Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus 10th, 2013

Oleh Erin Nuzulia, Shiro Matsugata, Inayatillah, dan Wulansari

Mengenai perbedaan wacana, teks, dan kalimat, Lyons membedakan “system- sentence” dengan “text-sentence”. System-sentence adalah kalimat sebagai satuan dalam kategori sintaksis, sedangkan text-sentence adalah kalimat sebagai kategori semantis. Untuk memahami perbedaan ini, diberi contoh kalimat ;

(1) Amin makan nasi                           (2) Makan                                (3) Nasi

Dari sudut sintaksis, proses analisis contoh (1) dapat ditinjau berdasarkan kedudukan dari setiap kata yang meliputi subjek, predikat, atau objek. Bentuk ini dapat terterima sebagai sebuah kalimat lengkap. Sementara itu, contoh (2) dan (3) tidak dapat disebut kalimat karena tidak memenuhi persyaratan tersebut.

Namun, dari sudut semantis kalimat (1), (2), dan (3) dapat disebut sebagai  “text-sentence” karena kegiatan ujaran tersebut terikat dengan konteks dan situasi tertentu. Misalnya, contoh (1) diujarkan dalam kaitan dengan konteks pertanyaan “Kenapa Amin tidak sarapan?” yang merujuk pada situasi : di meja makan hanya terhidang sayuran, bukan nasi. Sementara itu, kalimat (2) dan (3) juga dapat dihubungkan dengan pertanyaan yang sesuai dengan konteks dan keadaan pada saat tuturan itu berlangsung.

Tata Bahasa dan Tata Wacana

            Hoed menjelaskan bahwa kalimat merupakan satuan gramatikal, sedangkan wacana merupakan satuan semantis. Dalam hal ini, Hoed mengaitkan perbedaan antara kalimat dan wacana dengan konsep langue dan parole yang diajukan oleh de Saussure. Langue adalah aspek abstraksi suatu bahasa yang berada di tingkatan sosial dan budaya, sedangkan parole adalah aspek perwujudan suatu bahasa.

Dikotomi ini digunakan oleh Hoed untuk memisahkan pengertian wacana dari teks. Dalam hal ini, Hoed mengutip pernyataan van Dijk yang menganggap wacana sebagai suatu bentuk teoritis yang abstrak dan belum dapat dilihat sebagai perwujudan fisik suatu bahasa (1977: 3). Oleh karena itu, kedudukan wacana dapat ditempatkan setingkat dengan langue, seperti halnya tata bahasa sehingga belum dapat dilihat sebagai perwujudan fisik bahasa. Wacana berada pada tingkat langue seperti tata bahasa. Tata bahasa adalah suatu sistem yang mengatur hubungan antara bentuk dan makna, sedangkan tata wacana adalah suatu sistem yang mengatur hubungan antara ujaran dan lingkungannya.

Pada tataran langue, ada dua jenis sistem. Sistem yang pertama adalah tata bahasa yang mengatur kalimat. Sistem yang kedua adalah tata wacana yang mengatur hubungan semantis antara juaran dengan lingkungannya.

Kerangka Acuan Wacana

Menurut van Dijk, makna sebuah ujaran yang kita sebut wacana dikaji dalam kaitan dengan unsur-unsur di luar dirinya. Seperti ujaran Kanan, yang akan dipahami maknanya jika dikaitkan dengan kerangka acuan. Kerangka acuan merupakan situasi. Ujaran kanan jika diucapkan di dalam mobil oleh seseorang kepada yang menyetir mobil, mengandung makna ‘berbeloklah ke kanan’. Wacana bukan ujaran itu sendiri secara fisik, tetapi bangun teoritis yang membentuk hubungan antara semantik leksem kanan dengan seluruh kerangka acuan itu.

Dua ujaran di dalam sebuah wacana tidak harus memiliki hubungan makna, sejauh kedua ujaran tersebut membentuk perkaitan semantis (sistem, hubungan paradigmatis atau asosiatif) dengan kerangka acuannya. Sedangkan urutan proposisinya disebut struktrur. Kalimat dan wacana terletak dalam tataran langue. Kalimat dikaji tanpa kerangka acuan dan memperlihatkan hubungan semantis antara proposisi-proposisi atau komponen semantis yang lebih kecil. Wacana adalah bangun teoritis yang memperlihatkan hubungan semantis antara satu proposisi atau sejumlah proposisi dan kerangka acuannya. Wacana bersifat terbuka.

Teks termasuk dalam tataran parole. Wacana dan teks memiliki perbedaan yang dapat dilihat dengan dua tataran analisis. Tataran pertama yaitu langue yang di dalamnya termasuk wacana sebagai suatu bangun teoritis. Kedua adalah tatarang parole yang di dalamnya termasuk teks. Teks merupakan perwujudan wacana dan sejajar dengan kalimat karena memiliki sistem dan struktur. Perbedaannya, kalimat merupakan ujaran sebagai produk sehingga tertutup, sedangkan teks merupakan ujaran sebagai proses sehingga terbuka. Teks terdapat dalam proses komunikasi, sedangkan kalimat tidak.

Sistem dan Struktur Wacana

            Hoed mempermudah pengertian sistem dan struktur dalam wacana dengan menggunakan piramida terbalik. Ia memulainya dengan sistem dan struktur yang terdapat dalam wacana berita.

Untitled

Hubungan antarkomponen alur tersebut membentuk sistem, sedangkan urutan komponen-komponen tersebut membentuk struktur. Bangun teoretis teretis tersebutlah yang kita kenal sebagai wacana.

Kohesi dan Koherensi

Kohesi terdapat dalam teks yang memiliki lebih dari satu ujaran. Pada tataran teks, kohesi merupakan kaitan semantik antara satu ujaran dengan ujaran lainnya di dalam teks tersebut. Sementara itu, pada tataran wacana, kohesi adalah keterkaitan semantik antara satu proposisi dan proposisi lainnya dalam wacana itu. Dalam tataran teks, alat kohesi dapat berupa unsur gramatikal atau leksikal, misalnya penggunaan kata ganti, kata tunjuk,  kata sambung, dan kata yang diulang-ulang.

Pada tataran wacana kohesi berarti koherensi, yaitu kepaduan semantik antara proposisi yang satu dengan proposisi lainnya. Kepaduan tersebut dapat terjadi jika terdapat kesesuaian dengan kerangka acuan sehingga apabila penutur dan mitra tutur tidak memiliki kerangka acuan yang sama, penafsiran mereka terhadap suatu wacana akan berbeda. Kerangka acuan tersebut merupakan konteks atau pengetahuan antara penutur dan mitra tutur. Jadi, koherensi atau kepaduan wacana bisa saja terjadi tanpa alat kohesi asalkan penutur dan mitra tutur memiliki kerangka acuan yang sama.

 

 

 

 

 

Read Full Post »