Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerpen’ Category

oleh Meidy Kautsar

Seorang lelaki tua baru saja tiba di depan sebuah kantin yang sangat ramai. Kantin yang seolah tak pernah panas ataupun dingin. Mungkin karena pengunjung kantin itu sering diterpa angin sehingga panas mereka terangkat dan lenyap. Kalau dingin, beberapa dari mereka mengepulkan asap rokok, sisanya terlibat dalam hangatnya percakapan panjang. Mereka adalah para mahasiswa sastra. Setelah kuliah, sebagian besar dari mereka akan mampir ke kantin ini untuk melakukan keinginan sebebas mungkin. Pada senja mereka bermain kartu, membunyikan gitar dan bernyanyi, mengutak-atik tugas-tugas kuliah, dan tertawa sekeras-kerasnya.

Lelaki tua itu sedang terpana dengan bangunan kantin yang baginya sangat unik. Bukan karena ia udik. Kantin itu memang berdesain spesial. Bentuknya bundar, meja-meja kantin itu juga bundar dan dilengkapi dengan bangku yang bundar—melingkari meja itu. Atap kantin terbuat dari daun-daun jerami berwarna cokelat muda yang saling mengikat erat.

Lelaki tua itu membetulkan peci yang dipakainya, kemudian masuk sambil melihat langkah-langkah kaki rentanya. Ada banyak konter di kantin itu. Ia bisa membaca dalam hati dan tahu bahwa setiap konter menjual makanan atau minuman yang berbeda-beda. Belum pernah ia datang ke kantin seriuh kantin itu. Kebisingan yang ia rasakan adalah dari percakapan-percakapan puluhan mahasiswa yang sepertinya tak akan berhenti. Ia baru saja mengendus bau satai, kemudian dengan susah payah mengingat-ingat kapan ia terakhir makan.

Ia mengeluarkan banyak pak tisu dari tasnya, yang siap ia jual ke mahasiswa yang wajahnya tampak ramah atau yang sedang berkeringat. Senja masih setia menemani lelaki tua itu untuk menawarkan barang dagangannya dari satu meja ke meja lain. Beruntung ia sudah menemukan beberapa pembeli. Keuntungan menjual tisu tidak akan seberapa. Maka, ia kumpulkan makanan dari piring-piring yang belum dibereskan. Lelaki tua itu tahu mahasiswa di situ melihatnya. Ia hanya berharap mereka tidak jijik sebab ia juga sangat terpaksa melakukan itu.

Sekitar setengah jam, lelaki tua itu sudah menjual delapan pak tisu. Senja yang tak setia hari ini, sudah menghilang seperti tak mau melihat kerja kerasnya. Kantin itu belum sepi, tapi ia menyudahi pekerjaannya. Ia ingin mencari tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan makanan yang sudah ia kumpulkan. Perutnya sudah begitu lapar.

1 Oktober 2009

(Tugas 3 Penpop: Deskripsi Ruang dan Waktu)

Read Full Post »

oleh Nila Rahma

Ciiit!

Angkot ngerem, menurunkan penumpang tepat di depan gerbang stasiun Lenteng Agung. Kawasan ini terkenal ramai dan cukup macet sepanjang hari. Angkot berderet menunggu penumpang. Orang berlalu-lalang antara pasar dan stasiun melewati jalan raya.  Terik matahari semakin membuat angkot yang kutumpangi bagaikan oven. Jok 6-4-2 telah penuh terisi.

Aku selalu memilih tempat duduk di pojok kiri. Di pangkal jok formasi empat. Kucuran keringat lelaki paruh baya di sampingku mencuatkan bau yang mulai membuatku hampir muntah. Aku mencoba menahannya dengan menghadapkan hidungku ke arah kaca belakang angkot, memandangi kepulan asap knalpot yang bermain tepat di belakang Bus Mayasari Bakti jurusan Tanjung Priok.

Sepuluh menit berlalu.

Angkot 19 yang kutumpangi lolos dari kemacetan. Lega. Kuambil handphone dari tas. Di layar,

INDOSAT

Sunyi

Buka Kunci              10:13

Aku harus sampai di terminal Kampung Rambutan pukul 10:40. Salman, kakakku yang ketiga, hari ini datang dari Maluku, tapi hanya sebentar saja. Kita punya waktu 15 menit untuk bertemu. Ia harus kembali ke Mabes TNI di Jakarta pukul 10:55.

Angkot bernomor 19 ini terkenal dengan julukan Red Devil ‘setan merah’. Selain berwarna merah, lajunya sangat kencang seperti setan. Mataku masih menjelajah suasana kota lewat jendela angkot.

Thok thok.

Angkot direm, dua penumpang turun di pertigaan Ranco. Di angkot masih ada 12 orang, dua di depan, sembilan di belakang, dan sopir. Angkot yang mulanya di belakangku mulai membalap dari sisi kanan. Sepertinya, angkot itu penuh karena bangku yang paling dekat dengan pintu belakang sudah terisi oleh seorang lelaki muda.

“Ha?”

Aku kaget melihat lelaki itu. Sepertinya, aku kenal.

Lima detik kemudian.

Aku teringat dengan nama Fasta. Buru-buru aku mengambil handphone di dalam tas untuk segera mengetik huruf ‘F’.

“Bagus, aku masih menyimpan nomornya”, Lalu kupencet tombol OK. Terdengar Nada Sambung Pribadi (NSP),

Suara, dengarkanlah aku

Apa kabarnya pujaan hatku

Di sini aku menunggunya

Masih berharap di dalam hatinya

“Halo”

“Ya. Ini siapa?”

“Ini aku, Nila.”

“O, Nila, temen SMA-ku dulu ya?”

“Ya, ya, ya. Tolong, kamu sekarang turun dari angkot dan bakal ketemu aku beberapa detik lagi”

“Ha? Kok bisa? Kok kamu tau kalau aku ada di angkot?”

“Nggak usah banyak omong deh. Cepet, turun aja!”

“Iya, iya. Bang, Kiri Bang!”, ia belum memutus teleponku.

Dua menit berlalu.

Kami bertemu di trotoar. Lalu, duduk di bangku kayu dekat warung.

“Apa kabar?”, tanyaku.

“Alhamdulillah, saya baik.” Jawabnya dengan menundukkan muka.

“Sudah lima tahun kita tak jumpa. Di sini, kuliah atau kerja?”

“Kerja.” Masih dengan menundukkan muka.

“Kerja apa?”

“Emmm.”

“Kalau susah, tak usah dijawab.”

“Kuli bangunan.”

Aku diam. Begitupun dia.

“Aku yakin kau kaget mendengarnya.”, tambahnya.

Aku masih bengong.

Dulu, ia bergaya sekali tiap pergi ke sekolah. Setiap kali memasuki pintu gerbang sekolah, ia membunyikan klakson Tiger-nya dengan keras-keras. Berharap semua mata memandanginya. Seluruh barang yang melekat di tubuhnya dipastikan bermerk terkenal. Tiap mata memandangnya, satu hal yang terlintas: Borjuis!

Ia hanya mau berteman dengan siswa kaya. Satu hal yang membuatku mengenalnya: seringkali ia memintaku untuk membantunya bikin PR alias pekerjaan rumah. Seringkali ia membelikan nasi uduk untukku di kantin sebagai imbalan. Kalau tak butuh, kita seperti orang tak kenal satu sama lain. Bertemu di jalan pun, tak pernah aku disapanya.

Badannya tinggi-besar. Kulitnya coklat bersih. Rambutnya model tentara. Bahunya cukup lebar. Tak heran jika ia memiliki badan yang bagus, ia adalah kapten basket di sekolah kami. Banyak cewek di sekolah menawarkan diri jadi pacarnya tapi tak satupun ia terima. Dia lebih memilih memacari tante yang berjualan peralatan sekolah di depan sekolah kami belajar dulu.

Dia meneruskan bicaranya.

“Aku harus lakukan ini.”

“Kenapa?”

“Untuk adik-adikku”

“Ayahmu ke mana?”

“Meninggal dunia sejak tujuh bulan lalu.”

Innalillahi wainnailaihi rajiuun. Kenapa?”

“Dibunuh.”

“Serius?”

“Iya. Ayahku ternyata menyimpan rahasia. Ia dililit utang. Jumlahnya mencengangkan, sekitar 500 milyar rupiah. Parahnya, ia meminjam uang dari rentenir kelas kakap. Ayahku tak punya uang untuk membayarnya hingga pada suatu malam terjadilah peristiwa itu.”

Mereka mendobrak pintu rumah. Memanggil nama ayahku dengan suara yang keras. Ayahku muncul dari dapur saat ia menyiapkan makan malam untuk kami. Tanpa basa-basi, ia langsung mengarahkan pistol padanya.

Dorrr.

Seketika itu, ayahku meninggal di tempat. Aku menahan teriakanku. Segera kucari adik. Ia berada di lantai 2, menonton televisi. Aku segera menggendongnya. Aku berlari jauh meninggalkan rumah.

“Lalu, ayahmu?”

“Aku tak bisa berpikir lagi waktu itu. Yang kupikirkan hanyalah menyelamatkan adikku. Kalaupun aku mendekat ke ayahku, toh aku dan adikku bakal tertembak mati sia-sia. Mereka menyegel rumah serta mengambil seluruh isinya. Aku berlari sambil menggendong adik menuju rumah Bi’ Inah, pembantu di rumahku dulu.”

“Lalu, kamu bekerja untuk meringankan beban Bi’ Inah begitu?”

“Betul sekali. Aduh, maaf ya, sekarang saya harus pergi menghadap Bos Pri. Katanya, ada proyek baru di kawasan Bekasi, pembangunan jembatan.”

“Oke oke. Kalau ganti nomor handphone, kasih tau aku ya”

“Kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungi aku.”

Sambil menganggukkan kepala, ia mengeluarkan handphone yang dekil dari saku jeans.

“Sepertinya aku tak kan ganti nomor. Aku yakin tak kan ada yang berniat mengambil barang seperti ini” kata Fasta seraya menunjukkan benda itu padaku.

Kami tertawa.

***

“Oh, my God! Aku lupa kalau harus menemui kakak di Kampung Rambutan sekarang.”

Tak disangka, dua angkot bernomor berbeda telah mendekat. Keduanya akan mengangkut kita berdua dengan tujuan yang berbeda.

“Oke. Sampai jumpa lain waktu ya!”

“Sampai jumpa!”

Segera kuambil handphone, ada sepuluh panggilan tak terjawab dan lima SMS (short message service).

Tak Terjawab

Salman

10:54                       29 Apr

SMS pertama,

Aslm. Nila, km dmn? Sy  sdh d Kampung

Rambutan, d gerbang pintu terminal dekat

jembatan penyeberangan.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:39:55

SMS kedua,

Km dmn? Lima menit lagi saya harus

berangkat.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:45:57

SMS ketiga,

Dmn?

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:50:12

SMS keempat,

Nila, sy hrs pergi sekarang. Sy sdh dtunggu teman-teman.

Mungkin, kita akan bertemu lima tahun lagi.

Maaf.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:54:50

Tak sengaja, dari pojok mataku tercucur air mata. Sebenarnya, aku berharap sekali bertemu dengan kakak. Namun, sepertinya, pertemuanku dengan Fasta lebih dikehendaki oleh Allah. Semoga Fasta tak merasa sendiri di sini. Begitu jua dengan Salman, semoga aku diberikan kesempatan bersua dengannya lima tahun lagi.

Read Full Post »

oleh Puspita Nuari


Ting tong.

Ini sudah yang kelima kalinya aku memencet bel. Agaknya benda putih mungil itu juga mulai bosan memanggil si empunya rumah. Kucoba menelpon ke ponselnya, masih juga tidak diangkat. Jangan-jangan dia sedang pergi? Ah, mana mungkin. Masak Din lupa aku mau ke rumahnya? Aku sudah bersiap menelponnya lagi saat Mbak Har, asisten rumah tangga di rumah Din, keluar untuk membukakanku pintu.

”Oh, ternyata Mbak Ita. Maaf, saya kira salesman. Mari masuk, Mbak. Tunggu di kamar Mbak Din saja,” ujarnya mempersilakanku untuk masuk.

”Memang Din lagi apa, Mbak?” tanyaku ingin tahu.

”Oh, Mbak Din lagi luluran.”

Aku bengong. Luluran? Pantas, kutelpon berkali-kali tidak diangkat. Rupanya dia lagi asyik main bersama Nyonya Menir… Baiklah, aku tunggu saja di kamarnya.

”Permisi, Mbak,” pamitku dan aku pun langsung menuju kamarnya di lantai atas.

Kubuka perlahan pintu kamarnya, lalu kumasuki kamar yang sudah hampir dua tahun tidak kukunjungi itu. Hmm, tidak banyak yang berubah. Lemari pakaiannya masih yang itu. Lemari bukunya masih yang berpintu kaca itu. Meja belajarnya juga masih yang dulu. Kurasa yang berubah hanya letaknya.

Terakhir aku kemari, begitu kubuka pintu kamar, aku akan langsung melihat lemari pakaian di dinding seberang pintu. Berturut-turut ke samping kiri lemari-pakaian-bermerk-Olympic itu ada meja belajar lalu lemari buku. Di seberang meja belajar dan lemari buku, atau di sebelah kiri pintu masuk, terdapat spring bed dengan ukuran untuk satu orang, eh, maksudku untuk dua orang karena di bagian bawahnya terdapat satu tempat tidur lagi yang dapat ditarik keluar bila ingin digunakan.

Kini, yang ada di sebelah kiri pintu masuk adalah si Olympic. Si Olympic yang berpintu dua ini berhadapan dengan meja belajar yang posisinya tidak berubah sejak terakhir aku kemari. Tempat tidur yang hari ini dibungkus dengan seprai motif daun mint menempel rapat ke di dinding sebelah kiri. Posisi yang demikian menyebabkan tempat tidur yang berada di bawahnya tidak dapat ditarik keluar karena terhalang oleh salah satu sisi meja belajar dan salah satu sisi si Olympic. Dan lemari bukunya? Ah, si Olympic kedua ini ada di depanku sekarang, tetapi dia menghadap ke dinding kiri.

Ups, aku baru sadar aku belum menutup pintu. Saat aku menutupnya, tidak sengaja aku menjatuhkan salah satu tas yang tadinya tergantung di balik pintu. Kukembalikan tas vintage tersebut ke gantungan yang sudah penuh dengan tas-tas lain. Pantas jatuh, pikirku. Berapa banyak sih tas yang mau Din taruh di sini? Dari tas kecil untuk ke pesta sampai tas bahu yang cukup besar, semua didesakkan di gantungan yang hanya berkepala empat ini. Ah, di antara tas-tas ini, aku tidak melihat tas punggung. Yah, aku malah akan heran kalau seorang yang feminin seperti Din memiliki tas punggung, apalagi memakainya ke kampus.

Duh, Din masih lama tidak, ya, lulurannya?

Aku memutuskan untuk duduk di lantai. Lantai kamar Din adalah tipe lantai favoritku karena aku suka sekali dengan sesuatu yang bertekstur kayu. Kuluruskan kakiku setelah kutaruh ranselku di sebelah kananku, lalu kusandarkan punggungku pada si Olympic pertama.

Uh, lelahnya. Perjalanan dari Bekasi ke Rawamangun membuatku mandi keringat. Panas-panas begini paling enak ngadem di kamar ber-AC. Lho? Kamar Din ini kan ber-AC, tetapi kok dari tadi aku berkipas diri menggunakan tangan? Aku melirik ke arah AC yang menempel di dinding sebelah kiri, di atas tempat tidur. Ya, ampun. Terang saja panas, wong AC-nya bocor! Airnya sampai merembes ke dinding begitu….

Aku berusaha menyesuaikan suhu tubuhku dengan suhu kamar ini, tetapi setelah aku berhasil pun, Din tetap belum kembali ke kamar. Lulurannya berapa bungkus sih? Centil amat. Din, aku mulai bosan nih.

Kulirik si Olympic kedua yang berada di sebelah kananku. Maksudku, aku ingin lihat, barangkali ada buku yang bisa kubaca sambil menunggu Din. Ternyata tidak kelihatan sebab hanya setengah bagian atas saja yang pintunya terbuat dari kaca, sedangkan bagian bawahnya tetap berpintu kayu. Aku yang sedang duduk ini terpaksa berdiri (lagi) untuk bisa melihat koleksi buku Din.

Hm, banyak juga koleksinya, tetapi hampir semua koleksinya adalah novel terjemahan. Duh, jadi tidak minat baca. Habis, aku lebih suka novel lokal, sih. Selain novel terjemahan, ada pula buku-buku kuliah Din yang tentu saja ’berbau’ farmasi. Ada dua buku-berbau-farmasi yang menarik perhatianku. Buku pertama adalah kamus (atau ensiklopedia?) tentang meracik obat. Aku tertarik karena bentuknya mirip dengan KBBI yang biasa kuanggurkan di rumah. Buku kedua, buku setebal lebih kurang 3,5 cm dengan tajuk Anatomi Fisiologis Manusia. Ya, Tuhan. Apa pula ini? Isinya adalah semua tentang organ tubuh kita, baik yang ada di luar, maupun yang di dalam tubuh. Ckckck, anak farmasi belajar hal begini juga, ya?

Bosan melihat buku-buku Din, aku beralih ke meja belajarnya. Tidak tahu juga harus kusebut apa meja yang penuh dengan barang ini. Sepertinya sudah tidak pernah berfungsi sebagaimana mestinya lagi. Ya, banyak benda-benda ’ajaib’ di meja multifungsi ini. Ada celengan berbentuk figur Superman yang tinggal setengah badan, ada Nokia (entah seri yang mana) tanpa penutup baterainya (tetapi masih bisa menyala), ada sebuah tabung plastik bening berisi undangan prom nite dua tahun lalu (Din memang lulus setahun lebih dulu dariku), bahkan Din masih menyimpan radio mini yang antenanya sudah patah beberapa tahun yang lalu!

Hayoo, mau komentar apa tentang meja gua?”

Aku terkejut karena tiba-tiba Din sudah ada di belakangku.

”Sori, Ta. Tadi waktu lo dateng, gua itu baru mulai luluran! Makanya gua buru-buru nyelesein ’hajat’ gua karena takut lo lumutan di sini,” ujar Din disusul tawanya yang khas.

Hm, ” sahutku singkat, pura-pura merajuk.

Tiba-tiba Din mengambil radio mini itu dari tanganku.

Lo pasti heran karena gua masih nyimpen radio rusak ini. Ya, kan?”

Aku tidak menjawab dengan kata, tetapi sepertinya Din juga tidak membutuhkan jawabanku karena dia langsung menjawab sendiri pertanyaanya.

Gua nggak akan membuang hadiah pertama dari sahabat pertama gua.”

Aku tertegun mendengar jawaban Din.

Din tersenyum.

Dan aku pun ikut tersenyum. Kamu juga sahabatku yang pertama, Din.

Read Full Post »

oleh Meidy Kautsar

Entah kapan saya menonton ini. Saya memang pelupa. Tapi kalau ceritanya, hinggap sampai sekarang.

***
Waktu itu saya sedang menonton program TV. ‘Tolong’ nama programnya, sederhana, tapi ilmu yang bisa didapat dari sini, bagi saya luar biasa. Saya yakin kalian tahu seperti apa acara itu, atau mungkin juga sering menontonnya. Banyak sekali kejadian yang bagi saya sangat menakjubkan. Acara ini sangat menohok kesadaran saya. Bahwa saya sebenarnya hanyalah manusia tidak tahu diri, manja, bodoh, penghambur hidup dan selalu absen bersyukur. Dari seluruh kejadian yang luar biasa, saya ingin mengisahkan satu saja kejadian yang pernah ada di acara ‘Tolong’.
***
Ada seorang pemuda yang merupakan bagian dari kru ‘Tolong’, mendekati seorang bapak tua yang amat rapuh , yang sedang ditemani sebatang tongkat. Bapak tua itu sedang meyandar di tembok, di sebuah tempat keramaian. Baju dan celananya lusuh. Ia tampaknya sebatang kara, mungkin juga tuna wisma. Saya kira saya tahu seluruh cerita ini, sampai saya menyadari, bapak tua itu memakai kaca mata, dan tentu saja itu bukan untuk bergaya.
Bapak tua itu buta. Bagi orang buta, tongkat bukanlah barang biasa. Tongkat seperti benda yang sengaja diciptakan Tuhan agar mereka punya petunjuk tentang dunia yang bisa ditapaki. Tongkat adalah mata mereka.
Pemuda itu berkata, “Pak, saya ingin mengambil sesuatu yang tersangkut di atap, boleh saya pinjam tongkatnya?”
Bapak tua itu tidak pernah punya jaminan sedikit pun bahwa tongkatnya pasti kembali ke tangannya, tapi tidak ragu untuk segera meminjamkan tongkatnya. Saya membayangkan bagaimana jika dunia ini gelap, lalu yang saya punya hanya tongkat. Saya membayangkan berada di tempat bapak tua itu. Pasti saya akan sangat ketakutan jika tongkat satu-satunya hilang. Bagaimana saya mesti berjalan?
Setelah tongkat itu selesai dipinjam dan dikembalikan, bapak tua itu disuguhi sebuah pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang sudah terngiang di kepala saya: kenapa Bapak mau meminjamkan tongkat Bapak kepada orang yang tidak dikenal?….
Jawabannya sangat sederhana.
“Saya sangat ingin bisa menolong orang. Sangat jarang orang yang meminta bantuan kepada saya, karena saya buta. Saya ingin dalam hidup ini saya bisa menolong orang.”

Kemudian ia bercerita.
“Saya selalu mendengar suara mobil, tapi tidak tahu seperti apa bentuknya. Saya juga tidak tahu seperti apa pohon, seperti apa jalan….”
Tapi ia tahu, menolong bisa dilakukan semua orang. Meskipun untuknya, bisa saja tongkat itu tidak kembali ke tangannya, lalu ia akan sangat kesusahan untuk pulang. Ia seperti tidak peduli dengan risiko itu. Dia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menolong orang lain.***

kalau aku menutup kedua mata
dan tidur sementara lampu masih menyala
aku akan melihat merah dari biru
pada saat itu kuning menyambut hijau membentuk pohon

di sana malaikat bersamaku
ia selalu menyuguhiku secangkir teh hangat
yang warnanya secokelat tongkatku

jika aku menutup kedua mata
dan beristirahat untuk mencegah silau yang menyala
aku akan melihat dunia bersama Penciptaku
dunia yang hanya aku dan Tuhan bersamanya

12 Agustus 2009

Read Full Post »

oleh Meidy Kautsar

Kampus UI pada pagi hari tak pernah sepi dari burung-burung yang beterbangan dan uap-uap yang merdu di jiwa. Tentu saja, di sini banyak pohon dan tanaman yang bahagia dan kadang kau bisa melihat tupai mungil yang selalu kelihatan banyak pekerjaan.

Ada dua bocah yang rajin datang pada pagi. Wayan dan Kerta namanya. Wayan selalu datang dengan setumpuk koran. Ia biasanya mengenakan baju SMP dan topi yang membenam keningnya. Kau akan damai jika melihat Kerta. Ia tak pernah memasang wajah sedih. Dari senyumnya menguap aura yang seperti embun pagi. Ia masih SD, terlihat dari celana yang ia kenakan. Jika kau melihat seseorang tanpa lusinan kotak tisu di tangannya, kau bukan melihat Kerta.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini mereka datang ke Kampus UI, mencari tempat yang sedang diramaikan mahasiswa.

“Kak, koran Kak. Ada Top Skor, Kompas….”

“Kak, mau beli tisu?”

Begitulah biasanya ucap dua bocah itu kepada mahasiswa yang agung.

Sekarang dua bocah itu di kantin FIB, tapi mereka tidak hanya berkunjung ke sini setiap paginya. Dua bocah itu akan bertolak ke FE, FT, FISIP….

Sekitar pukul dua belas, dua bocah itu mengakhiri pekerjaannya. Wayan harus masuk sekolah pukul dua, sementara Kerta setengah jam lebih awal. Mereka meninggalkan kampus dan akan melangkahkan kakinya sampai ke sekolah masing-masing.

“Dapat berapa hari ini, Yan?”

“Lumayan kok.”

Wayan mengantongi puluhan ribu. Itu baru penghasilan kotornya. Satu koran memang berharga 2000 sampai 3000 Rupiah, tapi keuntungannya? Hanya sekitar lima ratus perak tiap koran.

Banyak sebetulnya yang mereka bicarakan dalam perjalanan ke sekolah. Tentang PR, film kartun, teman-teman di sekolah. Kerta mempunyai kebiasaan mengomentari gambar-gambar di koran milik Wayan, yang tidak terjual.

“Yan, itu foto siapa?” atau, “Eh, ini kan pemain yang kemarin ngegolin satu kali!”

Kaki-kaki dua bocah itu mungkin letih, tapi hati mereka sederhana. Obrolan hangat antara mereka berdua setiap hari adalah obat untuk kaki-kaki mereka sendiri. Dan ini bukanlah yang terakhir, besok dan entah sampai kapan, dua bocah itu akan melalui hari bersama-sama, menjual koran dan tisu di Kampus UI. Dengan hasil hari ini, Wayan berniat menabungkan beberapa receh ke celengan yang amat ia sayangi. Sementara itu, hari ini Kerta ingin sekali membeli setusuk bakso goreng yang sangat lezat di kantin sekolahnya.***
(Terinspirasi dari dua bocah penjual koran dan tisu yang sering terlihat di FIB)

7 Oktober 2009

Read Full Post »

oleh Meidy Kautsar

Dahulu kala di sebuah taman hidup sepuluh ekor ulat dan dua puluh kuntum bunga. Ulat-ulat itu terdiri dari lima ulat jantan dan lima ulat betina. Sedangkan bunga-bunga itu terdiri dari sepuluh bunga mawar dan sepuluh bunga sepatu. Pada awalnya mereka semua bersahabat. Sampai suatu hari, sekuntum bunga mawar bernama Okit dengan sombongnya berkata.

“Hei para ulat! Jangan terus memakani daun kami!”

“Ya benar! Lihat…daun-daun kami jadi rusak, pergi kalian dari taman ini!” sahut bunga mawar lainnya.

Ulat-ulat merasa sangat sedih. Mereka memang memakani daun-daun bunga di taman itu. Tetapi jika mereka tidak makan, tentu mereka akan mati kelaparan. Akhirnya dengan kerendahan hati mereka berniat pergi dari taman itu. Namun sekuntum bunga sepatu mencegahnya.

“Hei, kalian jangan pergi,” kata Rena si bunga sepatu kepada ulat, “kalian boleh memakan daun kami para bunga sepatu di taman ini.”

“Benar, kami rela membagi daun kami kepada kalian,” ucap bunga sepatu lainnya.

Ulat sangat berterima kasih atas kebaikan bunga sepatu dan berkata.

“Terima kasih, kalian telah menolong kami.”

Akhirnya di taman itu bunga mawarlah yang paling indah karena daun mereka utuh. Terkadang beberapa bunga mawar mengejek bunga sepatu yang daun-daunnya bolong akibat dimakani ulat.

Suatu ketika, seorang manusia mendatangi taman itu. Dia berkata.

“Aku akan mengambil beberapa bunga disini. Oh tidak…bunga-bunga sepatu ini daunnya dimakani ulat. Aku ambil lima bunga mawar ini saja, daunnya masih bagus.”

Lalu manusia itu mencabut lima bunga mawar dari taman itu dan pergi. Taman itu berduka, khususnya bunga mawar. Mereka kehilangan lima anggotanya. Sekuntum bunga sepatu tiba-tiba berbisik kepada ulat.

“Kami harus berterimakasih kepada kalian. Kalau daun kami tidak dimakani kalian, mungkin kami juga diambil oleh manusia seperti lima bunga mawar itu.”

Di taman itu hanya tersisa lima bunga mawar. Mereka berlima takut akan diambil juga oleh manusia. Akhirnya mereka menyadari kesombongannya dan berkata.

“Kalian para ulat, kami mohon maafkanlah kesombongan kami. Kalian sekarang boleh memakan daun kami. Kami takut akan dicabut dari tanah seperti kelima saudara kami.”

“Tapi mawar, daun itu memang milik kalian, hak kalian untuk memberikannya kepada kami atau tidak,” tukas Hili si ulat jantan.

“Tidak ulat, sungguh kami sangat menyesal,” ucap Okit, “sudah seharusnya kami memberikan daun-daun kami untuk kalian makan. Bukankah sesama makhluk hidup kita harus saling tolong-menolong?”

Rena si bunga sepatu menjawab.

“Itu benar Kit. Kini hanya ada lima belas bunga di taman ini. Bisa-bisa beberapa waktu kedepan kita akan habis dicabuti oleh manusia.”

Mendengar perkataan kedua bunga itu ulat-ulat sangat terharu dan seekor ulat menjadi bersemangat untuk berkata.

“Terimakasih para bunga, kalian sangat baik kepada kami,” teriak Hili berkaca-kaca, “kelak kami akan membalas jasa kalian!”

Beberapa hari berlalu, setelah ulat memakan daun-daun bunga mawar dan bunga sepatu, mereka bersepuluh berubah menjadi kepompong. Dalam beberapa minggu kepompong itu menetas dan ulat-ulat itu berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Para bunga takjub melihat perubahan itu, dan salah satu dari mereka berkata.

“Wah…kalian telah berubah wujud! Kalian kini bersayap dan indah sekali!”

“Terimakasih, “ kata Hili yang kini telah menjadi kupu-kupu, “Sekarang kami akan memenuhi janji kami. Kami akan membalas jasa kalian.”

Sepuluh kupu-kupu itu menolong bunga menyebarkan benihnya. Mereka menggunakan kemampuan terbangnya untuk menyebarkan benih-benih bunga mawar dan bunga sepatu secara merata di taman itu. Bunga-bunga sangat berterimakasih kepada kupu-kupu. Kini kupu-kupu tidak lagi mendapatkan daun dari bunga, tetapi madu yang sangat manis dan lebih enak daripada daun.

Berkat pertolongan sepuluh kupu-kupu, beberapa minggu kemudian jumlah bunga di taman itu bertambah. Kini di taman itu terdapat seratus bunga mawar dan bunga sepatu. Kehidupan di taman itu menjadi penuh dengan kebahagiaan.

Namun di tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba seorang manusia kembali datang. Seluruh penghuni taman itu pasrah jika ada bunga yang akan dicabut lagi oleh manusia itu.

“Kenanglah taman ini meskipun kalian dicabut olehnya!” teriak Okit kepada seluruh bunga. Perkataan Okit itu menguatkan hati para bunga untuk tetap kuat. Ketika mereka sudah siap menerima keadaan, manusia itu justru berkata.

“Taman ini sekarang indah sekali! Bunga-bunganya jauh lebih banyak dan sekarang ada kupu-kupu yang mengitarinya. Aku akan menjaga bunga-bunga ini agar tetap tertanam dan menyiraminya setiap hari.”

Manusia itu kemudian pergi tanpa mencabut sekuntum bunga pun. Seluruh penghuni taman itu bersorak-sorai gembira karena tidak ada yang berpisah. Seluruh bunga mawar, bunga sepatu, dan kupu-kupu kini hidup bahagia. Sampai saat ini, itulah alasan mengapa ulat menjadi kupu-kupu, untuk membalas jasa dengan menyebarkan benih bunga yang memberinya daun.

16 Maret 2009

Read Full Post »

oleh Puspita Nuari


Hampir pukul delapan malam, Juwita masih saja mematut-matut diri di depan cermin meja riasnya. Ia tidak peduli dengan berapa menit yang sudah ia habiskan untuk mengatur letak gaun putih itu di tubuhnya, menata riasannya, dan merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi itu. Ia hanya tahu ia harus tampil sebaik mungkin dalam acara reuni itu.

***

Juwita memilih meja paling pojok di kafe yang terlihat sangat mewah itu. Sambil menanti salah seorang sahabatnya, ia memperhatikan apa-apa saja yang ada di hadapannya. Kafe itu masih terlihat lengang, padahal sudah masuk pada waktu yang ditentukan dalam undangan. Beberapa pramusaji terlihat mondar-mandir, ada yang menata makanan di meja-sangat-panjang bertaplak merah marun, ada yang mengisi cangkir-cangkir berleher tinggi dengan sirup dan orange juice, ada pula yang memeriksa sound system dan peralatan band lainnya yang ada di atas panggung.

Kafe ini mewah sekali, pikir Juwita. Bagaimana tidak? Luas ruangan ini saja delapan kali luas kamarnya, mungkin lima puluh meja kecil (meja untuk empat orang) dapat diletakkan di dalam ruangan ini. Belum lagi di lantai atas terdapat pula beberapa puluh meja lagi. Semuanya diatur sedemikan rupa hingga panggung yang cukup besar itu dapat terlihat dari meja mana pun.

Juwita memperhatikan dirinya sendiri. Gaun dan sepatu yang ia kenakan itu sebenarnya boleh pinjam punya tetangganya. Itu pun setelah panjang lebar ia bernegosiasi dengan si empunya. Dia bisa berada di sini malam ini pun karena ada seorang sahabatnya yang bersedia membayar undangan atas namanya. Seandainya ia punya uang lebih banyak, ia pasti bisa tampil lebih memesona dari saat ini. Ya, seperti wanita itu, wanita bergaun ungu yang baru saja tiba lalu duduk di meja depan mejanya itu.

Wanita itu juga bernama Juwita. Meski memiliki nama yang sama, keduanya memiliki nasib yang berbeda. Sejak di SMP, Juwita si kaya memang kaya-raya dan cantik. Temannya banyak, pacarnya juga. Sungguh berbanding terbalik dengan Juwita si miskin, yang bisa masuk ke sekolah mahal itu hanya karena mendapat beasiswa khusus.

Juwita si miskin sering mendapat diskriminasi dari teman-teman sekolahnya. Diledek, dihina, kadang dikasari, tapi yang paling menyakitkan baginya adalah dikucilkan, dianggap tidak ada. Apalagi namanya sama dengan anak pemilik sekolah itu, membuatnya semakin merasa tertekan. Teman-teman sekolahnya sepakat memanggil ‘Wita’ untuk si kaya dan ‘Juwi’ untuk si miskin.

Sudah lewat sepuluh tahun dari masa itu, tapi tidak ada yang berubah dengan nasib mereka. Wita semakin kaya, sementara Juwi tetap miskin. Sampai hari ini pun, Juwi masih memiliki perasaan iri sekaligus kagum kepada Wita.

“Eh, sebentar ya, mama telepon,” terdengar Wita pamit kepada ketiga teman semejanya Tak lama setelah Wita berlalu, Juwi mendengar ketiga temannya itu membicarakan Wita.

“Ya ampun, Wita masih seperti dulu, ya? Polos dan baik hati. Gaun yang kita pakai ini saja dia yang belikan,” ujar si gaun kuning memulai pembicaraan.

“Bukan polos, melainkan bodoh,” ralat si gaun hitam. “Dia tidak sadar ya kalau kita hanya memanfaatkannya? Memangnya siapa yang betah berteman dengan orang semanja dia? Sudah dua lima kok masih nempel sama mama begitu,” lanjutnya tidak berkeperisahabatan.

“Maklumlah, anak tunggal. Ya, kalau bukan kita, siapa lagi? Dia pasti akan memberikan apa saja untuk kita karena kita selalu ada untuknya,” tambah si gaun hijau sama memuakkannya.

Seandainya Juwi adalah Wita, sudah ia tampar mulut ketiga pesolek itu. Sahabat macam mereka? Dari dulu Wita tulus bersahabat dengan mereka, tapi mereka malah berkhianat dengan membicarakan keburukan Wita di belakang orangnya. Oh, malangnya Wita! Mungkin dia memang dilimpahi segala macam anugerah dari Sang Pencipta, tapi gara-gara tiga setan itu, Wita sampai tidak dapat membedakan mana yang manusia dan mana yang bukan.

“Juwi, maaf terlambat,” tegur Maya, sahabat Juwi yang mendanai kehadirannya malam ini.

Yang ditegur diam saja karena masih kesal melihat tiga teman Wita.

“Juwi, nggak marah kan?” tanya Maya cemas.

“Eh, tidak. Maaf, aku melamun tadi,” sahut Juwi.

“Sedang mikir apa?”

Lama Juwi terdiam memperhatikan sahabatnya yang baik hati itu. Dia meyakinkan dirinya bahwa Maya memang sahabat yang baik, paling baik.

“Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu,” ujarnya kemudian.

“Kok tiba-tiba….”

“Biar aku miskin harta, tapi aku merasa menjadi orang terkaya karena memiliki sahabat setulus kau…. Ya, untuk apa aku iri kepadanya? Justru dia yang lebih malang dariku….”

“Hei! Lagi ngomongin siapa sih?”

Juwita tidak menyahut, tapi matanya menatap iba kepada Wita yang baru saja kembali bergabung dengan ketiga teman bertopengnya.

Read Full Post »

Older Posts »