Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Acara’ Category

Oleh Erin Nuzulia Istiqomah, 1006699215

 

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek kodikologi yang diuraikan dalam seminar hasil penelitian oleh Yanasa. Kodikologi adalah  ilmu kodeks. Kodeks adalah bahan tulisan tangan atau menurut The New Oxford Dictionary (1928) : Manuscript volume, esp of ancient text ‘gulungan atau buku tulisan tangan dari teks-teks naskah klasik’. Kodikologi mempelajari seluk beluk atau semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Baried, 1994 : 56). Berdasarkan hal tersebut, saya dapat menemukan aspek kodikologi yang dipaparkan kelima pembicara dalam hasil penelitian tersebut.

Bapak Syahrial, M.Hum yang mengkaji tentang “Syair Ken Tambuhan Versi M.Bakir dan Klinkert” menjabarkan bahwa aspek kodikologi yang terdapat dalam hasil penelitiannya antara lain adalah adanya sebelas versi yang ditemukan, Syair Ken Tambuhan versi M. Bakir adalah dua genersi, sedangkan versi Klinkert tiga generasi, dan nomor Katalogus Syair Ken Tambuhan versi M. Bakir adalah ML 247 dan versi Klinkert adalah ML 718.

Ibu Prisilia F. Limbong yang mengkaji tentang ”Konsep Sufisme dalam Naskah Fath- Ar-Rahman”  mengemukakan bahwa aspek kodikologi yang terdapat dalam hasil kajiannya adalah belum adanya edisi teks dari Naskah Fath- Ar-Rahman (bahasa arabnya terlalu banyak, berhubungan dengan konsep sufisme), naskah tersebut bukanlah naskah tunggal, terdapat beberapa varian, berbentuk tembang narasi prosa, dan terkenal pada abad ke 17-19.

“Sir Akhsaf” merupakan salah satu hasil kajian dalam penelitian tersebut. Dalam naskah “Sir Akhsaf” ditemukan aspek kodikologi berupa naskah tersebut terdiri dari empat naskah yang terbagi menjadi : dua naskah bertempat di Perpustakaan nasional Indonesia, dan dua naskah lainnya terdapat di Leiden. Naskah ini diperkirakan ditemukan pada abad ke-17.

Bapak Ali Akbar yang meneliti tentang kaligrafi dalam Al Quran Kuno mengemukakan aspek kodikologi dalam penelitiannya berupa adanya 63 Quran yang ada dan dipilih 11 Quran untuk penelitian, terdapat empat jenis kaligrafi dalam Quran (Kaligrafi teks/ nash Quran, Kaligrafi nama-nama surat, Kaligrafi teks pias/ juz, hizb, nisf yang terdapat di pinggir naskah, dan Kaligrafi yang terdapat dalam doa-doa sebelum atau setelah teks), Ragam kaligrafi yang dipakai disesuaikan dengan fungsinya dalam bagian Quran, dan nomor katalogus naskah antara lain : A.47 ( Melayu), A.49 (Ternate), A.50 (Banten, kertas emas), Surat dari india, A.51 a-e (Banten), A.52 a-k (banten), A.53 a-k (Banten), A.54 (Banten), A. 694 (Aceh), dan Br 04 (Aceh).

Ibu Zuriati yang memaparkan hasil tesisnya tentang “Pengaruh Tasawuf dann Dinamika Hukum Adat di Bawah Pengaruh Hukum Islam”, aspek kodikologinya berupa adanya 83 naskah yang tersimpan di 5 negara, 21 dari naskah tersebut tersimpan di PNRI, kertas yang digunakan adalah kertas Eropa, nomor katalogusnya ML. 428, dan naskah tersebut menggunakan aksara Jawi (Melayu Minangkabau).

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek kodikologi hasil penelitian yang telah dilaksanakan hampir tujuh tahun lalu ini adalah hampir semua naskah bukan merupakan naskah tunggal karena memiliki beberapa varian, dan naskah-naskah tersebut tersebar tak hanya disimpan di Indonesia.


[1] Rabu, 29 Februari  2012, Ruang 4101 FIB UI

Iklan

Read Full Post »

Erin Nuzulia Istiqomah

Senin (2013/3/12) lalu, bertempat di Auditorim Gedung 1 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, diadakan salah satu acara yang masuk dalam rangkaian acara dies natalis FIB UI di hari jadinya yang ke-72. Adapun acara tersebut adalah Forum Budaya “Menggali Potensi Budaya Bumi Sriwijaya” dan Penghargaan Kebudayaan. Acara ini mendapat sambutan yang luar biasa dari sivitas akademika FIB UI, terlihat dari ramainya pengunjung yang hadir dan tidak mendapatkan tempat duduk. (lebih…)

Read Full Post »

Sejatinya sebagai sebuah bangsa, Indonesia memiliki identitas yang membedakan dari bangsa lainnya. Kebudayaan dan kesenian Indonesia menjadi salah satu wujud kekhasan identitas Indonesia serta menjadi harga diri bangsa yang tidak ternilai. Akan tetapi, di usianya yang menginjak 64 tahun, Indonesia semakin merasa kehilangan dan semakin memiliki jarak yang jauh dari kebudayaannya sendiri. Perputaran roda globalisasi demikian kencang menggerus jati diri bangsa di balik tabir bernama modernisasi. Sebagai sebuah bangsa yang tidak lagi hidup di bawah cengkraman penjajah, seyogianya budaya bangsa dikembangkan dalam rangka mengisi kemerdekaan dalam memperteguh eksistensi bangsa. Ironisnya, Bangsa Indonesia seakan tidak peduli dan membiarkan budayanya berjalan apa adanya tanpa arah dan tujuan. Bangsa ini seolah menutup mata dan telinga dari realita pahit yang melilit. Kita enggan beranjak dari zona nyaman yang membuai hidup kita selama ini.

Proses paling awal dalam membenarkan kepemilikan suatu kebudayaan adalah memahami dan mengenal kebudayaan itu sendiri. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”, mustahil rasanya kita sudi untuk mengkaji, mengembangkan, atau mempublikasikan hasil kebudayaan kita jika kenal pun tidak. Mahasiswa yang dianggap sebagai motor penggerak intelektual sudah seharusnya memberikan kontribusi nyata dalam menyelamatkan budaya sebagai tonggak identitas dan peradaban bangsa. Menyelenggarakan pementasan kesenian tradisional daerah, lomba masak khas nusantara, dan lomba modifikasi pakaian tradisional adalah salah satu bentuk konkret dalam membuka pemahaman mahasiswa dan masyarakat akan pentingnya budaya.  Tidak ada waktu untuk menunda, terlebih berleha-leha dan terlena begitu saja dengan fasilitas dan kemudahan hidup yang tersedia di depan mata. Budaya kita dalam bahaya, dan dapat “diambil” oleh siapa pun kapan saja.

Oleh karena itu, Departemen Kesenian dan Olahraga Ikatan Keluarga Sastra Indonesia FIB UI 2009 sebagai departemen yang salah satunya memfokuskan diri pada hal-hal yang berkenaan dengan kesenian dan budaya merasa bertanggung jawab untuk bergerak dan melaju dalam menyelamatkan budaya bangsa ini. Diperlukan langkah jelas dalam menyelami budaya bangsa sehingga kami berinisiatif menyelenggarakan Indonesia Tebar Pesona 2010 sebagai manifestasi atas akumulasi kesadaran untuk mencintai Indonesia melalui keragaman budaya.

Acara ini bernama Indonesia Tebar Pesona 2010 dengan tema “Kreativitas Mempertahankan Budaya Bangsa di Era Global” yang dilaksanakan pada Kamis dan Jumat/ 22 dan 23 April 2010 di plaza Gedung IX FIB UI,

GRATIIISSSS..!!!

Jadwal Acaranya sebagai berikut:

Kamis

13.30-13.45 Pembukaan

14.00-14.20 Trassic Perkusi

14.20-15.20 Lomba masak

15.30-16.00 Paguyuban Jambi Lampung

16.00-16.10 Pengumuman Pemenang Lomba

Jumat

14.00-14.15 Rampak bedug

14.15-14.30 Paguyuban Purworejo

14.30-15.30 Wayang Petruk

15.30-16.15 Pementasan akustikan

16.15-16.30 Rumah Kardus

16.30-16.45 Sasina (Musikalisasi Puisi Sastra Indonesia)

16.45-17.00 Penutupan


Mungkin ada beberapa budaya Indonesia yang baru temen-temen dengar?? Itulah bangsa kita yang sangat kaya, kawan!!

😀

Read Full Post »

Seni adalah bagian dari kehidupan berbudaya. Dengan demikian sangat dibutuhkan suatu ruang untuk mengapresiasi dan menampilkan kesenian itu sendiri. Di Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya UI , sudah selayaknya memberikan ruang dan waktu untuk mengapresiasiakn suatu seni bagi civitatas akademika.

*Melukis Berantai @PLaza Gedung 9 FIB UI Depok

27-28 Oktober 2009

13.00-17.00 WIB

*Pameran Seni Rupa “Mengintip Ruang”@lobi Gedung 9 FIB UI Depok

29-30 Oktober 2009

13.00-17.00 WIB

*Opening @Auditorium Gedung 9 FIB UI Depok

29 Oktober 2009 13.00 – Selesai –

Tari Jaipong -Puisi Narasi -ION -Teater ZAT – Seminar “Perkembangan Seni Rupa di Indonesia”

*Diskusi “video Art: for Biginners” – Mirwan Andan – Ade Darmawan

@Lobi Gd. 9 FIB UI Depok

30 OKtober 2009 14.00 – selesai

Read Full Post »