Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tip’ Category

oleh Melody Violine

Kamu pernah mencoba membuat novel tapi tidak pernah berhasil menyelesaikannya? Apakah setiap kali mencapai halaman 20 kamu merasa bosan, kehilangan arah, atau lupa alur seperti apa yang tadinya mau kamu tulis? Tenang saja, “penyakit” kamu ini masih manusiawi kok. Coba deh sembuhkan dengan resep di bawah ini.

Temukan Motivasi

Jangan ragu dan jangan malu-malu saat mencari motivasi kamu untuk menulis novel. Kalau memang tidak punya idealisme seperti “berbagi pemikiran positif pada para pembaca” atau “berdemonstrasi lewat tulisan”, tidak usah segan-segan memegang motivasi seperti “royaltinya nanti untuk membeli handphone baru” atau sekadar “tidak sudi kalah dari teman sebaya yang novelnya sudah diterbitkan”.

Apa pun motivasi kamu… terserah! Syaratnya cuma satu, yaitu mengobarkan semangat kamu untuk menulis novel sampai selesai. Ya, sampai selesai. Pokoknya, setiap kali rasa bosan atau malas melanda, ingat-ingatlah motivasi kamu ini. Kalau perlu, tulis besar-besar dengan spidol merah di kertas lalu tempelkan di dekat komputer kamu supaya kamu selalu mengingatnya!

Tetapkan Sasaran

Kamu mau menulis novel untuk pembaca kalangan apa? Kamu akan mengirimnya ke penerbit apa? Apa saja syaratnya? Carilah dari sekarang supaya novel kamu tidak mubazir akhirnya. Tidak tahu bagaimana caranya? Tanya teman, buka internet, atau hubungi penerbitnya langsung (biasanya penerbit mencantumkan nomor teleponnya di setiap buku terbitannya)! Berinisiatiflah!

Susunlah Alur

Cerpen boleh ditulis dengan sistem “tancap gas” alias nekad menulis tanpa persiapan apa-apa dan hanya bermodal sepotong ide. Satu hal yang harus kamu ingat: sistem ini tidak bisa diterapkan pada novel! Penulisan novel memerlukan perencanaan yang matang. Kamu harus menyusun alur novel kamu serapi mungkin.

Pertama, buatlah inti ceritanya. Contoh dari Betsy and the Emperor karya Staton Rabin adalah “persahabatan seorang gadis ABG dengan Napoleon Bonaparte saat diasingkan di St. Helena”. Kedua, buatlah opening atau pembukaannya, yaitu “suatu malam Betsy kabur ke pantai dan melihat Napoleon yang baru diturunkan ke St. Helena”. Ketiga, buatlah ending atau penutupnya, yaitu “pertemuan perpisahan Betsy dengan Napoleon sebelum Betsy pindah ke London”.

Opening HARUS menarik. Bayangkan diri kamu menjadi pembaca yang berkeliaran di toko buku lalu diam-diam membuka plastik sebuah novel untuk membaca satu-dua halaman pertamanya. Apabila kedua halaman ini tidak berkesan, tentunya kamu akan menaruhkan kembali di rak, bukan?

Para editor pun selalu menegaskan bahwa 10 halaman pertama harus menarik, meninggalkan kesan yang mendalam, dan membuat pembaca penasaran. Mungkin kamu bisa membuat opening seperti adegan sebuah kecelakaan, pertemuan kembali dengan seseorang yang sudah lama hilang, atau kematian orang terdekat si tokoh utama.

Orang-orang sering kali menyepelekan ending dengan berkata, “Nanti juga ketemu kalau memang sudah waktunya.” Itu salah! Buatlah ending segera setelah membuat opening—syarat mutlak supaya kamu tidak tersesat nantinya. Ending bisa berupa pemecahan masalah, perpisahan, kesimpulan, dan lain-lain.

Setelah itu, barulah kita mengisi ruang di antara opening dan ending. Jangan lupa teori klasik pembabakan: pengenalan, peruncingan masalah, dan klimaks. Idealnya, babak pertama sepanjang 1/10 sampai 3/10 panjang cerita sedangkan klimaks 3/10. Sisanya adalah peruncingan masalah. Oh ya, jangan lupa untuk selalu meningkatkan ketegangan atau bahkan memberi “ledakan” paling tidak setiap 20 halaman sekali.

Catatlah semua itu dalam sebuah buku kecil. Catatan ini tidak harus rapi, tapi harus lengkap. Mungkin di tengah jalan nanti kamu akan merombaknya sedikit. Itu sah-sah saja. Tentu saja, catatan ini jangan sampai hilang karena ialah yang akan menjadi peganganmu saat menulis novel.

Hindari Pakem dan Klise

Ide memang sudah tidak ada yang benar-benar orisinal lagi. Namun, fakta itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengulangi pakem-pakem dan klise-klise yang sudah ada. Buatlah sesuatu yang baru, terutama dalam penggarapannya. Jadilah penulis yang kreatif dan suka bereksperimen.

Apabila kamu tipe penulis yang begitu-lagi-begitu-lagi, jangan harap deh novelmu bisa sampai ke tangan pembaca. Nasibnya akan berakhir di tangan editor—dibuang ke keranjang sampah.

Inti cerita Love in Prague karya Riheam sebenarnya cuma “cowok-cewek yang tadinya bermusuhan akhirnya saling jatuh cinta dan jadian”, sama seperti belasan atau bahkan puluhan teenlit lainnya. Untuk menyiasati hal ini, Riheam memberikan sentuhan lain dengan menjadikan sang tokoh utama seorang quiz hunter yang sering memenangkan kuis dan undian. Saat ia memenangkan undian untuk menonton konser di luar negeri, ternyata cowok yang dibencinya juga menang. Alhasil, dengan latar belakang kota Prague/Praha, Riheam menjalin cerita cinta yang indah. Novelnya pun menjadi best-seller.

Writer’s Block

Apakah tiba-tiba kamu merasa enek luar biasa atau “mati kutu” saat harus, untuk kesekian kalinya, menulis/mengetik lanjutan novelmu? Ingat-ingatlah motivasimu, bukalah catatanmu. Writer’s Block sebenarnya hanya sugesti alam bawah sadar yang mungkin hanya berakar dari rasa bosan atau malas.

Para penulis punya cara berbeda-beda untuk mengatasinya. Esti Kinasih (penulis novel Fairish, Cewek!!!, dan I Still…) biasanya pergi ke toko buku untuk melihat novel-novel karya orang-orang yang ia kenal supaya dirinya terpacu untuk membuat yang lebih bagus. Ada juga yang sengaja “menyepi” untuk mencari inspirasi. Di samping itu, ada juga penulis seperti Remy Sylado yang dengan enteng berkata, “Saya tidak pernah tuh mendapat writer’s block.”

Cara ampuh lain yang patut dicoba adalah manfaatkan teman-teman kamu. Setiap kamu selesai mengetik satu-dua bab, minta mereka membacanya. Apabila mereka menyukainya, mereka akan terus menagih kelanjutan ceritanya. Berkat dorongan (bahkan paksaan) mereka ini, kamu akan terpacu untuk segera menyelesaikan novelmu. JK Rowling sudah sukses menerapkannya pada anak perempuannya lho!

Masih asyik membaca artikel ini? Aduh, kamu ngapain sih? Ayo, buka microsoft word. Pasti kamu sudah gatal, kan, ingin mulai menggarap novelmu sendiri? Kali ini dijamin deh… sampai tuntas!

Semangat!

Iklan

Read Full Post »

Ayo Menulis!

oleh Melody Violine (2006)

Menulis bagiku adalah sarana untuk mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati. Apakah tulisan itu benar-benar menggambarkan perasaanku saat itu atau tidak, itu tidak masalah karena menulis itu sendirilah yang membuat hatiku plong. Aku juga tidak akan heran bila orang yang membaca tulisanku itu akan menangkap maksud yang sama sekali lain. Toh, setiap tulisan memang akan menimbulkan multi interpretasi. Tiap pembaca memiliki penafsirannya sendiri.

Pengalaman menulisku sendiri belum banyak. Bila kubuka folder “cerpen” di komputerku, lumayan banyak juga dokumen yang bertebaran di dalamnya. Tapi bila dicek satu per satu, cerpen yang berhasil kuselesaikan masih bisa dihitung dengan jari. Sisanya ada yang baru masuk halaman kedua atau bahkan hanya judulnya saja. Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku sudah tidak ingat lagi.

Menyelesaikan sebuah tulisan, apalagi cerita seperti cerpen dan novel, memang sulit. Aku sendiri bila tidak termotivasi oleh lomba yang hendak kuikuti, rasanya malas sekali melanjutkan cerpen yang baru setengah jadi.

Aku ingin bercerita sedikit tentang lomba-lomba yang pernah aku ikuti. Tidak, tidak satu pun di antaranya yang pernah kumenangkan. Tapi aku mencintai saat-saat itu. Ya, saat-saat aku berjuang untuk menghasilkan karya yang terbaik untuk diikutsertakan dalam lomba itu.

Lomba yang dengan setia kuikuti setiap tahunnya adalah lomba penulisan cerpen pada sebuah majalah remaja. Pertama kali ikut, aku baru lulus SD. Cerpen yang kubuat masih kekanak-kanakan sekali. Jelas tampak pengaruh dari seri Goosebumps yang sering aku baca dulu. Bahkan editor yang membuat artikel tentang lomba cerpen tahun itu sempat menyinggung hal itu. Uh, malu sekali aku.

Lima kali ikut lomba tanpa satu kemenangan pun bukan berarti sia-sia. Membaca kembali cerpen-cerpen yang kukirimkan ke lomba itu setiap tahunnya seperti menyimak perkembangan menulisku sendiri dari tahun ke tahun. Kenangan akan harap dan kecewa yang ditimbulkannya juga memiliki tempat tersendiri di hati. Tahun ini adalah yang terakhir kali aku bisa mengikuti lomba itu dikarenakan usiaku yang hampir mencapai batas. Tentu saja, ini berarti aku akan berjuang lebih keras dari tahun-tahun sebelumnya. Give the best for the last!

Hanya sekali aku melewatkan lomba cerpen majalah remaja yang kusebut-sebut dari tadi itu, tahun 2004. Sekali-kalinya itu dikarenakan ada lomba lain yang berbarengan dengannya. Lomba dengan skala lebih besar. Lomba menulis novel remaja!

Aku mengerjakan novel itu empat bulan lamanya. Dari bulan Juli sampai Oktober. Satu minggu satu bab. Aku cetak kemudian kuperlihatkan pada teman-teman sekelas. Tidak kupungkiri, mereka berperan besar dalam penyelesaian novelku ini. Menyenangkan sekali memiliki first readers yang dengan setia menagih kelanjutan novelku tiap minggu. Wali kelasku juga tidak kalah besar jasanya. Pada detik-detik terakhir, beliau mengizinkanku bersemedi di rumah selama seminggu untuk menyelesaikan novel itu.

Kini sudah dua novelku yang beredar di pasaran. Ada juga dua kumpulan cerpen mahasiswa. Perkembangan menyenangkan ini tentunya mendorongku untuk berkarya lagi.

Sewaktu mengerjakan novelku itu, aku menyadari satu hal tentang sebuah karya dan pengarangnya (karena novel fiksi maka lebih tepat disebut pengarang daripada penulis). Karya adalah dunia yang diciptakan oleh pengarang. Karya tidak akan lepas dari pengarangnya. Karenanya, novel yang digarap dengan segenap cinta oleh pengarangnya akan sarat dengan perasaan si pengarang. Apakah perasaan itu tertuang secara tersurat atau tersirat, itu tergantung pengarangnya sendiri.

Dengan menulis, kamu dapat memahami dirimu. Dengan menulis, kamu dapat memahami orang lain. Dengan menulis, kamu dapat membuat orang lain memahamimu. Tidak hanya perihal dirimu dan diri orang lain. Tapi juga perihal kehidupanmu dan kehidupannya. Kenapa? Karena karya sastra menyampaikan “pemahaman” tentang kehidupan dengan caranya sendiri (Budianta dkk., 2003: 7).

Tidak hanya karya sastra kok. Esai, artikel, dan tulisan-tulisan nonfiksi lainnya juga dapat kamu jadikan sarana untuk menyampaikan aspirasimu pada orang lain, pada dunia. Ya! Dengan menulis pun kau dapat mengubah dunia!

Hei, tunggu apa lagi? Angkatlah penamu, nyalakan komputermu. Mari menulis sekarang. Tidak perlu berpikir yang susah-susah. Menuangkan perasaanmu saat ini pun sudah cukup.

Terus dan teruslah menulis sampai kau tidak menyadari kalau menulis telah menjadi bagian dari hidupmu…

Read Full Post »