Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sastra Melayu’ Category

 

oleh Putri Susanti

 

I.  ALAM MELAYU

1. 1 Definisi Melayu

Terdapat dua definisi mengenai melayu, yakni sebagai sebuah ras dan suku. Menurut antropolog Jerman, Johann Friedrich Blumenbach (1752-1840), melayu merupakan sebuah ras dengan ciri-ciri: kulit berwarna; berambut keriting tebal, lembut berwarna hitam dan banyak; berkepala cukup kecil; berdahi sempit; berhidung penuh, agak lebar, panjang, dan di ujungnya tebal; mulutnya lebar.
Definisi lain mengutarakan melayu sebagai suku yang menjadi bagian dari rumpun Austronesian. Selain itu, Definisi melayu dianggap merujuk pada kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa melayu. Kedua penjelasan dia atas dapat dilihat dalam definisi melayu secara etimologi pada kamus Merriam-Webster (1598): 1. kelompok orang yang mendiami Semenanjung Malaya, Sumatera Timur, Sebagian Kalimantan, dan beberapa pulau di sekitarnya. 2. Bahasa yang digunakan oleh Austronesia; bahasa Melayu. Menurut Tabrani Rab, Melayu ialah suatu etnik yang mengamalkan adat istiadat Melayu, berbahasa Melayu, dan beragama Islam.

Melayu dalam pengertian mutakhir merujuk kepada penutur bahasa Melayu dan mengamalkan adat orang Melayu, dalam hal ini sudah terjadi akulturasi dengan bangsa asing lainnya yang datang dari luar Kepulauan Melayu. Bangsa Melayu merupakan bangsa termuda di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan kuno di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di Selat Malaka yang menggunakan sejenis bahasa yang sama yang dinamakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara. Secara persfektif historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai Proto Melayu (Melayu Polinesia) dan Deutero Melayu.

Sejak perjanjian London 1824, secara politik wilayah Melayu telah dipisahkan menjadi Melayu Riau dan Melayu Semenanjung, serta Kesultanan Riau-Lingga dan Kesultanan Johor (Rab, 1990:37).

 

1. 2  Asal-usul Ras Rumpun Melayu (Melayu Polinesia)

Rumpun Melayu dipercayai berasal dari golongan Austronesia di Yunnan. Kelompok pertama dikenal sebagai rumpun ras Melayu Proto (Proto ras Melayu). Mereka berpindah ke Asia Tenggara pada Zaman Batu Baru (2500 SM). Keturunannya adalah penduduk Asli di Semenanjung Malaysia, Dayak di Sarawak, Batak dan Komering di Sumatera.

Kumpulan kedua dikenal sebagai rumpun ras Melayu Deutero. Mereka berpindah ke Asia Tenggara pada Zaman Logam kira-kira 1500 SM. Keturunannya orang Melayu di Malaysia dikatakan lebih pandai dan dan mahir daripada ras Melayu Proto, khususnya dalam bidang astronomi, pelayaran dan bercocok tanam. Jumlah mereka lebih banyak daripada ras Melayu Proto. Mereka menghuni kawasan pantai dan lembah di Asia Tenggara. Kedua kelompok ini dikenal sebagai kelompok Austronesia. Terdapat beberapa kelompok ras Melayu yang mendiami berbagai daerah di Asia Tenggara.

 

v     Melayu Filipina

Di Filipina yang dimaksud sebagai ‘Melayu’ identik dengan suku-suku bumiputera yang merupakan 90% penduduk Filipina, yang dalam pengertian ini berarti subras Melayu Polinesia.

 

v     Melayu Sumatera

Orang Melayu di Sumatera terdiri atas Melayu Tamiang, Melayu Deli, Melayu Riau, Melayu Jambi, Melayu Palembang dan lain-lain. Di pedalaman terdapat orang Melayu Proto seperti suku Talang Mamak, suku Sakai, dan lain-lain. Dalam pengertian ini berarti sebagai suku-suku yang berbahasa Melayu dan bahasa Melayu Lokal.

 

v     Melayu Kalimantan

Orang Melayu di Kalimantan dalam arti sempit hanya mengacu kepada orang Melayu Pontianak yang disebut suku Melayu, tetapi dalam arti luas mencakup orang Senganan, suku Sambas, suku Kedayan (suku Brunei), suku Banjar, suku Kutai dan suku Berau. Di Kalimantan Selatan, suku Dayak yang diperkirakan berasal dari Sumatera adalah suku Bukit (Dayak Meratus) yang bahasanya digolongkan bahasa Melayu Lokal sehingga disebut juga sebagai bahasa Melayu Bukit. Diperkirakan beberapa suku yang memiliki unsur-unsur kemelayuan tersebut tergolong ke dalam Proto Melayu. Di pedalaman Kalimantan Barat dan Sarawak terdapat pula orang Dayak Melayu yaitu rumpun Iban yang diperkirakan menyeberang dari pulau Sumatera. Kelompok terakhir ini tergolong rumpun Proto Malayic yang merupakan induk dari Proto Melayu. Proto Melayu (Proto suku Melayu) inilah yang menurunkan suku bangsa Melayu modern.

 

v     Melayu Malaysia

Di Malaysia yang termasuk Kaum Melayu adalah masyarakat Melayu berintikan suku Melayu sejati yang merupakan orang Melayu asli Tanah Semenanjung (Melayu Anak Jati) ditambah suku-suku dari Rumpun Melayu pendatang dari Indonesia dan tempat lainnya yang disebut Melayu Anak Dagang seperti suku Jawa, suku Minang, suku Mandailing, suku Aceh, suku Bugis, suku Bawean, suku Banjar, suku Champa dan lain-lain. Semua diikat oleh agama Islam dan budaya Melayu Malaysia sehingga rumpun bangsa lain yang beragama Islam juga dikategorikan kaum Melayu seperti Tionghoa Muslim, India Muslim, dan Arab. Melayu juga berarti suatu komunitas ‘umat Islam Malaysia’ yang ada di Kerajaan Islam tersebut.

 

 

II.  ESTETIKA KEINDAHAN DALAM SASTRA MELAYU

Karya sastra menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama. Cerita rekaan merupakan jenis karya sastra yang beragam prosa. Berdasarkan panjang-pendeknya cerita, ada yang membeda-bedakan cerita rekaan – lazimnya disingkat cerkan – dengan sebutan cerita pendek atau cerpen, cerita menengah atau cermen, dan cerita panjang atau cerpan. Namun, patokan yang jelas tentang persyaratan panjang-pendek ini belum ada (Sudjiman, 1986: 11).

Hikayat merupakan karya sastra lama yang berupa prosa. Hikayat ditulis dalam bahasa Melayu. Hikayat berkembang dari sastra lisan yang lebih dulu muncul dalam kebudayaan Indonesia. Salah satu penulis hikayat adalah Abdullah bin Muhammad al-Misri.

Dengan hasil pengucapan yang internal (makna, ’ide cerita’, eidos) melalui yang eksternal (kata, bunyi) dan ornamentasi kata-kata, yang benar, terjadilah suatu karya (benda) dengan keindahan sebagai salah satu kualitasnya yang paling penting. Seperti telah dikatakan di atas, kualitas ini, di dalam kata-kata pengantar karya-karya sastra Melayu, dinyatakan dengan istilah indah.

Sayangnya, dalam tradisi sastra Melayu, uraian khusus tentang istilah tersebut tidak ditemukan. Oleh karena itu, untuk memastikan makna konseptual istilah ini, perlu merujuk pada konteks yang melatarbelakanginya, dengan mencurahkan perhatian khusus pada kata-kata yang sama arti (sinonim) dan merupakan penggantinya, dan pada deskripsi tentang keadaan psikologis yang disebabkan oleh persepsi keindahan. Tentu saja mustahil untuk memberi kepastian makna terhadap segenap keanekaragaman sepatah kata, seperti kata ’indah’, yang digunakan  secara meluas dan tampil dalam bermacam-macam konteks itu. Walaupun demikian, aspek-aspek pokok dalam makna perkataan itu dapat diterangkan melalui penyelidikan terhadap beberapa hikayat klasik dan karangan tasawuf.

Terdapat tiga aspek yang dengan terang dinyatakan dalam karya-karya sastra, melalui penggantian kata indah dengan kata-kata yang sama artinya. Aspek yang pertama berkaitan dengan asal usul atau sumber keindahan. Aspek kedua berkaitan dengan sifat-sifat imanen dari keindahan. Aspek yang ketiga berkaitan dengan psikologi persepsi keindahan.

Aspek yang pertama tercermin dalam penggantian istilah indah dengan rangkaian kata yang satu arti dengan kekayaan Tuhan. Wujud sesuatu yang indah sudah merupakan pertanda dari konsep kuasa Tuhan (Braginsky, 1998:190). Istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan keindahan yang berkaitan dengan kuasa Allah adalah kekayaan Allah, Kebesaran Allah, dan kata-kata lain yang menunjukkan sifat-sifat Allah.

Pada aspek yang kedua, indah adalah sesuatu yang luar biasa, yaitu sesuatu yang hairan, ajaib, gharib (ganjil), dan tamasya (pemandangan menarik hati). Selain itu, keindahan adalah sesuatu yang berbagai-bagai atau beraneka ragam, yaitu sesuatu yang menyatakan diri dengan bermacam-macam cara. Indah bukan sekadar berbagai-bagai dan banyak ragam karena keanekaragamannya ialah yang teratur dan penuh harmoni (Braginsky, 1998:193-194).

Kata ’indah’ dalam aspek yang ketiga berkaitan dengan persepsi keindahan dengan ’pancaindra lahir’ menimbulkan rasa terpikat, semacam berahi dalam jiwa orang yang merenunginya itu. Rasa berahi terhadap keindahan melahirkan rasa kagum dalam hati. Jika perasaan itu terlampau hebat, dan segenap pancaindra dikuasai sepenuhnya oleh pernyataan indah, apabila hati (jiwa) kurang terkendali oleh akal, maka susunan (hierarki) kekuatan jiwa yang teratur menjadi kacau, dan timbullah keadaan-keadaan yang serupa dengan pingsan: lupa, merca, dan lain-lain (Braginsky, 1998:195-198).

 

 

III. ANALISIS KEINDAHAN DALAM KARYA ABDULLAH BIN MUHAMMAD AL-MISRI

3.1 Riwayat Singkat Abdullah bin Muhammad al-Misri

Abdullah bin Muhammad al-Misri adalah pengarang Indonesia yang sudah terlupakan. Namanya jarang disebut dalam buku-buku sejarah sastra Melayu atau Indonesia, padahal karyanya orisinil dan menarik. Ia hidup pada satu periode yang sangat bergejolak dalam sejarah Indonesia, mulai dari pemerintahan Belanda yang dikuasai VOC sampai pada pemerintahan Raffles. Ia mengalami pemerintahan Indonesia yang berganti penguasa sebanyak empat kali dalam satu kurun waktu.

Abdullah bin Muhammad al-Misri lahir di Palembang. Karya Abdullah bin Muhammad al-Misri yang kita kenal terdapat dalam bentuk tujuh dokumen: lima naskah dalam tulisan Jawi, satu teks tercetak dalam tulisan Jawi, dan satu naskah dalam tulisan latin. Karya Abdullah bin Muhammad al-Misri yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Bayan al-Asma, Hikayat Mareskalek, ’Arsy al-Muluk, Cerita Siam, dan Hikayat Tanah Bali.

 

3. 2  Ringkasan Cerita Karya Abdullah bin Muhammad al-Misri

Bayan al-Asma

Cerita ini hanya dimuat dari hlm. 73 sampai hlm. 100. Pada bagian tersebut, dalam cerita ini diceritakan tentang adab seorang raja. Seorang raja menjadi raja apabila ada menteri dan rakyatnya. Sikap yang seharusnya dimiliki oleh raja diterangkan dalam cerita ini. Pada hlm. 83 diceritakan tentang sifat-sifat Allah dan rasul Allah. Selain itu, cerita ini juga memuat cara penamaan dalam lingkungan kerajaan. Penamaan tersebut tidak hanya berlaku bagi raja dan keturunannya, tetapi juga berlaku bagi menteri raja.

 

Hikayat Mareskalek

Hikayat ini menceritakan kondisi pulau Jawa ketika orang-orang kulit putih (bangsa Barat) mengambil alih kekuasaan raja di Jawa. Dikisahkan bahwa ketika Wolanda (Belanda) menguasai pulau Jawa, penguasa pada saat itu membuat peraturan yang merugikan penduduk Jawa. Bukan hanya di bidang ekonomi atau perdagangan, orang Belanda juga mengubah pola hidup masyarakat. Orang yang dulunya sholeh akan menjadi fasik, sedangkan orang yang dulunya fasik akan menjadi kafir.

Setelah itu, muncul tokoh yang bernama Mareskalek. Mareskalek datang ke pulau Jawa untuk mengubah pola pikir dan perilaku raja-raja dan rakyat Jawa. Mareskalek berusaha menanamkan nilai-nilai agama Islam sehingga kehidupan masyarakat Jawa menjadi lebih baik. Mareskalek berhasil mengambil alih tampuk kepemimpinan dari tangan orang Belanda dengan tipu muslihat. Akan tetapi, Mareskalek tidak bertahan lama memimpin tanah Jawa karena orang Belanda yang berhasil ditipu Mareskalek kembali untuk mengambil alih tanah Jawa.

 

’Arsy al-Muluk

Naskah ini berisi firman Allah dan Hadis nabi mengenai kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Selain itu, disebutkan pula falsafah hidup dan petuah-petuah kaum cendikia dan ulama mengenai adat raja-raja seharusnya. Dikisahkan pula tentang raja-raja yang pernah memimpin kerajaan di pulau Jawa. Naskah ini memuat kisah Hikayat Mareskalek di beberapa bagian. Di bagian akhir, dikisahkan asal usul raja-raja di pulau Jawa dan keturunannya.

 

Cerita Siam

Di bagian awal dikisahkan asal muasal kehidupan di bumi. Pada naskah ini, diceritakan pula mengenai awal munculnya agama Hindu dan persebaran agama Hindu. Selanjutnya, diceritakan tentang raja Siam yang dibunuh oleh menterinya, keturunan orang gunung. Kerajaan Siam dipimpin oleh dua orang bersaudara, keturunan menteri tersebut. Kemudian, diceritakan penyerangan negeri lain ke negeri Siam sehingga negeri Siam menjadi porak-poranda. Banyak penghuni negeri yang melarikan ke negeri lain, salah satunya adalah adik dari raja Siam dan keturunannya. Di akhir cerita dikisahkan bahwa negeri Siam mulai diduduki orang-orang kulit putih.

 

Hikayat Tanah Bali

Tanah Bali awalnya dikuasai oleh dua orang raksasa yang bernama Prabu Mirid, mendiami wilayah barat Bali, dan Prabu Bedahulu, mendiami kampung Bedahulu. Kemudian, datang Kebo Iwa, seseorang yang berasal dari Jawa, bertubuh besar, gagah berani, tetapi bodoh. Kebo Iwa berhasil membunuh kedua penguasa Bali sebelumnya dan menggantikan mereka memimpin Bali.

Setelah tujuh tahun Kebo Iwa memimpin Bali, datanglah Ida Sampeyan Dalem Dewa Agung yang ingin mengambil alih kekuasaan Kebo Iwa dengan tipu muslihat. Akhirnya, Kebo Iwa mati terkubur di dalam sumur yang ia buat sendiri untuk memenuhi syarat menikahi perempuan dari Blambangan. Kemudian, Bali dikuasai oleh Dewa Agung.

Setelah itu, dikisahkan tentang petualangan cinta Dewa Agung dengan wanita dari kalangan yang beraneka ragam. Petualangan cinta ini menghasilkan anak laki-laki dari kalangan yang berbeda-beda pula. Masing-masing anak Dewa Agung ini menjadi raja di semua daerah Bali. Merekalah cikal bakal raja-raja di Bali.

 

3. 3  Keindahan dalam Karya Abdullah bin Muhammad al-Misri

Berdasarkan pengelompokkan yang telah dilakukan Braginsky, keindahan dalam Karya Abdullah bin Muhammad al-Misri dapat dikelompokkan sebagai berikut.

 

1.  Aspek yang pertama tercermin dalam penggantian istilah indah dengan rangkaian kata yang satu arti dengan kekayaan Tuhan. Dalam Bayan al-Asma, hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut.

 

…Allah ta’ala itu Ghaffarun….(Zaini-Lajoubert, 2008:25)

…Allah ta’ala itu Mayyitun….(Zaini-Lajoubert, 2008:25)

 

Penanda keindahan dalam kutipan tersebut adalah sifat-sifat yang dimiliki Allah. Sama halnya dengan unsur keindahan dalam Hikayat Mareskalek yang dapat dilihat dalam kutipan berikut.

 

…bercekak pinggang dengan kedua tangan kodratnya…. (Zaini-Lajoubert, 2008:50)

 

Begitu pula halnya dengan Cerita Siam yang unsur keindahannya dapat ditemukan di sini.

 

Syahdan adalah membakar orang yang kaya dan raja-raja yang mati itu terlalu ramai, suatu pekerjaan permainan yang teramat besar, dan segala gambar rupa binatang dan rupa manusia dan segala rupa permainan dan bunyi-bunyian adalah, maka diperbuat suatu kampung dan sebuah rumah yang indah rupanya, tempat membakar bangkai itu. (Zaini-Lajoubert, 2008:145)

Dalam ’Arsy al-Muluk, unsur ’indah’ dapat dilihat pada kutipan ini.

 

Terpedaya aku dengan kebesaranku dan kerajaanku dan kuat gagah beraniku…. (Zaini-Lajoubert, 2008:100)

…dan yaitu raja yang mengerjakan judi sabung di dalam negerinya maka adalah orang yang mulia-mulia dan yang kaya-kaya itu sangat takut akan negeri yang demikian itu. (Zaini-Lajoubert, 2008:105)

 

Penanda keindahan dalam cerita ini adalah sifat Allah yang melekat pada manusia.

 

2.  Indah adalah sesuatu yang luar biasa, yaitu sesuatu yang hairan, ajaib, gharib (ganjil), dan tamasya (pemandangan menarik hati). Selain itu, keindahan adalah sesuatu yang berbagai-bagai atau beraneka ragam, yaitu sesuatu yang menyatakan diri dengan bermacam-macam cara. Indah bukan sekadar berbagai-bagai dan banyak ragam karena keanekaragamannya ialah yang teratur dan penuh harmoni. Keindahan tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

muazamnya dan bagus rupanya hasanat barang kelakuannya…. (Zaini-Lajoubert, 2008:19)

Aku ini seorang laki-laki gharib mengembara….(Zaini-Lajoubert, 2008:20)

…ia mengambil faedah….(Zaini-Lajoubert, 2008:22)

…anak raja terlalu baik rupanya…. (Zaini-Lajoubert, 2008:30)

 

banyak desa dan bilangannya manusia dan rumah dan tanaman-tanaman (Zaini-Lajoubert, 2008:42)

Maka disuruh oleh Jenderal Mareskalek keluarkan sahlat dan beberapa banyak pakaian…. (Zaini-Lajoubert, 2008:58)

 

Barangkali bertambah-tambah karunia raja akan engkau…. (Zaini-Lajoubert, 2008:92)

…jika ada ia memberi faedah di dalam dunia dan akhirat maka teguhkan rabitahnya itu…. (Zaini-Lajoubert, 2008:98)

Maka hamba terlalu suka hati mendengar sekalian perkataan tuan pangeran itu…. (Zaini-Lajoubert, 2008:135)

Syahdan adalah membakar orang yang kaya dan raja-raja yang mati itu terlalu ramai, suatu pekerjaan permainan yang teramat besar, dan segala gambar rupa binatang dan rupa manusia dan segala rupa permainan dan bunyi-bunyian adalah, maka diperbuat suatu kampung dan sebuah rumah yang indah rupanya, tempat membakar bangkai itu. (Zaini-Lajoubert, 2008:145)

terlalu heran yang melihat dia, ada sampai sekarnag ini kota negeri itu. (Zaini-Lajoubert, 2008:166)

patut sekali dengan engkau, terlalu baik rupanya dan namanya Lara Wati Puspa Diningrat dan karena kesakitan perempuan yang tiada mendapat laki yang sama besarnya sepertinya dan rupanya seperti bunga harum, baunya terlebih daripada segala yang harum, penuh segala negeri tanah Jawa bau harumnya itu. (Zaini-Lajoubert, 2008:168)

Maka sangat baik rupa putri keduanya itu jadi gila hati Wirama Kendu bersaudaranya itu. (Zaini-Lajoubert, 2008:171)

 

3.  Kata ’indah’ dalam aspek yang ketiga berkaitan dengan persepsi keindahan dengan ’pancaindra lahir’ menimbulkan rasa terpikat, semacam berahi dalam jiwa orang yang merenunginya itu. Rasa berahi terhadap keindahan melahirkan rasa kagum dalam hati. Jika perasaan itu terlampau hebat, dan segenap pancaindra dikuasai sepenuhnya oleh pernyataan indah, apabila hati (jiwa) kurang terkendali oleh akal, maka susunan (hierarki) kekuatan jiwa yang teratur menjadi kacau, dan timbullah keadaan-keadaan yang serupa dengan pingsan: lupa, merca, dan lain-lain. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut.

 

Maka hati hamba terlalu susah karena akan putus harap tiada boleh menghadap memandang wajah Yang Dipertuan Besar itu. (Zaini-Lajoubert, 2008:136)

Maka berahi Dewa Agung melihat bini Hindu itu…. (Zaini-Lajoubert, 2008:169)

Maka sangat baik rupa putri keduanya itu jadi gila hati Wirama Kendu bersaudaranya itu. (Zaini-Lajoubert, 2008:171)

 

IV.  KESIMPULAN

Terdapat tiga aspek yang berkaitan dengan ’indah’ dalam karya sastra Melayu Klasik:

  1. Aspek yang pertama berkaitan dengan asal usul atau sumber keindahan. Aspek yang pertama tercermin dalam penggantian istilah indah dengan rangkaian kata yang satu arti dengan kekayaan Tuhan. Wujud sesuatu yang indah sudah merupakan pertanda dari konsep kuasa Tuhan.
  2. Aspek kedua berkaitan dengan sifat-sifat imanen dari keindahan. Pada aspek yang kedua, indah adalah sesuatu yang luar biasa, yaitu sesuatu yang hairan, ajaib, gharib (ganjil), dan tamasya (pemandangan menarik hati). Selain itu, keindahan adalah sesuatu yang berbagai-bagai atau beraneka ragam, yaitu sesuatu yang menyatakan diri dengan bermacam-macam cara. Indah bukan sekadar berbagai-bagai dan banyak ragam karena keanekaragamannya ialah yang teratur dan penuh harmoni.
  3. Aspek yang ketiga berkaitan dengan psikologi persepsi keindahan. Kata ’indah’ dalam aspek yang ketiga berkaitan dengan persepsi keindahan dengan ’pancaindra lahir’ menimbulkan rasa terpikat, semacam berahi dalam jiwa orang yang merenunginya itu. Rasa berahi terhadap keindahan melahirkan rasa kagum dalam hati. Jika perasaan itu terlampau hebat, dan segenap pancaindra dikuasai sepenuhnya oleh pernyataan indah, apabila hati (jiwa) kurang terkendali oleh akal, maka susunan (hierarki) kekuatan jiwa yang teratur menjadi kacau, dan timbullah keadaan-keadaan yang serupa dengan pingsan: lupa, merca, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

 

Aliana, Zainal Arifin dkk. 1992. Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung. Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Braginsky, V. I.. 1998. Yang Indah, Berfaedah, dan Kamal:Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19. Jakarta:INIS.

Ibrahim, Zahrah. 1986. Sastera Sejarah:Interpretasi dan Penilaian. Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka.

Iqs’ Pathfinder. 2008. Suku Melayu atau Ras Melayu? Dalam bloggaul.com.

Jones, Russel. 1987. Hikayat Raja-raja Pasai. Kuala Lumpur:Fajar Bakti.

Kadir, Daud dkk. 2008. Sejarah Kebesaran Kesultanan Lingga-Riau. Riau:Pemerintah Kabupaten Lingga.

Nn. 2009. Suku Melayu dalam wikipedia.com.

Nn. Masyarakat Melayu di Malaysia dalam timahkasimonline.com

Pudentia MPSS. 2007. Hakikat Kelisanan dalam Tradisi Melayu Mak Yong. Depok:Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Rab, Tabrani. 1990. Fenomena Melayu. Pekanbaru:Lembaga Studi Sosial Budaya Riau.

Salleh, Muhammad Haji. 2000. Puitika Sastera Melayu. Selangor:Dewan Bahasa dan Pustaka.

Situmorang, T. D. Dan A. Teeuw. 1952. Sejarah Melayu. Jakarta:Djambatan.

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Zaini-Lajoubert, Monique. 2008. Karya Lengkap Abdullah bin Muhammad al_Misri. Jakarta:Komunitas Bambu.

 

 

Read Full Post »