Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Stilistika’ Category

oleh Melody Violine

Pendahuluan

Fenomena TeenLit dimulai sekitar tahun 2004. Kaum remaja putri yang haus akan bacaan yang sesuai dengan jiwa mereka (gue banget) menyambutnya dengan antusias. Hal ini tampak dari tingginya angka penjualan TeenLit. Hanya dalam waktu kurang lebih 15 bulan, Gramedia sukses menjual 520 ribu ekslempar dari 34 judul TeenLit yang diterbitkannya[1].

Apa sebenarnya yang terjadi di balik fenomena ini? Para remaja mengakui bahwa kegandrungan mereka terhadap TeenLit disebabkan oleh cerita dan bahasanya yang gue banget. Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar pengarang-pengarang TeenLit sendiri masih remaja atau paling tidak anak muda. Mereka dapat bercerita dengan fasih tentang lika-liku kehidupan remaja sehingga para remaja yang membaca karya-karya mereka merasa dekat dan akrab.

Akan tetapi, karya-karya segelintir pengarang TeenLit yang sudah dewasa juga berhasil meraih predikat best-seller. Dua di antaranya adalah Fairish karya Esti Kinasih (33 tahun) dan Tunangan? Hmm… karya Agnes Jessica (30 tahun).

Perbedaan usia dan generasi tentu dengan sendirinya membuat perbedaan-perbedaan tertentu dalam TeenLit karya pengarang remaja dengan TeenLit karya pengarang dewasa. Makalah ini membahas perbedaan gaya bahasa di antara keduanya. Gaya bahasa yang saya maksud meliputi kata ganti orang; pilihan kata; tanda baca; dan penggunaan bahasa asing.

Karya-karya yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah Tunangan? Hmm… dan Me vs High Heels! Aku vs Sepatu Hak Tinggi! karya Maria Ardelia (16 tahun). Alasan saya memilih karya-karya mereka adalah karena keduanya diterbitkan pada tahun 2004 oleh penerbit yang sama (Gramedia) dan menjadi best-seller. Selain itu, meskipun Maria Ardelia murid (alumni SMU St. Theresia) sedangkan Agnes Jessica guru (mantan guru matematika di SMUK I dan SMUK IV BPK Penabur Jakarta), kedua pengarangnya sama-sama berlatar belakang sekolah Katolik.

2. Gaya Bahasa TeenLit

2.1.      TeenLit

2.1.1.   Definisi TeenLit

Istilah TeenLit diambil dari kata “teenager” dan “literature”. Kata “teenager” sendiri merupakan gabungan dari kata “teens”, “age”, dan sufiks “-er”. “Teens” berarti “dari berumur 13 hingga 19 tahun”[2], “age” berarti “usia; umur”, dan sufiks “-er” kurang lebih dapat disetarakan dengan prefiks “pe-“ dalam bahasa Indonesia. “Literature” berarti “kesusasteraan; buku-buku”[3] atau, yang lebih sesuai dengan konteks, “bacaan”. Berdasarkan penjabaran ini, TeenLit dapat didefinisikan sebagai bacaan untuk mereka yang berusia antara 13 hingga 19 tahun.

Dalam masyarakat Indonesia, mereka yang berusia antara 13 hingga 19 tahun biasa disebut remaja. Umumnya, remaja masih duduk di bangku sekolah menengah (SMP dan SMA) atau tahun-tahun pertama bangku kuliah. Remaja ini pulalah yang menjadi pangsa pasar TeenLit karena buku-buku TeenLit berisi tentang remaja, remaja, dan remaja. Hal tersebut relevan dengan definisi yang diberikan oleh Sitta Karina (Arie), penulis TeenLit best-seller berjudul Lukisan Hujan. Menurut Arie, teenlit itu kisah seputar remaja, mengenai kisah percintaannya, romantisnya, kehidupannya, khayalannya, impiannya dan lingkup remaja ini sendiri dari anak SMP sampai dengan anak kuliahan[4].

Sejauh ini, buku-buku yang digolongkan ke dalam TeenLit hanyalah berbentuk novel dan kumpulan cerpen. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan akan adanya TeenLit dalam bentuk-bentuk lainnya, misalnya kumpulan puisi.

2.1.2.   Asal TeenLit

Beberapa orang beranggapan bahwa TeenLit merupakan “turunan” atau “adik” dari ChickLit, yaitu bacaan modern bagi wanita dewasa. Ini tidak salah karena memang Gramedia membuat istilah ini tidak lama setelah meledaknya ChickLit.

Akan tetapi, buku-buku yang dikategorikan sebagai TeenLit bukan hanya yang diterbitkan oleh Gramedia. Bahkan dapat dikatakan bahwa pelopor TeenLit adalah novel Eiffel… I’m In Love karya Rachmania Arunita yang diterbitkan oleh Terrant Books. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2001 ketika pengarangnya masih berusia 16 tahun, tapi baru meledak dua tahun kemudian. Keterlambatan ini mungkin disebabkan oleh promosi dan distribusinya yang kurang bagus (Terrant Books masih merupakan penerbit kecil saat itu).

Pada awal tahun 2004, Gramedia mulai menerbitkan novel-novel remaja dengan label TeenLit. Novel-novel pertama dalam label ini merupakan novel-novel terjemahan, contohnya adalah E Love karya Caroline Plaisted yang diterjemahkan menjadi Kisah Cinta Pertama Lewat Internet. Baru pada bulan April 2004, Gramedia menerbitkan TeenLit karya pengarang Indonesia pertamanya, yaitu DeaLova karya Dyan Nuranindya (18 tahun). DeaLova langsung meledak dan mengalami cetak ulang hanya dalam waktu dua minggu. Kesuksesan ini disusul oleh Me vs High Heels! Aku vs Sepatu Hak Tinggi! karya Maria Ardelia (16 tahun) dan Fairish karya Esti Kinasih (33 tahun).

Sebuah penerbit baru, yaitu KataKita, ikut terjun ke dalam fenomena ini. Cetakan pertama Nothing But Love Semata Cinta karya Laire Siwi Mentari (16 tahun) juga habis dalam waktu dua minggu. Seperti halnya Terrant Books, KataKita tidak memberi label apa pun pada novel-novel remajanya.

Pada akhir tahun 2004, penerbit-penerbit lain menyusul. Agak terlambat memang, tapi mereka juga sedikit banyak merasakan imbas dari fenomena TeenLit. Kebanyakan penerbit ini memberi label yang berbeda-beda pada novel-novel remajanya, misalnya Teen’s Heart (Elex Media), Teenlit Populer (Puspa Swara), Teens Only (Grasindo), New Teenlit (Diadit Media). Tahun 2006 ini bahkan muncul label Teenlit Islami (Puspa Swara) dan Muslim TeenLit (Tiga Serangkai).

2.1.3.   Contoh TeenLit

Tidak banyak TeenLit terjemahan di Indonesia. Sebagian besar diterbitkan oleh Gramedia. Contohnya adalah Teen Idol (Idola Remaja) karya Meg Cabot, The Boy of My Dreams (Cowok Idaman) karya Dyan Sheldon, dan Looking for Alibrandi (Mencari Jati Diri) karya Melina Marchetta.

Contoh TeenLit karya pengarang Indonesia yang telah diterbitkan adalah Dengerin Dong, Troy! karya Ade Kumalasari (Gramedia), Boys Addicted karya Christia Dharmawan (Puspa Swara), Scorpio Time karya Sasya Fitrina (Grasindo), Amore karya Margaret (GagasMedia), Miss Jablai karya Gari Rakai Sambu (Media Pressindo), dan Behind The Scenes Story karya El Ovio (Elex Media).

2.2.      Pengarang Remaja untuk TeenLit

2.2.1.   Definisi Pengarang Remaja untuk TeenLit

Pengarang remaja untuk TeenLit berarti remaja yang TeenLit karangannya telah diterbitkan. Remaja berarti yang pelajar sekolah menengah atau anak berusia sekitar 13 sampai 19 tahun. Pengarang yang berusia awal dan pertengahan 20-an tahun yang masih berpenampilan dan berpola pikir seperti remaja juga bisa dikategorikan sebagai pengarang remaja.

2.2.2.   Beberapa Nama dan Karya Pengarang Remaja untuk TeenLit

Ada banyak pengarang remaja untuk TeenLit. Beerapa di antaranya adalah Gisantia Bestari yang menerbitkan Cinta Adisty pada tahun 2004 (13 tahun) dan Backstreet pada tahun 2005 (14 tahun); Virsa atau Baiq Vira Safitri yang menerbitkan Show Me Da Luph With Mocca pada tahun 2005 (18 tahun); Laire Siwi Mentari yang menerbitkan Nothing But Love pada tahun 2004 (16 tahun) dan Aphrodite pada tahun 2005 (17 tahun).

2.3.      Pengarang Dewasa untuk TeenLit

2.3.1.   Definisi Pengarang Dewasa untuk TeenLit

Pengarang remaja untuk TeenLit berarti orang dewasa yang TeenLit karangannya telah diterbitkan. Orang dewasa dalam konteks ini berarti dewasa dari faktor usia (paling tidak berusia akhir 20-an tahun), penampilan, figur, dan pola pikir.

2.3.2.   Beberapa Nama dan Karya Pengarang Dewasa untuk TeenLit

Pengarang dewasa untuk TeenLit tidak sebanyak pengarang remaja untk TeenLit. Beberapa di antaranya adalah Hilman (37 tahun) yang menerbitkan Cewek Mal pada tahun 2004; Agnes Jessica yang menerbitkan Tunangan? Hmm… pada tahun 2004 (30 tahun); Esti Kinasih yang menerbitkan Fairish pada tahun 2004 (32 tahun) dan Cewek!!! pada tahun 2005 (33 tahun).

2.4.      Gaya Bahasa

2.4.1.   Gaya Bahasa Pengarang Remaja untuk TeenLit

2.4.1.1. Kata Ganti Orang

Kata-kata ganti orang yang digunakan dalam Me vs High Heels! adalah gue, loe, saya, aku, kamu, ia, dia, kita, kalian, dan mereka.

Gue-lo digunakan antara tokoh-tokoh remaja yang saling mengenal.

Saya digunakan dalam dialog antara tokoh-tokoh remaja dalam situasi formal dan dialog antara tokoh remaja dengan tokoh dewasa selain orang tua dalam situasi apa pun. Remaja menggunakan nama sendiri sebagai kata ganti orang pertama tunggal bila berbicara dengan orang tuanya.

Aku digunakan oleh tokoh utama bila sedang merenung atau berbicara dalam hati pada dirinya sendiri. Akukamu digunakan antara tokoh-tokoh remaja yang sedang dalam masa pendekatan atau berstatus pacaran.

Kamu digunakan oleh orang tua terhadap anaknya.

Tidak ada konsistensi dalam penggunaan dia dan ia, baik dalam dialog maupun narasi.

Kita digunakan sebagai kata ganti orang pertama jamak dan kata ganti orang pertama sekaligus kedua jamak.

2.4.1.2. Pilihan Kata

Dalam dialog-dialog Me vs High Heels!, banyak terdapat kata-kata baku.


nunggu (hal. 7)

nggak (hal. 13)

capek-capek (hal. 14)

ngilang (hal. 22)

kayak (hal. 24)

ngelihatin (hal. 50)

nglakson (hal. 71)

nggak bakal (hal. 71)

beginian (hal. 130)

emang (hal. 334)

belom (hal. 339)

nraktir (hal. 339)


Kata-kata dalam dialog-dialog Me vs High Heels! juga ada yang menggunakan kata-kata baku, termasuk dalam dialog antara tokoh-tokoh remaja dalam situasi nonformal sehingga terasa janggal.


merayakan (hal. 25)

berkeringat (hal. 74)

dikorbankan (hal. 118)

pinjam (hal. 121)

Narasi Me vs High Heels! didominasi oleh kata-kata baku. Kata-kata baku yang mencolok adalah kata-kata berafiks meng- yang dalam dialog nonformal biasa diganti dengan afiks nge-, -i, dan -in.


sebal (hal. 10)

membenarkan (hal. 11)

ketidaksehatan (hal. 17)

menasihati (hal. 24)

saja (hal. 48)

meninggalkan (hal. 49)

memperhatikan (hal. 80)

menertawakannya (hal. 65)

mana saja (hal. 125)

menelepon (hal. 133)

Meskipun tidak banyak, kata-kata tidak baku juga ada dalam narasi Me vs High Heels!.


banget (hal. 12)

nyerah (hal. 21)

kebayang (hal. 51)

ngapain (hal. 195)

ngangguk (hal. 235)

anggep (hal. 347)

Terdapat banyak ungkapan fatis, baik dalam dialog maupun narasi Me vs High Heels! seperti deh, yuk, nih, dong, lho, kan, dan sih.

2.4.1.3. Tanda Baca

Maria Ardelia banyak menggunakan tanda baca “…” atau “…!” dalam Me vs High Heels!. Hal ini menghambat proses pembacaan sehingga membuat pembaca merasa kurang nyaman.

2.4.1.4. Pengunaan Bahasa Asing

Maria Ardelia sering menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris (hampir semuanya dicetak miring), terutama istilah-istilah fesyen.


make up (hal. 91)

manicure, pedicure (hal. 92)

creambath (hal. 101)

hair spray (hal. 104)

trendsetter (hal. 108)

hairdresser (hal. 141)

high heels (hal. 215)

modelling (hal. 346)


Selain itu, masih banyak istilah-istilah lain yang menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris.


buffet (hal. 25)

voucher (hal. 29)

pin-up (hal. 39)

sound system (hal. 62)

army (hal. 114)

bazaar (hal. 293)

band (hal. 319)

cheerleader (hal. 323)

saxophone (hal. 347)

daisy (hal. 347)

Ungkapan-ungkapan singkat juga kadang-kadang digunakan oleh Maria Ardelia selayaknya para remaja biasa gunakan. Biasanya, kata-kata ini muncul dalam dialog tokoh-tokoh remaja.


Please… (hal. 15)

Oh no… (hal. 16)

Bye! (hal. 29)

Excuse me (hal. 37)

Maybe… (hal. 90)

love at first sight (hal. 151)

Sejumlah kata-kata bahasa Inggris mendapat afiks tapi tetap dicetak miring. Kata-kata ini juga biasanya muncul dalam dialog tokoh-tokoh remaja.

di-gel (hal. 24)

babysitter-nya (hal. 32)

nge-shoot (hal. 61)

menge-set (hal. 111)

di-blow-nya (hal. 140)

di-creambath (hal. 140)

Tokoh Roland dalam Me vs High Heels! pernah mengucapkan satu kalimat panjang (sepertinya ini sebuah kutipan, tapi Maria Ardelia tidak mengungkapkannya) dalam bahasa Inggris.

You don’t love a woman because she is beautiful, but she is beautiful because you love her… (hal. 292)

2.4.2.   Gaya Bahasa Pengarang Dewasa untuk TeenLit

2.4.2.1. Kata Ganti Orang

Kata-kata ganti orang yang digunakan dalam Tunangan? Hmm… adalah gue, elo, lo, saya, aku, kamu, dia, ia,  kami, kita, kalian, dan mereka.

Gue, elo,dan lo digunakan antara tokoh-tokoh remaja yang sebaya.

Elo lebih banyak digunakan daripada lo. Akan tetapi, saya tidak melihat adanya alasan khusus yang menyebabkan Agnes Jessica menggunakan kedua kata ganti orang kedua tunggal nonformal tersebut.

Seperti halnya Me vs High Heels!, saya digunakan dalam dialog antara tokoh-tokoh remaja dalam situasi formal dan dialog antara tokoh remaja dengan tokoh dewasa selain orang tua dalam situasi apa pun. Remaja menggunakan nama sendiri sebagai kata ganti orang pertama tunggal bila berbicara dengan orang tua mereka.

Tidak ada konsistensi dalam penggunaan dia dan ia, baik dalam dialog maupun narasi.

Aku digunakan antara tokoh-tokoh dewasa yang saling mengenal dan oleh remaja kepada orang tuanya.

Kamu digunakan oleh orang tua terhadap anaknya.

Remaja yang lebih muda menggunakan kakak sebagai kata ganti orang kedua tunggal dan menggunakan aku atau saya sebagai kata ganti orang pertama tunggal kepada remaja yang lebih tua. Remaja yang lebih tua menggunakan aku atau gue sebagai kata ganti orang pertama tunggal dan elo atau kamu sebagai kata ganti orang kedua tunggal kepada remaja yang lebih muda.

Kami selalu digunakan sebagai kata ganti orang pertama jamak bahkan dalam dialog-dialog nonformal antara tokoh-tokoh remaja dalam Tunangan? Hmm…. Hal ini terasa sangat janggal karena, pada kenyataannya, sangat jarang ada anak-anak atau remaja yang menggunakan kami dalam situasi nonformal.

2.4.2.2. Pilihan Kata

Agnes Jessica punya cukup banyak stok kata-kata tidak baku. Kata-kata tidak baku dalam dialog-dialog Tunangan? Hmm… antara lain:


Abis (hal. 124)

mendingan (hal. 37)

ngeper (hal. 41)

ngoyo (hal. 44)

ntar (hal. 87)

Bokap-nyokap (hal. 88)

menowel (hal. 157)

il-fil (hal. 250)

Kata-kata tidak baku dalam narasi Tunangan? Hmm… antara lain:


ge-er (hal. 11)

ngelakson (hal. 72)

ngeliat (hal. 78)

jayus (hal. 112)

boong (hal. 120)

bakalan (hal. 141)

tukang ngecap (hal. 167)

pengen (hal. 173)

tau (hal. 173)

ngeceng (hal. 245)

Kata-kata baku terlalu banyak mengisi dialog-dialog antara tokoh-tokoh remaja. Hal ini terasa mengganggu, apalagi bagi pembaca yang masih remaja.

dikerjakan (hal. 44)

benar-benar (hal. 49)

menyebalkan (hal. 64)

memengaruhi (hal. 74)

dipertemukan (hal. 87)

sedang (hal. 149)

mengirimkan (hal. 149)

terhadap (hal. 153)

memikirkan (hal. 202)

sudah (hal. 220)


Kata-kata baku dalam narasi Tunangan? Hmm… terasa cukup wajar dan tidak janggal.

sulit (hal. 33)

gelagat (hal. 35)

memedulikan (hal. 48)

bukankah (hal. 50)

mencoba (hal. 110)

mengejutkan (hal. 141)

bertemu (hal. 147)

berdegup (hal. 201)

Agnes Jessica juga menggunakan ungkapan-ungkapan fatis seperti lho, sih, yah, kok, deh, dan dong.

Kata wakuncar (hal. 70) yang diucapkan oleh Giovanni kepada Tere dalam Tunangan? Hmm… benar-benar janggal. Remaja-remaja yang telah saya tanyai[5] (keduanya berasal dari SMA Negeri) berkata bahwa kata wakuncar (waktu kunjung pacar) menjijikkan dan tidak sudi menggunakannya. Saya tidak tahu apakah para remaja di sekolah tempat Agnes Jessica mengajar dulu pernah menggunakannya.

2.4.2.3. Tanda Baca

Tanda-tanda baca dalam Tunangan? Hmm… cukup wajar. Memang banyak juga tanda baca “…”, tapi masih dapat ditoleransi oleh pembaca.

2.4.2.4. Pengunaan Bahasa Asing

Kalimat-kalimat pendek dalam bahasa Inggris beberapa kali digunakan oleh Agnes Jessica.

Are you crazy? (hal. 62)

It’s very bad (hal. 67)

Oh no! (hal. 101)

Have a nice day! (hal. 156)

Thanks, Ma (hal. 234)

Absolutely! (hal. 249)

Agnes Jessica juga beberapa kali mencampur memasukkan kata-kata bahasa Inggris ke dalam kalimat-kalimat pendek.

Duh… please dong! (hal. 196)

Nggak fair! (hal. 95)

Agnes Jessica cukup sering menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris dalam Tunangan? Hmm….


facial (hal. 69)

funky (hal. 93)

lead vocal (hal. 145)

playboy (hal. 146)

modern dance (hal. 148)

gentleman (hal. 153)

slow (hal. 160)

sound system (hal. 165)

polaroid (hal. 168)

feeling (hal. 186)

mood (hal. 240)

handphone (hal. 202)


Agnes Jessica juga menggunakan beberapa kata sambung dalam bahasa Inggris.

in case (hal. 85)

Anyway (hal. 85)

Dalam Tunangan? Hmm…, terdapat beberapa ungkapan singkat dalam bahasa Inggris.

go international (hal. 191)

back to real life (hal. 147)

All for one and one for all (hal. 230)

Meskipun jarang, ada juga istilah-istilah dalam bahasa Inggris yang dilekati oleh afiks bahasa Indonesia.

septic tank-nya (hal. 183)

di-makeup (hal. 216)

2.4.3.      Perbandingan

Penggunaaan kata ganti orang dalam Me vs High Heels! wajar dan memang begitulah adanya dalam kehidupan remaja Jakarta sekitar tahun 2004. Agnes Jessica juga demikian, kecuali dalam penggunaan kata kami.

Kata-kata baku dalam Me vs High Heels! porsinya cukup. Sebaliknya, kata-kata baku dalam Tunangan? Hmm… porsinya terlalu besar, terutama dalam dialog antara tokoh-tokoh remajanya.

Penggunaan tanda baca dalam Me vs High Heels! kurang nyaman untuk dibaca. Tidak ada masalah menyangkut penggunaan tanda baca dalam Tunangan? Hmm….

Dalam Me vs High Heels! dan Tunangan? Hmm…, sama-sama banyak terdapat kata-kata dalam bahasa Inggris. Hanya saja, Maria Ardelia lebih variatif dalam melekati afiks bahasa Indonesia ke kata-kata dalam bahasa Inggris.

3. Kesimpulan

Maria Ardelia berbicara tentang dunia remaja dengan gaya bahasa remaja yang fasih dalam Me vs High Heels!. Editor novel tersebut telah melaksanakan tugasnya dengan baik dengan mencegah gaya bahasanya terlalu tidak baku, terutama dalam narasi, supaya masih bisa dibaca oleh generasi selain remaja sekitar tahun 2004.

Pada tahun 2004, usia Agnes Jessica hampir dua kalinya usia Maria Ardelia. Oleh karena itu, kefasihan gaya bahasa remaja Agnes Jessica dalam Tunangan? Hmm… patut diacungi jempol. Memang masih banyak kata-kata baku yang terasa mengganggu, terutama dalam dialog-dialog tokoh-tokoh remaja, tapi hal tersebut diimbangi oleh kata-kata tidak baku yang cukup banyak dan variatif.

Kesimpulan yang saya tarik dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan yang mencolok antara gaya bahasa TeenLit karangan remaja dengan TeenLit karangan orang remaja. Keduanya sama-sama cukup enak untuk dibaca, terutama oleh remaja.

DAFTAR PUSTAKA

“Ade Kumalasari: Sekarang Ini Remaja Jadi Pelaku Budaya.” Style Sheet. http://www.pembelajar.com/wmprint.php?ArtID=609 (21 November 2006)

Ardelia, Maria. 2004. Me vs High Heels! Aku vs Sepatu Hak Tinggi! Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Benke, Benny. “Air Cucuran Sitok Jatuh ke Laire.” Style Sheet. http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/12/bud4.htm (21 November 2006)

Dharmasta, S. Prana. “Ideologi Sastra Remaja: ‘Gue Banget!’” Style Sheet. http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0226/bud2.html (21 November 2006)

Jessica, Agnes. 2004. Tunangan? Hmm… Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Jonru. “Konsultasi Penulisan Fiksi.” Style Sheet. http://www.penulislepas.com/kfmore.php?id=1722_0_6_0_M19 (18 November 2006)

“Jumpa Pemenang Lomba Novel TeenLit.” Style Sheet. http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=8277 (21 November 2006)

Nirina, ed. “Sebuah ‘Jembatan’ Bernama Chicklit.” Style Sheet. http://www.kaskus.us/showpost.php?p=7743194&postcount=24 (18 November 2006)

Nirina, ed. “Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca.” Style Sheet. http://www.kaskus.us/showpost.php?p=7743194&postcount=24 (18 November 2006)

Shafanola, Kenji. “ChickLit, TeenLit, LadLit.” Style Sheet. http://kenjishafanola.blogspot.com/2005/04/chicklit-teenlit-ladlit.html (18 November 2006)

“Teenlit Serial ala Sitta Karina.” Style Sheet. http://sembarang.com/2005/09/26/teenlit-serial-ala-sitta-karina/ (18 November 2006)


[1] http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=8277

[2] S. Wojowasito dkk. Kamus Lengkap Inggeris – Indonesia Indonesia – Inggeris dengan Ejaan Yang Disempurnakan, (HASTA, 1980), hlm. 229.

[3] Ibid. hlm. 102.

[4] http://sembarang.com/2005/09/26/TeenLit-serial-ala-sitta-karina/ (18 November 2006)

[5] Adi Utomo (18 tahun) dan Rizky Febriawan (19 tahun), 27 November 2006.

Iklan

Read Full Post »

oleh Melody Violine


TIK TAK TIK

Tik tak

Tak tik

Tik tik

Tak-tak

Tak tik

Tik tak

Tak tak tak tik

Tik tik tak tak

Tak tak tik tik

(Suryatati, Perempuan Walikota)

lanjutkanMenjelang pemilu presiden putaran pertama (tolong jangan terlalu naif dengan memakan umpan wacana pilpres satu putaran saja) pada tanggal 8 Juli 2009, para capres (termasuk cawapres dan pasukannya) semakin gencar melancarkan serangannya. Taktik yang mereka gunakan bermacam-macam dari yang mencolok mata sampai yang tidak kasat mata.

Salah satu bentuk taktik yang mencolok mata adalah iklan-iklan politik. Ketiga capres itu berlomba-lomba memikat hati masyarakat melalui kata-kata. Sadarkah kalian bahwa mereka menggunakan bahasa sebagai alat penjerat hati kita?

Cara para capres memikat kita ini cukup menarik untuk diteliti. Mereka tidak hanya menggunakan kata-kata verbal seperti Pilih saya! Mereka menggunakan bermacam-macam fungsi sosial bahasa untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa merekalah yang pantas menjadi pemimpin Indonesia periode selanjutnya.

jk win kecilMungkin kata yang paling familiar di telinga kita selama masa kampanye pilpres adalah Lanjutkan! dari Capres 2. Penggunaan bahasa seperti ini mengandung fungsi konatif atau direktif yang sering diwujudkan dalam bentuk seruan atau suruhan (Suhardi dan Sembiring: 54). Capres 2 menyuruh rakyat Indonesia memilihnya kembali supaya dapat melanjutkan pemerintahannya. Capres 3 juga menggunakan fungsi direktif, misalnya Ayo Maju! Dengan dua kata sederhana ini, capres 3 mengajak rakyat Indonesia menjadi bangsa yang maju dengan memilihnya.

3506134601-tim-jk-win-siap-menang-di-33-provinsi

Perintah ini dapat menjadi lebih samar dengan mengganti unsur-unsur yang membentuk kata perintah seperti akhiran –kan dan tanda seru (!). Contohnya adalah iklan capres 1 yang berkata Indonesia memilih rakyat berdaulat. Ini memang kalimat berita, tetapi ini bukan fakta. Ini hanyalah ungkapan harapan capres yang bersangkutan. Sebenarnya, inti dari kalimat ini sama saja. yaitu capres 1 menyuruh rakyat Indonesia memilih dirinya.

Ketika mendengar “suruhan” atau “perintah” ini, wajar bila orang bertanya-tanya, kenapa saya harus memilih kalian? Para capres pun berlomba-lomba memberikan jawaban terbaik. Kali ini mereka memakai fungsi referensial. Fungsi ini terwujud dalam tuturan yang mengutamakan isi atau topik pembicaraan (Suhardi dan Sembiring: 54).

megaprabowo1

Dengan fungsi referensial, capres 3 menjelaskan bahwa mereka akan menggunakan “ekonomi kebangsaan” supaya “rakyat mandiri”. Sebagai tandingan, capres 2 mengungkapkan bahwa mereka akan berjuang bersama dengan “ekonomi kerakyatan, Pancasila, dan keutuhan Bangsa Indonesia. Ini merupakan pesan yang ingin mereka sampaikan kepada rakyat Indonesia. Melalui kata-kata “muluk” ini, mereka berharap rakyat akan jatuh hati dan memilih mereka.

poster SBY TERbaruMungkin kali ini kita bertanya-tanya, memangnya kalian siapa sampai-sampai berani berjanji seperti itu? Mengapa kami harus percaya kepada kalian? Para capres menjawabnya dengan fungsi metalinguistik, yaitu fungsi yang terwujud dalam ungkapan atau bahasa yang terpusat pada makna atau batasan istilah (Suhardi dan Sembiring: 54).

Hmm… Makna atau istilah apa? Para capres berusaha menjelaskan siapa mereka. Misalnya, capres 2 mendeskripsikan “istilah” SBY sebagai “pemimpin bangsa” sekaligus “sahabat keluarga”. Bagaimana dengan capres 3? Mereka mendeskripsikan JK-Wiranto sebagai “pemimpin ideal nusantara”. Capres 1 pun tidak mau kalah. Mereka mengaku sebagai “haluan baru, terobosan baru, dan harapan baru” (meskipun Megawati pernah menjadi presiden sehingga kata baru terasa kurang cocok di sini).

Wallpaper-Mega-Prabowo

Kelihaian mereka tidak terhenti di situ. Mereka ingin menggaet hati kita dengan sekali pukul. Dalam iklan yang lebih penuh (alias rakus), mereka menggabungkan dua atau tiga fungsi sosial bahasa tersebut. Contohnya adalah iklan capres 3 yang berkata Indonesia itu… dari Sabang sampai Merauke dan Lebih Cepat Lebih Baik.

Fungsi metalinguistik digunakan untuk menjelaskan bahwa Indonesia (negeri kita tercinta yang sedang menjadi rebutan ini) sangat luas, yaitu “dari Sabang sampai Merauke”. Hal ini mengacu kepada latar belakang kesukuan pasangan capres 3. Mereka menambahkannya dengan fungsi direktif yang terkandung di dalam Lebih Cepat Lebih Baik.

jk-win36Pertanyaan terakhir yang muncul adalah Apakah kalian akan menepati semua janji tersebut? Ini bukan sesuatu yang bisa kita analisis sekarang karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, kita bisa melihat bahwa kata-kata yang mereka luncurkan ini menjadi begitu indah dan membuai pembacanya karena mereka sedang bersaing. Bermacam-macam taktik mereka kerahkan, termasuk bahasa. Sebagai warga negara yang kritis, kita harus dapat tetap menilai mereka dengan objektif. Jangan terpengaruh oleh untaian kata-kata yang belum terbukti kebenarannya ini.


Read Full Post »