Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sastra Populer’ Category

oleh M. Adi Nugroho

Pendahuluan

“Di sini gunung di sana gunung, wayangnya bingung dalangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa.” Itu adalah sepengggal kalimat handal yang selalu dilontarkan Parto sang dalang dalam Opera Van Java. Sebuah komedi serial televisi yang hadir di Trans7 setiap pukul delapan malam. Opera Van Java merupakan sebuah seni tradisi, wayang orang, yang dikemas dengan bentuk keseuaian zaman sehingga menjadi menarik untuk dtonton. Format yang ditampilkan dalam OVJ (Opera Van Java) sangat bagus mengingat masyarakat saat ini mempunyai under estimated terhadap seni tradisi seperti wayang orang. Paradigma itu coba dhilangkan sekaligus berupaya melestarikan budaya jawa dengan format yang berbeda.

Dalam OVJ parto yang bertindak sebagai sang dalang menjadi penggerak pemainnya–sebagaimana peran dalang dalam wayang wong–, seperti, Andre taulani, Sule, Azis Gagap, dan Nunung. Tak hanya itu, dalang pun ditemani oleh sinden yang selalu bernyanyi setiap sang pemain memulai  adegan dan di iringi oleh musik gemelan. Keunikan muncul ketika sebenarnya program yang di sadur dari wayang wong, yaitu dalangnya beserta wayang atau pemainnya dapat bertindak sesuka hati sesuai dengan keinginan dalang dan lepas dari keajegan formulasi wayang wong. Sebuah kombinasi yang menarik dengan menampilkan budaya jawa dengan balutan bercerita yang menarik.

Format atau tampilan yang berbeda terhadap sebuah seni tradisi sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Konsekuensi ini di ambil untuk memenuhi keinginan pasar yang mampunyai minat tinggi terhadap seni rakyat, tetapi tidak memiliki antusias tinggi untuk mengikuti jalannya acara seni tradisi. Sebelum OVJ kita pernah mendangar Ludruk Glamor, Ketoprak Humor, ataupun Srimulat. Hanya saja, OVJ menjadi sebuah penyajian yang istimewa karena ditempatkan pada kondisi lesunya acara hiburan  berbalut budaya atau seni rakyat.

Melihat fenomena yang terjadi pada OVJ juga di korelasikan dengan budaya kapitalis saat ini. OVJ sebenarnya adalah sebuah produk dari budaya popular yang merajalela di Indonesia. Terutama dengan budaya konsumerisme dan kapitalis yang telah mencengkeram Indonesia. Para pemiliki modal dan juga korbannya, konsumen, menjadi sebuah titik inti diciptakan sebuah bentuk kebudayaan. OVJ salah satunya masuk dalam katergor populer yang mau tidak mau pun berorientasi pada massa beserta alibi postifnya untuk melestarikan budaya tradisional.

OVJ dan Seni Populer

Menurut Umar kayam , dalam kebudayaan istilah pop dibedakan dengan populer. Secara etimologis, istilah populer dikaitkan dengan massa, yaitu masyarakat banyak. Istilah pop art berhubungan dengan masyarakat kecil atau masyarakat minoritas. Lain halnya dengan di Indonesia, perkembangan seni pop pada umumnya disamakan dengan seni populer. Selanjutnya makna populer yang berkaitan dengan OVJ di konsistensikan tanpa mendikotomi antara pop art yang bercorak minoritas serta eksperimental dan popular art yang bercorak mayoritas. Secara kasat mata, kepopuleran OVJ terletak pada bentuk eksperimental–selanjutnya disebut kiscth–penyajiannya dan juga berorintasi pada massa.

OVJ sebagai bentuk saduran dari wayang wong mencoba mempertahankan sesuatu yang ajeg dan juga memberi sentuhan baru yang inovatif. Kesesuaian yang ajeg merupakan bagian dari budaya populer karena sudut pandang sudah dikenalnya budaya ini. Kemudian bercampur dengan format baru tanpa menghilangkan esensi dari wayang wong. Wayang wong yang ditampilkan oleh OVJ merupakan bentuk kesenian kraton  yang sangat istimewa. Pencipta dari wayang ini adalah Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792) yang dalam pementasannya ceritanya di ambil dari wayang purwa dengan aktor manusia menggantikan wayang.

Dalam kebudayaan Indonesia, keberadaan pop art atau budaya tinggi dan populer atau budaya rendah telah dikenal dengan sebutan seni tradisi dan seni rakyat. Seni tradisi dan seni rakyat memang berbeda. Seni tradisi hidup di kota. Kesenian ini  merupakan kelanjutan dari kesenian yang hidup dan berkembang di sekitar keratin atau tempat kekuasaan. Sedangkan seni rakyat tumbuh di desa, di tengah masyarakat kecil yang dalam segala hal Nampak jelas perbedaan kepemilikan (Lindsay:1990). Selanjutnya kesenian tardisional dapat disebut juga dengan kesinian modern , yaitu sebagai bentuk seni yang penggrapannya di dasarkan atas cita rasa di kalangan masyarakat pendukung. Cita rasa ini biasanya berupa penemuan dan pembaruan. Pembaruan dan penemuan adalah ciri utama pop art sehingga dapat disamakan dengan seni tradisi.

Fenomena  pada OVJ merupakan hal lumrah yang sebenarnya sudah terjadi sejak lama. OVJ adalah perpaduan dari kesenian yang berbeda alam. Begitu halnya dengan kesenian Indonesia yang dapat hidup di dua lingkungan kebudayaan. OVJ sebagai bentuk sadur dari wayang wong merupakan bentuk kepemilikan masyarakat tertentu terhadap kesenian ini. Dalam konteks keindonesiaan, kepemilikan dan petumbuhannya pada masyarakat tertentu disebut juga kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah ini memiliki sejumlah ciri yang tak bisa hilang yang dapat disebut sebagai keajegan tradisi. Dalam OVJ penjagaan terhadap keajegan wayang wong  dengan memperhatikan unsur penting berupa adanya sang dalang, wayang, dan juga sinden.

Selanjutnya, keberadaaan kesenian yang berada pada dua alam ini disebabkan seni tardisi mengalami saduran. Penyaduran ini telah menempatkan seni tradisi untuk dibentuk kembali oleh kebutuhan suatu kebudayaan yang lebih luas dan tidak sekadar menganut cita rasa tardisi asalnya. Hal ini menyebabkan lahirnya sebuah seni baru, yaitu seni kitch. Seni tradisi yang pada mulanya dimiliki lingkungn keraton atau kerajaan, kini juga dapat dimiliki oleh masyarakat luas atau luar istana. Kepemilikannya pun tidak dapat dengan mudahnya menyebut seni tradisi sebagai milik semua orang. Dalam lingkungan keraton, wayang wong tentunya tetap mempertahankan bentuk yang ada tanpa memperhatikan perkembangan zaman.

Apa yang di alami oleh OVJ sebenarnya merupakan jawaban dari pertanyaan Edy Sediawati dalam bukunya Pertumbuhan Seni Pertunjukkan. Seni tradisi seperti wayang wong, telah mengalami pergeseran kepemilikan. OVJ sebagai sebuah bentuk pertunjukkan yang dapat disajikan di luar lingkungan kebudayaan aslinya maka para penonton akan cenderung untuk menghargai sebagai sesuatu yang disebut Edy Sediawati, yaitu sesuatu yang eksotis dan bukan hal yang biasa-biasa saja. OVJ telah menempatkan kepopulerannya di lingkungan Indonesia dengan menampilkan sesuatu yang baru, inovatif, dan kita pun menikmatinya.

Edy Sediawati memaparkan dua tuntutan dalam perkembangan atas seni tardisi yang kemudian menjadi populer ini. Pertama, para penggemar dari luar lingkungan tradisi tersebut menginginkan pemeliharaan atas gayanya yang khas, sedangkan penggemarnya dari dalam lingkungannya ada yang menginginkan tetap aman dalam gayanya yang telah terkenal secara akrab. Ada juga yang menginginkan perkembangan dalam arti perubahan atau tambahan sesuai dengan perubahan zaman (Sedyawati, 1981:39).

Itulah yang terjadi pada OVJ, kita mungkin sebagai penonton atau lingkungan luar dari tradisi wayang wong menginginkan adanya penjagaan atas gayanya yang khas. Bahkan, kita mungkin menginginkan yang lebih dengan pemberian inovasi pada formulasi pertunjukkan.

Kitsch: Antara Seni Tradisi dan Seni Rakyat

Dalam perkembangannya, seperti yang telah disebutkan di awal, perpaduan dua budaya yang di alami oleh OVJ merupakan bentuk dari seni kitsch. Bentuk kesenian seperti ketoprak, wayang wong komersil (OVJ), dan ludruk dianggap sebagai seni tradisional karena kelahirannya dan pertumbuhannya sebagai seni berada di lingkungan istana atau kota. Seni tradisi pun kemudian dapat disamakan dengan pop art menurut “barat” karena kepemilikannya yang minoritas. Selain itu, ketoprak dan wayang wong komersil (OVJ) dapat juga dikatakan sebagai seni rakyat atau seni populer karena kepemilikannya yang dimiliki oleh orang banyak.

Karakteristik sebuah seni yang lahir dan tumbuh di lingkungan kerajaan atau kota dan dapat dikonsumsi orang banyak oleh Umar Kayam dipakai sebagai kriteria untuk menggolongkan suatu kategori kesenian yang disebut kesenian Kitsch. Umar kayam menggunakan ‘Kitsch’ untuk menggolongkan bentuk-bentuk kesenian yang tidak dapat disebut kesenian istana dan juga bukan kesenian rakyat , dan ia tidak membuat pertimbangan nilai kepada kualitas bentuk-bentuk kesenian tersebut (dalam bahasa inggris sehari-hari, ‘kitsch’ berarti murah, norak). Ini menunjukkan pentingnya memahami bagaimana istilah ini dan istilah lainnya digunakan dalam konteks Indonesia dan kita harus berusaha sangat cermat untuk memahami kata-kata yang sudah diindonesiakan (Lindsya, 1990:46).

Legitimasi kitsch pada OVJ terletak dari formulasi penyaduran seni tardisional wayang wong dalam bentuk yang baru. Wayang wong yang aslinya hanya dapat dinikmati atau mungkin dimiliki kalangan kerajaan saja, berkat format baru dari OVJ menjadikan wayang wong dimiliki orang banyak. Bentuk penyaduran dalam OVJ tentunya dengan memperhatikan beberapa aspek dari cerita hingga aksesori pertunjukkan. Beberapa di antaranya penyaduran atau perubahan yang dilakukan OVJ pada seni wayang wong adalah waktu, bahasa, dan cerita.

Bahasa, sesuai dengan tempat kelahirannya, yaitu Yogyakarta; wayang wong menggunakan bahasa keratin atau bahasa Jawa. Berbeda dengan OVJ yang menggunakan bahasa keseharian. Mencoba untuk menyarkan akan pentingnya kepemilikan terhadap budaya tardisional dan juga bukti bahwa kebudayaan Indonesia adalah puncak kebudayaan daera maka bahasa Indonesia di pilih dalam pementasa OVJ. Bahkan, dalam pementasan tak jarang atau memang sebagai bahasa dialognya, yang digunakan adalah bahasa Jakarta atau bahasa percakapan.

Dapat dilihat contoh dari pantun Parto yang bertindak sebagai dalang, yaitu “Di sini gunung di sana gunung, wayangnya bingung dalangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa.” Pantun yang di ucapkan sang dalang dapat memperlihatkan pembahasaan dalam OVJ. Percakapan yang disampaikan tidak juga memiliki ajeg dalam keinovasian. Hal ini disebebkan karena titik utama dari komedi ini adalah improvisasi sang pemain atau wayang dengan bermain dalam lingkungan wayang wong. Tentunya, pembahasaan pada OVJ tidaklah begitu penting selama dapat memancing pemirsa merasa terhibur atau tertawa. Itulah yang dikatakan Parto, “yang penting bisa ketawa.”

Waktu, secara keseluruhan, wayang (kulit atau wong) dibagi menjadi tiga bagian atau pathet yang proporsinya dari penggambaran naratif, komplikasi, dialog dan gerakannya, kontras satu dengan yang lainnya. Lamanya waktu pementasan selama hampir delapan jam. Empat jam bagian pertama, yaitu pukul 09.00-01.00 merupakan pementasa bagian pertama pathet them. Bagian kedua, pathet sanga, biasanya berlangusng paling lama selamadua jam antara pukul 01.00-03.30. Kemudian bagian yang terakhir, pathet manyura, biasanya yang paling pendek berlangsung selama satu setengah jam antara 03.30-05.00. dapat disimpulkan kalau pementasan wayang wong berlangsung dari pukul 09.00-05.00 (Lindsay, 1990:121).

Dalam hal ini, waktu merupakan titik utama yang patut diperhatikan dalam menggarap kembali seni tradisional. Bahkan dikisahkan ketika diadakan pementasan wayang wong di Taman Ismail Marzuki pada decade awal tahu 1980-an, hanya orang-orang tua saja yang dapat bertahan menonton wayang wong dan beberapa mahasiswa FS UI. Masalah waktu memang titik poko dari penyaduran seni tardisi wayang wong ini.

OVJ yang merupakan saduran dari wayang wong mungkin tak bermaksud untuk memotong waktu pementasa denan alas an keajegan atau habisnya jalan cerita. Alasan utamanya tentu saja durasi waktu yang disediakan stasiun televise Trans7. OVJ yang disiarkan secara off air berlangusng antara pukul 20.00-21.00. Namun, durasi satu jam yang singkat itu di manfaatkan dengan mengefektifkan sebuah cerita. Bahkan, terkadang tak begitu penting isi ceritanya. Isi cerita hanya berguna sebagai pemantik kreativitas pemain dalam berperan. Durasi satu jam dengan cerita selesai dicoba untuk ditambah berupa intensitas siaran, yaitu dari hari senin sampai jumat.

Cerita, jelaslah sudah kalau dalam wayang wong, cerita yang sering ditampilkan adalah kisah Ramayana dan Mahabarata. Dalam OVJ dengan aksesorisnya yang berbau kerajaan, terutama untuk dalanganya yang selalu menggunakan pakaian daerah dan ditemani sindennya yang juga menggunakan kebaya Jawa. Cerita dalam OVJ tidak terpaku pada cerita kerajaan. Tak jarang memang cerita yang ditampilkan adalah cerita rakyat atau kerajaan. Namun, intensitas terbanyak adalah cerita modern atau mungkin karangan tim kreatif dari OVJ yang jauh dari tema-tema yang sudah dikenal.

Keterbatasan waktu yang hanya berdurasi satu jam, memang tak membuat OVJ begitu kaku. Cerita hanyalah pegangan untuk mendapat bahan lawakan saja. Bahkan, katika para pemain seperti Azis dan Sule sedang berdialog yang tidak sesuai dengan skeneario maka dalang Parto akan menghentikan cerita dan berteriak, “mana benang merahnya.” Oleh karena itu, OVJ mampu bertahan dengan komedi lain dan menjadi pilihan yang populer untuk ditonton pemirsa.

Kesimpulan

Dalam konteks Indonesia, makna populer dan pop art tidak lagi terpisahkan dan terkonsentrasi pada makna seni populer yang bermakna gabungan dari popular art dan pop art. OVJ merupakan seni gabungan dari seni tardisional (pop art) dan seni rakyat (popular art), yaitu seni kitsch. OVJ menggabungkan seni tardisional yang hanya dimiliki oleh keratn dan ditampilkan dengan saduran dalam beberapa aspek sehingga populer di masyarakat.

Daftar Pustaka

Burton, Graeme. 2008. Media dan Budaya Populer. Jalasutra: Yogyakarta

Kutha Ratnya, Nyoman. 2007. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta.     Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Lindsay, Jennifer. 1990. Klasik Kitsch Kontemporer: Sebuah Studi Tentang Seni Pertunjukkan Jawa. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Sedywati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukkan Sinar harapan: Jakarta.

Iklan

Read Full Post »

oleh Nila Rahma


Aliran pop Melayu pernah populer di Indonesia pada era 1970-an dan 1980-an. Beberapa grup musik terkenal kala itu adalah Koes Plus dan Bimbo. Antara 1980-an sampai tahun 2000, pop Melayu kurang diminati masyarakat sebab saat itu lebih banyak bermunculan musikus beraliran pop.

Musik Melayu yang telah mendapat pengaruh Barat dan berkembang saat ini sering disebut sebagai musik pop Melayu. Menurut Rizaldi Siagian, pop Melayu dilabeli ‘Melayu’ untuk memberi kesan massal sehingga menjadikannya populis. Ia menjadi populer karena mampu menjangkau pasar seluas-luasnya. Hal inilah yang menjadi dasar industri, mulai dari dapur rekamannya hingga pendistribusiannya.

Sejak tahun 2008, industri musik populer di Indonesia bertambah ramai lagi dengan hadirnya grup-grup musik baru dengan warna pop Melayu. Beberapa di antaranya adalah Kangen Band, ST 12, Hijau Daun, dan Wali. Selain itu, juga ada Salju, Langit, Pudja, Vagetoz, Merpati, dan Republik. Kangen Band dengan beberapa hitnya yang cukup terkenal, seperti Menunggu, terbilang sebagai avant garde dari grup-grup musik yang mengusung pop Melayu di periode akhir-akhir ini.

Kangen Band merupakan grup musik yang dibentuk di Lampung pada tahun 2005. Meski terbilang sebagai pendatang baru, band yang personelnya terdiri dari Doddy, Andika, Tama, Lim, Nory, dan Barry itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Selain Kangen Band, ada ST 12. Band asal Bandung yang beranggotakan Pepep (drum), Pepeng (gitar) dan Charly (vokal) ini dibentuk pada 20 Januari 2005. Sejak awal kemunculannya, ST 12 mengusung karakter musik Melayu. Putuskan Saja Pacarmu (PUSPA) disusul dengan Cari Pacar Lagi menjadi pendobrak kepopuleran mereka di pasaran. ST 12 mengaku bangga menyanyikan lirik-liriknya dengan warna Melayu yang merupakan akar budaya Indonesia.

Untuk mengikuti kesuksesan para pendahulunya, Hijau Daun muncul. Grup musik ini berasal dari Lampung. Personelnya terdiri dari lima personel, Dide (vokal), Array dan Arya (gitar), Deny (drum), dan Richan (bass). Mereka mengawali karir bermusik secara profesional melalui BMG pada April 2008. Mereka mampu menarik pasar dengan lagu andalannya, Suara (Ku Berharap).

Wali turut muncul untuk meramaikan blantika musik Indonesia berwarna pop Melayu. Asalnya dari Blora, Jawa Tengah. Grup musik ini dibentuk pada tahun 2006. Anggotanya berjumlah lima orang, yaitu Faank (vokal), Apoy (gitar), Tomie (drum), Ovie (keyboard), dan Nunu (bass). Album pertamanya ialah Orang Bilang yang dirilis pada tahun 2008. Hit dalam album ini, Dik dan Cari Jodoh, mampu menyita perhatian pasar yang umumnya kalangan remaja.

Alunan mendayu dan cengkok yang berbeda menjadi khas dari musik pop Melayu. Tema cinta masih mendominasinya. Tema ini dibalut dengan masalah keseharian, seperti cinta dan perselingkuhan. Karena dibalut dengan tema yang dekat dalam keseharian remaja, lirik-liriknya sangat ringan hingga mudah dicerna. Sangat jarang terkandung kata-kata kiasan dan tidak terlalu puitis. Sebagai contoh adalah sepenggal lirik PUSPA dari ST 12, yakni Jangan, jangan, kau tak terima cintaku/ Jangan, jangan kau hiraukan pacarmu/ Putuskanlah saja pacarmu/ Lalu, bilang I love you padaku….

Konsepnya yang ringan dan mudah dicerna membuatnya dinilai sebagai musik kelas kedua. Meskipun banyak cercaan menghampiri, tak dapat dielak bahwa lagu-lagu semacam ini disukai masyarakat.

Fenomena pop Melayu muncul atas adanya epigonistik atau mental pengekor yang kental dalam masyarakat Indonesia. Saat ada sesuatu yang mampu mencapai kesuksesan, tak lama kemudian akan muncul pengekornya. Ini menjadi indikasi adanya ketidaksehatan dalam berkreativitas. Oleh karena itu, tak heran jika keseragaman mencengkeram musik di Indonesia pada tahun 2008. Fenomena ini termasuk dalam industri budaya.

Istilah industri budaya kerap digunakan untuk merujuk pada industri musik, penerbitan buku, dan produksi film. Industri budaya merefleksi penguatan pemujaan komoditas, dominasi pada pertukaran nilai, dan pengaruh monopoli kapitalisme negara. Ia mampu membentuk selera dan preferensi massa sehingga menciptakan keinginan atas kebutuhan yang semu. Para pelaku industri budaya menggabungkan ide industri budaya terhadap budaya massa. Industri budaya beroperasi dengan cara yang sama seperti industri pabrik lainnya. Semua pekerjaan dijadikan formalitas dan produk yang diciptakan berdasarkan pada prosedur standar. Semuanya dibangun hanya untuk menghasilkan uang.

Pop melayu modern dapat disebut sebagai produk industri budaya karena banyak ditemukan grup musik baru yang muncul dalam waktu tak berselang lama dan mengusung karakteristik yang sama, bertemakan cinta dan perselingkuhan. Selain itu, liriknya yang dekat dengan keseharian dan aransemen musik yang sederhana menjadi daya tarik bagi masyarakat. Musik-musik semacam ini terus-menerus direproduksi oleh industri dan dikemas dengan apik  hingga seolah-olah tampak baru, meski sebenarnya di dalamnya hanyalah keseragaman. Statisitas ini sebagai cerminan adanya penurunan kreativitas dalam musik populer di Indonesia.

Bahan Pustaka

Kariko, Abdul Aziz Turhan. 2009. Pop Melayu: Hegemoni Media Massa dalam Ranah         Musik Populer di Indonesia. Tesis tidak diterbitkan: Depok: Fakultas Ilmu           Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Wali_Band

http://kafe28.blogspot.com/2009/10/antara-kangen-band-wali-st-12-dan-hijau.html

http://selebriti.kapanlagi.com/kangen_band/

http://www.untukku.com/review-untukku/hijau-daun-band-lagu-terbaru-suara-ku-berharap-      album-ikuti-cahaya-untukku.html

Read Full Post »

oleh Nila Rahma, 0706293002

Laskar Pelangi merupakan novel pertama dari tetralogi Laskar Pelangi, yakni Laskar Pelangi itu sendiri, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Novel ini merupakan persembahan dari penulis untuk Ibu Muslimah Hafsari dan Bapak Harfan Effendy Noor, serta sahabat masa kecilnya anggota Laskar Pelangi. Novel ini terdiri dari 34 bab, 30 bab merupakan cerita pada masa kecil anggota Laskar Pelangi, sedangkan tiga bab lainnya menceritakan kehidupan dua belas tahun setelah mereka berpisah dari Belitong.

Penulisnya, Andrea Hirata, lahir di Pulau Belitung. Meskipun studi mayornya ekonomi di Universitas Indonesia, ia amat mennggemari sains-fisika, kimia, biologi, dan astronomi. Kecintaan Andrea pada bidang sains tercermin pada penggunaaan beberapa istilah Botani dalam novelnya ini, misalnya Nymphaea caereulea atau disebut sebagai The blue water Lily dan Elaeocarpus sphaericus schum atau biasa disebut sebagai pohon ganitri. Ia pun mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesisnya di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dengan predikat kelulusan cum laude. Tesisnya telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Saat ini, Andrea tinggal di Bandung dan bekerja di kantor pusat Telkom.
Novel ini mengangkat kisah nyata yang pernah semasa kecil penulis, Andrea. Di dalamnya, kita bisa melihat perjuangan penulis dan kesembilan kawannya (yang mendapatkan julukan sebagai Laskar pelangi) dalam bidang pendidikan, yakni kemauan belajar yang sangat tinggi, walaupun berada dalam keterbatasan. Ketika membaca novel ini, saya teringat dengan buku yang ditulis oleh seorang penulis Jepang, Tetsuko Kuroyanagi, yang berjudul Totto Chan. Saya menemukan kesamaan dalam kedua novel ini, yakni sama-sama berdasarkan kisah nyata dan mengungkapkan perjuangan anak-anak kecil dalam pendidikan yang terjebak dalam ’keterbatasan’.

September 2005, itulah saat pertama novel ini dicetak. Tak lama kemudian, pada Desember 2005, Laskar Pelangi mengalami cetakan kedua. Pada November 2007, novel ini telah mengalami cetakan ketiga belas. Hal tersebut mencerminkan bahwa novel ini sangat laris di pasaran. Larisnya novel ini tidak terlepas dari keunikan yang dimiliki, seperti yang dikatakan oleh Garin Nugroho, Sineas, yakni “Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik.”
Laskar Pelangi menceritakan kehidupan para anggota Laskar Pelangi, yakni Ikal (Andrea, sang penulis), Trapani (si ganteng yang tak mau sekali pun terlepas dari ibunya), Kucai (sang Ketua Kelas yang sok pintar), Harun (lelaki pendiam yang sering tersenyum tidak jelas), Sahara (satu-satunya hawa yang ada dalam anggota Laskar Pelangi), Lintang (si jenius, saya mengira bahwa Andrea sengaja memilih nama Lintang karena seolah ia memperkenalkan temannya pemilik otak cemerlang yang bisa mengeluarkan ’cahaya’, seperti bintang), Mahar (seniman pemilik ide ’gila’), Borek (si Samson yang tergila-gila ingin memiliki tubuh kekar dengan cara yang ’aneh’), A Kiong (pria yang polos dan satu-satunya orang Hokian-China- dalam anggota Laskar Pelangi), dan Syahdan yang liliput. Mereka adalah para murid SD Muhammadiyah di Belitong yang dalam dunia nyata dikenal sebagai Pulau Belitung, Riau.

Pencitraan penulis dalam novel ini menggunakan ”aku”/ ”aaya” (pencerita akuan internal). Aku lirik atau Ikal dalam novel ini adalah si penulis, Andrea Hirata, yang menceritakan kembali kisah hidupnya dan kesembilan orang temannya semasa SD hingga SMA. Tokoh Ikal berperan sebagai pencerita sekaligus ikut merasakan apa yang ia tuturkan dalam novel ini karena ia juga mengalami langsung peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam novel ini.
Belitong, kampung tambang timah yang menghasilkan timah dengan harga segenggam lebih mahal puluhan kali lipat dibanding segantang padi. Triliunan rupiah aset tertanam di sana, miliaran rupiah uang berputar sangat cepat. Akan tetapi penduduk seolah tak berhak merasakan hasil tanah kelahirannya sendiri sebab kebanyakan dari mereka hanya bekerja sebagai buruh tambang timah di Belitong. Ironis memang, bagaikan tikus mati di lumbung padi. Belitong, dengan nuansa Melayu, sangat kental terasa dalam novel ini. Sebagian penduduknya bekerja sebagai kuli tambang di PN Timah, sebuah perusahaan tambang timah dan yang sebagian lagi adalah para nelayan yang mencari ikan di laut. Seperti ayah Lintang, ia bekerja sebagai nelayan, namun harus menunggu orang-orang yang memintanya untuk bekerja. Bukan karena ayah Lintang tak punya laut, namun karena ia tak memiliki perahu.

Sebuah realitas yang mampu diungkapkan oleh penulis dengan sangat menarik di tengah kemonotonan tema karya sastra populer saat ini, misalnya tema percintaan. Saya merasa seperti diajak oleh penulis mengingat masa kecil kita yang penuh dengan keajaiban kanak-kanak. Di tengah kehidupan yang hedonis seperti yang kebanyakan orang terjebak di dalamnya –atau bahkan mereka memang memilih masuk ke dalamnya– saat ini, penulis mengajak kita menengok sebentar untuk melihat sisi lain dari kehidupan ini.

”Inilah cerita yang sangat mengharukan tentang dunia pendidikan dengan tokoh–tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, (yang) dituturkan secara indah dan cerdas. Pada dasarnya kemiskinan tidak berkorelasi langsung  dengan kebodohan dan kejeniusan. Sebagai penyakit sosial, kemiskinan harus diperangi  oleh metode pendidikan yang tepat guna. Dalam hubungan itu hendaknya semua pihak  berpartisipasi aktif sehingga terbangun sebuah monumen kebajikan di tengah arogansi  uang dan kekuasaan materi.”

Itulah komentar yang dilontarkan oleh Korrie Layun Rampan, seorang sastrawan dan Ketua Komisi I DPRD Kutai Barat. Tidak jauh beda dengan beliau, saya menilai bahwa novel tentang pendidikan ini dapat menggugah para insan dalam bidang pendidikan yang terjebak dalam keterbatasan.

Dari novel ini, kita dapat melihat bahwa keterbatasan tidak selalu menjadikan manusia kerdil, yang hanya dapat berpikir tentang apa kekurangannya, namun sebaliknya, yakni apa yang dapat dilakukan dalam keterbatasan itu. Meskipun berada dalam keterbatasan—gedung sekolah yang hampir rubuh, jarak dari rumah ke sekolah yang sangat jauh, pakaian lusuh seadanya, tas karung satu-satunya, alas kaki yang serba ’unik’– anggota Laskar Pelangi tak mengurungkan niatnya untuk terus berangkat ke sekolah untuk merasakan lezatnya ilmu, yang mungkin dapat mengubah nasib mereka kelak. Tengoklah Lintang, seorang anak kecil yang seolah tak pernah merasa lelah menempuh jarak 80 kilometer pulang pergi dari rumah ke sekolah dengan menaiki sepeda sehingga ia harus berangkat sejak subuh dari rumah.

Pendidikan adalah hal penting dalam kehidupan ini di samping sandang, pangan, dan papan. Berkembangnya suatu negara terlihat dari perkembangan pendidikan di dalamnya. Di sekolah, diharapkan para murid tidak hanya diajari tentang ilmu-ilmu yang bersifat keduniaan saja karena pendidikan yang hakiki tidak hanya dapat membuat para insan memiliki ilmu yang bersifat teori saja, tetapi juga membuat para insan dapat menjalani kehidupan ini dengan jalan yang baik. Andrea menuliskan pada bukunya, “Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku karena perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellent, tapi ia merupakan sebuah universitas kehidupan.”

Read Full Post »

oleh Nila Rahma

Aisyah Putri merupakan salah satu karya berseri karangan Asma Nadia, penulis muda pemenag dua kali Lomba Menulis Cerpen Islami SKI Annida dan peraih Anugerah Adikarya IKAPI 2001. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai Aisyah Putri 3 dengan subjudulnya “Mr. Penyair”. Hampir sama seperti Aisyah Putri seri sebelumnya, tokoh-tokoh dalam novel ini adalah Aisyah Putri yang biasa dipanggil Puput, keluarganya, dan teman sekolahnya. Akan tetapi, di sini kita menemui tokoh baru yang disebut-sebut sebagai Mr. Penyair itu.

Gambaran para tokoh utama secara hampir utuh dijelaskan oleh penulisnya pada bagian awal. Tokoh dan penokohan tidak hanya digambarkan melalui bahasa, tetapi juga ditambahkan dengan sketsanya. Sebagai contohnya adalah Bang Vincent, abang tertua Puput, digambarkan sebagai berikut.

Bang Vincent adalah abang tertua Aisyah yang pikirannya selalu logis dan dan strategis. Buat urusan mikir-memikir… doi memang paling jago deh! Kuliah di Kedokteran tidak membuatnya kurang perhatian terhadap kondisi sekitar. Meski agak pelupa, tapi Bang Vincent tetap ganteng! He-he… nggak nyambung yaa? Lihat aja pendapatnya tentang masalah yang diajukan si Bungsu (Puput) kali ini! Yang jelas, kta bisa belajar banyak dari cowok yang suka banget baca buku ini… Salah satunya, doi ngomong kalo memang dianggap perlu.

Berbeda dengan tokoh ataupun penokohan yang telah telah jelas di bagian awal, alur dalam cerita ini cukup kompleks. Cerita berawal dari beredarnya puisi keren di sekolah Puput yang membuat penasaran para siswa perempuan di sekolah itu. Hampir setiap hari muncul puisi baru. Anehnya, penyair sengaja menggandakan karyanya dalam jumlah yang banyak. Sebuah nama di pojokan kertas-kertas itu terpampang sebuah nama. Salah satu puisinya tak berjudul.

Dance me to your heart

keep me safely in

dance me to the fire

flames burning

music of desire

dance me to the night

stars shining

under the moonlight

dance me to the dawn

morning bright

hear the wind sings our song

dance me to the sky

soaring  free

give me wings to fly

dance to your heart

keep me safely ini

dance with me in your heart

by Don

Don, cowok ganteng kelas 2 IPS yang juga pintar itu kini kian digemari para cewek di sekolahnya. Bagaimana tidak, puisi romantisnya membuat banyak cewek di sekolah itu serasa terbang dan ke-GR-an.

Cerita berlanjut saat di sekolah diadakan Pemilihan Bintang 2000. Setiap kelas harus mengirimkan delegasinya untuk dipertandingkan. Tak terduga, Puput terpilih menjadi wakil dari kelasnya. Terpilihnya puput sebagai perwakilan juga bukan tanpa alasan.  Dulu, nilai akademik Puput biasa-biasa saja, namun belakangan ini nilainya cukup melesat. Puput terkenal supel dan beberapa aksi sosialnya cukup mendapat simpati . Beberapa waktu lalu pun, ia berhasil menggerakkan massa dari sekolahnya untuk mengikuti aksi cinta damai yang sempat diliput berbagai stasiun televisi.

Don, penyair ganteng di sekolah itupun ikut serta dalam finalis Pemilihan Bintang 2000. Banyak siswa perempuan di sekolah yang menjagokan dia sebagai pemenang tahun ini. Sepertinya tak ada alasan untuk tidak menjagokannya. Cowok yang bernama lengkap Don Juan ini memiliki prestasi akademik yang begitu cemerlang.

Semua siswa di sekolah tak akan terlalu terkejut jika Don memenangkan kompetisi ini. Saat itu, tibalah gilirannya tepat seusai Puput. Hal tak terduga terjadi saat Don harus menyampaikan jawaban yang diberikan oleh dewan juri. Ia berkata,

“Tanpa bermaksud menyombongkan diri, ketika pertama kali saya ditunjuk untuk mengikuti lomba ini, saya sangta yakin akan menang. Karena berkata-kata adalah senjata saya. Hal yang paling saya minati dalam hidup saya adalah merangkai kata demi kata, hingga menjadi indah dan enak didengar. Akan tetapi, dengan jujur dan rendah hati pula… saya harus mengakui satu hal. Bahwa apa yang disampaikan rekan kita barusan sangat bagus dan tajam. Seorang wanita yang telah membuat saya hormat, bukan karena hal lainnya, tapi karena ketajaman lisannya. Karena itu, dengan tulus saya mengucapkan selamt kepada teman kita tadi. Bagi saya, tak ada pemenang yang lebih pantas kecuali dia. Dan degan kalimat itu pula makan saya menyatakan mengundurkan diri.”

Seluruh warga sekolah begitu kaget menyaksikan hal ini, tak terkecuali Puput sendiri. Ia mencari-cari tahu alasan Don melakukannya. Gadis ini mendiskusikannya pada empat kakaknya hingga teman-teman di sekolah. Hingga pada suatu hari, ia sendirimenenukan jawaban itu dari Don dalam sebuah percakapan berikut,

Mau alasan yang bercanda atau serius?”

Aisyah Putri tak perlu berpikir untuk menjawabnya.

“Yang serius.”

Don mengangguk.

“Oke… waktu itu aku sakit perut!”

Apabila penulis telah menjelaskan tokoh ataupun penokohan di awal dengan cukup jelas, biasanya, ia akan bermain pada alur yang kompleks. Alur kompleks atau rumit ini melibatkan emosional pembaca karena muncul penasaran yang kelanjutan cerita dan membutuhkan pembuktian. Pembaca akan setia mengikuti kelanjutannya untuk mengetahui ketepatan tebakannya. Apabila tebakan itu memang benar-benar terjadi, mereka mendapatkan kepuasan. Hal seperti ini dinamakan peneguhan. Biasanya, model seperti ini terdapat pada karya sastra populer. Karya sastra populer merupakan karya sastra yang temanya ringan, dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahasanya ringan, dan menyajikan eksotisme. Aisyah Putri termasuk dalam kategori sastra populer sebab mengandung unsur-unsur tersebut.

Read Full Post »

Seksualitas Saman (3)

Ayu_Utami

Oleh: Maharddhika

Mahasiswa Sastra Indonesia UI 2008

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Saman memiliki pesan yang cukup eksplisit: membicarakan tema seksualitas dengan keterbukaan yang provokatif, memprotes bias gender, memberontak kemapanan laki-laki, dan mengakui orientasi seksual yang plural. Tokoh-tokoh perempuan Saman adalah perempuan yang jauh dari citra yang selama ini melekat pada perempuan seperti lemah lembut, tidak mandiri, dan tidak memiliki hak memilih dalam hidup.

Tokoh-tokoh perempuan dalam novel Saman adalah mereka yang mengabaikan lembaga perkawinan. Dalam novel tersebut, perkawinan tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral. Keperawanan pun sudah dianggap tidak ada artinya, sama tidak ada artinya dengan apakah seorang lelaki perjaka atau tidak sebelum menikah.

Pendobrakan nilai-nilai seperti inilah yang lantang disuarakan Ayu Utami dalam Saman. Termasuk di dalamnya pendobrakan terhadap nilai-nilai moral yang dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia. Saman menyuguhkan tema yang secara budaya dianggap tabu dengan menuturkan seksualitas oleh wanita seperti hubungan intim, hubungan di luar nikah, orgasme dan tema-tema seksualitas lain yang masih dianggap tabu untuk dikemukakan dengan sudut pandang seorang wanita secara gamblang. Novel Saman adalah novel yang yang mengeksploitasi seksualitas dengan kata-kata vulgar seperti penis, vagina, dan orgasme.

3.2 Saran

Mengingat sebuah makalah harus mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan ataupun kehidupan bermasyarakat, maka saran-saran yang diberikan adalah sebagai berikut:

  1. Hendaknya perempuan diposisikan sama dengan laki-laki. Perempuan harus punya kesadaran terhadap isu-isu khusus yag dihadapi perempuan akibat pembedaan perlakuan, diskriminasi, atau perendahan. Sebaliknya, laki-laki harus menghindari perlakuan diskriminatif terhadap perempuan
  2. Pemerintah diharapkan melakukan upaya-upaya sistematis untuk memastikan adanya respon dalam mewujudkan kesetaraan gender dalam kebijakan di semua bidang.

DAFTAR PUSTAKA

Bandel, Katrin. (2006). Sastra, Perempuan, Seks. Yogyakarta: Jalasutra.

Djajanegara, Soenarjati. (2000). Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sambodja, Asep. (2008). “Membaca Ayu Utami: Perempuan yang Mempersetankan Perempuan.” Style Sheet. http://asepsambodja.blogspot.com (13 Mei 2009).

Utami, Ayu. (1998). Saman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Read Full Post »

Seksualitas Saman (2)

Ayu_Utami

Oleh: Maharddhika

Mahasiswa Sastra Indonesia UI 2008

BAB II

PENGALAMAN SEKSUAL

DAN POTRET TOKOH-TOKOH PEREMPUAN SAMAN

Saman merupakan salah satu novel feminisme yang berhasil menyuarakan gabungan antara pandangan terhadap perempuan, tubuh, dan seksualitas. Novel ini sering disebut sebagai contoh karya sastra dengan keterbukaan baru dalam membicarakan seksualitas. Tokoh-tokoh Saman merepresentasikan kehidupan seksual yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku pada masyarakat Indonesia, dalam arti bahwa perilaku seks yang dibicarakan bukanlah perilaku yang telah disahkan oleh ikatan pernikahan. Seksualitas direpresentasikan secara provokatif oleh kelima tokoh perempuan yaitu Laila, Shakuntala (Tala), Yasmin, Cok, dan Upi.

1.1 Keluguan Laila

Laila adalah seorang fotografer yang jatuh cinta pada Sihar, seorang insinyur perminyakan yang bekerja di rig. Laila pernah bercumbu dengan Sihar di sebuah kamar hotel. Pada saat itu, Laila merasa sangat gugup karena dia belum pernah sekamar dengan seorang laki-laki sebelumnya. Sebaliknya, Sihar adalah seorang lelaki yang menghabiskan waktunya di lautan, dari sana kehidupan terdekat hanyalah warung-warung kecil dengan para pelacur di dalamnya. Terlebih juga Sihar telah beristri. Pengalaman seksualitas yang berbeda itu membuat Laila kalut dan dirundung ketakutan yang sangat akut.

“Lalu kami berbaring di ranjang, yang tudungnya pun belum disibakkan, sebab kami memang tak hendak tidur siang. Dia katakan, dada saya besar. Saya jawab, tolong, saya masih perawan. (Adakah cara lain.) Dia katakan, bibir saya indah. Ciumlah. Ciumlah di sini. Saya menjawab tanpa kata-kata. Tapi saya telah berdosa. Meskipun masih perawan”[1]

Setelah bercumbu untuk pertama kalinya, Laila menjadi ketagihan. Laila mengalami ketergantungan terhadap Sihar. Laila sering mengajak Sihar berkencan tetapi Sihar tidak mau, “Malam itu kami tidak jadi berkencan. Begitu terjadi berulangkali, lebih dari enam belas.” Dia selalu membatalkan janjinya untuk berkencan Cinta menjadi sesuatu yang salah karena tidak tercakup dalam konsep pernikahan. Sihar sering merasa berdosa pada istrinya. Laila takluk pada hasrat yang tercipta saat kencannya yang pertama. Dia hanya bisa membayangkan persenggamaannya dengan Sihar di sebuah taman kemudian diteruskan di hotel.

Pada suatu malam, akhirnya mereka bisa berkencan. Namun mereka tidak sampai berhubungan seks. Sihar hanya sampai orgasme saja sedangkan Laila tidak mencapai orgasme.

“‘Mereka [Laila dan Sihar] tidak berhubungan seks!’ tukas Yasmin. ‘Siapa bilang? Pokoknya, semua tindakan saling merangsang atau menimbulkan rangsangan pada organ-organ seks adalah hubungan seks. Apalagi sampai orgasme. Soal masuk atau tidak, itu cuma urusan teknis.’ Tak ada yang bisa membantahku bahwa masturbasi adalah tingkah laku seks.”[2].

Di sini timbul kesan bahwa perempuan hanya dapat merasa nikmat dan mencapai orgasme apabila terjadi hubungan seksual, sedangkan laki-laki mempunyai alternatif lain untuk mencapai orgasme yaitu dengan cara masturbasi. Seperti juga masturbasi, praktik seks tanpa penetrasi hanya menjadi monopoli laki-laki.[3]

Sebelum jatuh cinta kepada Sihar, Laila pernah terlibat cinta platonis dengan seorang pemuda katolik, Saman. Laki-laki itu menjadi pastor dan mengembara. Laila hanya bisa mengirimi dia puisi-puisi.

Pada semester kelima kuliah, Laila mendapat teman kencan yang mengelus-elus tengkuk dan telinganya. Dalam sebuah percakapan dengan Tala, keluguan Laila sangat terlihat. “Aku [Laila] dicium, jawabnya suatu pagi. Tak boleh lagi kamu [Laila] dicium, kataku [kata Tala], besok-besok kamu harus ciuman. Suatu siang ia laporan: semalam aku ciuman. Dan apakah kamu basah?-tanyaku. Tidak tahu, katanya, apa bedanya dengan keputihan?[4] Laila selalu berada dalam monopoli seksual yang dibuat laki-laki. Laila hanya menjadi alat pemuas laki-laki saja. “Cintanya mirip devosi. Isinya cuma pujian dan keinginan memberi.”[5]

1.2 Shakuntala yang Sundal

Shakuntala adalah sosok wanita merdeka, yang membebaskan diri sesukanya, terutama dalam keperawanannya. Dalam pengakuannya, Tala telah menghilangkan keperawanannya di usia sembilan tahun. Baginya keperawanan harus dipertanyakan kembali, harus dikritisi mengapa keperawanan begitu penting bagi seorang perempuan sedangkan keperjakan laki-laki tidak pernah dipermasalahkan. Tala tidak menganggap keperawanan sebagai hal yang istimewa meskipun ibunya telah menanamkan pentingnya keperawanan bagi seorang wanita.

“Ibuku [ibu Tala] berkata, aku [Tala] tak akan retak selama aku memelihara keperawananku. […] Ia memberitahu bahwa di antara kedua kakiku, ada tiga lubang, Jangan pernah kau sentuh yang tengah, sebab di situlah ia tersimpan. Kemudian hari kutahu, dan agak kecewa, bahwa ternyata bukan cuma aku saja yang istimewa. Semua anak perempuan sama saja. […] sedangkan anak laki-laki? mereka adalah gading: tak ada yang tak retak.”[6]

Dia telah menemukan, ternyata tidak ada yang istimewa dalam keperawanan. Keperawanan hanya sekedar “sarang laba-laba merah.”

Di usia remajanya, Tala menjadi pemberontak terhadap kondisi sosial yang memuliakan laki-laki untuk diberi keistimewaan oleh perempuan, sementara itu laki-laki sendiri tidak pernah dipersoalkan keperjakaannya. Pemikiran ini berlanjut ketika Tala menginjak dewasa, dirinya diberi wejangan tentang keperawanan dan perkawinan oleh ayahnya.

“Di sini, di kota asing ini, malam hari ayahku mengikatku pada tempat tidur dan memberiku dua pelajaran pertamaku tentang cinta. Inilah wewejangnya: Pertama. Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Kedua. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas, dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Itu dinamakan perkawinan. Kelak, ketika dewasa, aku menganggapnya persundalan yang hipokrit.”[7]

Tala tidak mengindahkan wejangan itu, bahkan Tala memilih menghilangkan keperawanan dan menolak perkawinan yang memuliakan laki-laki. Lebih jauh lagi, ketika dirinya dipanggil sundal oleh ayah dan kakak perempuannya karena sering tidur dengan beberapa lelaki—dan juga perempuan, Tala tidak acuh. Pilihannya untuk melakukan hubungan seksual dengan beberapa lelaki merupakan sebuah pemberontakan terhadap inferioritas perempuan dan kekuasaan laki-laki.

Selain hal di atas, Tala mempunyai cara lain dalam membebaskan dirinya dari kondisi itu, yakni dengan menari. “Tapi ia bermain sendiri-sendiri, seperti aku: menari sendiri. Kami penuh dalam diri masing-masing, tidak mengisi satu sama lain, apalagi melengkapi upacara penyambutan tamu-tamu sultan atau turis keraton. […] Aku menari sebab aku sedang merayakan tubuhku[8]. Tala telah melawan kekuasaan ayahnya, figur yang mewakili laki-laki. Tala selalu melawan, meskipun sesungguhnya ayahnya adalah figur yang harus dihormati karena posisinya dalam keluarga.

Berbicara tentang pernikahan, Tala tidak menerima konsep penyatuan sepasang manusia dalam institusi pernikahan. Tala keberatan dengan definisi perkawinan seperti yang diwejangkan ayahnya kepadanya. Baginya pernikahan itu harus mengandung azas saling menguntungkan. Laki-laki dan perempuan harus memadukan feminin dan maskulin dalam keadaan yang mereka inginkan. Harus ada keselarasan dan posisi lelaki-perempuan yang seimbang.

Tentang kehidupan seksual, Tala pun ternyata tidak hanya terpaku pada lawan jenis saja. Dirinya juga mempunyai orientasi seksual lesbianisme, homoseksual antarperempuan. Tala cemburu kepada Laila yang saat itu jatuh cinta pada Sihar. “Aku [Tala] tidak suka pada Sihar. Saat karibku [Laila] pulang dari Sumatera dua tahun lalu, ia menelepon bahwa hatinya sedang terisi. Dan jin macam apakah yang kali ini menghuni hatimu—aku bertanya”[9]

1.3 Perselingkuhan Yasmin

Yasmin Moningka adalah perempuan yang mengesankan banyak lelaki karena kulitnya yang bersih dan tubuhnya yang langsing. Yasmin dijuluki the girl who has everything oleh Laila, Cok, dan Tala—temannya. Ia adalah seorang pengacara. Ia kerap bergabung dalam tim lembaga bantuan untuk orang-orang yang miskin atau tertindas.

Yasmin adalah alumni Fakultas Hukum UI. Dulu ia masuk melalui jalur PMDK. Pada waktu kuliah, orangtuanya membelikannya rumah di Depok agar dekat kampus. “Senin sampai Jumat ia dan pacarnya saling mengeksplorasi tubuh dengan kemaruk.”[10] Dia tidur dengan pacarnya, Lukas Hadi Prasetyo. Setelah delapan tahun berpacaran, mereka menikah dengan adat suaminya yaitu Jawa. Yasmin, sebagai perempuan, tunduk pada adat yang mewajibkan ia untuk “rela” mencuci kaki laki-laki sebagai tanda sembah bakti seorang istri.

“’Kok mau-maunya sih pakai cara begitu?’ aku [Tala] protes. […] ‘Ah, Yesus juga mencuci kaki murid-muridnya. Lagipula, kamu [Tala] sendiri orang Jawa!’ Aku [Tala] mau memberondongkan argumen panjang tentang Yesus-nya dan Jawa-ku. Misalnya, cuci-cucian Yesus itu adalah sebuah penjungkiran nilai-nilai, sementara yang dilakukan istri Jawa adalah kepatuhan dan ketidakberdayaan. Tidak sejajar sama sekali.

Yasmin, yang sudah bersuamikan Lukas Hadi Prasetyo, berselingkuh dengan seorang pastor, Romo Wis, panggilan Athanasius Wisanggeni, yang berganti nama menjadi Saman saat berada dalam status buronan. Mereka melakukan hubungan seksual saat Yasmin dan Saman berada di Pedusi Inn Pekanbaru milik Cok, ketika Saman mau dilarikan ke Amerika. Hubungan Yasmin yang memperjakai Saman itu berlanjut melalui surat elektronika yang mampu membuat Saman orgasme hingga masturbasi membaca surat-surat Yasmin. Sedangkan Yasmin terkena aloerotisme, bersetubuh dengan Lukas tapi membayangkan Saman hingga Lukas bertanya-tanya, kenapa sekarang Yasmin semakin sering meminta agar lampu dimatikan. Yasmin dan Saman bersetubuh dalam khayalan, persenggamaan maya.

1.4 Kebebasan Cok

Cok adalah perempuan yang sejak duduk di bangku SMA sudah menganut aliran freesex. Cok tak peduli betul pada pernikahan dan neraka. Ia bahkan pernah dipindahkan ke SMA di Bali karena orangtuanya menemukan kondom di tas sekolahnya. Di Bali, justru petualangan seksnya semakin menjadi-jadi. Ia kencan dengan beberapa pria sekaligus dalam kurun waktu yang sama.”Cok sudah lima kali delapan kali pacaran, dan masih belum puas juga.”[11] Orang tua yang dulunya marah dan membuang Cok ke Bali menjadi tak bisa marah lagi. Mereka kadang terpaksa melindungi Cok dari pacar-pacar Cok yang ngamuk karena dikhianati.

Cok memegang peran penting dalam perselingkuhan yang dilakukan Yasmin dengan Saman. Cok menyediakan tempat persembunyian bagi Saman ketika dia buron. Cok mempunyai hotel di Pekanbaru. Di hotel itu, Saman menempati bungalow bersama Yasmin. Cok “menjebak” mereka dengan pergi dan membiarkan mereka berhubungan seks.

1.5 Upi: Representasi Seksualitas yang Alami

Di samping Laila, Shakuntala, Yasmin, dan Cok, masih ada seorang tokoh perempuan lain yang perilaku seksualnya digambarkan cukup rinci yaitu Upi, seorang gadis cacat mental yang diberi perhatian khusus oleh Romo Wis (Saman). Karena cacat mental, Upi menjadi semacam wujud seksualitas yang bebas tak terkekang. Birahi Upi dipahami sebagai persoalan biologis, terlihat misalnya pada deskripsi Upi sebagai gadis “yang mentalnya tersendat namun fisik dan estrogen dan progesteronnya tumbuh matang”[12], juga pada keterangan ibu Upi, “Ia [Upi] biasanya menjadi ganas kira-kira seminggu menjelang darah kotor itu datang.”[13]

Representasi seksualitas yang alami tersebut dalam beberapa hal tidak jauh dari seksualitas tokoh perempuan yang lain. Upi mencari kepuasan seksual dengan bermasturbasi seperti Cok dan Shakuntala. Namun masturbasi dilakukannya dengan cara menggosokkan selangkangannya pada pohon, tiang listrik, pagar atau sudut tembok. Dia juga menggabungkan pemuasan birahinya dengan tindakan penyiksaan seperti Yasmin, yaitu penyiksaan terhadap binatang dengan cara memerkosa binatang tersebut. Perincian memerkosa di sini tidak diceritakan segamblang aktivitas seksual lainnya, hanya satu bagian saja yang digambarkan dengan jelas, yaitu “ia mengempit seekor bebek di pangkal pahanya sambil mencekik leher binatang itu.”[14]

Upi pada awalnya digambarkan sebagai gadis yang tidak birahi pada laki-laki, dia hanya bermain seks dengan dirinya sendiri.

“Gadis itu terkenal di kota ini karena satu hal. Dia biasa berkeliaran di jalan-jalan dan menggosok-gosokkan selangkangannya pada benda-benda […] seperti binatang yang merancap. Tentu saja beberapa laki-laki iseng pernah memanfaatkan tubuhnya. Konon, anak perempuan ini menikmatinya juga. Karena itu, kata orang-orang, dia selalu saja kembali ke kota ini, mencari laki-laki atau tiang listrik”[15].

Seks bagi Upi hanya stimulasi tubuhnya sendiri yang memberi kenikmatan. Namun kemudian, hubungan seks dengan laki-laki yang terjadi atas paksaan dinikmatinya juga.  Hubungan seks yang dilakukan Upi dengan laki-laki bukan karena ketertarikannya dengan laki-laki itu, tetapi hanya karena rangsangan seksual yang diterimanya.

Karena kelakuan Upi kadang-kadang agresif dan membahayakan orang lain, keluarganya menguncinya dalam sebuah bilik. Wis merasa iba melihat keadaan Upi namun dia tidak mampu membawanya ke rumah sakit karena pengobatan di rumah sakit terlalu mahal. Dia akhirnya memutuskan untuk tetap meringankan penderitaan Upi dengan membuatkan “penjara” yang lebih luas dan bersih untuk Upi. Dalam pembuatan tempat tinggal Upi itu, kebutuhan seksual Upi juga diperhatikan. Wis mengenal tingkah laku seksual dan dia sendiri pun pernah dikagetkan oleh pendekatan seksual Upi: Upi tiba-tiba meraba kemaluannya. Sebagai “solusi” untuk kebutuhan seksual Upi, tempat tinggal Upi yang baru dilengkapinya dengan sebuah patung, “Upi! Kenalkan, ini pacarmu! Namanya Totem. Totem Phallus. Kau boleh masturbasi dengan dia. Dia laki-laki yang baik dan setia.”[16]


[1] Ayu Utami, Saman. Jakarta: KPG, 1998. Hlm. 4

[2] Ibid. hlm. 130.

[3] Katrin Bandel, Sastra, Perempuan, Seks. Yogyakarta: Jalasutra, 2006. Hlm. 108

[4] Ayu Utami, op. cit. Hlm. 128

[5] Ibid. Hlm. 150

[6] Ibid. Hlm. 124

[7] Ibid. Hlm. 120—121

[8] Ibid. Hlm. 125—126

[9] Ibid. Hlm. 127

[10] Ibid. Hlm. 153

[11] Ibid. Hlm. 146

[12] Ibid. Hlm. 76—77

[13] Ibid. Hlm. 71

[14] Ibid. Hlm. 71—72

[15] Ibid. Hlm. 68

[16] Ibid. Hlm 78

Read Full Post »

saman

Oleh: Maharddhika

Mahasiswa Prodi Indonesia UI 2008

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Dalam beberapa tahun ini, karya sastra terlahir dari para penulis wanita. Gagasan-gagasan feminis muncul. Karya-karya tersebut menjadi alat alternatif dari penyebaran gagasan-gagasan tersebut. Dari sekian banyak karya yang lahir dari tangan dingin para penulis wanita, Saman mencuat. Pada tahun 1998, Saman memenangi Sayembara Roman yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Novel karya Ayu Utami ini mendapat komentar yang luar biasa. Sapardi Djoko Damono, salah seorang juri Sayembara Roman DKJ, mengungkapkan keterkejutannya atas kehadiran Saman. Menurutnya, Saman memamerkan teknik komposisi yang sepanjang pengetahuan, belum pernah dicoba oleh pengarang lain di Indonesia, bahkan mungkin di negeri lain. Saman, dengan kalimat terakhirnya “Perkosalah aku” yang provokatif itu, menjadi buah bibir karena pendobrakan dan keterbukaannya dalam hal seksualitas. Tema Saman yang mendobrak itu lah yang membuat penulis tertarik untuk menganalisa tema seksualitas Saman karya Ayu Utami.

1.2 Perumusan Masalah

Agar penelitian ini terarah maka lingkup masalah penelitian ini dapat dirumuskan dengan membatasi masalah pada tema-tema seksualitas yang direpresentasikan oleh para tokoh perempuan Saman.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan akan memandu penulis ke arah hasil tertentu yang diinginkan. Karena itu, tujuan penulisan itu dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Mendeskripsikan tema-tema seksualitas yang dialami tokoh-tokoh perempuan Saman
  2. Mendeskripsikan potret dan pandangan tokoh perempuan Saman mengenai seksualitas

Read Full Post »

Older Posts »