Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sastra Bandingan’ Category

Suasana Bedah Buku
oleh Asep Sambodja
Buku Puisi-puisi dari Penjara karya S. Anantaguna dan Nyanyian dalam Kelam karya Sutikno W.S. merupakan wakil dari sastra Indonesia yang hilang. Demikian pendapat Hilmar Farid dalam Diskusi Buku Dua Penyair Lekra yang diselenggarakan oleh Departemen Susastra FIB UI bekerja sama dengan IKSI FIBUI dan Penerbit Ultimus Bandung di Auditorium Gd. IV FIBUI pada Kamis, 25 Februari 2010. Lebih lanjut Hilmar Farid mengatakan, minimal dari dua buku puisi ini bisa dijadikan skripsi oleh mahasiswa. “Kalau bisa menjadi tesis akan lebih baik,” katanya. Sebab, “kehadiran sastra Lekra sekarang ini menjadi keping-keping sastra Indonesia yang hilang.”
Thomas Rieger, pengamat sastra Indonesia dari Jerman yang menghadiri acara diskusi ini menekankan perlunya kita membicarakan kembali kanon sastra Indonesia. Sebab, menurut Thomas, ada fenomena menarik bahwa yang menjadi arus utama (mainstream) dalam sastra Indonesia itu objeknya hanya secuil dari keseluruhan korpus (data) yang ada. Ia mempertanyakan, kok begitu banyak pengucilan di Indonesia. Selain sastra Lekra, yang mengalami pengucilan lainnya adalah sastra Melayu Tionghoa yang secara kuantitas jumlahnya banyak sekali, juga sastra picisan.
Thomas menjelaskan bahwa sastra picisan banyak ditulis oleh sastrawan-sastrawan yang juga wartawan pergerakan, karenanya mereka dimusuhi Belanda. “Ada sebuah disertasi mengenai Balai Pustaka, bahwa mereka secara terencana memberlakukan penerbitannya sebagai upaya politik yang sadar menentang nasionalisme. Mereka (Belanda) juga menerbitkan dongeng-dongeng Eropa, seperti Kucing Bersepatu Lars, tapi sudah dimanipulasi dari cerita aslinya. Dan dongeng ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia dan dipolitisasi. Jadi, memang ada kanonisasi kolonialisme. Sudah saatnya kita mengikis habis sisa-sisa kolonialisme,” urainya.
Wahyu Awaludin, mahasiswa Program Studi Indonesia yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut mengakui bahwa generasi seusia dia yang lahir pada tahun 1980-an dan 1990-an tidak kenal dengan yang namanya Lekra. Ini disebabkan karena ada pihak yang mencoba menghilangkan atau menggelapkan sejarah. Ia sudah berusaha browsing di google dan twitter mengenai Lekra, namun informasi mengenai Lekra sangat minim. Demikian pula ketika ia mencari nama S. Anantaguna dan Sutikno W.S.
Fay, panggilan akrab Hilmar Farid, menjelaskan bahwa ketika ia masuk jurusan Sejarah FSUI (sekarang FIB UI) pada 1987, ia sudah mengenal Lekra, meskipun Lekra tidak diajarkan dalam sejarah sastra. “Saya cari bahan sendiri, karena saat itu buku-buku yang berbicara mengenai PKI, Lekra, kiri, dibekukan pemerintahan Orde Baru. Lekra memang tidak dikenalkan dan bahkan disingkirkan secara sistematis,” ujarnya. “Kenapa generasi sekarang tidak tahu, itu karena memang dibuat tidak tahu.”
Lilie Suratminto, dosen Program Studi Belanda, menyesalkan adanya pelarangan buku-buku Lekra. Ia menceritakan ketika masih duduk di Sekolah Dasar (SD), ia sudah disuruh gurunya membaca Atheis, Cerita dari Blora, Layar Terkembang, dan lain-lain. “Jadi, dulu kami membaca karya-karya para sastrawan dari kelompok manapun, dan saya merasa bahwa semuanya berisi hal-hal yang baik,” katanya. “Sayang sekali kalau sekarang ini hal-hal yang semacam itu masih dilarang.”
Menurut Fay, sastra Indonesia tidak utuh kalau tidak membicarakan sastrawan Lekra. Demikian pula sastra Indonesia sebelum perang tidak akan utuh kalau tidak membicarakan Mas Marco Kartodikromo, Semaun, dan lain-lain. Lebih lanjut Fay mengatakan bahwa puisi-puisi Anantaguna dan Sutikno W.S. memiliki kekuatan. “Ada semacam the power of writing. Puisi-puisi yang lahir di penjara itu memiliki kekuatan dengan sendirinya.”
Fay melihat bahwa kedua penyair Lekra itu menulis puisi di penjara antara lain untuk menghibur diri mereka sendiri. Mereka ditahan, tidak diadili, tidak dijatuhi hukuman. Dan, begitu dilepaskan dari penjara hanya diberi selembar kertas yang menyatakan mereka tidak terlibat G30S. “Makanya puisi-puisi ‘Hari-hari Tak Punya Siang’ terasa begitu kuat. Saya yakin mereka menulis puisi tidak berharap mendapat hadiah sastra. Mereka hanya berdialog dengan diri mereka sendiri. Puisi-puisi ini merupakan kesaksian yang jujur,” tegas Fay.
Sunu Wasono yang menyoroti teks kedua penyair itu menemukan kekuatan puisi-puisi itu meskipun tidak dikaitkan dengan konteksnya. “Puisi ‘Nyanyian dalam Kelam’ menjadi semacam pendirian Sutikno W.S. dalam berpuisi. Sementara puisi-puisi Anantaguna memperlihatkan keberagaman bentuk,” ujarnya.
Sunu menilai puisi-puisi Lekra semacam ini perlu diterbitkan ulang, agar generasi muda bisa mengenal sastrawan-sastrawan Lekra kembali. Ia menceritakan bahwa ketika bekerja di PDS HB Jassin pada tahun 1980-an, ia memang pernah melihat adanya surat edaran dari Depdikbud (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)—sekarang Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)—yang isinya berupa seruan agar buku-buku kiri disingkirkan.
Putu Oka Sukanta sebagai moderator diskusi ini mengingatkan bahwa dulu pada 1960-an kesenian dan kebudayaan Indonesia pada umumnya menjadi besar bukan karena Lekra, melainkan karena kebudayaan Indonesialah yang besar, kesenian rakyatlah yang tumbuh, dan Lekra hanya menjadi pendorongnya. “Jadi, jangan menganggap bahwa dulu kesenian dan kebudayaan Indonesia itu besar karena Lekra. Bukan, nanti kita jadi ge-er.”
Putu yang juga seorang penyair yang merangkap sebagai ahli akupunktur ini menjelaskan bahwa setidaknya sastrawan Lekra itu sudah dibunuh tiga kali. Pertama, pasca peristiwa G30S, sastrawan Lekra dibunuh. Kalau tidak dibunuh, ditahan. Kedua, buku-buku karya sastrawan Lekra dilarang. Ketiga, selamanya mereka menjadi tahanan, karena tidak pernah diadili. Dan, begitu bebas karena tidak terlibat G30S, KTP mereka harus dicap ET (eks tapol).
Putu juga memberi catatan, perlu ada penelitian lebih dalam lagi mengenai empat hal. Pertama, kenapa Lekra didirikan. Kedua, kenapa mereka memakai paham seni untuk rakyat. Ketiga, apa itu semboyan 1-5-1. Keempat, bagaimana hubungan antara Lekra dengan PKI.
Acara diskusi ini dimeriahkan dengan pemutaran film Tjidurian 19 karya sutradara Lasja F. Susatyo dan Muhammad Abduh Aziz, pertunjukan KIPAS (koreografer Madia Patra), pembacaan puisi Kinanti Munggareni, dan musikalisasi puisi oleh Sasina IKSI. Sasina memusikalisasikan puisi “Lagu Tanpa Nada” karya S. Anantaguna dan “Dari yang Selalu Menjalinku” karya Sutikno W.S.
Hadir dalam diskusi ini adalah penyair S. Anantaguna, Sutikno W.S., Syarkawi Manap, Sudjatmiko, Svetlana Dayani, Koesalah Subagyo Toer, Truly Hitosoro, Bilven Sandalista, Melody Violine, I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, Kiftiawaty, Novi Diah, Ahmad Zakky, Sulung Siti Hanum, Tuslianingsih, dan ratusan pengunjung yang memenuhi ruang auditorium.
Iklan

Read Full Post »

oleh Tuslianingsih

  1. 1. Pendahuluan

Dunia sastra terbagi ke dalam banyak aliran. Kebebasan untuk menuangkan ide-ide dalam bentuk karya sastra menyebabkan beragam aliran sastra muncul. Salah satunya adalah sastra romantisisme. Romantisisme adalah sebuah gerakan seni, sastra dan intelektual yang berasal dari Eropa Baratabad ke-18 pada masa Revolusi Industri. Gerakan ini sebagian merupakan revolusi melawan norma-norma kebangsawanan, sosial, dan politik dari periode Pencerahan dan reaksi terhadap rasionalisasi terhadap alam, dalam seni dan sastra. Gerakan ini menekankan emosi yang kuat sebagai sumber dari pengalaman estetika, memberikan tekanan baru terhadap emosi-emosi seperti rasa takut, ngeri, dan takjub yang dialami ketika seseorang menghadapi yang sublim dari alam. Gerakan ini mengangkat seni rakyat, alam, dan kebiasaan, serta menganjurkan epistemologi yang didasarkan pada alam, termasuk aktivitas manusia yang dikondisikan oleh alam dalam bentuk bahasa, kebiasaan dan tradisi.

Romantisisme dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Pencerahan dan mengagungkan  unsur-unsur seni dan narasi yang dianggap berasal dari periode Pertengahan. Nama “romantik” sendiri berasal dari istilah “romans” yaitu narasi heroik prosa atau puitis yang berasal dari sastra Abad Pertengahan dan Romantik. Di Eropa, gerakan ini dipelopori oleh sejumlah seniman, seperti William Blake, Lord Byron, Samuel Taylor Coleridge, John Keats, Percy Bysshe Shelley, dan William Wordsworth.

Romantisisme berawal dari sebuah aliran seni yang menempatkan perasaan manusia sebagai unsur yang paling dominan. Namun, dewasa ini sastra Romantisisme mengalami penyempitan makna dengan menyebutnya sastra yang berisi cinta-cintaan karena cinta adalah bagian dari perasaan yang paling menarik. Sastra romantis pun diartikan sebagai genre sastra yang berisi kisah-kisah asmara yang indah dan penuh oleh kata-kata yang memabukkan perasaan. Sebenarnya sifat-sifat romantisisme sangat bervariasi dan kompleks sehingga sulit untuk dirumuskan begitu saja. Namun sejumlah pengamat mencoba mencari beberapa rumusan mengenai romantisisme. Noyes (1967: xxi-xxii) menyebutkan bahwa sedikitnya ada enam ciri yang muncul dari karya-karya romantisisme, yaitu kembali ke alam, melankolinisme atau kemurungan, primitivisme, sentimentalisme, individualisme, dan eksotisme. Hal ini disampaikan oleh Warastuti dalam skripsinya yang berjudul ”Unsur-unsur Romantisisme dalam Karya Yanusa Nugroho: Analisis atas Kumpulan Cerpen Bulan Bugil Bulat”. Berikut ini adalah penjelasan yang dikutip dari skripsi tersebut.

  1. 2. Ciri-ciri Romantisisme

Pada bagian pendahuluan telah disebutkan bahwa romantisisme bersifat kompleks dan sejumlah pengamat masing-masing memberikan rumusan mengenai romantisisme. Noyes telah menyebutkan paling sedikit ada enam ciri dari karya-karya romantisisme. Berikut ini adalah pemaparannya.

Kembali ke Alam. Jean Jacques Rousseau (1712-1778), filsuf Perancis, menyerukan kepada manusia agar mengakrabi dan berpulang ke alam. Menurutnya, segala sesuatu yang dekat dengan alam yang murni, dengan sendirinya baik dan indah. Segala sesuatu yang diciptakan bersumber pada alam, yaitu apa yang ada disekeliling kita: apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan. Kaum romantik berpegang pada semboyan mereka yaitu alam adalah sesuatu yang mendukung dan menentukan perasaan (suasana) hati manusia. Dengan demikian, perasaan hati manusia itu tergantung dari keadaan alam. Begitu besarnya pengaruh alam bagi pengarang beraliran romantik, membuat keindahan alam ini menjadi motif pada zaman tersebut. Alam yang digambarkan adalah kesunyian desa di malam hari, desiran kincir air, alam sunyi hutan, pesona hutan, dan lain-lain.

Kemurungan Romantik. Beberapa penyair menekankan kepada kemurungan yang dalam dan suram dan mereka mendapatkan ketenangan dengan mengunjungi tempat-tempat pemakaman dan merenungkan nasib manusia, kemataian (maut), dan kefanaan. Sedang penyair lainnya menyukai kesedihan, ketenangan, serta suka merenung di tempat-tempat terpencil. Tema-tema pada kesusastraan kemurungan (melankolis) dapat dikatakan berkisar seputar kemurungan akibat keterbencian, cinta yang tidak bahagia, penderitaan hidup, dan hal-hal yang menyeramkan.

Primitivisme. Primitivisme adalah kecenderungan akan hal-hal yang alamiah atau natural, yaitu yang bebas dari penalaran, aturan-aturan, konvensi-konvensi masyarakat berbudaya yang kompleks. Dalam kesusastraan serta seni-seni lainnya, kaum primitivis percaya kepada spontanitas, ekspresi emosi secara bebas serta intuisi. Primitivisme ini sangat kuat pengaruhnya dalam pemikiran dan kesusastraan Amerika, yang ditandai oleh kerinduan akan masa lalu dan memimpikan kejayaan di masa yang akan datang. Dalam hal ini, kaum primitivis mengimbau kembalinya rasa cinta tanah air serta meratapi hilangnya kemegahan masa lalu. Dalam artian bahwa hidup di desa lebih dekat dengan alam, jauh lebih baik, bila dibandingkan dengan hidup di kota yang biasanya menimbulkan kesengsaraan dan banyak terjadi kejahatan.

Sentimentalisme. Istilah sentimentalisme mengacu kepada pengungkapan emosi yang dilakukan secara berlebihan atau tidak pada tempatnya. Dalam karya sastra, emosi itu berupa kesukaan akan kelembutan, birahi, kegandrungan akan sifat alamiah manusia yang semuanya lebih bersifat patetis daripada etis. Namun, pengungkapan perasaan ini tidak akan bersifat sentimental sejauh masyarakat pembacanya masih menganggap wajar, normal, dan seimbang (Shipley, 1960: 371-372).

Individualisme dan Eksotisme. Penyair romantik tidak hanya cenderung melarikan diri ke dalam perasaan serta dunia mimpi mereka sendiri tetapi juga mencari pengalaman emosional dalam dunia eksternal berupa hal-hal yang jauh, baik dalam hal waktu maupun tempat. Biasanya tokoh merasakan kegaiban jarak, tenggelam dalam keinginan-keinginan, emosi sangat dipengaruhi oleh imbauan sugesti dan misteri. Hal-hal yang supernatural, yang aneh dan sangat indah tertarik pada misteri yang ada dalam keindahan. Dalam Kamus Istilah Sastra, eksotisme adalah keasingan, keunikan, ketidakbiasaan yang mengandung daya tarik khas. Dalam sastra, eksotisme ini bersangkut-paut dengan sifat dan ciri latar, tokoh, dan peristiwa yang terasa asing dan unik (Zaidan, 1994: 66).

Dari ciri-ciri romantisisme tersebut, selanjutnya akan dipaparkan mengenai analisis unsur romantisisme pada dua cerpen dengan studi bandingan, yang satu cerpen yang tulis oleh penulis yang berasal dari Indonesia dan kedua cerpen yang ditulis oleh penulis yang berasal dari Korea. Dari Indonesia akan dianalisis cerpen ”Wanita yang Ditelan Malam” karya Bre Redana, sedangkan dari Korea berjudul ”Si Bongkok dari Seoul” karya Kwon Taeung. Keduanya sama-sama menceritakan hubungan antara tokoh pria dan wanita dengan wanita digambarkan tidak begitu jelas cenderung masih misteri sampai akhirnya sang pria tidak berjumpa lagi dengan sang wanita.

  1. 3. Sinopsis Cerpen
  1. Sinopsis Cerpen ”Wanita yang Ditelan Malam” karya Bre Redana

Cerpen ini mengisahkan tokoh ”aku” yang bertemu dengan wanita misterius di sebuah cafe di setiap malam seorang diri. Ketika mereka bertemu, si wanita selalu menceritakan dirinya. Tokoh wanita bercerita bahwa dia tinggal di sebuah kapal di pelabuhan yang bernama Amiga, kapal milik orang Spanyol. Setiap malam, mereka bertemu di tempat yang sama, bercerita tentang diri wanita itu tanpa si ”aku” tahu nama dan nomor handphone wanita itu. Namun, pada suatu malam, beberapa hari setelah itu, tokoh wanita tidak pernah muncul lagi. Tokoh ”aku” bertanya kepada pelayan kafe, tetapi mereka pun tidak pernah lagi melihatnya datang. Sampai kemudian, wanita itu kembali datang dan menceritakan dirinya kenapa beberapa hari itu tidak datang ke kafe. Tokoh wanita bercerita bahwa dia sudah pindah ke kapal lain karena Amiga sudah meninggalkan pelabuhan untuk selama-lamanya. Setelah pertemua itu, tokoh wanita tidak pernah muncul kembali seakan-akan ditelan malam. Ironisnya dari sekian malam tokoh ”aku” bertemu dan berbicara dengan tokoh ”wanita”, tokoh ”aku” hanya mengingat matanya yang berkaca-kaca, tanpa mengetahui nomor handphone dan kapal misterius tempat tinggalnya.

  1. Sinopsis Cerpen ”Si Bongkok dari Seoul” karya Kwon Taeng

Tidak jauh berbeda dengan cerpen ”Wanita yang Ditelan Malam”, penyebutan tokoh dalam cerpen ”Si Bongkok dari Seoul” ini pun sama-sama tidak menyebut nama. Tokoh hanya menyebut dirinya ”aku” dan tokoh lainnya dengan ”wanita dari Ahyondong”. Cerpen ini menceritakan hubungan antara ”aku” dan wanita dari Ahyondong tersebut. Beberapa hari mereka lewatkan dengan bercinta, tetapi setelah itu wanita itu menghilang. Wanita dari Ahyondong itu tiba-tiba kembali datang dan melamar, mengajak tokoh ”aku” menikah. Tokoh ”aku” tentu saja senang. Namun, tokoh wanita menginginkan rumah besar milik tokoh ”aku” yang biasa sebagai tempat mereka bercinta menjadi miliknya. Tokoh ”aku” memberikan rumah itu dan mengganti nama kepemilikan tanah atas nama wanita itu. Setelah malamnya mereka bercinta dengan hebat, esok paginya wanita itu menghilang. Tokoh ”aku” hanya seorang diri di rumah, dia pun merasa bahwa rumah itu bukan lagi miliknya dan dia teringat gubuk plastiknya di suatu tempat. Akhirnya dia meninggalkan rumah itu dengan memakai baju yang paling murah. Baju-baju mahalnya dia tinggal di rumah yang bukan lagi miliknya. Ketika tokoh ”aku” sampai digubuknya dia hanya memangis dan dia pun kembali ke rumahnya yang besar. Di kejauhan, dia melihat wanita dari Ahyondong sedang berdiri di halam rumahnya, tokoh ”aku” merasa senang, dia pun bergegas menghampirinya. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat bahwa wanita itu sedang bergandengan tangan dengan seorang pria yang bertubuh tegap, bukan seperti dirinya yang bongkok. Akhirnya, dia meninggalkan tempat itu.

  1. 4. Analisis Unsur Romantisisme pada Cerpen ”Wanita yang Ditelan Malam” dan ”Si Bongkok dari Seoul”

Kembali ke Alam. Pada kedua cerpen terdapat unsur kembali ke alam seperti pada karya sastra yang bersifat romantisisme. Bagi seorang penyair atau sastrawan, alam akan dijadikan sebagai tempat kembali atau berpulang. Di dalam masing-masing cerpen tersebut, ketika tokoh “aku” ditinggalkan oleh pasangannya, mereka kembali ke alam untuk menenangkan diri. Mereka merasa alam dapat menenagkan mereka. Berikut kutipan dari kedua cerpen yang dimaksud.

Di rumah, ketika menghabiskan malam-malam sendirian di pendapa, menikmati suasana malam di lingkungan tempat tinggalku yang selalu dikomentari orang sebagai tempat tinggal yang asri, nyaman, aku kadang teringat wanita yang mengaku tinggal di kapal itu. Terlebih, kalau aku membaui sedap malam, dan teringat matanya yang berkaca-kaca.

Kutipan tersebut adalah kutipan yang diambil dari cerpen “Wanita yang Ditelan Malam”. Ketika wanita itu sudah menghilang seperti di telan malam, tokoh “aku” menghabiskan malam-malamnya bukan lagi di sebuah kafe, tetapi di taman yang asri dan nyaman. Tokoh “aku” menggunakan alam sebagai alat untuk menenangkannya, mengingatkannya kepada kenangan wanita itu karena hanya kenangan yang dia punya. Tokoh “aku” tidak lagi menghabiskan malam-malamnya di kafe karena wanita itu sudah tidak kembali ke sana, sedangkan di alam, pada bau sedap malam, tokoh “aku” dapat menemukan kenangannya terhadap wanita itu. Pada cerpen “Si Bongkok dari Seoul” tidak berbeda dengan cerpen tersebut. Tokoh utama kembali kepada alam ketika dia ditinggal oleh wanita dari Ahyondong.

Situasi yang tidak terduga semacam ini membuatku betul-betul jengkel. Seolah-olah aku diseret lagi pada perasaan yang membuatku malas seperti pada saat-saat sebelum perang. Aku merasa kesepian, sebagaimana kurasakan pada saat segalanya normal. Untuk memerangi perasaan kosong pada diriku, aku berkelana sepanjang jalan dan gang-gang yang hancur selama hari-hari selanjutnya. Dari puncak bukit tempat gereja, simbol keagungan Tuhan, berdiri, kulihat puing-puing kota masih diselimuti asap.

Kutipan di atas adalah kutipan dari cerpen “Si Bongkok dari Seoul”. Kejadian itu terjadi ketika dia tidak menemukan keberadaan wanita dari Ahyondong di rumahnya. Tokoh “aku” kesepian dan merasa hampa. Untuk memerangi perasaan kosong tersebut, tokoh “aku” menyusuri jalan. Dengan demikian, tokoh “aku” menggunakan alam untuk menenangkan diri. Tokoh “aku” secara tidak langsung kembali kepada alam.

Kemurungan Romantik. Kemurungan romantik ini lebih diidentikan dengan sosok tokoh muram yang selalu menderita, tertekan, dan terpinggirkan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kemurungan dapat diakibatkan dari keterbencian, cinta yang tidak bahagia, penderitaan hidup dan hal-hal yang menyeramkan. Cara tokoh menghilangkan kemurungan ialah dengan mendatangi suatu tempat, biasanya tempat suram.

Ciri-ciri ini sangat digambarkan dengan jelas pada cerpen “Si Bongkok dari Seoul”. Di dalam cerita tersebut ketika dia ditinggal oleh wanita dari Ahyondong itu, tokoh “aku” teringat pada gubuknya yang telah lama ia tinggalkan. Dia pun teringat pada anjingnya bernama Willi yang entah masih hidup atau sudah mati karena dia tinggalkan seorang diri.

Ketika kutemukan gubuk kecilku masih utuh, aku menarik napas panjang. Sesuatu yang panas mengganjal di kerongkonganku dan aku hampir menangis. Kupanggil Willi berulang-ulang tetapi tidak ada sahutan.

Sedangkan dalam cerpen ”Wanita yang Ditelan Malam”, tidak diceritakan sang tokoh pergi ke suatu tempat karena kesedihannya ditinggal wanita yang biasa ia temui di kafe. Hanya saja, tokoh aku bukannya meninggalkan kenangan itu, dia terus melakukan hal yang membuatnya teringat pada tokoh wanita itu, yaitu dengan duduk sendirian di halaman rumahnya dan sengaja menghirup bau bunga sedap malam. Terkesan bahwa tokoh ”aku” sangat menikmati kesendiriannya. Berbeda sekali dengan tokoh ”aku” pada cerpen ”Si Bongkok dari Seoul” yang meninggalkan semuanya agar dia tidak teringat dengan apa yang telah terjadi antara wanita dari Ahyondong dan dirinya.

Primitivisme. Di dalam ciri-ciri primitivisme tidak berbeda dengan ciri kembali ke alam. Bedanya primitivisme ini mengajak pembaca untuk kembali kepada nilai-nilai primitif yang pada hakikatnya kembali ke alam, kembali kepada kesederhanaan, ketenangan, dan kedamaian hidup. Bisa dikatakan juga, primitivisme ini lebih menggambarkan bahwa kehidupan desa atau masyarakat awal yang masih alamiah merupakan kondisi yang terbaik dibanding kehidupan di kota.

Pada bagian ini, di dalam kedua cerpen tidak digambarkan dengan jelas mengenai primitivisme. Namun, ada bagian yang bisa dimabil sebagai contoh bahwa kedua cerpen ini memang romantisisme. Pada cerpen ”Wanita yang Ditelan Malam” ada bagian ketika sang wanita bercerita bahwa dia tinggal di pelabuhan yang terletak di utara kota. Dalam perjalanan rumahnya, wanita itu harus melewati Rawa Bangkai, gudang-gudang pelabuhan, penampungan sampah di Warakas, dan melwati lorong-lorong, salah satunya lorong Lagoa.

Rawa Bangkai, tempat pembuangan sampah, kuburan…. Semua daerah yang disebutnya rasanya cuma kukenal lewat berita kriminal. Untungnya dia bercerita tidak dalam rangka ingin diantar pulang, melainkan sekadar menggambarkan kebiasaan-kebiasaannya kalau berpergian malam hari seperti itu.

Dari kutipan tersebut, sangat jelas bahwa tokoh ”aku” menggambarkan adanya tempat-tempat lokasi pembunuhan di kota utara. Dengan kata lain, tokoh ”aku” mengakui bahwa kota bukanlah tempat yang aman, apalagi di malam hari. Namun sayang, Bre Redana, di dalam cerpen ini tidak menyinggung sedikit pun tentang desa atau menggambarkan dengan jelas bahwa desa lebih aman dibandingkan kota.

Tidak berbeda dengan cerpen Bre Redana, Kwon Taeung sebagai pengarang cerpen ”Wanita dari Ahyondong” juga tidak menceritakan desa. Dia hanya menceritakan kota tempat tinggalnya sedang dilanda perang sehingga banyak yang mengungsi ke daerah-daerah yang aman, sedangkan dia tetap tinggal di kota itu. Diceritakan pula, pemboman dan penyerangan dilakukan di gedung-gedung dan gang-gang di dalam kota. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya kota yang tokoh ”aku” tempati sekarang tidaklah aman.

Sentimentalisme. Ciri bahwa karya sastra itu terdapat sifat sentimentalisme adalah adanya linangan airmata menandakan sebuah kesedihan atau kebahagiaan. Di dalam cerpen ”Wanita yang Ditelan Malam” sama sekali tidak ada sifat sentimentalisme di dalamnya. Tokoh ”aku” hanya merasa sendiri tanpa menunjukkan ekspresi yang lebih dari itu. Tidak ada tangisan, keluhan, atau linangan airmata. Sedangkan dalam cerpen ”Si Bongkok dari Seoul”, beberapa kali pengarang menceritakan tokoh ”aku” menangis. Yang pertama ketika untuk pertama kalinya tokoh wanita ingin meninggalkannya, dia memohon-mohon sambil menangis. Yang kedua ketika dia melihat gubuknya yang sudah lama tidak ia temui, ia katakan bahwa ia hampir menangis.

Dengan berlinangan airmata aku memohon padanya untuk tinggal denganku, kalaupun tidak untuk selamanya, paling tidak selama masa perang. Aku tidak dapat menahan beban kesepian ditinggalkan wanita dari Ahyondong.

Hal ini menandakan perbedaan tokoh ”aku” pada masing-masing cerpen. Tokoh ”aku” dalam cerpen ”Si Bongkok dari Seoul” nampaknya sangat sentimental. Hanya karena persoalan wanita, dia menangis. Padahal, di dalam kehidupan ada istilah ”Pria tidak menangis”. Kwon Taeung sepertinya memang ingin menggambarkan sosok ”aku” yang diciptakan dengan tubuh bongkok dan itu membuatnya menjadi sentimental dalam menjalani kehidupan. Dia merasa bahwa tidak ada wanita lain yang mau hidup dengan dirinya selain wanita dari Ahyondong itu.

Individualisme dan Eksotisme. Pada kedua cerpen, digambarkan bahwa tokoh ”aku” adalah sosok yang hidup mandiri, seorang diri, dan bersifat individualisme. Namun, sifat eksotisme yang menceritakan sesuatu yang irrasional tidak digambarkan di dalam kedua cerpen tersebut.

  1. 5. Penutup

Romantisisme berawal dari sebuah aliran seni yang menempatkan perasaan manusia sebagai unsur yang paling dominan. Karena cinta bersumber dari perasaan manusia sehingga romantisisme diidentikan dengan percintaan. Padahal tidak semua karya romantisisme yang bernaung pada cinta. Noyes (1967: xxi-xxii) menyebutkan bahwa sedikitnya ada enam ciri yang muncul dari karya-karya romantisisme, yaitu kembali ke alam, melankolinisme atau kemurungan, primitivisme, sentimentalisme, individualisme, dan eksotisme.

Di dalam karya sastra terdapat unsur-unsur romantisisme di dalamnya, meskipun tidak semua unsur ada di dalamnya. Di dalam cerpen yang ditulis oleh pengarang Indonesia, Bre Redana, dengan judul cerpen “Wanita yang Ditelan Malam”, dari keenam ciri Noyes, tidak ditemukan ciri-ciri sentimentalisme dan eksotisme. Namun, dari analisis yang telah dilakukan, cerpen tersebut dapat dikategorikan sebagai karya sastra romantisisme. Cerpen tersebut memenuhi empat ciri dari sastra romantisisme.

Pada cerpen yang ditulis oleh penulis Korea, Kwon Taeung, dengan judul “Si Bongkok dari Seoul”, lebih banyak ciri-ciri sastra romantisisme di dalamnya. Hanya saja unsur eksotisme juga tidak ditemukan di dalam cerpen tersebut. Kejadian pada kedua cerpen masih rasional dan tidak ada pemikiran yang berada di luar batas kemampuan manusia. Dari analisis yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa romantisisme yang dianut oleh sastrawan Korea dan sastrawan Indonesia, masih di dalam ruang lingkup yang sama.

 

Daftar Pustaka

Kwon Taeung. 1996. “Si Bongkok dari Seoul” dalam Pertemuan Kumpulan Cerpen Korea Selepas Perang. Jakarta: Pustaka Jaya.

Redana, Bre. 1999. ”Wanita yang Ditelan Malam” dalam kumpulan cerpen Dua Tengkorak Kepala Cerpen Pilihan Kompas 2000. Jakarta: Penerbit Harian Kompas.

Warastuti, Lisda. 2007. ”Unsur-Unsur Romantisisme dalam Karya Yanusa Nugroho: Analisis atas Kumpulan Cerpen Bulan Bugil Bulat”. Skripsi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sumber Internet:

Mahayana, Maman S. 2008. ”Membaca Panorama Cerpen Korea”. http://mahayana-mahadewa.com/?p=627 (diunduh pada tanggal 27 Mei 2009 pukul 22.26 WIB).

Romantisisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Romantisisme (diunduh pada tanggal 28 Mei 2009 pukul 03.08 WIB).

Read Full Post »

oleh Ratih Dewi

Afrizal Malna (goodreads.com)

Afrizal Malna (goodreads.com)

1. Pendahuluan
Sastra bandingan (comparative literature) dalam banyak rumusan atau definisi, umumnya menekankan perbandingan dua karya atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda . Jost dalam membagi-bagi pendekatan dalam sastra bandingan menjadi empat bidang, yakni 1.pengaruh dan analogi, 2. gerakan dan kecenderungan, 3. genre dan bentuk, dan 4. motif, tipe, dan tema . Akan tetapi, dari segi apa pun memandang masalahnya, bisa saja lebih menciut lagi kajiannya, yakni meneliti kemiripan dalam bahasa atau struktur .

Gaya bahasa yang digunakan oleh setiap penulis atau penutur bahasa berbeda-beda. Gaya bahasa merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis . Pada umumnya, perbedaan ini merupakan ciri khas tertentu bagi seorang penulis atau penutur. Sebagai contoh, dalam sebuah puisi, gaya penulisan menekankan unsur yang berkaitan dengan fungsi dalam teks itu sendiri. Gaya bahasa sebuah teks puisi ditentukan oleh maksud ataupun tujuan si penulis yang membuat puisi tersebut. Selain itu, unsur kebiasaan seorang penulis serta unsur kedaerahan juga dapat mempengaruhi gaya bahasa seorang penulis puisi. Dalam kesempatan kali ini, penulis akan membahas kemiripan gaya bahasa puisi-puisi Afrizal Malna dengan James Tate.

Afrizal Malna yang dilahirkan di Jakarta, 7 Juni 1957 merupakan penyair dan esais yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam sastra Indonesia. Sudah banyak karyanya yang diterbitkan, antara lain antologi puisi Abad yang Berlari (1984), Yang Berdiam dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Kalung dari Teman (1999), dan Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2002). Kegelisahan dalam pencarian jati diri Malna banyak dituangkan dalam Abad yang Berlari, sedangkan dalam Yang Berdiam dalam Mikropon, ia semakin kokoh memantapkan diri dengan meluaskan tema puisinya pada tema sosial politik. Pandangan dan pemikirannya tentang realitas sosial—seringkali dari kacamata filsafat—mewarnai puisinya dalam karya-karya selanjutnya, terlebih pada karya terbarunya, yaitu Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing.

james tate (famouspoetsandpoems.com)

james tate (famouspoetsandpoems.com)

Adapun James Tate lahir pada tahun 1943 di Kansas City, Amerika. Tahun 1967 ia menjadi juara pertama dalam Yale Younger Poets Competition dan menerbitkan antologi puisi pertamanya berjudul The Lost Pilot. Kemunculan Tate di akhir ’60-an bersamaan dengan merebaknya paham postmodernisme di Amerika, terutama yang berkenaan dengan manifesto dalam pop art (seni pop) yang mempertanyakan hakikat seni tinggi dan seni rendah . Oleh karena itu, tren yang berkembang ketika itu, neo surealisme, absurd, dan dadaisme, mempengaruhi karya-karya Tate—seorang penyair muda yang liar, imajinatif, dan intuitif untuk membebaskan bahasa dari sistem ketatabahasaan konvensional. Sejak 1970, Tate menjadi dosen sastra di Universitas Massachusetts di Amhert.

2. Gaya Bahasa dalam Puisi Malna dan Tate

Sebelum membahas gaya bahasa dalam puisi Malna dan Tate, berikut ini adalah dua contoh puisi tiap-tiap penyair.

Restoran dari Bahasa Asing

Aku dengar batu dilemparkan ke ruang tamu. Paru-paru penuh sapi, mencari jalan raya dan megapon. Tak ada orang sikat gigi malam itu, atau menyisir rambut, seperti dugaanmu penuh batu dari masa lalu. Mulutku penuh lendir, virus stadium lima, menyusun biografimu dari sepatu. Seperti pikiranmu yang mencari tanah air selalu: penuh serdadu, kapal dagang, dan anti-biotika.

Ah, ada tamu yang lain, bikin restoran dari bahasa asing. Mereka saling menggosok sepatu di tiang listrik. Padahal aku telah jadi dirimu juga, ikut bernyanyi pula lagu-l;agu sendu, dengan baju sertaus ribu. Mengenakan juga gaya hidup Ani, di antara Sri dan Ayu: Fajar yang tenggeleam dalam tubuhmu. Di situ aku dengar bahasa tak henti-henti jadi orang asing, penuh lemari, kursi, gas dan minyak.

Aduh, udara penuh cemburu, tali sepatu, kaos kaki, obrolan tiga ribu perak. Tetapi aku dengar kepalamu berevolusi jadi jamur, jadi batu, jadi kamar mandi di malam hari. Ah, koran pagi, terasa jadi tiang listrik di situ, untuk pernytaan politik, tiga ribu perak.

Udara penuh hair spray, virus terluka. Aiih, mari, jangan sombong. Kepalamu penuih batu, menghuni ruang tamu tak terjaga. (1991)

The Wheelchair Butterfly

O Sleepy City of reeling wheelchairs
Where a mouse can commit suicide if he can

Concentrate long enough
On the history book of rodents
In this underground town

Of electrical wheelchairs!
The girl who is always pregnant and bruised
Like a pear

Rides her many-stickered bicycle
Backward up the staircase
Of the abandoned trolleybarn.

Yesterday was warm. Today a butterfly froze
In midair; and was plucked like a grape
By a child who swore he could take care

Of it. O confident city where
The seeds of poppies pass carfare.

Where the ordinary hernots in a human’s heart
May slumber and snore, where bifocals bulge

In an orange garage of daydreams,
We wait in our loose attics for a new season

As if for an ice-cream truck.
An indian pony crosses the plains.

Whispering Sanskrit prayers to a crater of fleas.
Honeysuckle says: I thought I could swim.

The Mayor is urinating on the wrong side
Of the street! A dandelion sends off sparks:
Beware your hair is locked!

Beware the trumpet wants a glass of water!
Beware a velvet tabernacle!
Beware the warden of light has married
An old piece of string!

Jam Kerja Telepon

Ini bicara dengan Merlin. Saya Merlin. Tetapi Merlin tak ada di mana-mana. Merlin sedang jadi bintang. Merlin sedang jadi bintang. Saya ciptakan orang-orang dari obat tidur. Tetapi suaramu parau, Merlin. Saya menelanjangi diri sendiri, seperti menelanjangi dunia yang minta saya jadi Merlin.

Tetapi Merlin tak ada dimana-mana, seperti dunia tak ada di mana-mana, seperti orang tak ada di mana-mana. Merlin telah jadi pamflet dari keinginan jadi manusia. Tolong sambungkan saya dengan dunia mana pun, Merlin. Saya Merlin. Tetapi Merlin tak ada di mana-mana, Tidur. Kau menangis, Merlin. Saya menyaksikan orang-orang lahir dari telepon. Mereka memaksa saya jadi Merlin. Mereka memaksa saya jadi merlin. Dan saya meneguknya dalam putaran: Pil!

Saya mencium bau busuk dari telepon. Saya kehilangan kontak. Saya tercekik. Saya bukan Merlin. Merlin telah jadi ibu, Merlin telah jadi ibu, dalam TV-TV merah kuning hijau biru dan sepi. (1986)

Breathing

I hear something coming,
Something like a motor-cycle,
Something horrible with pistons awry,
With camshafts about to fill the air
With redhot razot-y shrapnel.
At the window, I see nothing.
Correction: I see two girls.

Playing tennis, they have no
Voices, only the muted thump
Of the ball kissing the racket,
The souns of a snowball
Hitting a snowman, the sound

Of a snowman’s head rolling
Into a river, a snowman with
An alarm clock for a heart
Deep inside him. Listen:
Someone is bearthing.

Someone has a problem
Breathing. Someone is blowing
Somoke through a straw.
Someone has stopped breathing.
Amazing. Someone broke
His wrist this morning,
Broke it into powder.
He did it intentionally.
He had an accident

While breathing.
He was exhaling
When his wrist broke.
Actually

It’s a woman breathing.
She’s not even thinking
About it. Shes’s thinking
About something else.

Setelah membaca keempat puisi di atas, ada beberapa keunikan dalam pengeksplorasian bahasa dari kedua penyair, Malna dan Tate, yaitu 1. penggunaan simbolisasi yang tidak umum, 2. permainan logika, 3. pengalihan fungsi kata dalam kalimat, 4. pembentukan personifikasi kebendaan, dan 5. penggunaan sinestesia yang khas.

3. Malna dan Tate: Puisi Konkret Bertema Absurd
Para pengamat sastra, seringkali mengkategorikan jenis puisi Malna dan Tate ini sebagai salah satu contoh dari puisi konkret. Pada hakikatnya, sesuatu yang disebut ‘konkret’ dalam karya sastra merupakan pemahaman yang berbeda, sesuatu yang nyata, dan terkadang tidak dapat dituliskan. Benson dan Connly dalam Encyclopedia of Post-Colonial Literatures in English mendefinisikan puisi konkret sebagai puisi yang mementingkan bentuk grafis dari huruf, kata, atau simbol daripada makna kata dalam ketentuan konvensional . Kemunculan puisi konkret yang marak tahun ’60-an terinspirasi dari gerakan Dadaisme dan Surealisme.

Menurut Benson dan Connloy, puisi konkret seringkali tidak dapat dibaca dan esensinya berada pada penampakan wujudnya di atas kertas, bukan dari kata-kata atau susunan unit tipografi (seperti huruf atau simbol) yang membentuknya . Nyoman Tusthi Eddy, juga mengartikan puisi konkret sebagai puisi yang lebih menonjolkan bentuk visualnya dibandingkan ungkapan verbalnya . Menurutnya, tipografi atau tatanan bentuk dalam puisi konkret diatur dengan cermat sehingga menarik untuk dilihat.

Sebaliknya, jika kita melihat lagi puisi-puisi Malna dan Tate, di atas kertas tidak ada tipografi atau susunan huruf, kata, dan simbol yang menonjolkan visualisasi. Namun demikian, tipografi dan visualisasi itu terbayang di benak kita, misalnya ketika kita membaca “mulutku penuh lendir, virus stadium lima…” atau “in an orange garage of daydreams…”. Oleh karena itu, pemahaman tentang puisi konkret harus lebih diperluas lagi, tak sekadar tipografi atau visualisasi di atas kertas, tetapi juga dalam pikiran pembaca.

Di samping hakikatnya sebagai puisi konkret, ada kesan keabsurdan dalam puisi-puisi Malna dan Tate. Menurut Esslin, karya-karya absurd mencoba menggambarkan perihal kehidupan dunia sebagai tempat yang tidak terpahami . Dari masalah ini, kemudian muncul hal-hal yang tidak masuk akal, menentang konvensi, keluar dari harmoni, tidak konsisten, dan lain sebagainya.

Sementara itu, untuk memahami puisi Malna dan Tate, pembaca harus belajar melihat puisi-puisi tersebut berdasarkan objeknya—teks itu sendiri—bukan refleksi atau representasi atas sesuatu yang lain. Bahasa memang bersifat referensial, tetapi Malna dan Tate mendesak pembaca untuk memutarbalikkan anggapan tentang referensialitas. Ketika kita membaca, sebagai contoh dalam puisi Tate, “sleepy city of reeling wheelchairs”, kita mengerti bahwa kota yang dimaksud bukanlah definisi kota yang kita pahami, tetapi bentuk metafora baru—ada semacam reinterpretasi di dalamnya.

Contoh lain dalam puisi Malna, “paru-paru penuh sapi, mencari jalan raya dan megapon”, sekilas tampak tidak masuk akal dan apabila kita bersikeras untuk mencari hubungan antar kata dalam kalimat itu, kita akan merasa frustasi. Akan tetapi, rasa frustasi itulah yang membuat puisi-puisi itu menjadi lebih ‘bermakna’ dengan penggunaan bahasa imajinatif, yang melepaskan kita dari ‘kententuan-ketentuan konvensional’ tentang bahasa dan makna.

Hal-hal yang terjadi saat kita membaca puisi-puisi kedua penyair itu seringkali terasa absurd dan konkret. Ketika membaca puisi, biasanya kita akan membayangkan dan merasakan sesuatu yang jelas, entah kebahagiaan entah kemuraman. Namun, puisi Malna dan Tate menghadirkan sesuatu yang lain—kebingungan dan keanehan, terkadang kesia-siaan.

Hal ini mengingatkan kita pada tema keabsurdan dalam prosa dan drama karya Putu Wijaya atau Waiting for Godot karya Samuel Beckett. Puisi adalah ungkapan rasa spontanitas dari penulisnya, sehingga dapat mengejutkan pembacanya karena merasakan hal yang sama dengan penulisnya. Itulah yang terjadi ketika kita membaca karya-karya Malna dan Tate.

Daftar Pustaka

Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar dalam Memahami Bahasa Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.

Aveling, Harry, terj. Wikan Satriati. 2003. Rahasia Membutuhkan Kata. Magelang: Indonesiatera.

Benson, Eugene, L.W. Conolly. 1994. Encyclopedia of Post-Colonial Literatures in English. London & New York: Routledge.

Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa.

Eddy, Nyoman Tusthi. 1991. Kamus Istilah Sastra Indonesia. Ende: Nusa Indah.

Friebert, Stuart, David Young. 1989. The Longman Anthology of Contemporary American Poetry. New York & London: Longman.

Kostelanetz, Richard, ed. 1964. Contemporary Literature. New York: Avon Books.

Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening.

Malna, Afrizal. 1990. Kumpulan Puisi: Yang Berdiam dalam Mikropon. Jakarta: Medan Sastra Indonesia.

——————. 1995. Kumpulan Puisi: Arsitektur Hujan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Read Full Post »

Cara Pengarang Menyampaikan Ajarannya:

Perbandingan antara Arswendo Atmowiloto dengan Judy Blume

oleh Melody Violine

Since children’s literature is didactic it must by definition be a repository, in a literate society almost the quintessential source, of the values that parents and others hope to teach to the next generation (Musgrave dalam Hunt, ed., 1992: 30).

Bacaan anak memang tidak bisa lepas dari keinginan pengarangnya untuk mengajarkan sesuatu pada anak-anak yang membacanya. Keinginan ini terutama didorong oleh pendapat orang dewasa kalau anak-anak perlu dibekali berbagai macam wejangan atau ajaran supaya menjadi orang yang “benar” nantinya.

Ajaran yang juga berarti nasihat, petuah, dan petunjuk inilah yang menjadi simalakama bagi pengarang. Keinginan pengarang supaya ajarannya dapat tersampaikan pada anak-anak (pembaca) dengan jelas terbentur pada kecenderungan anak-anak yang tidak suka dinasihati terus-terusan. Bacaan anak yang terlalu tersurat ajarannya akan menimbulkan kesan menggurui sehingga anak-anak gerah dan malas membacanya. Akan tetapi, bila ajaran itu disampaikan secara tersirat, timbul kekhawatiran kalau anak-anak tidak dapat menangkapnya.

Seperti kata Prakoso B. Putera S., biarkan anak-anak mendapatkan langsung nilai-nilai yang bermutu dalam bacaan[1]. Oleh karena itu, pengarang bacaan anak membutuhkan cara penyampaian ajaran yang baik dalam karya-karyanya. Ajaran pengarang sebaiknya “dibungkus” dengan hati-hati dalam alur cerita, dialog, dan tingkah laku tokoh-tokohnya. Akan tetapi, “bungkus” ini jangan sampai menyesatkan anak-anak.

Dalam tulisan ini, penulis mengangkat Arswendo Atmowiloto sebagai wakil dari pengarang bacaan anak lokal. Karya-karya beliau yang dikaji dalam tulisan ini adalah Dewa Mabuk dan Keluarga Cemara: Becak Emak. Pengarang bacaan anak luar negeri yang penulis angkat adalah Judy Blume dengan KISAH ANAK KELAS EMPAT (Tales of a Fourth Grade Nothing), SUPERFUDGE, dan Si Gembrot (Blubber).

Penulis tidak bermaksud menunjukkan mana yang lebih baik di antara kedua pengarang tersebut. Penulis hanya ingin membandingkan mereka dengan melihat bagaimana cara mereka “membungkus” ajaran-ajaran mereka dalam karya-karya mereka.

Arswendo Atmowiloto

Tokoh Ayah dalam Dewa Mabuk dan tokoh Abah dalam Keluarga Cemara merupakan sosok yang disegani oleh anak-anak mereka. Kata-kata keduanya tidak bisa ditawar oleh anak-anak mereka. Nasihat-nasihat pun lebih banyak keluar dari ucapan mereka dibandingkan dengan istri-istri mereka, Ibu dan Emak.

Ayah adalah seorang ayah yang keras sedangkan Abah kebalikannya. Nasihat Abah biasanya menjadi peleraian sebuah masalah sedangkan nasihat Ayah menjelaskan apa yang membuatnya marah sehingga menghukum anak-anaknya.

“Larangan itu untuk keselamatanmu sendiri. Dan bukan sekedar menghalangi kegembiraan.” (Atmowiloto, 1981: 10)

Abah yang sedang membetulkan rantai becak yang putus, tak bisa menahan haru. “Kita tidak perlu menyalahkan sepatu kiri yang meletot. Juga tak perlu menyalahkan kenapa kalau sekolah harus pakai sepatu. Kita tak perlu menyalahkan siapa-siapa…” (Atmowiloto, 2001: 13)

Keluarga Cemara: Becak Emak sebenarnya merupakan kumpulan cerita bersambung yang pernah dimuat di majalah anak INA. Pada akhir cerita, Arswendo kadang memberi umpan balik pada anak-anak untuk merenungi apa yang baru saja terjadi dalam ceritanya. Misalnya, pada akhir cerita “Impian Baru”, Arswendo menuntun anak-anak untuk merenungi perbedaan di antara Ara dan Pipin, teman sekelas Ara yang kaya dan manja.

Membandingkan Ara dengan Pipin, siapa sebenarnya yang lebih bahagia dan berpengharapan? Apakah Ara yang bermimpi memiliki sepatu baru, atau Pipin yang tak sempat bermimpi karena segala telah ada, telah tersedia? (Atmowiloto, 2001: 25)

Dalam Dewa Mabuk, Arswendo mencoba menjelaskan pada anak-anak kalau orang tua menghukum anak-anak demi kebaikan mereka sendiri. Hukuman itu juga bukanlah sesuatu yang mengerikan dan dijatuhkan tanpa perasaan dan tanpa keadilan. Cara Arswendo melakukan hal ini adalah dengan membuat Arimbi, tokoh utama Dewa Mabuk, bertanya-tanya pada Ibu dan kakaknya tentang Ayah yang suka marah dan memberi hukuman.

“Tidak melelahkan?”

“Malah nanti Ibu akan memberi makanan yang lebih enak.”

“Ya, tetapi…”

“Tak ada tetapinya. Membersihkan sebentar. Sudah itu Ayah kan tidak marah. Malah biasanya menjadi lebih baik. Bisa minta uang buat jajan.” (Atmowiloto, 1981: 17)

Arswendo juga memberi tahu kalau orang tua tidak akan marah akan kesalahan yang anak-anak tidak sengaja perbuat. Orang tua menegur dan mengingatkan supaya anak-anak lebih hati-hati sebagai wujud rasa sayangnya terhadap anak-anak mereka.

Ya, ayah tak menghukumku karena ini tidak disengaja. Hanya berpesan supaya lebih hati-hati. Karena bola lampu yang pecah bisa berbahaya, jika mengenai bagian tubuh (Atmowiloto, 1981: 13).

Arswendo juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti kekeluargaan, kejujuran, kebaikan, kesetiakawanan, dan keteguhan hati. Nilai-nilai ini selain disampaikan secara analitis, disampaikan pula secara dramatis.

“Di dunia ini masih ada orang jujur. Dan kejujuranlah yang menyelamatkan kita dari kehancuran total. Mulai sekarang, kita hidup dengan modal yang tak bisa habis: kejujuran.” (Atmowiloto, 2001: 8)

Kesetiakawanan yang kuat tampak pada hubungan antara Ara dengan Kae. Ara mencatatkan pelajaran di sekolah untuk Kae yang sudah lama tidak masuk sekolah. Kae tetap keluar dari sekolah karena akan pindah bersama ibunya. Malam sebelum kepindahannya, Kae memberikan seragamnya pada Ara. Pemberian-pemberian tulus antara kedua sahabat ini dapat membersitkan dalam hati anak-anak betapa indahnya persahabatan sejati.

Dalam perjalanan berangkat ke reuni SMA Emak, angkot yang ditumpangi Keluarga Cemara menemukan seorang korban tabrak lari. Abah membawanya ke rumah sakit sehingga mereka tidak jadi ke reuni. Tindakan Abah ini justru menyelamatkan keluarganya karena angkot lain yang meneruskan perjalanan ke arah yang sama mengalami kecelakaan. Melalui rangkaian kejadian ini, Arswendo mengajarkan pada anak-anak kalau tidak ada kebaikan yang sia-sia dan selalu ada hikmah dari setiap peristiwa.

Tokoh identifikasi adalah tokoh yang digunakan atau dipilih seseorang untuk secara tak sadar ia bayangkan sebagai dirinya sendiri. Ketika membaca buku cerita, anak-anak akan mengidentifikasi tokoh-tokoh anak-anak dalam buku tersebut. Dengan ditemukannya kemungkinan identifikasi, maka si anak akan memperoleh semacam pedoman untuk tingkah lakunya[2].

Tokoh-tokoh dalam Dewa Mabuk (Arimbi, Bonang, Soni, dan Pram) adalah anak-anak yang bertingkah laku wajar dan sering kita temukan di kehidupan sehari-hari. Anak-anak dapat dengan mudah mengidentifikasikan diri dengan tokoh-tokoh tersebut. Perkembangan sikap dan pandangan tokoh-tokoh tersebut mendorong anak-anak untuk mengubah sikap dan pandangan mereka sendiri. Contohnya, perubahan sikap dan pandangan Arimbi, Bonang, dan Soni terhadap paman yang dijuluki Dewa Mabuk oleh orang-orang sekitar mereka dapat mendorong anak-anak untuk lebih kritis dalam menilai orang lain.

Tokoh-tokoh dalam Keluarga Cemara (Euis, Ara, dan Agil) adalah anak-anak yang baik budi. Anak-anak seperti ini memang ada tapi jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka adalah tokoh-tokoh yang sengaja diciptakan untuk mendorong anak-anak (pembaca) berbuat baik.

Sayangnya, sebelum cerita Dewa Mabuk dimulai, terdapat penjelasan tentang pesan moral yang dikandung dalam novel ini. Tidak ada keterangan kalau penjelasan itu dibuat oleh pengarang atau penerbit. Penjelasan ini mungkin dibuat supaya anak-anak tidak salah tafsir terhadap Dewa Mabuk. Akan tetapi, penjelasan ini juga dapat membatasi anak-anak dalam menangkap dan menafsirkan sendiri apa-apa saja yang ingin disampaikan oleh Arswendo Atmowiloto dalam novel ini.

Dalam cerita ini, anak-anak dididik supaya lebih kritis, bahwa seseorang yang dikatakan tidak baik, belum tentu tidak baik, dan seorang yang dikatakan baik, belum tentu pula orang yang baik tanpa menyelidiki dan membuktikannya terlebih dahulu (Atmowiloto, 1981: 3).

Judy Blume

Judy Blume menggunakan sudut pandang akuan dalam ketiga karyanya, KISAH ANAK KELAS EMPAT, SUPERFUDGE, dan Si Gembrot. Tokoh utama dalam Si Gembrot adalah Jill Brenner yang duduk di kelas lima SD. Seperti yang tercantum dalam judul novelnya, Peter Hatcher masih duduk di kelas empat dalam KISAH ANAK KELAS EMPAT. Di novel kelanjutannya, Peter Hatcher sudah duduk di kelas enam. Dengan demikian, novel-novel ini berisikan ajaran-ajaran Judy Blume kepada anak-anak antara kelas empat sampai enam SD.

KISAH ANAK KELAS EMPAT dan SUPERFUDGE bercerita tentang kejadian-kejadian yang menimpa Peter sehubungan dengan keluarga dan teman-temannya. Adik Peter, Fudge, adalah masalah terbesar dalam hidup Peter. Tidak jarang ada anak yang berkata kalau ia membenci saudaranya sendiri. Judy Blume berusaha menjelaskan kalau kebencian itu hanya timbul di saat anak-anak emosional.

“Tidak adil! Aku harap ia sama sekali tak pernah lahir. Sama sekali! Aku benci!”

“Kamu tidak benci kepadanya,” kata Ibu. “Itu hanya pendapatmu saja.”

“Tidak,” kataku. “Aku sungguh-sungguh. Aku tak tahan dengan bocah itu!”

“Kamu marah,” kata Ibu kepadaku. “Ibu tahu dan Ibu tak menyalahkanmu.” (Blume, 1993: 97)

Dalam KISAH ANAK KELAS EMPAT, Judy Blume juga memberi tahu anak-anak kalau orang tua sewaktu-waktu bisa melakukan kesalahan. Fudge jatuh dari jungle gym. Ibu Peter memarahi putra sulungnya itu karenanya. Keesokan paginya, Ibu Peter minta maaf dan mengakui kalau saat itu ia hanya melampiaskan kemarahannya pada Peter.

Saat mendapat proyek penelitian bertopik transportasi, Peter satu kelompok dengan Jimmy Fargo dan Sheila Tubman. Selama mengerjakan proyek, Sheila yang sok tahu mengatur Peter dan Jimmy seakan-akan ialah bos proyek tersebut. Judy Blume mengajarkan anak-anak kalau sikap Sheila itu tidak baik melalui reaksi Peter dan Jimmy.

“Dengar,” Jimmy membentak, “apakah tidak pernah ada yang bilang bahwa kamu terlalu sok jadi bos? Poster ini bagian kami! Kamu mengerjakan bukunya. Ingat… inilah cara yang kamu inginkan!”

“Ah… kamu lagi,” kata Sheila. “Kamu selalu lupa bahwa ini kerja kelompok. Kita seharusnya bekerja sama.”

“Kerja sama bukan berarti kamu kasih perintah dan kami yang melaksanakan,” kata Jimmy.

Tepat seperti pendapatku, pikirku (Blume, 1993: 94).

Di akhir cerita KISAH ANAK KELAS EMPAT, Fudge menelan kura-kura Peter. Kura-kura itu berhasil dihancurkan dan dikeluarkan dari perut Fudge. Ayah, Ibu, dan Nenek sangat gembira dan memanjakan Fudge habis-habisan. Peter marah dan sakit hati, terutama karena Fudge sama sekali tidak terlihat menyesal telah memakan kura-kuranya. Orang tua Peter menyadari hal ini meski Peter tidak mengatakannya terang-terangan. Mereka memberi Peter kejutan, yaitu seekor anak anjing. Tidak ada kata sayang atau cinta yang diumbar oleh Judy Blume tapi adanya kejutan ini saja sudah membuktikan betapa sayangnya orang tua Peter kepada putra sulung mereka.

“Siapa bilang kura-kura, Nak?” Ayah bertanya. “Begini, Peter, Ibu dan Ayah merasa bahwa sikapmu dalam menghadapi kejadian ini sungguh amat baik. Bagaimanapun juga, Dribble kan kepunyaanmu.” (Blume, 1993: 148)

Dalam SUPERFUDGE, Peter marah dan mencoba untuk minggat dua kali, yaitu ketika orang tuanya mengabarkan kalau mereka akan punya bayi lagi dan kalau mereka sekeluarga akan pindah. Peter protes pada orang tuanya dan mengingatkan mereka betapa gawat arti perubahan itu baginya: lingkungan baru, teman-teman baru, sekolah baru—bersama Fudge! Orang tua Peter berusaha membujuk dan menanggapi kata-kata Peter yang meledak-ledak dengan lembut.

“Peter, Sayang…,” kata Ibu. “Kau tak bisa lari tiap mendengar sesuatu yang kau anggap tak kausukai.” (Blume, 1994: 46)

Ajaran Judy Blume dalam kasus ini adalah anak-anak tidak perlu takut menghadapi perubahan. Lambat laun kita akan terbiasa dengan perubahan itu seperti Peter yang lama-lama terbiasa dengan adik barunya, Tootsie.

Lewat kata-kata Peter, Judy Blume berpesan kalau sebenarnya tidak baik mengelabui anak kecil tentang keberadaan Santa Klaus. Bahkan, bisa jadi anak-anak itu, seperti Fudge, sudah tahu kalau Santa Klaus hanya gagasan dan mereka cuma berpura-pura percaya dan antusias pada cerita-cerita yang dikarang orang tua mereka.

Ketika aku pulang siang itu, aku mendesak Ibu. “Menurutku tidak baik bila Ibu membiarkannya percaya Santa Klaus. Ia akan berpikir bisa mendapat apa saja yang diinginkannya hanya denga meminta. Ia tidak tahu apa-apa tentang orang-orang yang tak mampu beli hadiah.” (Blume, 1994: 164)

Si Gembrot bercerita tentang masalah yang lebih pelik di sekitar anak-anak SD di Amerika Serikat. Jill terseret dalam “permainan” yang dibuat Wendy untuk mengerjai Linda. Setelah Jill menyelamatkan Linda dari “pengadilan” yang dibuat Wendy, Jill dikerjai Wendy habis-habisan. Jill menyadari kalau ia kualat karena telah ikut mengata-ngatai Linda sebelumnya.

Secara tersirat, Judy Blume mengajarkan pada anak-anak untuk berempati pada orang lain. Anak-anak yang suka mengerjai anak lain seharusnya memikirkan perasaan anak yang mereka kerjai itu dan bagaimana seandainya mereka yang berada di posisinya.

Kenakalan Wendy dan kroni-kroninya terhadap Linda mendominasi cerita Si Gembrot. Wendy memaksa Linda menghina dirinya sendiri, mengangkat rok Linda di depan anak laki-laki, dan lain-lain. Judy Blume tidak dengan tegas mengatakan kalau perbuatan ini tidak baik sehingga dikhawatirkan malah akan dicontoh oleh anak-anak yang membacanya. Penulis membeli buku ini dari toko buku bekas dan menemukan pesan dari pemilik sebelumnya: Bukan cerita yang baik! Tidak disarankan kalian membacanya… (ZF. Jamil).

Saat Jill dijadikan bulan-bulanan oleh teman-temannya, ia berusaha mengikuti nasihat ibunya dengan tertawa supaya ia terlihat tidak peduli. Teman-temannya malah makin menjadi-jadi. Puncaknya, Wendy menyuruh Caroline memegangi Jill supaya ia bisa “mencopot popoknya yang bau”. Jill tidak seperti Linda yang ketika menghadapi hal yang sama hanya bisa berteriak-teriak tidak berdaya. Jill menyadarkan Caroline kalau Wendy hanya memperalatnya. Caroline meninggalkan Wendy. Setelah itu, Wendy berhenti mengerjai Jill. Jill pun mulai berteman dengan Rochelle.

Kadang-kadang memang kita harus berani memulai sendiri; kalau tidak, kita akan bernasib sama dengan Linda, yang membiarkan orang lain menentukan apa yang akan terjadi pada dirinya (Blume, 1995: 170).

Jill mengucapkan hal itu dalam hatinya sebelum duduk dengan Rochelle untuk pertama kalinya. Judy Blume menggambarkan Linda duduk sendiri dan tidak atau takut berusaha mendekati anak lain untuk menjadi teman makan siangnya. Melalui Jill dan Linda, Judy Blume mengajarkan anak-anak kalau nasib kita ditentukan oleh diri kita sendiri.

Tokoh-tokoh anak-anak dalam karya-karya Judy Blume adalah anak-anak yang biasa ditemukan di Amerika Serikat, sesuai dengan latar belakang cerita dan pengarangnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak menghalangi anak-anak yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda untuk memahami dan menangkap ajaran-ajaran yang terdapat dalam karya-karya Judy Blume. Masalah-masalah yang disajikan Judy Blume adalah masalah yang lazim dihadapi anak-anak meskipun, khususnya masalah dalam Si Gembrot, takarannya berbeda.

Kesimpulan

Dalam menyampaikan ajarannya, Arswendo Atmowiloto dan Judy Blume sama-sama tidak menimbulkan kesan menggurui. Arswendo “membungkus” ajaran-ajarannya dengan “plastik bening”. Beliau menuntun, bahkan kerap kali memberi tahu anak-anak pada apa yang dianggap baik tapi, seperti halnya Judy Blume, Arswendo tidak mengecam anak-anak dengan kata-kata seperti “harus” dan “jangan”. Nasihat-nasihat Arswendo berada pada tempat sewajarnya dan tidak mengganggu kenyamanan membaca. Rangkaian peristiwa dalam cerita-cerita karangan Arswendo dapat menyentuh hati anak-anak untuk ikut berbuat kebaikan. Selain itu, Arswendo memilih jalan yang aman dengan menampilkan tokoh-tokoh yang baik budi dalam Keluarga Cemara.

Ajaran-ajaran dalam karya-karya Judy Blume lebih tersirat bila dibandingkan dengan karya-karya Arswendo Atmowiloto. Blume “membungkus” ajaran-ajarannya dengan “kertas warna-warni”. Cerita bergulir dengan cepat, tanpa tuntunan maupun umpan balik. Anak-anak harus menangkap sendiri pesan yang “dibungkus” dalam novel-novelnya melalui tingkah laku para tokoh dan sebab-akibatnya. Judy Blume juga lebih berani menampilkan tokoh anak nakal. Sayangnya, Judy Blume kurang memberi batasan yang jelas dalam Si Gembrot sehingga dikhawatirkan akan menyesatkan anak-anak yang membaca novel ini tanpa pengawasan orang tuanya.

Daftar Pustaka

Atmowiloto, Arswendo. 1981. Dewa Mabuk. Jakarta: PT Gramedia.

————-. 2001. Keluarga Cemara: Becak Emak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Blume, Judy. 1993. KISAH ANAK KELAS EMPAT. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

————-. 1994. SUPERFUDGE. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

————-. 1995. Si Gembrot. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Hollindale, Peter. 1992. “Ideology and The Children’s Book” dalam Literature for Children, ed. Peter Hunt. London: Routledge.

Noorman, Safrina. “Menjadi Pendengar Kuliah Sastra di Amerika.” Style Sheet. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/03/0803.htm

(3 Januari 2005)

Putera S., Prakoso Bhairawa. “Menuju Gerakan ‘Aku Cinta Baca’ Apresiasikan Diri Terhadap Bacaan Karangan Negeri Sendiri.” Style Sheet. http://bhairawaputera.multiply.com/tag/esai (28 Februari 2006)

Sarumpaet, Riris K. 1976. Bacaan Anak-anak. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

————-. 2002. “Pelajaran Bahasa dan Kekuatan Cerita” dalam Sastra Masuk Sekolah, ed. Riris K. Toha-Sarumpaet. Magelang: Indonesiatera.


[1] Menuju Gerakan “Aku Cinta Baca” Apresiasikan Diri Terhadap Bacaan Karangan Negeri Sendiri (http://bhairawaputera.multiply.com/tag/esai, 28 Februari 2006).

[2] Riris K. Sarumpaet, Bacaan Anak-anak (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1976), hal. 28.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

Drama-drama yang saya bandingkan tokoh-tokohnya dalam esai ini adalah Oidipus Sang Raja dan Malam Jahanam. Tokoh-tokoh utama dalam Oidipus Sang Raja adalah Oidipus, Creon, dan Jocasta. Tokoh-tokoh utama dalam Malam Jahanam adalah Mat Kontan, Paijah, dan Soleman. Saya mengambil kedua drama ini karena keduanya sama-sama drama tragedi.

Oidipus, Creon, dan Jocasta berasal dari keluarga dan lingkungan kerajaan di Yunani belasan abad silam. Mat Kontan, Soleman, dan Paijah berasal dari lingkungan nelayan miskin di Indonesia pada tahun 1950-an. Perbedaan ini terlihat jelas dari ragam bahasa dan cara mereka bertutur kata, tata krama, dan pengaruh mereka terhadap masyarakat.

Oidipus saya bandingkan dengan Mat Kontan karena mereka sama-sama tokoh utama yang hamartia, yaitu berada dalam kondisi yang tidak dia sadari/ketahui. Sebenarnya, lebih tepat dikatakan bahwa Oidipus murni hamartia sedangkan Mat Kontan tidak. Gara-gara dibuang sejak bayi, Oidipus tidak mengetahui asal-usulnya sebagai putra raja Thebes terdahulu. Dia bahkan menyangka raja dan ratu Corintha adalah orang tua kandungnya.

Dalam hati kecilnya, Mat Kontan sudah curiga kalau-kalau Mat Kontan Kecil bukanlah anaknya. Akan tetapi, Mat Kontan terlalu takut untuk mengakui atau bahkan sekadar memikirkannya lebih lanjut. Sebaliknya, Oidipus malah bersikeras ingin mengetahui asal-usul dirinya. Sebagai reaksi setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, Mat Kontan yang pemarah hendak membunuh Soleman sedangkan Oidipus yang mempunyai rasa keadilan tinggi menusuk matanya sendiri dan memilih untuk mengasingkan diri sebagaimana sumpahnya di awal cerita.

Creon saya bandingkan dengan Soleman karena keduanya adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya tragedi. Apabila Creon tidak menjodohkan Jocasta dengan Oidipus, ramalan Pythea tidak akan terwujud. Apabila Soleman tidak menanamkan benihnya dalam rahim Paijah, “malam jahanam” tidak akan pernah ada. Perbedaannya adalah Soleman mengakui perbuatannya (untuk menjatuhkan Mat Kontan sekaligus melampiaskan rasa irinya selama ini terhadap Mat Kontan) sedangkan Creon tidak (supaya harga dirinya tidak jatuh di mata rakyat Thebes). Di akhir cerita, Soleman yang pengecut melarikan diri karena takut terhadap amarah Mat Kontan sedangkan Creon menjadi Raja Thebes karena Oidipus mengasingkan diri dan Jocasta telah bunuh diri.

Jocasta saya bandingkan dengan Paijah karena kedua wanita ini sama-sama berada dalam keadaan terjepit dan tersiksa dengan rahasia yang mereka simpan dari suami mereka dan dari masyarakat. Mereka takut akan reaksi suami mereka dan reaksi masyarakat apabila rahasia tersebut terbongkar. Setelah rahasia terbongkar, Jocasta memilih untuk bunuh diri sedangkan Paijah tidak. Paijah tidak mungkin bunuh diri karena harus merawat anaknya yang masih bayi dan sedang sakit. Untuk kabur dari desa, Paijah belum sempat mempertimbangkannya karena Mat Kontan segera kembali padanya dan mulai memerhatikan Mat Kontan Kecil.

Kesimpulannya adalah meskipun tokoh-tokoh dalam kedua drama ini berasal dari latar belakang tempat, sosial, dan budaya yang berbeda, mereka tetap mempunyai persamaan. Mereka menempati posisi yang sama dalam drama tragedinya masing-masing. Akan tetapi, perbedaan karakter dan situasi-kondisi masing-masing tokoh menyebabkan berbedanya reaksi mereka terhadap tragedi yang terjadi.

Read Full Post »