Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sejarah Bahasa’ Category

Oleh Erin Nuzulia Istiqamah

Bahasa manusia lebih banyak dan beragam dibandingkan dengan penutur bahasa besar di dunia. Belakangan ini ada penelitian yang mengindikasikan adanya satu sumber bahasa dari seluruh bahasa. Kini terdapat kekhawatiran akan eksistensi sebuah bahasa. Bahasa-bahasa di dunia menunjukkan adanya perubahan. Baru-baru ini sebuah penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara keluarga bahasa. Berbagai bahasa manusia mungkin terjadi karena adanya variasi bentuk alam di dunia. (lebih…)

Read Full Post »

Oleh Erin Nuzulia Istiqomah / 1006699215

Qori Syahriana Akbari / 1006764593

Sosiolinguistik—9 Maret 2012

 

            Pengkajian bahasa dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu secara internal dan eksternal. Sosiolinguistik termasuk pada kajian bahasa secara eksternal karena bidang ini membutuhkan disiplin ilmu lain, yakni sosiologi,  untuk membantu melihat faktor-faktor di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa oleh penuturnya.  Sosiolinguistik mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat pemakainya.  Holmes (1992) mengatakan bahwa sosiolinguistik berusaha menjelaskan mengapa kita memakai bahasa yang berbeda pada konteks sosial yang berbeda dan mengidentifikasi fungsi sosial dari bahasa serta cara yang digunakan untuk menyampaikan pesan sosial. Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunaan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Yuwono, 2009:3).

Salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah identitas.  Identitas terbagi menjadi dua, yaitu identitas personal dan identitas sosial. Identitas personal menurut William James, dalam Walgito (2003:97) merupakan skema yang berisi kumpulan keyakinan dan perasaan mengenai diri sendiri yang terorganisasi. Konsep ini merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dan kemudian akan mempengaruhi perilakunya sehari-hari.  Pembentukan identitas personal dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain.  Identitas sosial adalah pribadi yang terlibat dalam interaksi sosial (James, dalam Walgito, 2003:98).  Dalam hal ini, seseorang tidak dilihat sebagai satu individu, tetapi merupakan bagaian dari suatu kelompok sosial tertentu atau disebut juga depersonalisasi.  Identitas seseorang, baik personal maupun sosial, akan sangat mempengaruhi penggunaan bahasanya.

Konsep bahasa dan identitas ini berkaitan erat dengan sikap bahasa.  Sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagaian mengenai bahasa, mengenai objek bahasa, yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya (Anderson, dalam Chaer, 1995:151).  Adapun ciri-ciri sikap bahasa menurut Garvin dan Mathiot, dalam Chaer (1995) ada tiga, yaitu kesetiaan bahasa yang mempengaruhi seseorang untuk mempertahankan bahasanya, kebanggaan bahasa yang mendorong seseorang untuk mengembangkan bahasanya, dan kesadaran adanya norma bahasa yang mendorong orang untuk menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun.

Sikap bahasa inilah yang digunakan sebagai kacamata untuk melihat hubungan antara pemakaian bahasa dan identitas.  Penyebab utama adanya perbedaan bahasa adalah kesadaran manusia untuk mempertahankan identitasnya (Chambers, 2003:274). Penialian identitas dalam penggunaan bahasa dapat dilihat dari dua arah, yaitu penilaian terhadap diri sendiri dan penialain terhadap orang lain.  Penilaian identitas yang dilakukan terhadap diri erat kaitannya dengan identitas personal. Bedanya, penilaian ini tidak hanya berlaku pada satu individu, tetapi bisa juga pada satu kelompok tertentu. Seseorang atau kelompok akan mempertahankan eksistensinya agar bisa dibedakan dengan individu atau kelompok yang lainnya. Salah satu cara untuk mempertahankan eksistensi tersebut adalah dengan menggunakan bahasa. Sebagai contoh, seorang anak remaja akan membedakan bahasa yang digunakannya dengan bahasa yang digunakan orang dewasa. Motif mereka melakukan itu bukan semata-mata agar memperoleh superioritas moral atau intelektual, melainkan untuk melepaskan dirinya dari ketidakmandirian mereka di bawah peran orang dewasa (Chambers, 2003:275).  Bahasa merupakan alat yang paling tepat untuk mengidentifikasikan diri dari orang lain. Contoh lainnya adalah sikap kaum intelektual Indonesia pada tahun 1950-an yang menganggap negatif bahasa Indonesia (Chaer, 1995:151).  Pada masa itu, bahasa Belanda dianggap sebagai bahasa yang lebih baik oleh kaum intelektual karena mereka pernah menuntut ilmu di sana.  Mereka menganggap pemakai bahasa Indonesia adalah orang-orang yang tidak terpelajar.

Selain itu, ada pula penilaian identitas yang dilakukan orang lain terhadap satu individu atau kelompok lainnya.  Dari cara seseorang berbahasa, orang lain akan dapat menilai siapa identitas orang tersebut, baik dari segi usia, jenis kelamin, kelas sosial ekonomi, etnik, maupun kepribadiannya. Berikut adalah cuplikan kalimat dari dua orang yang berbeda:

  1. 1.      I don’t know, it’s jus’ stuff that really annoys me. And I jus’ like stare at him and jus’ go … like, “huh”. (YRK98/S014c)

  2. 2.      It was sort of just grass steps down and where I dare say it had been flower beds and goodness-know-what… (YRK/v)

(Taglimonte, 2006:7)

 

Kutipan pertama Taglimonte bertaruh bahwa itu adalah ucapan dari seorang remaja perempuan berusia 18 tahun, sedangkan kutipan yang kedua diucapkan oleh seorang wanita berusia 79 tahun.  Penilaian ini sangat bergantung pada budaya dan kebiasaan masyarakat bahasa setempat.  Usia penutur dan bahasa yang digunakan dapat dibedakan dari nada, kosa kata, pelafalan, dan struktur tata bahasanya (Holmes, 1992:183).

Orang lain juga dapat menilai bahasa yang digunakan berdasarkan jenis kelamin dan kelas sosial.  Di dalam masyarakat barat, perbedaan penggunaan bahasa  pada laki-laki dan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perbedaan kelas sosial mereka berasal (Holmes, 1993:168). Berikut ini merupakan hasil survey yang dilakukan oleh Sydney Community tentang pelafalan glottal pada perempuan dan laki-laki yang berasal dari kelas menengah dan kelas pekerja di masyarakat Tyneside.

 Untitled

Gambar 1: Glotalisasi huruf [p] yang dilafalkan oleh perempuan dan laki-laki di Tyneside dari dua kelas sosial yang berbeda (Fasold, 1990:101).

 

Bunyi glottal yang diucapkan untuk huruf [p], [t], [k] pada masyarakat penutur bahasa tersebut merupakan ciri bahasa vernacular Tyneside yang cenderung banyak digunakan oleh kelompok masyarakat pekerja (Holmes, 1992:180).

Bahasa juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasikan kepribadian seseorang.  Menurut Litauer, ada empat kepribadian, yaitu sanguinis, plegmatis, koleris, dan melakonkonis.  Misalnya saja ketika memilih tempat untuk makan malam (ini merupakan hasil observasi dari pengalaman pribadi penulis melihat bahasa yang digunakan oleh berbagai macam kepribadian dari teman-teman penulis), kalimat yang diucapkan oleh masing-masing orang yang memiliki kepribadian tersebut berbeda-beda, orang berkepribadian sanguinis cenderung akan mengatakan, “Menurutku….” Salah satu ciri orang berkepribadian sanguinis adalah ingin terlihat menonjol sehingga dari kalimatnya pun sudah sangat terasa keakuannya.  Berbeda dengan orang plegmatis yang tidak ingin menyakiti orang lain, mereka lebih sering mengatakan, “Terserah, gimana baiknya aja…”  Orang koleris lain lagi, mereka adalah orang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat unggul, untuk tidak menyebutnya otoriter, sehingga biasanya akan mengatakan, “Kita ke sana aja!”

Sikap bahasa juga akan berpengaruh pada identitas seseorang dalam pergaulan sehari-hari.  Ada orang yang tetap mempertahankan identitas personalnya ketika bergaul.  Ia akan membawa identitasnya tersebut ke kelompok sosial mana pun yang ia masuki.  Orang-orang seperti ini memiliki motif untuk mempertahankan eksistensinya di tengah pergaulan.  Hal ini bisa pula terjadi karena orang tersebut merasa bisa diterima oleh kelompok mana pun tanpa mengubah identitasnya sehingga ia tidak memiliki alasan yang kuat untuk mengubahnya atau bisa juga karena faktor kebiasaan.  Di sisi lain, ada orang yang ingin melebur pada suatu kelompok sosial tertentu dalam pergaulan sehingga ia menyamakan dirinya dengan kelompok tersebut agar bisa diterima.  Contoh fenomena ini adalah penggunaan kata sapaan di kalangan mahasiswa di Jakarta.  Ada orang-orang yang tetap menggunakan kata sapaan “aku”, “kamu”, terlepas ia berasal dari daerah atau tidak, di tengah-tengah pergaulan yang akrab dengan kata sapaan “gue”, “lo”.  Berlawanan dengan itu, ada mahasiswa yang tadinya tidak biasa menggunakan kata “gue”, “lo”—biasanya mahasiswa daerah—mengganti kata sapaan yang mereka gunakan agar terasa lebih akrab dalam pergaulan dan bisa diterima oleh kalangan mayoritas yang menggunakan kata sapaan tersebut.

Trask (1999) memberikan contoh penggunaan bahasa pergaulan seorang tukang ledeng di London.  Ia dan teman-teman sesame tukang ledeng, biasanya menggunakan bahasa Inggris ‘Cockney’—bahasa yang digunakan oleh kalangan pekerjadi daerah terebut. Apa yang kemudian terjadi jika tukang ledeng itu merasa tidak puas akan bahasa yang digunakannya dan ia ingin mengubah bahasanya dengan menggunakan bahasa Inggris yang digunakan oleh masyarakat menengah yang dinilai lebih baik. Dalam beberapa detik, teman-teman dan keluarganya akan mnyadari usaha tukang ledeng tersebut untuk mengubah bahasanya dan mereka akan merasa terganggu akan hal tersebut.  Mengapa demikian? Karena tukang ledeng itu sudah tinggal bersama keluarga dan teman-temannya dalam waktu yang lama sehingga mereka sudah mengidentifikasikan diri sebagai satu kelompok yang sama yang menggunakan bahasa yang sama.  Namun, jika tukang ledeng itu mengubah caranya berbahasa, ia sudah mendeklarasikan dirinya keluar dari kelompok masyaraat bahasa tersebut.

Kesadaran identitas yang mengakibatkan perbedaan penggunaan bahasa ini memberikan dinamika dan warna pada masyarakat bahasa sehingga individu atau kelompok yang satu dapat dibedakan dengan individu atau kelompok yang lain.  Perbedaan ini ada yang bersifat vertikal dan horizontal. Perbedaan yang bersifat vertikal, yaitu membentuk strata dari atas ke bawah, biasanya terjadi karena ada motif memurnikan kelompok dari kelompok lain. Sebagai contoh, dalam stata Hindu, kaum Brahmana sangat mengeksklusifkan kelompok mereka agar kebanggaan dan kehormatan kaumnya tetap terjaga dan tidak tercampur dengan kelompok lain di luar kaumnya.  Kaum Brahmana memahami dengan baik naskah Devanagari dibandingkan dengan kaum non-Brahmana.  Naskah tersebut mereka dapatkan bukan dari literatur Marathi (bahasa yang digunakan di India), melainkan dari kitab suci berbahasa Sansekerta yang hanya bisa dibaca oleh kaum Brahaman.  Tentu hal ini akan mengakibatkan perbedaan penggunaan bahasa antara Brahmana dan non-Brahmana (Strauss, 1979:371). Chamber (2003) mengatakan bahwa perbedaan seperti ini akan terus bertahan karena didorong oleh masyarakat kelas atas yang melabel diri mereka sebagai penempat posisi teratas dalam suatu hierarki sosial.  Padahal di sisi lain, ada kelompok yang ingin berusaha masuk ke dalam kelas atas tersebut, seperti halnya kaum non-Brahmana yang berusaha ingin menjadi sama seperti Brahmana yang memiliki berbagai keistimewaan.  Faktor lain yang dapat menyebabkan perbedaan secara vertikal adalah faktor ekonomi.

Perbedaan dari penggunaan bahasa akibat identitas dalam masyarakat juga bisa terjadi secara horizontal.  Tidak ada hierarki yang terbentuk, hanya sekadar membedakan satu kelompok dengan kelompok yang lain secara sejajar, tidak ada satu lebih tinggi di anatara yang lain.  Perbedaan horizontal ini terjadi karena faktor usia, jenis kelamin, etnik, kepribadian, dan lain-lain.

Beberapa contoh penelitian yang sudah dilakukan berkaitan dengan penggunaan bahasa dan identitas adalah sebagai berikut:

  1. “Fenomena Bahasa Gaul sebagai Bahasa Komunitas pada Kalangan Gay di Kota Bandung”, penelitian ini dilakukan pada tahun 2007 oleh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia.  Dalam penelitiannya, mereka menelusuri bahasa verbal yang digunakan oleh kalangan gay sebagai komunikasi untuk mengidentifikasikan kelompok mereka.
  2. “Bahasa Using: Sebuah Eksistensi Bahasa di Ujung Timur Pulau Jawa”. Penelitian ini memperlihatan memperlihatkan bagaimana eksistensi dan perubahan yang terjadi dalam Bahasa Using terkait dengan hubungannnya dengan Bahasa Jawa dan Bahasa Bali melalui pendekatan teori sosiolinguistik. Bahasa Using adalah suatu bahasa yang penutur aslinya terdapat di bagian tengah kebupaten Banyuwangi Jawa Timur yang tidak hanya bertahan dari pengaruh bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tetapi juga dari bahasa Jawa Mataraman yang biasa digunakan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahasa ini memiliki keunikannya sendiri jika dibandingkan dengan bahasa Jawa atau bahasa Bali yang posisinya mengapit Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa.
  3. “Bahasa dan Identitas Sosial: Kajian Tingkat Tutur Bahasa Bima”. Penelitian ini dilakukan oleh Syamsinas Jafar dari Universitas Mataram. Hasil penelitiannya diterbitkan di Departemen Pendidikan Mataram.  Ini adalah penelitian yang menerangkan tingkatan tutur bahasa yang digunakan dalam bahasa Bima.
  4. “Bahasa Bali Sebagai Simbol Identitas Manusia Bali”. I Made Suastra, Universitas Udayana. Penelitian ini menerangkan tentang penggunaan bahasa Bali yang masih digunakan sebanyak 95% di Bali sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
  5. “Tinjauan Sosiolinguistik Bahasa Alay dalam Konstelasi Kebahasaan Saat Ini” oleh Andri Wicaksono, UNS. Hasil penelitiannya adalah mengenai bahasa alay yang merusak bahasa dan membuat perubahan identitas itu melahirkan generasi yang berani bersikap dan asosial atau individualis.

 

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rineka Cipta

Chambers, J.K. Sociolinguistic Theory. 2003. Oxford: Blackwell Publishing.

Fassold, Ralph. Sosiolinguistic of Society. 1990. Oxford: Blackwell Publishing.

Holmes, Janet. An Introduction To Sociolinguistics. 1999. London: Longmann.

Littauer, Florence. Personality Plus. 1996. Jakarta : Binarupa Aksara

Strauss, Claude Levi. ed. Sol Tax. Language and Society. 1979. New York: Mouton Publisher.

Tagliamonte, Sali A. Analyzing Sociolinguistic Variation. 2006. New York: Cmabridge University Press.

Trask, R.L. Key Concept in Language and Linguistic. 1999. London: Routledge.

Yuwono, Untung, dkk. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. 2009. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. 2003.Yogyakarta:Andi Offset.

 

Read Full Post »

oleh

Arnita Setiawati  0806466185

Dipta Adiwiguna 0806353463

Puspita Nuari       0806353646

  

            Sekitar dua juta tahun yang lalu, kebudayaan yang sesungguhnya telah berkembang di masyarakat. Hal tersebut memberi sugesti bahwa seharusnya sudah ada bahasa yang digunakan pada waktu itu karena bahasa merupakan prasyarat bagi pewarisan tradisional dan pertumbuhan kebudayaan. (lebih…)

Read Full Post »

oleh Muhammad Adi Nugroho


Bukan sulap dan juga bukan sihir bila memperbincangkan bahasa. Sebagai sebuah alat, bahasa menjadikan dirinya sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Salah satunya tentu bahasa kita, bahasa Indonesia.

Ajaibnya bahasa Indonesia ini. Ungkapan adanya kejaiban terhadap bahasa Indonesia adalah istilah yang dilontarkan oleh ahli linguistik Joshua Fishman. Entah apa yang dimaksud dengan tokoh ini sehingga menyebut–mungkin secara berlebih-lebihan–“kasus ajaib bahasa Indonesia”. Mungkinkah karena bahasa kita ini merupakan bahasa yang telah menyatukan seluruh bangsa Indonesia. Di tengah keragaman bahasa daerah, masyarakat dapat disatukan hanya dengan satu bahasa bersama, bahasa Indonesia. Apa karena lingua franca? Mungkin juga karena beberapa negara pernah mengalami konflik yang di akibatkan bahasa seperti India ataupun Filiphina.

Berbicara keajaiban maka akan banyak berbicara kemungkinan. Pakar sosioligistik dunia memang pernah menjalani penelitian terhadap bahasa yang dianggapnya unik. Jerome Samue mencatat bahwa kumpulan ahli lingustik di bawah naungan Joshua Fishman pernah mengadakan penelitian terhadap keajaiban bahasa. Kejaiban bahasa Indonesia disejajarkan dengan bahasa Ibrani yang lahir kembali, di Israel serta penyebarluasan Pu-tung-hua di Cina.

Munculnya pernyataan ajaib berarti menunjukkan sebuah kelangkaan peristiwa. Atau boleh dibilang: kok bisa? Lihat saja apa kata Pram dalam Bumi Manusia, “Apa akan bisa ditulis dalam Melayu? Bahasa miskin seperti itu. Belang bonteng dengan kata-kata semua bangsa di seluruh dunia? Hanya untuk menyatakan kalimat sederhana bahwa diri bukan hewan?” Kenyataan inilah yang selanjutnya yang menjadikan bahasa Indonesia dapat dibilang ajaib.

Pertama, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang ditrafigurasikan demi kebutuhan bangsa pada saat itu untuk menyatukan kekuatan melawan penjajah di bawah bendera nasionalisme. Bahasa adalah salah satu jalan tersebut. Di deklarasikan pada sumpah pemuda, “kami berbahasa satu bahasa Indonesia”. Aspek politis memang sebagai motif pertama dalam pembentukan bahasa Indonesia. Sedangkan pada saat itu bahasa administrative adalah Belanda. Bahasa perantara sekolah juga bahasa Belanda dan menggunakan bahasa daerah setempat. Sumpah dan deklarasi berasa keberanian semata melihat belum adanya kematang bahasa Indonesia–saat itu masih bernama bahasa Melayu.

Pada akhir abad ke-19, pers pribumi masih bertanya-tanya tentang bahasa yang paling sesuai untuk digunakan pembaca pribumi menuju suatu kesadaran nasional: Belanda? Jawa? Melayu? Beruntung saja ketika 1928 ada pendeklarasian bahasa Indonesia. Tapi, seperti apakan bahasa Indonesia itu. Di pilihlah bahasa Indonesia yang ketika itu telah menjadi bahasa pertengahan dan netral tanpa mementingkan suku bangsa tertentu. Pilihannya, adalah menggunakan bahasa Melayu sebagai akar dan melakukan penyerapan bahasa di sana-sini.

Alif Danya Munsyi hingga menyebut, “Sembilan dari sepuluh bahasa Indonesia berasal dari bahasa asing.” Inilah mungkin catatan pertama yang dapat disebut sebagai “keajaiban bahasa Indonesia.”

Sejarah mencatat setelah kedatangan Jepang menggantikan Belanda pada tahun 1942 telah menetapkan bahasa Indonesia sebagai sebagai bahasa administrasi. Mau tak mau bahasa Indonesia harus mempersipakan dirinya sebagai bahasa administrasi. Tak tanggung-tanggung, Jerome Samuel mencatat 37.795 istilah baru diperkenalkan sekaligus pada awal tahun 1940-an–tahun 1953 Poerwodarminta mengelurkan Kamus Umum Bahasa Indonesia berisi 2500 lema.

Kedua, keberhasilan bahasa Indonesia sebagai status bahasa dan juga korpus bahasa. Seperti di bahas pada sebelumnya, bahasa Indonesia merupakan pungutan terhadap bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi sebuah Negara merdeka yang lepas dari penjajahan. Kemudian korpus bahasa, penyeusaian yang dilakukan bahasa Indonesia, atau ringkasnya adalah pemodernan tata bahasa dan kosakata yang dengan berhasil dilakukan oleh lembaga bahasa negara (Samuel, 2008:23). Untuk kasus ini Cahrles Ferguson (mengutip dari Samuel) mengatakan, “perkembangan penerjemahan timbal balik dengan bahasa-bahasa lain dalam bidang-bidangdan bentuk-bentuk wacana khas ‘masyarakat modern’ yang industrialis, sekuler, dan berstruktur berbeda-beda.”(1968: 28)

Tuntutan zaman dengan kemajuan di bidang ilmu dan kebertahanan bahasa Indonesia untuk menyeimbangkan inilah yang menjadi sorotan. Bangsa Indonesia berada pada posisi ”penerima” sehingga mengharuskan adanya penyediaan kata-kata untuk menyebut istilah yang ada pada ilmu pengetahuan. Fernand Braudel mengatakan, “Negara-negara maju berada dalam situasi ketersediaan kosakata sedangkan negara-negara berkembang berada dalam situasi kekosongan kosakata.”

Pada tahun 2003, Indonesia melakukan terobosan luar biasa dengan melakukan kerja sama bersama Microsoft untuk mengindonesiakan istilah-istilah yang ada di komputer. Perkembangan bahasa di tengah kemajuan Iptek menjadikan bahasa ini mungkin ajaib. Tentunya, tak sesederhana ini kita dapat menyimpulkan kejaiban bahasa Indonesia. Pasti ada hal lain yang bersifat komplek sehingga dapat dikatakn ajaib. Seperti halnya kenapa bahasa Ibrani dapat lahir kembali di Israel. Mungkinkah itu sebuah tuntutan untuk memenuhi alat kesatuan bangsa Israel yang baru terbentuk dan ingin menggunakan akar bahasa dunia ini digunakan kembali.

Setidaknya, ungkapan Joshuan Fishman tentang kasus ajaib bahasa Indonesia dapat menjadi bahan penelitian kita sebagai akademisi. Dimana ajaibnya bahasa Indonesia? Apa karena bahasa Indonesia dapat menyatukan nusantara di tengah banyaknya bahasa daerah? Apakah karena kemampuannya bertahan di tengah arus modernisasi dengan menerapkan pembentukan istilah keilmuan ke dalam bahasa Indonesia? Atau mungkin karena Sembilan dari sepuluh bahasa Indonesia berasal dari bahasa asing?

Mari sama-sama kita cari tahu! Sejak kita lahir, kita berbahasa Indonesia. Sudah lima belas tahun–bagi saya–kita mempelajari bahasa Indonesia. Akan tetapi, kita masih juga belum dapat mengerti dengan baik bahasa Indonesia. Sungguh aneh. Aneh bin ajaib.

Read Full Post »

oleh Evlin, Melody Violine, dan Saktiana Dwi Hastuti

Pada tahun 80-an, rakyat Indonesia sedang dalam proses belajar mengerti sastra. Banyak rakyat yang tidak mengenal sastra modern. Dalam keadaan ini, masih banyak pengarang atau sastrawan yang menuding orang-orang yang tidak dapat menikmati karya-karya mereka sebagai orang-orang bodoh yang masih perlu di-up-grade.

Dalam Horison edisi yang sama, Arief Budiman juga berkata bahwa dalam kerangka pemikiran sastra universiil, yang dihasilkan adalah kombinasi dalam diri pengarangnya, antara rasa sombong yang berlebihan (sambil membodoh-bodohkan bangsanya sendiri yang gagal menghargai karya sastranya) dan rasa rendah diri (biasanya karena karya-karyanya belum dapat dihargai oleh orang-orang barat). Hal ini tidak seharusnya dilakukan oleh pengarang jika ingin memasyarakatkan sastra.

Kehadiran sastra yang kurang merakyat dibuktikan dengan hanya segelintir orang/rakyat dari “kelas menengah ke atas” saja yang bisa dan mau mengerti sastra. Rakyat dari “kelas menengah ke atas” yang lain masih memandang sastra sebagai “kreatif gombal-gombalan atau semacam penenang diri” sang pengarang belaka.

Dengan adanya fenomena rakyat yang masih asing dengan sastra, Yudhistira mengeluarkan istilah “sastra dangdut”. Menurutnya, sastra adalah sesuatu yang dapat berkomunikasi dengan lingkungannya. Ia bertitik tolak pada musik dangdut yang merakyat. Oleh karena itu, Yudhistira ingin sastra juga dapat merakyat seperti musik dangdut.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

Salah satu alat bagi suatu kelompok sosial untuk mengidentifikasi dirinya adalah bahasa. Bahasa bisa menjadi identitas kolektif etnik, tetapi bahasa bisa juga menjadi identitas yang lebih luas dari etnik yaitu bangsa. Ciri yang menonjol dari identitas bangsa Indonesia tercermin dari adanya bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia (www.duniaesai.com).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada tahun 1938 bahwa

yang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ yaitu bahasa Melayu yang sungguhpun pokoknya berasal dari ‘Melayu Riau’ akan tetapi yang sudah ditambah, diubah, atau dikurangi menurut keperluan zaman dan alam baru, hingga bahasa itu lalu mudah dipakai oleh rakyat seluruh Indonesia; pembaruan bahasa Melayu hingga menjadi bahasa Indonesia itu harus dilakukan oleh kaum ahli yang beralam baru, ialah alam kebangsaan Indonesia[1],

bahasa Indonesia memang berasal dari bahasa Melayu. Para pelopor kemerdekaan Indonesia telah memilih bahasa Melayu—yang kemudian menjadi bahasa Indonesia—sebagai bahasa persatuan. Tentunya pilihan ini diambil atas berbagai pertimbangan dan memicu terjadinya banyak hal baru.

Mempunyai Bahasa Persatuan

Bercokolnya Belanda di Indonesia selama ratusan tahun membuktikan bahwa hanya persatuan seluruh bangsa Indonesialah yang dapat menentang mereka. Salah satu unsur yang harus disatukan adalah bahasa. Daerah Indonesia terpecah menjadi beratus-ratus kesatuan geografi dan kebudayaan yang masing-masing mempunyai bahasanya sendiri. Tentunya berbahaya sekali membangun sebuah negara tanpa menyepakati sebuah bahasa persatuan. Tanpa adanya bahasa persatuan, Indonesia hanyalah bagaikan sobekan-sobekan kertas yang direkatkan, bukan sehelai kertas yang benar-benar utuh.

Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa persatuan, sekaligus menjadi identitas bangsa Indonesia. Apabila Bahasa Indonesia sebagai unsur dari sistem negara pada suatu saat tidak mampu memberikan fungsinya sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa persatuan, atau identitas bangsa maka akan terbayangkan adanya kegoncangan sistem sosial-budaya. Dalam peristiwa kenegaraan pasti akan terjadi kekacauan karena tidak ada bahasa kenegaraan. Semua orang akan membenarkan bahasa yang mereka gunakan sesuai etnisnya walau masing-masing berbeda bahasa. Tidak akan ada bahasa persatuan yang menjadi bahasa pengantar bagi masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang etnis dan bahasa beraneka macam. Tidak akan ada bahasa yang dijadikan identitas kebersamaan bahwa semua unsur itu menjadi bagian dari sistem yang bernama negara Indonesia. Inilah yang disebut sebagai disintegrasi atau distabilitas sistem negara.[2]

Pendidikan yang diberikan oleh Belanda sebagai bagian dari Politik Etis meningkatkan kesadaran yang terus berkembang terhadap nilai-nilai yang dipunyai bangsa Indonesia sendiri. Sayangnya, penyelenggaraan pendidikan Barat oleh Belanda di Indonesia sengaja diturunkan kualitasnya oleh pemerintah kolonial. Hal ini memicu kekecewaan rakyat pribumi. Pamor bahasa Belanda menurun drastis. Rakyat Indonesia membutuhkan bahasa baru sebagai alat mencapai kebudayaan modern.

Mengapa Bahasa Melayu?

Bahasa Melayu, dalam bentuknya yang sederhana, telah menjadi lingua franca, bahkan sebelum orang Belanda menginjakkan kakinya di Indonesia. Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dan agama Buddha berperan besar dalam menjadikan bahasa Melayu lingua franca kepulauan ini.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika bahasa Melayu dipilih menjadi bahasa persatuan Indonesia, kemudian menjadi bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Melayu bersifat terbuka untuk bahan bahasa sekelilingnya berdasarkan komunikasi ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Bahasa Melayu juga mempunyai struktur yang sederhana, sehingga mudah dipelajari. Dalam bahasa Melayu, tidak ada tingkat-tingkat (bergantung pada mitra tutur dan konteks tuturan) seperti dalam bahasa Jawa.

Budi Utomo pada awalnya merupakan sebuah organisasi yang bersifat kejawaan. Akan tetapi, sebagai gerakan yang menyadari nilai-nilai diri bangsa Indonesia, ia menggunakan bahasa Melayu dalam kebanyakan publikasinya supaya terjangkau pula oleh suku-suku lainnya. Bangsa Belanda pun sudah lama memakai bahasa Melayu dalam pemerintahan di Indonesia dan dalam korespondensi mereka dengan bangsa Indonesia.

Pemilihan bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan akan selalu dianggap sebagai pengistimewaan yang berlebihan, bahkan upaya pengambilalihan negara dari suku-suku lainnya. Bahasa Jawa tidak akan menjadi faktor pemersatu, melainkan akan menumbuhkan semangat separatisme.

Seperti pernah dikemukakan, perjuangan batin yang hebat bagi penduduk yang berbahasa Jawa untuk melepaskan bahasa Jawa dari kesempatan menjadi bahasa persatuan … semata-mata untuk mencapai keuntungan yang lebih besar, guna menghidupkan jiwa persatuan (Usman, 1970: 67).

Dampak Dipilihnya Bahasa Persatuan

Keuntungan dari memilih bahasa persatuan sendiri seperti ini adalah Indonesia mendapat kesempatan untuk memikirkan kembali soal-soal bahasanya dari awal. Tiba-tiba bahasa Indonesia berkembang dengan amat cepat. Bahkan, dapat dikatakan bahwa bahasa ini dipaksakan agar sesegera mungkin dapat melakukan fungsi suatu bahasa modern yang sudah matang.

Bahasa Melayu diasosiasikan oleh semua orang dengan nasionalisme Indonesia. Belanda agak terlambat menyadari perkembangan ini. Ditambah lagi, kebijaksanaan resmi terhadap bahasa Belanda tidak menunjukkan perubahan yang berarti, bahkan terjadi kemerosotan pengajaran bahasa Belanda.

Bahasa Melayu membuat orang-orang non-Jawa tidak merasa terpinggirkan, melainkan menjadi satu. Penelitian yang dilakukan oleh Chomsky juga membuktikan adanya kaitan antara bahasa dengan identitas bangsa.

Proses adaptasi bahasa dalam seorang individu memandunya untuk mengidentifikasikan dirinya pada kelompok yang memiliki bahasa yang sama dengan dirinya. Maka dari itu proses alamiah tersebut perlahan membentuk ikatan sosial antara individu dengan individu yang lain dalam sebuah kelompok masyarakat.[3]

DAFTAR PUSTAKA

”Peran Bahasa Indonesia dalam Usaha Persatuan Indonesia” Style Sheet. . http://fiqihsantoso.wordpress.com/ (27 Februari 2008)

————-. “Pertumbuhan Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Dunia,” Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, ed. Kridalaksana, Harimurti. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.

Alisjahbana, Sutan Takdir. “Sejarah Bahasa Indonesia,” Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, ed. Kridalaksana, Harimurti. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.

Brata, Nugroho Trisnu. “Bahasa dan Dinamika Masyarakat: Sebuah Wacana tentang Identitas Kebersamaan.” Style Sheet. www.duniaesai.com/antro/antro2.html (27 Februari 2008)

Kridalaksana, Harimurti. “Bahasa dan Linguistik,” Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik, ed. Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Samekto. “Politik Bahasa yang Bersangkutan dengan Hubungan antara Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu antara Tahun 1900 dan 1940,” Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, ed. Kridalaksana, Harimurti. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.

Teeuw, A. “Sejarah Bahasa Melayu,” Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, ed. Kridalaksana, Harimurti. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.

Usman, Zuber. Bahasa Persatuan: Kedudukan, Sedjarah, Persoalan-persoalannja. Jakarta: PT Gunung Agung, 1970.


[1] dikutip dengan penyesuaian EYD dari Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, Harimurti Kridalaksana, hal. 2.

[2] www.duniaesai.com

[3] http://fiqihsantoso.wordpress.com/

Read Full Post »

oleh Melody Violine

Inilah salah satu hal yang kita “perebutkan” dengan negeri tetangga—bahasa. Sebagian orang yang awam terhadap ilmu bahasa (linguistik) mungkin bingung. Apakah bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia memang sama? Kalau pengguna kedua bahasa ini bisa saling mengerti tanpa mengikuti kursus bahasa asing dulu, mengapa tidak memakai nama yang sama saja—bahasa Melayu misalnya?

Hal pertama yang perlu dijelaskan adalah bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional Republik Indonesia, sedangkan bahasa Malaysia merupakan bahasa nasional Malaysia. Umumnya, bahasa Indonesia digunakan di Indonesia, sedangkan bahasa Malaysia digunakan di Malaysia.

Tapi mengapa ada universitas di Korea Selatan yang membuka jurusan bahasa Malaysia-Indonesia? Mengapa ada universitas di Amerika Serikat yang membuka jurusan bahasa Melayu, bukan bahasa Malaysia saja atau bahasa Indonesia saja?

Sebagai langkah pertama untuk memahami fenomena ini, mari kita simak kata-kata Harimurti Kridalaksana berikut ini.

Dari sudut intern linguistik, bahasa Indonesia merupakan salah satu varian historis, varian sosial, maupun varian regional dari bahasa Melayu. Dikatakan varian historis karena bahasa Indonesia merupakan kelanjutan dari bahasa Melayu, bukan dari bahasa lain di Asia Tenggara ini. Dikatakan varian sosial karena bahasa Indonesia dipergunakan oleh sekelompok masyarakat yang menamakan diri bangsa Indonesia, yang tidak sama dengan bangsa Malaysia atau bangsa Brunei yang mempergunakan varian bahasa Melayu lain. Dikatakan varian regional karena bahasa Indonesia dipergunakan di wilayah yang sekarang disebut Republik Indonesia (1991 : 2).

Menurut saya, hal yang sama dapat diterapkan pada bahasa Malaysia. Bahasa Malaysia merupakan salah satu varian historis, varian sosial, maupun varian regional dari bahasa Melayu. Jadi, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Malaysia hanyalah varian bahasa, bukan dua bahasa yang berbeda. Mereka hanya varian—masih bersaudara.

Mengapa bahasa Melayu? Bahasa Melayu mempunyai sejarah yang panjang sebagai lingua franca (1991: 196) atau bahasa penghubung di daerah yang sekarang menjadi wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Itulah mengapa bahasa Melayu menjadi bahasa nasional di keempat negara tersebut.

Mengapa Indonesia dan Malaysia bersikeras menggunakan kata bahasa, padahal sebenarnya keduanya hanya menggunakan varian bahasa Melayu? Baik Indonesia maupun Malaysia merasa perlu memisahkan identitas bahasa nasionalnya dari bahasa Melayu di negara lain. Seperti yang dikatakan oleh Harimurti Kridalaksana (2005: 6), bagi kelompok-kelompok sosial tertentu, bahasa tidak sekadar merupakan sistem tanda, melainkan sebagai lambang identitas sosial. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa bangsa Indonesia tidak ingin mempunyai identitas sosial yang sama dengan bangsa lain yang juga menggunakan bahasa Melayu, begitu pula bangsa Malaysia.

Namun bagaimanapun juga, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia berakar dari bahasa yang sama, yaitu bahasa Melayu yang digunakan di Kepulauan Riau-Lingga dan pantai-pantai di seberang Sumatra (Steinhauer, 1991: 195). Itulah mengapa bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia mempunyai dasar-dasar yang sama. Maka, tidaklah mengherankan jika ada universitas yang menggabungkan bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia ke dalam satu jurusan/departemen.

Hal yang harus diperhatikan adalah sebagai varian sosial dan varian regional, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia digunakan oleh kelompok orang yang berbeda dan di tempat yang berbeda. Perkembangan bahasa Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan bangsa Indonesia dan apa yang terdapat dan terjadi di Indonesia sendiri. Begitu pula bahasa Malaysia.

Dengan demikian, dari tahun ke tahun, perbedaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia semakin besar. Bagaikan saudara yang diasuh di rumah berbeda, bukan tidak mungkin kedua bahasa ini tidak saling mengenal lagi ketika sudah tua nanti.

Daftar Pustaka

Kridalaksana, Harimurti. “Bahasa dan Linguistik,” Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. ed. Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. Jakarta: Gramedia, 2005.

————. “Pendekatan tentang Pendekatan Historis dalam Kajian Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia,” Masa Lampau bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. ed. Harimurti Kridalaksana. Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Steinhauer, H. “Tentang Sejarah Bahasa Indonesia,” Masa Lampau bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. ed. Harimurti Kridalaksana. Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Read Full Post »