonesia. Jakarta : Nusa Indah

Liye, Tere. 2012. Berjuta Rasanya. Jakarta : Mahaka Publishing

Murniati, A. Nunik. 2004. Getar Gender. Magelang: Yayasan Indonesiatera

Sadli, Saparinah. 2010. Berbeda tetapi Setara. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

Tim Penyusun. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Utorodewo, Felicia N, dkk. 2010.  Bahasa Indonesia  Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. Jakarta : Badan Penerbit FK UI

 

Read Full Post »