Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Laporan Bacaan’ Category

Laporan Bacaan yang disusun oleh

Ariny Ma’rifah, Melody Violine, dan Syarahsmanda Sugiartoputri

Buku Pintar Penyuntingan Naskah karya Pamusuk Eneste diterbitkan oleh Penerbit Obor pada tahun 1995. Sepuluh tahun kemudian, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan edisi keduanya. Buku ini memuat seluruh proses penyuntingan naskah dari awal hingga akhir. Dengan kata lain, buku ini merupakan panduan bagi seorang (calon) penyunting naskah. Dalam laporan bacaan ini, kami menyajikan ringkasan edisi kedua buku ini.

Bab 1

Sebelum tahun 1980, perhatian orang Indonesia terhadap dunia penyuntingan (editing) naskah masih sedikit. Semakin suburnya dunia perbukuan membuat jumlah penyunting yang dibutuhkan semakin banyak. Akhirnya, pada tahun 1988, dunia penyuntingan naskah “masuk kampus”.

Bab 2

Naskah adalah karangan seseorang yang belum diterbitkan. Berdasarkan cara penerbit memperolehnya, naskah dibagi menjadi enam macam, yaitu naskah spontan, naskah pesanan, naskah yang dicari editor, naskah terjemahan, naskah sayembara, dan naskah kerja sama.

Pengertian menyunting adalah menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memerhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat).

Dengan demikian, penyuntingan naskah adalah proses, cara, atau perbuatan menyunting naskah. Orang yang melakukannya disebut penyunting naskah. Istilah ini dipadankan dengan kopieditor yang berasal dari bahasa Inggris, copyeditor.

Tugas penyunting naskah adalah menyunting naskah dari segi kebahasaan (ejaan, diksi, struktur kalimat), dan memperbaiki naskah dengan persetujuan penulis/pengarang. Selain itu, penyunting naskah juga bertugas membuat naskah enak dibaca dan tidak membuat pembaca bingung, dan membaca sekaligus mengoreksi cetak coba (pruf).

Kata edit sendiri bermakna membaca dan memperbaiki (naskah), mempersiapkan (naskah) untuk diterbitkan. Editor juga bertugas merencanakan naskah, mencari naskah, dan memberi saran untuk rancangan kulit depan buku (cover). Boleh dikatakan tanggung jawab editor lebih berat dibandingkan dengan tanggung jawab yang dipikul penyunting naskah. Namun, keduanya mempunyai fungsi masing-masing.

Bab 3

Untuk menjadi penyunting naskah, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi seseorang. Persyaratan itu meliputi penguasaan ejaan dan tatabahasa Indonesia, ketelitian dan kesabaran, kemampuan menulis, keluwesan (kesupelan), penguasaan salah satu bidang keilmuan, pengetahuan yang luas, dan kepekaan bahasa.

Bab 4

Dalam penyuntingan naskah, ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan oleh penyunting naskah sebelum mulai menyunting. Rambu-rambu inilah yang kita sebut “Kode Etik Penyuntingan Naskah”.

Kode Etik Penyuntingan Naskah

  1. Penyunting naskah wajib mencari informasi mengenai penulis naskah sebelum mulai menyunting naskah.
  2. Penyunting naskah bukanlah penulis naskah.
  3. Penyunting naskah wajib menghormati gaya penulis naskah.
  4. Penyunting naskah wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya.
  5. Penyunting naskah wajib mengkonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diubahnya dalam naskah.
  6. Penyunting naskah tidak boleh menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah disuntingnya.

Ditilik dari naskah yang masuk ke penerbit, pada dasarnya ada tiga macam penulis, yaitu penulis profesional, penulis semi-profesional, dan penulis amatir. Dalam memeriksa naskah-naskah dari ketiga macam penulis ini, penyunting naskah tentunya menghadapi tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

Bab 5

Sebelum menyunting naskah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang penyunting naskah. Hal-hal itu adalah kelengkapan naskah, daftar isi, informasi mengenai penulis, catatan kaki, subbab dan sub-subbab, ilustrasi, tabel, gambar, dan pembacaan sepintas.

Bab 6

Pada dasarnya, tugas penyunting naskah adalah membuat sebuah naskah dapat dan enak dibaca. Dapat dikatakan bahwa penyunting naskah adalah perantara antara penulis dengan pembaca. Beberapa hal yang harus diperiksa oleh penyunting naskah agar dapat menyunting naskah dengan baik adalah ejaan, tatabahasa, kebenaran fakta, legalitas, konsistensi, gaya penulis, konvensi penyuntingan naskah, dan gaya penerbit/gaya selingkung.

Salah satu syarat untuk menjadi penyunting naskah adalah menguasai ejaan bahasa Indonesia yang berlaku saat ini. Ejaan yang berlaku sekarang adalah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Kaidah ejaan ini telah diterbitkan dalam buku yang berjudul Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoonesia yang Disempurnakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang penyunting naskah adalah sejumlah kata dan frase yang diikuti tanda koma, kata-kata yang tidak diikuti tanda titik dua, penulisan gabungan kata, penulisan reduplikasi gabungan kata, dan penulisan nama jenis.

Jika ejaan menyangkut hal-hal yang elementer, tatabahasa berkaitan dengan hal-hal yang lebih kompleks dan rumit, yaitu menyangkut kata dan kalimat. Dalam menyunting sebuah naskah, kita harus memerhatikan bentuk katanya. Hal ini mencakup apakah bentuk kata yang sama atau mirip itu mempunyai makna yang berbeda. Kita juga harus memerhatikan apakah ada bentuk kata yang sebenarnya salah kaprah dan bagaimana bentuk katanya yang benar.

Sejumlah kata dalam bahasa Indonesia maknanya mirip, tetapi bentuk dan pemakaiannya berbeda. Oleh karena itu, seorang penyunting harus mengetahui betul perbedaannya. Kata-kata yang harus diperhatikan adalah “ialah/adalah”, “yaitu/yakni”, awalan terikat “antar-“, “beberapa”, “banyak”, “para”, “berbagai/pelbagai”, “saling”, “sedangkan” dan “sehingga”, “dari” dan “daripada”, “acuh”, “semena-mena”, “bergeming”, kata ulang. Selain itu, penyunting juga harus memerhatikan frase “sebagai berikut”.

Tugas seorang penyunting naskah adalah meluruskan kalimat naskah agar mudah dipahami pembaca. Oleh karena itu, penyunting naskah harus mengetahui seluk-beluk kalimat yang benar. Seorang penyunting naskah harus meluruskan kalimat melingkar, kalimat membosankan, kalimat salah kaprah, kalimat mubazir, dan kalimat rancu.

Dalam bahasa Indonesia, ada sejumlah pasangan kata yang sering salah dalam pemakaiannya. Seharusnya, pasangan kata itu dipakai untuk membandingkan satu hal/ benda dengan hal/ benda lain (satu banding satu).

Kita sering menemukan ketidaksejajaran dalam bentuk frase, klausa, dan kalimat. Ketidaksejajaran ini bisa menimbulkan dua hal, yaitu menyulitkan pemahaman pembaca dan menimbulkan tafsiran ganda. Oleh karena itu, frase/klausa/kalimat perlu disunting agar leih mudah dipahami dan jelas maknanya.

Salah satu tugas penyunting adalah membetulkan/meluruskan cara perincian yang salah/keliru itu. Dalam kenyataannya, perincian dalam media cetak dan buku-buku ada dua macam, yaitu perincian pendek dan perincian panjang. Dari segi lain, perincian pun masih dapat dibagi dua, yaitu perincian langsung dan perincian tidak langsung.

Perincian pendek adalah perincian yang berisi hal yang pendek-pendek dan belum berupa kalimat.jadi. Perincian hanya berupa kata, frase, atau klausa. Perincian panjang adalah perincian yang erisi hal yang panjang atau sudah berupa kalimat. Perincian pendek dan perincian panjang sebenarnya masih saling berkaitan karena perincian panjang selalu didahului oleh perincian pendek.

Perincian langsung ialah perincian yang unsur-unsurnya tidak didahului frase sebagai berikut. Perincian tidak langsung adalah perincian yang unsur-unsurnya didahului frase “sebagai berikut”. Hal yang perlu dicatat adalah setelah penyebutan setiap unsur (kecuali unsur terakhir) selalu disusul dengan tanda baca koma (,) dan sebelum unsur terakhir didahului kata sambung dan.

Tugas pemenggalan judul ini berkaitan dengan tugas seter (orang yang tugasnya mengeset naskah). Jika seter sudah menguasai cara pemenggalan judul, bisa jadi tidak bermasalah. Pada dasarnya, pemenggalan judul tetap mengikuti kaidah ejaan dalam tatabahasa Indonesia. Jadi, pemenggalan judul itu harus tunduk pada kaidah ejaan dan tatabahasa yang berlaku.

Pemenggalan judul harus mengikuti tata cara pemakaian tanda-tanda baca, penulisan huruf kapital dan huruf kecil, dan penulisan kata. Salah satu kaidah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku saat ini berbunyi, “Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, suratkabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak di posisi awal.” Pemenggalan judul sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan tiga hal, yaitu makna kelompok kata (frase), kata sambung (konjungsi), dan kata depan (preposisi).

Penyunting naskah hanya membantu penulis untuk membenahi dan meluruskan naskah. Selain itu, penyunting naskah juga dituntut kepekaannya terhadap ha-hal yang meragukan kebenarannya, terutama yang berkaitan dengan berbagai fakta yang ada, yaitu fakta geografis, fakta sejarah, nama diri, fakta ilmiah, angka statistik/nonstatistik, dan angka kontroversial.

Seorang penyunting naskah seharusnya mengetahui bahwa tidak semua naskah yang masuk ke penerbit bisa diterbitkan. Dalam hal ini, ada rambu-rambu menyangkut hak cipta dan Kejaksaan Agung RI.

Bahasa yang digunakan dalam sebuah naskah/buku, sebaiknya konsisten dari awal hingga akhir. Dengan bahasa yang konsisten, akan terlihat bahwa naskah/ buku itu rapi dan tidak membingungkan pembaca. Konsistensi naskah ini menyangkut beberapa hal, yaitu sistematika bab, jenis huruf, nama geografis, nama diri, dan ejaan.

Dalam penyuntingan naskah, perlu disadari bahwa penyunting naskah berfungsi membantu penulis naskah. Jadi, yang harus ditonjolkan adalah gaya penulis naskah—bukan gaya penyunting naskah.

Ada sejumlah kebiasan tidak tertulis (konvensi) yang berlaku dalam penyuntingan naskah, yaitu mengenai titel akademis, kata/istilah asing, bahasa daerah, penulisan almarhum, nomor urut, singkatan dan kepanjangannya, nama orang dan singkatan, serta huruf. Seorang penyunting naskah harus benar-benar memerhatikan hal ini.

Keseragaman pada satu penerbit dalam menetapkan hal-hal menyangkut produksi buku merupakan ciri khas penerbit bersangkutan. Ciri khas inilah yang disebut gaya selingkung. Gaya penerbit itu tercermin pada beberapa tempat, antara lain pada kulit depan, halaman prancis, halaman hak cipta, letak daftar isi, nomor bab, judul bab, judul buku dan judul bab pada halaman isi, informasi tentang pengarang, nomor halaman, dan kulit belakang.

Bab 7

Jika naskah sudah disunting secara keseluruhan, penyunting naskah perlu memeriksa naskah sekali lagi dari depan sampai ke belakang sebelum meneruskannya ke bagian produksi. Hal yang perlu diperhatikan penyunting naskah di sini adalah kelengkapan naskah, nama penulis, daftar isi, sistematika bab, tabel/ilustrasi/gambar, prakata/kata sambutan/kata pengantar, catatan kaki, daftar pustaka, daftar istilah, lampiran, indeks, biografi singkat, synopsis, dan nomor halaman.

Bab 8

Salah satu syarat untuk menjadi penyunting adalah mampu menulis nonfiksi. Hal ini sangat penting karena pada penyunting kadang-kadang harus menulis surat/konsep surat, menulis biografi singkat, dan menulis sinopsis naskah.

Penyunting dapat berhubungan dengan penulis secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan tidak langsung dapat dilakukan dengan surat menyurat (korespondensi). Sebuah buku yang baik seharusnya mencantumkan biografi singkat penulisnya. Terkadang penyunting harus membuat sendiri atau memadatkan biografi yang telah dibuat oleh penulis. Sinopsis akan dicetak di sampul belakang untuk menarik pembaca supaya membeli buku tersebut. Hanya buku-buku tertentu yang memerlukan indeks. Indeks diperlukan untuk memudahkan pembaca mencari namam, istilah, dan judul buku yang disebutkan dalam buku.

Bab 9

Naskah terdiri dari berbagai macam, yakni naskah fiksi, naskah sastra, naskah buku sekolah, naskah bacaan anak, naskah perguruan tinggi, naskah musik, naskah biologi, naskah kamus, naskah ilmiah, naskah ilmiah populer, naskah terjemahan, dan naskah matematika, fisika, dan kimia. Penyuntingan naskah-naskah ini mempunyai ciri khasnya masing-masing.

Menyunting naskah fiksi relatif lebih mudah jika dibandingkan dengan menyunting naskah nonfiksi. Penyunting hanya memikirkan apakah kalimat dalam naskah itu benar atau tidak dan dapat dimengerti atau tidak.

Naskah sastra dapat dibagi ke dalam tiga macam, yaitu prosa, puisi, dan drama. Seorang penyunting harus berhari-hati dalam menyunting naskah sastra karena cipta sastra dianggap unik. Sastrawan telah memilih kata dan kalimat sedemikian rupa sehingga penyunting tidak boleh langsung mencoret-coret naskah. Dalam hal ini, informasi penulis sangat diperlukan.

Naskah buku sekolah mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu harus mengandung nilai/unsur pendidikan, sesuai dengan kurikulum dan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang berlaku, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah isi dan materinya, dan disajikan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Buku yang memenuhi syarat akan disahkan dengan surat keputusan Dirjen Dikdasmen.

Bacaan anak biasanya berupa naskah rekaan atau fiksi dan juga terikat pada kurikulum dan GBPP. Penyunting buku anak haruslah mengetahui seluk-beluk dunia anak (psikologi anak) dan rambu-rambu khusus mengenai penyuntingan buku anak.

Buku-buku untuk perguruan tinggi tidak perlu mendapat persetujuan dari Dirjen Dikdasmen. Batas jumlah kata untuk sebuah kalimat dalam naskah perguruan tinggi hampir tidak dikenal. Pada naskah untuk perguruan tinggi juga biasanya terdapat indeks.

Naskah musik dibedakan menjadi tiga macam, yaitu naskah yang berisi not balok/not angka, naskah yang berisi not balok/not angka dan teks lagu, naskah yang berisi pelajaran teori musik. Seorang penyunting naskah musik sebaiknya orang yang memperoleh pendidikan musik atau paling tidak orang yang mengerti seluk-beluk dunia musik. Jika tidak, ada kemungkinan terjadinya salah sunting.

Naskah matematika, fisika, dan kimia berisi angka, rumus, dan tabel. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh penyunting naskah matematika, fisika, dan kimia adalah penulisan rumus, kebenaran perhitungan, penulisan lambang, angka dan huruf, kata banyaknya dan jumlah, dan gambar dan tabel.

Naskah biologi biasanya banyak mengandung istilah-istilah, bahasa latin, dan gambar. Penyunting naskah biologi biasanya membutuhkan buku-buku referensi untuk memeriksa kebenaran materi naskah yang sedang disunting.

Kamus biasanya dibagi dalam dua kolom dan antara lajur kiri dan kanan yang dibatasi oleh garis vertikal. Entri kamus biasanya diberi penjelasan secara singkat dan dimulai dengan huruf kecil. Naskah kamus biasanya berisi singkatan-singkatan yang lazim dipakai dalam dunia perkamusan.

Naskah ilmiah adalah naskah yang pengkajiaanya dilakukan secara ilmiah dan disajikan secara ilmiah pula. Penyunting naskah ilmiah sebaiknya adalah seseorang yang memahami bidang naskah ilmiah yang dihadapinya.

Naskah ilmiah populer adalah naskah yang pengkajiannya dilakukan secara ilmiah, tetapi disajikan secara populer. Penyunting naskah ilmiah populer haruslah peka terhadap adanya kata populer dan kata ilmiah.

Penyunting naskah terjemahan sebaiknya menguasai bahasa sumber naskah yang disuntingnya. Hal ini perlu agar penulis tahu terjemahan suatu kalimat salah atau tidak tepat. Ada beberapa prinsip yang perlu diketahui penyunting naskah terjemahan, yakni terjemahan yang baik adalah terjemahan yang tidak terasa sebagai terjemahan, dan dalam penerjemahan tidak berlaku hukum satu banding satu.

Bab 10

Tips Bagi Penyunting Naskah

  1. Jangan menempatkan diri pada posisi penulis naskah.
  2. Jangan memberi kesan angkuh pada penulis naskah.
  3. Ketahuilah macam dan kategori penulis naskah sehingga kita bisa menyesuaikan penyuntingan naskah dengan penulisnya.
  4. Berkonsultasilah dulu dengan penulis naskah sebelum mulai mengubah naskah.
  5. Pahamilah ciri ragam naskah yang bersangkutan.
  6. Kuasailah ejaan dan tatabahasa Indonesia.
  7. Ikutilah perkembangan bahasa dan istilah yang digunakan dalam masyarakat dan dalam dunia ilmu.
  8. Kuasailah keterampilan menulis dan keterampilan menyusun indeks.
  9. Setelah buku yang disunting terbit, segeralah membaca dan memeriksanya kembali untuk mencari kesalahan, baik fatal maupun tidak batal.
  10. Saat menyunting naskah yang berbau SARA dan pornografi, pahamilah larangan-larangan mengenai kedua hal tersebut yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung RI dan undang-undang.
  11. Kuasailah setidaknya satu bahasa asing, minimal secara pasif.

Menurut kami, buku ini sangat berguna, baik bagi penyunting naskah maupun calon penyunting naskah, untuk mengasah kemampuan mereka. Selain kesepuluh bab yang telah kami ringkas di atas, buku ini juga menyertakan lampiran berisi tanda-tanda koreksi, contoh-contoh dari berbagai macam teks, dan tiga pengayaan mengenai dunia penyuntingan. Buku ini pun memberikan latihan-latihan mencakup ejaan, tatabahasa, dan penyuntingan empat macam teks.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

Dalam tulisannya yang berjudul “Lima Pendekatan Mutakhir dalam Pengajaran Bahasa”, Dardjowidjojo memaparkan sejarah pertumbuhan, prinsip-prinsip dasar, tahap-tahap penguasaan, teknik pelaksanaan pengajaran, dan hasil yang dicapai oleh Community Language Learning (CLL), Total Physical Response (TPR), Natural Approach (NA), Silent Way (SW), dan Suggestopedy (SP). Dardjowidjojo juga tidak lupa membeberkan garis besar kelemahan kelima pendekatan tersebut.

Meskipun bagian pemaparan dalam tulisan ini cukup membosankan, bagian pengantar dan penutupnya cukup menarik karena Dardjowidjojo mengungkapkan pikirannya dengan luwes. Secara umum tulisan ini sangat berguna untuk memahami apa saja kelebihan dan kekurangan kelima pendekatan tersebut.

CLL dirintis oleh Charles A. Curran dalam eksperimennya pada tahun 1957 yang menerapkan konsep psikoterapi dalam bentuk konseling pada para mahasiswanya. Pelajar disebut klien sementara guru disebut konselor. Konselor harus menghilangkan perasaan negatif para kliennya dengan bersikap fasilitatif.

CLL mempunyai enam konsep, yaitu Security (memberikan rasa aman), Attention-Aggression (membina perhatian dan mendorong klien untuk aktif), Retention-Reflection (introspeksi dan perenungan), dan Discrimination (membedakan elemen-elemen bahasa dengan teliti). Tahap-tahap penguasaan bahasa baru dalam CLL dibagi menjadi lima, yaitu Embryonic, Self-assertion, Separate-existence, Reversal, dan Independent.

Hal yang paling mencolok dari CLL adalah setiap kelas terdiri dari enam sampai dua belas klien yang masing-masing didampingi oleh seorang konselor, baik secara langsung maupun media elektronik. CLL tidak memakai teks apa pun, tetapi mempunyai alat peraga khusus bernama Chromacord Teaching System.

Dikatakan bahwa para klien yang telah belajar selama 120 jam telah menguasai 100% bahan yang diberikan tentang bahasa barunya. Akan tetapi, mewujudkan CLL tidaklah mudah, terutama dari segi jumlah konselornya.

TPR dipelopori oleh seorang psikolog bernama James J. Asher pada tahun 1960-an. Ini dari TPR adalah pengajaran bahasa dengan memanfaatkan gerakan tubuh. Alasannya adalah asimilasi dari informasi dan keterampilan bisa ditingkatkan secara signifikan apabila kita memanfaatkan sistem sensori kinestetik.

Proses ini mirip dengan bagaimana anak kecil belajar bahasa ibunya. Saat mempelajari bahasa baru dengan TPR, pelajar berkesempatan membekali diri dengan keterampilan komprehensi seluas-luasnya sebelum mulai berbicara.

TPR membutuhkan ruang belajar yang agak besar dan bisa diubah-ubah bentuknya. Jumlah pelajar yang optimal adalah 20-25 orang, sedangkan umurnya tidak menjadi masalah. Hampir semua bahan pelajaran disajikan dalam bentuk kalimat perintah. Selain itu, TPR tidak memerlukan terjemahan ke dalam bahasa ibu pelajar dan tidak memberikan pekerjaan rumah (PR). Total waktu yang dibutuhkan oleh para pelajar TPR untuk menguasai bahasa baru (dengan kosakata sehari-hari) adalah 159 jam.

Dardjowidjojo menyatakan kecurigaannya bahwa bukti yang dikemukakan oleh Asher banyak diambil dari mahasiwa bimbingannya sendiri. Konsep TPR juga dinilainya terlalu abstrak dan memaksakan diri. Kebutuhan TPR akan ruangan yang agak besar dan fleksibel juga menyulitkan penerapan pendekatan ini.

NA dirintis pada tahun 1976 oleh seorang linguis bernama Tracy D. Terrel. Pandangannya adalah penguasaan bahasa lebih banyak bertumpu pada pemerolehan (acquisition), bukan pembelajaran (learning). NA juga bekerja sama dengan Teori Monitor yang diajukan oleh Stephen D. Krashen.

Dalam NA, siswa harus didorong untuk berkomunikasi. Kompetensi komunikasi siswa tidak harus sempurna karena dalam kehidupan nyata ada hal-hal di luar bahasa yang membantunya memahami ajaran yang ia dengar. Dengan kata lain, pelajar NA kurang mulus dari segi linguistic. Krashen berpedoman bahwa hal ini wajar karena orang dewasa telah melampui keplastisan otaknya, tidak seperti anak kecil saat memperoleh bahasa ibunya.

NA menyajikan banyak kosakata dan koreksi melalui latihan atau PR. Situasi, fungsi, dan topik dikombinasikan untuk mengembangkan kemampuan dasar pelajar dalam berkomunikasi. Hanya dikatakan bahwa NA lebih baik daripada Metode Langsung.

SW dirintis Caleb Gattegno pada tahun 1954. Menurut Gattegno, penguasaan bahasa tidak bisa dilakukan dengan tiruan tubian saja. Hal pertama yang harus ditumbuhkan pada pelajar adalah kesadaran akan adanya “kekuatan dalam” untuk mempelajari bahasa baru.

Salah satunya adalah membiasakan pelajar dengan warna bahasa tersebut. Kita harus berkonsentrasi pada pembelajaran karena proses penguasaan bahasa itu harus dilakukan oleh pelajar sendiri.

SW sangat artifisial dan terkontrol. Jumlah kosakata sangat dibatasi karena pelajar harus betul-betul memanfaakan daya kognisinya untuk menggunakan kosakata yang ada dalam berbagai konstruksi yang berbeda. Gattegno mempunyai beberapa alat peraga dalam SW, dua di antaranya adalah beberan Fidel dan beberan dinding. SW langsung menyajikan tulisan setelah atau pada saat latihan lisan. Guru 90% diam, bahkan koreksi dilakukan oleh pelajar lain.

Gattegno mengklaim bahwa SW hanya memerlukan waktu satu tahun untuk mencapai tingkat penguasaan bahasa baru yang sama dengan empat tahun dalam metode lainnya. Di lain pihak, Dardjowidjojo menganggap bahwa kebisuan guru pengajar SW terlalu dipaksakan karena koreksi dari guru akan lebih efektif daripada pelajar lain.

SP dirintis oleh Georgi Lozanov yang berprofesi sebagai dokter dan psikoterapis. Kedua bidang ini jugalah yang menjadi dasar dalam konsep-konsep SP. Pandangan Lozanov adalah bahwa manusia bisa diarahkan untuk melakukan sesuatu.

Syarat pembelajaran bahasa baru dengan SP adalah suasana tenang. Salah satu caranya adalah pelajar melakukan yoga sebelum mulai belajar untuk menghimpun kemampuan hipermnestik. Ruangan belajar juga harus kondusif dengan latar belakang musik yang sesuai dengan jiwa bahan yang diberikan. Intinya adalah SP menekankan pada penyerapan mental dari bahan pelajaran yang diterima untuk kemudian direnungkan, dicamkan, dan dipakai bersama siswa lain di kelas.

Pada umumnya, bahan pelajaran diberikan dalam bentuk dialog yang sangat panjang. Tiap siswa diberi nama dan peran baru yang khas dalam bahasa yang sedang dipelajari. Tiap pertemuan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah pengulangan bahan sebelumnya. Pada bagian kedua disajikan bahan baru yang bentuk dan caranya tidak jauh berbeda dari yang tradisional. Bagian ketiga adalah séance yang bertujuan menyerap bahan baru ke alam bawah sadar.

Hasil yang dicapai oleh SP berbeda-beda dari 2,5 kali sampai 50 kali lebih baik dari metode lain. Retensi kosakatanya dinyatakan bisa mencapai 93,16%, bahkan setelah hampir tiga tahun berlalu setelah kelas terakhir berlangsung. Namun, Dardjowidjojo menyatakan bahwa hal ini menimbulkan kecurigaan jika kata-kata yang dicobakan memang padanannya mirip dengan bahasa pertama pelajar.

Kesimpulan yang dibuat oleh Dardjowidjojo adalah seorang guru harus bisa mengambil segi positif dan membuang segi negatif dari kelima pendekatan tersebut. Kefanatikan terhadap satu metode bisa merugikan pelajar. Guru harus bisa menyesuaikan cara mengajarnya dengan situasi dan kondisi yang ia hadapi.

DAFTAR PUSTAKA

Dardjowidjojo, Soenjono. 1992. “Lima Pendekatan Mutakhir dalam Pengajaran Bahasa,” Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra, peny. Muljanto Sumardi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Read Full Post »

oleh Melody Violine dan Fitri M.I.

Sejak dulu, pola pengasuhan anak yang merupakan belahan jiwa dan penerus generasi selalu melibatkan orang ketiga. Karena berbagai alasan, tidak sepenuhnya orang tua dapat merawat dan mengawasi tumbuh kembang buah hatinya. Orang ketiga biasanya dari keluarga dekat (kakak-nenek, paman-bibi, kakak, sepupu) atau dari pihak luar seperti pembantu dalam bermacam bahasa (abdi dalem, mbok emban, dayang, rewang, baby sitter, juga babu) intinya orang lain yang mengambil alih tugas mengasuh anak dalam sebuah keluarga.

Pariyem yang datang dari desa dengan tujuan semula mbeboro dan ngenger ing nDalem Suryamentaraman berhasil naik pangkat dari babu menjadi menantu dengan cara yang kurang etis, karena keberhasilan Pariyem yang selalu sesumbar melaksanakan semua tugas yang diembannya dengan lego lilo, menjadi kabur dan mengundang beragam reaksi, menghilangkan simpati karena jujur Pariyem dengan bangga mengakui telah berhasil memerawani den Bagus Ario yang masih lugu, seperti menggunting dalam lipatan.

Sebagai perempuan yang sudah kenal betul hasrat lelaki, Pariyem yang pembantu sudah seharusnya menjaga amanat majikan, menjaga diri sebagai perempuan dan menghindari segala kemungkinan terjadinya hubungan yang tidak selayaknya itu, tetapi Pariyem justru menikmati dan mengajari den Bagus Ario yang masih suci bermain asmara hingga berbuah Endang Sri Setianingsih. Maka wajar jika pengakuannya menimbulkan berbagai opini.

Seperti membunuh dengan tersenyum, Pariyem bebas melenggang bermain asmara dengan anak bendaranya kapan pun, di mana pun, bahkan kadang Pariyem sendiri yang ketagihan berani menggoda tanpa ketahuan oleh siapa pun. Ke mana pembantu yang lain? Ndalem Suryamentaraman yang sangat luas pasti memiliki banyak pembantu jadi bagaimana mungkin sampai kecolongan? Mungkinkah mereka juga melakukan gerakan OPM seperti Pariyem dan apa untungnya bagi mereka para abdi dalem yang sangat dikenal loyalitasnya? Anehnya, tidak disebutkan ada orang lain yang mengurus rumah selain Pariyem, mungkinkah Pariyem seorang super woman yang mengurus semuanya sendirian? Kesendirian yang melelahkan sekaligus menguntungkan?

Lantas ke mana nDoro nKanjen Rama yang wicaksono yang selalu ngasih wejangan untuk orang lain dan juga memiliki selir di banyak papan? Apakah tugasnya yang harus mondar-mandir Betawi-Jogja membuatnya lupa membekali wejangan pada putra sulungya?.

Kemana nDoro Ayu, ibunda yang anggun dan luhur budinya? Walaupun jaman sudah bergeser, naluri seorang ibu tidak akan tumpul untuk melihat keganjilan dan perubahan pada putranya. Pariyem yang sudah banyak pengalaman boleh bungkam tetapi sorot mata seorang pemuda yang tengah kasmaran bagaimana mungkin bisa lepas dari penglihatan seorang yang ibu yang peduli terhadap anaknya?

Pola pengasuhan seperti apakah yang ada di nDalem Suryomenretaman? Benarkah seorang yang punya kedudukan dan keturunan begitu tinggi membiarkan putranya bermain asmara dengan babu yang janda dan jauh dari syarat 3B (Bobot, Bibit, Bebet)? Jika sekedar bermain asmara mungkin sudah biasa tetapi ini berbuah keturunan , bagaimana nasib anaknya?

Pariyem yang digambarkan Linus memang tampak berlebihan untuk ukuran perempuan desa yang tidak tamat SD, tetapi menyimak cerita masa kecilnya, bapaknya pemain Kethoprak dan simbok yang seorang ledhek kemudian naik pangkat menjadi sindhen wayang kulit dan seringnya Pariyem ikut simboknya nembang dan duduk di belakang dalang membuatnya pintar berceritera lakon-lakon dunia pewayangan dan Kethoprak dan membandingkannya dengan kehidupannya sekarang.

Kedekatannya dengan simbah yang merupakan orang ketiga yang mengasuhnya mempengaruhi sikap dan pandangan Pariyem tentang nilai kehidupan dan hubungannya dengan sesama maupun dengan sang pencipta. Di nDalem Suryamenteramanpun kebiasaan Pariyem menyimak cerita-pasang kuping dari berbagai sumber membuatnya bertambah pintar, suatu kenyataan yang masuk diakal bahwa belajar tidak hanya di  sekolah, belajar juga bisa dari pengalaman dalam perjalanan hidup. Sangat disayangkan Pariyem yang cerdas tumbuh dewasa dalam pola pengasuhan yang kurang mendapat siraman agama yang membuatnya gamang mencari pembenaran.

Pariyem masuk ke nDalem Suryamentaraman untuk ngenger dengan membawa luka setelah Paidi Kliwon yang mengajarinya menikmati hubungan menceraikannya tanpa alasan  kemudian bertemu dengan den Bagus Ario yang sedang beranjak dewasa dan mendapatkan sinyal-sinyal seksual yang ditanggapi Pariyem dengan kebanggaan, keduanya menyatu dalam ikatan asmara tanpa ada yang menyoal tentang status mereka. tanpa ada kegemparan seperti dalam sinetron kita, semuanya berakhir seperti air yang mengalir, tenang seperti sungai….

Benarkah demikian? Benarkah pariyem bahagia? Tidak! simaklah pengakuannya, sebuah pengakuan yang hanya berani dia sampaikan kepada Paimin yang mempunyai status sosial sama dan berharap mendapat tanggapan yang menyejukkan hatinya yang tengah gundah, merana,getir dan anyel(kesal) karena den Bagus Ario sudah memiliki kekasih yang sepadan.

Pariyem harus berkaca dan nrima ing pandum bahwa dirinya hanya selir yang patut sebagai biyung emban atau limbuk dan tidak berhak menuntut perlakuan istimewa karena Pariyem harus menjaga nama baik dan tidak ingin mempermalukan keluarga besar majikannya.

Pariyem memang hanya sebuah prosa lirik tetapi dengan latar belakang cerita hubungan loro loroning atunggal yang janggal, hubungan anak majikan dan pembantu. pembaca seperti disodorkan pada pertanyaan benarkah ini hanya cerita fiksi atau cerita asli yang dibumbui oleh penulisnya dengan mengaduk-aduk kepribadiannya sendiri merasuk ke dalam tokoh ciptaannya untuk menyamarkan kenyataan yang mengarah pada seorang tokoh besar?

Pengakuan Pariyem jika hanya sebuah obrolan di warung kopi meskipun itu nyata mungkin tidak akan menuai banyak polemik, seperti ceritera di koran merah yang esok sudah dibuang di tong sampah, tapi pangakuan Pariyem dalam bentuk prosa lirik telah melanglang buana dalam banyak bahasa, sebagai anak yang 100% berdarah jawa meski darah priyayi saya hanya dari simbah yang mantri guru, saya sedikit paham mengapa orang gerah pada Pariyem yang bicaranya terkesan saru, blak-blakan seperti wong jawa wis ora njawani,

Pengakuan Pariyem dianggap saru karena kita-pembaca bukan Paiman, tapi anak  sekolahan, coba tempatkan diri kita sebagai Paiman, dalam kelas sosial mereka obrolan seperti itu sudah biasa, buktinya dari mana Kliwon tahu teknik ngongklok untuk menghindari terjadinya pembuahan kalau tidak berguru pada obrolan saru yang biasa dia dengar dari lingkungannya.

Berbeda dengan den Bagus yang lugu dan merasa tabu membicarakan hal seperti itu dan membuatnya tampak blo’on, kalah dari adiknya nDoro putri Wiwit yang mungkin karena anak perempuan serjana Wiyata jadi lebih tahu tentang alat kontasepsi yang aman, tapi dari mana nDoro Putri belajar? Dari kekasihnya yang dosen, teman atau  Iklan?.

Pariyem memang saru, tapi den Bagus dan nDoro Putri lebih saru, sebagai priyayi dan anak kuliahan gaya bahasanya dalam parikan berani menabrak tatanan pendidikan menjadi plesedan yang tidak sopan, sepertinya itu tidak mungkin dalam kenyataan apalagi terjadi tiga dasa warsa yang silam. Bagaimana tanggapan pembaca khususnya dari manca negara tentang pemuda sekolahan, keturunan ningrat Jawa mungkinkah mereka bertutur kata demikian?

Prosa lirik ini memang saru, dan Ibu yang masih menyensor semua bacaan yang saya bawa, termasuk tugas kuliah, merasa tidak nyaman membacanya, bagaimana mungkin prosa lirik ini harus dibaca oleh anak yang baru lulus SMA? Apalagi menjadi bacaan sastra SMP-SMA sepertinya akan kena sensor Undang-Undang Anti Pornogafi yang sedang dibahas di DPR.

Tapi yang lebih merisaukan hati saya adalah happy ending yang mengalir datar, seperti sebuah mimpi yang dipaksakan. Ulah anak korban salah pengasuhan yang ditutup-tutupi orangtua karena anak polah bapa kepradah, tanpa hukuman, tanpa teguran hanya sekedar tanggung jawab lisan.

Lantas bagaimana nasib Endang nanti yang sekarang dalam pengasuhan keluarga Pariyem di desa, tanpa status yang jelas yang akan berpengaruh pada pola pikir dan pandangannya akan hari depan? Akankah sejarah terus terulang dan hak anak terabaikan?

Read Full Post »

Opera Kecoa

oleh Melody Violine
5 Oktober 2006

gadogado.exblog.jp

gadogado.exblog.jp

Opera Kecoa karya N. Riantiarno merupakan bagian kedua dari Trilogi Opera Kecoa (bagian pertamanya berjudul Bom Waktu sedangkan bagian keduanya berjudul Opera Julini). Naskah drama ini terdiri dari 29 babak. Latar tempatnya adalah di Jakarta. Latar belakang waktunya tidak bisa dipastikan, tapi yang jelas sesudah kemerdekaan Indonesia. Latar belakang suasananya lucu tapi tragis.

Konflik utama dalam drama ini adalah pergulatan orang-orang “terbuang” untuk bertahan hidup dan memperjuangkan nasib mereka. Akan tetapi, mereka seakan-akan sudah digariskan untuk selalu kalah. Orang-orang yang berkuasa pada akhirnya selalu mengalahkan mereka—membakar kawasan kumuh. Ketika akhirnya kedua pihak tersebut sudah siap berperang, Roima menghimbau orang-orang “terbuang” untuk kembali ke tempat asal mereka. Maka kembalilah mereka ke dalam got—tempat yang sudah seharusnya.

Roima adalah seorang homoseksual. Melalui kata-kata Julini, pacarnya, kita dapat mengetahui sifat Roima yang gengsian. Walaupun Roima mengaku sudah berubah, sifat itu masih ada. Roima mencintai Julini, tapi dia juga masih ada keinginan untuk menjalin hubungan yang normal. Ketika mulai ada tanda-tanda kedekatan dirinya dengan Tuminah, seorang PSK langganan pejabat, Julini memergokinya dan sakit hati. Sayangnya, saat Roima hendak meminta maaf pada Julini, dia menemukan Julini sudah dalam keadaan sekarat akibat terkena peluru nyasar.

Julini adalah wadam pacar Roima. Meskipun hidupnya susah, Julini pantang meminta-minta. Dengan caranya sendiri, Julini berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Cintanya yang teramat besar pada Roima membuat Julini rela bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua dan membelikan barang-barang bagus untuk Roima. Julini yang aslinya pria ini merasa tidak berdaya pada kenyataan bahwa ia tidak akan bisa mempunyai anak dari Roima. Perjuangan Julini tidak hanya sebagai orang miskin, namun juga sebagai waria—orang yang dianggap amoral dan menyalahi kodrat.

Tarsih adalah pemilik rumah bordil yang menampung PSK-PSK miskin. Setelah merasakan asam garam kehidupan, Tarsih menjadi sangat berhati-hati terhadap segala hal. Ia bahkan mencurigai Roimah dan Julini, teman-teman lamanya sendiri. Akan tetapi, Tarsih bersikap demikian demi mempertahankan apa yang telah dicapainya selama ini.

Tuminah adalah PSK terlaris di rumah bordil Tarsih. Langganan setia Tuminah adalah pejabat setempat yang bosan terhadap istrinya. Tuminah mengaku terpaksa bekerja sebagai PSK karena hidup sebatang kara. Kakaknya, Tibal, yang baru keluar dari penjara marah besar pada Tuminah yang tidak bisa mencari jalan lain untuk menghidupi diri sendiri. Diam-diam Tuminah ingin membangun kehidupan normal bersama Roima, namun ia sadar akan keberadaan Julini sebagai pacar Roima.

Masih ada beberapa tokoh lain yang cukup punya andil dalam Opera Kecoa, yaitu Tibal (kakak Tuminah), Kumis (bos kelompok bandit yang Roima masuki), Bleki (pengikut setia Kumis), pejabat setempat (langganan Tuminah) beserta anak-anak buahnya, dan tamu pejabat dari Jepang. Akan tetapi, tokoh yang paling menarik adalah Tukang Sulap. Dia selalu membujuk orang-orang untuk membeli obat semprot anti kecoa. Kecoa, yang merupakan simbol orang-orang “terbuang”, menurutnya sangat berbahaya dan harus dibasmi sebelum mengambil alih dunia. Apakah demikian pula pemikiran para penguasa sehingga mereka membakar kawasan kumuh tempat tinggal para kecoa—orang-orang “terbuang?

N. Riantiarno berhasil mengemas humor, sindiran, dan realitas sekaligus dalam Opera Kecoa. Kematian Julini juga memunculkan tragedi tersendiri. Bagaimanapun juga, Opera Kecoa merupakan cermin realitas kehidupan Indonesia, terutama di Jakarta. Segala ironi dan kemunafikan yang ada dalam Opera Kecoa memang benar-benar ada di negeri kita.

Daftar Pustaka

Riantiarno, N. 2004. Trilogi Opera Kecoa. Yogyakarta: MAHATARI.

Read Full Post »

Nyonya dan Nyonya

oleh Melody Violine
18 September 2006

motinggo busye (bukulama.com)

motinggo busye (bukulama.com)

Nyonya dan Nyonya karya Motinggo Busye terdiri dari dua babak. Keduanya berlatar belakang tempat di rumah Tuan Tabrin bersama istri pertamanya. Latar belakang suasananya getir tapi lucu.

Konflik utama dalam Nyonya dan Nyonya adalah pergolakan batin Tuan Tabrin sebagai seorang koruptor. Tuan Tabrin selalu merasa tidak tenang, sampai-sampai mengalami gangguan jiwa, karena dihantui oleh dosa-dosanya sebagai koruptor. Kedua istri yang diharapkannya dapat menentramkan jiwanya malah menyuruhnya mengaku kepada polisi. Pada akhir cerita, Tuan Tabrin memutuskan untuk menyerahkan diri kepada polisi.

Tuan Tabrin adalah orang yang penggugup dan takut berhadapan dengan orang lain. Semua ini akibat rasa bersalahnya karena telah menjadi koruptor. Tuan Tabrin curiga bahwa setiap orang bisa saja mengadukannya ke polisi, termasuk asisten rumah tangganya sendiri.

Nyonya Tabrin yang bernama Kiki adalah istri pertama Tuan Tabrin. Perempuan berumur empat puluh tahun ini merasa kalau dirinya sudah tua sehingga gemar menghias diri. Kiki juga selalu khawatir kalau suaminya berpindah hati ke perempuan lain yang lebih muda dan lebih cantik. Kadang-kadang Kiki memaksakan kehendak dan pendapatnya, salah satu caranya adalah dengan mengancam akan memecahkan vas bunga kesayangan suaminya.

Istri kedua Tuan Tabrin bernama Samirah. Samirah yang taat beragama mulanya bersimpati pada Tuan Tabrin yang mengalami gangguan jiwa sampai akhirnya jatuh cinta dan mereka menikah dengan sah. Samirah tidak secerewet dan seemosional Kiki, tapi sama kerasnya ketika merongrong Tuan Tabrin untuk menyerahkan diri ke polisi.

Sopinah adalah asisten rumah tangga Tuan Tabrin dan Kiki. Sopinah begitu lugu sampai-sampai percaya pada dusta pencuri yang mengangkuti barang-barang mahal di rumah Tuan Tabrin dan Kiki. Selain itu, Sopinah sayang pada Kiki, majikannya. Ia takut Kiki dipukul oleh Tuan Tabrin.

Tamu cantik yang ternyata adalah pencuri abad modern (seperti kata Tuan Tabrin) merupakan hal yang paling menarik dalam Nyonya dan Nyonya. Ia bertamu di rumah Tuan Tabrin dan Kiki. Setelah membuat Kiki percaya kalau ia adalah istri Tuan Tabrin juga, dengan lihainya ia membuat Kiki keluar rumah. Setelah itu, tamu cantik ini mengangkuti barang-barang mahal yang ada dengan pick-upnya.

Pencuri ini sangat lihai. Ia dapat segera menemukan titik kelemahan Kiki—kekhawatiran kalau Tuan Tabrin diam-diam menduakannya—dan memanfaatkannya untuk membuat Kiki meninggalkan rumah.

Hal menarik lainnya adalah ternyata kedatangan pencuri itu, beserta pengakuannya sebagai istri kedua Tuan Tabrin, menginspirasi Tuan Tabrin untuk mencari istri lagi. Kedatangan Samirah, si istri kedua, yang membuat Kiki panas dan curiga kalau ada yang hendak mencuri rumahnya lagi juga memberikan kesan tersendiri.

Read Full Post »

oleh Melody Violine

sinarbulan.multiply.com

sinarbulan.multiply.com

Judul                      : Tarian Bumi

Penulis                    : Oka Rusmini

Penerbit                  : INDONESIATERA, 2004

Tebal                      : 224 halaman

Tarian Bumi karya Oka Rusmini ini menggunakan narrative order yaitu narasi yang dimulai di tengah-tengah perkembangan kejadiannya sesuai dengan pengisahannya. Telaga sebagai pencerita memberitahu kita sejarah keluarganya dari kedua neneknya (Ida Ayu Sagra Pidada dan Luh Dalem) sampai dirinya memiliki seorang anak, Luh Sari.

Bila diceritakan secara kronologis, novel ini dapat dimulai dengan perjalanan hidup Luh Sekar, ibu Telaga. Selama masih menjadi perempuan sudra (kasta terendah dalam masyarakat agama Hindu) atau orang kebanyakan, keluarga Luh Sekar hidup miskin dan dikucilkan masyarakat karena ayah Luh Sekar yang telah pergi dari rumah adalah seorang anggota PKI.

Dalam tekanan itu, Luh Sekar berambisi mendapat pengakuan dari masyarakat dengan menjadi pragina, primadona dalam grup tari. Mimpi ini tidak dengan mudah ia raih. Setelah berhasil menjadi pragina, Luh Sekar bermimpi lagi, kali ini menjadi seorang brahmana (kasta tertinggi dalam masyarakat agama Hindu).

Mimpi Luh Sekar menjadi seorang brahmana harus dibayar mahal. Selain berganti nama menjadi Jero Kenanga, Sekar harus berpisah dengan Luh Dalem, ibunya, dan Luh Kenten, sahabat satu-satunya. Dalam kehidupan barunya pun Sekar mengalami banyak kesulitan. Suaminya, Ida Bagus Ngurah Pidada, gemar main perempuan, berjudi, dan mabuk-mabukan. Ibu mertuanya, Ida Ayu Sagra Pidada, selalu menyalahkan Sekar perihal tingkah laku suaminya itu. Sekar sadar kalau semua kesulitan yang dihadapinya itu adalah konsekuensi dari mimpinya. Karenanya, Sekar menerima perlakuan ibu mertuanya terhadapnya.

Ida Ayu Telaga Pidada lahir dengan dibebani mimpi-mimpi Sekar. Telaga diingini menjadi perempuan terbaik, tercantik, dan nantinya menikah dengan seorang Ida Bagus. Telaga belajar pada Luh Kambren, guru tari terbaik dan termahal di seluruh desa. Luh Kambren mengakui Telaga sebagai murid terbaiknya, perempuan yang tepat untuk diberi taksu miliknya. Telaga pun menjadi penari terbaik dan tercantik seperti yang diidam-idamkan oleh ibunya.

Telaga menganggap ibunya, neneknya, dan guru tarinya sebagai tiga perempuan yang menjadi peta dalam proses kelengkapan pembentukannya sebagai perempuan. Pengalaman-pengalaman hidup dan nasihat-nasihat mereka Telaga serap maknanya baik-baik. Nasihat yang paling berpengaruh bagi Telaga adalah nasihat neneknya tentang bagaimana memilih laki-laki.

“Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil resiko.” (Rusmini, 2004: 21)

Telaga menolak semua Ida Bagus yang disodorkan ibunya. Sejak masih kanak-kanak, Telaga mencintai Wayan Sasmitha, pelukis muda yang sering mengunjungi kakek Telaga. Saat Wayan melamarnya, Telaga sadar kalau konsekuensinya sangat besar. Ia tidak hanya dikucilkan oleh kaum brahmana, kaum sudra pun menganggap pernikahannya dengan Wayan sebagai aib. Setelah menikah, Wayan sering pergi berbulan-bulan karena pekerjaannya. Selama itu pula, Telaga menerima kata-kata pedas dari Luh Gumbreg, ibu mertuanya, dan Luh Sadri, adik iparnya. Luh Gumbreg menganggap Telaga menyusahkan sedangkan Luh Sadri sudah sejak dulu dengki padanya. Saat Luh Sari, anak Telaga dan Wayan, berusia lima tahun, Wayan meninggal karena sakit. Luh Gumbreg mengkambinghitamkan Telaga.

Pada akhir novel ini, Telaga melakukan upacara patiwangi atas permintaan Luh Gambreg. Upacara ini dilakukan untuk pamit pada leluhur di griya (rumah untuk kasta brahmana) sekaligus secara resmi menjadi perempuan sudra. Dengan menjadi perempuan sudra, Telaga memang mengkhianati mimpi ibunya tapi juga berarti ia berani menanggung konsekuensi pilihannya menerima lamaran Wayan Sasmitha.

Siapa pun yang bermimpi harus giat berusaha dan berani menanggung konsekuensinya—sebesar apa pun itu, termasuk jika mimpi itu hancur. Perempuan-perempuan dalam novel ini adalah perempuan-perempuan yang teguh dalam pencapaian mimpinya dan berani menanggung konsekuensi tersebut.

Satu hal yang meninggalkan misteri adalah tusuk konde yang diturunkan oleh Luh Dalem pada Sekar kemudian diturunkan lagi pada Telaga. Ada getaran aneh mengalir dari benda itu (Rusmini, 2004: 221). Baik Sekar maupun Telaga, semasa muda mereka mengaku merasa ada sesuatu yang ditanamkan oleh ibu mereka setiap kali menari. Bisa jadi tusuk konde itu adalah susuk yang bisa memikat orang lainnya pada pemakainya. Di balik semua itu, tusuk konde tersebut juga menjadi simbol kasih sayang ibu kepada putrinya. Meskipun Sekar sakit hati akan keputusan Telaga untuk menikah dengan laki-laki sudra, Sekar memberikan tusuk konde tersebut karena ia tetap mencintai putri semata wayangnya itu.

Dalam novel Tarian Bumi ini, Oka Rusmini menuangkan pemikirannya tentang budaya Bali yang telah menyatu dengan agama Hindu. Oka Rusmini yang terlahir sebagai seorang brahmana menghadapi pilihan sulit saat sudah dianggap layak untuk menikah. Kenapa laki-laki brahmana dapat menikah dengan perempuan mana saja sedangkan perempuan brahmana harus “turun kasta” bila hendak bersuamikan laki-laki dari kasta yang lebih rendah?

Alangkah mujurnya makhluk bernama laki-laki. Setiap pagi para perempuan berjualan di pasar, tubuh mereka dijilati matahari. Hitam dan berbau. Tubuh itu akan keriput. Dan lelaki dengan bebasnya memilih perempuan-perempuan baru untuk mengalirkan limbah laki-lakinya. (Rusmini, 2004: 43)

Cuplikan di atas adalah pendapat Luh Kenten terhadap laki-laki. Berdasarkan pendapatnya inilah Luh Kenten memutuskan untuk hidup tanpa laki-laki. Tarian Bumi memang memberi penilaian yang buruk terhadap laki-laki. Ayah Luh Sekar anggota PKI yang konon memimpin pembantaian di desanya. Suami Sekar laki-laki yang bisanya hanya kelayapan dan akhirnya mati di tempat pelacuran. Kakek Telaga melupakan istrinya dan tidak mengacuhkan anaknya. Putu Sarma, suami Sadri, menggoda Telaga setelah Wayan meninggal. Satu-satunya laki-laki yang “lurus” adalah Wayan. Pengarang pun tidak memberinya banyak waktu untuk membahagiakan istrinya.

Lewat Luh Kambren, Oka Rusmini juga mengkritik orang-orang asing yang dengan culas memanfaatkan perempuan-perempuan Bali. Dengan dalih kesenian, mereka menelanjangi perempuan-perempuan Bali dan menjadikan mereka aset demi kepentingan pribadi.

(gramediabookshop.com)

(gramediashop.com)

Tokoh-tokoh dalam Tarian Bumi tidak bernasib baik. Telaga sendiri menghadapi banyak tokoh antagonis seperti Sekar, Luh Gumbreg, Luh Sadri, dan adat Bali sendiri. Tokoh yang nasibnya paling buruk adalah Luh Dalem. Hidupnya dan anaknya sudah cukup sulit sebelum ia dirampok dan diperkosa. Tidak hanya itu, Luh Dalem kehilangan penglihatannya dan hamil. Walau demikian, Luh Dalem tidak pernah mengeluh pada hidup. Perempuan itu justru tersenyum kalau dilihatnya hidup menuntutnya terlalu banyak (Rusmini, 2004: 102).

Hidup memang keras. Hidup menghimpit kita dengan berbagai keadaan yang menyulitkan. Namun, kita tidak sepatutnya pasrah menerimanya. Nasib seseorang takkan berubah tanpa usahanya sendiri. Manusia berusaha karena manusia bermimpi. Seperti perempuan-perempuan yang bermimpi dalam Tarian Bumi, mimpi itu memiliki konsekuensi yang kadang tak terduga. Akan tetapi, mimpi jugalah yang membuat hidup lebih berarti.

Read Full Post »

oleh Melody Violine dan Inggar Pradipta A.S.


dari banjartegal ke jawa

cukup lama istirahat di salemba

orang mengira umurku hilang empat ribu hari

(Perjalanan Penyair)

Bait pertama dari puisi berjudul “Perjalanan Penyair” ini tanpa basa-basi menceritakan empat dekade pertama perjalanan hidup pengarangnya, Putu Oka Sukanta. Penyair kelahiran Bali yang pernah tinggal di Jawa ini memang “cukup lama istirahat di salemba”. Dia dijebloskan ke dalam penjara (1966-1976) tanpa diadili oleh rezim Orde Baru karena dicurigai sebagai komunis. Kenyataannya, Putu Oka Sukanta bukanlah seorang komunis maupun penganut sosialisme. Dia hanya pernah bergaul dengan sastrawan-sastrawan Lekra seperti Pramudya Ananta Toer dan Yoebar Ayub, tapi tidak pernah menjadi anggota organisasi tersebut.

Putu Oka Sukanta sudah mulai merintis kepengarangannya sejak berusia 16 tahun. Dia tidak hanya membuat puisi, tapi juga cerpen, novel, dan cerita anak-anak. Dari dulu sampai sekarang, karya-karyanya sering kali mengangkat permasalahan sosial, terutama perjuangan dan penderitaan orang-orang miskin yang mencoba bertahan. Hal ini turut berperan dalam membentuk kecurigaan pemerintah yang mencapnya sebagai komunis.

Putu Oka Sukanta (thejakartaglobe.com)

Putu Oka Sukanta (thejakartaglobe.com)

Setelah keluar dari penjara, karya-karya Putu Oka Sukanta banyak diwarnai oleh trauma. Kata-kata seperti “kambing hitam”, “ET”, “serdadu”, “intel”, dan “kegelisahan” sering muncul. Penjara pun berulang kali disebut-sebut meskipun dengan istilah yang berbeda-beda seperti “jeruji”, “sel tahanan”, “tembok”, dan “ruang hampa”. Putu Oka Sukanta sendiri mengatakan, “… saya selalu dipenuhi dengan trauma.” (Kompas, 9 Mei 2000)

Memang tidak semua karya Putu Oka Sukanta diwarnai oleh trauma sebagai kambing hitam atau kritik sosial. Dia juga mengangkat pengalaman pribadi bersama keluarganya dan lukisan perasaannya saat berkunjung ke suatu tempat. Selain itu, Bali juga banyak menyita perhatiannya. Tragedi-tragedi kemanusiaan pun tidak luput dan turut terangkum dalam puisi-puisinya.

Dari sini kami menafsirkan bahwa Putu menggunakan puisi sebagai media penyampaian pesan yang cukup efektif dibalut dengan diksi yang menghasilkan efek kenikmatan membaca. Pemikiran dan pendapat-pendapat Putu cukup jelas terbaca dalam puisi-puisinya. Sisi-sisi kemanusiaan Putu cukup terlihat dan terangkat dalam beberapa tema puisinya. Curahan hati seorang tapol pun terekspos dengan efek yang membawa pembaca pada situasi saat itu. Puisi juga berfungsi sebagai alat dokumentasi yang digunakan Putu untuk merangkum perjalanan hidupnya, meliputi perasaannya, pemikirannya, pengalamannya, kasih sayang keluarganya, serta peristiwa-peristiwa yang tak mungkin ia lupakan

Read Full Post »

Older Posts »