Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Filologi’ Category

DISUSUN UNTUK MEMENUHI NILAI TUGAS AKHIR

MATA KULIAH PENGANTAR SOSIOLINGUISTIK

OLEH

PUSPITA NUARI 0806353646

RAHMAWATI 0806353652

PROGRAM STUDI INDONESIA

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

UNIVERSITAS INDONESIA
JUNI, 2011

(lebih…)

Read Full Post »

Tugas Mata Kuliah
Kemahiran Membaca Naskah Klasik

oleh
Alvin Prasetyadi (0806466153)
Anita Rima Dewi ()
Areispine Dymussaga ()
Dyah Purwaningtyas ()
Isa Ida Astari (0806353551)
Winda Andriana (0806353715)

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
(lebih…)

Read Full Post »

Tugas Mata Kuliah

Kemahiran Membaca Naskah Klasik

oleh
Agung Dwi Ertato (0806353330)
Alvin Prasetyadi (0806466153)
Dewi Ratih (0806466191)
Eries Septiani (0806466235)
Isa Ida Astari (0806353551)
Rahmawati (0806353652)
Rainy S. Kining (0806466336)
Senja Bagus Ananda (0806353690)
Winda Andriana (0806353715)
(lebih…)

Read Full Post »

oleh

Agung Dwi Ertato (0806353330)

Alvin Prasetyadi (0806466153)

Dewi Ratih (0806466191)

Eries Septiani (0806466235)

Isa Ida Astari (0806353551)

Rahmawati (0806353652)

Rainy S. Kining (0806466336)

Senja Bagus Ananda (0806353690)

Winda Andriana (0806353715)

Tugas Mata Kuliah

Kemahiran Membaca Naskah Klasik

Universitas Indonesia

Transliterasi Syair Ken Tambuhan

Versi Muhammad Bakir

  1.

Read Full Post »

Gurindam Dua Belas

Transliterasi Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat di bawah ini diambil dari wikipedia.

Tanda baca dan cetak tebal tidak ada dalam naskahnya yang asli.

Kajian tentang Gurindam Dua Belas dapat dilihat di tautan ini.

Ingin tahu lebih banyak tentang kesusastraan di Pulau Penyengat? Silakan simak tautan ini.

dari sungaikuantan.com

Ini gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat,maka ia itulah orang ma’rifat Barang siapa mengenal Allah,suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri,maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari. Barang siapa mengenal dunia,tahulah ia barang yang terpedaya. Barang siapa mengenal akhirat,tahulah ia dunia melarat.

Ini gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut. Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang. Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua temasya. Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat. Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.

dari id.wikipedia.org

Ini gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Ini gurindam pasal yang keempat:

Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

dari soalumugm-sukses.blogspot.com

Ini gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Ini gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Raja Ali Haji (gambar dari kantorposkijang29151.blogspot.com)

Ini gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Ini gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat (gambar dari aristars.blogspot.com)

Ini gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

dari kaskus.us

Ini gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Ini gurindam pasal yang kedua belas:

Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

Read Full Post »

Nama Kelompok

Alvin Prasetyadi

Senja Bagus Ananda

Wahyu Awaludin

Metode harus disesuaikan dengan persyaratan yang menjadi keputusan sehubungan dengan metode yang akan digunakan.

Metode bertujuan merekontruksi keaslian sebuah teks agar bentuk itu sedekat mungkin dengan bentuk pertama kali diciptakan oleh penulisnya.

Naskah yang ditulis oleh penulis disebut autografi. Sedikit sekali autograf yang dapat menjadi acuan untuk dilestarikan. Pandangan tradisional, pertama, menbuat perbedaan antara teks dan naskah. Teks tidak tergantung pada naskah tertentu, tetapi disampaikan oleh naskah itu. Kedua, konsep sebuah tradisi menyatakan rangkaian, serangkaian kaitan yang berhubungan satu sama lain; rangkaian itu adalah naskah dan kaitan itu adalah tindakan menyalin, membuat yang baru dari yang lama.

Stemma adalah pohon silsilah naskah-naskah. Pada cabang paling atas adalah pola dasar naskah yang menurunkan semua naskah-naskah yang ada.

Kegunaan Stemma adalah memperlihatkan hubungan genetik dari naskah-naskah, dan dengan demikian naskah mana yang lebih dekat dengan apa yang kita cari, yaitu bacaan asli, dengan memiliki tingkat kesalahan yang lebih kecil. Metode ini dapat menyederhanakan bukti yang rumit dan langkah selanjutnya dapat membuat suatu teks yang sedekat mungkin dengan apa yang ditulis oleh penulis asli.

Jenis perubahan yang dapat terjadi dalam sebuah teks yaitu pertama, kesalahan yang disebabkan oleh kemiripan bentuk huruf dalam tulisan tertentu. Kedua, penghilangan merupakan kesalahan yang paling sering terjadi. Ketiga, kesalahan dalam bentuk penambahan dapat terjadi apabila sebuah suku kata yang kecil diulang secara tidak hati-hati. Ini disebut ditografi. Keempat, kesalahan dalam bentuk perubahan dapat terjadi jika huruf-huruf disalin atau baris-baris puisi disalin dalam urutan yang salah. Kelima, kelompok kesalahan yang lain disebabkan oleh kesengajaan penyalin, yang mungkin memutuskan bahwa sebuah kata dalam teks yang asli itu salah, baik karena ia tidak mengenali kata itu maupun karena alasan yang lain.

Daftar Pustaka

Robson. S,O. 1994. Prinsip-prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: RUL

Read Full Post »

Daftar Pustaka

Nama Kelompok

Alvin Prasetyadi

Senja Bagus Ananda

Wahyu Awaludin

M.J.M de Haan menunjukkan kekurangan dari metode Lachman. De Haan membedakan 4 jenis teks: “skor” penceritaan lisan, rekaman penceritaan dari teks, buku untuk dibaca di depan orang, dan buku untuk dipelajari.

Jones adalah penyumbang yang paling penting untuk masalah ini. Dia mempunya saran sebagai berikut: memilih naskah dasar yang koheren dan lengkap, menawarkan kepada pembaca, dan nyatakan perubahan bila diperlukan.

Jiplakan adalah reproduksi fotografis dari naskah, halaman demi halaman yang tidak membolehkan penambahan atau pengurangan apapun. Menurut diplomatis, edisi diplomatis menyajikan teks seperti aslinya, tapi untuk bahasa Indonesia, jelas ada transliterasi. Keuntungan metode diplomatis adalah bahwa teks ini menyajikan teks tepat kata demi kata. Sebaliknya, edisi kritis lebih banyak membantu pembaca karena menerangkan makna teks-teks itu.

Pilihan di antara metode itu tergantung situasi. Kalangan terpelajar biasanya menyukai bentuk pertama sedangkan kalangan umum biasanya menyukai bentuk kedua.

Daftar Pustaka

Robson. S,O. 1994. Prinsip-prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: RUL

Read Full Post »

Older Posts »