Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Profil Sastrawan’ Category

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

 Universitas Indonesia

Erin Nuzulia Istiqomah

 

Nirwan Dewanto kembali hadir menggebrak dunia perpuisian Indonesia dengan buku puisinya yang berjudul Buli-Buli Lima Kaki. Buku puisi ini hadir setelah buku pendahulunya yang berjudul  Jantung Lebah Ratu yang telah memenangkan Hadiah Sastra Kathulistiwa. Ia menamatkan studi terakhirnya di Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung. Tinggal di Jakarta, ia bekerja sebagai penyunting sastra dan penyelia kesenian. Ia ikut mendirikan jurnal kebudayaan Kalam dan kini menjaga lembar sastra Koran Tempo edisi Minggu. Pada musim gugur 2007 ia berhimpun dengan International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, tempat ia merampungkan buku puisi ini. (lebih…)

Read Full Post »

Erin Nuzulia Istiqomah

Hanyut Aku

Hanyut aku, kekasihku!

Hanyut aku!

Ulurkan tanganmu, tolong aku. (lebih…)

Read Full Post »

oleh Khairun Nisa

1. Pengantar

Berbicara tentang kebudayaan Melayu, akan timbul pertanyaan siapa pengembang kebudayaan Melayu di Indonesia? Pelopor atau pengembang kebudayaan Melayu di Indonesia salah satunya adalah kerajaan Lingga-Riau. Kerajaan ini juga termasuk tempat keberadaan Raja Ali Haji yang pada tahun 2004 telah diberi gelar pahlawan nasional dalam bidang budaya dan sastra. Beliau telah mengarang sejumlah naskah terkenal yang sampai saat ini terus diteliti dan dikaji oleh banyak ahli di seluruh Indonesia.

Kerajaan Lingga-Riau muncul setelah hancurnya kerajaan Melayu karena adanya taktat London yang membagi daerah kerajaan itu menjadi jajahan Inggris dan Belanda. Kerajaan ini dalam perjalanan waktunya telah melahirkan cukup banyak penulis produktif, diantaranya Raja Abdullah, Khatijah Terung, Raja Ali Tengku Kelana, Raja Khalid Hitam, Raja Aisyah Sulaiman, dan Raja Zaleha (Ibrahim, 2004:17). Apalagi dipicu pula dengan dibuatnya penerbitan dan percetakan Mathbaah al-Riauwiyah dan kelompok diskusi Rusydiah Club (Kadir, 2007:232—233). Beberapa kitab juga dibuat untuk menentang aksi penjajahan Belanda dan cukup sukses.

Pulau penyengat tidak hanya sebagai pusat kesusastraan kerajaan Lingga-Riau, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan, pusat pertahanan, pusat adat-istiadat, pusat agama Islam, dan pusat kebudayaan Melayu (Mu’jizah, 1998:9). Hal ini terjadi karena letak Pulau Penyengat yang strategis. Saat ini Pulau Penyengat menjadi salah satu tempat tujuan wisata, tidak hanya wisatwan dalam negeri yang ke tempat ini, tapi juga dari luar negeri, terutama Singapura karena letaknya yang cukup dekat dengan negara ini.

Pulau Penyengat pada masa kerajaan Lingga-Riau menjadi pusat pemerintahan yang ramai. Kebudayaan yang begitu tinggi sudah dicapai pada masa itu. Bagaimana sebenarnya Pulau Penyengat menjadi pusat kesusastraan pula? Siapa pula tokoh yang tidak bisa lepas dari nama besar pulau ini? Makalah ini sebagian besar akan menjawab dua permasalahan itu.

2. Pulau Penyengat: Pusat Kesusastraan Kerajaan Lingga-Riau

Pulau Penyengat merupakan sebuah pulau kecil dalam gugusan Kepulauan Riau. Tempat ini mengalami pembangunan yang pesat pada masa Raja Ja’far, pada tahun 1806 (Mu’jizah, 1998:102). Pulau yang luasnya 3,5 km2 ini mempunyai beberpa kampung, diantaranya Kampung Jambat, Kampung Bulang, Kampung, Balik Kota, Kampung Datuk, Kampung Ladi, Kampung Baru, dan Kampung Tengah.

Pulau Penyengat awalnya adalah sebagai tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda Lingga-Riau, sedangkan sultan berkedudukan di Daik Lingga. Yang Dipertuan Muda Lingga-Riau adalah keturunan Bugis, sedangkan Sultan Lingga-Riau adalah keturunan Melayu, pembagian kekuasaan ini terjadi karena adanya perjanjian dahulu saat Sultan Melayu meminta bantuan pada orang-orang Bugis untuk melawan orang-orang Minangkabau.

Pada perkembangannya Sultan Lingga-Riau pindah ke Pulau Penyengat karena tempatnya yang strategis sebagai pusat pertahanan kerajaan. Saat itulah Pulau Penyengat menjadi pusat pemerintahan yang ramai dan perkembangan kebudayaan tumbuh dengan cepat. Hal ini juga terjadi karena kemampuan baca-tulis tidak hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan, tetapi juga penduduk biasa, sebut saja Encik Abdullah yang mengarang buku tentang perkawinan penduduk di Pulau Penyengat atau Khatijah Terung yang mengarang buku tentang hubungan seksual suami isteri yang berjudul Kumpulan Gunawan.

Berikut ini adalah karya-karya yang muncul pada masa pemerintahan Lingga-Riau, dengan pengecualian karya-karya Raja Ali Haji karena beliau dan karyanya akan dibicarakan khusus setelah bagian ini.

1. Kitab Tarasul, tidak ada nama pengarang

2. Kitan Adab al-Muluk oleh Datuk Syahbandar Riau

3. Syair Siti Zawiyah oleh Bilal Abu

4. Syair Raksi, Syair Engku Putri, Syair Perang Johor, dan Tuhfat an-Nafis oleh Raja Ahmad.

5. Hikayat Riau dan Syair Nasihat oleh Raja Ali

6. Syair Sultan Yahya oleh Daeng Wuh

7. Syair Madi, Syair Kahar Masyhur, Syair Sarkan, dan Syair Encik Dosaman oleh Raja Abdullah.

8. Hikayat Siak atau Sejarah Raja-Raja Melayu dan Sejarah Raja-Raja Riau oleh Tengku Sa’id

9. Syair Sultan Mahmud di Lingga oleh Encik Kamariah

10. Syair Burung oleh Raja Hasan

11. Syair Van Ophuysen oleh Raja Haji Sulaiman

12. Syair Kumbang Mengindera oleh Raja Sapiah

13. Syair Saudagar Bodoh oleh Raja Kalsum

14. Syair Sultan Mansur oleh Encik Wuj binti Bilal Abu

15. Syair Hikayat Raja Damsyik, Syair Sidi Ibrahim Khasib, Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu Johor, Ceritera Pak Belalang, Ceritera Kecelakaan Lebai Malang, dan Perhimpoenan Pantoen Melajoe oleh Haji Ibrahim Orangkaya Muda.

16. Syair Pangeran Syarif Hasyim, Asal Ilmi Tabib Melayu, dan Syair Raksi Macam Baru (Ibrahim, 1998: 528—561).

Sebenarnya di masa akhir kerajaan Lingga-Riau sampai keruntuhan sesudahnya, masih ada beberapa karya yang muncul di wilayah bekas kerajaan tersebut. Pulau Penyengat dalam sejarah telah menjadi pusat pemerintahan, pertahanan, kebudayaan, adat-istiadat, dan kesusastraan. Lokasi ini menjadi saksi mata peradaban yang cukup tinggi pada masanya. Pulau Penyengat beserta isi dan karya-karya melayu klasik yang lahir di sana menjadi warisan budaya Indonesia yang tidak dapat dinilai hanya dengan uang. Sudah menjadi kewajiban warga negara yang baik untuk memelihara warisan dari leluhur tersebut.

3. Raja Ali Haji: Sang Sastrawan dari Pulau Penyengat

Berbicara tentang Pulau Penyengat tidak akan lengkap tanpa seorang intelek yang terkenal sampai penjuru dunia karena karya-karyanya. Dialah Raja Ali Haji yang bernama lengkap Tengku Haji Ali al-Haj bin Tengku Haji Ahmad bin Raja Haji Asy-Syahidu fi Sabilillah bin Upu Daeng Celak ini dilahirkan pada tahun 1808 di Pulau Penyengat. Keluarga besar beliau terkenal dengan keproduktifan menulis, tetapi Raja Ali Haji-lah yang paling produktif menulis. Beberapa anggota keluarganya yang menghasilkan karya adalah Raja Ahmad Engku Haji Tua, Raja Haji Daud, Raja Salehah, Raja Abdul Mutallib, Raja Kalsum, Raja Safiah, Raja Sulaiman, Raja Hasan, Hitam Khalid, Aisyah Sulaiman, Raja Ahmad Tabib, Raja Haji Umar, dan Abu Muhammad Adnan.

Berikut adalah karya-karya Raja Ali Haji, baik yang dikarang sendiri, disalin dari naskah lain, ataupun yang ditulis oleh jurutulis yang diperintahkan olehnya.

1. Gurindam Dua Belas

2. Syair Abdul Muluk

3. Bustan al-Katibin

4. Thamarat al-Muhimmah Diyafah li’l-Umara wa’l-Kubara li Ahli’l-Mahkamah

5. Mukadimmah fi Intizam al-Waza’if al-Mulk Khususan ila Mala’ wa Subhan wa Ikhwan

6. Kitab Pengetahuan Bahasa

7. Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya

8. Tuhfat an-Nafis

9. Syair Hukum Fara’idh

10. Syair Hukum Nikah

11. Syair Suluh Pegawai

12. Syair Siti Sianah

13. Syair Sinar Gemala Mestika (Ibrahim, 1998: 528—561).

Pada kerajaan Lingga-Riau, ternyata Raja Ali Haji juga terkenal sebagai seorang anggota kerajaan dan ulama. Dia sempat lama tinggal di Makkah dan belajar di sana. Sekembalinya dari Makkah, dia diminta oleh Raja Ali, sepupunya, untuk mengajar ilmu keagamaan kepada orang-orang. Salah satu muridnya adalah Raja Abdullah, sepupunya sekaligus adik dari Raja Ali. Raja Ali Haji juga berteman baik dengan von de Wall. Sumbangan karya-karyanya dalam bidang agama, sastra, dan bahasa juga perannya yang penting dalam perlawanan terhadap Belanda, membuat beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

4. Kesimpulan

Sebuah kerajaan Lingga-Riau yang berada pada masa peralihan, yaitu akhir abad ke-18 membuat para penulis karya sastra mencantumkan nama mereka. Tanda bahwa ada keinginan mengekspresikan diri dan perubahan pandangan bahwa suatu karya muncul dari tangan seseorang. Kerajaan yang berada di bawah tekanan Belanda ini ternyata masih tetap mampu menjadi pusat kebudayaan Melayu pada zamannya, bahkan mewarisi berbagai kebudayaan yang masih kita miliki saat ini.

Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, pertahanan, adat-istiadat, dan kebudayaan telah melahirkan banyak sastrawan di masa kerajaan Lingga-Riau. Pantaslah kiranya kalau saya juga menyebut pulau ini sebagai pusat kesusastraan. Keberadaan pulau ini sebagai warisan budaya yang masih ada haruslah dilestarikan keberadaannya. Beruntung pulau ini dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara dan pemerintah daerahnya paham betul kalau keberadaan pulau ini sangat berharga. Masih banyak peninggalan pulau ini yang masih bisa diteliti, salah satunya adalah karya-karya dalam bidang sastra.

5. Sumber Data

Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Djamaris, Edwar. 1990. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Jakarta: Balai Pustaka.

Ibrahim, Abdul Kadir, dkk. 2004. Aisyah Sulaiman Riau: Pengarang dan Pejuang Perempuan. Tanjungpinang: Unri Press.

Iskandar, Teuku. 1996. Kesusastraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Jakarta: Penerbit Libra.

Kadir, Daud, dkk. 2007. Sejarah Kebesaran Kesultanan Lingga-Riau. Pekanbaru: Pemerintah Kabupaten Lingga.

Liaw Yock Fang. 1993. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Mu’jizah dan Maria Indra Rukmi. 1998. Penelusuran Penyalinan Naskah-Naskah Riau Abad XIX: Sebuah Kajian Kodikologi. Depok: FSUI.

Suniarti, Pudentia Maria Purenti Sri, dkk. 2003. Antologi Prosa Rakyat Melayu Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

(tulisan ini juga diterbitkan di Blognya Endang Rukmana)

Saya masih ingat pertama kali saya bertemu dengan Endang Rukmana, penulis yang akhir bulan ini novel kelimanya diterbitkan. Kalau tidak salah, tempatnya di lantai 2 Gedung IV fakultas kami, FIB UI. Waktu itu perut saya keroncongan, tapi masih ada satu kelas sebelum jam istirahat makan siang.

Alhasil, saya panggillah Endang, “Mas.” Endang yang sudah hendak turun tangga bersama “buntelan” nasi uduknya langsung berbalik dan menawari saya (juga teman sekelas yang kebetulan sama-sama terancam punah) barang dagangannya.

“Mau beli apa? Ada nasi uduk, nasi goreng, mi goreng…” kata Endang dengan nada dan intonasi khas pedagang—cepat dan mengundang.
Saya pun masuk ke dalam kelas untuk menikmati nasi itu. Teman sekelas saya yang lain kira-kira berkata begini pada saya, “Itu kan tadi Mas Endang, Mel. Mas Endang hebat banget lho, berjuang bayar uang kuliah sendiri. Subhanallah…”

Endang semester 3Endang semester 3

Itu terjadi sekitar setahun yang lalu, semester genap 2005/2006. Saya masih di tingkat pertama sedangkan Endang kedua. Sejak saat itu, saya sering membeli nasi atau snack yang Endang jual dengan niat “membantu teman bayar kuliah”.

Semangat juang Endang begitu menyilaukan. Ini anak bakat tajir, begitu batin saya setiap kali melihat Endang. Semula saya mengira Endang akan sukses di bidang bisnis. Makanya saya agak kaget ketika seusai UAS semester itu, Endang menghampiri saya sambil memamerkan (sekaligus membujuk saya untuk membeli) novel perdananya, Sakit ½ Jiwa, yang baru saja diterbitkan oleh GagasMedia.

Untunglah waktu itu novel perdana saya juga sudah positif terbit walaupun masih harus menunggu satu bulan lagi. Melihat novel perdana Endang itu, saya jadi tidak iri dan bisa berkata, “Novel saya juga bulan depan terbit.”

Ternyata saya hanya bisa sebentar saja merasa begitu. Sakit ½ Jiwa menjadi best-seller sementara novel saya… boro-boro deh. Dalam waktu singkat, Endang juga menerbitkan novel kedua dan ketiganya. Saya jadi iri? Itu sudah pasti. Hanya saja, rasa iri yang satu ini tidak berkonotasi negatif atau sirik, melainkan menjadi dorongan bagi saya untuk terus berkarya.

Setiap kali ada perkembangan perihal karir kepenulisannya, Endang pasti menyempatkan diri untuk menceritakannya pada teman-temannya, termasuk saya. Caranya bercerita selalu menggebu-gebu, tapi entah kenapa tidak pernah timbul kesan pamer. Inilah yang membuat saya tidak pernah sirik padanya.

Ketika pagi ini saya bertemu Endang untuk mewawancarainya, Endang tampak agak kuyu karena kurang tidur. “Lagi ngejar deadline, Ndang?” tebak saya. Sambil mesem-mesem, Endang berkata bahwa dia baru saja maraton menonton DVD dan hanya sempat tidur sejam sebelum berangkat kuliah.

Sebelum wawancara, saya tunggui dia makan brownies dan nasi uduk (beli di kopma FIB UI karena, sejak menerbitkan novel perdananya, Endang berhenti berjualan nasi uduk). Meskipun cerewet dan jauh dari macho, Endang tetaplah cowok. Cowok tidak bisa melakukan lebih dari satu kegiatan—dalam kasus ini, wawancara sekaligus makan—dalam waktu bersamaan.

Endang bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya yang penuh cobaan dan bagaimana dia berjuang untuk survive, tidak sekadar untuk makan, tapi juga untuk melanjutkan pendidikan. Cerita ini juga akan selalu menjadi dorongan bagi saya, kali ini untuk berjuang menghadapi segala cobaan hidup.

Akan tetapi, saya kurang tertarik untuk membahas perjuangan hidup Endang dalam artikel ini. Selain karena cerita ini sudah pernah diangkat dalam media lain, sebagai sesama novelis, saya lebih suka mengulik Endang sebagai novelis.

Mewakili Suara Cowok
“Gue pengen bikin novel yang cowok banget nih,” kata Endang dengan mantap. Untuk saat ini, misi Endang dalam menulis novel memang mewakili suara cowok. “Cowok kan gagu sebenarnya… gua mewakili cowok untuk berbicara, memperkenalkan tentang dunia cowok, idealisme cowok…”

Endang ingin mengembangkan genre Ladlit. Genre Ladlit dianggapnya masih terjajah oleh karakter cewek. Endang sendiri merasakannya betul ketika novel kelimanya, Pahe Telecinta, diedit. Banyak kata-kata khas cowok (nyablak dan cenderung kasar) yang disensor supaya tidak menyinggung perasaan cewek. Padahal, menurut Endang, ini merupakan pembunuhan karakter cowok dalam novelnya karena kekhasan-kekhasan cowok jadi sulit dimunculkan.

Cewek sudah punya banyak media sebagai penyalur aspirasinya. Di GagasMedia sendiri, ada seri Kamar Cewek dan Candy Romance. Suara hati, idealisme, pola pikir, karakter, dan kekhasan-kekhasan cewek dengan bebas tertuang di dalamnya. Kenapa hal yang sama tidak dapat berlaku bagi cowok? Inilah yang sedang Endang perjuangkan.


Membuat Inovasi dalam Sastra Populer

Imam Tantowi, seorang sutradara ternama, pernah berkata, “Jadilah kepala, karena kepala bisa makan.” Nampaknya, Endang juga mulai memegang prinsip yang sama. Endang melakukan penyesuaian antara visinya, menjadikan karya-karyanya Sastra Populer yang dapat diterima oleh semua orang, dengan prinsip ini.

Motif utama Endang untuk menulis adalah ekonomi. Tidak heran jika sebelum ini Endang menyanggupi apa pun pesanan GagasMedia, termasuk untuk menggarap novel adaptasi dan Candy Romance yang berjudul Cium Aku Lagi, Plisss! (Endang sampai menggunakan nama samaran karena novel ini “bukan Endang banget”).

Ketika ditanyakan apakah dia ingin terus bertahan di sastra populer atau mencoba ke Sastra yang lebih serius, Endang menjawab, “Biarkan wacana itu mengalir, gua nggak ingin meniatkan untuk serius.”

Namun, Endang juga tidak mau selalu menjadi ekor. Dia ingin membuat terobosan baru, yaitu inovasi dalam sastra populer itu sendiri. Novel terbaru yang sedang digarapnya bergenre komedi-fantasi, yaitu petualangan bajak laut dengan memanfaatkan latar belakangnya sebagai mahasiswa Program Studi Sejarah.

Genre ini memang sudah pernah dicoba untuk diangkat oleh penulis lain, tapi tidak berhasil karena komedinya kurang tergali. Bagaimana caranya supaya genre ini bisa diterima oleh pembaca Indonesia dan laris sehingga bisa masuk ke dalam wacana sastra populer? Ini merupakan tantangan tersendiri bagi Endang. Kita tunggu saja aksi Endang selanjutnya!

April 2007

Read Full Post »

by Wahyu Awaludin

pat-dari-dekat-sekaliDalam sejarah kepengarangan Indonesia, bisa dibilang bahwa Pramoedya adalah salah satu dari pengarang Indonesia yang paling produktif. Namanya terkenal sehingga saya memandang bahwa beliau tak perlu lagi diperkenalkan. Berbagai buku yang mengupas Pram dan karyanya mulai bermunculan akhir-akhir ini, mengupas satu demi satu ke-“diri”-an Pram dan segi-segi kehidupannya yang selama ini tertutup kabut.

Salah satunya adalah pendapat Pram tentang Soekarno. Bagaimana pendapat pengarang ini tentang sang proklamator itu, tokoh terpenting Indonesia itu? Mari kita serahkan saja penuturan ini kepada adik Pram, yakni Koesalah Soebagyo Toer.

Pagi hari di Jakarta tanggal 10 November 1987, Koesalah memasuki kamar kerja Pram. Di sana terlihat Pram sedang mengetik. Koesalah beranjak menghampiri rak dan mulai mengaduk-aduk isi rak. Baik, kita serahkan saja percakapan ini pada mas Koes.

“Kalau menurut mas Pram, bung Karno hebat tidak?”, Tanya saya selagi mencari buku-buku sastra Indonesia di rak, dan saya dapati banyak buku tentang bung Karno.

“bagaimana?” sahutnya tak mendengar.

“menurut mas Pram, bung Karno hebat tidak?” ulang saya.

“Ooo, belum ada tandingannya!” jawabnya tandas, yang tak memungkinkan tafsiran lain.

Sumber: Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali karya Koesalah Soebagyo Toer hal.67

Read Full Post »

oleh Evlin dan Melody Violine

ca

Chairil Anwar, lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan, disebut-sebut sebagai pelopor Angkatan ’45 sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Angkatan ’45 ikut mati ketika seniman besar ini berpulang pada tanggal 28 April 1949. Chairil pertama kali mengumumkan sajaknya pada tahun 1942 dan sempat menjadi redaktur Pujangga Baru bersama Asrul Sani.

Sajak-sajak Chairil memberikan sesuatu yang baru bagi dunia kesastraan Indonesia saat itu, terutama puisi. Inovasi yang berani ini membuatnya ditentang oleh beberapa pihak, termasuk S. Takdir Alisjahbana. Sikap dan gaya hidupnya yang eksentrik dan semaunya sendiri pun membuatnya dicap sebagai “Si Binatang Jalang”. Meskipun demikian, Chairil selalu percaya bahwa dirinya adalah seorang penyair besar dan bahwa karya-karyanya bermutu tinggi.

Sajak-sajak Chairil tidak terikat pada rima maupun aturan-aturan konvensional lainnya. Dengan caranya sendiri, Chairil merenungi kehidupan, kebebasan, perasaan manusia, cinta kasih, dan lain-lain. Setiap kata dalam sajak Chairil mengandung berbagai interpretasi makna yang mendalam. Chairil selalu berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk membangun kekuatan puisinya. Contohnya adalah pada bait terakhir sajak “Diponegoro”: Madju/Serbu/Serang/Terdjang.

Karya-karya Chairil Anwar antara lain adalah kumpulan sajak Kerikil Tajam dan Yang terampas dan Yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, 1950). Sajak-sajak dan sejumlah tulisannya yang lain dihimpun H.B. Jassin dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956). Chairil juga banyak menerjemahkan puisi, di antaranya adalah Pulanglah Dia si Anak Hilang (André Gide, 1948) dan Kena Gempur (John Steinbeck, 1951). Karya-karya Chairil Anwar juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis.

Daftar Pustaka

Eneste, Pamusuk. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Djambatan, 1988.

————-. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern Edisi Baru. Jakarta: Djambatan, 1990.

Jogaswara. “Angkatan ’45 Sudah Mampus,” Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia.ed. E. Ulrich Kratz. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000.

Rosidi, Ajip. Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia. Bandung: Binatjipta, 1969.

gambar dari commons.wikimedia.org

Read Full Post »

dawala.wordpress.com

dawala.wordpress.com

oleh Melody Violine dan Inggar Pradipta A.S.

Putu Oka Sukanta dilahirkan di Singaraja, 29 Juli 1939. Dia mulai merintis kepengarangannya sejak berusia 16 tahun. Dia aktif menulis puisi, cerpen, novel, dan cerita anak-anak baik sewaktu masih di Bali, maupun sesudah pindah ke Yogyakarta dan Jakarta. Dia juga pernah aktif dalam pementasan drama.

Pada tahun 1958, Putu Oka Sukanta dinobatkan sebagai deklamatir terbaik Bali. Pada tahun 1982, dia menjadi pemenang ke-II untuk mendongeng pada Lomba Dongeng Lingkungan Hidup di Jakarta.

Pada tahun 1982 dan 1983, Putu Oka Sukanta mengikuti Popular Theatre Workshop di Sri Lanka dan Bangladesh. Pada bulan April dan Mei 1985, dia diundang untuk berceramah tentang sastra dan membacakan puisi dalam Tembang Jalak Bali di beberapa universitas di Australia (Flinders University, Monash University, ANU, Sidney University). Selain di Australia, dia juga membacakan puisinya di Jakarta dan Malaysia (Dewan Bahasa dan Pustaka).

Pada tahun 1966, Putu Oka Sukanta dijebloskan ke dalam penjara di Salemba tanpa diadili bersama-sama para tahanan politik pasca Gestapu lainnya. Padahal, meskipun pernah bergaul dengan orang-orang Lekra, dia tidak pernah menjadi anggota organisasi tersebut. Selama masa pengawasan sesudah pembebasannya pada tahun 1976, karya-karyanya disensor. Meskipun demikian, dia tetap menulis.

Semasa dipenjara di Salemba, Putu Oka Sukanta belajar akupuntur dan akupresur dari seorang dokter cina yang ditempatkan dalam sel yang sama. Setelah bebas dari penjara, dia mengikuti ujian akupuntur dan mendapat izin praktik pada tahun 1978. Dia pun pergi ke Taipei dan Hongkong untuk memperdalam ilmunya.

Putu Oka Sukanta tertarik pada bidang akupuntur karena dengan menjadi seorang akupunturis, dia dapat bergelut dengan manusia dalam keadaan sakit. “Di situ ada aspek manusia yang sedang lemah, dan saya selalu punya insting yang sangat kuat untuk selalu memihak pada yang lemah. Mungkin karena saya sendiri dilemahkan,” begitulah penuturannya (Kompas, 9 Mei 2000).

Minat Putu Oka Sukanta pada akupuntur meluas ke pengobatan tradisional. Pada tahun 1980, dia mendirikan Yayasan Pengobatan Tradisional Indonesia. Sayangnya, karena beberapa anggota yayasan tersebut adalah bekas tahanan politik juga, pemerintah Indonesia membredelnya.

Putu Oka Sukanta menikah dengan Endah Lasmadiwati pada tahun 1987. Pada tahun 1990, dia kembali masuk penjara akibat usahanya mengajarkan pengobatan tradisional pada rakyat kecil dicurigai oleh pemerintah. Sepanjang rezim Orde Baru berdiri, dia memang tidak pernah luput dari pengawasan intel, bahkan ketika sedang ke luar negeri.

Setelah bebas dari penjara lagi, Putu Oka Sukanta dan istrinya terus mengumpulkan tanaman herbal Indonesia untuk ditanam di yayasan mereka. Kini Putu Oka Sukanta menjadi Pimpinan Pusat dari Asosiasi Naturopath Indonesia. Yayasan ini memfasilitasinya untuk mengadakan penelitian mengenai metode pengobatan tradisional bagi penderita HIV/AIDS. Dia pun telah menulis 10 buku mengenai subjek ini.

Cuplikan novelnya, Leftover Soul, ditampilkan dalam Manoa: A Pacific Joutnal of International Writing. Putu Oka Sukanta juga menjadi contributing editor dari Latitudes dan staf anggota senior dari sebuah majalah alternatif, Nirmala.

Buku-buku Putu Oka Sukanta lainnya (beberapa di antaranya sudah diterbitkan ke dalam bahasa asing) adalah I Belog (cerita anak-anak Bali, 1980), Selat Bali (kumpulan puisi, 1982), Salam atau Greetings (kumpulan puisi dwi bahasa, 1986), Tembang Jalak Bali atau The Song of The Starlings (kumpulan puisi dwi bahasa, 1986 dan 2000), Luh Galuh (kumpulan cerpen, 1987), Tas atau Die Tasche (kumpulan cerpen, 1987), Luh Galuh (kumpulan cerpen, 1988), Keringat Mutiara atau The Sweat of Pearls (kumpulan cerpen, 1991 dan 2006), Matahari, Tembok Berlin atau Die Sonne Die Mauer Berlin (kumpulan puisi, 1992), Kelakar Air, Air Berkelakar (novel, 1999), Merajut Harkat (novel, 1999), Kerlap Kerlip Mozaik (novel, 2000), Di Atas Siang Di Bawah Malam (novel, 2004), Wounded Longing atau Rindu Terluka (kumpulan cerpen, 2004 dan 2005).

Tulisan sastra Putu Oka Sukanta juga terdapat dalam Indonesian Contemporary Progresive Poetry (Indonesia, 1963), The Prison Where I Live (London, 1996), Voice of Conciences (USA, 1995), Bali Behind The Seen (Australia, 1997), Black Cloud Over Paradise Isle (USA, 1997), Manageri IV (Indonesia, 1998), dan Silenced Voices (Hawaii, 2000).

DAFTAR PUSTAKA

“Human Writes: A Literary Festival & Symposium.” Style Sheet. http://www.geocities.com/herilatief/ (13 Februari 2007)

“Memupus Luka Lewat Pengobatan Tradisional,” Kompas, 9 Mei 2000, hal. 12.

“Putu Oka Sukanta.” Style Sheet. http://www.bard.edu/hrp/resource_pdfs/sukanta.bio.pdf (13 Februari 2007)

Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. 2004. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu.

Eneste, Pamusuk. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern Edisi Baru. Jakarta: Djambatan, 1990.

LOK. “Terapi Komplementer Tingkatkan Kekebalan Tubuh.” Style Sheet. http://www.spiritia.or.id/news/kom070125.php (13 Februari 2007)

Sukanta, Putu Oka. 1999. Perjalanan Penyair. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

———-. 2000. Tembang Jalak Bali. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

———-. 2006. Keringat Mutiara. Yogyakarta: Ombak.

Sumardjo, Jakob. “Masalah Sosial Jadi Obsesi Penulis,” Pikiran Rakyat, 16 Juli 1986, hal. 7.

Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Read Full Post »