Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sastra Anak’ Category

Nama/Nomor: Wahyu Awaludin/0806466380

Sastra Indonesia FIB UI angk.2008

Jagat pertelevisian kita sebagian diisi oleh sinetron. Sinetron anak adalah sinetron yang mempunyai alur cerita yang diperuntukkan untuk anak-anak. Sayang, pada perkembangannya saat ini, sinetron anak malah tidak berpihak pada anak. Hanya berlabel sinetron anak tetapi alur ceritanya mirip seperti sinetron dewasa. Keberadaan sinetron anak yang kualitasnya bagus menjadi sangat mendesak. Di sini, penulis akan memfokuskan membahas salah satu sinetron anak yang bisa kita jadikan contoh. Judulnya adalah Keluarga Cemara.

Keluarga Cemara berkisah tentang sebuah keluarga yang hidup dengan memilih jalan kejujuran. Aktornya terdiri dari Abah (Adi Kurdi), Emak (Lia Warokka), Euis (Ceria HD), Cemara (anisa Fujianti), dan Agil (Pudji Lestari).  Sinetron yang diciptakan oleh Arswendo Atmowiloto ini cukup panjang yakni sekitar 263 episode. Pada tahun 2004, Arswendo membuat episode lanjutan dari Keluarga Cemara (http://kapanlagi.com), tetapi penulis tidak terlalu tahu perkembangannya.

Banyak sisi positif yang bisa diambil dari sinetron Keluarga Cemara. Sinetron ini mengajarkan nilai-nilai tentang prinsip kehidupan yang terpuji. Di antaranya sikap Abah yang mengayomi Emak, sikap Emak yang mengerti keadaan Abah (Abah bekerja menjadi penarik becak). Juga Euis, Agil, dan Cemara yang saling mengayomi sebagai adik dan kakak. Seorang blogger sampai mengungkapkan bahwa “aku rindu jiwa Keluarga Cemara ada di dalam keluarga Indonesia” (http://newbensagung.wordpress.com). Ungkapan jujur ini menunjukkan bahwa keluarga Cemara memang memiliki nilai-nilai luhur. Keluarga Cemara episode baru (yang ditayangkan tahun 2004) juga menampilkan nilai-nilai luhur seperti itu.

Seharusnya sinetron-sinetron yang membawa label “sinetron anak” menjadikan Keluarga Cemara ini sebagai salah satu standar yang baik. Tidak hanya mengejar keuntungan belaka tapi tidak memedulikan kualitas.

Daftar Pustaka

http://kapanlagi.com. “Kisah Keluarga Cemara Dilanjutkan di TV7”. Diakses pada 11 Maret 2010

http://newbensagung.wordpress.com. “Kurindu Keluarga Cemara”. Diakses pada 11 Maret 2010

Iklan

Read Full Post »

Nama/Nomor: Wahyu Awaludin/0806466380

Acara-acara televisi kita sebagian diisi oleh sinetron anak. Penulis akan memfokuskan bahasan pada sinetron yang berjudul ” Si Mamat Anak Pasar Jangkrik” untuk melihat sisi negatif dan positifnya. Sinetron ini ditayangkan oleh TPI mulai 5 Oktober 2009, jam 18:00, setiap Senin hingga Jumat dengan durasi 1 jam penayangan[1]. Sinetron ini berkisah tentang Mamat anak Pasar Jangkrik yang berkarakter jujur, baik hati, dan sederhana. Dia mempunyai kekuatan tangan sakti yang digunakan untuk menolong orang-orang.

Kisah ”Si Mamat Anak Pasar Jangkrik” mengambil kisah sehari-hari. Misalnya pada episode 6, anak-anak Pasar Jangkrik tak bisa sekolah karena gedung sekolah mereka rubuh. Untuk mendaftar ke sekolah negeri atau swasta, mereka tidak mempunyai uang. Ustadzah Anisa yang mendengar kabar itu lagnsung mendirikan sekolah gratis di sebelah rumahnya. Walau gratis, orangtua murid tetap ada yang ”membayar”. Ada yang membayar dengan sayur, jamu, kelapa, ikan, dan lain-lain.

Pemerintah kota yang mendengar sekolah gratis ini tidak setuju. Namun, mereka malah meminta upeti supaya sekolah gratis ini tetap diperbolehka beroperasi. Mamat yang mengetahui hal ini membalas oknum-oknum pemerintah sehingga mereka menyerah. Ternyata, mereka memang hanya oknum pemerintah gadungan, karena pemerintah ”asli” malah memberikan penghargaan kepada ustadzah Anisa lewat Pak Lurah.[2]

Kisah ”Si Mamat Anak Pasar Jangkrik” episode 6 ini sebenarnya adalah gambaran realita hidup kita. Ada kemiskinan, ada pendidikan yang kacau balau, ada oknum pemerintah, dan ada orang baik seperti ustadzah Anisa yang suka menolong. Dilihat dari sisi ini, nilai-niai yang diberikan ”Si Mamat Anak Pasar Jangkrik” cukup positif, yakni mendidik anak tentang kehidupan nyata. Namun, masalahnya adalah cara Mamat menyelesaikan masalah. Mamat tidak menyelesaikan masalah dengan cara yang ”biasa” dilakukan oleh kita, tetapi dia malah mengandalkan keajaiban tangannya. Dilihat dari sisi ini, sinetron ”Si Mamat Anak Pasar Jangkrik” mempunyai titik negatif. Sinetron ini ”menjual” imajinasi yang agak berlebihan, yakni dengan menyelesaikan masalah dengan mengandalkan keajaiban. Jean-Paul Sartre (The Psychology of Imagination, 1972), seperti yang dikutip Saiful Amin Ghofur, menuturkan bahwa pengaburan batas antara imajinasi dan fakta itu melahirkan apa yang disebut dengan patologi imajinasi. Anak akan merekam obyek imaji yang tidak riil sebagai suatu tuntutan terhadap realitas. Proses perekaman ini terjadi secara spontanitas tanpa perlu singgah di stasiun logika, tetapi langsung menghunjam kesadaran mental.[3]

Penulis khawatir bahwa anak yang menonton sinetron ini akan menganggap bahwa masalah-masalah yang ada di dunia ini seperti kemiskinan, oknum pemerintah, dan sejenisnya bisa diselesaikan dengan keajaiban. Akhirnya, bukannya tumbuh menjadi generasi yang tangguh menghadapi hidup, mereka malah tumbuh menjadi generasi yang menggantungkan diri kepada hal-hal yang ajaib. Ketika keajaiban itu tidak hadir menyelesaikan masalah mereka seperti yang mereka tonton di sinetron, mereka menyerah.

Daftar Pustaka


[1] http://www.klikstarvision.com/id/index.php?option=com_content&view=article&id=311%3Asi-mamat-anak-pasar-jangkrik&catid=53%3Atvp-release&Itemid=1/

[2] http://helloskyblu.blogspot.com/2009/10/sinopsis-si-mamat-anak-pasar-jangkrik.html

[3] http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/artikel_cetak.php?aid=23582

Read Full Post »

Pendidikan Era Digital

Nama: Wahyu Awaludin

Prgram Studi Indonesia FIB UI

Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia (KBBI, 2005: 1158), dan salah satu teknologi yang saat ini booming adalah internet. Seperti yang kita tahu, internet adalah suatu jaringan komunikasi dan informasi global (Internet Sehat, 2009: 3). Menurut hemat penulis, internet adalah ilmu yang paling cepat perkembangannya, hanya butuh hitungan hari bahkan jam untuk menanti munculnya produk baru. Internet mempunyai banyak sisi positif maupun negatif untuk anak.

Segi positifnya, misalnya internet bisa mendidik anak dengan lebih murah dan mudah. Sekarang, banyak institusi pendidikan yang menggunakan internet untuk pembelajaran. Kita bisa menyebutkan satu-persatu. Misalnya, Depdiknas mengeluarkan kebijakan buku digital. Terlepas dari berbagai kontroversi, itu adalah langkah yang sangat bagus, sebuah terobosan dalam dunia pendidikan. Selain pemerintah, institusi-institusi swasta maupun LSM pun tampak memperhatikan masalah pendidikan digital (baca: e-learning) ini.

Institusi yang lain misalnya adalah komunitas internet-sehat (http://internetsehat.org). Itu adalah suatu komunitas yang mempunyai komitmen untuk menjalankan internet sehat dalam kehidupan mereka. Artinya mereka hanya akan mengakses konten internet yang berguna. Anggotanya terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat, mulai dari pemilik warnet sampai tokoh nasional. Salah satu kegiatan komunitas ini adalah mengampanyekan internet sehat untuk anak. Mereka menyampaikan kampanye itu dengan media yang unik, yakni menggunakan media komik anak dalam bentuk digital yang bisa diunduh bebas. Materinya sangat cocok dengan anak. Jelas, bagi anak, komik ini sangat berguna dalam memahami seperti apa berinternet yang baik.

Selain itu ada juga komunitas Terang. Mereka adalah sebuah komunitas peduli terumbu karang. Sama seperti komunitas internet sehat, mereka juga mengampanyekan penyelamatan terumbu karang lewat komik anak. Judul e-book itu adalah Bondan & Undul Menyelamatkan Terumbu Karang. E-book ini bercerita tentang Bondan seorang anak lelaki yang diajak oleh Undul, seekor ikan, menjelajahi samudera. Namun, di kedalaman samudera Bondan dan Undul malah harus menghadapi manusia-manusia perusak terumbu karang. Akhirnya, dengan akal Bondan dan Undul dengan dibantu teman-teman ikan lain, mereka berhasil mengamankan terumbu karang. E-book ini disajikan dengan bahasa yang sederhana khas anak. Bagi anak-anak, jelas e-book ini adalah suatu pembelajaran yang menarik bahwa menjaga terumbu karang itu penting. Kesimpulannya, manfaat teknologi, terutama internet, adalah sangat banyak. Asal syaratnya internet itu bisa dimanfaatkan dengan baik.

Referensi

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia; Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

E-book

Bondan & Undul Menyelamatkan Terumbu Karang. Diakses pada 8 Februari 2010.

Internet-sehat-cartoon. Diakses pada 15 Juni 2009.

Read Full Post »

Wahyu Awaludin

Sastra Indonesia FIB UI


Sinema elektronik atau yang lebih dikenal dengan akronim sinetron adalah tayangan bersambung pada televisi. Di artikel ini, penulis hanya akan memfokuskan pada pembahasan sinetron anak, khususnya sinetron fantasi. Sinetron anak adalah sinetron yang mempunyai cerita untuk anak dan tokoh anak (walau tidak menutup kemungkinan juga diperankan oleh orang dewasa). Sinetron fantasi berarti sinetron yang menawarkan fantasi/imajinasi dalam cerita-ceritanya.

Sinetron “Akademi Anak Super” adalah sinetron yang ditayangkan TPI setiap Selasa pukul 18.00. Sinetron ini mengisahkan tentang lima orang anak yang tinggal di Akademi Anak Super untuk melindungi batu Kristal biru, yakni sebuah batu kristal yang akan sangat berbahaya bila jatuh ke tangan orang jahat. Mereka berlima pun melindunginya.

Akademi Anak Super episode 14 berjudul “Manusia Kucing”. Jadi, episode itu menceritakan tentang Catwoman yang dating ke kampong dan berniat membawa seluruh penduduk kampong ke planet kucing. Tentu saja tim Akademi Anak Super menolaknya. Maka, Izham dan kawan-kawan melawan Catwoman tersebut, tetapi kalah. Sementara mereka mencari cara untuk mengalahkan Catwoman, banyak penduduk yang diubah menjadi pasukan kucing karena terkena cakaran Catwoman. Bahkan, teman mereka, Oki dan Ibo menghilang karena terkena sinar Catwoman. Dia mengatakan bahwa Oki dan Ibo telah meninggal. Akhirnya tim Akademi Anak Super menemukan pemecahannya. Mereka bertarung lagi melawan Catwoman dan kali ini mereka menang karena membawa pasukan anjing. Di akhir cerita, ternyata Oki dan Ibo dikisahkan masih hidup.

Akademi Anak Super episode 14 ini mempunyai sisi-sisi negatif yang membuatnya tak layak menjadi sinetron anak. Alur ceritanya terlalu tidak masuk akal. Sebut saja pasukan anak-anak yang menjaga Kristal biru, datangnya Catwoman, sampai berubahnya penduduk menjadi pasukan kucing. Fantasi-fantasi ini cukup berlebihan. Saiful Amin Gofur, Guru Luar Biasa Ponpes Beratkulon Mojokerto khawatir bahwa tayangan-tayangan macam itu akan mengacak-acak logika berpikir anak ketika dewasa nanti. Logika keajaiban-keajaiban macam itu akan tertanam di dalam otak mereka. Dikhawatirkan akan muncul generasi instan, yakni “sebuah generasi berpikiran instan yang merindukan keajaiban sebagai solusi dari tiap permasalahan yang dihadapinya,” (http://www.matabumi.com/berita/tayangan-sinetron-anak-meresahkan). Jika sasarannya adalah “meningkatkan imajinasi anak”, maka ada beberapa solusi, misalnya mengarahkan imajinasi anak itu ke tempat yang lebih baik, seperti mendidik anak untuk mengimajinasikan cita-cita mereka.

Jean Paul Sartre dalam The Psychology of Imagination, menuturkan bahwa pengaburan batas antara fiksi dan non-fiksi ini akan melahirkan patologi imajinasi. Sartre menulis bahwa “Anak akan merekam obyek imaji yang tidak riil sebagai suatu tuntutan terhadap realitas. Proses perekaman ini terjadi secara spontanitas tanpa perlu singgah di stasiun logika, tetapi langsung menghunjam kesadaran mental.” (http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/artikel_cetak.php?aid=23582). Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, penulis berkesimpulan bahwa Akademi Anak Super episode 14 mengekploitasi imajinasi yang berlebihan dan di luar logika akal sehat. Penulis berpendapat bahwa Akademi Anak Super episode 14 tidak baik ditonton anak-anak.

Daftar Pustaka

http://www.matabumi.com/berita/tayangan-sinetron-anak-meresahkan

http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/artikel_cetak.php?aid=23582

Read Full Post »

Tugas VI Sastra Anak

Dosen: Riris K Toha Sarumpaet

Dian Hunafa/0806466203

Jenni Anggita/0806353564

Wahyu Awaludin/0806466380

PSA/ 2009-2010

3 Maret 2010

Sinetron adalah abreviasi dari sinema elektronik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, sinetron adalah film yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronik, seperti televisi. Dalam Wikipedia, sinetron adalah sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi (Depdiknas, 2005: 1070). Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Soemardjono (salah satu pendiri dan mantan pengajar Institut Kesenian Jakarta). Sumber ini didapatkan dari hasil wawancara dengan Teguh Karya. Dalam bahasa Inggris, sinetron disebut soap opera, sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut telenovela.

Jalan cerita dalam sinetron yang ada di Indonesia berkisar pada kehidupan sehari-hari ditambah dengan berbagai konflik sebagai penyedap. Makin lama dengan bertambahnya rating sinetron tersebut jalan cerita pun diperpanjang, sehingga kadang mutu ceritanya jadi buruk. Salah satu contohnya adalah sinetron Tersanjung yang mencapai 356 episode, dengan masa tayang 6 tahun 11 bulan (1998–2005). Sinetron yang dibuat sampai beratus episode hanya bertujuan komersil belaka. Hal ini membuat kualitas menurun, sehingga hanya menjadi hiburan saja dan tidak mendidik.

Pada tulisan ini, penulis  menganalisis sinetron-sinetron yang terdapat dalam dua stasiun televisi: TPI dan Trans TV. Setelah penulis menganalisis, penulis menemukan bahwa di dalam TPI terdapat dua jenis program yaitu sinetron asyik dan sinema asyik. Sinetron asyik dalam TPI antara lain: ”Akademi Anak Super” dan ”Si Mamat Anak Pasar Jangkrik”, sedangkan program  sinema asyik antara lain: “Kincir Air & Ikan Pesut Raksasa”, “Meilan & Sumpit Mulan Ajaib”, “Legenda Putri Naga”, dan lain-lain. Jam tayang sinetron di TPI mengambil waktu prime time, yakni pukul 18.00-19.00 WIB. Waktu tersebut sesuai untuk acara anak-anak, tetapi ceritanya tidak sesuai karena konflik ceritanya tidak sesuai dengan konflik anak-anak. Contohnya, dalam ”Akademi Anak Super” terjadi banyak persaingan tidak sehat antar tokoh.

Sinema yang ditayangkan di TPI merupakan drama satu episode. Setiap episode mempunyai jalan cerita yang berbeda-beda. Kualitas cerita dalam sinema TPI kurang baik karena menampilkan imajinasi yang berlebihan, contohnya naga-naga yang dihadirkan dalam cerita ditampilkan dengan kualitas gambar rendah. Jalan ceritanya pun kebanyakan menjiplak film-film luar negeri, contohnya film Water Horse yang dijiplak menjadi salah satu program sinema asyik.

Program sinetron yang ditayangkan Trans TV terbagi menjadi dua jenis, yaitu sinetron dan sitkom (situasi komedi). Contoh program sinetron adalah ”Angel’s Diary” sedangkan contoh sitkom adalah ”Suami-suami Takut Istri” (disingkat SSTI). Kedua acara itu ditayangkan di waktu prime time dan ditayangkan dari hari Senin-Jumat. SSTI ditayangkan pukul 18.00-19.00 sedangkan ”Angel’s Diary” mengambil waktu tayang 19.00-20.00.

”Angel’s Diary” bercerita tentang konflik percintaan remaja biasa dengan tokoh utama bernama Angel. ”Suami-suami Takut Istri” menampilkan konflik rumah tangga yang tidak sehat. Tokoh istri mendominasi dan kurang ajar pada suami. Memang situasi komedi ini menghibur penonton, tapi tidak mendidik.

Berdasarkan pengamatan di atas, penulis menyimpulkan TPI dan Trans TV memiliki program sinetron yang sedikit. Akan tetapi, diselingi dengan sinema dan sitkom. Porsinya tidak terlalu banyak karena TPI didominasi acara dangdut, sedangkan Trans TV didominasi oleh program-program hiburan seperti ceriwis, missing lyrics, dan lain-lain.

Daftar Pustaka

Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

http://wikipedia.org. ”Sinema Elektronik”. Diakses 3 Maret 2010 pukul 11.20 WIB.

http://tpi.tv. Diakses 3 Maret 2010 pukul 11.25 WIB.

http://transtv.co.id . Diakses pada 3 Maret 2010 pukul 11.30 WIB.

Read Full Post »


oleh Ratih Dewi[1]

 

  1. Pendahuluan

Kesusastraan Melayu Tionghoa berperan penting dalam memajukan kesusastraan modern Indonesia. Claudine Salmon mencatat bahwa ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu Tionghoa yang terbit dalam kurun waktu 1870-an hingga 1960-an[2]. Akan tetapi, dari banyaknya karya yang terbit, hampir tidak ada karya yang termasuk kategori cerita anak-anak yang baik dan sesuai. Hal ini didasari beberapa faktor, yaitu kurangnya perhatian pada bacaan anak-anak pada masa itu dari para penulis, ketidaktertarikan pembaca untuk membaca buku berbahasa Melayu Tionghoa, dan kurangnya minat orangtua untuk memberikan buku bacaan anak-anak kepada anak mereka[3]. Nio Joe Lan menyatakan bahwa buku satu-satunya yang dapat dikatakan sesuai untuk bacaan anak-anak dalam perkembangan sastra Melayu Tionghoa adalah Sie Po Giok karya Tio Ie Soei[4]. Novel Sie Po Giok dianggap membawa terobosan besar dalam kesusastraan Melayu Tionghoa karena cerita yang memikat, mutu bahasa yang tinggi, dan kualitas cetakan yang bagus[5]. Menurut Nio Joe Lan, Tio Ie Soei telah berhasil memberikan sumbangsih yang indah pada bacaan anak-anak[6].

Pada awalnya, Sie Po Giok dimuat sebagai cerita bersambung dalam mingguan Sin Po di Jakarta, tahun 1911 cerita itu pun dibukukan. Tio Ie Soei alias Tjoa Pi(e)t Bak, lahir di Pasar Baru, Batavia, tahun 1890 dan meninggal di Tanah Abang tahun 1974. Selain Sie Po Giok, beberapa karya Tio Ie Soei juga telah diterbitkan, yaitu Harta Besar (1915), Nona Sik Lie (1922), Seribu Satu Malem (1924), dan Riwayat Satu Boxer Tionghoa (1928). Selain berprofesi sebagai pengarang, Tio Ie Soei juga dikenal sebagai wartawan dan editor.

Sie Po Giok menceritakan seorang anak laki-laki yatim piatu bernama Po Giok yang tinggal di rumah pamannya yang mempunyai banyak anak. Suatu hari, anak yang rajin dan jujur ini melihat seorang tukang kebun, Ho Kim Tjiang, mencuri buah jambu di pekarangan rumah pamannya. Po Giok yang ketakutan setelah diancam Kim Tjiang, awalnya tidak berani mengadukan perbuatan Kim Tjiang kepada pamannya. Akan tetapi, setelah mendapat nasihat dari temannya dan mengingat pesan mendiang ibunya, Po Giok lalu menceritakan bahwa ia telah melihat Kim Tjiang mencuri buah itu. Kim Tjiang pun dipecat dan tidak lagi bekerja di rumahnya.

Sementara itu, salah seorang sepupunya, Po Houw, sudah sejak lama tidak suka akan keberadaan Po Giok. Ia pun memfitnah Po Giok dengan menaruh sisa kulit buah sawo yang seharusnya tidak boleh dimakan di kamar anak itu. Paman Po Giok, Sie Thian Bie, sangat marah ketika mengetahui bahwa ada yang memakan buah sawo miliknya, sehingga ia menjadi gelap mata dan menuduh Po Giok mencuri dengan bukti sisa kulit sawo itu. Ia lalu memukuli Po Giok dengan harapan anak itu mau mengakui perbuatannya, tetapi Po Giok bersikeras menolak karena memang ia tidak memakan buah itu.

Ketegaran dan ketabahan Po Giok akhirnya memperoleh balasan ketika sahabat pamannya, Pang A Kim datang ke rumah dan memberitahukan bahwa ia melihat Po Houw makan buah sawo itu. Akibat kejadian itu, Sie Thian Bie sangat menyesal dan semakin sayang kepada Po Giok. Nasib Po Giok kemudian berubah karena ternyata ia mempunyai paman yang kaya dari negeri Tiongkok. Ia pun diwarisi harta kekayaan dari pamannya yang tidak mempunyai anak itu dan hidup bahagia.

 

  1. Sie Po Giok dan Kedudukannya sebagai Cerita Anak

Sastra merupakan salah satu bentuk keseninan dan bagian dari hasil kebudayaan. Sastra berfungsi sebagai sarana hiburan, pemeroleh wawasan, pengetahuan, dan pengalaman. Oleh karena itu, sastra memiliki nilai dan makna tersendiri bagi pembacanya, baik orang dewasa maupun anak-anak. Bacaan anak-anak dan dewasa mempunyai ciri khas tertentu dilihat dari tema, sudut pandang pencerita, gaya penceritaan, hingga amanat (pesan) yang menyampaikan nilai dan makna dari suatu cerita. Nilai dan makna yang terdapat dalam suatu cerita anak berbeda dari cerita dewasa—di dalamnya terdapat nilai-nilai moral yang didaktis dan dapat diteladani.

Sarumpaet membedakan bacaan anak dari bacaan dewasa dengan melihat sifat dan kekhasannya. Ciri-ciri bacaan anak dirumuskan dalam dua bagian besar, yaitu 1) rumusan khusus, dan 2) ciri khas[7]. Rumusan khusus dari bacaan anak-anak mengandung empat hal. Pertama, bersifat tradisional, yaitu bacaan yang tumbuh dari lapisan rakyat sejak zaman dahulu kala dalam bentuk mitologi, cerita-cerita binatang, dongeng, legenda, dan kisah-kisah kepahlawanan yang romantis. Kedua, idealistis, yakni bersifat patut, universal dan diambil dari zaman yang lalu dan karya-karya penulis terbaik masa kini. Ketiga, populer—menghibur dan menyenangkan anak. Terakhir, teoritis karena dikonsumsi anak-anak dengan bimbingan dan arahan orang dewasa. Sementara itu, ciri khas bacaan anak-anak dibagi menjadi tiga, 1) adanya sejumlah pantangan (hal-hal tertentu saja yang dapat dikisahkan, tema dan amanat harus sesuai dengan usia anak), 2) langsung (bahasa tidak berbelit-belit, dinamis, sebab-akibat jelas, sifat, peran, dan fungsi tokoh juga jelas), dan 3) terapan (penyampaian keterangan dan ajaran/teladan).

Novel Sie Po Giok termasuk ke dalam cerita anak karena mengandung persyaratan di atas. Di awal cerita, pengarang memberitahu pembaca bahwa kisah ini telah terjadi di masa lampau, yaitu ketika kota masih belum terlalu ramai dan perniagaan belum banyak terjadi. Hal ini sesuai dengan rumusan khusus dari bacaan anak, yaitu bersifat tradisional. Selain itu, sifat patut dan universal juga ada dalam cerita ini, yaitu adanya nilai-nilai keteladanan yang dapat diambil dari tokoh Po Giok—jujur, sabar, rajin, dan tabah dalam menghadapi cobaan. Cerita ini pun menghibur dan menyenangkan karena dituliskan dengan bahasa yang baik dan logis dengan seorang anak sebagai tokoh utama, serta peristiwa dalam cerita yang dapat dialami siapa saja. Melalui tokoh-tokohnya, Sie Po Giok memberi nilai didaktis bagi anak-anak sebagai pembaca. Tokoh Po Giok menjadi acuan bahwa meskipun seorang anak menjadi yatim piatu, dengan kejujuran dan ketabahannya, ia akan tetap bahagia. Sementara itu, tokoh Po Houw yang suka berbohong dan curang akan mendapat nasib yang jelek dan menerima balasan atas perbuatannya.

Ciri khas bacaan anak juga terlihat dalam novel ini, yaitu adanya perbedaan sifat, sikap, dan peranannya berdasarkan usia. Tokoh Po Kim, anak tertua dari Sie Thian Bie, meskipun lebih tenang, bersifat dewasa, dan suka membantu ayahnya, diam-diam ia sering pergi ke tempat pelacuran. Hal ini ditunjukkan dari kutipan berikut.

“Po Giok memang suda lama dapet tau, Po Kim biasa pergi di Capgokeng, Senen, di blakang Kebon Klapa atawa deket Pasar Pisang, dimana Po Kim biasa senangin diri di rumanya empe Koei Hin yang kumpul prempuan-prempuan jalang aken peres kantongnya orang-orang yang suka-suka di itu ruma.” (KMT: 278-279)

 

Sementara itu, tokoh Po Soeij dan Po Houw yang berumur belasan tahun (sekitar 16 tahun karena Po Houw lebih muda dari kakaknya, Po Soeij yang berumur 17 tahun) bersikap layaknya remaja tanggung yang mengalami pubertas—tidak peduli dan suka merendahkan orang lain, emosional, dan sulit menuruti nasihat orangtuanya. Berikut kutipan tentang sifat Po Soeij dan Po Houw dalam cerita.

“Ia punya sudara-sudara lelaki dan sudara-sudara prempuan semua ada takut pada Po Soeij, dan ia orang pandang sudaranya ini sebagi satu orang yang adatnya jelek sekali: ia tiada perduli pada orang lebi tua, jikalu ia mara, ia brani juga maki atawa timpuk dengan batu. Juga Po Soeij senantiasa pake adat angku dan hati tinggi…” (KMT: 282)

 

“Apakah tiada baek ini kulit sawo au kasi masuk ka dalem kamarnya Po Giok dari ini sela jendela? Dari lantaran berbuat begini, aku bisa terluput dari segala dugahan, jikalu ketauan juga, ini bua ada kurang. Peduli apa sama itu anak!” (KMT: 300)

 

Sebaliknya, tokoh Kim Nio, anak perempuan Sie Than Bie yang berusia kira-kira 10 tahun atau lebih muda dari Po Giok yang berumur 11 tahun, lebih digambarkan sebagai anak yang polos dan baik hati. Kim Nio sangat perhatian kepada Po Giok dan selalu menanyakan kabar dari sepupunya itu, apabila Po Giok terlihat muram atau sedih. Ia pun sering menghibur Po Giok dengan bersikap hangat dan mau mendengarkan keluh kesah Po Giok.

“Kim Nio sendiri tiada tau, dari mana ia dapet rasa begitu sayang pada Po Giok, sedang sudaranya sendiri ada banyak. Ia duduk di situ pun aken menunggu Po Giok, yang blon masuk ka dalem kamar, sedeng biasanya di waktu begitu Po Giok sudah ada sama Kim Nio aken cerita begini dan begitu atawa berdongeng.” (KMT: 274)

 

Gaya penceritaan yang tidak berbelit-belit, langsung, dan dinamis membuat Sie Po Giok semakin layak dikategorikan sebagai cerita anak-anak yang belum mengerti bahasa klise dan retorika. Alur atau sebab-akibat cerita juga jelas, dimulai dari nasib Po Giok ketika ia masih kecil sampai ia dewasa, sehingga ceritanya tidak membingungkan anak. Penyampaian keterangan dalam cerita dijabarkan sesuai, misalnya dengan dimasukkannya ringkasan dongeng Kancil dan Gajah untuk memberikan pengajaran kepada anak, bahwa “siapa yang tiada kuat, ia harus mempunyai banyak akal”[8]. Selain itu, nasihat-nasihat ibu Po Giok yang telah meninggal tetapi masih diingatnya juga mengajarkan anak-anak bahwa mereka tidak boleh melupakan nasihat orangtua. Nasihat ibu Po Giok tergambar jelas dalam nyanyian Po Giok, yang ditulis pengarang layaknya bait-bait dalam syair. Berikut kutipannya:

 

Kebaean tentu orang dapet di blakang kali.” (KMT: 346)

Ingatlah ini nasehat, dan inget kombali,

Prentanya orang tua, jangan pura-pura tuli;

“Berbuat kebaean, itulah harus sekali;

 

Di samping nasihat kepada anak, pengarang juga memberikan nasihat kepada orangtua atau pembaca dewasa. Hal ini disampaikan dari penceritaan tokoh Sie Thian Bie yang merasa menyesal telah menuduh dan menghukum Po Giok, padahal anak itu tidak bersalah. Sie Thian Bie tanpa ragu-ragu kemudian meminta maaf kepada Po Giok, bahkan berjanji apabila Po Giok membolehkan, ia akan memberikan f 1000 untuk membayar kesalahannya. Sie Thian Bie merupakan contoh yang baik untuk orangtua yang tidak mau mengakui kesalahannya kepada anaknya sendiri. Sebaliknya, tokoh Ho Tek Siu, ibu Kim Tjiang—anak yang mencuri buah jambu—digambarkan sebagai orangtua yang terlalu memanjakan anaknya, sehingga anaknya itu menjadi buruk sikapnya. Melalui tokoh ini, pengarang menyampaikan pesan bahwa orangtua jangan terlalu keras atau terlalu sayang kepada anak mereka, karena hal itu dapat mempengaruhi sikap anak di kemudian hari. Mari kita lihat kutipan di bawah ini.

 

Sebagimana memang, biasanya orang-orang tua yang pikirannya keliru, begitupun hujin Ho Tek Siu ada sayang pada Kim Tjiang dengan kecintaan yang sala […] Inilah nyata bukan namanya “sayang”, tapi sabenernya ia “racunin” anak sendiri.” (KMT: 288)

 

  1. 3. Latar Budaya dalam Sie Po Giok

Salah satu unsur kebudayaan yang mutlak dalam kehidupan manusia adalah bahasa. Dalam cerita Sie Po Giok, tokoh-tokohnya menggunakan bahasa Melayu pasar. Po Giok, Po Houw, dan Po Soeij pun bersekolah di sekolah Tionghoa peranakan di Capgokeng untuk belajar bahasa Hokkian. Hal ini disebabkan di Indonesia bahasa Tionghoa sendiri rupanya tidak pernah populer[9]. Penggunaan bahasa Melayu pasar dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari Tionghoa peranakan membuktikan hal itu. Bahasa Melayu pasar atau Melayu rendah ini merupakan percampuran berbagai bahasa, antara lain bahasa Melayu, Hokkian, dan Jawa.

Latar cerita terjadi dua ratus tahun setelah kota Batavia atau Betawi berdiri (kira-kira abad ke-18), yang berarti Belanda telah masuk ke Batavia, tetapi belum banyak percampuran bahasa Belanda dalam dialog antartokoh. Bahasa Belanda masih terbatas digunakan dalam cerita, yaitu untuk menjelaskan bahwa rumah Sie Po Giok terletak di suatu district Pasar Senen, afdeeling Weltevreden, dan menyebut pekerjaan Sie Thian Bie, paman Po Giok, sebagai kassier, serta mata uang yang dipakai saat itu. Hal ini jelas terlihat dalam kalimat “Kutika masih bekerja pada kassier Thian Bie, adalah Kim Tjiang biasa dapet f 15.- sabulan…” (KMT: 289)

Bahasa lain yang banyak dipakai selain Melayu adalah bahasa Hokkian. Hal ini tergambar dari percampuran kedua bahasa (Melayu dan Hokkian) dalam dialog antartokoh, misalnya untuk menyebut status dalam keluarganya. Sie Thian Bie, paman Po Giok, dipanggil dengan sebutan engko (paman) oleh Po Giok, sedangkan oleh anak-anaknya dipanggil dengan sebutan encim (ayah). Nama-nama sapaan pun masih bercampur dengan bahasa Hokkian, misalnya sebutan sinshe untuk seorang guru. Mari kita lihat kutipan di bawah ini.

“Tapi sekarang itu keadaan semua telah beroba, maka aku merasa berat, aken tinggalken rumanya encek Thian Bie, sebab apabila aku lalu dari ruma dan ikut toaku, niscaya aku musti brenti juga takce pada sinshe.” (KMT: 350)

 

Contoh kebudayaan lain yang disinggung dalam cerita adalah bentuk rumah (arsitektur) dari Sie Thian Bie, yaitu rumah yang luas pekarangannya. Masyarakat Tionghoa Peranakan biasa tinggal sekeluarga besar dalam satu rumah. Pada waktu-waktu tertentu, di hari libur mereka sering berkumpul di paviliun untuk bercengkrama dan ketika waktu makan tiba, mereka juga makan bersama. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan berikut.

“ Itu malam, malem Senen, Sie Thian Bie ada duduk di korsi males separo reba di dalem kamarnya sambil baca buku, sedeng istrinya lagi duduk menyulam kasut buat Po Soeijm tiada jau dari itu kassie. Si Po Kim juga lagi asik baca buku cerita; ia duduk di sebla ibunya, samentara Po Soeij dan Po Houw berbaring di dalem satu antara tiga tempat tidur di itu kamar. Po Nio, satu anak prempuan manis yang suda remaja putri dan berumur 14 tahun, lagi duduk menjait bajunya yang tadi siang ia beli kaennya pada tukang klontong; ia duduk di korsi pendek buat taro kaki di deket kakinya Po Kim; dan Pit Nio, adenya Po Nio yang baru umur 12 tahon, lagi ajak maen adenya yang paling kecil, Po Touw namanya…” (KMT: 273)

 

Penempatan meja sembahyang leluhur di tengah-tengah dua kamar yang berhadapan juga menunjukkan ciri khas rumah orang Tionghoa. Orang Tionghoa masih menghormati leluhurnya dengan membakar hio atau dupa di atas wadah abu leluhur. Penghormatan ini mutlak dilakukan karena kepercayaan orang Tionghoa bahwa arwah manusia dapat bereinkarnasi dan hidup kembali, sehingga manusia tidak boleh melupakan leluhur dan asal-usulnya. Mari kita lihat kutipan di bawah ini.

“Ach, sunggu sedi rasa hatinya Po Giok kutika ia pasang hio di hadepan abu ayah dan ibunya di pertengaan luar rumanya Thian Bie […] Begitulah Po Giok berkata dengan plahan di hadepan abu ayah dan ibunya, samentara aer matanya telah bikin basa pipi dan ampir bikin basa kadua tangannya yang lagi pegang ampat batang hio buat ditancep: dua di hiohwe enceknya dan dua di hiohwe encimnya.” (KMT: 315-316)

 

Namun demikian, dari penempatan meja sembahyang tersebut sesungguhnya telah ada pengaruh budaya Jawa yang cenderung matrilokal, yaitu adanya wadah abu ibu Po Giok yang disandingkan dengan wadah abu bapaknya. Dalam kebudayaan Tionghoa yang patrilokal, di atas meja sembahyang leluhur tidak diperbolehkan adanya sin-ci pihak perempuan, tetapi di Jawa larangan tersebut diabaikan[10].

 

  1. Kesimpulan

Kesusastraan Melayu Tionghoa berperan penting dalam memajukan kesusastraan modern Indonesia. Akan tetapi, dari banyaknya karya yang terbit, hampir tidak ada karya yang termasuk kategori cerita anak-anak yang baik dan sesuai. Sie Po Giok karya Tio Ie Soei yang terbit tahun 1911 adalah satu-satunya cerita yang dianggap sesuai untuk bacaan anak. Dengan latar belakang kehidupan masyarakat Tionghoa peranakan di masa lalu, penggambaran tokoh yang sesuai dengan peran dan fungsi dalam cerita, gaya penceritaan yang sederhana, langsung, dan tidak berbelit-belit membuat novel ini patut mendapatkan predikat sebagai cerita anak terbaik dalam kesusastraan Melayu Tionghoa.

 

 

Daftar Pustaka

 

Nio, Joe Lan. 1962. Sastera Indonesia-Tionghoa. Jakarta: Gunung Agung.

 

Ong, Hok Ham. 2005. Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Depok: Komunitas Bambu.

 

S., Marcus A. dan Pax Benedanto, ed. 2000. Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1. Jakarta: KPG.

 

Salmon, Claudine. 1985. Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Sarumpaet, Riris K. 1976. Bacaan Anak-Anak: Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke dalam Hakikat, Sifat dan Corak Bacaan Anak-Anak serta Minat Anak-Anak pada Bacaannya. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

 

Sumardjo, Jakob. 2004. Kesusasteraan Melayu Rendah: Masa Awal. Yogyakarta: Galang Press.

 

Suryadinata, Leo. 1996. Sastra Peranakan Tionghoa. Jakarta: PT Gramedia.

 

Susilawati. 1994. “Penyajian Surapati sebagai Roman Sejarah dan Cerita Anak: Suatu Analisis Deskriptif”. Depok: FSUI (Skripsi, tidak diterbitkan).

 


[1] Makalah ini disusun sebagai tugas akhir mata kuliah Sastra Melayu Tionghoa semester genap tahun ajaran 2006/2007

[2] Claudine Salmon, Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), bab Prakata, hlm. XV.

[3] Nio Joe Lan, Sastera Indonesia Tionghoa, (Jakarta: Gunung Agung, 1962), hlm.132-133.

[4] Ibid, hlm. 133.

[5] Marcus A.S. dan Pak Benedanto, ed. Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia  Jilid 1, (Jakarta: KPG, Yayasan Adikarya IKAPI, dan The Ford Foundation, 2000), hlm. 251.

[6] Op.Cit,Nio Joe Lan.

[7] Riris K. Sarumpaet, Bacaan Anak-Anak: Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke dalam Hakikat, Sifat dan Corak Bacaan Anak-Anak serta Minat Anak-Anak pada Bacaannya, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1976), hlm.23-24.

[8] Op.Cit, Marcus A.S. dan Pax Benedanto, hlm. 271.

[9] Ong, Hok Ham, Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2005), hlm. 63

[10] Ibid, hlm.52.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

Kita Semua Anak Negeri Ini dipilih dari novel-novel anak fiksi realistik karya Fahri Asiza lainnya karena judul novel ini memberi kesan adanya pesan moral yang mendalam, yaitu tidak boleh mendiskriminasi teman.

Novel ini berkisah seputar tiga orang anak, yaitu Ratih, Lilian, dan Dudi. Cerita dimulai ketika Lilian menjadi murid baru di kelas VIB SD Muhammadiyah 12 Pamulang. Dudi langsung mengejek Lilian karena anak baru itu bermata sipit. Hari itu juga, Dudi menekan Lilian untuk pindah sekolah. Dudi tidak sudi ada anak bermata sipit di sekolahnya. Ratih, teman sebangku Lilian, menegur Dudi akan sikapnya terhadap Lilian itu.

Meskipun Lilian tetap tersenyum dengan sabar menghadapi Dudi, ternyata sikap Dudi itu membuatnya sedih. Lilian jadi teringat peristiwa kerusuhan yang terjadi beberapa bulan silam. Tapi mengapa? Apakah kebencian Dudi sama dengan kebencian orang-orang lain yang pernah merusak segalanya? (Asiza, 2006: 31)

Dudi terus menekan Lilian. Tanpa sepengetahuan Dudi, Ratih dan Nurul menanyakan perihal Dudi pada Gono, pengikut Dudi. Dari Gono, Ratih mendapat petunjuk kalau Dudi memang membenci orang-orang bermata sipit, termasuk Lilian. Katanya, gara-gara orang-orang bermata sipit, bapaknya berhenti bekerja (Asiza, 2006: 47).

Ratih mengajak Lilian berkunjung ke rumah Dudi yang ternyata kurang layak untuk ditinggali. Mereka hanya disambut oleh ibu Dudi. Dudi sedang menjadi kuli angkut di pasar untuk membantu ekonomi keluarganya. Dari ibu Dudi, Ratih dan Lilian menjadi tahu kalau bapak Dudi dipecat oleh bosnya yang memang bermata sipit. Setelah gagal mencari pekerjaan lain ke mana-mana, bapak Dudi sering menyendiri di bawah pohon, meratapi nasibnya sendiri.

Sepulang ke rumahnya, Ratih mendapat kabar buruk. Sepulang dari kantor, bapak Ratih ditodong. Namun, seorang laki-laki tak dikenal menolong bapak Ratih. Bapak Ratih selamat tapi laki-laki itu terluka akibat tusukan pisau para penodong. Bapak Ratih membawanya ke rumah sakit dan membalas jasa laki-laki itu dengan mempekerjakannya sebagai supir. Bapak Ratih juga berjanji akan mencarikan pekerjaan yang layak di kantornya.

Dudi tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Akibatnya, Gono dikeroyok Irfan dan Syarif di tempat sepi. Untung Ratih, Nurul dan Lilian segera menyadari hal ini. Dengan ilmu silat dikuasainya, Ratih menjatuhkan Irfan. Tidak hanya itu, Ratih juga menasihati keduanya supaya Gono, Irfan, dan Syarif mencoba berteman dalam arti yang sesungguhnya dengan Dudi. Ketiga anak laki-laki itu tersadar.

Dari ibu Dudi, Ratih dan kawan-kawan mengetahui kalau bapak Dudi sedang dirawat di rumah sakit. Susah payah Irfan dan Syarif mengumpulkan dana bantuan untuk biaya pengobatan bapak Dudi. Irfan bahkan berteriak di depan kelas, mengajak teman-temannya untuk membantu Dudi. Tapi Dudi tidak mau menerimanya dengan alasan Lilian juga ikut menyumbang.

Setelah keluar dari rumah sakit, bapak Dudi mendapat pekerjaan menjadi sopir dan menjadi bersemangat kembali. Dudi terharu melihat perkembangan bapaknya itu. Alangkah kagetnya Dudi saat mengetahui bahwa Pak Khalid, pria baik hati yang mempekerjakan bapaknya adalah bapak Ratih. Walaupun Ratih sudah mengetahui hal ini sejak seminggu yang lalu, Ratih tidak pernah menyombongkannya pada siapa pun.

Dudi duduk di gardu hansip yang sepi. Ia memikirkan kebaikan hati Ratih, Gono yang kini tidak mau menjadi pengikutnya lagi, dan kebenciannya terhadap orang-orang bermata sipit. Dudi mulai sadar. Tak seharusnya dia membenci Lilian hanya gara-gara mata Lilian sipit seperti bos bapaknya. Dudi juga sadar kalau kenakalannya selama ini telah menumbuhkan bibit kebencian di hati teman-temannya.

Dudi pulang ke rumah. Ibunya memberitahu Dudi kalau Lilian baru saja ke rumahnya seorang diri. Ibu Dudi menasihati putra sulungnya itu kalau sebagai orang beragama, kita tidak boleh membenci orang lain. Ibu Dudi ingin Dudi mengubah sikapnya terhadap Lilian dan teman-temannya yang lain di sekolah. Penyesalan yang begitu kuat menghantam hati Dudi. Dudi ingin meminta maaf pada semuanya agar hatinya tenang.

Dudi menyusul Lilian dan bertemu dengan Ratih dan Gono. Di tengah jalan, Dudi melihat Lilian sedang diperas oleh Yanto dan Amar, anak-anak nakal di kompleknya. Dudi membela Lilian dari kedua anak nakal itu tapi Ratih yang meringkus mereka dengan ilmu silatnya. Dudi berhasil menahan diri untuk tidak berkelahi lagi. Setelah Yanto dan Amar pergi, Dudi meminta maaf pada Lilian. Dudi juga berniat akan meminta maaf pada yang lainnya.

Tema yang diusung dalam novel Kita Semua Anak Negeri Ini adalah persahabatan. Tema ini memang sangat cocok untuk novel anak berjenis fiksi realistik. Anak-anak sering bergaul dengan teman-teman sebaya. Persahabatan mereka berpengaruh besar terhadap pola pikir dan perkembangan emosi mereka.

Dalam novel ini, Fahri Asiza menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dengan begitu, pengarang dapat menyelami perasaan beberapa tokoh sekaligus. Perasaan Ratih, Lilian, dan Dudi tertuang dalam novel ini. Bahkan, sedikit banyak perasaan tokoh-tokoh lainnya juga dapat dirasakan oleh pembaca.

Proses identifikasi adalah proses yang terjadi saat seseorang menyesuaikan dan mendekatkan dirinya pada tokoh, baik makhluk hidup maupun benda, di luar dirinya. Tokoh yang dipilih untuk dalam proses identifikasi disebut tokoh identifikasi. Pengarang menyodorkan Ratih, Lilian, dan Dudi sebagai tokoh-tokoh identifikasi. Ratih dan Lilian mewakili tokoh yang baik sedangkan Dudi mewakili tokoh yang buruk. Melalui perkembangan karakter dan tindak-tanduk ketiga tokoh tersebut, anak-anak pembaca novel ini diharapkan bisa memperoleh pedoman yang baik untuk tingkah laku mereka sendiri.

Setiap tokoh dalam novel ini memiliki alasan yang kuat atas sifat-sifat dan tindak-tanduknya. Ratih mewarisi sifat baik hati dari orang tuanya. Ia juga berani menentang Dudi karena ia sudah belajar silat sejak kelas IV. Lilian sedih karena kebencian Dudi mengingatkannya pada peristiwa kerusuhan yang telah lalu. Dudi membenci Lilian karena ia bermata sipit seperti orang yang memecat bapaknya.

Dudi memang mewakili tokoh yang buruk. Namun, bila Ratih dan Lilian bisa diibaratkan sebagai tokoh-tokoh putih, tidak berarti Dudi juga bisa diibaratkan sebagai tokoh hitam. Pengarang menggambarkan Dudi sebagai tokoh abu-abu. Di rumah, Dudi adalah anak yang baik. Dudi berbuat nakal di lingkungan sekolahnya untuk menutupi rasa malunya karena kini ia tidak punya apa-apa lagi. Dengan bersikap galak pada teman-temannya, Dudi berusaha supaya ia disegani oleh mereka.

Novel ini mengajari anak-anak tentang nilai-nilai kemanusiaan seperti tidak boleh membenci orang lain dan pentingnya hidup rukun dengan semua orang. Selain itu, novel ini juga memberi tahu anak-anak kalau menjadi anak nakal hanya akan membuat teman-teman menjauh dan mengecewakan orang tua. Pesn-pesan lain yang tersirat dan dapat ditangkap sendiri oleh anak-anak adalah pantang putus asa dalam menghadapi cobaan dan teruslah berbuat baik kepada sesama

Novel ini cukup jelas dan cermat. Tokoh-tokohnya tidak tergesa-gesa dan selalu ada penyebab dari tiap tindakannya. Ratih dan Lilian ke rumah Dudi untuk mencari tahu kenapa Dudi membenci Lilian. Gono menjadi pengikut Dudi supaya mendapat perlindungan Dudi. Bapak Dudi mendapat pekerjaan sebagai balasan jasanya menolong orang lain. Dudi meminta maaf pada teman-temannya setelah menyadari kebaikan hati Ratih dan Lilian. Akan tetapi, novel ini mengandung sedikit flashback. Jalinan ceritanya pun agak rumit. Anak-anak yang tidak biasa membaca akan menemukan sedikit kesulitan.

Timbul kesan menggurui pada novel ini. Beberapa kali kata “harus” ditekankan pada nasihat-nasihat yang dilontarkan tokoh-tokoh dalam novel ini. Kita harus hidup rukun dan damai (Asiza, 2006: 85). Tapi, kamu harus ingat, mungkin mereka menggerutu di belakangmu (Asiza, 2006: 102). Seharusnya kamu tidak boleh bertindak seperti itu (Asiza, 2006: 105). Selain penggunaan kata “harus”, tokoh Ratih dalam novel ini juga sering menasihati teman-temannya. Ratih dapat mengingatkan pembaca pada tokoh Lala dalam sinetron Bidadari. Baik Ratih maupun Lala, keduanya lama-lama akan membuat anak-anak sebal terhadap sikap mereka yang dianggap sok bijaksana.

Sayangnya, pengarang kurang jeli dalam menyusun logika cerita. Kerusuhan terjadi tanggal 16 Mei 1998. Pada bulan Mei berarti sekolah dasar hampir menyelenggarakan ulangan umum. Lilian baru bersekolah kembali tiga bulan setelah kerusuhan itu terjadi. Seharusnya, Lilian tinggal kelas. Akan tetapi, diceritakan bahwa Lilian berusaha mengejar pelajarannya yang tertinggal. “Lian kan harus banyak mempelajari pelajaran yang tertinggal.” (Asiza, 2006: 17) Pengarang mengira-ngira sendiri kalau ada dispensasi bagi anak-anak keturunan pasca kerusuhan. Padahal, kepala sekolah dari SD Muhammadiyah 12 Pamulang yang menjadi latar belakang novel ini mengaku tidak pernah memberikan dispensasi semacam itu.

Hal yang aneh dalam novel ini adalah Lilian sama sekali tidak mengingat teman-temannya sebelum pindah ke Pamulang. Bagaimana mungkin seorang anak bisa lupa begitu saja pada sahabat-sahabatnya di sekolah yang lama? Ketika mendapatkan teman yang baru pun anak akan membandingkan teman baru itu dengan teman lamanya.

Akhir cerita novel Kita Semua Anak Negeri Ini termasuk happy ending. Dudi menyadari kesalahan-kesalahannya kemudian minta maaf pada Lilian. Ratih mengajak teman-temannya untuk makan rambutan di rumahnya sekalian Dudi bisa minta maaf pada teman-teman yang lain.

Akhir cerita ini menyisakan sedikit pertanyaan dalam benak pembaca. Akankah semua teman-teman yang pernah diperas Dudi akan mau begitu saja memaafkannya? Anak-anak kelas VIB memang bertepuk tangan saat Irfan mengajak mereka untuk membantu Dudi, tetapi itu tidak menutup kemungkinan adanya reaksi negatif dari anak-anak kelas lain atau anak-anak tetangga Dudi seperti Yanto dan Amar.

Pertanyaan besar yang masih tertinggal adalah pertanyaan-pertanyaan Lilian menyangkut kerusuhan. ”Mengapa mereka membakar rumah kita?” “Pa, apa karena kita bermata sipit?” (Asiza, 2006: 18) Anak-anak yang membaca novel ini akan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Selain mengasyikkan, proses ini juga dapat mengembangkan daya pikir anak-anak.

Amanat cerita ini secara keseluruhan tersurat dengan jelas melalui kata-kata Dudi sendiri. “Seharusnya, aku yang berterima kasih padamu, Lian, karena keberanianmu datang ke rumahku, aku akhirnya sadar atas segala kesalahanku. Ratih benar, kita semua anak negeri ini. Kita harus hidup rukun dan damai.” (Asiza, 2006: 113)

Read Full Post »

Older Posts »