Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerita Rekaan’ Category

Seorang teman kita sedang membuat novel yang berhubungan dengan linguistik. Kalian bisa membacanya di http://morninghours.wordpress.com/.

Berikut ini adalah ringkasan yang kami kutip dari blog tersebut.

Novel yang saya buat ini berkisah tentang seorang Profesor Linguistik bernama Drina Hutabarat. Dia memiliki kemampuan tersembunyi untuk mendengar suara-suara terselubung ketika mendengar manusia di sekelilingnya menyatakan sesuatu. Suara-suara terselubung inilah yang disebut “Suara-Suara Ilokusi.”

Kalau kalian belajar linguistik, mungkin kalian tahu bahwa ilokusi adalah sesuatu yang ingin disampaikan oleh manusia saat mengucapkan tuturan nyata (lokusi)-nya. Ilokusi tidak selalu sama dengan lokusi. Kadang manusia menyatakan sesuatu, tapi niatannya untuk menyatakan itu berbeda sama sekali dengan tuturannya. Drina dapat mendengar suara-suara ilokusi ini sejak kecil, tapi setelah dia dewasa, mempelajari ilmu linguistik, dan membuatnya jadi berpikiran sedikit positif terhadap suara-suara ilokusi itu, kemampuannya jadi mulai menghilang.

Suatu hari, Drina yang sudah hidup tenang pada usia 63 tahun, menerima permintaan seorang anak perempuan bernama Karmina untuk membaca suara-suara ilokusi yang mungkin dapat didengar dari surat bunuh diri yang ditulis oleh kakeknya. Permintaan ini awalnya ditolak oleh Drina karena ia tidak ingin mendengar suara-suara ilokusi lagi. Selain itu Drina pun tidak yakin kalau suara ilokusi dapat diketahui dari bentuk tuturan yang berupa tulisan. Akan tetapi, ada sesuatu dari surat bunuh diri tersebut yang sangat ingin ia selidiki hingga ia pun rela untuk berusaha kembali mendengar suara-suara ilokusi yang sudah lama tidak ia dengar.

Read Full Post »

oleh Puspita Nuari

Pada cerpen karya Melody Violine ini terdapat beberapa tokoh. Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam cerpen ini adalah Fika, Mama, Om Theo, dan tetangga sebelah rumah Mama Fika (meskipun tokoh ini hanya satu kali muncul, ia berperan penting karena tokoh inilah yang membuat jati diri Om Theo terungkap pada akhir cerita). Ada pun tokoh lain seperti teman-teman Fika, empat ibu-ibu berdaster, dan Adit (adik laki-laki Fika), adalah tokoh yang tidak berperan penting, tetapi berfungsi sebagai pelengkap cerita untuk memperkuat karakter tokoh-tokoh yang berperang penting.

Tokoh Fika adalah tokoh utama pada cerpen ini karena tokoh Fika berhubungan dengan semua tokoh lain. Selain itu, terasa sekali bahwa cerpen ini menitikberatkan pada semua yang pernah dialami oleh tokoh Fika. Sementara itu, Tokoh Mama, Om Theo, dan tetangga sebelah rumah Mama Fika adalah tokoh bawahan atau tokoh penunjang yang memiliki hubungan langsung dengan tokoh utama. Ketiganya adalah tokoh protagonis karena di antara mereka tidak ada pertentangan pemikiran. Peran antagonis dalam cerpen ini terdapat pada tokoh-tokoh lain yang mengejek, menghina, dan menggunjingkan hubungan ketiga tokoh protagonis. Peran ini diperankan oleh teman-teman Fika dan empat ibu-ibu berdaster.

Dilihat dari cara penampilan tokoh, Fika ditampilkan secara bulat karena ia mengalami perkembangan watak. Fika yang awalnya tegar dan tidak pernah mengeluh, akhirnya melakukan protes seperti tidak bisa menerima kenyataan pada akhir cerita. Begitu pun Om Theo. Om Theo yang dari awal digambarkan sebagai tokoh yang baik dan dermawan, ternyata adalah seorang koruptor yang memiliki banyak istri simpanan. Terdapat pula tokoh yang ditampilkan secara pipih atau datar, yaitu Mama. Tokoh Mama, dari awal hingga akhir, hanya diceritakan sebagai seseorang yang sabar dan mau menerima kenyataan.

Dilihat dari metode penokohan, tokoh Fika digambarkan dengan metode perian atau diskursif, yaitu digambarkan langsung oleh penulis. Hal ini dapat kita lihat pada kalimat kedua paragraf 9 yang berbunyi, “Namun, ia tergolong tegar untuk anak-anak seusianya.” Sementara itu, tokoh Mama dan Om Theo digambarkan dengan metode analitis karena kita sebagai pembaca dapat mengetahui watak mereka setelah membuat kesimpulan dari keseluruhan rangkaian cerpen ini.

Bekasi, 16 Februari 2009

Read Full Post »