Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Penulisan Populer’ Category

oleh Meidy Kautsar

Seorang lelaki tua baru saja tiba di depan sebuah kantin yang sangat ramai. Kantin yang seolah tak pernah panas ataupun dingin. Mungkin karena pengunjung kantin itu sering diterpa angin sehingga panas mereka terangkat dan lenyap. Kalau dingin, beberapa dari mereka mengepulkan asap rokok, sisanya terlibat dalam hangatnya percakapan panjang. Mereka adalah para mahasiswa sastra. Setelah kuliah, sebagian besar dari mereka akan mampir ke kantin ini untuk melakukan keinginan sebebas mungkin. Pada senja mereka bermain kartu, membunyikan gitar dan bernyanyi, mengutak-atik tugas-tugas kuliah, dan tertawa sekeras-kerasnya.

Lelaki tua itu sedang terpana dengan bangunan kantin yang baginya sangat unik. Bukan karena ia udik. Kantin itu memang berdesain spesial. Bentuknya bundar, meja-meja kantin itu juga bundar dan dilengkapi dengan bangku yang bundar—melingkari meja itu. Atap kantin terbuat dari daun-daun jerami berwarna cokelat muda yang saling mengikat erat.

Lelaki tua itu membetulkan peci yang dipakainya, kemudian masuk sambil melihat langkah-langkah kaki rentanya. Ada banyak konter di kantin itu. Ia bisa membaca dalam hati dan tahu bahwa setiap konter menjual makanan atau minuman yang berbeda-beda. Belum pernah ia datang ke kantin seriuh kantin itu. Kebisingan yang ia rasakan adalah dari percakapan-percakapan puluhan mahasiswa yang sepertinya tak akan berhenti. Ia baru saja mengendus bau satai, kemudian dengan susah payah mengingat-ingat kapan ia terakhir makan.

Ia mengeluarkan banyak pak tisu dari tasnya, yang siap ia jual ke mahasiswa yang wajahnya tampak ramah atau yang sedang berkeringat. Senja masih setia menemani lelaki tua itu untuk menawarkan barang dagangannya dari satu meja ke meja lain. Beruntung ia sudah menemukan beberapa pembeli. Keuntungan menjual tisu tidak akan seberapa. Maka, ia kumpulkan makanan dari piring-piring yang belum dibereskan. Lelaki tua itu tahu mahasiswa di situ melihatnya. Ia hanya berharap mereka tidak jijik sebab ia juga sangat terpaksa melakukan itu.

Sekitar setengah jam, lelaki tua itu sudah menjual delapan pak tisu. Senja yang tak setia hari ini, sudah menghilang seperti tak mau melihat kerja kerasnya. Kantin itu belum sepi, tapi ia menyudahi pekerjaannya. Ia ingin mencari tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan makanan yang sudah ia kumpulkan. Perutnya sudah begitu lapar.

1 Oktober 2009

(Tugas 3 Penpop: Deskripsi Ruang dan Waktu)

Read Full Post »

oleh Nila Rahma

Ciiit!

Angkot ngerem, menurunkan penumpang tepat di depan gerbang stasiun Lenteng Agung. Kawasan ini terkenal ramai dan cukup macet sepanjang hari. Angkot berderet menunggu penumpang. Orang berlalu-lalang antara pasar dan stasiun melewati jalan raya.  Terik matahari semakin membuat angkot yang kutumpangi bagaikan oven. Jok 6-4-2 telah penuh terisi.

Aku selalu memilih tempat duduk di pojok kiri. Di pangkal jok formasi empat. Kucuran keringat lelaki paruh baya di sampingku mencuatkan bau yang mulai membuatku hampir muntah. Aku mencoba menahannya dengan menghadapkan hidungku ke arah kaca belakang angkot, memandangi kepulan asap knalpot yang bermain tepat di belakang Bus Mayasari Bakti jurusan Tanjung Priok.

Sepuluh menit berlalu.

Angkot 19 yang kutumpangi lolos dari kemacetan. Lega. Kuambil handphone dari tas. Di layar,

INDOSAT

Sunyi

Buka Kunci              10:13

Aku harus sampai di terminal Kampung Rambutan pukul 10:40. Salman, kakakku yang ketiga, hari ini datang dari Maluku, tapi hanya sebentar saja. Kita punya waktu 15 menit untuk bertemu. Ia harus kembali ke Mabes TNI di Jakarta pukul 10:55.

Angkot bernomor 19 ini terkenal dengan julukan Red Devil ‘setan merah’. Selain berwarna merah, lajunya sangat kencang seperti setan. Mataku masih menjelajah suasana kota lewat jendela angkot.

Thok thok.

Angkot direm, dua penumpang turun di pertigaan Ranco. Di angkot masih ada 12 orang, dua di depan, sembilan di belakang, dan sopir. Angkot yang mulanya di belakangku mulai membalap dari sisi kanan. Sepertinya, angkot itu penuh karena bangku yang paling dekat dengan pintu belakang sudah terisi oleh seorang lelaki muda.

“Ha?”

Aku kaget melihat lelaki itu. Sepertinya, aku kenal.

Lima detik kemudian.

Aku teringat dengan nama Fasta. Buru-buru aku mengambil handphone di dalam tas untuk segera mengetik huruf ‘F’.

“Bagus, aku masih menyimpan nomornya”, Lalu kupencet tombol OK. Terdengar Nada Sambung Pribadi (NSP),

Suara, dengarkanlah aku

Apa kabarnya pujaan hatku

Di sini aku menunggunya

Masih berharap di dalam hatinya

“Halo”

“Ya. Ini siapa?”

“Ini aku, Nila.”

“O, Nila, temen SMA-ku dulu ya?”

“Ya, ya, ya. Tolong, kamu sekarang turun dari angkot dan bakal ketemu aku beberapa detik lagi”

“Ha? Kok bisa? Kok kamu tau kalau aku ada di angkot?”

“Nggak usah banyak omong deh. Cepet, turun aja!”

“Iya, iya. Bang, Kiri Bang!”, ia belum memutus teleponku.

Dua menit berlalu.

Kami bertemu di trotoar. Lalu, duduk di bangku kayu dekat warung.

“Apa kabar?”, tanyaku.

“Alhamdulillah, saya baik.” Jawabnya dengan menundukkan muka.

“Sudah lima tahun kita tak jumpa. Di sini, kuliah atau kerja?”

“Kerja.” Masih dengan menundukkan muka.

“Kerja apa?”

“Emmm.”

“Kalau susah, tak usah dijawab.”

“Kuli bangunan.”

Aku diam. Begitupun dia.

“Aku yakin kau kaget mendengarnya.”, tambahnya.

Aku masih bengong.

Dulu, ia bergaya sekali tiap pergi ke sekolah. Setiap kali memasuki pintu gerbang sekolah, ia membunyikan klakson Tiger-nya dengan keras-keras. Berharap semua mata memandanginya. Seluruh barang yang melekat di tubuhnya dipastikan bermerk terkenal. Tiap mata memandangnya, satu hal yang terlintas: Borjuis!

Ia hanya mau berteman dengan siswa kaya. Satu hal yang membuatku mengenalnya: seringkali ia memintaku untuk membantunya bikin PR alias pekerjaan rumah. Seringkali ia membelikan nasi uduk untukku di kantin sebagai imbalan. Kalau tak butuh, kita seperti orang tak kenal satu sama lain. Bertemu di jalan pun, tak pernah aku disapanya.

Badannya tinggi-besar. Kulitnya coklat bersih. Rambutnya model tentara. Bahunya cukup lebar. Tak heran jika ia memiliki badan yang bagus, ia adalah kapten basket di sekolah kami. Banyak cewek di sekolah menawarkan diri jadi pacarnya tapi tak satupun ia terima. Dia lebih memilih memacari tante yang berjualan peralatan sekolah di depan sekolah kami belajar dulu.

Dia meneruskan bicaranya.

“Aku harus lakukan ini.”

“Kenapa?”

“Untuk adik-adikku”

“Ayahmu ke mana?”

“Meninggal dunia sejak tujuh bulan lalu.”

Innalillahi wainnailaihi rajiuun. Kenapa?”

“Dibunuh.”

“Serius?”

“Iya. Ayahku ternyata menyimpan rahasia. Ia dililit utang. Jumlahnya mencengangkan, sekitar 500 milyar rupiah. Parahnya, ia meminjam uang dari rentenir kelas kakap. Ayahku tak punya uang untuk membayarnya hingga pada suatu malam terjadilah peristiwa itu.”

Mereka mendobrak pintu rumah. Memanggil nama ayahku dengan suara yang keras. Ayahku muncul dari dapur saat ia menyiapkan makan malam untuk kami. Tanpa basa-basi, ia langsung mengarahkan pistol padanya.

Dorrr.

Seketika itu, ayahku meninggal di tempat. Aku menahan teriakanku. Segera kucari adik. Ia berada di lantai 2, menonton televisi. Aku segera menggendongnya. Aku berlari jauh meninggalkan rumah.

“Lalu, ayahmu?”

“Aku tak bisa berpikir lagi waktu itu. Yang kupikirkan hanyalah menyelamatkan adikku. Kalaupun aku mendekat ke ayahku, toh aku dan adikku bakal tertembak mati sia-sia. Mereka menyegel rumah serta mengambil seluruh isinya. Aku berlari sambil menggendong adik menuju rumah Bi’ Inah, pembantu di rumahku dulu.”

“Lalu, kamu bekerja untuk meringankan beban Bi’ Inah begitu?”

“Betul sekali. Aduh, maaf ya, sekarang saya harus pergi menghadap Bos Pri. Katanya, ada proyek baru di kawasan Bekasi, pembangunan jembatan.”

“Oke oke. Kalau ganti nomor handphone, kasih tau aku ya”

“Kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungi aku.”

Sambil menganggukkan kepala, ia mengeluarkan handphone yang dekil dari saku jeans.

“Sepertinya aku tak kan ganti nomor. Aku yakin tak kan ada yang berniat mengambil barang seperti ini” kata Fasta seraya menunjukkan benda itu padaku.

Kami tertawa.

***

“Oh, my God! Aku lupa kalau harus menemui kakak di Kampung Rambutan sekarang.”

Tak disangka, dua angkot bernomor berbeda telah mendekat. Keduanya akan mengangkut kita berdua dengan tujuan yang berbeda.

“Oke. Sampai jumpa lain waktu ya!”

“Sampai jumpa!”

Segera kuambil handphone, ada sepuluh panggilan tak terjawab dan lima SMS (short message service).

Tak Terjawab

Salman

10:54                       29 Apr

SMS pertama,

Aslm. Nila, km dmn? Sy  sdh d Kampung

Rambutan, d gerbang pintu terminal dekat

jembatan penyeberangan.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:39:55

SMS kedua,

Km dmn? Lima menit lagi saya harus

berangkat.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:45:57

SMS ketiga,

Dmn?

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:50:12

SMS keempat,

Nila, sy hrs pergi sekarang. Sy sdh dtunggu teman-teman.

Mungkin, kita akan bertemu lima tahun lagi.

Maaf.

Pengirim:

Salman

085645541417

Pusat Pesan:

+62855000000

Dikirim:

29-Mei-2009

10:54:50

Tak sengaja, dari pojok mataku tercucur air mata. Sebenarnya, aku berharap sekali bertemu dengan kakak. Namun, sepertinya, pertemuanku dengan Fasta lebih dikehendaki oleh Allah. Semoga Fasta tak merasa sendiri di sini. Begitu jua dengan Salman, semoga aku diberikan kesempatan bersua dengannya lima tahun lagi.

Read Full Post »

oleh Evi Selviawati
Adakah yang mengetahui di belahan dunia bagian mana kita dapat menemukan keadilan? Sesungguhnya, tak pernah ada yang menemukan keadilan sejati di dunia ini. Lalu, buat apa adanya badan hukum yang katanya bertugas mengatur keadilan itu? Rasanya manusia memang tidak dapat mencapai apa yang disebut adil. Untuk itu, meskipun manusia memang tidak dapat mencapai tahap adil, setidaknya manusia berusaha untuk berlaku adil dan menegakkan keadilan.

Mungkin memang keadilan tak memihak orang-orang kecil. Mungkin rakyat kecil hanyalah ampas pahit dari apa yang disebut adil itu di dalam sirkum kenegaraan yang amburadul. Harusnya, proses usaha mencapai keadilan tidak memihak. Namun, pada kenyataannya dikotomi antara si kaya dan si miskin memang ada.

Kali ini, Kholil (51) dan Basar (40) warga Lingkungan Bujel, Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto harus merasakan ampas pahit dari keadilan. Hanya gara-gara mencuri sebuah semangka milik tetangga, mereka terancam hukuman lima tahun penjara. Mereka tak pernah menyangka hanya karena urusan semangka mereka sampai berurusan dengan polisi apalagi dipenjara.

Waktu itu, Kholil dan Basar sedang dalam perjalanan pulang dari rumah saudara mereka. Matahari begitu terik menyengat hingga membuat bulir-bulir keringat sebesar biji jagung terus mengucur dan tenggorokan makin terasa kering. Rasa dahaga ini sudah tak tertahan lagi. Ingin rasanya mereka membeli air mineral. Namun, mereka tidak memiliki uang lebih untuk sekadar membeli air mineral. Akhirnya, mereka pun meneruskan perjalanan yang ditempuh dengan jalan kaki itu.

Sampailah mereka di ladang milik seorang tetangga yang bernama Darwati. Melihat buah semangka yang begitu menyegarkan, mereka tergiur dan berniat mengambilnya barang satu buah saja untuk mengobati rasa dahaga yang dari tadi menyiksa mereka sepanjang perjalanan.

“Bas, coba ambil siji. Dari tadi aku haus tenan. Lumayan buat ilangken haus, Bas.” Perintah Kholil kepada Basar.

Yo wis tak ambil siji

Belum sempat mereka merasakan segarnya semangka itu ketika melewati rongga mulut dan tenggorokan, mereka kepergok oleh keponakan Darwati.

“Maling! Maling!” Kontan keponakan Darwati itu meneriaki mereka maling. Orang seisi rumah Darwati menghampiri ke luar rumah. Beberapa tetangga pun ada yang berhambur ke luar rumah. Dihadapkan kondisi tersebut, Kholil dan Basar panik. Darwati bener-benar naik pitam ketika mengetahui ada orang yang mencuri semangkanya.

Kholil dan Basar dihajar hingga babak belur oleh orang-orang sekitar yang main hakim sendiri. Mereka bukan hakim, tetapi sok menghakimi. Mereka tak tahu apa-apa soal keadilan. Pada kenyataannya saja, seorang hakim betulan pun tak bisa benar-benar berlaku adil, apalagi mereka yang main hakim sendiri. Karena dihajar habis-habisan, gigi Kholil sampai patah dua dan tubuh Basar sempoyongan tak kuat lagi berdiri.

Setelah dihajar habis-habisan, mereka lalu dibawa ke kantor polisi. Di sana mereka dimintai keterangan. Awalnya, pihak kepolisian mengajukan jalan damai kepada kesua belah pihak.. Namun, pihak Darwati tidak mau menempuh jalan damai dan tetap bersikeras untuk memproses kasus ini ke pengadilan.

Hati Darwati sudah benar-benar buta. Hanya karena kasus satu buah semangkanya yang dicuri orang, ia tega menjebloskan dua orang miskin ke penjara. Efek berkelanjutannya adalah itu berarti Darwati sudah mematikan kehidupan dua keluarga miskin. Bayangkan ketika dua kepala keluarga itu dijebloskan di dalam penjara, siapa lagi yang akan bekerja mencari nafkah untuk istri dan anak mereka? Sungguh ironis, hati nurani manusia telah dibutakan oleh tragedi sebuah semangka.

“Sekarang aku ya pasrah. Mau gimana lagi. Lah wong yang punya diajak damai ya ndak mau” Ungkap Basar.

Setelah menjalani proses penyidikan di Mapolsek Mojoroto, keduanya kemudian dilimpahkan ke kejaksaan dan pengadilan untuk disidang. Mereka didakwa melakukan tindak pidana pencurian biasa, dengan melanggar Pasal 362 KUHP dan mendapatkan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Kholil dan Basar beserta keluarga terkejut dengan ancaman hukuman lima tahun penjara yang dilimpahkan pengadilan. Di antara mereka, ada yang matanya berkaca-kaca, ada yang sampai menangis, dan ada yang justru menampakkan muka geram. Istri Kholil dan Basar banjir air mata. Mereka tidak habis pikir bahwa nasib membawa mereka ke dalam keadaan yang begitu menyesakkan ini.

“Aku bingung. Kok orang miskin seperti kita yang hanya karena mencuri sebuah semangka bisa masuk penjara, tapi para koruptor yang nyuri uang negara sampai milyaran hanya dihukum satu dua tahun.” Ujar Basar.

“Mungkin karena kita miskin, makanya kita ndak bisa nyogok polisi dan kejaksaan.” Sahut Kholil.

“Tapi apa adil itu, Lil?”

“Ya ndak lah. Ndak ada manusia yang adil. Yang adil cuma Tuhan.”

Sementara itu, para wartawan berdatangan untuk mendapatkan konfirmasi dari pihak yang bersangkutan. Ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas perkara yang menimpa Kholil dan Basar dikonfirmasi, ia mengaku hanya menjalankan tugas yang telah dilimpahkan oleh kepolisian. Ketika pihak kepolisian dikonfirmasi, mereka mengaku hanya menjalankan tugas melayani masyarakat. Ketika Darwati di konfirmasi, ia mengaku bahwa ia hanya ingin menjaga keamanan ladangnya dari tangan-tangan maling dan ingin memberikan pelajaran kepada maling agar kapok. Terakhir, ketika Kholil dan Basar dikonfirmasi, mereka mengaku bahwa mereka mencuri karena keadaan terpaksa. Waktu itu mereka haus sekali dan tak punya uang untuk membeli air. Lantas siapa lagi yang harus dikonfirmasi? Apakah kemiskinan patut dimintai keterangan? Apakah kemiskinan yang menyebabkan semua lingkaran setan ini? Para wartawan bingung. Kita semua pun bingung.


Read Full Post »

oleh Puspita Nuari


Ting tong.

Ini sudah yang kelima kalinya aku memencet bel. Agaknya benda putih mungil itu juga mulai bosan memanggil si empunya rumah. Kucoba menelpon ke ponselnya, masih juga tidak diangkat. Jangan-jangan dia sedang pergi? Ah, mana mungkin. Masak Din lupa aku mau ke rumahnya? Aku sudah bersiap menelponnya lagi saat Mbak Har, asisten rumah tangga di rumah Din, keluar untuk membukakanku pintu.

”Oh, ternyata Mbak Ita. Maaf, saya kira salesman. Mari masuk, Mbak. Tunggu di kamar Mbak Din saja,” ujarnya mempersilakanku untuk masuk.

”Memang Din lagi apa, Mbak?” tanyaku ingin tahu.

”Oh, Mbak Din lagi luluran.”

Aku bengong. Luluran? Pantas, kutelpon berkali-kali tidak diangkat. Rupanya dia lagi asyik main bersama Nyonya Menir… Baiklah, aku tunggu saja di kamarnya.

”Permisi, Mbak,” pamitku dan aku pun langsung menuju kamarnya di lantai atas.

Kubuka perlahan pintu kamarnya, lalu kumasuki kamar yang sudah hampir dua tahun tidak kukunjungi itu. Hmm, tidak banyak yang berubah. Lemari pakaiannya masih yang itu. Lemari bukunya masih yang berpintu kaca itu. Meja belajarnya juga masih yang dulu. Kurasa yang berubah hanya letaknya.

Terakhir aku kemari, begitu kubuka pintu kamar, aku akan langsung melihat lemari pakaian di dinding seberang pintu. Berturut-turut ke samping kiri lemari-pakaian-bermerk-Olympic itu ada meja belajar lalu lemari buku. Di seberang meja belajar dan lemari buku, atau di sebelah kiri pintu masuk, terdapat spring bed dengan ukuran untuk satu orang, eh, maksudku untuk dua orang karena di bagian bawahnya terdapat satu tempat tidur lagi yang dapat ditarik keluar bila ingin digunakan.

Kini, yang ada di sebelah kiri pintu masuk adalah si Olympic. Si Olympic yang berpintu dua ini berhadapan dengan meja belajar yang posisinya tidak berubah sejak terakhir aku kemari. Tempat tidur yang hari ini dibungkus dengan seprai motif daun mint menempel rapat ke di dinding sebelah kiri. Posisi yang demikian menyebabkan tempat tidur yang berada di bawahnya tidak dapat ditarik keluar karena terhalang oleh salah satu sisi meja belajar dan salah satu sisi si Olympic. Dan lemari bukunya? Ah, si Olympic kedua ini ada di depanku sekarang, tetapi dia menghadap ke dinding kiri.

Ups, aku baru sadar aku belum menutup pintu. Saat aku menutupnya, tidak sengaja aku menjatuhkan salah satu tas yang tadinya tergantung di balik pintu. Kukembalikan tas vintage tersebut ke gantungan yang sudah penuh dengan tas-tas lain. Pantas jatuh, pikirku. Berapa banyak sih tas yang mau Din taruh di sini? Dari tas kecil untuk ke pesta sampai tas bahu yang cukup besar, semua didesakkan di gantungan yang hanya berkepala empat ini. Ah, di antara tas-tas ini, aku tidak melihat tas punggung. Yah, aku malah akan heran kalau seorang yang feminin seperti Din memiliki tas punggung, apalagi memakainya ke kampus.

Duh, Din masih lama tidak, ya, lulurannya?

Aku memutuskan untuk duduk di lantai. Lantai kamar Din adalah tipe lantai favoritku karena aku suka sekali dengan sesuatu yang bertekstur kayu. Kuluruskan kakiku setelah kutaruh ranselku di sebelah kananku, lalu kusandarkan punggungku pada si Olympic pertama.

Uh, lelahnya. Perjalanan dari Bekasi ke Rawamangun membuatku mandi keringat. Panas-panas begini paling enak ngadem di kamar ber-AC. Lho? Kamar Din ini kan ber-AC, tetapi kok dari tadi aku berkipas diri menggunakan tangan? Aku melirik ke arah AC yang menempel di dinding sebelah kiri, di atas tempat tidur. Ya, ampun. Terang saja panas, wong AC-nya bocor! Airnya sampai merembes ke dinding begitu….

Aku berusaha menyesuaikan suhu tubuhku dengan suhu kamar ini, tetapi setelah aku berhasil pun, Din tetap belum kembali ke kamar. Lulurannya berapa bungkus sih? Centil amat. Din, aku mulai bosan nih.

Kulirik si Olympic kedua yang berada di sebelah kananku. Maksudku, aku ingin lihat, barangkali ada buku yang bisa kubaca sambil menunggu Din. Ternyata tidak kelihatan sebab hanya setengah bagian atas saja yang pintunya terbuat dari kaca, sedangkan bagian bawahnya tetap berpintu kayu. Aku yang sedang duduk ini terpaksa berdiri (lagi) untuk bisa melihat koleksi buku Din.

Hm, banyak juga koleksinya, tetapi hampir semua koleksinya adalah novel terjemahan. Duh, jadi tidak minat baca. Habis, aku lebih suka novel lokal, sih. Selain novel terjemahan, ada pula buku-buku kuliah Din yang tentu saja ’berbau’ farmasi. Ada dua buku-berbau-farmasi yang menarik perhatianku. Buku pertama adalah kamus (atau ensiklopedia?) tentang meracik obat. Aku tertarik karena bentuknya mirip dengan KBBI yang biasa kuanggurkan di rumah. Buku kedua, buku setebal lebih kurang 3,5 cm dengan tajuk Anatomi Fisiologis Manusia. Ya, Tuhan. Apa pula ini? Isinya adalah semua tentang organ tubuh kita, baik yang ada di luar, maupun yang di dalam tubuh. Ckckck, anak farmasi belajar hal begini juga, ya?

Bosan melihat buku-buku Din, aku beralih ke meja belajarnya. Tidak tahu juga harus kusebut apa meja yang penuh dengan barang ini. Sepertinya sudah tidak pernah berfungsi sebagaimana mestinya lagi. Ya, banyak benda-benda ’ajaib’ di meja multifungsi ini. Ada celengan berbentuk figur Superman yang tinggal setengah badan, ada Nokia (entah seri yang mana) tanpa penutup baterainya (tetapi masih bisa menyala), ada sebuah tabung plastik bening berisi undangan prom nite dua tahun lalu (Din memang lulus setahun lebih dulu dariku), bahkan Din masih menyimpan radio mini yang antenanya sudah patah beberapa tahun yang lalu!

Hayoo, mau komentar apa tentang meja gua?”

Aku terkejut karena tiba-tiba Din sudah ada di belakangku.

”Sori, Ta. Tadi waktu lo dateng, gua itu baru mulai luluran! Makanya gua buru-buru nyelesein ’hajat’ gua karena takut lo lumutan di sini,” ujar Din disusul tawanya yang khas.

Hm, ” sahutku singkat, pura-pura merajuk.

Tiba-tiba Din mengambil radio mini itu dari tanganku.

Lo pasti heran karena gua masih nyimpen radio rusak ini. Ya, kan?”

Aku tidak menjawab dengan kata, tetapi sepertinya Din juga tidak membutuhkan jawabanku karena dia langsung menjawab sendiri pertanyaanya.

Gua nggak akan membuang hadiah pertama dari sahabat pertama gua.”

Aku tertegun mendengar jawaban Din.

Din tersenyum.

Dan aku pun ikut tersenyum. Kamu juga sahabatku yang pertama, Din.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

“Aku ingin hidup di dalam dunia kisah Mortal Instruments. Sangat indah!”
–Stephanie Meyer, Pengarang Twilight

Mungkin kadang-kadang Twilight membuat kamu jenuh karena alur ceritanya terlalu pelan dan kurang menegangkan. Mungkin Harry Potter membuat kamu penasaran, tapi enggan membaca buku pertamanya yang terlalu kekanak-kanakan. Mungkin kamu suka The Lord of the Ring, tapi ingin membaca sesuatu yang lebih terhubung dengan dunia nyata. Ya. Sudah pasti banyak orang bercerita betapa hebatnya buku-buku tersebut, tapi kamu tetap merasa ada yang kurang…

Bacalah City of Bones, novel pertama dari serial The Mortal Instruments (versi Indonesianya akan diterbitkan oleh Ufuk Press pada akhir Februari 2010). Novel ini tidak akan membiarkanmu menarik napas, tidak akan mengizinkanmu beranjak. Jantungmu akan terus berdetak kencang, kawan, dan kamu kehausan. Haus ingin tahu kelanjutan ceritanya!

City of Bones

Sesuai dengan kota New York yang menjadi latar belakang ceritanya, City of Bones bergerak dengan cepat tanpa kehilangan pesonanya. Dengan detail penceritaan yang jeli, Cassandra Clare berhasil membuat dunia khayalnya menjadi nyata. Ia akan membawamu menjelajahi New York dan kehidupan orang-orang di dalamnya.

Setiap tokoh mempunyai sifat dan alasan yang kuat. Mereka benar-benar hidup, sehidup usaha mereka untuk mewujudkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Perbenturan di antara mereka pun membentuk kisah yang diwarnai oleh aksi, ambisi, pengkhianatan, kepalsuan, kekuatan, cinta, perjuangan, dan harapan.

Kamu bukanlah bagian dari hidup yang penuh luka dan pembunuhan ini.

Clary yang hampir berusia 16 tahun tiba-tiba menemukan dunia baru yang gelap sekaligus menawan, yaitu Dunia Bayangan. Selama ini ia mengira dirinya hanyalah anak seorang pelukis biasa, tapi tiba-tiba ibunya diculik dan Clary hampir mati karena diserang oleh iblis. Terlebih lagi, kenapa sekarang Clary bisa melihat peri, warlock, dan nephilim?

Ketika orang yang ia sayangi berada dalam bahaya, ketika orang yang paling ia percaya malah berpaling darinya, ketika ia tidak yakin tentang siapa dirinya sebenarnya…, apa yang bisa Clary lakukan?

Pernyataan cinta itu membuatku geli, terutama ketika tidak terbalas.

Tidak. Jangan bayangkan pangeran kuda putih yang sopan dan lembut. Clary bertemu dengan Jace yang kasar, sombong, dan luar biasa menyebalkan. Tapi justru itulah yang membuat cowok berambut keemasan itu lebih… seksi. Lagipula, bagaimana Clary bisa tahan kalau ada cowok yang selalu siap menerjang iblis, vampir, bahkan manusia serigala demi melindunginya?

Tentu saja kisah ini tidak berputar di antara mereka berdua semata. Masih ada sahabat Clary yang bernama Simon. Juga ada saudara-saudara angkat Jace, yaitu Alec dan Isabelle. Mereka bertiga adalah pemburu iblis. Sekarang hanya merekalah yang bisa membantu Clary untuk menyelamatkan ibunya dari seorang idealis ekstrim bernama Valentine. Para remaja itu pun harus berjuang mati-matian karena Piala Malaikat yang sakti menjadi taruhannya.

Kamu akan terkejut ketika menyelami perasaan-perasaan terpendam tokoh-tokoh ini. Jangan lewatkan setiap detail! Semuanya menyimpan petunjuk, baik tentang cinta maupun misteri yang semakin kelam dan memikat di sekitar mereka. Bagaimanapun juga, Dunia Bayangan adalah dunia di mana semua mitos itu nyata.

Read Full Post »

oleh Meidy Kautsar


Di tengah sebuah kamar yang teduh, aku duduk bersila sambil ditemani angin yang pelan. Asalnya dari kipas angin tua yang berada semeter di sampingku. Pasti kipas renta itu bosan karena yang dilakukannya dari tadi hanya memutar baling-balingnya. Jika aku menengadah, aku akan melihat sebuah lampu menumpahkan cahayanya ke seluruh penjuru kamar. Kamar ini kira-kira memiliki besar yang sama dengan setengah besar lapangan tenis. Di depanku ada sebuah ranjang yang hanya muat untuk satu orang. Di atasnya ada tiga bantal berserakan. Bantal di ujung kanan dan kiri bergambar Spiderman dan Batman, sedangkan bantal di antara keduanya bergambar bunga-bunga. Aku jadi penasaran apa yang kira-kira bisa dilakukan dua superhero dunia dengan bunga-bunga di atas ranjang.

Sebuah jam dinding berwarna cokelat digantung di atas meja belajar di dekat pintu. Pukul satu dini hari sekarang. Jarum detik yang tipis berputar dengan rapi dan konsisten. Jarum-jarum jam itu tak pernah mengenal eksistensialisme sebab arah putarannya selalu sama sepanjang waktu. Meja belajar di bawahnya sudah terlalu sesak dengan barang-barang nonedukatif. Di atas meja itu ada sebungkus kopi instan, sekotak tisu, kartu remi, botol air mineral yang sudah kosong, obat-obatan, pengharum ruangan dan krim pencuci muka. Lalu di rak atasnya ada satu pak korek kuping, odol, minyak wangi, pencuci rambut, dan kaleng bekas susu. Ada sebuah kursi biru yang melengkapi meja itu, namun jaket putih ditaruh secara asal di situ.

Di samping meja belajar itu ada ruang kosong yang sengaja disediakan agar pintu lemari yang berada di pojok bisa terbuka. Tapi keadaannya tidak betul-betul kosong. Di situ berserakan celana jins, sajadah, sarung, jaket, sapu lidi, timbangan berat badan, keset, dan korek kuping bekas yang semuanya hidup pluralis. Ada sebuah gitar di pojok lain kamar ini. Senar kesatunya sudah putus, membuat senar nada B di atasnya kehilangan satu sahabat resonansi. Alat musik konvensional di kamar ini tampaknya hanya gitar itu.

Malam makin larut dan suasana makin sepi. Sebetulnya ada suara-suara kendaraan yang melintas nun jauh puluhan meter di jalan raya, yang sepersekian desibelnya mampu melintas melebihi kecepatan kendaraan itu sendiri dan sampai ke telingaku. Para pengendara malam itu tidak akan pernah menyangka ada seseorang yang sedang mendengarkan mereka. Mereka hanya memikirkan tujuan. Kalau saja aku menyalakan benda elektronik yang ada di kamar ini, misalnya saja televisi yang dari tadi bertengger di atas rak kecil persis di sebelah lemari. Layar empat belas incinya dari tadi merekam setiap gerakanku. Ada antena yang besarnya seperempat televisi itu sendiri. Warnanya oranye, besi-besi transmisinya penyok, dan kabel koaksialnya terbenam di punggung televisi. Mungkin hanya akan terjadi keriuhan kecil karena aku tak mungkin menyalakan benda itu dengan suara keras pada jam seperti ini.

Read Full Post »

oleh Puspita Nuari


Hampir pukul delapan malam, Juwita masih saja mematut-matut diri di depan cermin meja riasnya. Ia tidak peduli dengan berapa menit yang sudah ia habiskan untuk mengatur letak gaun putih itu di tubuhnya, menata riasannya, dan merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi itu. Ia hanya tahu ia harus tampil sebaik mungkin dalam acara reuni itu.

***

Juwita memilih meja paling pojok di kafe yang terlihat sangat mewah itu. Sambil menanti salah seorang sahabatnya, ia memperhatikan apa-apa saja yang ada di hadapannya. Kafe itu masih terlihat lengang, padahal sudah masuk pada waktu yang ditentukan dalam undangan. Beberapa pramusaji terlihat mondar-mandir, ada yang menata makanan di meja-sangat-panjang bertaplak merah marun, ada yang mengisi cangkir-cangkir berleher tinggi dengan sirup dan orange juice, ada pula yang memeriksa sound system dan peralatan band lainnya yang ada di atas panggung.

Kafe ini mewah sekali, pikir Juwita. Bagaimana tidak? Luas ruangan ini saja delapan kali luas kamarnya, mungkin lima puluh meja kecil (meja untuk empat orang) dapat diletakkan di dalam ruangan ini. Belum lagi di lantai atas terdapat pula beberapa puluh meja lagi. Semuanya diatur sedemikan rupa hingga panggung yang cukup besar itu dapat terlihat dari meja mana pun.

Juwita memperhatikan dirinya sendiri. Gaun dan sepatu yang ia kenakan itu sebenarnya boleh pinjam punya tetangganya. Itu pun setelah panjang lebar ia bernegosiasi dengan si empunya. Dia bisa berada di sini malam ini pun karena ada seorang sahabatnya yang bersedia membayar undangan atas namanya. Seandainya ia punya uang lebih banyak, ia pasti bisa tampil lebih memesona dari saat ini. Ya, seperti wanita itu, wanita bergaun ungu yang baru saja tiba lalu duduk di meja depan mejanya itu.

Wanita itu juga bernama Juwita. Meski memiliki nama yang sama, keduanya memiliki nasib yang berbeda. Sejak di SMP, Juwita si kaya memang kaya-raya dan cantik. Temannya banyak, pacarnya juga. Sungguh berbanding terbalik dengan Juwita si miskin, yang bisa masuk ke sekolah mahal itu hanya karena mendapat beasiswa khusus.

Juwita si miskin sering mendapat diskriminasi dari teman-teman sekolahnya. Diledek, dihina, kadang dikasari, tapi yang paling menyakitkan baginya adalah dikucilkan, dianggap tidak ada. Apalagi namanya sama dengan anak pemilik sekolah itu, membuatnya semakin merasa tertekan. Teman-teman sekolahnya sepakat memanggil ‘Wita’ untuk si kaya dan ‘Juwi’ untuk si miskin.

Sudah lewat sepuluh tahun dari masa itu, tapi tidak ada yang berubah dengan nasib mereka. Wita semakin kaya, sementara Juwi tetap miskin. Sampai hari ini pun, Juwi masih memiliki perasaan iri sekaligus kagum kepada Wita.

“Eh, sebentar ya, mama telepon,” terdengar Wita pamit kepada ketiga teman semejanya Tak lama setelah Wita berlalu, Juwi mendengar ketiga temannya itu membicarakan Wita.

“Ya ampun, Wita masih seperti dulu, ya? Polos dan baik hati. Gaun yang kita pakai ini saja dia yang belikan,” ujar si gaun kuning memulai pembicaraan.

“Bukan polos, melainkan bodoh,” ralat si gaun hitam. “Dia tidak sadar ya kalau kita hanya memanfaatkannya? Memangnya siapa yang betah berteman dengan orang semanja dia? Sudah dua lima kok masih nempel sama mama begitu,” lanjutnya tidak berkeperisahabatan.

“Maklumlah, anak tunggal. Ya, kalau bukan kita, siapa lagi? Dia pasti akan memberikan apa saja untuk kita karena kita selalu ada untuknya,” tambah si gaun hijau sama memuakkannya.

Seandainya Juwi adalah Wita, sudah ia tampar mulut ketiga pesolek itu. Sahabat macam mereka? Dari dulu Wita tulus bersahabat dengan mereka, tapi mereka malah berkhianat dengan membicarakan keburukan Wita di belakang orangnya. Oh, malangnya Wita! Mungkin dia memang dilimpahi segala macam anugerah dari Sang Pencipta, tapi gara-gara tiga setan itu, Wita sampai tidak dapat membedakan mana yang manusia dan mana yang bukan.

“Juwi, maaf terlambat,” tegur Maya, sahabat Juwi yang mendanai kehadirannya malam ini.

Yang ditegur diam saja karena masih kesal melihat tiga teman Wita.

“Juwi, nggak marah kan?” tanya Maya cemas.

“Eh, tidak. Maaf, aku melamun tadi,” sahut Juwi.

“Sedang mikir apa?”

Lama Juwi terdiam memperhatikan sahabatnya yang baik hati itu. Dia meyakinkan dirinya bahwa Maya memang sahabat yang baik, paling baik.

“Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu,” ujarnya kemudian.

“Kok tiba-tiba….”

“Biar aku miskin harta, tapi aku merasa menjadi orang terkaya karena memiliki sahabat setulus kau…. Ya, untuk apa aku iri kepadanya? Justru dia yang lebih malang dariku….”

“Hei! Lagi ngomongin siapa sih?”

Juwita tidak menyahut, tapi matanya menatap iba kepada Wita yang baru saja kembali bergabung dengan ketiga teman bertopengnya.

Read Full Post »

Older Posts »