Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Kepenulisan’ Category

cover buku

Judul : Iklan Politik dalam Realitas Media

Penulis : Sumbo Tinarbuko

Tebal : 140 halaman

Penerbit : Jalasutra

Idealnya sebuah buku diterbitkan ketika konteksnya atau tren buku sejenisnya masih hangat. Kalau hanya hangat-hangat kuku, ada risiko buku itu akan segera ditinggalkan. Apa efeknya? Tentu saja stok buku tersebut akan memenuhi gudang penerbit. Pada akhirnya, penerbit terpaksa membanting harganya di pesta-pesta buku atau cuci gudang.

Rupanya hal ini sangat diperhatikan ketika menerbitkan buku berjudul Iklan Politik dalam Realitas Media. Buku karya Sumbo Tinarbuko ini diterbitkan Maret 2009 lalu ketika rakyat Indonesia sedang diuber-uber oleh antek-antek partai politik. Waktu itu Indonesia sedang berada dalam masa kampanye pemilu tahap pertama.

Dengan jeli Tinarbuko membedah iklan-iklan politik yang digelar dalam kampanye tersebut. Pisau analisis utamanya adalah desain komunikasi visual. Namun, buku ini tetap menarik untuk dibawa oleh orang-orang yang awam sama sekali terhadap bidang tersebut.

Contoh-contoh yang dipajang sangat mutakhir. Kita dapat menemukan berbagai macam iklan politik dari berbagai macam partai. Tinarbuko tidak hanya mengkritik iklan-iklan ini dari segi baik-buruknya dalam kacamata desain. Dia juga membahas hal-hal menarik seperti iklan caleg yang hanya menonjolkan ketenaran dan apa pengaruhnya terhadap hasil pemilu.

Buku ini juga dilengkapi hasil wawancara seputar iklan politik dengan para pakar komunikasi politik. Beberapa di antaranya adalah Daniel Rembeth (CEO Harian The Jakarta Post), Dody Oktavian (pendiri Komunitas Film Iklan Telesklebes), dan Dyah Pitaloka (dosen periklanan FISIP Undip). Wawancara-wawancara tersebut dapat menambah wawasan kita tentang iklan politik.

Tentu kita tidak lupa bahwa pada tanggal 8 Juli 2009 nanti, kita memilih lagi? Ada 3 calon presiden yang sudah sibuk menarik-narik kita supaya menjatuhkan pilihan kepadanya. Seperti yang dilakukan oleh para calon legislatif beberapa bulan lalu, ketiga capres ini membombardir kita dengan berbagai macam iklan politik.

Hal inilah yang membuat buku Iklan Politik dalam Realitas Media panas lagi. Kita dapat membaca buku ini sebagai acuan menilai iklan-iklan politik yang dilancarkan oleh para capres berkantong tebal itu.

-Melody Violine

Read Full Post »

Seorang teman kita sedang membuat novel yang berhubungan dengan linguistik. Kalian bisa membacanya di http://morninghours.wordpress.com/.

Berikut ini adalah ringkasan yang kami kutip dari blog tersebut.

Novel yang saya buat ini berkisah tentang seorang Profesor Linguistik bernama Drina Hutabarat. Dia memiliki kemampuan tersembunyi untuk mendengar suara-suara terselubung ketika mendengar manusia di sekelilingnya menyatakan sesuatu. Suara-suara terselubung inilah yang disebut “Suara-Suara Ilokusi.”

Kalau kalian belajar linguistik, mungkin kalian tahu bahwa ilokusi adalah sesuatu yang ingin disampaikan oleh manusia saat mengucapkan tuturan nyata (lokusi)-nya. Ilokusi tidak selalu sama dengan lokusi. Kadang manusia menyatakan sesuatu, tapi niatannya untuk menyatakan itu berbeda sama sekali dengan tuturannya. Drina dapat mendengar suara-suara ilokusi ini sejak kecil, tapi setelah dia dewasa, mempelajari ilmu linguistik, dan membuatnya jadi berpikiran sedikit positif terhadap suara-suara ilokusi itu, kemampuannya jadi mulai menghilang.

Suatu hari, Drina yang sudah hidup tenang pada usia 63 tahun, menerima permintaan seorang anak perempuan bernama Karmina untuk membaca suara-suara ilokusi yang mungkin dapat didengar dari surat bunuh diri yang ditulis oleh kakeknya. Permintaan ini awalnya ditolak oleh Drina karena ia tidak ingin mendengar suara-suara ilokusi lagi. Selain itu Drina pun tidak yakin kalau suara ilokusi dapat diketahui dari bentuk tuturan yang berupa tulisan. Akan tetapi, ada sesuatu dari surat bunuh diri tersebut yang sangat ingin ia selidiki hingga ia pun rela untuk berusaha kembali mendengar suara-suara ilokusi yang sudah lama tidak ia dengar.

Read Full Post »

Awal tahun ini, Bank Dunia mengadakan lomba esai dan video dengan tema Pengangguran Pemuda (Youth Unemployment). Lomba ini sudah rutin diselenggarakan sejak 2004, bahkan tahun lalu juga ada lomba fotonya.

Dalam lomba tahun ini, peserta harus menjawab pertanyaan Bagaimana kau bisa menaklukkan pengangguran pemuda dengan pemecahan yang dipimpin oleh pemuda? Untuk menjawabnya, setiap esai harus mengungkapkan bagaimana pengangguran pemuda pernah memengaruhi hidup penulisnya dan apa yang bisa dilakukan oleh penulis bersama rekan-rekannya untuk menemukan pemecahan yang tahan lama.

Lomba ini terbuka untuk setiap pemuda (18 sampai 25 tahun) dari 150 negara dengan 90% pesertanya berasal dari negara berkembang. Tentu saja, pemuda-pemudi Indonesia tidak ketinggalan dan telah mencetak keberhasilan yang signifikan. Pada lomba tahun lalu yang bertema lingkungan, tiga peserta dari Indonesia berjaya. Cahyadi Widianto memenangkan lomba video, Rudolf Bastian Tampubolon menjuarai lomba foto, dan Sunviana Sunaryo Suni berhasil lolos menjadi finalis lomba esai (informasi lebih lengkap tentang juara-juara tahun lalu bisa dilihat di tautan ini). Tahun ini Indonesia menyabet posisi juara pertama lomba esai dan juara ketiga lomba video.

Riska menerima hadiah dari Sekretaris Negara Swedia Joakim Stymne di konferensi ABCDE di Stockholm

Melalui putaran final yang diselenggarakan di Stockholm, Riska Mirzalina terbukti unggul dan pantas menyandang gelar juara dengan esainya yang berjudul Creative Business: The Art of Seeking Opportunity in Crisis. Dengan mengangkat pengalamannya sendiri sebagai pengusaha muda yang telah berhasil menjangkau dunia, Riska menjabarkan bagaimana bisnis kreatif terbukti mampu bertahan dalam terombang-ambingnya perekonomian Indonesia. Esainya bisa diunduh di tautan ini dan bisnisnya bisa dilihat di tautan ini.

Juara ketiga lomba video adalah Yonian Gentilis. Dia mengangkat sosok seorang remaja putri yang, meskipun hanya lulusan SMP, berhasil bertahan hidup di Bandung dengan membuka warung makan. Video ini sederhana, namun berisi contoh nyata dan pesan yang bermakna. Alunan musik khas Sunda yang menyertainya pun membawakan suasana yang unik dan sangat Indonesia. Untuk melihat video yang dimaksud, klik saja tautan ini.

Semoga kemenangan dalam lomba ini tidak hanya akan memicu para pemuda Indonesia lainnya untuk memenangkan lomba esai dan video Bank Dunia berikutnya, tapi juga menumbuhkan semangat untuk mengatasi pengangguran pemuda. Dengan demikian, pemuda Indonesia diharapkan menjadi generasi yang tangguh dan mandiri.

Read Full Post »

oleh Meidy Kautsar

Seorang lelaki tua baru saja tiba di depan sebuah kantin yang sangat ramai. Kantin yang seolah tak pernah panas ataupun dingin. Mungkin karena pengunjung kantin itu sering diterpa angin sehingga panas mereka terangkat dan lenyap. Kalau dingin, beberapa dari mereka mengepulkan asap rokok, sisanya terlibat dalam hangatnya percakapan panjang. Mereka adalah para mahasiswa sastra. Setelah kuliah, sebagian besar dari mereka akan mampir ke kantin ini untuk melakukan keinginan sebebas mungkin. Pada senja mereka bermain kartu, membunyikan gitar dan bernyanyi, mengutak-atik tugas-tugas kuliah, dan tertawa sekeras-kerasnya.

Lelaki tua itu sedang terpana dengan bangunan kantin yang baginya sangat unik. Bukan karena ia udik. Kantin itu memang berdesain spesial. Bentuknya bundar, meja-meja kantin itu juga bundar dan dilengkapi dengan bangku yang bundar—melingkari meja itu. Atap kantin terbuat dari daun-daun jerami berwarna cokelat muda yang saling mengikat erat.

Lelaki tua itu membetulkan peci yang dipakainya, kemudian masuk sambil melihat langkah-langkah kaki rentanya. Ada banyak konter di kantin itu. Ia bisa membaca dalam hati dan tahu bahwa setiap konter menjual makanan atau minuman yang berbeda-beda. Belum pernah ia datang ke kantin seriuh kantin itu. Kebisingan yang ia rasakan adalah dari percakapan-percakapan puluhan mahasiswa yang sepertinya tak akan berhenti. Ia baru saja mengendus bau satai, kemudian dengan susah payah mengingat-ingat kapan ia terakhir makan.

Ia mengeluarkan banyak pak tisu dari tasnya, yang siap ia jual ke mahasiswa yang wajahnya tampak ramah atau yang sedang berkeringat. Senja masih setia menemani lelaki tua itu untuk menawarkan barang dagangannya dari satu meja ke meja lain. Beruntung ia sudah menemukan beberapa pembeli. Keuntungan menjual tisu tidak akan seberapa. Maka, ia kumpulkan makanan dari piring-piring yang belum dibereskan. Lelaki tua itu tahu mahasiswa di situ melihatnya. Ia hanya berharap mereka tidak jijik sebab ia juga sangat terpaksa melakukan itu.

Sekitar setengah jam, lelaki tua itu sudah menjual delapan pak tisu. Senja yang tak setia hari ini, sudah menghilang seperti tak mau melihat kerja kerasnya. Kantin itu belum sepi, tapi ia menyudahi pekerjaannya. Ia ingin mencari tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan makanan yang sudah ia kumpulkan. Perutnya sudah begitu lapar.

1 Oktober 2009

(Tugas 3 Penpop: Deskripsi Ruang dan Waktu)

Read Full Post »

oleh Nila Rahma

Ciiit!

Angkot ngerem, menurunkan penumpang tepat di depan gerbang stasiun Lenteng Agung. Kawasan ini terkenal ramai dan cukup macet sepanjang hari. Angkot berderet menunggu penumpang. Orang berlalu-lalang antara pasar dan stasiun melewati jalan raya.  Terik matahari semakin membuat angkot yang kutumpangi bagaikan oven. Jok 6-4-2 telah penuh terisi.

Aku selalu memilih tempat duduk di pojok kiri. Di pangkal jok formasi empat. Kucuran keringat lelaki paruh baya di sampingku mencuatkan bau yang mulai membuatku hampir muntah. Aku mencoba menahannya dengan menghadapkan hidungku ke arah kaca belakang angkot, memandangi kepulan asap knalpot yang bermain tepat di belakang Bus Mayasari Bakti jurusan Tanjung Priok.

Sepuluh menit berlalu.

Angkot 19 yang kutumpangi lolos dari kemacetan. Lega. Kuambil handphone dari tas. Di layar,

INDOSAT

Sunyi

Buka Kunci              10:13

Aku harus sampai di terminal Kampung Rambutan pukul 10:40. Salman, kakakku yang ketiga, hari ini datang dari Maluku, tapi hanya sebentar saja. Kita punya waktu 15 menit untuk bertemu. Ia harus kembali ke Mabes TNI di Jakarta pukul 10:55.

Angkot bernomor 19 ini terkenal dengan julukan Red Devil ‘setan merah’. Selain berwarna merah, lajunya sangat kencang seperti setan. Mataku masih menjelajah suasana kota lewat jendela angkot.

Thok thok.

Angkot direm, dua penumpang turun di pertigaan Ranco. Di angkot masih ada 12 orang, dua di depan, sembilan di belakang, dan sopir. Angkot yang mulanya di belakangku mulai membalap dari sisi kanan. Sepertinya, angkot itu penuh karena bangku yang paling dekat dengan pintu belakang sudah terisi oleh seorang lelaki muda.

“Ha?”

Aku kaget melihat lelaki itu. Sepertinya, aku kenal.

Lima detik kemudian.

Aku teringat dengan nama Fasta. Buru-buru aku mengambil handphone di dalam tas untuk segera mengetik huruf ‘F’.

“Bagus, aku masih menyimpan nomornya”, Lalu kupencet tombol OK. Terdengar Nada Sambung Pribadi (NSP),

Suara, dengarkanlah aku

Apa kabarnya pujaan hatku

Di sini aku menunggunya

Masih berharap di dalam hatinya

“Halo”

“Ya. Ini siapa?”

“Ini aku, Nila.”

“O, Nila, temen SMA-ku dulu ya?”

“Ya, ya, ya. Tolong, kamu sekarang turun dari angkot dan bakal ketemu aku beberapa detik lagi”

“Ha? Kok bisa? Kok kamu tau kalau aku ada di angkot?”

“Nggak usah banyak omong deh. Cepet, turun aja!”

“Iya, iya. Bang, Kiri Bang!”, ia belum memutus teleponku.

Dua menit berlalu.

Kami bertemu di trotoar. Lalu, duduk di bangku kayu dekat warung.

“Apa kabar?”, tanyaku.

“Alhamdulillah, saya baik.” Jawabnya dengan menundukkan muka.

“Sudah lima tahun kita tak jumpa. Di sini, kuliah atau kerja?”

“Kerja.” Masih dengan menundukkan muka.

“Kerja apa?”

“Emmm.”

“Kalau susah, tak usah dijawab.”

“Kuli bangunan.”

Aku diam. Begitupun dia.

“Aku yakin kau kaget mendengarnya.”, tambahnya.

Aku masih bengong.

Dulu, ia bergaya sekali tiap pergi ke sekolah. Setiap kali memasuki pintu gerbang sekolah, ia membunyikan klakson Tiger-nya dengan keras-keras. Berharap semua mata memandanginya. Seluruh barang yang melekat di tubuhnya dipastikan bermerk terkenal. Tiap mata memandangnya, satu hal yang terlintas: Borjuis!

Ia hanya mau berteman dengan siswa kaya. Satu hal yang membuatku mengenalnya: seringkali ia memintaku untuk membantunya bikin PR alias pekerjaan rumah. Seringkali ia membelikan nasi uduk untukku di kantin sebagai imbalan. Kalau tak butuh, kita seperti orang tak kenal satu sama lain. Bertemu di jalan pun, tak pernah aku disapanya.

Badannya tinggi-besar. Kulitnya coklat bersih. Rambutnya model tentara. Bahunya cukup lebar. Tak heran jika ia memiliki badan yang bagus, ia adalah kapten basket di sekolah kami. Banyak cewek di sekolah menawarkan diri jadi pacarnya tapi tak satupun ia terima. Dia lebih memilih memacari tante yang berjualan peralatan sekolah di depan sekolah kami belajar dulu.

Dia meneruskan bicaranya.

“Aku harus lakukan ini.”

“Kenapa?”

“Untuk adik-adikku”

“Ayahmu ke mana?”

“Meninggal dunia sejak tujuh bulan lalu.”

Innalillahi wainnailaihi rajiuun. Kenapa?”

“Dibunuh.”

“Serius?”

“Iya. Ayahku ternyata menyimpan rahasia. Ia dililit utang. Jumlahnya mencengangkan, sekitar 500 milyar rupiah. Parahnya, ia meminjam uang dari rentenir kelas kakap. Ayahku tak punya uang untuk membayarnya hingga pada suatu malam terjadilah peristiwa itu.”

Mereka mendobrak pintu rumah. Memanggil nama ayahku dengan suara yang keras. Ayahku muncul dari dapur saat ia menyiapkan makan malam untuk kami. Tanpa basa-basi, ia langsung mengarahkan pistol padanya.

Dorrr.

Seketika itu, ayahku meninggal di tempat. Aku menahan teriakanku. Segera kucari adik. Ia berada di lantai 2, menonton televisi. Aku segera menggendongnya. Aku berlari jauh meninggalkan rumah.

“Lalu, ayahmu?”

“Aku tak bisa berpikir lagi waktu itu. Yang kupikirkan hanyalah menyelamatkan adikku. Kalaupun aku mendekat ke ayahku, toh aku dan adikku bakal tertembak mati sia-sia. Mereka menyegel rumah serta mengambil seluruh isinya. Aku berlari sambil menggendong adik menuju rumah Bi’ Inah, pembantu di rumahku dulu.”

“Lalu, kamu bekerja untuk meringankan beban Bi’ Inah begitu?”

“Betul sekali. Aduh, maaf ya, sekarang saya harus pergi menghadap Bos Pri. Katanya, ada proyek baru di kawasan Bekasi, pembangunan jembatan.”

“Oke oke. Kalau ganti nomor handphone, kasih tau aku ya”

“Kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungi aku.”

Sambil menganggukkan kepala, ia mengeluarkan handphone yang dekil dari saku jeans.

“Sepertinya aku tak kan ganti nomor. Aku yakin tak kan ada yang berniat mengambil barang seperti ini” kata Fasta seraya menunjukkan benda itu padaku.

Kami tertawa.

***

“Oh, my God! Aku lupa kalau harus menemui kakak di Kampung Rambutan sekarang.”

Tak disangka, dua angkot bernomor berbeda telah mendekat. Keduanya akan mengangkut kita berdua dengan tujuan yang berbeda.

“Oke. Sampai jumpa lain waktu ya!”

“Sampai jumpa!”

Segera kuambil handphone, ada sepuluh panggilan tak terjawab dan lima SMS (short message service).

Tak Terjawab

Salman

10:54                       29 Apr

SMS pertama,

Aslm. Nila, km dmn? Sy  sdh d Kampung

Rambutan, d gerbang pintu terminal dekat

jembatan penyeberangan.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:39:55

SMS kedua,

Km dmn? Lima menit lagi saya harus

berangkat.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:45:57

SMS ketiga,

Dmn?

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:50:12

SMS keempat,

Nila, sy hrs pergi sekarang. Sy sdh dtunggu teman-teman.

Mungkin, kita akan bertemu lima tahun lagi.

Maaf.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:54:50

Tak sengaja, dari pojok mataku tercucur air mata. Sebenarnya, aku berharap sekali bertemu dengan kakak. Namun, sepertinya, pertemuanku dengan Fasta lebih dikehendaki oleh Allah. Semoga Fasta tak merasa sendiri di sini. Begitu jua dengan Salman, semoga aku diberikan kesempatan bersua dengannya lima tahun lagi.

Read Full Post »

Lomba Resensi di blog untuk novel CITY OF BONES karya CASSANDRA CLARE

Hadiah:

Juara I

  • Uang tunai senilai Rp. 700.000,-
  • Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 1.000.000,-
  • Piagam Penghargaan

Juara II

  • Uang tunai senilai Rp. 500.000,-
  • Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 750.000,-
  • Piagam Penghargaan

Juara III

  • Uang tunai senilai Rp. 300.000,-
  • Voucher belanja buku Ufuk apa saja senilai nominal Rp. 500.000,-
  • Piagam Penghargaan

Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut:

–         Lomba terbuka untuk warga negara Indonesia.

–         Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.

–         Panjang resensi sejumlah 400 – 500 kata

–         Hasil resensi diposting di blog/website pribadi masing-masing

–         Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 resensi, namun di dalam blog/website yang berbeda

–         Peserta bukan karyawan Penerbit Ufuk

–         Kirimkan email berisi link resensi tersebut dan biodata plus foto kamu ke lombaufuk@gmail.com paling lambat 15 Mei 2010, cantumkan “Lomba Resensi CITY OF BONES” di subject email

–         Pemenang akan diumumkan di situs Ufuk (www.ufukpress.com) dan via e-mail pada tanggal 30 Mei 2010

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi Redaksi Ufuk

Email: redaksi@ufukpress.com

No telp: 021-7976587 ext 1 (editorial) atau 08561072712

Read Full Post »

Lomba Menulis IsEF

Kebiasaan menulis perlu diberdayakan karena pada dasarnya setiap orang memiliki pemikiran sendiri dan sering kali bisa menginspirasi banyak orang. Dengan adanya lomba ini, kita bisa meningkatkan kebiasaan untuk menulis. Lomba menulis ini terdiri dari lomba membuat cerpen, esai, dan puisi yang masih berhubungan dengan topik pendidikan.

Tujuan:
a) Menciptakan karya-karya inspiratif, inovatif, dan solutif terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia
b) Menekankan kepada seluruh warga Indonesia khususnya mahasiswa dan pelajar bahwa islam adalah agama yang solutif terhadap permasalah pendidikan
c) Meningkatkan keinginan dan kemampuan menulis

Tema Umum:
Pendidikan Islami dan Kaitannya dengan Peradaban Masa Kini

Sasaran:
a) Mahasiswa dan pelajar SMA se-Indonesia
b) Karya-karya yang mengandung solusi konkret bagi permasalahan pendidikan bangsa secara islami. (bagi mahasiswa)
c) karya-karya kreatif, inspiratif, inovatif, dan original dalam bidang seni pendidikan yang dikemas dalam sebuah cerpen, esai, ataupun puisi. (untuk pelajar tingkat menengah atas)

Persyaratan Peserta
1) Peserta adalah pelajar atau mahasiswa se- Indonesia yang tercatat masih aktif sampai saat ini di sekolah atau kampus masing-masing
2) Peserta wajib mengisi formulir/biodata yang dapat diunduh di website IsEF (http://www.isef.gamais09.org)
3) Seluruh kategori lomba berlaku untuk perorangan/individu (bukan kelompok)
4) Peserta tidak dikenai biaya pendaftaran
Ketentuan Masing-Masing Kategori
A. Cerpen
1) Panjang cerpen maksimum 15 halaman
2) Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia

B. Esai
1) Esai harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan masyarakat khususnya tentang Pendidikan Islami dan Kaitannya dengan Peradaban Masa Kini.
2) Esai ditulis dalam bahasa Indonesia
3) Panjang esai maksimal 5 halaman

C. Puisi
1) Puisi berbahasa Indonesia atau Melayu
2) Tidak diperkenankan menjiplak tulisan orang lain. Orisinalitas dan kejujuran adalah hal utama

Ketentuan Umum (Cerpen, Esai, Puisi)
1) Naskah ditulis pada kertas A4, Times New Roman, font 12, diketik dengan jarak satu setengah spasi. Rapat kanan, kiri, atas, bawah semuanya 3 cm
2) Peserta boleh mengirim naskah lebih dari satu kategori (cerpen, esai, puisi), tetapi tetap hanya akan mendapatkan satu kesempatan menjadi juara meskipun seluruh kategori yang dikirim mendapatkan nilai tertinggi. Yang terbaik dari semua kategori yang diikutilah yang akan dipilih sebagai juara (misal ada peserta yang mengirim naskah untuk semua kategori, dan akhirnya pada saat penilaian tercatat sebagai berikut. lomba menulis cerpen juara 1, esay juara 3, puisi juara 2. Maka yang akan tercatat sebagai juara adalah juara 1 lomba menulis cerpen). Jika ada peringkat yang sama (misal cerpen dan esay tercatat sebagai juara 2), maka akan dilihat dari deviasi nila masing-masing kategori. Jika deviasi nilai cerpen > deviasi nilai esay, maka yang akan tercatat sebagai juara 2 adalah di kategori cerpen.
3) Peserta boleh mengirim naskah lebih dari satu judul (Maksimal 2 judul)
4) Isi naskah harus sesuai dengan tema yang diberikan
5) Tema seluruh kategori adalah tema umum di atas, peserta boleh mengembangkan tema di atas
6) Naskah harus asli, bukan saduran atau terjemahan
7) Naskah belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun

8) Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat

9) Bilamana ada pertanyaan boleh dikirimkan ke // <![CDATA[
var prefix = 'mailto:';
var suffix = '';
var attribs = '';
var path = 'hr' + 'ef' + '=';
var addy81135 = 'isef' + '@';
addy81135 = addy81135 + 'gamais09' + '.' + 'org';
document.write( '‘ );
document.write( addy81135 );
document.write( ” );
// ]]>
isef@gamais09.org // This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it // <![CDATA[
document.write( '’ );
// ]]> dengan format subjek : Pertanyaan [ Judul Lomba ]
Format Pemberian Identitas Naskah dan Cara Pengirimannya
1) Naskah diberi identitas oleh penulis, yakni: (a) judul naskah, (b) kategori naskah (puisi/esai/cerpen), (c) jenjang pendidikan (SMA/SMK/MA/Mahasiswa)
2) Naskah beserta biodata lengkap/formulir (format terlampir) dikirimkan ke:
Panitia IsEF (Islamic Education Festival)
Sekretariat Gamais ITB
Jl. Ganesha 7 Bandung 40132
Atau jika naskah dikirim melalui email, bisa dikirim ke alamat : // <![CDATA[
var prefix = 'mailto:';
var suffix = '';
var attribs = '';
var path = 'hr' + 'ef' + '=';
var addy58643 = 'isef' + '@';
addy58643 = addy58643 + 'gamais09' + '.' + 'org';
document.write( '‘ );
document.write( addy58643 );
document.write( ” );
// ]]>
isef@gamais09.org // This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it // <![CDATA[
document.write( '’ );
// ]]> dengan format subjek :
i. Lomba Cerpen : LOMBA CERPEN [Nama] [Judul Cerpen]
ii. Lomba Esai : LOMBA ESAI [Nama] [Judul Esai]
iii. Lomba Puisi : LOMBA PUISI [Nama] [Judul Puisi]
Naskah harus dilampirkan dengan cara attachment pada email-nya juga dengan melampirkan formulir pada setiap naskahnya.
3) Peserta wajib melampirkan fotocopy KTM (bagi mahasiswa), Kartu Pelajar/OSIS (bagi pelajar). Jika naskah dikirim via email, wajib melampirkan scan KTM/Kartu OSIS yang asli
4) Naskah yang dikirim ke panitia menjadi milik panitia tetapi hak cipta tetap pada pengarang. Panitia berhak menyebarkan tulisan atas nama penulis.
5) Setiap naskah yang dikirim harus disertai data diri di atas (satu naskah, satu lampiran data diri).
6) Naskah dikirim paling lambat tanggal 8 Mei 2010

LOMBA MENULIS

Kriteria Penilaian
1) Tata bahasa, penilaian ini berdasarkan atas kesesuaian hasil karya yang dibuat dengan aturan tata bahasa Indonesia
2) Sastra, penilaian ini didasarkan atas keindahan sastra yang dihasilkan dari hasil karya yang dibuat
3) Orisinalitas, penilaian ini dilihat dari segi keaslian hasil karya yang dibuat

Tahapan Lomba
– Pengiriman : 1 April – 8 Mei 2010
– Proses Penjurian : 20 April – 15 Mei 2010
– Pengumuman Pemenang : 18 Mei 2010
– Penyerahan Hadiah : 23 Mei 2010

Hadiah
Hadiah untuk setiap kategori adalah sebagai berikut:
1) Pemenang 1 memperoleh uang sebesar Rp. 1.000.000. dan piagam penghargaan.
2) Pemenang 2 memperoleh uang sebesar Rp. 750.000. dan piagam penghargaan.
3) Pemenang 3 memperoleh uang sebesar Rp. 500.000. dan piagam penghargaan.
Semua pemenang diharapkan datang pada saat penyerahan hadiah sekaligus untuk mengikuti acara puncak IsEF pada tanggal 22-23 Mei 2010. Jika peserta tidak bias dating karena kendala transportasi (bagi yang jauh), maka hadiah akan dikirim lewat rekening bank masing-masing pemenang, dan piagam penghargaan dikirim melalui pos.

Pengumuman Pemenang
Pengumuman pemenang lomba menulis akan dilakukan pada tanggal 18 Mei 2010 melalui website IsEF di http://www.isef.gamais09.org. Panitia juga akan menghubungi langsung pemenang lomba menulis ini via ponsel.

Contact Person
ROUF (081908943516)

Read Full Post »

Older Posts »