Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sastra Sejarah’ Category

oleh Khairun Nisa

 

 

1. Pengantar

Fakta sejarah bisa berbeda tergantung bagaimana sang saksi mata dipengaruhi sesuatu atau ada kepentingan lain di baliknya. Saat ini, sejarah mengenai kekejaman PKI diragukan, ada yang berspekulasi sejarah PKI yang sudah lama beredar karena ingin memperlihat kesuperioritasan Soeharto. Adanya fakta sejarah yang berbeda dari yang beredar selama ini ternyata juga terjadi pada peristiwa perang Paderi. Basyral Hamidy Harahap dalam bukunya Greget Tuanku Rao menyatakan bahwa kaum Paderi membunuh tanpa pandang bulu, memperkosa perempuan-perempuan, bahkan menjual mereka untuk dijadikan budak atau untuk dibarter dengan mesiu (Harahap, 2007:95).

Greget Tuanku Rao lebih menceritakan pasukan Paderi di tanah Batak dan lagi buku ini sangat kontroversial sehingga kebenarannya masih diragukan. Inilah yang membuat saya tidak bisa menjadikan buku ini sebagai data landasan utama dari novel yang saya analisis. Novel Bidadari Paderi karya Saiful A. Imam menceritakan sebuah kisah dengan latar di daerah Kamang, dekat Bukittinggi. Sama halnya dengan buku karya Dobbin, buku beliau lebih menitikberatkan pada kehidupan ekonomi di tanah Minang. Saya lebih memilih buku Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang karya Rusli Amran sebagai landasan utama analisis makalah ini. Meski bukunya terbit 27 tahun yang lalu, saya rasa buku ini lebih netral melihat gerakan paderi dari berbagai sisi dan ditulis bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Novel Bidadari Paderi berlatar belakang sejarah dengan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya merupakan tokoh fiktif. Meskipun demikian, beberapa tokoh sejarah juga disebut tanpa dilibatkan langsung dengan konflik yang terjadi pada tokoh utama. Berikut kutipan dari novel tersebut.

 

“…. Kita perlu menentukan waktu latihan dan tempatnya. Untuk pelatihnya, Tuanku Imam Bonjol siap mengirim orangnya ke mari. Selain itu, kita sudah menghubungi pula pasukan pasukan Tuanku Nan Renceh di Kamang.”(Imam, 2007:20).

Sastra sejarah menurut Zarah Ibrahim bermula dari kepercayaan mengenai adanya suatu peristiwa tertentu (Ibrahim, 1986: 7). Zarah Ibrahim lebih menitikberatkan pengertiannya untuk sastra sejarah melayu klasik. Sedangkan, jika kita melihat hasil karya sastra sejarah saat ini, kesimpulan sementara, sastra sejarah dibuat berdasarkan dari data sejarah yang sudah ada dan penulis sastra sejarah saat ini umumnya ingin memperlihatkan sebuah latar sejarah untuk memancing pembaca mencari tahu sejarah sebenarnya dari sastra sejarah tersebut.

Jika dalam sastra zaman klasik, karya tersebut dipercaya benar-benar terjadi oleh penulisnya, sekarang ini penulis karya sastra sejarah menyadari bahwa karya mereka memang tidak bisa dijadikan data sejarah karena penulisannya tidak ilmiah dan data yang diambil belum tentu berdasarkan data sejarah yang valid. Untuk itu saya ingin menganalisis sejauh mana pengetahuan penulis mengenai sejarah gerakan paderi berdasarkan data sejarah yang ada. Dengan catatan, saya menyingkirkan isu-isu yang berbau kontroversi dan SARA karena takut ada ketidaknetralan di dalamnya. Makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami novel Bidadari Paderi dengan latar yang didasarkan fakta sejarah.

 

2. Identitas pengarang[*]

Saiful A. Imam bernama lengkap Saiful Ardi Imam Sinaro, Lc, lahir di Matur, Bukittinggi, 20 November 1978 sebagai anak pertama dari empat bersaudara.

Penulis memperoleh pendidikan pada Sekolah Dasar (SD) Tengah Sawah di Bukittinggi (1985—1991), MTsN di Bukittinggi (1991—1994), dan MAN di Koto Baru Padang Panjang (1994—1997).

Pendidikan tingginya dilalui di program I’dad Lughawi (Bahasa Arab) pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta (1999—2000). Penulis juga pernah kuliah di fakultas Psikologi sebuah PTS di Jakarta selama tiga semester (1998—2000, tidak selesai).

Gelar sarjana diperoleh penulis setelah menyelesaikan program S1 di jurusan Fikih Komparatif, Fakultas Syariah Universitas Imam Muhammad Ibu Su’ud (LIPIA) Jakarta (2000—2004).

Pengalaman organisasi penulis peroleh dari mengikuti Basic Training Pelajar Islam Indonesia (PII) Bukittinggi (1996), Latihan Kepemimpinan Himpunan Mahasiswa (HMI) cabang Jakarta (1997), menjadi pengurus departemen Kajian Strategis KASTRAT Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Jakarta II (1998—2000), Ketua Komisariat KAMMI LIPIA Jakarta periode 2000—2001, dan pengurus Departemen Penelitian dan Pengembangan LITBANG Lembaga Kajian Islam LKI Al Fatih LIPIA Jakarta (2001—2002), dan Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Padang Panjang (2007—2008).

Karya penulis antara lain, cerpen “Kembali ke Nagari” (juara LMCPI Annida 2003), 7 Terapi Islami (Penerbit Al Mawardi Prima Jakarta, 2004, dan The Agent of Change Keberanian Memimpin Perubahan (Pena Pundi Aksara Jakarta, 2005).

Penulis yang menikah dengan Yusnizawati S.Ag. dan dikaruniai seorang puteri, Nafisa Imamia, sekarang bermukim di Padang Panjang, Sumatera Barat.

 

3. Sinopsis Novel

Tokoh utama dalam novel ini adalah Jauhari. Ia lahir dan tumbuh dalam masyarakat Minangkabau yang kuat memegang adat pada masa berkembangnya gerakan Paderi dalam rentang waktu 1800—1830an. gerakan paderi yang diceritakan dalam novel ini adalah gerakan yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh di daerah Kamang yang berjarak beberapa kilometer dari Bukittinggi. Cerita ini dimulai dari tahun 1821—1837.

Sebagai anak tunggal yatim piatu, Jauhari selalu membantu nenek dan gaeknya (kakek) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Setiap pagi ia mengumpulkan kayu bakar untuk dijual di pasar dan menggarap lahan sawah dengan keahlian pas-pasan, sebab nenek dan gaeknya melarang ia untuk bekerja di sawah sejak kecil. Orangtua Jauhari dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyukai tindakan ayah Jauhari yang selalu membantu gerakan paderi dengan menyumbangkan sebagian hasil perniagaannya. Setelah dewasa Jauhari menyadari bahwa hanya dengan mencari kayu bakar untuk ditukarkan dengan sedikit bahan makanan tidak dapat menjamin masa depannya. Ia bertekad untuk melanjutkan profesi ayahnya yaitu menjadi saudagar di negeri rantau.

Seorang perempuan bernama Nilam jatuh cinta pada Jauhari. Mereka sesama pengajar pengajian di surau desa mereka. Nilam sendiri adalah keponakan dari Imam Mudo, pemuka agama di desa mereka. Jauhari yang menjadi kepercayaan Imam Mudo tidak disukai oleh Johan dan kelompoknya. Mereka mengira bahwa Jauhari hendak mendapatkan Nilam, sang bungo kambang bapaga duri (bunga kembang berpagar duri), dengan berpura-pura mendekati Imam Mudo. Pada suatu malam, Johan dan kawan-kawannya melancarkan serangan pada Jauhar sambil mengenakan penutup kepala hitam agar tidak dikenali. Mereka terlibat perkelahian yang tak imbang. Jauhar dalam posisi terjepit berusaha membela diri, ia melawan gerombolan penjahat itu, hingga akhirnya salah seorang diantara mereka mengeluarkan pisau untuk membunuh Jauhar. Akan tetapi, yang terjadi sebaliknya, salah satu anak buah Johan terkena tusukan. Kejadian ini membuat Jauhari difitnah dan membuatnya terbuang dari desanya itu.

Lamaran Imam Mudo kepada Jauhari untuk keponakannya itu ditangguhkan karena kasus tersebut. Ternyata di perantauan Jauhari kembali difitnah. Hal ini membuat Imam Mudo menarik lamarannya kepada Jauhari dan Jauhari sempat akan dieksekusi mati. Beruntung fitnah tersebut dapat dibersihkan saat detik-detik terakhir. Tidak lama Jauhari menikah dengan Rafiah, puteri dari Sutan Sinaro, salah seorang pemimpin gerakan Paderi sekaligus penyelamat Jauhari.

Dalam peperangan melawan Belanda, Rafiah beserta ayah dan ibunya meninggal, sedangkan Jauhari hanya terluka parah. Akhirnya, Jauhari menikah dengan Nilam dan mendapatkan dua anak bernama Hasan dan Husein dari pernikahan mereka. Sayang, Hasan meninggal karena akal licik Johan. Nilam yang bernafsu membalas dendam anaknya, meninggal ditembak, begitu pula Jauhari yang ingin menyelamatkan isterinya.

 

4. Gerakan Paderi dalam Novel Bidadari Paderi Karya Saiful A. Imam dan Fakta Sejarahnya

Dalam pelajaran sekolah, gerakan Paderi atau perang Paderi adalah perang kaum paderi yang ingin memurnikan Islam di tanah Sumatera Barat dengan kaum adat yang tetap ingin berpegang pada adat. Perang paderi yang merupakan perang saudara ini berhasil ditunggangi Belanda dengan bergabungnya sebagian kelompok adat kepada bangsa asing tersebut (Matroji, 2000:58—59).

Pengetahuan sejarah tentang perang Paderi yang paling mendasar ini ternyata cocok dengan latar sejarah keseluruhan isi novel yang dikarang Saiful A. Imam. Kaum Paderi digambarkan sebagai kaum yang memerangi Belanda. Namun, ternyata pengarang tidak terperangkap bahwa Kaum Paderi adalah kaum yang baik dan sempurna. Pengarang juga mengakui bahwa perang saudara ini dimulai karena aliran Wahabi yang diusung kaum Paderi, padahal agama Islam sudah diterima sebelumnya oleh orang-orang Minang, tetapi kebanyakan orang adat menyukai sabung ayam dan arak yang jelas dilarang oleh agama mereka.

 

Sutan Pamuncak yang tadi bersandar maju lagi. Ia mengangkat tangan dan bersuara, “Angku Imam Mudo. Saya ingin bicara terus terang. Bagi kami lebih baik tidak ikut daripada dilatih oleh orang Paderi itu. Kami semua sudah tahu kalau kaum Paderi yang telah membuat banyak darah tumpah di Luhak Agam ini sejak dua puluh tahun yang lalu. Bagi kami, menerima ajakan orang Paderi sama saja dengan menjilat ludah. Kami, kaum pendekar dan kaum adat dari dulu sudah menyatakan perang terhadap kaum Paderi pengacau itu…” (Imam, 2007:21).

 

Seperti juga yang diungkapkan oleh Rusli Amran, gerakan paderi ini awalnya memang ingin memurnikan agama Islam dengan turun ke lapangan, sesuai dengan cara modern. Namun, seiring berjalannya waktu gerakan ini berjalan dengan memaksakan kehendak kepada orang-orang yang tidak mematuhi ajaran agama Islam, bahkan ada keharusan seperti berpenampilan kearab-araban, bagi perempuan dan laki-laki. Beberapa pemimpin kaum Paderi juga mulai melakukan tindak sewenang-wenang karena fanatik sempit, bahkan sampai menghilangkan nyawa manusia. (Amran, 1981:388).

Tokoh Jauhari dalam novel ini bertugas merakit senjata untuk berperang melawan Belanda. Senjata bagi kaum Paderi juga didapat dari pemberian dan pembelian dengan pihak luar.

 

Alhamdulillah. Akhirnya, Allah memberi jalan keluar atas kesulitan kita membeli senjata. Dengan dana 20 Rupiah ini, setidaknya kita bisa membeli beberapa senjata berikut amunisinya,” Imam Mudo tampak sangat bersyukur atas bantuan yang diterimanya. “Sambil menunggu pasokan senjata dari Bonjol dan Bukittinggi, rasanya ini lumayan.” (Imam, 2007: 147).

 

Mengenai persenjataan untuk pertempuran melawan pasukan Belanda, kaum paderi memang tidak kalah. Senapan didapat dari buatan atau rakitan sendiri, pembelian dari luar negeri, dan pemberian dari daerah-daerah yang bersimpati dengan perjuangan mereka. Mengenai teknik pertempuran kaum Paderi sebenarnya tidak kalah, hanya saja Belanda lebih lihai melancarkan akal bulusnya dengan mengadu domba orang-orang Sumatera itu sehingga perang saudara masih terus terjadi. (Amran, 1981:391).

Pada tahun 1822, perang dengan pihak Belanda kembali berkobar. Kali ini perlawanan kaum Paderi sampai pada puncaknya. Tokoh Jauhari ikut ambil bagian dalam perang besar ini demi melindungi daerah Kamang. Pada bagian ini ternyata pengarang memasukkan dua tokoh nyata ke dalam karya fiksinya. Mereka adalah Tuanku Nan Renceh dan Kolonel Raff. Latar tempat dan waktu ini memang sangat berkaitan dengan dua orang penting ini karena mereka adalah dua tokoh penting dalam fakta sejarah di Kamang tahun 1822.

 

“Angku-Angku semua. Perhatikanlah peta ini. Ini adalah wilayah kaki Gunung Merapi,” Tuanku Nan Renceh, Panglima Besar Paderi di Kamang membuka sebuah peta di atas meja. Tujuh orang Wakil Panglima mengitari laki-laki bertubuh kecil dengan sorot yang menyala-nyala itu. (Imam, 2007: 323).

 

Kolonel Raff duduk di atas kudanya dan memandang ke depan sambil tersenyum penuh kemenangan. Mengintip dari teropong di tangannya, pimpinan pasukan Belanda itu tampak girang. (Imam, 2007: 343).

 

Daerah Kampang adalah daerah terakhir yang didatangi Raff pada tahun 1822. Daerah inilah yang menjadi sisa pertempuran kaum Paderi karena setelah tahun 1822 kekuatan kaum Paderi menurun (Amran, 1981:411—415). Tuanku Nan Renceh, pemimpin kaum Paderi daerah kampang, yang terluka parah juga tidak lama bisa hidup. Meski begitu perlawanan kaum Paderi masih terus dilakukan, saat melawan Van den Bosch mereka bisa memenangkan pertempuran.

Bagian terakhir novel ini menceritakan sedikit mengenai ditangkapnya Tuanku Imam Bonjol dan berakhirlah perang antara kaum Paderi dengan Belanda.

 

“Ya. Gara-gara dia berkhianat, Belanda bisa masuk ke Matur dan menyerang Bonjol. Sekarang, Tuanku Imam Bonjol sudah tertangkap. Kabarnya dia dibuang ke Jawa.”

“Berarti, orang Paderi sudah kalah Gaek?” tanya Husain. “Berarti, ayah dan umi meninggal sia-sia?” (Imam, 2007: 390).

 

 

Hampir semua latar waktu dan tempat dapat dibuktikan kebenaran sejarahnya. Bukti bahwa pengarang tidak main-main menulis novelnya. Hanya saja ada satu bagian yang kontradiksi dengan dengan ketiga sumber bacaan sejarah yang saya pegang. Dalam novel itu digambarkan ketidaksetujuan Rafiah mengenai ibunya yang memasak singgang ayam untuk keluarga di tempat lain. Hal ini tidak ada dalam sunnah Nabi sehingga Rafiah menganggapnya Bid’ah. Ternyata Sutan Sinaro, tokoh penting kaum Paderi di Kamang, menjawab kalau hal itu bukanlah bid’ah dan merujuknya dengan kesamaan memberi hadiah yang merupakan sunnah Nabi. (Imam, 2007:304—305).

Dari ketiga sumber sejarah yang saya pegang, jelas-jelas dikatakan bahwa kaum Paderi adalah kaum yang menganut paham Wahabi yang ketat menjaga kemurnian Islam dan kadang-kadang cukup kelewatan. Bisa dikatakan mereka seperti pemerintahan Taliban di Afghanistan. Namun, jawaban Sutan Sinaro kepada anaknya itu bertolak belakang dengan fakta sejarah. Ada kemungkinan pengarang ingin mengatakan bahwa adat ada yang bisa terus dipertahankan, tapi masih sejalan dengan agama. Hal ini sah-sah saja jika mengingat bahwa novel ini termasuk sastra sejarah.

 

5. Kesimpulan

Sastra sejarah sekarang ini ditulis dengan diawali dari data dan fakta sejarah dan pengetahuan penulis dengan fakta sejarah sesungguhnya. Ada juga motif keinginan pengarang agar pembaca tergerak mencari rujukan mengenai fakta sejarah yang disuguhkan dalam karya sastra sejarah.

Novel Bidadari Paderi adalah novel romantisme Islami dengan latar sejarah dan sedikit unsur budaya. Pengarang dengan lihai memaparkan sejarah dan latar Minang sehingga pembaca dapat merasakan juga bagaimana hidup di tanah Minang pada masa gerakan Paderi. Hal ini membuat pembaca tidak jemu saat membaca beberapa paragraf mengenai latar sejarah. Tidak ada kesan bahwa novel ini merupakan dokumentasi sejarah maupun menggurui.

 

6. Bibliografi

Amran, Rusli. 1981. Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.

 

Dobbin, Christine. 2008. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri. Depok: Komunitas Bambu.

 

Harahap, Basyral Hamidy. 2007. Greget Tuanku Rao. Depok: Komunitas Bambu.

 

Ibrahim, Zahrah. 1986. Sastra Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajar Malaysia.

 

Iman, Saiful Ardi. 2007. Bidadari Paderi. Jakarta: Republika.

 

Matroji. 2000. IPS Sejarah Untuk SLTP Kelas 2. Jakarta: Erlangga.

 

 

 


[*] Diambil dari bagian “Tentang Penulis” novel Bidadari Paderi hlm. 391—392

Iklan

Read Full Post »

gajah_mada

oleh Putri Susanti

Pengantar

Karya sastra menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama. Cerita rekaan merupakan jenis karya sastra yang beragam prosa. Berdasarkan panjang-pendeknya cerita, ada yang membeda-bedakan cerita rekaan – lazimnya disingkat cerkan – dengan sebutan cerita pendek atau cerpen, cerita menengah atau cermen, dan cerita panjang atau cerpan. Namun, patokan yang jelas tentang persyaratan panjang-pendek ini belum ada (Sudjiman, 1986: 11).

Salah satu cerita rekaan adalah novel atau kemasan ide pengarang yang dituliskan secara mendetil, artinya novel merupakan salah satu karya sastra yang menunjukkan adanya perubahan atau perkembangan alur/jalan cerita. Perkembangan ini menyebabkan perubahan jalan hidup tokoh.

Tema yang dikembangkan dalam cerita rekaan sangat beragam, salah satunya adalah cerita rekaan yang bertemakan kisah sejarah. Karya sastra sejarah ini dapat digolongkan sebagai bukti sejarah karena bersumber dari fakta sejarah. Akan tetapi, karya sastra sejarah tetaplah sebuah karya sastra yang terlahir dari imajinasi dan daya khayal pengarang meskipun pengarang mendapatkan data tulisannya dari fakta sejarah. Tidak ada yang benar-benar tahu sejarah masa lalu sebuah peradaban.Langit_kresna

Salah satu karya sastra sejarah berupa novel adalah novel Gajah Mada Hamukti Palapa yang ditulis oleh Langit Kresna Hariadi. Novel ini merupakan buku ketiga dari lima seri tentang Gajah Mada yang ditulis oleh Langit Kresna Hariadi. Buku ini menceritakan latar belakang munculnya Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada demi mewujudkan impiannya menyatukan nusantara.

Sejarah kebesaran Majapahit pada dasarnya identik dengan sepak terjang Gajah Mada yang ia mulai sejak dikumandangkannya Sumpah Hamukti Palapa. Dari sumpah yang ketika dikumandangkan dilecehkan oleh beberapa pejabat Majapahit, Gajah Mada bekerja keras membangun kekuatan prajurit, terutama armada angkatan laut. Negara Majapahit pun kemudian  berubah menjadi negara yang besar dan berwibawa (Hariadi, 2008:x).

Hasil dari jerih payah Gajah Mada adalah Nusantara yang sekarang ini dikenal dengan nama Indonesia. Indonesia adalah pemberian terindah yang diberikan oleh Gajah Mada. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus berterima kasih pada Gajah Mada dan mulailah mencintai sejarah bangsa ini.

Sosok Langit Kresna Hariadi

Langit Kresna Hariadi lahir di Banyuwangi pada tahun 1959. Ia adalah anak bungsu dan satu-satunya anak dalam keluarganya yang memilih dunia tulis-menulis sebagai pelampiasan hobi, emosi, dan profesi.

Setelah Balada Gimpul, buku pertamanyya yang diterbitkan Balai Pustaka Jakarta, berturut-turut dengan kepala dinginya (dalam pengertian yang sebenarnya) lahir Kiamat Para Dukun diterbitkan oleh PT Era Intermedia, Libby 1, Libby 2, De Castaz, Alivia, Serong, Melibas Sekat Pembatas, Antologi Manusia Laminating yang diterbitkan oleh Qalam Press. Gama Media juga menerbitkan salah satu karyanya yang senafas dengan karyanya yang lain, yang lahir atas keprihatinannya terhadap pembantaian dukun santet di kampung halamannya, Banyuwangi, Kiamat Dukun Santet. Selain menjadi penulis, Langit Kresna Hariadi juga menjadi dalang dari cerita silat bersambungnya yang berjudul Beliung dari Timur.Gajah Mada adalah buku pertamanya yang diterbitkan oleh Tiga Serangkai, lumayan mencuri perhatian dan mengundang apresiasi (Hariadi, 2008:689-690).

Ringkasan Gajah Mada Hamukti Palapa

Cerita ini berawal dari perintah Ki Ajar Padmaguna, seorang kakek tua yang tinggal di sudut pelosok Majapahit, kepada anaknya, Branjang Ratus, untuk menemui saudara perempuannya, Sri Yendra. Ki Padmaguna menyuruh Branjang Ratus menemui Sri Yendra di kotapraja karena ia mendapat wangsit saudaranya tersebut sedang membutuhkan bantuan. Karena bakti sebagai seorang anak, Branjang Ratus pergi menemui bibinya. Ternyata, bantuan yang dibutuhkan bibinya adalah bantuan untuk mencuri dua pusaka kerajaan, yaitu cihna nagara gringsing lobbeng lewih laka dan songsong Udan Riwis. Kedua pusaka tersebut merupakan lambang negara Majapahit dan payung yang sering digunakan dalam acara penting di kerajaan.

Kemudian, terjadilah pencurian di istana yang disertai dengan gempa bumi. Kedua pusaka tersebut telah raib digondol maling. Istana gempar, pasukan Bhayangkara dengan segera mencari pencuri dua pusaka Majapahit itu.

Demi mempertanggungjawabkan kelalaiannya menjadi dua pusaka tersebut, Gajah Enggon dengan Pradhabasu, mantan prajurit Bhayangkara pergi mencari kedua pusaka itu di Ujung Galuh. Perjalanan ini dilakukan berdasarkan wejangan dari Ibu Permaisuri Gayatri, ibu dari Ratu Majapahit.

Di Ujung Galuh, Gajah Enggon berhasil menemukan titik terang. Ia melihat pencuri yang memakai cihna nagara dan membawa songsong Udan Riwis. Selain itu, ia juga dijodohkan dengan cucu Ki Agal, Rayi Sunelok.

Setelah itu, diketahui bahwa dua negara bawahan Majapahit, yaitu Keta dan Sadeng mengumpulkan kekuatan untuk melakukan makar atau pemberontakan melawan Majapahit.

Dengan keberanian dan kesigapan Pradhabasu, pemberontakan Keta dan Sadeng bisa dilacak sehingga Gajah Mada bisa mempersiapkan prajurit untuk menggempur Keta dan Sadeng. Penggempuran ini dibantu oleh pasukan yang dipimpin oleh Aditiawarman, sepupu Ratu Majapahit yang berasal dari Dharmasraya.

Pemberontakan Keta dan Sadeng berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Majapahit. Otak dari pemberontakan itu diadili di ibukota. Akan tetapi, Ratu Majapahit tidak melimpahkan hukuman kepada para pemberontak tersebut, tetapi memberikan anugerah gelar karena telah berani membela negaranya dan menunjukkan kecintaannya kepada Majapahit meskipun dengan cara memberontak. Selain mereka, orang-orang yang berhasil mewujudkan kemenangan pihak Majapahit juga diberi anugerah gelar. Anugerah yang paling besar dilimpahkan kepada Gajah Mada. Gajah Mada ditunjuk menggantikan Mahapatih Arya Tadah yang harus turun jabatan karena sudah tua dan sakit-sakitan. Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit setelah ditunjuk oleh Ratu Majapahit.

Setelah pengangkatannya sebagai mahapatih, Gajah Mada mengucapkan sumpah mengenai keinginannya meluaskan daerah kekuasaan Majapahit. Ia tidak akan menikmati nikmatnya dunia sebelum cita-citanya itu tercapai. Sumpah ini dikenal dengan nama Sumpah Hamukti Palapa.

Akhir cerita, terungkaplah misteri tentang pencuri dua pusaka kerajaan yang hilang. Ia adalah Branjang Ratus yang disuruh oleh Sri Yendra, atau Ibu Suri Gayatri, dengan tujuan menghilangkan kesengsaraan negara kerana kemarau panjang dan meredakan panas yang berlangsung di Majapahit. Semua berakhir bahagia. Gajah Mada berhasil menjadi Mahapatih Majapahit. Gajah Enggon mempunyai istri yang cantik dan berani. Pradhabasu bahagia karena anaknya yang cacat jiwanya menjadi normal dan perempuan yang selalu ada dalam ingatannya juga memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.

Gajah Mada dan Sumpah Palapa

Awalnya saya mengira novel ini berkisah tentang Gajah Mada dan upaya Gajah Mada mewujudkan Sumpah Palapa. Saya kecewa ketika angan-angan saya tidak sesuai dengan cerita novel ini. Akan tetapi, kekecewaan saya terbayarkan dengan cerita yang menarik mengenai asal usul Sumpah Palapa. Saya benar-benar tidak tahu kebenaran yang melatarbelakangi Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa.

Saya menjadi tahu sejarah Majapahit ketika saya membaca novel. Meskipun saya tidak membaca kelima seri novel Gajah Mada, saya bisa merunut rentetan peristiwa sejarah yang terjadi pada masa kerajaan Majapahit. Novel ini menggugah rasa ingin tahu saya atas kekuatan Gajah Mada sebagai Mahapatih Majapahit yang mampu melakukan tindakan luar biasa untuk Nusantara.

Gajah Mada dengan Sumpah Palapa telah menciptakan sebuah kehidupan yang baik untuk Indonesia. Dengan penyatuan wilayah Nusantara, sekarang Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terdiri dari beragam suku bangsa.

Gajah mada adalah sosok yang bertanggung jawab dan sangat mencintai negerinya. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

Gajah mada yang memperhatikan rumahnya, dilibas rasa cemas. Bukan rumahnya yang membuat cemas, tetapi keadaan istana (Hariadi, 2008:35).

Gajah Mada adalah orang yang tekun dan selalu berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik. Hal itu tercermin dalam ucapan Arya Tadah yang menjagokan Gajah Mada menjadi mahapatih. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

… Ketika kau berada dipangkat lurah prajurit, kau berangan-angan untuk bisa meraih jabatan lebih tinggi dengan pangkat senopati….(Hariadi, 2008:295)

Karena keberhasilanmu yang luar biasa, kau meraih jabatan cukup tinggi tanpa harus melalui tataran yang semestinya…(Hariadi, 2008:295)

Gajah Mada adalah sosok gagah berani sehingga ia dipilih menjadi mahapatih menggantikan Arya Tadah.

…orang yang diangkat menjadi mahapatih haruslah orang yang kuat, berlengan kekar, dan memiliki nafas yang panjang….(Hariadi, 2008:674)

Demi membangun Majapahit yang besar, Majapahit yang jaya dan gemilang, diperlukan tangan yang kukuh, kuat, dan kekar. Majapahit menunjuk Gajah Mada (Hariadi, 2008:676).

Kesimpulan

Tema yang dikembangkan dalam cerita rekaan sangat beragam, salah satunya adalah cerita rekaan yang bertemakan kisah sejarah. Karya sastra sejarah ini dapat digolongkan sebagai bukti sejarah karena bersumber dari fakta sejarah. Akan tetapi, karya sastra sejarah tetaplah sebuah karya sastra yang terlahir dari imajinasi dan daya khayal pengarang meskipun pengarang mendapatkan data tulisannya dari fakta sejarah. Tidak ada yang benar-benar tahu sejarah masa lalu sebuah peradaban.

Salah satu karya sastra sejarah berupa novel adalah novel Gajah Mada Hamukti Palapa yang ditulis oleh Langit Kresna Hariadi. Novel ini merupakan buku ketiga dari lima seri tentang Gajah Mada yang ditulis oleh Langit Kresna Hariadi. Buku ini menceritakan latar belakang munculnya Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada demi mewujudkan impiannya menyatukan nusantara.

Sejarah kebesaran Majapahit pada dasarnya identik dengan sepak terjang Gajah Mada yang ia mulai sejak dikumandangkannya Sumpah Hamukti Palapa. Dari sumpah yang ketika dikumandangkan dilecehkan oleh beberapa pejabat Majapahit, Gajah Mada bekerja keras membangun kekuatan prajurit, terutama armada angkatan laut. Negara Majapahit pun kemudian  berubah menjadi negara yang besar dan berwibawa (Hariadi, 2008:x).

Hasil dari jerih payah Gajah Mada adalah Nusantara yang sekarang ini dikenal dengan nama Indonesia. Indonesia adalah pemberian terindah yang diberikan oleh Gajah Mada. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus berterima kasih pada Gajah Mada dan mulailah mencintai sejarah bangsa ini.

Daftar Pustaka

Braginsky, V. I.. 1998. Yang Indah, Berfaedah, dan Kamal:Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19. Jakarta:INIS.

Hariadi, Langit Kresna. 2008. Gajah Mada Hamukti Palapa. Solo:Tiga Serangkai.

Ibrahim, Zahrah. 1986. Sastera Sejarah:Interpretasi dan Penilaian. Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka.

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Read Full Post »