Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Drama’ Category

Oleh: Wahyu Awaludin (0806466380)

Mahasiswa Prodi Indonesia FIB UI 08

Unduh tulisan ini dalam format .doc di sini.

Beberapa di antara pemimpin tidak memiliki jabatan pemimpin resmi, tetapi melangkah maju untuk memimpin ketika diperlukan, dan mundur kembali sampai muncul kesempatan berikutnya” (Daniel Goleman)

Ada satu hal yang sangat menarik dari drama Aduh karya Putu Wijaya. Yakni bagaimana seorang Putu menciptakan tokoh-tokohnya secara “tidak lazim”. Jika biasanya sebuah drama mempunyai tokoh benama “Budi”, “Hamlet”, dan sejenisnya, Aduh-nya Putu tetap mempunyai tokoh, tapi tidak memiliki nama. Ia hanya berlabel “pemimpin”, “pelopor”, dan sejenisnya. Entah apa tujuan Putu, tapi saya tidak akan membahas hal itu. Saya hanya akan membahas tokoh “pemimpin” dan tema kepemimpinan yang tiba-tiba saja terlihat sangat seksi di mata saya.

Pemimpin berarti “orang yang memimpin”. Saya rasa itu sudah cukup menjelaskan hakikat kepemimpinan. Setidaknya ada 2 hal yang menarik dari tokoh “pemimpin” di dalam drama Aduh.

Pertama, sosok anonimitas tokoh “pemimpin”. Seperti tulisan yang saya kutip di atas, ternyata di dunia ini banyak orang-orang yang tidak terkenal, tidak berhasrat memimpin, tetapi ketika diperlukan, mereka akan maju memimpin. Setelah permasalahan selesai, mereka akan mundur dan melanjutkan hidupnya seperti biasa. Mereka menjadi pahlawan bayangan. Kita memiliki beberapa istilah untuk orang-orang seperti ini, misalnya “pahlawan tanpa tanda jasa” dan silent heroes (istilah dari SBY dalam esainya di majalah TIME tentang pahlawan). Di dalam drama Aduh, sosok anonimitas sangat terasa, karena memang tak ada satu orang tok yang menjadi pemimpin.

PEMIMPIN: Tahan! Kumpulkan semua tekad menjadi satu. Satukan!

SALAH SEORANG: Mari!

Tak ada yang bisa menjamin bahwa “pemimpin” di atas sama dengan “pemimpin” di bawah ini.

SALAH SATU: Lari saja!

SALAH SATU: Kenapa, ke mana?

SALAH SATU: Ayo lari!

PEMIMPIN: Jangan!

Semua anonim, serba tidak jelas. Namun, ketidakjelasan itu memunculkan satu wacana baru, yakni bahwa memimpin bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak peduli ia siapa, ia bisa memimpin. Wacana itu pula yang coba ditawarkan oleh Daniel Goleman. “Pemimpin itu banyak, bukan hanya satu. Pemimpin bukanlah satu orang yang berada di puncak. Pemimpin ada di setiap jenjang, yang dengan satu dan lain cara, bertindak sebagai pemimpin di satu kelompok.”

Kedua, gaya kepemimpinan. Sebenarnya, ada banyak gaya dalam memimpin. Gaya visioner -ini yang terbaik-, gaya membimbing, gaya memotivasi, gaya demokrasi, dan sebagainya. Salah satunya adalah gaya memerintah, otoriter. Sebenarnya gaya ini, menurut Daniel Goleman, berbahaya dan tidak bagus. Indonesia pun pernah membenci tangan besi Soeharto selama 32 tahun. Namun, di situasi-situasi tertentu, gaya otoriter ini sangat dibutuhkan. Misalnya, adalah satu hal yang mustahil di medan perang kita menerapkan gaya demokrasi, meminta pendapat semua orang apa yang harus dilakukan untuk lolos dari sergapan musuh yang menyerang. Sebelum mereka melakukan voting, mereka akan habis dibantai. Saat kritis-kritis macam itu, gaya kepemimpinan yang dibutuhkan adalah gaya kepemimpinan yang kuat dan otoriter, memerintah semua prjaurit untuk mundur dan menyusun strategi atau berperang hingga titik darah penghabisan. Kepemimpinan gaya ini pula lah yang diterapkan di drama Aduh.

Drama Aduh bercerita tentang situasi kritis dan gawat. Mereka berkejaran dengan waktu untuk mengubur satu mayat. Semua orang panik dan tak bisa berpikir jernih. Semuanya kebingungan. Saat inilah harus ada satu orang yang muncul dan memegang kendali dengan keras supaya kelompok tidak kacau. Di saat seperti ini, gaya visioner patut dibuang ke tempat sampah. Gaya otoriter lah jawaban dari situasi kondisi mencemaskan itu. Dengan memerintah “pelopor” untuk membuka jalan, meminta “salah seorang” untuk mengangkat mayat, walaupun sempat ribut sana-sini, berkelahi, dan sempat putus asa, satu masalah pun akhirnya bisa terselesaikan, yakni mayat itu akhirnya bisa dikubur.

SUMBER:

Goleman, Daniel, dkk. 2004. Primal Leadership; Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wijaya, Putu. 1973. ADUH; Drama Tiga Babak. Jakarta: Pustaka Jaya.

Read Full Post »

Bank Naskah Drama

http://banknaskah-fs.blogspot.com/

Semoga blog ini bisa bermanfaat bagi pelaku dan pendidik teater Nusantara. Admin berusaha menghimpun sebanyak mungkin naskah drama guna membantu berkembangnya seni pertunjukan teater yang mulai terkikis.

Semua karya yang ada di Bank Naskah FS merupakan pengejawantahan ide dan renungan anak bangsa yang tidaklah mudah prosesnya. Maka dari itu dimohon dengan sangat dalam memublikasikan atau mementaskannya menyantumkan nama penulisnya. Mari mengapresiasinya sesuai dengan etika yang berlaku agar tak mematahkan semangat ‘tuk terus berkarya.

Salam Budaya!

Read Full Post »

oleh Evlin, Melody Violine, dan Saktiana Dwi Hastuti


  1. 1. Pendahuluan

Drama merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dibahas. Istilah drama berasal dari Yunani, yaitu dramoi yang berarti ‘aksi’ atau ‘perbuatan’[1]. Istilah drama itu sendiri sudah menyiratkan makna ‘peristiwa’, ‘karangan’, dan ‘risalah’[2].

Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di anatara tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi, 2006: 104).

Drama pada awalnya digunakan dalam suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Akan tetapi, ritual tersebut mengalami perkembangan menjadi oratoria, yaitu seni berbicara, kemudian berkembang menjadi drama.

Salah satu jenis drama yang berkembang adalah drama realisme. Realisme adalah aliran atau ajaran yang selalu berpegang pada kenyataan, dan dalam kesenian, aliran ini berusaha mengungkapkan sesuatu sebagaimana kenyataan yang ada[3]. Realisme digambarkan sebagai peniruan, bukan dari karya seni tradisi, melainkan peniruan dari aslinya yang disajikan oleh alam.

Drama realis bermula pada abad 19. Drama ini bertolak dari pikiran positifitis orang Eropa. Drama realis pada umumnya merupakan usaha untuk menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana subjek itu tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa melebih-lebihkan. Drama realis ingin memberikan wawasan dalam kenyataan kehidupan, memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan keburukan-keburukan yang ada. Pada umumnya, apa yang dikemukakan oleh drama realis adalah suatu kebenaran umum atau wajar.

Malam Jahanam merupakan sebuah drama ciptaan Motinggo Busje yang ditulis pada tanggal 1 Juni 1958 di Teluk Betung. Malam Jahanam pernah memenangkan sayembara penulisan lakon yang diadakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1958. Drama ini merupakan drama satu babak yang menampilkan sisi gelap manusia di samping aspek ketulusan dan kelembutan hati.

Dalam makalah ini, penulis menggunakan pendekatan objektif sebagai pendekatan dalam menganalisis Malam Jahanam. Pendekatan objektif merupakan sebuah pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang sedikit banyak bersifat otonom (Teeuw, 2003: 100). Pendekatan ini mencoba untuk memaparkan suatu karya sastra secara struktural. Dalam makalah ini, penulis mencoba menganalisis drama Malam Jahanam sebagai suatu karya yang mempunyai otonomi penuh. Oleh karena itu, penulis tidak mengaitkan karya dengan lingkungannya, seperti pengarang dan pembacanya. Penulis hanya membahas sistem formalnya yang membangun keutuhan karya, yaitu alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat.

2. Ringkasan Malam Jahanam

Di sebuah perkampungan nelayan, tinggallah Mat Kontan beserta istri (Paijah) dan anaknya (Mat Kontan Kecil). Soleman, teman dekat Mat Kontan, tinggal di seberang rumah mereka. Suatu malam, Paijah menunggu suaminya yang belum juga pulang. Ia mengkhawatirkan anaknya yang sedang sakit. Akhirnya, Mat Kontan pulang membawa seekor burung. Saat mengobrol dengan Soleman di teras rumahnya, dia menyombongkan burung perkututnya yang baru, juga istri dan anaknya. Soleman yang tidak tahan mendengarnya mengungkit-ungkit ketakutan Mat Kontan ketika nyawanya hampir melayang karena terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan yang ketakutan rahasianya dibongkar langsung berbaik-baik pada Soleman.

Tak lama kemudian, Mat Kontan mulai menyombongkan diri lagi. Dia juga menuduh Soleman iri karena dia mempunyai istri yang cantik dan seorang anak. Soleman bahkan dianggap takut menyentuh perempuan karena sampai sekarang belum juga beristri.

Mat Kontan masuk untuk melihat burung beo kesayangannya tapi tidak menemukannya. Utai, seorang warga kampung itu yang setengah pandir, mengaku pernah melihat bangkai burung tersebut di dekat sumur dengan leher tergorok. Mat Kontan yang jadi marah besar mengajak Utai menemaninya ke tukang nujum untuk mengetahui siapa pembunuhnya.

Paijah yang ketakutan bertanya pada Soleman apa yang sebaiknya ia katakan bila ditanya oleh Mat Kontan nanti. Ternyata, Solemanlah yang membunuh burung beo kesayangan Mat Kontan agar perselingkuhannya dengan Paijah tidak ketahuan. Soleman berjanji akan melindungi Paijah.

Mat Kontan segera pulang karena tukang nujum yang hendak ditemuinya sudah meninggal. Dia pun marah-marah pada Paijah, bertanya siapa yang membunuh burung beonya. Paijah balas mengungkapkan kekesalannya pada Mat Kontan yang tidak pernah memikirkan dan menyayangi dirinya dan anaknya tapi selalu membangga-banggakan mereka pada semua orang.

Awalnya, Soleman membela Paijah dari amarah Mat Kontan. Lama-lama Soleman diam saja. Paijah kecewa pada Soleman dan mengaku sebagai pembunuh burung beo Mat Kontan. Soleman pun mengaku bahwa dialah pembunuh burung beo Mat Kontan dan bahwa dialah ayah dari anak Paijah, anak yang selama ini Mat Kontan bangga-banggakan sebagai anaknya.

Mat Kontan marah dan mengangkat goloknya. Soleman membuat Mat Kontan takut lagi dengan mengingatkannya tentang saat dia terperosok ke dalam pasir. Mat Kontan pergi dan menyerahkan Paijah serta anaknya pada Soleman.

Soleman menyusul Mat Kontan yang dikiranya hendak bunuh diri. Ternyata, Mat Kontan dan Utai sudah menunggu untuk membunuhnya. Soleman berhasil meloloskan diri dan pergi ke stasiun kereta api. Utai mati karena ditendang oleh Soleman.

Mat Kontan kembali ke rumahnya dan masih mau hidup dengan Paijah serta anak Soleman. Dia bahkan mulai memerhatikan anak itu dan pergi memanggil dukun untuk mengobati penyakitnya. Sayangnya, malam itu juga si bayi meninggal dunia.

3. Analisis Malam Jahanam

3.1. Realisme dalam Malam Jahanam

Karakteristik drama realis adalah sesuatu tidak boleh diperindah/diperburuk dari keadaan sebenarnya; menyampaikan ke permukaan tanpa harus menutupi kebenaran yang terjadi di sekitarnya; menolak seni untuk seni karena visualisasi digunakan untuk kepentingan masyarakat[4].

Selain itu, drama realis juga menggunakan bentuk well made play yang ciri-cirinya adalah eksposisi secara jelas menggambarkan situasi dan watak tokoh; pengolahan situasi sangat cermat menuju peristiwa berikutnya; suspens muncul tak terduga dan berbalik menurut logika; plot berlangsung kontinyu dan memuncak; dan resolusi terjadi secara logis dan meyakinkan.

Sesuai dengan salah satu karakteristik drama realis, Malam Jahanam tidak memperindah maupun memperburuk sesuatu dari keadaan sebenarnya. Drama ini menceritakan perselingkuhan sebagaimana adanya pada masa naskah drama ini ditulis, yaitu pada tahun 1950-an.

Malam Jahanam juga menyampaikan perselingkuhan ini ke permukaan tanpa menutupi kebenaran yang terjadi di sekitarnya. Motinggo Busye dengan jujur mengemukakan bagaimana tanggapan masyarakat saat itu dan reaksi orang-orang yang berhubungan dengan perselingkuhan ini.

Drama ini merupakan penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat. Penyebab dan dampak dari perselingkuhan Paijah dengan Soleman, kematian Mat Kontan Kecil yang tragis, dan keegoisan Mat Kontan dapat dipelajari oleh masyarakat dan dipetik hikmah serta amanatnya. Dengan demikian, Malam Jahanam dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Karakteristik drama realis yang tidak kalah penting adalah manusia diharuskan mampu mempertahankan dirinya di tengah lingkungan tanpa harus melarikan diri dari kenyataan. Tokoh-tokohnya dihadapkan pada cobaan-cobaan yang memojokkan mereka. Baik Soleman, Paijah, maupun Mat Kontan, ketiganya mempunyai masalah yang membuat mereka tertekan. Akan tetapi, mereka tidak sanggup menghadapinya secara langsung dan memilih untuk melarikan diri di balik rahasia dan keyakinan palsu yang dibuat-buat.

Malam Jahanam juga memenuhi bentuk well made play. Pengolahan situasinya sangat cermat menuju peristiwa berikutnya. Sebab-akibat antarperistiwa terlihat jelas. Contohnya adalah pada adegan ke-V Soleman meminta diceritakan tentang perkutut atau beo saja daripada tentang Paijah dan Mat Kontan Kecil yang membuatnya kesal. Oleh karena itu, Mat Kontan teringat pada burung beo yang sudah dilupakannya selama dua hari. Mat Kontan tidak dapat menemukan burung tersebut. Pencarian burung beo ini pada akhirnya mengungkapkan perselingkuhan Soleman dengan Paijah.

Suspense atau unsur ketegangan dalam Malam Jahanam muncul secara tak terduga dan berbalik menurut logika. Pembaca mungkin terkejut ketika Soleman mengatakan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anaknya. Akan tetapi, setelah mengingat-ingat atau membaca kembali bagian awal Malam Jahanam saat Mat Kontan mengatakan bahwa dulu dia sering diolok-olok mandul oleh teman-temannya, pembaca tersadar bahwa pernyataan Soleman itu masuk akal dan menurut logika.

Plot Malam Jahanam berlangsung kontinyu dan memuncak. Alurnya maju, tidak ada flashback, tidak ada plot sampingan, dan tidak ada adegan yang tidak penting maupun yang tidak relevan. Ketegangan terus memuncak. Penanda-penanda yang paling jelas adalah amarah Mat Kontan dan ketakutan Paijah yang semakin lama semakin meninggi.

Resolusi atau pemecahan akhir, yaitu kematian Mat Kontan Kecil, terjadi secara logis dan meyakinkan. Bayi itu sudah sakit sejak drama dimulai, tapi baru pada akhir cerita Mat Kontan pergi mencari dukun untuk mengobatinya. Hal ini membuat pembaca teriris hatinya dan khawatir kemungkinan terburuk terjadi pada bayi itu. Tiba-tiba tangisnya terhenti. Kekhawatiran pembaca menjadi kenyataan. Paijah keluar rumah sambil berteriak-teriak mengatakan kalau anaknya sudah mati.

3.2. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan menyatakan bahwa alur adalah roh drama (Sumardjo, 1994: 141). Alur Malam Jahanam adalah alur maju atau linear, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya (chronological order) secara berurutan. Alur ini berlangsung secara kontinyu dan memuncak.

Unsur-unsur alur dalam drama ada tiga (Sumardjo, 1994: 141), yaitu:

  1. Unsur ketegangan (suspense)

Ketidakpastian yang berkepanjangan dan semakin menjadi-jadi akan menimbulkan ketegangan. Adanya ketegangan dalam drama menumbuhkan dan memelihara rasa ingin tahu penonton dari awal sampai akhir suatu cerita.

  1. Unsur dadakan (surprise)

Unsur dadakan akan menyusun cerita sedemikian rupa hingga muncul dugaan-dugaan yang tidak disangka-sangka oleh pembaca dan mengagetkan.

3.   Unsur ironi dramatik

Unsur ini membentuk pernyataan-pernyataan atau perbuatan-perbuatan tokoh cerita yang seakan-akan meramalkan apa yang akan terjadi.

Dalam drama Malam Jahanam, terlihat unsur ketegangan dan unsur dadakan. Unsur ketegangan terjadi ketika Soleman mengaku kepada Mat Kontan bahwa dialah yang membunuh burung beo dan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anak kandungnya.

Soleman          : Sayalah yang melakukannya!

Mat Kontan     : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?

Soleman          : Ya, Saya iri!

Mat Kontan     : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.

Soleman          : Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!

Mat Kontan     : Memang kau jahanam!

Soleman          : Memang saya jahanam. Tapi  kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga jahanam!

Mat Kontan     : Kenapa kau hina anak saya ha?

Soleman          : Ia bukan anakmu![5]

Unsur dadakan dalam drama Malam Jahanam terlihat ketika Soleman mengaku kepada Paijah bahwa dialah yang membunuh burung beo milik Mat Kontan. Pengakuan Soleman membuat kejutan atau dadakan bagi pembacanya.

Soleman          : Mungkin saya juga, Jah. Sekarang saya lebih baik mengaku saja (mereka kini saling berpandang). Saya juga punya takut (diam). Mungkin juga Nabi. Tapi Jah, saya bunuh beo itu karena binatang jahanam itu telah menyiksa saya!

Paijah              : (terkejut mendengar berita baru itu) Apa? Kau bunuh? Kau yang memotong lehernya?[6]

3.3. Latar

Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita (Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44). Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material (Hudson dalam Teeuw, 2003: 44). Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya. Latar sosial dalam Malam Jahanam yaitu lingkungan para pelayan yang hidup dalam kemiskinan. Bahasa yang mereka gunakan kasar dan kurang sopan.

Di pinggir laut kota kami, para nelayan tampaknya selalu gembira, biarpun betapa miskinnya. Rumah mereka terdiri dari geribik, tonggak bambu dan beratap daun kelapa. Suara mereka yang keras dan gurau kasar mereka, seolah-olah mengesankan bahwa mereka kurang berpendidikan.[7]

Latar fisik dalam drama Malam Jahanam yaitu di sebuah perkampungan nelayan. Penggambaran latar fisik dalam drama ini sangat jelas dan mendetail, seperti yang dicirikan dalam sebuah karya drama realis.

3.4. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991: 16). Tokoh-tokoh dalam drama ini adalah Mat Kontan, Paijah, Soleman, Utai dan Tukang Pijat. Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral dapat dibagi menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan wirawan atau wirawati.

Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan atau tokoh utama dan menjadi pusat sorotan dalam kisahan. Tokoh antagonis adalah tokoh yang merupakan penentang utama dari protagonis. Tokoh wirawan atau wirawati juga merupakan tokoh penting yang cenderung dapat menggeser kedudukan tokoh utama. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.

Tokoh protagonis dalam Malam Jahanam adalah Soleman sedangkan tokoh antagonisnya adalah Mat Kontan. Paijah memegang peranan sebagai tokoh wirawati. Tokoh-tokoh bawahannya adalah Utai dan Tukang Pijat.

Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi tokoh datar (tokoh sederhana) dan tokoh bulat (tokoh kompleks). Tokoh datar diungkapkan satu segi wataknya saja sedangkan tokoh bulat ditampilkan lebih dari satu. Selain itu, tokoh bulat juga mampu memberikan kejutan dengan munculnya segi watak lain yang tak terduga. Tokoh-tokoh datar dalam Malam Jahanam adalah Utai dan Tukang Pijat. Tokoh-tokoh bulat adalah Mat Kontan, Paijah, dan Soleman.

Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (Sudjiman dalam Sudjiman, 1991: 23). Metode penyajian penokohan dapat dibagi menjadi metode langsung, tak langsung, dan kontekstual. Metode langsung dipakai pengarang yang langsung mengisahkan sifat-sifat tokoh hasrat, pikiran, dan perasaannya. Jika pembaca harus menyimpulkan watak tokoh dari pikiran, cakapan, dan lakuan, metode yang dipakai adalah metode tak langsung. Metode kontekstual adalah metode yang dapat menyimpulkan watak tokoh dari bahasa pengarang. Malam Jahanam menggunakan metode langsung dan tak langsung.

Watak Mat Kontan adalah sombong, angkuh, penakut, egois, emosional, dan sok tahu. Mat Kontan juga merupakan orang yang lari dari kenyataan. Dia tetap membanggakan istri dan anaknya padahal dia sudah menduga bahwa istrinya tidak setia dan Mat Kontan Kecil bukanlah anak kandungnya. Mat Kontan dapat disebut penakut karena dia takut Soleman akan membongkar rahasianya yang pernah terperosok ke dalam pasir.

Mat Kontan     : (takut) Jangan bilang perkataan itu, Man. Saya paling takut kalau kaubilang perkataan itu (melepaskan). O, aku takut kalau kauulangi cerita lama itu. Saya adalah orang yang kepingin panjang umur, Man. He, kau masih ingat peristiwa itu, Man?[8]

Mat Kontan egois karena meskipun selalu membangga-banggakan Paijah dan anaknya, dia tidak memedulikan anaknya yang sedang sakit. Dia hanya memedulikan koleksi burung dan kebahagiannya sendiri. Mat Kontan mudah marah bila menyangkut burung dan harga dirinya.

Watak Soleman adalah pengecut, besar mulut, dan pembual. Ketika Paijah menceritakan ketakutannya terhadap Mat Kontan kepada Soleman, Soleman berjanji akan melindungi Paijah. Soleman berkata bahwa dia bukan penakut. Padahal, sebenarnya dia adalah pengecut. Karena takut terhadap amarah Mat Kontan, Soleman kabur naik kereta api, meninggalkan Paijah dan anak kandungnya yang sedang sakit.

Watak Paijah adalah pencemas dan tidak setia. Ia takut Soleman dan dirinya sendiri akan dibunuh oleh Mat Kontan apabila masalah burung beo dan perselingkuhan mereka terungkap. Ia juga takut dirinya dan Soleman akan diusir dari kampung apabila ada yang mengetahui perihal perselingkuhan mereka.

Paijah juga seorang istri yang tidak setia. Ia berselingkuh dengan Soleman yang merupakan teman dekat suaminya. Meskipun Mat Kontan egois dan mandul, tidak seharusnya Paijah lari ke dalam pelukan laki-laki lain selama statusnya masih sebagai istri Mat Kontan.

Watak Utai adalah setia. Dia selalu menuruti perintah Mat Kontan, bahkan dapat dikatakan bahwa Utai adalah tangan kanannya. Watak Tukang Pijat tidak begitu terlihat karena kemunculannya terlalu singkat.

3.5. Tema dan Amanat

Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra itu (Sudjiman, 1991: 50). Tema Malam Jahanam adalah sisi buruk dan baik manusia. Dalam drama ini, kita bisa melihat sisi buruk manusia melalui Mat Kontan yang tidak menghargai orang lain, Paijah yang berselingkuh dengan Soleman, serta Soleman yang berhubungan istri teman dekatnya sendiri. Sisi baik manusia dapat kita lihat pada kelembutan hati Paijah terhadap anaknya serta Soleman yang mengakui kesalahannya pada Mat Kontan. Perselingkuhan juga diangkat dalam drama ini, yaitu perselingkuhan antara Paijah dengan Soleman.

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Amanat Malam Jahanam adalah kita harus dapat menghargai orang lain. Mat Kontan yang kurang menghargai Paijah dan Soleman akhirnya dikhianati oleh mereka. Kita juga harus bertanggung jawab akan semua yang telah kita lakukan walaupun akan berdampak buruk bagi kita. Seperti halnya Paijah dan Soleman yang mengakui kesalahan mereka dan harus bersedia menanggung akibatnya.

Amanat lainnya adalah orang yang lemah akan selalu menjadi korban. Amanat ini dapat kita ambil dari Utai. Dia setia terhadap Mat Kontan, tetapi harus menjadi korban dan meninggal ketika melawan Soleman demi Mat Kontan. Korban yang lebih malang lagi adalah Mat Kotan Kecil, bayi yang lemah dan tidak berdaya, yang meninggal akibat keteledoran dan keegoisan orang tuanya.

Amanat yang tidak kalah pentingnya adalah tentang kesetiaan. Seorang istri seharusnya setia kepada suaminya dan berkompromi mengenai kekurangan mereka masing-masing.

  1. 4. Kesimpulan

Malam Jahanam merupakan sebuah drama realis. Drama ini memenuhi karakteristik-karakteristik drama realis, mengharuskan tokoh-tokohnya bertahan di tengah lingkungan tanpa melarikan diri dari masalah, dan menggunakan bentuk well made play.

Setelah menganalisis Malam Jahanam dengan pendekatan objektif, kami menemukan bahwa tema drama ini adalah sisi buruk dan baik manusia dengan mengangkat masalah perselingkuhan. Alur drama ini adalah alur maju atau linear yang berlangsung secara kontinyu dan memuncak. Amanat Malam Jahanam adalah kita harus dapat menghargai orang lain, kesetiaan, dan orang yang lemah akan selalu menjadi korban.

DAFTAR PUSTAKA

Budianta, Melani, dkk. 2006. Membaca Sastra. Magelang: IndonesiaTera.

Busye, Motinggo. 1995. Malam Jahanam. Jakarta: Pustaka Jaya.

Ivaty, Susi. “Kejahanaman dalam Diri Manusia.” Style Sheet. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/07/seni/2617979.htm (12 Desember 2006)

Jassin, H.B. 1985. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei IV. Jakarta: Gramedia.

Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya.

Yudiaryani. 2002. Panggung Teater Dunia.Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli.


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/drama (12 Desember 2006)

[2] Melani Budianta dkk. Membaca Sastra, (IndonesiaTera, 2006), hlm. 99.

[3] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/07/seni/2617979.htm (12 Desember 2006)

[4] Yudiaryani. Panggung Teater Dunia, (Pustaka Gondho Suli, 2002), hlm. 157-158.

[5] Motinggo Busye. Malam Jahanam, (Pustaka Jaya, 1995), hlm. 65.

[6] Ibid. hlm. 46.

[7] Ibid. hlm. 7.

[8] Ibid. hlm. 25.

Read Full Post »

oleh Ariny Ma’rifah

Drama berjudul Liburan Seniman adalah sebuah karya dari Usmar Ismail, seorang dramawan utama Indonesia pada tahun 1940-an. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Drama ini berkisah tentang kehidupan seorang wartawan bernama Suromo yang biasa dipanggil Romo. Sebagai angkatan muda, ia merasa wajib ikut berjuang di garis depan sebagai tentara PETA. Sayangnya, keinginannya itu pupus di tengah jalan karena ia tidak lulus tes kesehatan. Sejak saat itu, ia jadi sering melamun. Tabiatnya pun berubah. Ratmi, istrinya, merasakan perubahan yang terjadi pada diri suaminya itu. Hal ini terlihat dari penggalan naskah drama berikut ini.

Aku mengerti, keinginannya untuk berbakti dengan nyata pada tanah air tidak sedikit. Di zaman Belanda, ia hendak jadi tukang pidato pengobarkan semangat, tetapi apabila berhadapan dengan orang banyak ia jadi gugup. Ya, aku tidak tahu, apa betul begitu tabiat semua laki-laki atau tidak. Karena ia ditolak itu Mas Romo seminggu lamanya seperti orang kehilangan saja. Dan sekarang. (Ismail, 2006: 261)

Tidak hanya itu, pekerjaannya pun jadi terbengkalai hingga suatu hari majikannya, Raden Hasan, datang ke rumahnya untuk menegurnya. Suromo akhirnya dipecat. Oleh karena itu, ia bertekad untuk turut berjuang dalam bidang kesenian, yaitu dengan membuat sandiwara. Meskipun seorang wartawan, ia juga pandai mengarang. Dengan dibantu oleh sahabat-sahabatnya, ia pun bekerja keras agar sandiwaranya dapat dipentaskan.

Dari penggalan sinopsis tadi, kita dapat melihat bahwa tokoh sentral atau tokoh utama dalam novel ini adalah Suromo. Hal yang menonjol dalam dirinya adalah ia selalu berada dalam rangkaian cerita. Dengan kata lain, Suromo berpotensi mengikat semua kejadian pada dirinya.

Suromo dapat disebut sebagai tokoh protagonis. Tokoh lainnya adalah istrinya, Ratmi, yang setia mendampinginya, meskipun pamannya, Raden Garmoyono, terus-menerus memojokkannya. Selain itu, hadir juga sahabat-sahabat Suromo yang siap sedia membantunya untuk mementaskan sandiwaranya, seperti Kanto, Kajiman, Rani, Rutaf, dan Mira.

Latar drama ini adalah masa pergerakan sesudah kemerdekaan, tak lama setelah Jepang menjajah Indonesia. Dalam drama ini, setiap individu mempunyai persoalan masing-masing. Namun, terlihat sekali bahwa, sebagai angkatan muda, mereka bersatu padu menuntaskan segala persoalan yang ada, termasuk dalam mementaskan sandiwara yang didambakan oleh Suromo.

Selain tokoh protagonis, tentunya dalam karya sastra juga muncul tokoh antagonis. Dalam Lukisan Seniman, tokoh antagonis dimunculkan melalui Raden Garmoyono. Sejak awal, ia sudah menunjukkan sikap tidak senang terhadap Suromo. Ia selalu mengungkit masa lalunya.

Ketika ayahmu mau meninggal, ia pernah berkata padaku: Garmo, jagalah Ratmi seperti menjaga anakmu sendiri, ia tidak mempunyai ibu lagi dan suaminya masih muda mentah. Ya, (mengeluh sedih) itulah yang telah aku janjikan pada ayahmu, sampai aku lepaskan segala urusanku buat menjaga engkau dari segala bencana. Engkau sendiri tahu, aku dulu mempunyai perusahaan yang besar, tapi aku serahkan pada orang lain, karena engkau. Jika tidak, entah sudah berapa untungku sekarang… (Ismail, 2006: 260)

Raden Garmo memang berusaha sekuat tenaga melindungi Ratmi. Tak jarang ia mengucapkan kalimat yang sama berulang kali hanya untuk meyakinkan Ratmi bahwa Suromo hanyalah seorang suami yang tidak mengerti akan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Akan tetapi, Ratmi tetap memegang kesetiaan dan kepatuhannya terhadap suami yang dikasihinya itu.

Di akhir cerita, Raden Garmo dipermalukan oleh Kanto, sahabat Suromo. Kanto merasa wajib membantu Suromo yang terus ditekan oleh Raden Garmo. Kanto bahkan berkata pada Raden Garmo, ”Paman seolah-olah mau dermawan. Kapital Paman sebanyak-banyaknya Paman tarik, selebihnya pura-pura Paman hadiahkan kepada Ayah. Dengan begitu, Paman akan kerugian sedikit cuma, sedangkan Ayah akan kehilangan semua hartanya.” (Ismail, 2006: 208)

Kata-kata Kanto itu memberitahu kita bahwa Raden Garmo sebenarnya licik dalam menjalankan usaha. Kanto pun ternyata mempunyai dendam pribadi. Ayahnya bangkrut, lalu meninggal dunia, gara-gara kelicikan Raden Garmo.

Secara keseluruhan, tokoh-tokoh dalam drama ini dapat dikategorikan sebagai tokoh bulat. Setiap individu mempunyai karakter yang kuat, sehingga drama ini terlihat hidup dengan kemunculan tokoh-tokoh dengan karakternya masing-masing. Salah satunya adalah Rutaf, seorang pelukis yang tidak tahan terhadap kritik. Ia merasa tidak percaya diri, bahkan rendah diri. Namun, ia berubah menjadi seorang yang percaya pada kemampuannya sendiri ketika Kanto hendak pergi untuk menjadi tentara PETA. Ia merasa pun terpanggil untuk menggantikan posisinya itu.

Tokoh Kertalasmana dalam drama ini juga dapat dikategorikan sebagai tokoh antagonis. Hal ini terlihat dari cara bicaranya yang ketus dan tak jarang menimbulkan perdebatan saat latihan sandiwara. Akan tetapi, pada dasarnya Kertalasmana adalah seorang tokoh dari angkatan tua. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Usmar Ismail mengangkat tokoh ini karena ingin menggambarkan keadaan zaman itu dengan memunculkan perbedaan pendapat antara angkatan tua dengan angkatan muda. Kita dapat melihatnya dalam kata-kata Kertalasmana berikut ini.

”Saya sudah berpengalaman lebih dari dua puluh tahun. Jadi kata saya ini tentu tidak akan saya ucapkan begitu saja. Dan lagi Suromo adalah seolah-olah saudara muda bagi saya sedari dulu, saya tidak akan mematahkan hatinya begitu saja.” (Ismail, 2006: 272)

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa keadaan pada masa itu masih kental dengan pergerakan kemerdekaan yang memang masih hangat-hangatnya dibicarakan, misalnya peristiwa Rengasdengklok saat Bung Karno diculik para angkatan muda agar segera memproklamasikan kemerdekaan RI. Sebagai penulis, Usmar Ismail juga ingin menunjukkan gambaran ini dalam karyanya yang berjudul Liburan Seniman.

Pergolakan pertama drama Indonesia sebenarnya mulai terjadi dari tahun 1920-an, kemudian disusul dengan kecenderungan yang semakin kuat untuk mengungkapkan idealisme dengan menggunakan simbol-simbol (Damono, 2006: xi).

Usmar Ismail sebagai penulis drama tentu mengikuti perkembangan tersebut, sehingga ia pun membuat simbol-simbol dalam naskah dramanya ini. Kemunculan tokoh Kertalasmana sebagai perwakilan angkatan tua dan keidealisan Suromo sebagai angkatan muda cukup untuk menggambarkan kenyataan pada masa itu.

Usmar Ismail sendiri merupakan seorang yang sudah lama berkecimpung dalam hal tulis-menulis, bahkan menguasai dunia panggung sandiwara dan film sampai tahun 1960-an. Kesadaran politik yang berkaitan dengan simpatinya terhadap keadaan negeri ini kemudian dibalut dalam karya sastra seperti Lukisan Seniman. Usmar Ismail merasa turut bertanggung jawab terhadap nasib bangsa yang masih banyak membutuhkan kesadaran untuk terus berjuang dalam mengisi kemerdekaan ini.

Kecenderungan untuk memanfaatkan kesenian sebagai alat untuk mengumpulkan kekuatan massa demi kepentingan politik sudah mulai tampak sejak awal masa kemerdekaan. Dimulai pada tahun 1930-an, para cendekiawan dan sastrawan Indonesia mulai memberi perhatian khusus kepada berkembangnya peluang para sastrawan untuk menyampaikan idealisme mereka. Hal ini terjadi sebagai akibat dari tumbuhnya rasa kebangsaan yang memang membutuhkan wahana semacam itu.

Dari segi alur, dapat dikatakan bahwa drama ini menggunakan alur maju. Hal ini bisa terlihat dari pengisahannya yang mengalami perkembangan dan kelanjutan cerita tanpa adanya flash back atau kilas balik. Selain itu, tentunya kita harus mengingat perbedaan antara alur dengan cerita. Keduanya memang mendasarkan diri pada rangkaian peristiwa, tetapi alur besifat lebih kompleks. Alur pun mempunyai hubungan kausalitas antarperistiwa yang dikisahkan. Selain itu, alur menuntut adanya kejelasan antara peristiwa yang dikisahkan, bukan sekadar urutan cerita.

Dalam drama ini, alur dapat dilihat secara jelas saat Suromo membuat sebuah naskah drama di tengah-tengah kebimbangannya yang bercita-cita menjadi tentara PETA. Sejak saat itu, ia menyadari bahwa ia bisa tetap berjuang meskipun tidak menjadi tentara PETA. Para sahabatnya bahkan bersedia membantunya demi mewujudkan sandiwara ini. Akibat sandiwara ini pula Suromo dipecat oleh majikannya.

Tema yang diusung oleh drama ini adalah perjuangan para angkatan muda untuk menunjukkan eksistensinya dalam perjuangan menegakkan negeri tercinta. Sikap keras kepala yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh muda seperti Suromo, Kajiman, dan Kanto terhadap Kertalasmana merupakan gambaran umum yang terjadi pada masa itu. Melalui drama ini, Usmar Ismail ingin menunjukkan idealisme angkatan muda yang lebih mengutamakan sisi keegoisan mereka.

Akan tetapi, tokoh-tokoh tersebut patut diacungi jempol karena mempunyai kemauan untuk bekerja keras dalam usahanya memajukan bangsa. Bagaimanapun juga, drama ini merupakan salah satu aset nasional yang patut diwariskan kepada generasi berikutnya, terlepas dari apakah drama ini pernah dipentaskan atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Budianta, Melani, dkk. 2003. Membaca Sastra. Magelang: Indonesitera.

Damono, Sapardi Djoko. 2006. ”Seratus Tahun Drama Indonesia,” dalam Antologi Drama Indonesia 1931-1945. Jakarta: Amanah Lontar.

Ismail, Usmar. 2006. ”Liburan Seniman,” dalam Antologi Drama Indonesia 1895-1930. Jakarta: Amanah Lontar.

Tjokroatmojo, dkk. 1985. Pendidikan Seni Drama. Surabaya: Usaha Nasional.

Read Full Post »

Opera Kecoa

oleh Melody Violine
5 Oktober 2006

gadogado.exblog.jp

gadogado.exblog.jp

Opera Kecoa karya N. Riantiarno merupakan bagian kedua dari Trilogi Opera Kecoa (bagian pertamanya berjudul Bom Waktu sedangkan bagian keduanya berjudul Opera Julini). Naskah drama ini terdiri dari 29 babak. Latar tempatnya adalah di Jakarta. Latar belakang waktunya tidak bisa dipastikan, tapi yang jelas sesudah kemerdekaan Indonesia. Latar belakang suasananya lucu tapi tragis.

Konflik utama dalam drama ini adalah pergulatan orang-orang “terbuang” untuk bertahan hidup dan memperjuangkan nasib mereka. Akan tetapi, mereka seakan-akan sudah digariskan untuk selalu kalah. Orang-orang yang berkuasa pada akhirnya selalu mengalahkan mereka—membakar kawasan kumuh. Ketika akhirnya kedua pihak tersebut sudah siap berperang, Roima menghimbau orang-orang “terbuang” untuk kembali ke tempat asal mereka. Maka kembalilah mereka ke dalam got—tempat yang sudah seharusnya.

Roima adalah seorang homoseksual. Melalui kata-kata Julini, pacarnya, kita dapat mengetahui sifat Roima yang gengsian. Walaupun Roima mengaku sudah berubah, sifat itu masih ada. Roima mencintai Julini, tapi dia juga masih ada keinginan untuk menjalin hubungan yang normal. Ketika mulai ada tanda-tanda kedekatan dirinya dengan Tuminah, seorang PSK langganan pejabat, Julini memergokinya dan sakit hati. Sayangnya, saat Roima hendak meminta maaf pada Julini, dia menemukan Julini sudah dalam keadaan sekarat akibat terkena peluru nyasar.

Julini adalah wadam pacar Roima. Meskipun hidupnya susah, Julini pantang meminta-minta. Dengan caranya sendiri, Julini berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Cintanya yang teramat besar pada Roima membuat Julini rela bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua dan membelikan barang-barang bagus untuk Roima. Julini yang aslinya pria ini merasa tidak berdaya pada kenyataan bahwa ia tidak akan bisa mempunyai anak dari Roima. Perjuangan Julini tidak hanya sebagai orang miskin, namun juga sebagai waria—orang yang dianggap amoral dan menyalahi kodrat.

Tarsih adalah pemilik rumah bordil yang menampung PSK-PSK miskin. Setelah merasakan asam garam kehidupan, Tarsih menjadi sangat berhati-hati terhadap segala hal. Ia bahkan mencurigai Roimah dan Julini, teman-teman lamanya sendiri. Akan tetapi, Tarsih bersikap demikian demi mempertahankan apa yang telah dicapainya selama ini.

Tuminah adalah PSK terlaris di rumah bordil Tarsih. Langganan setia Tuminah adalah pejabat setempat yang bosan terhadap istrinya. Tuminah mengaku terpaksa bekerja sebagai PSK karena hidup sebatang kara. Kakaknya, Tibal, yang baru keluar dari penjara marah besar pada Tuminah yang tidak bisa mencari jalan lain untuk menghidupi diri sendiri. Diam-diam Tuminah ingin membangun kehidupan normal bersama Roima, namun ia sadar akan keberadaan Julini sebagai pacar Roima.

Masih ada beberapa tokoh lain yang cukup punya andil dalam Opera Kecoa, yaitu Tibal (kakak Tuminah), Kumis (bos kelompok bandit yang Roima masuki), Bleki (pengikut setia Kumis), pejabat setempat (langganan Tuminah) beserta anak-anak buahnya, dan tamu pejabat dari Jepang. Akan tetapi, tokoh yang paling menarik adalah Tukang Sulap. Dia selalu membujuk orang-orang untuk membeli obat semprot anti kecoa. Kecoa, yang merupakan simbol orang-orang “terbuang”, menurutnya sangat berbahaya dan harus dibasmi sebelum mengambil alih dunia. Apakah demikian pula pemikiran para penguasa sehingga mereka membakar kawasan kumuh tempat tinggal para kecoa—orang-orang “terbuang?

N. Riantiarno berhasil mengemas humor, sindiran, dan realitas sekaligus dalam Opera Kecoa. Kematian Julini juga memunculkan tragedi tersendiri. Bagaimanapun juga, Opera Kecoa merupakan cermin realitas kehidupan Indonesia, terutama di Jakarta. Segala ironi dan kemunafikan yang ada dalam Opera Kecoa memang benar-benar ada di negeri kita.

Daftar Pustaka

Riantiarno, N. 2004. Trilogi Opera Kecoa. Yogyakarta: MAHATARI.

Read Full Post »

Nyonya dan Nyonya

oleh Melody Violine
18 September 2006

motinggo busye (bukulama.com)

motinggo busye (bukulama.com)

Nyonya dan Nyonya karya Motinggo Busye terdiri dari dua babak. Keduanya berlatar belakang tempat di rumah Tuan Tabrin bersama istri pertamanya. Latar belakang suasananya getir tapi lucu.

Konflik utama dalam Nyonya dan Nyonya adalah pergolakan batin Tuan Tabrin sebagai seorang koruptor. Tuan Tabrin selalu merasa tidak tenang, sampai-sampai mengalami gangguan jiwa, karena dihantui oleh dosa-dosanya sebagai koruptor. Kedua istri yang diharapkannya dapat menentramkan jiwanya malah menyuruhnya mengaku kepada polisi. Pada akhir cerita, Tuan Tabrin memutuskan untuk menyerahkan diri kepada polisi.

Tuan Tabrin adalah orang yang penggugup dan takut berhadapan dengan orang lain. Semua ini akibat rasa bersalahnya karena telah menjadi koruptor. Tuan Tabrin curiga bahwa setiap orang bisa saja mengadukannya ke polisi, termasuk asisten rumah tangganya sendiri.

Nyonya Tabrin yang bernama Kiki adalah istri pertama Tuan Tabrin. Perempuan berumur empat puluh tahun ini merasa kalau dirinya sudah tua sehingga gemar menghias diri. Kiki juga selalu khawatir kalau suaminya berpindah hati ke perempuan lain yang lebih muda dan lebih cantik. Kadang-kadang Kiki memaksakan kehendak dan pendapatnya, salah satu caranya adalah dengan mengancam akan memecahkan vas bunga kesayangan suaminya.

Istri kedua Tuan Tabrin bernama Samirah. Samirah yang taat beragama mulanya bersimpati pada Tuan Tabrin yang mengalami gangguan jiwa sampai akhirnya jatuh cinta dan mereka menikah dengan sah. Samirah tidak secerewet dan seemosional Kiki, tapi sama kerasnya ketika merongrong Tuan Tabrin untuk menyerahkan diri ke polisi.

Sopinah adalah asisten rumah tangga Tuan Tabrin dan Kiki. Sopinah begitu lugu sampai-sampai percaya pada dusta pencuri yang mengangkuti barang-barang mahal di rumah Tuan Tabrin dan Kiki. Selain itu, Sopinah sayang pada Kiki, majikannya. Ia takut Kiki dipukul oleh Tuan Tabrin.

Tamu cantik yang ternyata adalah pencuri abad modern (seperti kata Tuan Tabrin) merupakan hal yang paling menarik dalam Nyonya dan Nyonya. Ia bertamu di rumah Tuan Tabrin dan Kiki. Setelah membuat Kiki percaya kalau ia adalah istri Tuan Tabrin juga, dengan lihainya ia membuat Kiki keluar rumah. Setelah itu, tamu cantik ini mengangkuti barang-barang mahal yang ada dengan pick-upnya.

Pencuri ini sangat lihai. Ia dapat segera menemukan titik kelemahan Kiki—kekhawatiran kalau Tuan Tabrin diam-diam menduakannya—dan memanfaatkannya untuk membuat Kiki meninggalkan rumah.

Hal menarik lainnya adalah ternyata kedatangan pencuri itu, beserta pengakuannya sebagai istri kedua Tuan Tabrin, menginspirasi Tuan Tabrin untuk mencari istri lagi. Kedatangan Samirah, si istri kedua, yang membuat Kiki panas dan curiga kalau ada yang hendak mencuri rumahnya lagi juga memberikan kesan tersendiri.

Read Full Post »

TRAGEDI KERETA API MAUT

NASIONALISME DALAM TRAGEDI KERETA API MAUT[1]

oleh Prima Hariyanto

Drama merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dibahas. Istilah drama berasal dari Yunani, yaitu dramoi yang berarti ‘aksi’ atau ‘perbuatan’[2]. Drama pada awalnya digunakan dalam suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Akan tetapi, ritual tersebut mengalami perkembangan menjadi oratoria, yaitu seni berbicara, kemudian berkembang menjadi drama.

Drama merupakan genre atau jenis karya sastra yang tersendiri dan istimewa. Berbeda dengan prosa dan puisi, drama diciptakan tidak hanya untuk dibaca, melainkan juga untuk dipentaskan. Terlepas apakah sebuah drama dipentaskan atau hanya sekadar naskah yang hanya dibaca saja (lebih dikenal closet drama), yang disebut dengan drama adalah salah satu genre sastra yang memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada.[3]

Selain adanya cakapan para tokoh yang disusun sedemikian rupa, salah satu ciri yang khas dari sebuah drama adalah adanya stage directions atau petunjuk pemanggungan, yaitu sejenis petunjuk yang memberikan gambaran tentang bagaimana suasana, lokasi, atau hal yang harus dilakukan oleh sang tokoh. Petunjuk pemanggungan ini biasanya diletakkan dalam tanda kurung atau ditulis miring di antara dialog para tokoh.

Naskah Drama Kereta Api Maut

Naskah ini disusun oleh Achmad Toha, B.A. berdasarkan kisah nyata peristiwa 23 November 1947 yang terkenal dengan sebutan “Peristiwa Gerbong Maut Bondowoso, Jawa Timur”. Peristiwa ini memakan korban sebanyak 46 orang tewas dan 11 orang sakit sehingga dibawa ke rumah sakit Karang Mendjangan, Surabaya. Sisanya, sebanyak 43 orang, meskipun sudah tidak kuat untuk berjalan karena lemasnya, dibawa ke Kamp Tawanan di Bubutan, Surabaya.

Kereta Api Maut pertama kali dipentaskan saat acara Peringatan Dwi Windu Berdirinya Departeman Kesedjahteraan Sosial. Pementasan pertama dari drama ini disutradarai oleh Sofia Waldy bersama rekan-rekannya dengan pemainnya antara lain W.D. Muchtar (sebagai Karsono), A. Hamid Arief (Si Kelap), Lilik Sulastri (sebagai Lasmi), A. Hadi, Anie Poniman, dan sebagainya.

Tujuan dari diterbitkannya naskah drama ini adalah sebagai bahan penyuluhan kepada masyarakat oleh petugas penyuluhan sosial khususnya dalam bidang Gerakan Penyuluhan Sosial Audio-Visual untuk menanamkan dan memperluas pengenalan arti dan tugas pekerjaan sosial. Naskah ini diterbitkan di Jakarta oleh Departemen Kesedjahteraan Sosial, Djawatan Pekerdjaan Sosial pada bulan Agustus 1961.

Drama Kereta Api Maut bercerita tentang penderitaan rakyat Indonesia ketika ditindas oleh penjajah (Belanda). Di dalam penjara Bondowoso, dikurung beberapa tahanan penjajah. Penjara tersebut sangat sempit dan gelap. Di suatu hari pada pukul tiga pagi, beberapa tahanan tidak dapat memejamkan mata. Kuswari, Karsono, Pak Achmad, Pak Asmonah, dan Rasmun berbincang-bincang. Mereka mengutuk kekejaman penjajah terhadap rakyat Indonesia.

Sersan KNIL datang bersama Kopral dan Serdadu KNIL membangunkan para tahanan. Rasmun yang tidak terima pemimpinnya dihina oleh tentara KNIL mencoba melawan, tetapi dia malah dipukul dan dihina habis-habisan. Ketika itu, terjadilah perseteruan antara para tahanan dan tentara KNIL.

Akhirnya pada pukul lima pagi, para tahanan digiring menuju Stasiun Bondowoso. Di sana, Karsono bertemu dengan tunangannya, Lasmi, yang sedang bersama ibunya. Terjadilah perlakuan sewang-wenang tentara KNIL terhadap Lasmi dan Karsono. Para tahanan mencoba ikut melawan tentara KNIL. Lasmi dan ibunya diusir dari stasiun tersebut.

Para tahanan dimasukkan ke dalam gerbong dan ditutup rapat. Inilah penyiksaan yang tiada berperikemanusiaan. Para tahanan harus merasakan siksaan di dalam gerbong tanpa udara bebas dalam perjalanan dari Bondowoso ke Surabaya. Banyak tahanan yang tewas karena tidak kuat dengan siksaan tersebut. Mayatnya terinjak-injak tahanan yang lain karena sempitnya gerbong.

Semantara itu di dalam hutan rimba, Kelap, seorang tahanan yang berhasil meloloskan diri sedang menghimpun kekuatan bersama pejuang-pejuang lainnya. Mereka bertekad untuk menghancurkan penjajah yang biadab. Karsono datang dengan membawa goloknya yang berlumuran darah. Ia mengaku telah membunuh tentara KNIL yang menyiksanya dan juga pejuang lainnya.

Para pejuang tersebut semakin bulat tekadnya untuk menghancurkan para penjajah. Mereka sepakat akan langsung menyerbu markas KNIL. Semangat mereka bertambah kuat dengan dukungan dari semua rakyat termasuk keluarga mereka yang rela ditinggal. Meskipun mereka tahu hal itu sangatlah berbahaya bagi nyawa mereka, mereka tidak peduli. Harga diri bangsa lebih tinggi nilainya daripada nyawanya.

Nasionalisme dalam Kereta Api Maut

Pihak Belanda maupun pihak revolusioner Indonesia menganggap bahwa Revolusi Indonesia adalah kelanjutan dari perjuangan masa lampau. Bagi Belanda, tujuannya adalah menghancurkan sebuah negara baru dan melanjutkan rezim kolonial yang telah mereka bangun selama 350 tahun. Bagi Indonesia, tujuannya adalah menyempurnakan proses penyatuan dan kebangkitan nasional yang sudah dirintis sebelumnya.

Sekitar bulan Mei 1947, Belanda memutuskan untuk menyerang Indonesia secara langsung. Hal ini disebabkan biaya perawatan pasukan persenjataan di Jawa yang mahal dirasa sia-sia jika tidak dimanfaatkan, mengingat perekonomian Belanda yang hancur karena perang. Pada tanggal 20 Juli 1947, Belanda mulai menggerakkan pasukannya untuk menduduki Jawa Barat, Madura, dan Jawa Timur. Perkebunan di sekitar Medan serta instalasi minyak dan batubara di Palembang dan Padang juga telah diduduki Belanda.

Pihak Belanda terus maju dalam membentuk negara-negara federal di wilayah yang berhasil mereka rebut. Namun, keberhasilan yang mereka dapatkan sangat kecil karena dukungan yang mereka peroleh dengan cepat menghilang. Belanda berhasil membentuk 15 negara federal di seluruh wilayah yang telah mereka rebut, di antaranya Negara Sumatra Timur, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, dan sebagainya. Akan tetapi, di negara-negara federal tersebut terdapat perasaan pro-Republik (Indonesia) yang sangat besar di kalangan elite dan dukungan yang tidak begitu besar terhadap federalisme di kalangan rakyat.[4]

Kereta Api Maut merupakan cerminan keadaan bangsa Indonesia ketika negeri ini kembali diduduki oleh Belanda. Dengan tanpa rasa belas kasihan, bangsa penjajah menyiksa rakyat Indonesia, baik secara lahiriah lebih-lebih batiniahnya. Bangsa Indonesia benar-benar merasakan siksaaan dan tekanan yang begitu kejam. Namun, di balik siksaan yang begitu berat, mereka bukan bertambah lemah, melainkan bertambah kuat pendiriannya dan bertambah tebal rasa nasionalismenya. Mereka bersama-sama melawan para penjajah agar segera minggat dari negeri ini dan bangsa Indonesia bebas mengatur negaranya sendiri.

Naskah drama ini dibuka dengan suara jiwa yang berisi semangat nasionalisme para pejuang. Mereka menuntut revolusi dan menentang kaum penjajah yang sangat sadis menyiksa rakyat Indonesia. Mereka tidak ingin bangsa yang telah membuat mereka menderita selama 350 tahun kembali dengan tujuan yang lebih licik, yaitu menghancurkan negara Indonesia yang baru saja terbentuk.

SUARA DJIWA:

Darah jang membasahi pangkuan Ibu Pertiwi dan Tjertjah mata para bunda jang tersembilu karena keguguran putra²nja, telah membakar semangatku, menuntut bela menentang kehendak Pendjadjah jang ingin merampas hak sesama, dan merobek² PERIKEMANUSIAAN. Gema revolusi mendjilat kemuntjak angkasa, menandingi kebuasan SRIGALA jang puas melihat kemelaratan dan derita rakjat kita jang telah kenjang dengan siksa dan hinaan. (Toha, 1961:11)

Kutipan di atas menunjukkan bagaimana perasaan rakyat Indonesia ketika penjajah membuat mereka sungguh menderita. Bangsa Indonesia begitu membenci dan dendam kepada bangsa penjajah yang telah menciptakan penderitaan bagi bangsa Indonesia. Dalam kutipan di atas terlihat jelas bagaimana kebencian rakyat Indonesia terhadap penjajah. Belanda mereka sebut sebagai SRIGALA yang berpesta pora melihat penderitaan dan kemelaratan rakyat Indonesia dengan harta yang mereka rampas dari bangsa Indonesia.

Semakin disiksa dan menderita, bangsa Indonesia juga semakin besar semangatnya untuk segera merebut kembali kemerdekaan yang telah mereka raih dengan susah payah yang sedang dicoba dirampas oleh Belanda. Ketika itu perjuangan tak memandang pangkat, umur, dan jenis kelamin. Semua rakyat Indonesia sebisa mungkin membantu perjuangan ini. Dengan cara apa pun, tenaga, harta, dan pikiran mereka disumbangkan untuk merebut kembali kemerdekaan negeri ini.

Di dalam hati masing-masing telah tertanam tekad yang sudah bulat. Lebih baik mati daripada harus hidup di tanah air sendiri, tetapi di bawah tangan penjajah. Tak sudi mereka dipimpin oleh orang asing yang membuat penderitaa rakyat. Para pejuang dengan semangatnya yang menggebu-gebu ingin segera mengusir bangsa Belanda dari negeri ini. Keteguhan hati dan kebulatan tekad para pejuang terlihat dalam kutipan di bawah ini.

SI  KELAP    :  Sebelum kita berangkat….malam ini, djangan lupa pesanku: diantara kita jangan sampai ada jang djatuh imannja….karena budjukan musuh, lalu berubah pendirian….djadi pengetjut. Dan siapa diantara kita jang masih hendak mengekor serta mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa lain, silahkan njingkir !!!

LIHAN          :              Tidak Pak! Kita sudah berdjanji memegang teguh martabat kita, dan martabat leluhur kita jang telah membentuk wudjud Kepribadian kita.

Adjakan Si Kelap segera terdengar berupa aba² jang bersemangat:

RASJIDIN     : Siaaap ! mari kita tinggalkan tempat ini…….dan kalau sampai besok kita melihat dunia……maka kita akan terus berdjuang untuk nusa dan bangsa !!!!!

kissah KERETA API MAUT telah lampau, tetapi kita tetap menuntut !!!!!!! “sampai tertjapai……Indonesia MERDEKA….:” (Toha, 1961:45)

Kutipan di atas memperlihatkan kepada kita bahwa jangan sampai ada di antara kita yang berada di pihak penjajah. Orang seperti itu adalah seorang pengkhianat bangsa. Lebih baik hidup miskin bersama saudara kita setanah air dari pada hidup berharta dengan hasil rampasan saudara kita. Para pejuang dengan semangatnya menginginkan tercapainya Indonesia merdeka seutuhnya.

Bangsa Indonesia ingin segera lepas dari kungkungan penjajah yang begitu kejam ini. Mereka tak ingin lebih lama lagi hidup menderita. Kutipan di bawah ini menggambarkan cita-cita bangsa Indonesia yang ingin segera bebas dari penjajah.

P. ACHMAD : Jah….hari besok masih kuharapkan dan belenggu ini, akan kupatahkan pada suatu saat jang baik…..hingga aku dapat menikmati alam BONDOWOSO jang indah. (Toha, 1961:12)

Mereka menganggap selama bangsa penjajah berada di Indonesia, kita tak pantas hanya berdiam diri melihat saudara kita berjuang. Kita harus dapat membantu mereka mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Kutipan di bawah ini mengingatkan kita akan hal tersebut dan peringatan agar kita jangan sampai pengkhianat bangsa dengan berada di belakang pihak penjajah.

SI KELAP  :     Selagi pendjadjah masih hidup dibumi INDONESIA, selama itu INDONESIA terus bergolak, dan kita sebagai putra²nja, tidak pantas hanja djadi penonton, apa lagi djadi pentjoleng bagi bangsanja sendiri untuk kepentingan bangsa asing!! (Toha, 1961:42)

Seperti yang telah diuraikan di atas, perjuangan ini tak memandang usia, pangkat, dan jenis kelamin. Semuanya mempunyai kewajiban yang sama untuk merebut kembali kemerdekaan kita yang sebelumnya telah kita raih.

RASJIDIN  :    Dalam membela tanah-air, tidak ada istilah terlalu muda, selain pembuktian… setia atau tidak pada tjita² bangsanja. (Toha, 1961:43)

Sekarang kita telah dapat merasakan perjuangan berat pendahulu kita. Bangsa Indonesia telah merdeka secara fisik, tetapi secara moral mungkin bangsa kita belum sepenuhnya merdeka. Dengan melihat perjuangan pejuang kita yang begitu berat dan penuh darah dan keringat, kita diharapkan mampu menghargai jasa-jasa mereka yang begitu agung. Tragedi Kereta Api Maut hanyalah sebagian kecil penderitaan yang diperoleh bangsa Indonesia.

Sudah sepantasnya dan bahkan seharusnya kita meneruskan perjuangan para pahlawan kita. Tugas mengisi dan mempertahankan kemerdekaan akan lebih berat daripada meraihnya. Perjuangan mengisi dan mempertahankan kemerdekaan bersifat abstrak dan kita tak akan sadar jika moral kita terjajah oleh penjajah versi milenium. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada dan siap sedia menerima serta menyaring ajaran moral yang datang dari pihak asing. Hal ini juga berlaku dalam bidang ekonomi dan kebudayaan kita. Semua itu membutuhkan pengorbanan kita sebagai putra-putri bangsa. Kita harus berjuang untuk memajukan dan memakmurkan bangsa Indonesia. Abdikanlah diri kita untuk negeri tercinta. Bangsa ini membutuhkan kita.

Drama Tragedi dan Kereta Api Maut

Menurut Japi Tambajong, tragedi adalah drama yang berujung dengan dukacita yang ditandai dengan maut menjemput tokoh utama. Adapun untuk pertama kalinya, definisi tragedi diungkapkan oleh Aristoteles di dalam bukunya, Poetics. Menurutnya, di dalam tragedi ada seorang tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi, seperti raja atau ratu, yang kemudian jatuh karena tindakannya sendiri. Tokoh tersebut benar-benar disegani masyarakat tidak hanya karena kedudukannya melainkan juga pembawaannya yang berwibawa.

Di dalam drama tragedi terkuak masalah yang saling berkaitan yang disebabkan oleh tindakan seorang tokoh. Pada dasarnya, yang disebut sebagai drama tragedi adalah yang berisi atau berakhir dengan dukacita. Yang dimaksud dengan dukacita di sini bukan saja berarti kematian tokoh, tetapi juga penderitaan yang menyebabkan kesedihan bagi penonton atau pembaca.

Dalam drama Kereta Api Maut, tragedi sebagai puncaknya terdapat dalam adegan ketika para tawanan penjajah dimasukkan ke dalam gerbong. Gerbong yang tertutup rapat tersebut membawa mereka dari Bondowoso ke Surabaya. Tragedi ini mulai memuncak pada saat sang tokoh, Karsono, yang sedang sakit kerena disiksa di dalam penjara disuruh berjalan menuju stasiun Bondowoso.

SUARA DJIWA     :    Beberapa hari jang silam, kemanusiaanku mentjari hakeket, dan disaat-saat itu aku bergulat dengan aneka derita.

Kini kakiku setengah lumpuh……tetapi aku harus tunduk perintah…………berdjalan menudju setasiun

B O N D O W O S O. (Toha, 1961:18)

Para tawanan belum dapat melawan karena keadaan mereka yang lemah. Mereka harus menurut kepada tentara KNIL meskipun raga mereka sudah tak memungkinkan lagi untuk berjalan.

Di stasiun Bondowoso mereka dipaksa masuk ke dalam sebuah gerbong yang akan membawa mereka ke Kamp Tahanan di Surabaya. Gerbong tersebut tertutup rapat sehingga para tawanan tak dapat bernafas. Berada di dalam sana merupakan suatu siksaan yang sangat pedih. Panas dan haus menjadi hidangan mereka selama dalam perjalanan menuju Surabaya. Tak ada kesempatan bagi mereka untuk sedikit menghirup udara bebas di luar gerbong. Keringat dan darah menjadi pengobat kehausan mereka.

Keadaan di dalam gerbong sungguh sangat memilukan. Teriakan mengaduh kepanasan dan kehausan menjadi musik alami yang bergema di dalam gerbong. Bagi siapa pun yang mendengarnya, pasti akan miris hatinya membayangkan siksaan tersebut. Kutipan di bawah ini menggambarkan keadaan tawanan di dalam gerbong.

SUARA DJIWA      :   Gerbong ditutup………………………….. Panas sengar-sengar menjesakkan nafas, inilah puntjak siksaan sidjahanam jang tak berperikemanusiaan………………………. Dorongan apa jang mendorong SIPENDJAJAH BEGITU KEDJAM jang berbuat semena-mena tanpa batas.

TAWANAN            :   Aduuuuuuuuh…..! Panasssssssssssss…..! Panas…….! Tidak Tahannnnnnn…. akuuuuuu……..!!!

TERINJAK             :    Aduuuuuuuh kepalaku keindjak……aduuuuuh!!!!!

JANG LAIN           :    ADUH…. aduuuuh…..! tanganku……. kau indjak…..aduhhhhhh!

TAWANAN          :     ADUH…. aduuuh….. tanganku…. aduuuuuh! (suara ngeri).

KUSWARI            :     Hauuuus…….! Panassssss….. noraka! Jahhhh….. kita berada di Noraka Djahanammmm…. Airrrrrrrrrrrrrrrrr….!!!!

KUSWARI           :      Tolooooooong! (Ia lantas muntah darah mengenai dada Karsono). Airrrrr! Aduuhhh…..Panasssss…..!!!!

(Toha, 1961:29—32)

Di dalam gerbong banyak tawanan yang tidak tahan dengan siksaan tersebut. Mereka memilih mati dengan membawa darah nasionalisme dan perjuangan mereka. Mereka bukan tak mau lagi memperjuangkan kemerdekaan bangsa, tetapi raga mereka yang telah disiksa di dalam penjara tak mampu lagi merasakan siksaan yang lebih di dalam gerbong tersebut. Jika arwah mereka mampu membantu para pejuang yang masih hidup, arwah mereka pasti dengan semangatnya akan membalas dendam rakyat Indonesia yang menderita dan mengalami kemelaratan karena tindakan penjajah.

Bagaimana pun rakyat Indonesia ketika itu bahkan kini pun pasti akan sakit hati melihat saudara setanah airnya dengan tanpa rasa perikemanusiaan disiksa dengan begitu keji. Mereka akan mengeluarkan sumpah serapah yang ditujukan untuk penjajah yang tanpa memiliki rasa belas kasihan tersebut. Gambaran seperti ini terlihat dalam kutipan di bawah ini.

LASMI        :   Aku tidak perlu berkenalan dengan manusia biadab, sematjam kau! Pendjajah busuk! Kau brani mengatakan Pemuda² harapan bangsa kita sebagai Garong…? Enak sadja Tuan² mengutjapkan kata-kata jang kotor dan kasar, seperti Inlanders, rampokkers, Ektremisten dan lain lainnja! Kau garong! Kau pentjuri! Kau maling…harta kekajaan bangsa Indonesia. heh!!! Tanpa Indonesia…maka kau akan mati kelaparan…, biadab!!! (Toha, 1961:23)

Lasmi sebagai seorang perempuan, ia bertindak sangat berani, mengucapkan kata-kata seperti itu di depan tentara KNIL meskipun hal tersebut mengakibatkan dirinya harus terkena siksaan tentara KNIL atas perkataanya. Namun, ia tak menghiraukan semuanya itu, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana agar dia dan seluruh rakyat Indonesia bebas dari para penjajah yang tak berperikemanusiaan. Mungkin perasaan sakit hati tersebut dipendam oleh seluruh rakyat Indonesia ketika itu. Mereka begitu membenci para penjajah yang membuat mereka menderita.

Bagi mereka, kaum penjajah telah merampas seluruh hak mereka sebagai manusia yang hidup di tanah airnya sendiri. Termasuk di dalamnya perikemanusiaan. Mereka tak lagi memiliki rasa perikemanusiaan dalam memperlakukan bangsa Indonesia. Mungkin bagi mereka, bangsa dianggap tak lebih dari binatang yang pantas diperlakukan seenak hati mereka.

Hal tersebut sangat menyakitkan hati bangsa Indonesia. Bangsa yang dibangun dengan susah payah, kini hendak diinjak-injak sesuai kemauan mereka. Para penjajah sudah kehilangan hati nurani untuk merasakan derita bangsa Indonesia. Kutipan di bawah ini menunjukkan bagaimana rintihan bangsa Indonesia menghadapi kebengisan bangsa penjajah.

SUARA DJIWA       :  Rupa²-nja……seluruh milikku hendak dirampas oleh PENDJADJAH jang tak mau kenal PERIKEMANUSIAAN……. Hingga ketjintaanku jang sekilas itupun…..sudah pula dihantjurkan dengan kesudahan jang menjembilu lubuk hatiku. Tinggallah………tuntutanku jang kini bisu…… pada saatnja akan menghantjurkan PENDJADJAH itu, karena kekedjian dan keserakahannja (Toha, 1961:37).

Kini bangsa Belanda telah pergi meninggalkan bangsa Indonesia dengan sisa-sisa penjajahan mereka yang kita pergunakan pula, seperti fasilitas umum, gedung-gedung, jalan raya maupun kereta api, sistem pemerintahan, dan sebagainya. Fasilitas-fasilitas tersebut memang dibangun oleh penjajah. Namun, semua itu menggunakan modal dan keringat nenek moyang kita.

Dengan melihat gambaran perjuangan para pahlawan kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, sudah seharusnya kita menghargai cucuran keringat dan darah mereka. Tugas kita selanjutnya adalah mengisi dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih ini. Namun, kita jangan terlena dengan kebebasan ini. Penjajahan dapat muncul kapan saja dengan bentuk yang berbeda dan tidak kita sadari.

Daftar Pustaka

Budianta, Melani, dkk. 2006. Membaca Sastra. Magelang: IndonesiaTera.

M.C. Ricklefs. 2001. A History of Modern Indonesia since c. 1200 Third Edition, (Sejarah Indonesia Modern 1200—2004). Terj. Satrio Wahono, dkk. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Sarumpaet, Riris K. Toha. (ed.) 1999. Bacaan Kuliah Pengkajian Drama. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Tambojang, Japi. 1981. Dasar-Dasar Dramaturgi. Bandung: Pustaka Prima.

Sumber Data

Toha, Achmad. 1961. Kereta Api Maut: Kisah Kekedjaman Kolonialis, Merusak Kehidupan Sosial. Jakarta: Departemen Kesedjahteraan Sosial Djawatan Pekerdjaan Sosial.


[1] Makalah ini disusun dan ditujukan untuk memenuhi tugas akhir semester Mata Kuliah Pengkajian Drama Indonesia (Kelas Ibnu Wahyudi).

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/drama

[3] Melani Budianta dkk. Membaca Sastra, (IndonesiaTera, 2006), hlm. 99.

[4] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200—2004, (Serambi Ilmu Semesta, 2001), hlm. 455.

Read Full Post »

Older Posts »