Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Resensi’ Category

cover buku

Judul : Iklan Politik dalam Realitas Media

Penulis : Sumbo Tinarbuko

Tebal : 140 halaman

Penerbit : Jalasutra

Idealnya sebuah buku diterbitkan ketika konteksnya atau tren buku sejenisnya masih hangat. Kalau hanya hangat-hangat kuku, ada risiko buku itu akan segera ditinggalkan. Apa efeknya? Tentu saja stok buku tersebut akan memenuhi gudang penerbit. Pada akhirnya, penerbit terpaksa membanting harganya di pesta-pesta buku atau cuci gudang.

Rupanya hal ini sangat diperhatikan ketika menerbitkan buku berjudul Iklan Politik dalam Realitas Media. Buku karya Sumbo Tinarbuko ini diterbitkan Maret 2009 lalu ketika rakyat Indonesia sedang diuber-uber oleh antek-antek partai politik. Waktu itu Indonesia sedang berada dalam masa kampanye pemilu tahap pertama.

Dengan jeli Tinarbuko membedah iklan-iklan politik yang digelar dalam kampanye tersebut. Pisau analisis utamanya adalah desain komunikasi visual. Namun, buku ini tetap menarik untuk dibawa oleh orang-orang yang awam sama sekali terhadap bidang tersebut.

Contoh-contoh yang dipajang sangat mutakhir. Kita dapat menemukan berbagai macam iklan politik dari berbagai macam partai. Tinarbuko tidak hanya mengkritik iklan-iklan ini dari segi baik-buruknya dalam kacamata desain. Dia juga membahas hal-hal menarik seperti iklan caleg yang hanya menonjolkan ketenaran dan apa pengaruhnya terhadap hasil pemilu.

Buku ini juga dilengkapi hasil wawancara seputar iklan politik dengan para pakar komunikasi politik. Beberapa di antaranya adalah Daniel Rembeth (CEO Harian The Jakarta Post), Dody Oktavian (pendiri Komunitas Film Iklan Telesklebes), dan Dyah Pitaloka (dosen periklanan FISIP Undip). Wawancara-wawancara tersebut dapat menambah wawasan kita tentang iklan politik.

Tentu kita tidak lupa bahwa pada tanggal 8 Juli 2009 nanti, kita memilih lagi? Ada 3 calon presiden yang sudah sibuk menarik-narik kita supaya menjatuhkan pilihan kepadanya. Seperti yang dilakukan oleh para calon legislatif beberapa bulan lalu, ketiga capres ini membombardir kita dengan berbagai macam iklan politik.

Hal inilah yang membuat buku Iklan Politik dalam Realitas Media panas lagi. Kita dapat membaca buku ini sebagai acuan menilai iklan-iklan politik yang dilancarkan oleh para capres berkantong tebal itu.

-Melody Violine

Iklan

Read Full Post »

oleh Melody Violine

“Aku ingin hidup di dalam dunia kisah Mortal Instruments. Sangat indah!”
–Stephanie Meyer, Pengarang Twilight

Mungkin kadang-kadang Twilight membuat kamu jenuh karena alur ceritanya terlalu pelan dan kurang menegangkan. Mungkin Harry Potter membuat kamu penasaran, tapi enggan membaca buku pertamanya yang terlalu kekanak-kanakan. Mungkin kamu suka The Lord of the Ring, tapi ingin membaca sesuatu yang lebih terhubung dengan dunia nyata. Ya. Sudah pasti banyak orang bercerita betapa hebatnya buku-buku tersebut, tapi kamu tetap merasa ada yang kurang…

Bacalah City of Bones, novel pertama dari serial The Mortal Instruments (versi Indonesianya akan diterbitkan oleh Ufuk Press pada akhir Februari 2010). Novel ini tidak akan membiarkanmu menarik napas, tidak akan mengizinkanmu beranjak. Jantungmu akan terus berdetak kencang, kawan, dan kamu kehausan. Haus ingin tahu kelanjutan ceritanya!

City of Bones

Sesuai dengan kota New York yang menjadi latar belakang ceritanya, City of Bones bergerak dengan cepat tanpa kehilangan pesonanya. Dengan detail penceritaan yang jeli, Cassandra Clare berhasil membuat dunia khayalnya menjadi nyata. Ia akan membawamu menjelajahi New York dan kehidupan orang-orang di dalamnya.

Setiap tokoh mempunyai sifat dan alasan yang kuat. Mereka benar-benar hidup, sehidup usaha mereka untuk mewujudkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Perbenturan di antara mereka pun membentuk kisah yang diwarnai oleh aksi, ambisi, pengkhianatan, kepalsuan, kekuatan, cinta, perjuangan, dan harapan.

Kamu bukanlah bagian dari hidup yang penuh luka dan pembunuhan ini.

Clary yang hampir berusia 16 tahun tiba-tiba menemukan dunia baru yang gelap sekaligus menawan, yaitu Dunia Bayangan. Selama ini ia mengira dirinya hanyalah anak seorang pelukis biasa, tapi tiba-tiba ibunya diculik dan Clary hampir mati karena diserang oleh iblis. Terlebih lagi, kenapa sekarang Clary bisa melihat peri, warlock, dan nephilim?

Ketika orang yang ia sayangi berada dalam bahaya, ketika orang yang paling ia percaya malah berpaling darinya, ketika ia tidak yakin tentang siapa dirinya sebenarnya…, apa yang bisa Clary lakukan?

Pernyataan cinta itu membuatku geli, terutama ketika tidak terbalas.

Tidak. Jangan bayangkan pangeran kuda putih yang sopan dan lembut. Clary bertemu dengan Jace yang kasar, sombong, dan luar biasa menyebalkan. Tapi justru itulah yang membuat cowok berambut keemasan itu lebih… seksi. Lagipula, bagaimana Clary bisa tahan kalau ada cowok yang selalu siap menerjang iblis, vampir, bahkan manusia serigala demi melindunginya?

Tentu saja kisah ini tidak berputar di antara mereka berdua semata. Masih ada sahabat Clary yang bernama Simon. Juga ada saudara-saudara angkat Jace, yaitu Alec dan Isabelle. Mereka bertiga adalah pemburu iblis. Sekarang hanya merekalah yang bisa membantu Clary untuk menyelamatkan ibunya dari seorang idealis ekstrim bernama Valentine. Para remaja itu pun harus berjuang mati-matian karena Piala Malaikat yang sakti menjadi taruhannya.

Kamu akan terkejut ketika menyelami perasaan-perasaan terpendam tokoh-tokoh ini. Jangan lewatkan setiap detail! Semuanya menyimpan petunjuk, baik tentang cinta maupun misteri yang semakin kelam dan memikat di sekitar mereka. Bagaimanapun juga, Dunia Bayangan adalah dunia di mana semua mitos itu nyata.

Read Full Post »

oleh Melody Violine
30 November 2006
(ini resensi drama, bukan film)

nontonbioskop.wordpress.com

nontonbioskop.wordpress.com

Pelacur identik dengan sosok yang hina dan dihujat karena dianggap merusak moral masyarakat. Akan tetapi, sebagaimana yang kelam lebih menarik daripada yang terang, justru sosok pelacurlah yang sering diangkat menjadi cerita. Salah satu yang melakukannya adalah Ratna Sarumpaet. Beliau menulis, menyutradarai, dan bermain dalam Pelacur dan Sang Presiden. Drama ini sempat dipentaskan dalam rangkaian acara Women Playwrights International The 7th Triennial Conference 2006 di Graha Bakti Budaya, 24 November 2006.

Pementasan drama ini terlambat hampir setengah jam dari jadwal (pukul 20.00 WIB). Begitu tirai panggung dibuka, yang penonton lihat adalah setting panggung yang sangat minimalis. Hanya ada sebuah meja (di tengah pertunjukan nanti ada satu meja lagi di sisi kiri bawah panggung) di tempat yang lebih tinggi dan hiasan-hiasan unik (misalnya, pipa berwarna merah muda) sebagai background. Terdapat masing-masing sebuah layar proyektor di sisi kiri dan kanan panggung. Layar-layar ini digunakan untuk menerjemahkan dialog Pelacur dan Sang Presiden ke dalam bahasa Inggris.
Suasana suram menyelimuti drama ini secara keseluruhan. Pencahayaan dan propertinya dominan gelap meskipun kostumnya ada yang warna-warni. Meja yang diletakkan di tempat yang lebih tinggi (kanan atas panggung bila dilihat dari kursi penonton) digunakan sebagai sel penjara Jamila.

Jamila adalah pelacur yang dipenjara karena membunuh seorang menteri bernama Nurdin Hidayat. Kepada Bu Ria, kepala sipir penjaranya, Jamila menceritakan dan mengenang pengalaman hidupnya. Kenangan masa lalu ini ditampilkan pada bagian panggung yang lebih rendah.

Ketika masih kecil, Jamila dijual ayahnya ke sebuah rumah pelacuran. Ibu Jamila susah payah mengambilnya kembali dan menitipkannya ke rumah sebuah keluarga yang berada, keluarga Wardiman, supaya Jamila tumbuh besar dengan sehat dan tercukupi. Akan tetapi, pada usia 14 tahun, Jamila hamil. Rupanya selama ini Pak Wardiman dan putranya sering menjadikan Jamila pelampiasan seksual mereka. Meskipun dicecar oleh Bu Wardiman berkali-kali, Jamila tetap tidak mau mengatakan siapa ayah dari jabang bayi yang dikandungnya tersebut. Setelah itu, Jamila membunuh kedua pria tersebut, dihujat masyarakat sekitar, keluar dari rumah keluarga Wardiman, dan menggugurkan kandungannya.

Jamila kemudian tinggal di rumah seorang germo bernama Bu Darno. Sebenarnya Jamila ingin menjadi TKW, tapi Bu Darno malah mengarahkan Jamila untuk menjadi pelacur. Beberapa tahun kemudian, Jamila memimpin pemberontakan para pelacur di bawah usaha Bu Darno terhadap germo tersebut. Mereka tetap melacur sesudah itu, tapi dengan cara mereka sendiri, tanpa tekanan dan paksaan dari Bu Darno. Jamila pun menjadi pelacur yang laris di kalangan pejabat pemerintah.

Dinda, teman Jamila sesama pelacur, mati secara misterius. Jamila mengetahui bahwa ternyata Dinda dibunuh oleh polisi setempat karena tahu terlalu banyak, termasuk bisnis sabu-sabu mereka. Saat ditangkap polisi-polisi tersebut, Jamila nyaris bernasib sama. Jamila memaki dan menghujat mereka. Ia bilang bahwa ia sudah penjadi peneliti seks dan hasil penelitiannya yang ada sangkut-pautnya dengan bisnis kotor mereka, sudah dikirimnya ke seorang teman di Jakarta. Jamila pun menantang mereka untuk menjebloskannya ke penjara yang sesungguhnya.

Akibat tindak kriminalnya membunuh seorang menteri secara sadar, Jamila dijatuhi hukuman mati. Timbul banyak pro dan kontra perihal hukuman mati ini. Ada orang-orang yang mendukung Jamila, bahkan ia sempat ditawari seorang pengacara gratis untuk membelanya di pengadilan. Jamila menolak semua bentuk dukungan tersebut. Menurutnya, lebih baik mati daripada terus hidup, terus melacur, dan terus merasakan pahitnya dunia.

Setiap orang yang dijatuhi hukuman mati berhak membuat permintaan terakhir. Jamila meminta untuk bertemu dengan presiden. Ia juga bilang bahwa daripada meminta grasi dari presiden, lebih baik ia berhubungan seksual dengannya. Jamila sebenarnya mempunyai maksud tertentu di balik permintaannya ini. Ia tidak ingin hidupnya sia-sia dengan hanya menjadi satu di antara sekian banyak pelacur sekaligus pembunuh yang ada. Ia ingin mewakili kaum pelacur meminta perhatian dari presiden, first man atau orang pertama negeri ini.

Tidak ada yang ingin menjadi pelacur dan dengan demikian menjadi terhina dan terbuang. Tidak ada orang yang tidak memulai hidupnya di dunia dengan kertas putih bersih yang sama, bayi tanpa dosa. Tidak ada orang tua mengharapkan kesialan menimpa anaknya. Nama Jamila pun diberikan seiring dengan doa, takbir, dan shalawat. Jamila mempertanyakan nasibnya. Tangannya berlumuran darah orang-orang dan bayi-bayi yang telah dibunuhnya, bahkan sebelum Jamila sendiri tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jamila ingin semua orang tahu dan sadar akan nasib orang-orang seperti dia. Sang Presiden dianggapnya sebagai wakil dari seluruh masyarakat Indonesia, wakil bangsa Indonesia.

“Siapa yang menanamkan kebencian ini dalam dada saya?” adalah pertanyaan Jamila yang diteriakkannya sesaat sebelum ditembak mati. Dari nada dan pilihan kata-katanya, kita dapat merasakan begitu beratnya penderitaan Jamila selama ini.

Pelacur-pelacur dalam drama ini mengenakan kostum yang menarik. Atasannya kemben ketat yang sewarna dengan kulit dan bawahannya rok tumpuk warna-warni. Para pelacur tersebut juga mempunyai tarian yang menyimbolkan pekerjaan mereka, yaitu membuka baju dan berhubungan seksual.

Tokoh yang paling menarik dalam drama ini adalah Jamila sendiri. Ada dua Jamila, yaitu Jamila yang di penjara dan Jamila di masa lalu. Seiring dengan pertumbuhannya menjadi wanita dewasa, karakter Jamila semakin rumit. Tertawanya satir, menertawakan pahitnya dunia yang harus ia rasakan. Emosinya yang meledak-ledak membuat orang bertanya-tanya apa gerangan yang disembunyikan oleh perempuan muda ini.

Zaelani adalah pembantu rumah tangga keluarga Wardiman. Persahabatannya dengan Jamila masa itu begitu erat sampai-sampai Jamila menganggapnya sebagai “hal terbaik yang pernah kupunya”. Zaelani juga pernah dicabuli oleh Pak Wardiman.

Bu Ria adalah kepala sipir penjara Jamila. Di balik sikap kerasnya terhadap Jamila, Bu Ria sebenarnya bersimpati pada narapidana yang dijaganya tersebut. Bu Darno adalah germo kepada siapa Jamila pernah bekerja. Ia merasa telah menyelamatkan anak-anak perempuan yang bekerja kepadanya dari jalanan sehingga marah besar ketika mereka memberontak. Bu Darno sempat mengunjungi Jamila dan menangis di kaki Jamila sebagai wujud penyesalannya.

Bu Wardiman adalah teman ibu Jamila. Ia sudah tua dan berkursi roda. Ia adalah wanita yang keras tapi tidak jahat. Ia sempat bermaksud hendak membela Jamila, tapi Jamila tidak mau mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Mungkin kenyataan yang sebenarnya terlalu pahit sehingga Jamila tidak tega memberitahukannya pada Bu Wardiman.

Pelacur dan Sang Presiden dapat digolongkan ke dalam drama tragedi, terutama karena banyaknya kematian yang terjadi, termasuk tokoh utamanya sendiri. Meskipun banyak hal yang diungkapkan secara simbolis, drama ini merupakan cermin realitas masyarakat Indonesia. Tidak sedikit perempuan yang bernasib seperti Jamila dan Dinda lalu berakhir menjadi bangkai di kolong jembatan.

Ratna Sarumpaet berusaha membuka mata para penonton pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk lebih peduli pada hal-hal semacam ini. Pertanyaan yang Jamila teriakkan sesaat sebelum ditembak mati sebenarnya Ratna ajukan pada masyarakat Indonesia, bahkan pada dunia karena drama ini dipentaskan dalam sebuah ajang internasional.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

Judul           : Tergantung Pada Kata (Sepuluh Sajak Indonesia)
Penulis        : A. Teeuw
Penerbit     : Pustaka Jaya, 1983
Tebal           : 156 halaman

A. Teeuw adalah seorang filolog sekaligus guru besar Bahasa dan Kesusastraan Melayu dan Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. Ketika menjadi dosen tamu di UGM (1977-1978), dia membaca banyak sajak (puisi) Indonesia. Kesepuluh sajak yang dimuat dalam buku ini merupakan sepuluh sajak pilihan A. Teeuw. Sajak-sajak ini telah membuat A. Teeuw jatuh hati—ingin memahami mereka sedalam mungkin. Dia bahkan menganggap mereka sebagai sepuluh sajak terbaik dalam kesusastraan Indonesia modern.

Perlu ditekankan bahwa A. Teeuw memilih kesepuluh sajak ini secara subjektif. Sebagai pembaca, dia telah mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dari sajak-sajak ini. Sajak-sajak yang dimaksud adalah “Kawanku dan Aku” (Charil Anwar), “Si Anak Hilang” (Sitor Situmorang), “Jante Arkidam” (Ajip Rosidi), “Salju” (Subagio Sastrowardoyo), “Coctail Party” (Toeti Heraty), “Pada Sebuah Pantai: Interlude” (Goenawan Mohamad), “Sajak Lisong” (Rendra), “Ombak Itulah” (Abdul Hadi W.M.), “Husspuss” (Sutardji Calzoum Bachri), dan tiga sajak yang dianggap satu kesatuan oleh A. Teeuw, yaitu “Saat Sebelum Berangkat”, “Berjalan di Belakang Jenazah”, “Sehabis Mengantar Jenazah” (Sapardi Djoko Damono).

Saya tidak akan mempermasalahkan pemilihan sajak-sajak tersebut karena sudah menjadi hak setiap pembaca untuk memilih sajak-sajak kesukaannya. Proses ini juga sudah sepantasnyalah bebas dari faktor-faktor di luar diri si pembaca.

A. Teeuw menganalisis sajak-sajak pilihannya ini kebanyakan dari sudut bahasa, isi, makna, dan bunyi/irama. Meskipun A. Teeuw beranggapan bahwa sajak sebuah karya sastra merupakan keseluruhan yang bulat dan otonom, latar belakang pengarang kadang kala juga dicari hubungannya.

Saat kesusastraan Indonesia didominasi oleh konvensi Pujangga Baru, Chairil Anwar mencernakan konvensi-konvensi lain—konvensi internasional. A. Teeuw menganggap “Kawanku dan Aku” pantas mewakili sajak-sajak Chairil Anwar. Alasannya adalah sajak ini mempunyai intensitas, konsistensi, dan koherensi yang tak terbayangkan. Selain itu, “Kawanku dan Aku” juga merupakan memento memori Chairil Anwar, manusia yang mau hidup seratus tahun lagi. “Si Anak Hilang” memang pantas menggambarkan diri penyairnya. Sitor Situmorang dapat dikatakan sebagai manusia dari tiga zaman, tiga negeri, dan tiga bahasa. Perantauannya ke Eropa menjadikan Sitor bagaikan seorang anak hilang ketika dia kembali ke Batak, kampung halamannya.

Menurut A. Teeuw, sajak ini merupakan sajak modern Indonesia yang paling ketat bentuknya dan paling sempurna keseimbangan strukturnya. Hal ini tidaklah mengherankan karena, dalam sajak-sajak Sitor yang berbahasa Indonesia, memang dapat kita temukan keanekaragaman yang luar biasa dari segi isi, tema, bentuk, dan gaya. Dengan menggunakan bahasa Indonesia secara sempurna, Sitor menghadirkan suasana keterasingan yang tragis dalam “Si Anak Hilang”.

Jante Arkidam adalah nama pahlawan yang diceritakan oleh Ajip Rosidi dalam sajak epik yang berjudul sama. Dalam batasan yang sangat ketat, penyair berhasil memunculkan bayangan pahlawan yang cukup lengkap dan kisah hidupnya yang memuaskan harapan-harapan pembaca ketika membaca sajak epik.

Dunia rekaan dalam “Jante Arkidam” dapat dikatakan koheren, konsisten, meyakinkan, dan memaksa kita untuk meyakininya. Adegan demi adegannya disajikan secara langsung. Semua kata dalam sajak ini tegas, tidak menimbulkan keraguan, dan membuat pembaca tidak dapat melepaskan perhatiannya.

“Salju” karya Subagio Sastrowardojo hanya dapat dikarang oleh seseorang yang pernah menyaksikan turunnya salju dengan mata kepalanya sendiri. Keseluruhan siklus salju digambarkannya sebagai pemutarbalikan hari penciptaan. A. Teeuw menjabarkan secara rinci makna dari setiap bait—setiap jengkal siklus salju—dengan memeriksa kata per kata, bahkan setiap vokalnya. Akhir dari sajak ini menyiratkan hal yang sama dengan sajak-sajak Subagio lainnya, yaitu ketakutannya terhadap Maut.

A. Teeuw mengakui “Coctail Party” sebagai sajak yang paling sulit untuk dikupas. Sajak ini mengandung empat tingkat yang memuncak pada kancah pertarungan cinta demi hidup dan mati. Ciri khas sajak ini juga mengesankan—menawarkan konvensi yang rapi sekaligus menghancurkannya lagi.

“Saat Sebelum Berangkat”, “Berjalan di Belakang Jenazah”, dan “Sehabis Mengantar Jenazah” dicetak berturut-turut dalam kumpulan cerpen Sapardi Djoko Damono yang berjudul DukaMu Abadi. Ketiga sajak ini merupakan tritungal yang hanya dapat dipahami dan ditafsirkan sepenuhnya bila dianggap sebagai kesatuan yang padu. Tema pokok ketiga sajak ini adalah maut yang diwakili oleh waktu. Setiap katanya mempunyai fungsi dan keseluruhannya transparan—bulat-makna oleh segala unsur-unsurnya. Pemakaman sesama manusia pun diciptakan kembali oleh penyair menjadi pengalaman manusiawi yang mengukung kita secara paksa.

Ciri khas “Pada Sebuah Pantai: Interlude” adalah pertentangan dan perpaduan antara sajak dengan prosa. Dalam sajak sentimental ini, Goenawan Mohamad juga menekankan aspek dunia dongeng dan dunia nyata. Kedua pasang hal tersebut tidak terpisah-pisah. Puisi dapat sepintas lalu tampak sebagai prosa. Dunia dongeng dapat berbaur dengan dunia nyata.

Sajak ini kaya akan unsur-unsur puitis dari segi formal, baik di bidang bunyi, kiasan, maupun di bidang makna kata. Unsur bentuk dimanfaatkan penyair dalam perpaduannya dengan makna. Kadang-kadang terdengar pula nyanyian sedih yang sangat sederhana.

A. Teeuw sebenarnya telanjur mencintai sajak-sajak Rendra terdahulu yang penuh daya gaib. Kecenderungan Rendra yang bergeser pada sajak-sajak pamflet yang langsung dan terus-terang merupakan kejutan yang tidak kecil bagi A. Teeuw. “Sajak Lisong” adalah sajak pamflet Rendra yang A. Teeuw pilih untuk dikupas.

Kuatnya efek retorik dalam sajak ini dibangun sebagai penghantaman struktur sosio-politik Indonesia. Pemakaian kata-katanya panjang dan penggandaan katanya sangat menonjol demi membuat pembaca/pendengar terkesan dan meresapinya. Karena sajak ini memang sajak pamflet, keseluruhannya dibina seperti pidato. Rendra sebagai penyair pun mampu membacakannya dengan meyakinkan.

Sebelum menginterpretasi “Ombak Itulah” karya Abdul Hadi W.M., A. Teeuw membahas terlebih dahulu hubungan “aku-kau” dalam keseluruhan kumpulan kumpulan sajak Tergantung Pada Angin. Sesudah itu, A. Teeuw mencari peranan ombak. Keduanya dianggapnya penting untuk menafsirkan “Ombak Itulah”. Ternyata, “Aku” dalam sajak ini selalu tergantung pada “kau” sedangkan ombak melambangkan hidup, gerak, dan suara. Lebih tepatnya lagi, ombak adalah prinsip hidup, awal-mulanya dan akhirnya.

Pemakaian bahasa dalam sajak ini dapat disebut imajis. Kata-kata yang dipilih oleh penyair biasa-biasa saja, tetapi penggabungannya (contoh: menjadi kata majemuk) mengejutkan pembaca. Itulah ciri khas Abdul Hadi. Dengan demikian, mempelajari sajak ini sama dengan mempelajari manusia Abdul Hadi sendiri.

Kredo Sutardji Calzoum Bachri (kata bukanlah alat, tapi pengertian itu sendiri) menjadi pegangan A. Teeuw saat menganalisis “Husspuss”. Sajak semacam ini—mantra—bisa dianggap tidak berhasil karena sedikit sekali celah bagi pembaca untuk menginterpretasinya. Inilah ironi dan tragedi penyair modern yang hendak menciptakan mantra. Kalau bagian “normal” saja yang dianalisis, “Husspuss” sangat biasa. Sajak ini hanyalah sajak modern biasa yang sedikit menimbulkan kesukaran pemahaman. Namun, A. Teeuw tidak menyangkal kekuatan dan keorisinalan pendekatan puisi Sutardji.

Sebagaimana yang dikatakan oleh A. Teeuw, penjelasan dan penafsiran hanya dapat berfungsi sebagai pengantar kembali pada sajak itu sendiri. Kalaupun seseorang membaca sajak-sajak itu kembali setelah membaca Tergantung Pada Kata, ia berhak menjadikan analisis A. Teeuw sebagai dasar interpretasinya atau membuat interpretasi yang sama sekali lepas dari analisis tersebut. Bahkan, sah-sah saja apabila ia tidak turut jatuh hati pada kesepuluh sajak ini.

Tergantung Pada Kata sangat bagus untuk dibaca siapa pun yang sedang belajar untuk menafsirkan puisi secara mendalam. Tidak ada kutipan-kutipan teori yang memusingkan dan pembaca merasa dituntun dengan baik oleh A. Teeuw. Sayangnya, karena gaya tuturannya kurang populer, pembaca awam tidak akan tertarik membaca buku ini.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

Ketika beberapa waktu lalu menonton film Garuda di Dadaku (GD), saya merasa sangat familiar. Sejak adegan-adegan pertama menonton film karya sutradara Ifa Isfansyah tersebut, saya langsung teringat Bend It Like Beckham (BB) yang disutradari oleh Gurinder Chadha. Latar belakang tempat dan bangsanya jelas berbeda, tetapi alur ceritanya sangat mirip.

Saya tidak bermaksud menghakimi pihak mana pun. Hanya saja, kedua film ini membuat saya tergelitik untuk mencari apa saja persamaannya.

Latar Belakang Tokoh Utama: Trauma Orang Tua

Tokoh utama GD adalah seorang anak laki-laki kelas 6 SD bernama Bayu (Emir Mahira). Ayahnya gagal menjadi pemain sepak bola dan akhirnya meninggal dunia di usia muda sebagai supir taksi. Hal ini menimbulkan trauma di hati kakek Bayu sehingga beliau melarang cucunya bermain sepak bola sama sekali. Bahkan, Kakek mencekoki Bayu dengan les lukis dan les musik yang dianggapnya lebih “elit”.

Tokoh utama BB adalah gadis remaja yang baru lulus SMA bernama Jess (Parminder Nagra). Ia adalah orang Inggris keturunan India. Keluarganya masih tradisional. Ayahnya pernah menjadi pemain kriket profesional ketika bertugas di Afrika Selatan, namun mengalami diskriminasi etnis ketika mencoba bermain di Inggris. Meskipun waktu kecil Jess boleh bermain sepak bola, sekarang Jess harus mempersiapkan diri menjadi wanita India sejati.

Dukungan Sahabat

Bayu sudah bersahabat dengan Hery (Aldo Tansani), anak orang kaya yang duduk di kursi roda. Semula Bayu cenderung pasrah mengikuti jalan yang digariskan oleh kakeknya, tapi Hery selalu mendorong dan menyambar kesempatan yang ada untuk Bayu. Hery yang membujuk Bayu masuk sekolah sepak bola, mencarikan tempat latihan pribadi, dan mencarikan cara untuk mengelabui kakeknya. Hery ibarat manajer yang selalu setia mendampingi Bayu. Selain Hery, Bayu juga dibantu oleh Zahara (Marsha Aruan).

Jess tidak benar-benar berharap bisa bermain sepak bola profesional sebelum bertemu Jules (Keira Knightley). Jules yang mengajaknya bergabung dengan tim sepak bola wanita profesional setempat. Jules juga yang mencarikan alasan supaya Jess bisa sering keluar rumah untuk mengikuti latihan. Jules dan Jess menjadi pasangan emas di pertandingan, dan bersahabat karib di luar lapangan. Selain Jules, Tony (Ameet Chana) juga mendukung Jess.

Tragedi di Pertandingan Penting

Demi mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan penting, Bayu membohongi kakeknya. Dia meminta Zahara menggantikannya melukis. Ketika Kakek mengetahui hal ini, beliau menyusul ke lapangan dan memergoki Bayu yang baru saja selesai bermain. Kakek Bayu pun terkena serangan jantung.

Dengan dalih sibuk bekerja di musim panas, Jess ikut timnya bertanding di Jerman. Ayah Jess mengetahui hal ini lewat koran. Pada pertandingan berikutnya di Inggris, ayah Jess datang ke lapangan dan melihat sendiri putrinya mengejar bola dengan celana pendek. Ayah Jess enggan berbicara kepadanya lagi.

Retaknya Persahabatan dan Gentingnya Kondisi Keluarga

Bayu meratapi kakeknya yang dirawat di rumah sakit. Dia menyalahkan Hery yang telah menyuruhnya bermain sepak bola. Bayu membuang semua atribut sepak bolanya. Padahal, beberapa hari lagi ada pertandingan seleksi tim nasional U-13.

Hubungan Jess dengan Jules retak akibat cinta segi tiga dengan pelatih mereka, Joe (Jonathan Rhys Meyers). Selain itu, Jess merasa bersalah karena telah mengecewakan keluarganya dan tidak ikut latihan lagi. Ia pun mencopot semua poster Beckham di kamarnya. Jess juga harus hadir di pernikahan kakaknya yang bertepatan dengan pertandingan penting. Padahal, ada pencari bakat dari tim profesional Amerika Serikat di pertandingan tersebut.

Pada Akhirnya, Mereka Sadar

Begitu membuka matanya, kakek Bayu menyesal telah melarang cucunya bermain sepak bola karena hal itu membuat Bayu tidak bahagia. Dia sadar bahwa meskipun dulu ayah Bayu gagal, Bayu berhak mendapat kesempatan untuk menjadi pemain sepak bola. Bayu pun segera berlari menemui Hery untuk menyusul pelatihnya yang hendak mendaftarkan anak-anak didiknya ke seleksi tim nasional U-13.

Di tengah rangkaian upacara pernikahan tradisional India yang panjang dan melelahkan, Tony membujuk Jess untuk pergi bertanding. Jess menolak, tapi ayahnya malah mendukungnya. Ayahnya sadar bahwa zaman telah berubah. Orang kulit putih tidak lagi mendiskriminasi orang kulit berwarna dalam olahraga. Seperti kakek Bayu, ayah Jess ingin putrinya bahagia.

Apakah Bayu berhasil lolos menjadi anggota tim nasional U-13? Apakah Jess terpilih masuk tim profesional di Amerika Serikat?

Tentu saja jawabannya sama karena kini sudah jelas bahwa film ini mempunyai formula (rumus) yang sama. Kita tidak tahu apakah hal ini terjadi secara sengaja atau tidak. Namun kesamaan rumus seperti ini sudah biasa terjadi, terutama pada film-film dari genre yang sama. Bagaimana penulis dan sutradara mengembangkan dan membumbui formula tersebutlah yang lebih penting.

Bagi saya, BB lebih menarik karena juga mengandung isu-isu gender, etnis, dan budaya. Tapi GD tidak bisa dikatakan lebih buruk daripada BB karena target pasarnya memang anak-anak. GD sudah cukup mengandung pelajaran yang dibutuhkan oleh anak-anak, yaitu tentang semangat, persahabatan, kejujuran, keyakinan, dan kerja keras.

Bagaimana dengan film King? Apakah kalian juga menemukan formula yang sama di dalamnya? Atau ada film lainnya? Bagilah dengan kami!

Read Full Post »