Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Berita Bahasa’ Category

 

                                                            Erin Nuzulia Istiqomah

                                                            1006699215

                                                            Penyuntingan

                                                            Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

                                                            Universitas Indonesia

 

Di Indonesia, perkembangan bahasa terjadi dengan cukup cepat, mengingat Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah serta bahasa persatuan yang kesemuanya mengalami berbagai dinamika kebahasaan. Masing-masing bahasa tersebut memiliki strategi dalam menghadapi terjangan bahasa asing maupun bentuk perkembangan bahasa lainnya. Hal ini dilakukan dalam upaya mempertahankan eksistensi bahasa tersebut atau upaya menghindari kepunahan bahasa yang saat ini marak terjadi.

Masyarakat bahasa, terutama yang berada di masyarakat perkotaan akan semakin mudah menerima berbagai unsur yang masuk dalam mempengaruhi perkembangan bahasa. Masyarakat bahasa yang berada di perkotaan merupakan sekumpulan masyarakat yang berasal dari berbagai etnis suku bangsa, latar belakang sosial, serta mata pencaharian yang berbeda. Pada masyarakat bahasa, terdapat sikap bahasa yang dimiliki oleh masyarakat bahasa dalam menyikapi kebahasaan mereka. Sikap bahasa ini juga sewajarnya dimiliki oleh masyarakat kota yang juga merupakan masyarakat bahasa dalam kehidupan berbahasa.

Sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenal bahasa, mengenai objek bahasa, yang memberikan kecendrungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya (Anderson, dalam Chaer, 1995:151). Sikap bahasa itu bisa positif jika dinilai disukai atau bisa negatif jika tidak disukai. Sikap bahasa inilah yang digunakan masyarakat dalam menyikapi berbagai fenomena kebahasaan yang dewasa ini begitu banyak terjadi di masyarakat Indonesia.

Fenomena kebahasaan yang kini begitu booming terjadi adalah maraknya penggunaan kata-kata gaul oleh remaja Indonesia, khususnya remaja perkotaan di kehidupan sehari-harinya. Adapun penggunaan bahasa gaul yang saat ini marak digunakan oleh remaja, baik yang masih duduk di bangku sekolah atau bahkan yang tidak mengenyam pendidikan adalah bahasa-bahasa gaul yang sejatinya diperkenalkan oleh media massa elektronik seperti iklan di televisi, sinetron khusus remaja, atau bahkan bahasa yang digunakan oleh selebritis di infotainment.

Menurut Sahertian (1990), bahasa gaul sendiri sudah terkenal di Indonesia pada akhir 1980-an. Awalnya istilah dalam bahasa gaul itu adalah untuk merahasiakan isi obrolan atau pembicaraan dalam komunitas tertentu, namun karena sering juga digunakan di luar komunitas mereka, lama-lama istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari. Bahasa gaul awalnya digunakan oleh para preman yang kehidupanya dekat dengan kekerasan, narkoba, dan minuman keras. Istilah-istilah baru, mereka ciptakan agar orang- orang di luar komunitas mereka tidak mengerti. Penggunaan bahasa gaul mulai ramai digunakan setelah Debby Sahertian menerbitkan kamus yang berjudul Kamus Bahasa Gaul.

Kosakata bahasa gaul di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Bahasa gaul berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasa gaul, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain.

Kata-kata yang merujuk pada bahasa gaul yang booming pada saat ini seperti ciyus ‘serius’, miapah ‘demi apa’, dan enelan ‘beneran’. Sepintas, kata-kata seperti itu terkesan lumrah terdengar sehari-hari. Penggunaannya marak digunakan oleh berbagai kalangan khususnya para remaja. Banyak yang menganggap jika penggunaan kata-kata tersebut dianggap wajar dan lucu atau bahkan mencirikan identitas dari sekelompok masyarakat bahasa tertentu.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah identitas.  Identitas terbagi menjadi dua, yaitu identitas personal dan identitas sosial. Identitas personal menurut William James, dalam Walgito (2003:97) merupakan skema yang berisi kumpulan keyakinan dan perasaan mengenai diri sendiri yang terorganisasi. Konsep ini merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dan kemudian akan mempengaruhi perilakunya sehari-hari.  Pembentukan identitas personal dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain.  Identitas sosial adalah pribadi yang terlibat dalam interaksi sosial (James, dalam Walgito, 2003:98).  Dalam hal ini, seseorang tidak dilihat sebagai satu individu, tetapi merupakan bagian dari suatu kelompok sosial tertentu atau disebut juga depersonalisasi.  Identitas seseorang, baik personal maupun sosial, akan sangat mempengaruhi penggunaan bahasanya.

Maraknya penggunaan kata-kata gaul tersebut dalam kehidupan remaja dianggap mencirikan sebuah kelompok tertentu yang bangga akan eksistensi identitas kelompok tersebut. Identitas sosial yang terkandung dalam penggunaan kata-kata gaul tersebut sangat mempengaruhi penggunaan bahasa dari seorang individu, terutama remaja,  sehingga penggunaan kata-kata gaul tersebut kian eksis dalam jangka waktu tertentu. Adapun penilaian ini didasarkan pada sikap masyarakat bahasa khususnya masyarakat kota yang memiliki sikap bahasa negatif atas kata-kata yang mereka gunakan.

Penggunaan kata-kata tersebut pada masa kini tak lagi diucapkan pada kelompok tutur sebaya, namun terkadang remaja saat ini dengan tidak sadar ataupun tidak sengaja melakukan tindak tutur dengan menggunakan bahasa tersebut kepada orang yang lebih tua. Unsur-unsur atau pihak-pihak yang terlibat dalam tindak tutur itu sama sekali tidak dihiraukan dalam tindak bahasanya. Hal ini amat mengkhawatirkan. Hanya dari kesalahan penggunaan bahasa, bisa menimbulkan banyak kesalahan persepsi yang menyebabkan berbagai gesekan yang timbul dalam masyarakat. Hal inilah yang menimbulkan masyarakat bahasa cenderung bersikap negatif atas penggunaan kata-kata gaul tersebut.

Tidak hanya itu, penggunaan kata-kata tersebut cukup mengkhawatirkan bagi masyarakat Indonesia. Mengingat pengaplikasian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan belum terkondisikan dengan cukup baik. Penggunaan bahasa Indonesia masih harus diperhatikan lebih lanjut karena posisinya yang juga bersaing dengan penggunaan bahasa daerah maupun bahasa asing yang masuk di wilayah Indonesia.

Kata-kata gaul yang digunakan oleh para remaja dianggap mampu mengganggu stabilitas penggunaan bahasa Indonesia. Remaja yang merupakan agen pembawa keberlangsungan bahasa Indonesia harus berjuang lebih keras dalam upaya mempertahankan bahasa persatuannya dari berbagai pengaruh yang cenderung negatif tersebut. Oleh karena itu, remaja Indonesia diharapkan mampu memberikan usaha terbaiknya dalam mempertahankan keberlangsungan bahasa Indonesia yang baik, tanpa menghilangkan identitas  kebahasaan sehingga remaja Indonesia tidak mudah terpapar oleh pengaruh-pengaruh negatif dalam hal kebahasaan tersebut.

Iklan

Read Full Post »

           Erin Nuzulia Istiqomah, 1006699215

Khairani, 100

Luthfiana, 100

Suci Indriyani, 1006699644

            Terdapat dua hal penting untuk melihat bagaimana bahasa Austronesia di daratan Asia dan Madagaskar. Pertama, letak geografis, memberi label (nama) terhadap bahasa-bahasa yang belum diinvestigasi sebelumnya merupakan tindakan yang tidak mudah. Bahasa Austronesia di luar Asia dan Madagaskar sulit untuk diidentifikasi karena belum pernah diteliti sebelumnya. Sebagai alternatif, para ahli menggunakan bahasa ekspresi Austronesia Barat sebagai bahan kajian penelitian karena menunjukkan adanya korelasi.
(lebih…)

Read Full Post »

Deadline: 25 November 2009

Redifinisi Identitas Indonesia Melalui Kajian Budaya

“Sebuah bangsa adalah komunitas yang dibayangkan” (Benedict Anderson)

Bagaimana kita membayangkan Indonesia? Konon, benih-benih nation bernama Indonesia lahir ketika para pemuda yang hidup di berbagai daerah koloni bersumpah untuk hidup sebagai satu kelompok yang utuh dan tidak bersekat-sekat. Mereka berjanji untuk “menihilkan” identitas primordial mereka demi sebuah cita-cita yang lebih besar dan lebih luhur. Namun, di era kemerdekaan ini, mutlak dibutuhkan pemaknaan identitas sebuah bangsa majemuk yang bukan hanya sekedar consensus masyarakat. “Indonesia” tidak bisa dengan mudah kita definisikan dengan menunjuk suatu entitas tertentu, karena pada akhirnya “Indonesia” adalah peleburan berbagai macam komponen multietnis pada dirinya sendiri.

Jika kita mendefinisikan identitas sebagai representasi diri yang membuat seseorang atau kelompok dikenal sebagai entitas sosial-budaya, maka setiap upaya redifinisi identitas Indonesia adalah sebuah upaya yang tak mengenal kata akhir. Menyadari hal tersebut, penting bagi kita untuk terus-menerus merumuskan kembali apa itu “Indonesia”. Tapi, adakah satu rumusan yang paling tepat? Bukankah setiap rumusan orang atas “Indonesia” pada akhirnya bermacam-macam dan bahkan saling bertentangan satu sama lain?

Di sini peran culture studies menjadi penting. Melalui kajian budaya kita bisa memperdebatkan wacana identitas bangsa melalui perspektif yang dinamis dengan menunjukkan signifikansi sosial dan kultural identitas itu sendiri. Telusur kekayaan budaya local dalam rangka penemuan unsur “keindonesiaan”, dapat dijadikan sebuah cara perumusan benang merah penjalin identitas tiap elemen bangsa. Dengan kata lain, proses konstruksi identitas bangsa melalui kajian budaya adalah sebuah arena pergulatan banyak pihak dalam upaya memberikan aksentuasi masing-masing ke dalam ruang kosong bernama “Indonesia”.

Departemen Kajian Budaya BEM FIB UI mengajak anda untuk ikut serta berkontribusi dalam penyusunan jurnal mahasiswa yang diberi nama “Kohesi” Volume pertama. Sebagai wadah para intelektual muda untuk memberikan aksentuasi dalam proses pemaknaan “Indonesia” melalui perspektif kajian budaya. Tuliskan gagasan anda dalam bentuk makalah ilmiah dengan ketentuan sebagai berikut:

Prasyarat
1. Warga negara Indonesia.
2. Mahasiswa aktif program sarjana strata satu atau S1.

Ketentuan
1. Paper merupakan hasil tulisan individu bukan kelompok.
2. Tema: “Redifinisi Identitas Indonesia Melalui Kajian Budaya”.
3. Panjang makalah 8 – 12 halaman A4, spasi 1.5, jenis huruf Times New Roman ukuran font 12. Tuliskan abstrak dan kata kunci pada awal makalah.
4. Makalah dikirim dalam bentuk softcopy berformat ms word (.doc atau .rtf) ke alamat e-mail redaksi@kohesi.org
5. Sertakan pula curriculum Vitae (CV) penulis yang minimal berisi:
– Nama lengkap.
– Tempat tanggal lahir.
– Alamat rumah.
– Nomor pokok mahasiswa (NPM).
– Nomor telp/handphone.
– Jurusan dan asal universitas.
– Daftar tulisan ilmiah yang pernah dibuat.
6. CV dan makalah ilmiah dibuat dalam dua file berbeda yang disertakan sebagai attachment e-mail.
7. Dikirim paling lambat tanggal 25 November 2009 pukul 24:00 WIB.

Setiap makalah yang lolos proses penyuntingan oleh dewan redaksi akan diterbitkan pada Jurnal Kohesi volume 1 yang akan diluncurkan pada tanggal 8 Desember 2009 bersamaan dengan seminar nasional Rescuing Our Culture di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia.

Jurnal ini akan dicetak dalam bentuk buku dan didistribusikan ke contributor, perpustakaan, BEM di beberapa universitas luar UI, dan lembaga-lembaga keilmuan tertentu secara gratis. Selain itu, tulisan yang lolos seleksi akan dipublikasikan pula dalam situs resmi Jurnal di http://www.kohesi.org

Apresiasi

12 orang contributor yang tulisannya dicetak dalam format jurnal ilmiah akan diundang dalam acara seminar nasional rescuing our culture tanggal 8 Desember 2009 di kampus FIB UI Depok. Apresiasi berupa piagam penghargaan dan hadiah uang kepada tiga tulisan terbaik.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan gunakan fasilitas forum diskusi di situs http://www.kohesi.org/forum atau hubungi saudara Dimas di:
– 081519950517 (telpon dan sms)
– 021 23745370 (telepon saja).

Mari para intelektual muda, berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia dalam Jurnal Kohesi “Menalar budaya, Menarik makna”.

Salam budaya,

Dimas Prasetyo Muharam
Mahasiswa Prodi Inggris 2007
(Pemimpin Redaksi)

Sumber: http://www.kohesi.org

Read Full Post »

Selasa, 9 September 2008 | 22:34 WIB

SEMARANG, SELASA–Bahasa Indonesia yang telah menjadi jatidiri bangsa Indonesia telah mengalami banyak perubahan. “Seiring dengan berjalannya peradaban yang terus bergerak menuju arus globalisasi, bahasa Indonesia dihadapkan pada persoalan yang semakin rumit dan kompleks. Dalam hakikatnya sebagai bahasa komunikasi, bahasa Indonesia dituntut untuk bersikap luwes dan terbuka terhadap pengaruh asing.” kata Tommi Yuniawan, S.Pd, M.Hum, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Selasa.

Ia menambahkan, dalam kedudukannya sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia harus tetap mampu menunjukkan jatidirinya di tengah-tengah pergaulan antarbangsa di dunia.

Akan tetapi saat ini bahasa Indonesia telah mengalami banyak perubahan, terutama dalam wacana lisan. Banyak para penutur yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan cenderung bebas, katanya.

Keluhan tentang rendahnya mutu pemakaian bahasa Indonesia sudah lama terdengar. Ironisnya, belum juga ada kemauan baik untuk menggunakan sekaligus meningkatkan mutu berbahasa. “Tidak sedikit kita mendengar bahasa yang digunakan oleh para pejabat cenderung rancu dan pemilihan kosakata nya juga payah sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam penafsiran,” katanya menjelaskan.

Yang lebih mencemaskan, katanya, “kita masih terlalu mengagungkan nilai-nilai modern sehingga merasa lebih terhormat dan terpelajar jika dalam bertutur menyelipkan istilah asing.”

Kaidah-kaidah kebahasaan yang telah diluncurkan oleh Pusat Bahasa, seperti Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), atau Pedoman Umum Pembentukan Istilah Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang diharapkan menjadi acuan normatif masyarakat dalam berbahasa, tampaknya tidak pernah mendapat perhatian dari masyarakat.

Persoalan kebahasaan seolah-olah hanya menjadi urusan para ahli bahasa, pemerhati, dan peminat masalah kebahasaan. Sementara masyarakat menganggap bahwa kaidah bahasa hanya akan membuat suasana komunikasi menjadi kaku dan tidak komunikatif.

Sementara itu, Surati seorang guru SD di Batang mengatakan, bahasa akan terbina dengan baik apabila sejak dini anak-anak dilatih dan dibina secara serius dan intensif. Dan seharusnya kurikulum yang ada di sekolah dasar perlu dilakukan pembenahan.

Ia juga menyayangkan, selama ini pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah hanya menjadi semacam syarat. Murid tidak memahami secara mendalam tentang tata cara dalam berbahasa yang sesungguhnya. Yang mereka coba raih hanyalah nilai yang bagus, karena mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang menjadi syarat kelulusan.

Hal semacam ini harus segera dibenahi, terutama menuntut perhatian yang serius dari Pemerintah dan juga dari pihak sekolah selaku pelaksana formal. Dengan mencanangkan kurikulum yang dapat merangsang minat pelajar untuk serius dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Peran media televisi yang demikian akrab dengan dunia anak juga sangat penting, yaitu harus mampu memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik, bukan malah melakukan ?perusakan? bahasa melalui ejaan, kosakata, maupun tata bahasa seperti yang banyak kita saksikan selama ini, kata Tommi.

Dengan begitu bahasa Indonesia bukan hanya menjadi kepentingan beberapa pihak saja, tetapi juga menjadi kepentingan semua pihak dengan tetap menjadikan bahasa Indonesia sebagai jatidiri bangsa yang berbudaya.

Apalagi bahasa Indonesia merupakan bagian panjang dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, dan mempunyai peranan besar terhadap bangsa ini, baik di masa penjajahan, masa kemerdekaan, maupun masa sekarang.

Bahasa Indonesia memiliki keindahan yang tidak jauh kalahnya dengan bahasa-bahasa lainnya di dunia. Bahasa Indonesia memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada sejarah Republik Indonesia itu sendiri.

Bahasa Indonesia muncul karena tekad pemuda yang kuat dalam mempersatukan bangsa, dan bahasa ini juga mampu menyatukan sekaligus membuat bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya, katanya.(ANT)

Read Full Post »

Ini merupakan salinan dari http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/09/22344886/bahasa.indonesia.berubah

SEMARANG, SELASA–Bahasa Indonesia yang telah menjadi jatidiri bangsa Indonesia telah mengalami banyak perubahan. “Seiring dengan berjalannya peradaban yang terus bergerak menuju arus globalisasi, bahasa Indonesia dihadapkan pada persoalan yang semakin rumit dan kompleks. Dalam hakikatnya sebagai bahasa komunikasi, bahasa Indonesia dituntut untuk bersikap luwes dan terbuka terhadap pengaruh asing.” kata Tommi Yuniawan, S.Pd, M.Hum, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Selasa.

Ia menambahkan, dalam kedudukannya sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia harus tetap mampu menunjukkan jatidirinya di tengah-tengah pergaulan antarbangsa di dunia.

Akan tetapi saat ini bahasa Indonesia telah mengalami banyak perubahan, terutama dalam wacana lisan. Banyak para penutur yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan cenderung bebas, katanya.

Keluhan tentang rendahnya mutu pemakaian bahasa Indonesia sudah lama terdengar. Ironisnya, belum juga ada kemauan baik untuk menggunakan sekaligus meningkatkan mutu berbahasa. “Tidak sedikit kita mendengar bahasa yang digunakan oleh para pejabat cenderung rancu dan pemilihan kosakata nya juga payah sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam penafsiran,” katanya menjelaskan.

Yang lebih mencemaskan, katanya, “kita masih terlalu mengagungkan nilai-nilai modern sehingga merasa lebih terhormat dan terpelajar jika dalam bertutur menyelipkan istilah asing.”

Kaidah-kaidah kebahasaan yang telah diluncurkan oleh Pusat Bahasa, seperti Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), atau Pedoman Umum Pembentukan Istilah Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang diharapkan menjadi acuan normatif masyarakat dalam berbahasa, tampaknya tidak pernah mendapat perhatian dari masyarakat.

Persoalan kebahasaan seolah-olah hanya menjadi urusan para ahli bahasa, pemerhati, dan peminat masalah kebahasaan. Sementara masyarakat menganggap bahwa kaidah bahasa hanya akan membuat suasana komunikasi menjadi kaku dan tidak komunikatif.

Sementara itu, Surati seorang guru SD di Batang mengatakan, bahasa akan terbina dengan baik apabila sejak dini anak-anak dilatih dan dibina secara serius dan intensif. Dan seharusnya kurikulum yang ada di sekolah dasar perlu dilakukan pembenahan.

Ia juga menyayangkan, selama ini pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah hanya menjadi semacam syarat. Murid tidak memahami secara mendalam tentang tata cara dalam berbahasa yang sesungguhnya. Yang mereka coba raih hanyalah nilai yang bagus, karena mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang menjadi syarat kelulusan.

Hal semacam ini harus segera dibenahi, terutama menuntut perhatian yang serius dari Pemerintah dan juga dari pihak sekolah selaku pelaksana formal. Dengan mencanangkan kurikulum yang dapat merangsang minat pelajar untuk serius dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Peran media televisi yang demikian akrab dengan dunia anak juga sangat penting, yaitu harus mampu memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik, bukan malah melakukan “perusakan” bahasa melalui ejaan, kosakata, maupun tata bahasa seperti yang banyak kita saksikan selama ini, kata Tommi.

Dengan begitu bahasa Indonesia bukan hanya menjadi kepentingan beberapa pihak saja, tetapi juga menjadi kepentingan semua pihak dengan tetap menjadikan bahasa Indonesia sebagai jatidiri bangsa yang berbudaya.

Apalagi bahasa Indonesia merupakan bagian panjang dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, dan mempunyai peranan besar terhadap bangsa ini, baik di masa penjajahan, masa kemerdekaan, maupun masa sekarang.

Bahasa Indonesia memiliki keindahan yang tidak jauh kalahnya dengan bahasa-bahasa lainnya di dunia. Bahasa Indonesia memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada sejarah Republik Indonesia itu sendiri.

Bahasa Indonesia muncul karena tekad pemuda yang kuat dalam mempersatukan bangsa, dan bahasa ini juga mampu menyatukan sekaligus membuat bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya, katanya.(ANT)

Read Full Post »

Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu

Ini merupakan salinan dari http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/07/01/09390511/bahasa.indonesia.pilihan.bahasa.di.australia

***

opera houseKOTA MELBOURNE, KOMPAS.com – Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran bahasa yang ditawarkan di beberapa sekolah di Australia. Sejumlah siswa yang memilih pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah mereka bahkan tertarik juga belajar kebudayaan dan berkunjung ke Indonesia.

”Saya tertarik ingin tahu kebudayaan Indonesia. Suatu saat nanti saya berharap bisa ke Indonesia. Saya mau berenang di pantainya,” ujar Michael Winn, siswa kelas XII di Carey Baptist Grammar School Melbourne.

Sayangnya, travel advice soal kunjungan ke Indonesia membuat keinginan siswa Australia untuk belajar Bahasa Indonesia di negeri asalnya itu belum kunjung terlaksana.

Keinginan untuk bisa mengajak siswa SMP-SMA di Ferny Grove State School di Brisbane, Queensland, belajar langsung dari penutur asli di Indonesia memang hingga saat ini belum terwujud. Namun, pengajar Bahasa Indonesia di sekolah itu tak kehilangan akal.

Tak bisa ke Indonesia, akhirnya sejumlah siswa yang memilih belajar bahasa Indonesia pun diajak ke Malaysia untuk belajar bahasa dan kebudayaan Melayu. Kesempatan itu dimanfaatkan sebagai ajang untuk mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia yang dialeknya hampir mirip dengan bahasa Melayu yang dipercakapkan di Malaysia.

Travel Advice

Dalam kunjungan ke sejumlah sekolah di Melbourne dan Brisbane yang didukung oleh Australian Education International (AEI) di Indonesia awal Juni lalu, Kompas berkesempatan melihat proses belajar Bahasa Indonesia bagi siswa SD, SMP, dan SMA Australia. Pilihan pelajaran Bahasa Indonesia ternyata cukup diminati siswa Australia, di samping bahasa Perancis, Jerman, dan Mandarin.

Fiona Hudghton, Kepala Departemen Bahasa di Ferny Grove State School, mengatakan, Bahasa Indonesia sudah diajarkan di sekolah itu sekitar delapan tahun lalu. Pelajaran bahasa dengan pilihan Bahasa Indonesia dan Jerman wajib diikuti siswa kelas VIII. Sekitar 40 persen siswa memilih untuk belajar Bahasa Indonesia.

”Sejak tahun lalu, Bahasa Indonesia mulai diajarkan sejak SD. Itu karena ada permintaan dari orangtua siswa. Alasannya karena Indonesia negara tetangga Australia, tidak ada salahnya untuk mengajarkan bahasanya kepada siswa di sini,” ujar Fiona, yang juga menjadi salah satu pengajar Bahasa Indonesia.

Belajar Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Australia justru terlihat lebih menarik. Saat siswa kelas VIII belajar kata depan atau preposisi, Fiona memanfaatkan berbagai hewan mainan berukuran kecil sebagai alat bantu untuk memudahkan pemahaman siswa.

Dengan memindahkan posisi berbagai hewan mainan itu, siswa jadi lebih paham bagaimana menggunakan kata di belakang, di atas, di samping, dan lainnya.

Sementara itu, bagi siswa kelas XI dan XII, pelajaran Bahasa Indonesia juga dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan di negara Indonesia, mulai dari budaya, sastra, musik, dan film. Ketika Kompas, tvOne, dan staf AEI Surabaya Josephine Ratna melihat jam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa kelas XI dan XII memanfaatkan untuk berdiskusi soal kehidupan remaja di Indonesia.

Axel, misalnya, dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar menanyakan apakah remaja Indonesia kenal dengan budaya pesta bersama teman-teman sekolah. Sementara itu, yang lainnya bertanya soal kesempatan anak-anak lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Di Melbourne, kelas Bahasa Indonesia salah satunya ditawarkan di Carey Baptist Grammar School sejak kelas VII. Bahasa Indonesia juga menjadi pilihan di antara Bahasa Mandarin, Jerman, dan Perancis. Siswa kelas XII yang mengambil kelas Bahasa Indonesia mesti siap-siap dengan ujian Bahasa Indonesia untuk kelas Victorian Certificate of Education (VCE) atau International Baccalaureate.

Heather Hardie, pengajar Bahasa Indonesia, berharap supaya travel advice ke Indonesia bisa dipertimbangkan kembali.

”Saya menikmati saat di Indonesia. Saya berharap anak-anak yang mengambil kelas bahasa bisa ke Indonesia. Sebenarnya, Indonesia tidak seseram yang dibayangkan orang,” ujar Heather.

Read Full Post »