Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sastra Lisan’ Category

oleh Nila Rahma


Aliran pop Melayu pernah populer di Indonesia pada era 1970-an dan 1980-an. Beberapa grup musik terkenal kala itu adalah Koes Plus dan Bimbo. Antara 1980-an sampai tahun 2000, pop Melayu kurang diminati masyarakat sebab saat itu lebih banyak bermunculan musikus beraliran pop.

Musik Melayu yang telah mendapat pengaruh Barat dan berkembang saat ini sering disebut sebagai musik pop Melayu. Menurut Rizaldi Siagian, pop Melayu dilabeli ‘Melayu’ untuk memberi kesan massal sehingga menjadikannya populis. Ia menjadi populer karena mampu menjangkau pasar seluas-luasnya. Hal inilah yang menjadi dasar industri, mulai dari dapur rekamannya hingga pendistribusiannya.

Sejak tahun 2008, industri musik populer di Indonesia bertambah ramai lagi dengan hadirnya grup-grup musik baru dengan warna pop Melayu. Beberapa di antaranya adalah Kangen Band, ST 12, Hijau Daun, dan Wali. Selain itu, juga ada Salju, Langit, Pudja, Vagetoz, Merpati, dan Republik. Kangen Band dengan beberapa hitnya yang cukup terkenal, seperti Menunggu, terbilang sebagai avant garde dari grup-grup musik yang mengusung pop Melayu di periode akhir-akhir ini.

Kangen Band merupakan grup musik yang dibentuk di Lampung pada tahun 2005. Meski terbilang sebagai pendatang baru, band yang personelnya terdiri dari Doddy, Andika, Tama, Lim, Nory, dan Barry itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Selain Kangen Band, ada ST 12. Band asal Bandung yang beranggotakan Pepep (drum), Pepeng (gitar) dan Charly (vokal) ini dibentuk pada 20 Januari 2005. Sejak awal kemunculannya, ST 12 mengusung karakter musik Melayu. Putuskan Saja Pacarmu (PUSPA) disusul dengan Cari Pacar Lagi menjadi pendobrak kepopuleran mereka di pasaran. ST 12 mengaku bangga menyanyikan lirik-liriknya dengan warna Melayu yang merupakan akar budaya Indonesia.

Untuk mengikuti kesuksesan para pendahulunya, Hijau Daun muncul. Grup musik ini berasal dari Lampung. Personelnya terdiri dari lima personel, Dide (vokal), Array dan Arya (gitar), Deny (drum), dan Richan (bass). Mereka mengawali karir bermusik secara profesional melalui BMG pada April 2008. Mereka mampu menarik pasar dengan lagu andalannya, Suara (Ku Berharap).

Wali turut muncul untuk meramaikan blantika musik Indonesia berwarna pop Melayu. Asalnya dari Blora, Jawa Tengah. Grup musik ini dibentuk pada tahun 2006. Anggotanya berjumlah lima orang, yaitu Faank (vokal), Apoy (gitar), Tomie (drum), Ovie (keyboard), dan Nunu (bass). Album pertamanya ialah Orang Bilang yang dirilis pada tahun 2008. Hit dalam album ini, Dik dan Cari Jodoh, mampu menyita perhatian pasar yang umumnya kalangan remaja.

Alunan mendayu dan cengkok yang berbeda menjadi khas dari musik pop Melayu. Tema cinta masih mendominasinya. Tema ini dibalut dengan masalah keseharian, seperti cinta dan perselingkuhan. Karena dibalut dengan tema yang dekat dalam keseharian remaja, lirik-liriknya sangat ringan hingga mudah dicerna. Sangat jarang terkandung kata-kata kiasan dan tidak terlalu puitis. Sebagai contoh adalah sepenggal lirik PUSPA dari ST 12, yakni Jangan, jangan, kau tak terima cintaku/ Jangan, jangan kau hiraukan pacarmu/ Putuskanlah saja pacarmu/ Lalu, bilang I love you padaku….

Konsepnya yang ringan dan mudah dicerna membuatnya dinilai sebagai musik kelas kedua. Meskipun banyak cercaan menghampiri, tak dapat dielak bahwa lagu-lagu semacam ini disukai masyarakat.

Fenomena pop Melayu muncul atas adanya epigonistik atau mental pengekor yang kental dalam masyarakat Indonesia. Saat ada sesuatu yang mampu mencapai kesuksesan, tak lama kemudian akan muncul pengekornya. Ini menjadi indikasi adanya ketidaksehatan dalam berkreativitas. Oleh karena itu, tak heran jika keseragaman mencengkeram musik di Indonesia pada tahun 2008. Fenomena ini termasuk dalam industri budaya.

Istilah industri budaya kerap digunakan untuk merujuk pada industri musik, penerbitan buku, dan produksi film. Industri budaya merefleksi penguatan pemujaan komoditas, dominasi pada pertukaran nilai, dan pengaruh monopoli kapitalisme negara. Ia mampu membentuk selera dan preferensi massa sehingga menciptakan keinginan atas kebutuhan yang semu. Para pelaku industri budaya menggabungkan ide industri budaya terhadap budaya massa. Industri budaya beroperasi dengan cara yang sama seperti industri pabrik lainnya. Semua pekerjaan dijadikan formalitas dan produk yang diciptakan berdasarkan pada prosedur standar. Semuanya dibangun hanya untuk menghasilkan uang.

Pop melayu modern dapat disebut sebagai produk industri budaya karena banyak ditemukan grup musik baru yang muncul dalam waktu tak berselang lama dan mengusung karakteristik yang sama, bertemakan cinta dan perselingkuhan. Selain itu, liriknya yang dekat dengan keseharian dan aransemen musik yang sederhana menjadi daya tarik bagi masyarakat. Musik-musik semacam ini terus-menerus direproduksi oleh industri dan dikemas dengan apik  hingga seolah-olah tampak baru, meski sebenarnya di dalamnya hanyalah keseragaman. Statisitas ini sebagai cerminan adanya penurunan kreativitas dalam musik populer di Indonesia.

Bahan Pustaka

Kariko, Abdul Aziz Turhan. 2009. Pop Melayu: Hegemoni Media Massa dalam Ranah         Musik Populer di Indonesia. Tesis tidak diterbitkan: Depok: Fakultas Ilmu           Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Wali_Band

http://kafe28.blogspot.com/2009/10/antara-kangen-band-wali-st-12-dan-hijau.html

http://selebriti.kapanlagi.com/kangen_band/

http://www.untukku.com/review-untukku/hijau-daun-band-lagu-terbaru-suara-ku-berharap-      album-ikuti-cahaya-untukku.html

Iklan

Read Full Post »

Tari Topeng Bekasi

Sosok Masyarakat Lama di dalam Diri Pak Mansyur

oleh Prima Hariyanto

Sebagian kecil masyarakat di daerah pedesaan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat merupakan masyarakat seni. Salah satu seni yang cukup populer dalam masyarakat tersebut adalah tari topeng. Tari topeng mempertontonkan seorang gadis yang menari menggunakan topeng dan juga terkadang menanggalkan topengnya. Tari yang dilakukan secara berkelompok ini diiringi dengan alat musik tradisional yang dimainkan oleh para lelaki.

bekasigaul.blogspot

bekasigaul.blogspot

Salah satu grup tari topeng yang masih bertahan tersebut adalah grup tari yang dipimpin oleh Bapak Mansyur. Selain sebagai seorang pemimpin grup tari, dia juga menjadi seorang tukang kayu. Beberapa seniman yang tergabung dalam grup tarinya tersebut, antara lain: Tuti (penari yang masih duduk di bangku SMP), Limin (pelawak cacat yang mengiringi pementasan tari topeng), Namid (seorang lelaki penabuh rebab yang sudah berumur), dan sebagainya. Menurut mereka pekerjaan sebagai seniman bukan dijadikan pekerjaan utama. Mereka bergelut dalam kesenian bukan karena penghasilan yang didapat. Namun, lebih dari itu; mereka telah mencintai kesenian warisan nenek moyang mereka. Seni sudah menjadi jiwa mereka.

Dalam tulisan ini, saya hanya akan menyoroti sosok pemimpin grup tari tersebut, yaitu Pak Mansyur. Pak Mansyur adalah seorang sesepuh yang begitu teguh memegang adat istiadat leluhurnya. Dia selalu mengadakan upacara kecil atau ritual sebelum mengadakan pementasan.

Upacara ini dilakukan dengan menggunakan beberapa sesaji dan membakar kemenyan serta benda-benda jimat. Ritual ini ditujukan untuk nylameti alat-alat musik yang akan ditabuh agar pementasan yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan.

Menurut Pak Mansyur, dia tidak dapat meninggalkan ritual ini karena alasan tertentu. Padahal lingkungan di sekelilingnya sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat yang menuju modern. Mereka, termasuk Pak Mansyur, dapat mengakses informasi dari luar. Namun, Pak Masyur tak mau ambil resiko sehingga walau bagaimana pun ia tidak akan meninggalkan upacara tersebut. Menurutnya alat-alat yang terbuat dari logam biasanya “berisi” mahluk lain. Mahluk si penunggu akan marah jika merasa terganggu sehingga sebagai imbalan manusia harus memberikan sesaji kepadanya.

Realitas mengenai Pak Mansyur di atas menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih mempercayai tahayul dan mitos-mitos yang mengikutinya. Mereka menganggap bahwa jika kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun tersebut ditinggalkan, sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi. Biasanya musibah yang tak terduga akan menimpa orang yang mengingkari kebiasaan tersebut atau pun orang-orang terdekat di sekelilingnya, bisa anak, istri, suami, atau anggota keluarga lainnya. Hal tersebut telah mengakar di hati sebagian masyarakat Indonesia.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa kejadian-kejadian aneh atau pun yang biasa saja terjadi, masyarakat kita akan menghubung-hubungkan kejadian tesebut sebagai akibat “kualat” kepada tradisi leluhur. Hal ini semakin mempertebal keimanan mereka terhadap kepercayaan-kepercayaan seperti itu. Apalagi orang yang memang sudah sejak kecil dididik dan bergaul dalam lingkungan dengan kepercayaan seperti ini, sampai dewasa ia sulit untuk meninggalkan kebiasaan tersebut dan bahkan, mungkin diwariskan kepada anak-anaknya. Contohnya adalah kebiasaan menyediakan sesaji berupa kembang telon (bunga tiga macam) pada hari Kamis Kliwon atau hari tertentu akan terus dilestarikan dan dipaksa dilaksanakan oleh orang tua kepada anaknya. Dari kecil si orang tua akan menanamkan keyakinan bahwa hal itu tidak boleh ditinggalkan.

Salah satu ciri masyarakat lama adalah bahwa mereka sangat ketat dan tidak mudah untuk menerima pengaruh dari luar. Mereka akan sangat teguh memegang adat yang selama ini mereka laksanakan. Dari sini kita dapat melihat bahwa Pak Mansyur tidak akan terpengaruh oleh apapun untuk meninggalkan kebiasaannya. Selain karena ia telah menganggap hal itu sebagai warisan leluhur, dengan kata lain meninggalkannya berarti melecehkan leluhur juga kerena ia yakin akan akibat yang ditimbulkan jika ia meninggalkannya.

Hal ini bertolak belakang dengan masyarakat baru yang selalu terbuka terhadap pengaruh dari luar. Masyarakat baru akan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menurut mereka sia-sia dan tidak sesuai lagi dengan keadaan dan menggantinya dengan kegiatan yang menurut mereka lebih bermanfaat.

Kondisi di atas menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat Indonesia masih dalam tahap percampuran. Ada sebagian masyarakat yang masih menggunakan pola pikir masyarakat lama dan ada juga yang sudah menggunakan pola pikir masyarakat baru. Keduanya memiliki sisi positif dan negatif yang perlu kita renungkan agar tercipta sebuah masyarakat yang maju.

Read Full Post »

oleh Evlin, Melody Violine, dan Saktiana Dwi Hastuti

Ronggeng Melayu adalah salah satu wujud seni yang memadukan tari, musik, dan sastra (pantun). Tari ini dipengaruhi oleh salah satu sekte di India yang menggunakannya untuk memuja Dewi Durga. Tradisi semacam ini dibawa ke Indonesia dengan makna yang serupa, yakni pemujaan terhadap dewi kesuburan.

Ronggeng Melayu pertama kali berkembang di Sumatera Timur sejak penjajahan Portugis dan kini masih bertahan di Sumatera Utara. Selain sebagai tari pergaulan, Ronggeng Melayu juga berfungsi sebagai hiburan pada acara-acara seperti sunatan, syukuran panen, dan perkawinan.

Dengan diiringi dua gendang melayu, akordion, dan biola, Ronggeng Melayu ditarikan dan dinyanyikan oleh perempuan (Cik Ronggeng) baru kemudian laki-laki bergabung. Tari ini bersifat dinamis dengan pergerakannya yang tidak teratur, nyanyian bergantian, dan pantun-pantunnya yang spontan. Pantun-pantun tersebut biasanya menanyakan kabar, sindiran, atau rayuan. Selain pantun, penari biasanya juga memperagakan gerakan-gerakan silat sederhana.

Terdapat beberapa perbedaan antara Ronggeng Melayu dengan Ronggeng Jawa. Pada Tari Ronggeng Jawa, penari menyanyi sendiri dan tidak ada balas-berbalas pantun. Perbedaan lainnya yang mencolok adalah, kalau Ronggeng Melayu hanya sebagai sarana pergaulan dan hiburan, Ronggeng Jawa biasanya juga boleh dicium dan disertai dengan “bisnis malam”.

Masyarakat zaman sekarang lebih menyukai Ronggeng Melayu yang modern dalam arti tidak mengenakan pakaian adat Melayu dan tidak dipentaskan di atas panggung. Ronggeng Melayu klasik jadi semakin berkurang penerusnya padahal tari ini adalah saksi sejarah yang harus terus dipelihara.

Read Full Post »