Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sintaksis’ Category

Makalah Akhir Mata Kuliah Sintaksis

Nila Rahma

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

2009

BAB I

PENDAHULUAN

Di Indonesia, banyak terdapat perusahaan besar yang bergerak dalam berbagai bidang. Nama perusahaan adalah saah satu hal yang unik dan menjadikan penulis tertarik untuk menelitinya. Dalam penulisan ini, akan dibahas mengenai analisis kelas kata pada nama perusahaan dalam bidang telekomunikasi. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai adanya kelas tertentu yang sering muncul pada nama perusahaan tersebut. Penulisan ini diawali dengan pendahuluan, dilanjutkan dengan pembahasan, dan diakhiri dengan penutup

BAB II

ANALISIS KELAS KATA

PADA NAMA PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA

Nama merupakan hal penting guna merujuk pada hal tertentu. Tak hanya nama diri, nama juga berperan penting bagi suatu perusahaan. Kita mungkin akan tahu bahwa sebuah perusahaan bergerak dalam bidang tertentu berdasarkan namanya, misalnya PT Telekomunikasi Selular yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Dalam penulisan ini akan dibahas kemunculan kelas kata tertentu pada nama perusahaan telekomunikasi di Indonesia.

Penulis mengambil data dari situs internet yang mendaftar 20 besar nama perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Berikut adalah daftar nama perusahaan besar dalam bidang telekomunikasi di Indonesia:

Nomor Nama Perusahaan
1 PT Telkomsel (Telekomunikasi Selular)
2 PT Telkom (Telekomunikasi)
3 PT Indosat
4 PT Excelcomindo Pratama
5 PT Mobile-8 Telecom (Fren)
6 PT Bakrie Telecom (Esia)
7 PT Natrindo Telepon Seluler (Axis)
8 PT Smart Telecom
9 PT Hutschison Indonesia (3-Three)
10 PT Sampoerna Telecom Indonesia (Ceria)
11 PT Indosat Mega Media
12 PT Ericsson Indonesia
13 PT Nokia Siemens Network
1 PT Huawei Tech Investment
15 PT Alcatel-Lucent Indonesia
16 PT NEC Indonesia
17 PT Pasifik Satelit Nusantara
18 PT ZTE Indonesia
19 PT Aplikasi Lintasarta (Lintasarta)
20 PT Indonesia Comnets Plus (ICON +)

Berdasarkan data yang diperoleh, hanya ada tujuh nama perusahaan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penulis akan membahas kelas kata dari masing-masing nama perusahaan tersebut.

Kelas kata adalah perangkat kata yang sedikit banyak berperilaku bersintaksis sama. Menurut Harimurti Kridalaksana dan dan Tim Peneliti Linguistik Fakultas Sstra Universitas Indonesia, perilaku sintaksis mencakup :

  1. Posisi satuan gramatikal yang mungkin atau yang nyata-nyata dalam satuan yang lebih besar.
  2. Kemungkinan satuan gramatikal didampingi atau tidak didampingi oleh satuan lain dalam konstruksi (dependensi).
  3. Kemungkinan satuan gramatikal disubstitusikan dengan satuan lain.
  4. Fungsi sintaksis seperti subjek, predikat, dan sebagainya.
  5. Paradigma sintaksis, seperti aktif-pasif, deklaratif-imperatif, dan sebagainya.
  6. Paradigma morfologis.

Dalam pembahasan ini, penulis mempergunakan teori pembagian kelas kata yang

dikemukakan oleh M. Ramlan. Dipilihnya teori ini karena penggolongan yang dibuat oeh Ramlan merupakan hasil penelitian yang paling lengkap dari segala pembahasan kelas kata dalam bahasa Indonesia hingga kini. Beliau membagi kata atas 12 kelas, yakni:

  1. kata verbal
  2. kata nominal
  3. kata keterangan
  4. kata tambah
  5. kata bilangan
  6. kata penyukat
  7. kata sandang
  8. kata tanya
  9. kata suruh
  10. kata penghubung
  11. kata depan
  12. kata seruan

Dalam pembahasan ini, penulis menganalisis kelas kata pada masing-masing nama

Perusahaan tersebut.

  1. PT Telkomsel (Telekomunikasi Selular)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat menjadi KBBI),

telekomunikasi termasuk dalam kelas kata nominal. Adapun ciri nominal adalah tidak dapat diwali dengan kata tidak dan dapat diawali dengan dari. Sedangkan selular –bentuk baku: seluler–  termasuk dalam adjektiva atau kata sifat. Meskipun Ramlan tidak memasukkan kata sifat ke dalam pembagian kelas kata, penulis mencoba meletakkannya pada kata keterangan. Dimasukkannya selular pada keterangan disebabkan oleh kata ini sebagai keterangan dari telekomunikasi.

Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Telekomunikasi Selular

N               ket

2. PT Telkom (Telekomunikasi)

Seperti dikemukakan sebelumnya, telekomunikasi dimasukkan ke dalam kelas nomina karena ia tidak dapat diwali dengan tidak, tetapi dapat diawali dengan dari. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Telekomunikasi

N

3. PT Excelcomindo Pratama

Excelcomindo merupakan nama diri sehingga penulis memasukkannya dalam kelas nominal. Dalam KBBI, pratama dimasukkan dalam kelas numeralia atau kata bilangan. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Excelcomindo Pratama

N             N

4. Natrindo Telepon Seluler

Telepon dan KBBI dalam KBBI dimasukkan dalam kelas kata nominal. Sedangkan seluler dimasukkan dalam adjektiva. Sebagaimana sebelumnya, seluler dimasukkan dalam kata keterangan. Jadi, dapat didimpulkan menjadi

Natrindo Telepon Seluler

N             N          Ket

5. PT Indosat Mega Media

Indosat merupakan nama diri sehingga penuis memasukkannya dalam kelas kata nomina. Sedangkan mega yang berari besar termasuk dalam bentuk terikat. Karena Ramlan tidak memasukkan bentuk terikat ke dalam pembagian kelas kata, penulis memasukkannya ke dalam kata keterangan. Adapun media yang memiliki arti sebagai alat dan dimasukkan dalam kelas kata nominal. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Indosat Mega Media

N          Ket    N

6. PT Pasifik Satelit Nusantara

Dalam KBBI, pasifik tidak ditemukan. Akan tetapi, ditemukan pasifikasi yang berarti pengamanan dan dimasukkan ke dalam kelas kata nominal. Melihat kasus ini, penulis teringat bahwa imbuhan -asi akan mengubah kata sifat menjadi kata nominal. Jadi, kata sifat yang penulis memasukkannya ke dalam kelas kata keterangan. Adapun satelit dan nusantara dimasukkan ke dalam kelas kata nominal. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Pasifik Satelit Nusantara

Ket       N        N

7. PT Aplikasi Lintasarta

Aplikasi memiliki arti penerapan. Imbuhan pe-an menandakan kelas nominal. Sedangkan lintasarta merupakan pemendekan dari kata lintas ’trayek’ dan arta ’uang’. Kedua kata tersebut masuk ke dalam kelas nominal. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Aplikasi Nusantara

N            N

BAB III

PENUTUP

Melihat pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kelas kata yang paling sering muncul pada nama perusahaan telekomunikasi di Indonesia adalah kelas kata nominal. Kelas kata nominal memiliki ciri tidak dapat diawali dengan kata tidak dan dapat diawali dengan kata dari. Tingginya intensitas kemunculan kelas kata nominal pada nama perusahaan terbilang wajar karena memang nama-nama perusahaan merupakan hal untuk merujuk pada dirinya sendiri yang merupakan kata benda.

DAFTAR PUSTAKA

Kridalaksana, Harimurti. 1999. Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga. 2007. Jakarta: Balai Pustaka.

Iklan

Read Full Post »

by Melody Violine


1. Introduction

Ellipsis occurs when some essential structural element is omitted from a sentence or clause and can only be recovered by referring to an element in the preceding text (Nunan, 1993: 25). What about ellipsis in mobile phone text messages? As one message can only accomodate 160 characters, people try to put as many things as possible in a message, therefore ellipsis is very common to this particular medium of communication. However, this limitation also hampers people from creating to many ellipsis, concerning that the receivers would not understand their messages due to the lack of referrence.

This essay discusses what elements are common to be omitted, and how the gaps can be filled from the available text. Indonesian is deliberately chosen in order to cater some information about its text messages which is rarely found in books of learning this language. In the end, this composition would help foreign speakers to comprehend text messages written by Indonesians.

Data are taken from real text messages made by Indonesians in 2008. They ranged in age of 18 to 22, and were college students. Two years ago, the same data have been employed in a research of Indonesian cohesion markers. Since it is seen that there is no significant change in the style of text messaging, these data are considered as still acceptable.

2. Analysis

The first part of each datum is the actual message of which there are many informal abbreviations and vocabularies. The second part provides its standardized version. The third part is the translation of the second part in linguistics form. The last part is the overall translation. The sign [/] indicates the end of rows in the text messages, and the parenthesis [(…)] is filled by a prediction of what has been omitted. Words in italic are interjections.

i.          aku jg lg stress/mikirin acara aku../aku lg megang/acara.. kmu udh/uas aja.cepet/bgt.ayo kmu/smangat.pdhal/jumat ini aku pgn/ajakin ktemuan..

Aku juga sedang stres memikirkan acara aku…

Aku sedang memegang acara…

Kamu sudah UAS saja.

(Itu) Cepat sekali.

Ayo, kamu bersemangat.

Padahal, Jumat ini aku ingin mengajak (kamu) bertemu (aku)…

1SG also be distress MEN-think-KAN event 1SG…

1SG be MEN-handle event…

2SG already UAS just.

(That be) Quick very. Come.on, 2SG BER-spirit.

Actually, Friday this 1SG want MEN-ask (2SG) see (1SG)…

I am also having a distress of thinking my event…

I am handling an event…

You are already facing the final exam.

(That is) Very quick. Come on, you have to be full of spirit.

Actually, this Friday I want to ask (you) to see (me)…

This message contains three ellipsis. In the first one, the sender refered to the condition stated in the previous sentence. The second and the third ellipsis occur in an understanding that there is no other individual mentioned in the message, and hence they refers to the sender and the receiver.

ii.          Pg Ipin.. Pin,nNti bS/Dtg lbh awal g? Ad/yg mau Imau/omongin!! Cz imaU/Mo crita k’ipin aj./BuTuh saran nech/pin..He.

Pagi, Ipin..

Pin, nanti (aku/kamu) bisa datang lebih awal, tidak?

Ada yang ingin Imau bicarakan!

Karena Imau ingin bercerita pada Ipin saja.

(Aku) Butuh saran nih, Pin… He.

Morning, Ipin…

Pin, later (1SG/2SG) can come more early, NEG?

Be REL want Imau talk-KAN!

Because Imau wants BER-tell.a.story to Ipin only.

(1SG) Need suggestion nih, Pin… He.

Morning, Ipin..

Pin, later (you) can come earlier, or not?

There is something that Imau wants to talk about!

Because Imau only wants to tell a story to Ipin.

(Aku/Imau) Needs suggestion, Pin… He.

This message contains two ellipsis. The first ellipsis has two possibilities, but 2SG is more likely to be proper because 1SG would be more suitable with may come than can come. The sentence containing the second ellipsis is a plain statement that someone needs something. The sender should not be able to know the condition of the receiver, thereby 1SG can fill this gap.

iii.         Mba lu bsk ada drmh/gag/jam brP pulang/kmpuz blz

Mbak, kamu besok ada di rumah, tidak?

Jam berapa (kamu) pulang dari kampus?

Balas (pesan ini).

Big.sister, 2SG tomorrow be at home, NEG?

Hour how.many (2SG) return from campus?

Reply (message this).

Big sister, will you be home tomorrow, or not?

On what time will (you) go back from campus?

Reply (this message).

The third message also contains two ellipsis. The first one makes the second sentence, which is an extended question of the first sentence, has no subject. Since the subject of the first sentence is 2SG, the second is as well. The last line is a common code in Indonesian text messaging if the sender truly expects the receiver to reply his/her message. Therefore, the second ellipsis should be filled by this message.

iv.         Gk ad,Mar,,jdnya/qta ngsh list/formula itu+jualin/cd rkaman karina/yg uangnya dksh k/kpngurusan slnjtnya,,/eh, snin ngmpln tgs/apaan aj c?,,

Tidak ada, Mar…

Jadi kita memberi list formula itu ditambah menjual cd rekaman Karina yang uangnya diberikan kepada kepengurusan selanjutnya…

Eh, (pada hari) Senin (kita) mengumpulkan tugas apa saja sih?

NEG be, Mar…

So we give list formula the di+add sell CD recordings Karina REL money-NYA DI-give-KAN to committee subsequent…

Eh, (on) Monday (1PL) submit tasks what also sih?

There was none, Mar…

So we give a list of the formula and sell CD of Karina recordings which the money will be given to the subsequent committee…

Eh, (on) Monday (we will) submit what tasks?

This message has two ellipsis which both occurs in the last sentence. Preposition on was omitted because the sender refered to Monday, and not before Monday (Sunday or Saturday), or after Monday (Tuesday or Wednesday). That is why the preposition could be omitted without any further concern. The subsequent ellipsis is readable from the clause submit what tasks which implies that it was something both the sender and receiver (1PL) should had known.

v.         Bebb,ntar lw khuz/gw ajj bsk c re2 da/uas../Kan gg enk klo/ganggu dy

Bebb, nanti kamu (pergi) ke rumah aku saja besok.

Si Rere ada UAS…

Kan tidak enak kalau (kita) mengganggu dia.

Bebb, later 2SG (go) to house 1SG tomorrow.

Si Rere be UAS…

For (1SG/1PL) NEG fine if (1PL/2SG) MEN-distract 3SG.

Baby, later you (go) to my house tomorrow.

Si Rere is having final exam…

For (I/we) would not feel fine if (we/you) distract him/her

The first ellipsis in this message occurs by omitting a verb. It is common in colloquial Indonesian to eliminate the word go when it is followed by the preposition to which is considered as sufficient to represents go to. The second ellipsis has two possibilities because the sender could not have known exactly how the receiver would feel. However, the last ellipsis only has one similar option to the second, because there is a possibility that only 2SG who would distract him/her (Si Rere).

vi.         Ndut,jgn lpa bliin/cd ksong gw../ingt yh ndut,bli ny/3 cd!

Ndut, jangan lupa belikan CD kosong (untuk) aku…

Ingat ya, Ndut, (kamu) membelinya 3 cd!

Fatty, NEG forget buy-KAN empty CDs (for) me…

Remember ya, Fatty, buy-NYA 3 CDs!

Fatty, do not forget to buy empty CDs (for) me…

Remember, Fatty, the purchase is 3 CDs!

The only ellipsis in this message is actually critical. Beginners might do not realize this particular ellipsis. The key is the word belikan (buy-KAN) containing KAN which is a benefactive affix (to subject perform the action for someone else). Therefore, membelikan CD kosong aku means ”buy empty CDs for me”, not ”buy my empty CDs”.

In this message, it has to be noted that -NYA does not only used to form a possessive phrase. If -NYA is adhered to a verb, it would nominalize the verb. Therefore, the last sentence in this message does not contain any ellipsis as if the word belinya (buy-NYA) is still considered as a verb — (you) buy 3 CDs!


vii.        Waduh Ti.., gw malez ke/warnetnya malem2.. Lo/Udah slesai blm? Msh lama ataw/dikit lg.coz gw lg di margonda,/mau sampe rmh lo. Klo msh lama.senin aja deh..bgm?

Waduh, Ti…

Aku malas (pergi) ke warnet malam-malam…

Kamu sudah selesai (…) belum?

(Kamu) Masih lama atau sedikit lagi?

Karena aku sedang di Margonda, akan sampai (di) rumah kamu.

Kalau (kamu) masih lama, (aku pergi ke rumah kamu) (pada hari) Senin saja deh…

Bagaimana?

Waduh, Ti…

1SG lazy (go) to internet.café at.night…

You already finish (do something in the internet café), NEG?

(2SG) still long or a.little.bit more?

Because 1SG be in Margonda, will arrive (at) house 2SG.

If (you) still long, (I will go to your house) (on day) Monday just deh

So?

Ouch, Ti…

I am lazy to (go) to internet café at night…

You have finished (do something in the internet café), or you haven’t?

(You are) still long or a little bit more?

Becaure I am in Margonda, going to arrive (at) your home.

If (you) still long, (I will go to your house) (on) Monday…

So?

The last message is the most complicated one, and it contains seven ellipsis. The first ellipsis is the same one as the first ellipsis occurred in the fifth message. We can predict the clause do something in the internet café for the second ellipsis in this message from the previous sentence which only has internet café as its distinct information.

The third ellipsis occurs in a question extending the previous one, thereby both sentences have the same subject – 2SG. The fifth ellipsis has a connection to the fourth sentence, being marked by the word long. That is why 2SG is acceptable to fill this gap.

The fourth ellipsis should have been a preposition in to complete the spatial phrase. The sixth ellipsis I will go to your house is derived from the information provided in the previous sentence going to arrive (at) your home. The last ellipsis in this message is employed in the same way with the first ellipsis in the fourth message.

3. Conclusion

The most common ellipsis in Indonesian text messaging are pronouns 1SG, 2SG, and 2PL. The others are prepositions and clauses. There is only on verb, go, omitted in the messages analysed in this essay, but it is possible that there are other verbs (single verbs, not verbs in clauses) ommitted in Indonesian text messaging.

The gaps can be filled by considering some aspects in the messages. First, if the sentence is an extending of the previous one, the subject might be omitted because the sender refers to the same subject. Second, the meanings of affix adhered to a verb in the sentence can also make the sender feel he/she can eliminate a preposition. Omitting a preposition may also be done when the sender refers to the exact time unit, for example days, and not before or after the time mentioned. Moreover, a verb can be omitted when the following preposition is sufficient to transfer what the sender’s mean.

In the end, even though avoiding ellipsis is the best way to transfer messages thoroughly, foundings in this essay has proven that, in Indonesian, the existence of ellipsis in text messages would not hamper the receiver from obtaining the full meaning of the message. Furthermore, ellipsis in Indonesian text messages are limited and predictable.

REFERENCES[1]

Nunan, David (1993) Introducing Discourse Analysis. London: Penguin English.

Kridalaksana, Harimurti (2001) Linguistics Dictionary Third Edition. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti and Research Team on Linguistics of the Faculty of Literature of University of Indonesia (1999) “Syntax (Fifth Draft).” Study Material of Department of Indonesian Literature, Depok.

Simanjuntak, Dumaria (2008) “Cohesive Markers as Discourse Synchronizer: A Study on Kompas Short Stories Anthology.” A Magister Thesis of the Faculty of Humanities University of Indonesia, Depok.

The Dictionary Compiler Team of The Language Center (2002) The Big Dictionary of Indonesian Language. Jakarta: Balai Pustaka.


[1] English translation

Read Full Post »

oleh Ririen Dias

 

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Linguistik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan. “Linguistik” berarti “ilmu bahasa”.Kata “linguistik” berasal dari kata Latin lingua ‘bahasa’ (Verhaar, 2006: 3). Sebagai ilmu, linguistik mempunyai beberapa cabang dasariah seperti fonologi, morfologi, sintaksis, pragmatik, dan sebagainya. Salah satu cabang dalam linguistik adalah sintaksis. Menurut Ramlan, istilah sintaksis secara langsung terambil dari bahasa Belanda syntaxis. Dalam bahasa Inggris diigunakan istilah syntax. Sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase (Ramlan, 2001: 18). Singkatnya, sintaksis adalah tatabahasa yang membahas hubungan antar-kata dalam tuturan (Verhaar, 2006: 11)

Dalam sintaksis sendiri ada banyak hal yang dibahas, antara lain kata, frase, klausa, dan kalimat. Dalam makalah ini penulis hanya membahas satu bagian saja, yaitu frase dan lebih khusus lagi mengenai frase modifikatif nominal. Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata dengan kata yang bersifat non predikatif (Kridalaksana, 1999: 147). Frase nominal termasuk dalam frase endosentris, yaitu frase frase yang keseluruhannya mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan salah satu bagiannya.

Frase modifikatif nominal yang dibahas di sini diambil dari data-data yang diperoleh dari dua buah komik Doraemon berupa nama nama alat-alat Doraemon. Penulis memilih data tersebut karena teratarik dengan pola frase modifikatif nominal yang digunakan sebagai nama alat-alat tersebut dan ingin menganalisis lebih jauh mengenai pola serta makna frase-frase modifikatif nominal tersebut.

1.2 Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu

  1. Bagaimana pola frase modifikatif nominal dalam nama alat-alat Doraemon menurut teori Harimurti?
  2. Apa makna yang terkandung dalam frase modifikatif nominal dalam data tersebut menurut teori Chaer dan Harimurti?

1.3 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah menganalisis data berupa frase nominal dari nama alat-alat Doraemon, kemudian mengetahui pola dan makna frase modifikatif nominal tersebut.

Bab II

Analisis Frase Nominal dalam Nama Alat-alat Doraemon

2.1 Landasan Teori

Menurut Harimurti, frase nominal adalah frase modifikatif yang terjadi dari nomina sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan induk, yaitu ajektiva, verba, numeralia, demonstrativa, pronomina, frase preposisional, frase dengan yang, konstruksi yang …nya, serta frase lain (Kridalaksana, 1999: 156)

Pola frase modifikatif nominal menurut Harimurti ada dua puluh satu, yaitu

1. FN   à        N1    +  (N2…Nn)

2. FN   à        N1    +  (N2…Nn) +  Prep  +  N3  +  (N4…Nn)

3. FN   à        N1    +  se-N2

4. FN   à        N      +      yang     +   V/ FV  + Dem

5. FN   à        N      +      yang     +   V/FV   +  -nya

6. FN   à        N      +      yang     +    N2      +  -nya  +  F.lain  +  Dem

7. FN   à        N      +      A

8. FN   à        N      +      A1        +   A2

9. FN   à        N      +      A1        +   yang    +   A2

10. FN   à        N      +      me-       +   dasar

11. FN   à        N      +      ber-       +   dasar

12. FN   à        N      +      yang      +   V/FV/A/FA

13. FN   à        Num +      N

14. FN   à        Num +  Peng / Ntakaran +  N

15. FN   à        N      +  Num         +  Peng / Ntakaran

16. FN   à        N1    +  ber-           +  Num gugus / Ntakaran red  +  N2

17. FN   à        N      +  Pr

18. FN   à        N      +  Dem

19. FN   à        Adv1+  Adv2  +  Num  +  N

20. FN   à        Art   +  N / A / ter-V

21. FN   à        Art   +  ter-V

Makna dari frase-frase nomina tersebut di atas digunakan teori Chaer karena penulis menganggap teori tersebut lebih singkat dan mudah dipahami. Pemaparannya akan dijelaskan di bagian selanjutnya.

qotrunnada.files.wordpress.com

qotrunnada.files.wordpress.com

2.2 Beberapa Nama Alat Doraemon, Pola Frase Nominal, dan Kelas Kata yang Membentuknya Menurut Teori Harimurti

(1) Peluru kendali pemburu à N1 (N dasar) + N2 (N dasar) + N3 (N deverbal)

(2) Ramalan lidah à  N1 (N deverbal) + N1 (N dasar)

(3) Stiker belakang à N1 (N dasar) + N2 (N dasar)

(4) Burung lupa à N1 (N dasar) + V (V dasar bebas intransitif)

(5) Dugaan serangga à N1 (N deverbal) + N2 (N dasar)

(6) Pahlawan topeng kebenaran à N1 (N dasar) + N2 (N dasar) + N3 (N deadjektival)

(7) Petir buatan à N1 (N dasar) + N2 (N deverbal)

(8) Daftar penentuan cuaca à N1 (N dasar) + N2 (N deadjektival) + N3 (N dasar)

(9) Hantu kering à N1 (N dasar) + A (A dasar)

(10) Bubuk berenang à N1 (N dasar) + V (V intransitif atelis)

(11) Pompa badan à N1 (N dasar) + N2 (N dasar)

(12) Payung cinta à N1 (N dasar) + A (A dasar)

(13) Lubang mancing à N1 (N dasar) + V (V transitif)

(14) Pistol udara à N1 (N dasar) + N (N dasar)

(15) Tali kekang kuda à N1 (N dasar) + N2 (N dasar) + N3 (N dasar)

(16) Obat gumpalan suara à N1 (N dasar) + N2 (N berafiks) + N3 (N dasar)

(17) Kamera mundur à N1 (N dasar) + V (V dasar bebas intransitif)

(18) Benteng berhantu à N1 (N dasar) + V (V denominal)

(19) Kue penerjemah à N1 (N dasar) + N2 (N berafiks)

(20) Pistol pengganti kedudukan orang à N1 ( N dasar) + N2 (N deverbal) + N3 (N deverbal) + N4 (N dasar)

(21) Pintu kemana saja à N1 (N dasar) + Intr + Adv (Adv dasar bebas)

(22) Mesin waktu à N1 (N dasar) + N2 (N dasar)

(23) Buku gambar penyambung kenyataan à N1 (N dasar) + N2 (dasar) + N3 (N deverbal) + N4 (N adjektival)

(24) Jam kesal à N (N dasar) + A (A dasar)

(25) Warung murah à N (N dasar) + A (A dasar)

(26) Pencetak foto serbaguna à N1 (N deverbal) + N2 (N dasar) + N3 (N paduan leksem)

(27) Kuda pengubah nasib à N1 (N dasar) + N2 (N deverbal) + N3 (N dasar)

(28) Topi kebaikan à N1 (N dasar) + N2 (N deadjektival)

(29) Kacamata ajaib à N (N paduan leksem) + A (A dasar)

(30) Kotak film kartun à N1 (N dasar) + N2 (N dasar) + N3 ( N dasar)

(31) Cairan penguat à N1 (N berafiks) + N2 (N deadjektival)

(32) Pil pengurus à N1 (N dasar) + N2 (N deadjektival)

(33) Alat pengukur zaman à N1 (N dasar) + N2 (N deverbal) + N3 (N dasar)

(34) Papan gambar pengumpul serangga à N1 (N dasar) + N2 (N dasar) + N3 (N deverbal) + N4 (N dasar)

(35) Bantal keseimbangan à N1 (N dasar) + N2 (N deadjektival)

(36) Kaleng-kaleng musim à N1 (N reduplikasi) + N2 (N dasar)

(37) Pistol penyingkat waktu à N1 (N dasar) + N2 (N deadjektival) + N3 (N dasar)

(38) Senter pengecil à N1 (N dasar) + N2 (N deadjektival)

(39) Pena penolong à N1 (N dasar) + N2 (N deverbal)

farm4.static.flickr.com

farm4.static.flickr.com

2.3 Makna Frase Modifikatif Nominal dalam Nama Alat-alat Doraemon Menurut Teori Chaer dan Harimurti

Dalam Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia Chaer membagi frase benda manjadi frase benda setara dan frase benda bertingkat. Menurutnya, proses penggabungan frase benda setara menyatakankan makna ‘himpunan’ atau ‘kumpulan’, sehingga secara eksplisit seringkali di antara kedua unsurnya ada kata penghubung dan. Menurut teori Harimurti, frase semacam itu justru digolongkan dalam frase endosentris berinduk banyak koordinatif.

Chaer juga membagi frase benda bertingkat menjadi dua macam, yaitu frase benda berstruktur D-M (Diterangkan-Menerangkan) dan frase bertingkat berstruktur M-D (Menerangkan-Diterangkan). Di bawah ini akan dijelaskan data-data frase nomina di atas berdasarkan struktur dan maknanya menurut teori Chaer dengan merujuk kepada makna berdasarkan keseluruhan cerita dalam komik yang menjelaskan tentang alat-alat tersebut.

Semua frase benda yang dibahas di sini berstruktur D-M. dalam teorinya Chaer berpendapat bahwa  frase benda berstruktur D-M mengandung makna :

  1. milik
  2. asal bahan
  3. asal kedatangan
  4. tempat
  5. letak
  6. sifat
  7. keadaan
  8. bentuk
  9. ukuran
  10. umur
  11. tujuan
  12. sasaran
  13. pelaku
  14. bidang atau spesifikasi
  15. bagian
  16. alat
  17. sudah
  18. urutan
  19. jenis kelamin
  20. sikap atau mode
  21. pembatasan

Selanjutnya, akan dibahas makna frase modifikatif nominal tersebut berdasarkan teori Harimurti.

(1)   peluru kendali pemburu à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘tujuan’ karena diartikan ‘peluru yang dikendalikan untuk memburu’. Dalam teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘b mengkhususkan a.

(2)   ramalan lidah à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena unsur pertama sebagai unsur D adalah kata benda yang menyatakan kegiatan, sedangkan kata ke dua sebagai unsur M adalah kata benda juga dan diartikan alat meramal lidah. Berdasarkan teori Harimurti bermakna ‘b obyek a’.

(3)   stiker belakang à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘letak’ karena diartikan ‘stiker yang diletakkan di belakang’. Berdasarkan teori Harimurti bermakna ‘a di b’.

(4)   burung lupa à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘tujuan’ karena diartikan ‘burung untuk mencegah orang lupa’ atau ‘burung untuk mengingatkan orang yang lupa’. Berdasarkan teori Harimurti bermakna ‘a subyek b’.

(5)    dugaan serangga à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘pelaku’ karena diartikan ‘serangga yang memberi tahu bahwa dugaan seseorang bisa menjadi kenyataan’. Berdasarkan teori Harimurti bermakna ‘a hasil b’.

(6)   pahlawan topeng kebenaran à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘pelaku’ karena diartikan ‘pahlawan bertopeng yang menegakkan kebenaran’. Berdasarkan teori Harimurti bermakna ‘a bersangkutan dengan b’.

(7)   petir buatan à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘sifat’ karena diartikan ‘petir yang sifatnya buatan’. Berdasarkan teori Harimurti bermakna ‘a hasil b’.

(8)   daftar penentuan cuaca à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘ tujuan’ karena diartikan ‘daftar untuk menentukan cuaca’. Berdasarkan teori Harimurti bermakna ‘a obyek b’.

(9)   hantu kering à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘keadaan’ karena diartikan ‘ hantu yang keadaannya kering’. Berdasarkan teori Harimurti bermakna ‘b mengkhususkan a

(10)     bubuk berenang à berstrktur D-M, menyatakan makna ‘tujuan’ karena diartikan ‘bubuk yang digunakan agar seseorang dapat berenang’. Menurut teori Harimurti bermakna ‘a untuk b’.

(11)     pompa badan à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘pompa untuk membesarkan bagian tubuh’. Menurut teori Harimurti bermakna ‘b obyek a’.

(12)     payung cinta à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘payung yang mampu mendatangkan perasaan cinta’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a mengandung b’.

(13)     lubang mancing à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘tujuan’ karena diartikan ‘lubang untuk memancing’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat dimaknai ‘a untuk b’.

(14)     pistol udara à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘pistol yang menghasilkan tembakan udara’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a mengandung b’.

(15)     tali kekang kuda à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘tali yang mempunyai fungsi mengekang sesuatu’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a seperti b’.

(16)      obat gumpalan suara à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘obat untuk membuat suara menggumpal’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘b mengkhususkan a’.

(17)     kamera mundur à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘kamera yang digunakan untuk mengetahui peristiwa yang terjadi pada masa lampau’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘b mengkhususkan b’.

(18)     benteng berhantu à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘keadaan’ karena diartikan ‘benteng yang keadaannya berhantu atau dihuni oleh hantu’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a mengandung b’.

(19)     kue penerjemah à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘kue yang dapat menerjemahkan bahasa asing’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘b mengkhususkan a’.

(20)     pistol pengganti kedudukan orang à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘pistol untuk menggantikan kedudukan seseorang dengan orang lain’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a untuk b’.

(21)     pintu kemana saja à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘pintu yang digunakan untuk pergi kemana saja’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat juga bermakna ‘a untuk b’.

(22)     mesin waktu à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘mesin yag di gunakan untuk mendatangi tempat pada waktu tertentu’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘b mengkhususkan a’.

(23)     buku gambar penyambung keyataan, menyatakan makna ‘tujuan’ karena diartikan ‘buku untuk menggabungkan gambar menjadi kenyataan’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat juga bermakna ‘a untuk b’.

(24)     jam kesal à berstruktur D-M, menyatakan makna  ‘alat’ karena diartikan ‘jam yang digunakan ketika seseorang sedang kesal’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a bersangkutan dengan b’.

(25)     warung murah à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘sifat’ karena diartikan ‘warung yang menjual barang dengan harga murah’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat juga bermakna ‘a adalah b’.

(26)     pencetak foto serbaguna à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘alat pencetak foto yang serbaguna’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat juga bermakna ‘b mengkhususkan a’.

(27)     kuda pengubah nasib à berstruktur D-M, manyatakan makna ‘tujuan’ karena diartikan ‘kuda untuk mengubah nasib seseorang’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat juga bermakna ‘a untuk b’.

(28)     topi kebaikan à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘topi yang membuat orang menjadi baik’. Menurut teori Harimurti dapat juga bermakna ‘a mengandung b’.

(29)     kacamata ajaib à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘sifat’ karena diartikan ‘kacamata yang bersifat ajaib’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat juga bermakna ‘b mengkhususkan a’.

(30)     kotak film kartun à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘kotak yang digunakan untuk menonton film kartun’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat juga bermakna ‘a untuk b’.

(31)     cairan penguat à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘cairan untuk menambah kekuatan’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a untuk b’.

(32)     pil pengurus à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan pil yang digunakan untuk menguruskan badan’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a untuk b’.

(33)     alat pengukur zaman à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘alat yang digunakan untuk mangukur zaman’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a untuk b’.

(34)     papan gambar pengumpul serangga à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘papan bergambar yang digunakan untuk mengumpulkan serangga’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a untuk b’.

(35)     bantal keseimbangan à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘bantal untuk melatih keseimbangan’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a untuk b’.

(36)     Kaleng-kaleng musim à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘kaleng pengubah musim’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a mengandung b’.

(37)     pistol penyingkat waktu à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘pistol yang digunakan untuk membuat waktu yang lama menjadi lebih cepat’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a untuk b’.

(38)     senter pengecil à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘senter yang mampu mengecilkan benda apapun’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a untuk b’.

(39)     pena penolong à berstruktur D-M, menyatakan makna ‘alat’ karena diartikan ‘pena yang manjadi penolong’. Berdasarkan teori Harimurti, frase ini dapat bermakna ‘a seperti b’.

Bab III

Penutup

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil adalah

  1. Sebagian besar pola frase nominal yang digunakan dalam nama alat-alat Doraemon terdiri dari nominal + nominal;
  2. Ada beberapa pola frase nominal dalam data yang tidak sama dengan pola yang dipaparkan oleh Harimurti;
  3. Sebagian besar frase nominal dalam data menyatakan makna ‘alat’ menurut teori Chaer karena makalah ini memang membahas nama-nama alat. Akan tetapi, ada pula nama alat yang tidak menyatakan makna alat;
  4. Sebagian besar frase nominal yang terdapat dalam data dapat disisipi kata untuk bagi frase yang menunjukkan makna ‘alat’ atau ‘tujuan’, atau kata yang bagi frase yang bermakna ‘sifat’;
  5. Jika mendasar pada teori Chaer, ada ketumpangtindihan antara dua makna, yaitu makna ‘alat’ dan ‘tujuan’

 

Daftar Pustaka


    Alwi, Hasan, dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 2005.
    Chaer, Abdul. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta, 2006.
    Kridalaksana, Harimurti. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia. Jakarta : Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1999.
    Ramlan, M. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta : CV. Karyono, 2001.
    Verhaar, J.W. M. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2006.

Read Full Post »