Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus 9th, 2013

Oleh Erin Nuzulia Istiqomah, 1006699215

 

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek kodikologi yang diuraikan dalam seminar hasil penelitian oleh Yanasa. Kodikologi adalah  ilmu kodeks. Kodeks adalah bahan tulisan tangan atau menurut The New Oxford Dictionary (1928) : Manuscript volume, esp of ancient text ‘gulungan atau buku tulisan tangan dari teks-teks naskah klasik’. Kodikologi mempelajari seluk beluk atau semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Baried, 1994 : 56). Berdasarkan hal tersebut, saya dapat menemukan aspek kodikologi yang dipaparkan kelima pembicara dalam hasil penelitian tersebut.

Bapak Syahrial, M.Hum yang mengkaji tentang “Syair Ken Tambuhan Versi M.Bakir dan Klinkert” menjabarkan bahwa aspek kodikologi yang terdapat dalam hasil penelitiannya antara lain adalah adanya sebelas versi yang ditemukan, Syair Ken Tambuhan versi M. Bakir adalah dua genersi, sedangkan versi Klinkert tiga generasi, dan nomor Katalogus Syair Ken Tambuhan versi M. Bakir adalah ML 247 dan versi Klinkert adalah ML 718.

Ibu Prisilia F. Limbong yang mengkaji tentang ”Konsep Sufisme dalam Naskah Fath- Ar-Rahman”  mengemukakan bahwa aspek kodikologi yang terdapat dalam hasil kajiannya adalah belum adanya edisi teks dari Naskah Fath- Ar-Rahman (bahasa arabnya terlalu banyak, berhubungan dengan konsep sufisme), naskah tersebut bukanlah naskah tunggal, terdapat beberapa varian, berbentuk tembang narasi prosa, dan terkenal pada abad ke 17-19.

“Sir Akhsaf” merupakan salah satu hasil kajian dalam penelitian tersebut. Dalam naskah “Sir Akhsaf” ditemukan aspek kodikologi berupa naskah tersebut terdiri dari empat naskah yang terbagi menjadi : dua naskah bertempat di Perpustakaan nasional Indonesia, dan dua naskah lainnya terdapat di Leiden. Naskah ini diperkirakan ditemukan pada abad ke-17.

Bapak Ali Akbar yang meneliti tentang kaligrafi dalam Al Quran Kuno mengemukakan aspek kodikologi dalam penelitiannya berupa adanya 63 Quran yang ada dan dipilih 11 Quran untuk penelitian, terdapat empat jenis kaligrafi dalam Quran (Kaligrafi teks/ nash Quran, Kaligrafi nama-nama surat, Kaligrafi teks pias/ juz, hizb, nisf yang terdapat di pinggir naskah, dan Kaligrafi yang terdapat dalam doa-doa sebelum atau setelah teks), Ragam kaligrafi yang dipakai disesuaikan dengan fungsinya dalam bagian Quran, dan nomor katalogus naskah antara lain : A.47 ( Melayu), A.49 (Ternate), A.50 (Banten, kertas emas), Surat dari india, A.51 a-e (Banten), A.52 a-k (banten), A.53 a-k (Banten), A.54 (Banten), A. 694 (Aceh), dan Br 04 (Aceh).

Ibu Zuriati yang memaparkan hasil tesisnya tentang “Pengaruh Tasawuf dann Dinamika Hukum Adat di Bawah Pengaruh Hukum Islam”, aspek kodikologinya berupa adanya 83 naskah yang tersimpan di 5 negara, 21 dari naskah tersebut tersimpan di PNRI, kertas yang digunakan adalah kertas Eropa, nomor katalogusnya ML. 428, dan naskah tersebut menggunakan aksara Jawi (Melayu Minangkabau).

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek kodikologi hasil penelitian yang telah dilaksanakan hampir tujuh tahun lalu ini adalah hampir semua naskah bukan merupakan naskah tunggal karena memiliki beberapa varian, dan naskah-naskah tersebut tersebar tak hanya disimpan di Indonesia.


[1] Rabu, 29 Februari  2012, Ruang 4101 FIB UI

Iklan

Read Full Post »