Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Makalah’ Category

Makalah Ini Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Kuliah Gender dalam Sastra di FIB UI

Oleh

Erin Nuzulia Istiqomah

1006699215

Jakarta, 26 Desember 2012

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

UNIVERSITAS INDONESIA

 

Kata Pengantar

 

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan inspirasi dalam pembuatan karya tulis yang berjudul “Beban Stereotipe, Permasalahan Gender daam Berjuta Rasanya”  sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Karya tulis  ini disusun dengan menggunakan metode penelitian pustaka yang diharapkan mampu membuka wawasan lebih dalam. Penyusunan karya tulis ini tak lepas dari bantuan dan arahan berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan dosen pembimbing atas dukungan dan masukannya.

Saya menyadari karya tulis yang disusun ini masih jauh dari sempurna. Meski begitu, saya berharap karya ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dan saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat memperbaiki karya ilmiah ini menjadi lebih baik.  Semoga karya tulis ini bisa menambah wawasan pembaca sekalian.

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

  1. A.           Latar Belakang

Semakin hari sastra semakin berkembang pesat. Hal ini dapat kita lihat dari begitu banyaknya karya sastra khususnya dalam bentuk prosa yang dijual di pasaran. Karya prosa ini hadir dalam berbagai bentuk, bisa berupa novel, kumpulan cerpen, atau kumpulan prosa mini. Karya prosa  yang hadir di pasaran memiliki ide cerita yang bervariasi dan tentu saja setiap karya memiliki kelebihan maupun kekurangan yang makin memperkaya khazanah sastra yang ada di Indonesia. Hadirnya berbagai karya dalam bentuk prosa  tersebut memotivasi kita untuk dapat mempelajari sastra dengan lebih mendalam.

Dari sekian banyak buku yang hadir, saya tertarik untuk menganalisis lebih dalam dari kumpulan kisah atau kumpulan cerpen karya Tere Liye yang berjudul Berjuta Rasanya. Saya amat tertarik dengan buku ini karena sebelas dari lima belas judul cerita yang ada dalam buku ini membahas perempuan sebagai peran utama. Melihat latar belakang penulisnya, Tere Liye bukanlah seorang feminis. Oleh karena itu akan menjadi menarik bila buku ini mendapatkan kesempatan untuk dibahas lebih dalam. Adapun kesebelas judul cerita yang menonjolkan aspek perempuan antara lain Bila Semua Wanita Cantik, Hiks Kupikir Kau Naksir Aku, Cinta Zooplankton, Harga Sebuah Pertemuan, Mimpi-Mimpi Laila Majnun, Kutukan Kecantikan Miss X, Kupu-Kupu Monarch, Kutukan Kecantikan Miss X-2, Lily dan Tiga Pria itu, Pandangan Pertama Zalaiva, dan Antara Kau dan Aku

Dari kelima belas cerita yang ada dalam buku ini, saya akan memfokuskan pada cerita pertama “Bila semua Wanita Cantik”. Cerita ini memiliki fokus utama berupa stereotip yang cukup mengganggu sang tokoh. Lima belas cerita yang ada di dalam buku ini bukanlah sekadar cerita pendek biasa. Tere Liye memasukkan pandangannya di akhir tiap-tiap kisah mengenai permasalahan yang diilustrasikannya. Meskipun perempuan menjadi bagian penting dalam lima belas cerita yang ada, hanya sebelas cerita yang sangat menonjolkan perempuan dalam ceritanya. Tak sekadar bercerita, Tere Liye juga berusaha mengarahkan pandangan pembacanya untuk dapat mengerti dengan maksud yang ingin dicapainya dari cerita yang dibuatnya. Sangat terasa bahwa buku ini kaya akan nilai yang ingin ia tanamkan kepada pembacanya, yang sepertinya akan lebih banyak perempuan.

 

  1. B.            Rumusan Masalah

Analisis masalah dalam penelitian ini dibagi menjadi :

  • Bagaimana stereotipe yang ada dalam masyarakat terhadap perempuan yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya?
  • Bagaimana pandangan perempuan (tokoh) dalam menanggapi stereotipe tersebut sesuai yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik” di buku Berjuta Rasanya ?

 

  1. C.           Tujuan Penelitian

Analisis dalam penelitian ini bertujuan untuk :

  • Mengetahui stereotipe yang ada dalam masyarakat luas terhadap perempuan yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya
  • Mengetahui pandangan perempuan (tokoh) dalam menanggapi stereotipe tersebut sesuai yang digambarkan dalam “Bila Semua Wanita Cantik”  di buku Berjuta Rasanya

 

  1. D.           Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan manfaat dan sumbangsih bagi karya sastra Indonesia, khususnya di bidang gender dalam sastra.

 

  1. E.            Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menggunakan hasil metode penelitian kepustakaan (Library Research).

 

  1. F.            Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab III Beban Stereotip

Bab IV Penutup

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

   Dalam penelitian ini, penyusun perlu menyusun suatu kerangka teori atau pemikiran yang berfungsi sebagai landasan berpikir. Tidak hanya itu, landasan teori imi juga berfungsi untuk menggambarkan sudut pandang penelitian masalah yang akan dibahas dan diteliti.

  • Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan.
  • Ada satu konsep yang dilukiskan sebagai ‘gambaran dalam kepala kita’ dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok (guru, polisi, perempuan, laki-laki, dsb) yang merupakan generalisasi tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa didukung oleh fakta objektif. Contohnya adalah seorang perempuan cerewet, sedangkan laki-laki seorang yang kuat.
  • Ideologi gender menghasilkan pandangan manusia tentang peran jenis dalam masyarakat. Peran jenis (sex role) adalah satu kelompok perilaku, kesenangan, dan sifat serta sikap yang dipunyai oleh satu jenis tertentu, dan tidak dimiliki oleh jenis lain. dengan adanya peran jenis maka muncul stereotip jenis. Stereotip jenis adalah pembakuan suatu pandangan terhadap kelompok manusia dengan memberi ciri-ciri tertentu, tanpa memperhatikan variasi perseorangan. Stereotip terhadap jenis, telah membakukan pandangan tentang  bagaimana perempuan “seharusnya”, dan bagaimana laki-laki “seharusnya”. Kedua, tanpa memberi kesempatan untuk “keluar” dari ciri yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pandangan stereotip ini, membuat seorang pribadi laki-laki merasa bersalah apabila ia melakukan tindakan dengan ciri keperempuanan, atau sebaliknya. (Murniati, 2004: 62)
  • Jelas bahwa dalam setiap lingkungan budaya ada pembagian peran gender (gender specific roles) yang dapat diamati, ditiru, dan diperkenalkan secara khusus pada anak laki-laki dan anak perempuan. Dengan demikian, dalam setiap budaya juga ada stereotip tertentu tentang apa yang “pantas” bagi perempuan atau laki-laki.(Sadli, 2010: 8)

 

BAB III

 

BEBAN STEREOTIP

 

  1. A.           Sinopsis

Dalam buku ini, Tere Liye berusaha untuk menceritakan berjuta rasa cinta. Ia memasukkan nilai-nilai baru di setiap pemahaman aspek-aspek percintaan yang saat ini banyak menyapa para kaula muda. Di kisah pertama dalam buku ini yang menjadi fokus dalam penelitian ini bercerita tentang pemahaman sebuah kecantikan. Vin, seorang gadis yang sejak kecil sudah gendut merasa bosan dengan penderitaan yang selama ini dirasakan. Ia sering diolok-olok temannya di mana pun ia berada. Belum lagi sejak ia dewasa, ia semakin tertekan dengan tidak adanya lelaki yang mendekatinya.

Tiga puluh tahun Vin hidup dengan beban “ketidakcantikan” bersama seorang teman yang juga bernasib sama, Jo. Ia seorang gadis dengan penderitaan yang kurang lebih sama, bedanya ia lebih bijak memahami hidup. Jo, seorang gadis kurus tinggi yang berwajah penuh dengan jerawat. Vin selalu menceritakan segala keluh kesahnya kepada Jo. Seperti biasa Jo akan selalu berusaha membesarkan hati Vin dan mencoba menyadarkan bahwa apa yang mereka alami bukanlah hal yang menyedihkan jika dinikmati.

Namun Vin terlampau sedih memaknai hidup, dalam keputusasaanya suatu malam ia berdoa agar semua orang di dunia ini jelek seperti dirinya. Ternyata esok hari semua berubah. Semua orang justru menjadi cantik bukan main. Hanya ia dan Jo yang tetap pada kondisi semula. Semua laki-laki dimanjakan dengan paras cantik wanita di setiap sudut kota, bahkan tak ada bedanya kecantikan antara Miss Universe dengan gadis penjual permen atau ibu-ibu pengemis yang menegadahkan tangan di pinggir jalan. Inilah titik balik, para laki-laki mulai bosan dengan “cantik” yang mereka lihat. Masyarakat kembali merekonstruksikan definisi cantik dengan sesuatu yang berbeda dari biasa. Vin serta Jo lah yang mendapatkan predikat tersebut.

Mendadak kehidupan Vin dan Jo berubah. Termasuk kehidupan percintaan mereka. Namun inilah hidup, semua berjalan dengan alasan. Vin belajar banyak hal ketika ia menjadi “cantik”, termasuk memahami arti cantik itu sendiri.

 

  1. B.            Analisis

                                                                                   

  • Stereotipe Masyarakat terhadap Perempuan dalam “Bila Semua Wanita Cantik” di buku Berjuta Rasanya

 

Masyarakat Indonesia ternyata masih terjebak dalam permasalahan gender sehingga kita masih mendapati banyak perempuannya merasa tidak sanggup untuk memenuhi stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan.

Ideologi gender menghasilkan pandangan manusia tentang peran jenis dalam masyarakat. Peran jenis (sex role) adalah satu kelompok perilaku, kesenangan, dan sifat serta sikap yang dipunyai oleh satu jenis tertentu, dan tidak dimiliki oleh jenis lain. dengan adanya peran jenis maka muncul stereotip jenis. Stereotip jenis adalah pembakuan suatu pandangan terhadap kelompok manusia dengan memberi ciri-ciri tertentu, tanpa memperhatikan variasi perseorangan. Stereotip terhadap jenis, telah membakukan pandangan tentang  bagaimana perempuan “seharusnya”, dan bagaimana laki-laki “seharusnya”. Kedua, tanpa memberi kesempatan untuk “keluar” dari ciri yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Pandangan stereotip ini, membuat seorang pribadi laki-laki merasa bersalah apabila ia melakukan tindakan dengan ciri keperempuanan, atau sebaliknya. (Murniati, 2004: 62).

Adapun stereotip yang terbangun dalam cerita “Bila Semua Wanita Cantik” yang terdalat dalam buku Berjuta Rasanya adalah sebuah konstruksi “cantik” menurut masyarakat yang diejawantahkan dalam paradigma berpikir para tokohnya. Hal ini terlihat dari cuplikan paragraf yang terdapat dalam cerita tersebut

“….Karena cowok-cowok itu bersepakat cantik dan seksi itu harus ramping, perut datar, mata hitam menggoda, rambut seperti ini, kulit harus putih, bibir merah sensual, dan seterusnya, maka cewek otomatis harus seperti itu untuk dibilang cantik” (Tere Liye, 2012: 7)

 

Stereotip “cantik” yang dikonstruksikan di cerita ini jelas-jelas disebutkan sebagai sebuah kesepakatan yang dibentuk dalam masyarakat. Vin sebagai tokoh utama dalam cerita ini yang tidak masuk dalam konstruksi tersebut. Ada satu konsep yang dilukiskan sebagai ‘gambaran dalam kepala kita’ dan terdiri atas sejumlah sifat dan harapan yang berlaku bagi suatu kelompok (guru, polisi, perempuan, laki-laki, dsb) yang merupakan generalisasi tentang sifat-sifat yang dianggap dimiliki oleh orang-orang tertentu tanpa didukung oleh fakta objektif. Contohnya adalah seorang perempuan cerewet, sedangkan laki-laki seorang yang kuat, dan contoh yang terjadi pada cerita ini.

Jelas bahwa dalam setiap lingkungan budaya ada pembagian peran gender (gender specific roles) yang dapat diamati, ditiru, dan diperkenalkan secara khusus pada anak laki-laki dan anak perempuan. Dengan demikian, dalam setiap budaya juga ada stereotip tertentu tentang apa yang “pantas” bagi perempuan atau laki-laki (Sadli, 2010: 8). Stereotip ini juga digambarkan oleh Tere Liye dalam bagian paragraf lainnya, yaitu

“… Bukankah mereka selama ini ingin merasakan memiliki pasangan yang terlihat lebih “oke” dibandingkan pasangan temannya?” (Tere Liye, 2012: 16)

 

Mereka di sini adalah laki-laki yang merasa perlu untuk memiliki pasangan yang memiliki kelebihan dibanding pasangan temannya. Tak hanya terkungkung oleh stereotip, ternyata perempuan digiring menjadi objek yang dianggap “pantas” untuk dibandingkan dengan perempuan lainnya sebagai salah satu bentuk kebanggaan laki-laki.

Hal di atas menunjukkan betapa dunia perempuan amat dibatasi oleh stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Lebih dari itu perempuan justru menikmati stereotip yang berkembang dalam masyarakat dengan berusaha memenuhi stereotip tersebut dengan berbagai cara. Ketika perempuan sudah merasa tidak sanggup memenuhi upaya untuk mencapai stereotip yang berkembang, perempuan akan cenderung merasa terasing dan kalah dengan keadaan. Hal inilah yang semakin menguatkan posisi stereotip yang berkembang dalam masyarakat menjadi beban bagi perempuan karena mau tidak mau perempuan justru berusaha untuk memenuhinya.

 

  • Pandangan Perempuan (tokoh) dalam Menanggapi Stereotipe yang ada dalam Berjuta Rasanya

 

Tere Liye berusaha untuk memperlihatkan tanggapan perempuan atas stereotip yang ada dalam masyarakat atas labelling terhadap perempuan dengan dua sudut pandang. Vin dan Jo dipisahkan oleh perbedaan paradigma atas stereotip yang dibangun dalam cerita tersebut. Berikut merupakan salah satu contoh paradigma yang dimiliki Jo dalam menghadapi stereotip yang mengkungkung perempuan dalam cerita ini.

“Lah, come-on! Bukankah itu menjelaskan semuanya. Lu pikir semua orang di dunia ini akan cantik? Akan seksi? Nggak, kan? Pasti ada yang tidak cantik, kurang seksi—“ (Tere Liye, 2012: 2)

 

Jo dalam konstruksi paradigma yang tidak terkungkung oleh stereotip tetap berusaha untuk menularkan pemikirannya kepada Vin, sahabatnya yang menjadi korban atas beban gender yang terdapat dalam cerita ini.

“Tapi yakinlah, Vin, tak selamanya menjadi cantik dan seksi itu menyenangkan…” Jo menghentikan tawanya. (Tere Liye, 2012: 7)

 

Jo juga berusaha membesarkan hati Vin dengan berbagai upaya, termasuk dengan memberikan pandangannya bahwa kemungkinan atas stereotip yang terbangun di masyarakat belum tentu merupakan keadaan yang menyenangkan.

Di awal kedewasaan mereka dalam menyadari dan menghadapi stereotip dalam masyarakat, mereka cenderung untuk beradaptasi dengan keadaan meski sudah merasa ada ketidakadilan atas stereotip yang ada di masyarakat dan dampak yang mereka dapatkan.

“Vin dan Jo hanya jadi penonton di acara tersebut. Memandang sirik cewek-cewek berpakaian seksi berlalu lalang bersama pasangan mereka” (Tere Liye, 2012: 7)

Perbedaan kedua sahabat ini dalam menghadapi stereotip yang berkembang di masyarakat cukup tinggi. Jo dengan kedewasaaannya mampu menjadi perempuan yang tidak terjebak dengan stereotip dan tidak menjadi korban beban atas permasalahan stereotip di dalam gender. Hal ini ditunjukkan oleh Tere Liye dalam paragraf dalam cerita yang dibuatnya, yaitu

“… Bagi Jo, ada atau tidak ada cowok yang melirik mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati kepada mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati kepada mereka, itu tidak penting. Hidup ini tetap indah meski tanpa kehdupan percintaan yang mengharu-biru. Tapi bagi Vin tidak. Ia bosan dengan kesendiriannya. Bosan dianggap tidak ada oleh cowok-cowok. Celakanya lagi, Vin justru mengidolakan cowok terkeren kota ini. teman satu kantornya” (Tere Liye, 2012: 7)

 

Vin, sebagai tokoh yang menjadi korban atas beban gender dalam memahami stereotip masyarakat atas pemahaman “cantik”, cukup digambarkan merasa lelah atas upaya-upaya pemenuhan yang tak mampu dilakukannya.

“Belakangan, setiap kali mereka bertemu, semakin seringlah Vin mengeluhkan soal itu. Bertanya hal-hal prinsip seperti,

“Apakah wajah itu penting saat kau jatuh cinta?”, “bukankah banyak yang bilang, karakter nomor satu, fisik nomor dua?” Bahkan, kadang berteriak sebal tentang “Omong kosong! Semua itu bohong! Siapa bilang kita selalu terlahir dengan takdir jodoh bersama kita? Itu hanya untuk membesar-besarkan hati saja!” Kemudian menutup pembicaraan dengan keluh-kesah-resah.” (Tere Liye, 2012: 4)

 

Hal yang merupakan pesan penting yang ingin disampaikan oleh Tere Liye adalah bahwa Tere Liye ingin menegaskan bahwa sebagai perempuan kita tak perlu untuk melakukan upaya pemenuhan stereotip jika ternyata hal tersebut malah membebani hidup kita. Di akhir cerita, Tere Liye mengatakan bahwa jika cinta didasarkan oleh standar fisik semata, bisa jadi suatu saat kelak kita akan ditinggalkan karena alasan fisik juga. Sedangkan “kecantikan” hati haruslah lebih utama dibanding apapun. Dengan adanya pesan ini, Tere Liye berupaya menanamkan kepada pembacanya, khususnya perempuan untuk tidak menjadi korban dalam beban gender dalam kasus stereotip pemaknaan ‘cantik’.

BAB III

 

PENUTUP

 

  1. A.           Simpulan

 

Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan sehingga dinamakan pelabelan negatif. Adapun contoh pelabelan yang sudah melekat, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa sedangkan perempuan adalah makhluk lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Pelabelan atas stereotip yang ada dalam masyarakat atas pemaknaan “cantik” membuat banyak perempuan yang tidak masuk dalam kriteria stereotip tersebut justru malah membuat masalah baru.

Perempuan yang dalam upaya pemenuhannya mengalami banyak kegagalan dan hambatan merasa terbebani atas stereotip ini. Perempuan menjadi korban atas beban gender dalam stereotip yang menempel dalam “kecantikan” perempuan. Tere Liye menggambarkan betapa perempuan yang menjadi korban beban tersebut justru mengalami hidup yang tidak nyaman. Hal inilah yang menjadi sorotan oleh Tere Liye hingga di akhir cerita, ia berusaha menanamkan pesan bahwa stereotip tersebut tidak serta merta harus dipenuhi oleh perempuan karena sejatinya ada “kecantikan” yang lebih hakiki dan penting yang tidak menjadi stereotip oleh masyarakat yang justru harus dipenuhi, yaitu kecantikan hati.

 

  1. B.            Saran

 

Buku ini patut untuk dibaca karena memuat berbagai perspektif gender yang tertuang dalam berbagai cerita yang ada dalam kehidupan percintaan sehari-hari. Kehidupan percintaan menjadi topik utama dalam cerita yang tertuang dalam buku Berjuta Rasanya. Berbagai permasalahan tentang gender, mulai dari stereotip, marjinalisasi, atau kekerasan diungkap dalam kehidupan cinta. Namun akan lebih baik lagi jika buku ini tidak hanya membahas gender dalam kehidupan percintaan saja, tetapi juga aspek lain terutama aspek kehidupan baik, sosial maupun individu.

 

Daftar Pustaka

 

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional

Keraf, Gorys. 2003.  Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa Indonesia. Jakarta : Nusa Indah

Liye, Tere. 2012. Berjuta Rasanya. Jakarta : Mahaka Publishing

Murniati, A. Nunik. 2004. Getar Gender. Magelang: Yayasan Indonesiatera

Sadli, Saparinah. 2010. Berbeda tetapi Setara. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

Tim Penyusun. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Utorodewo, Felicia N, dkk. 2010.  Bahasa Indonesia  Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. Jakarta : Badan Penerbit FK UI

 

Read Full Post »

Makalah Akhir Mata Kuliah Sintaksis

Nila Rahma

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

2009

BAB I

PENDAHULUAN

Di Indonesia, banyak terdapat perusahaan besar yang bergerak dalam berbagai bidang. Nama perusahaan adalah saah satu hal yang unik dan menjadikan penulis tertarik untuk menelitinya. Dalam penulisan ini, akan dibahas mengenai analisis kelas kata pada nama perusahaan dalam bidang telekomunikasi. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai adanya kelas tertentu yang sering muncul pada nama perusahaan tersebut. Penulisan ini diawali dengan pendahuluan, dilanjutkan dengan pembahasan, dan diakhiri dengan penutup

BAB II

ANALISIS KELAS KATA

PADA NAMA PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA

Nama merupakan hal penting guna merujuk pada hal tertentu. Tak hanya nama diri, nama juga berperan penting bagi suatu perusahaan. Kita mungkin akan tahu bahwa sebuah perusahaan bergerak dalam bidang tertentu berdasarkan namanya, misalnya PT Telekomunikasi Selular yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Dalam penulisan ini akan dibahas kemunculan kelas kata tertentu pada nama perusahaan telekomunikasi di Indonesia.

Penulis mengambil data dari situs internet yang mendaftar 20 besar nama perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Berikut adalah daftar nama perusahaan besar dalam bidang telekomunikasi di Indonesia:

Nomor Nama Perusahaan
1 PT Telkomsel (Telekomunikasi Selular)
2 PT Telkom (Telekomunikasi)
3 PT Indosat
4 PT Excelcomindo Pratama
5 PT Mobile-8 Telecom (Fren)
6 PT Bakrie Telecom (Esia)
7 PT Natrindo Telepon Seluler (Axis)
8 PT Smart Telecom
9 PT Hutschison Indonesia (3-Three)
10 PT Sampoerna Telecom Indonesia (Ceria)
11 PT Indosat Mega Media
12 PT Ericsson Indonesia
13 PT Nokia Siemens Network
1 PT Huawei Tech Investment
15 PT Alcatel-Lucent Indonesia
16 PT NEC Indonesia
17 PT Pasifik Satelit Nusantara
18 PT ZTE Indonesia
19 PT Aplikasi Lintasarta (Lintasarta)
20 PT Indonesia Comnets Plus (ICON +)

Berdasarkan data yang diperoleh, hanya ada tujuh nama perusahaan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penulis akan membahas kelas kata dari masing-masing nama perusahaan tersebut.

Kelas kata adalah perangkat kata yang sedikit banyak berperilaku bersintaksis sama. Menurut Harimurti Kridalaksana dan dan Tim Peneliti Linguistik Fakultas Sstra Universitas Indonesia, perilaku sintaksis mencakup :

  1. Posisi satuan gramatikal yang mungkin atau yang nyata-nyata dalam satuan yang lebih besar.
  2. Kemungkinan satuan gramatikal didampingi atau tidak didampingi oleh satuan lain dalam konstruksi (dependensi).
  3. Kemungkinan satuan gramatikal disubstitusikan dengan satuan lain.
  4. Fungsi sintaksis seperti subjek, predikat, dan sebagainya.
  5. Paradigma sintaksis, seperti aktif-pasif, deklaratif-imperatif, dan sebagainya.
  6. Paradigma morfologis.

Dalam pembahasan ini, penulis mempergunakan teori pembagian kelas kata yang

dikemukakan oleh M. Ramlan. Dipilihnya teori ini karena penggolongan yang dibuat oeh Ramlan merupakan hasil penelitian yang paling lengkap dari segala pembahasan kelas kata dalam bahasa Indonesia hingga kini. Beliau membagi kata atas 12 kelas, yakni:

  1. kata verbal
  2. kata nominal
  3. kata keterangan
  4. kata tambah
  5. kata bilangan
  6. kata penyukat
  7. kata sandang
  8. kata tanya
  9. kata suruh
  10. kata penghubung
  11. kata depan
  12. kata seruan

Dalam pembahasan ini, penulis menganalisis kelas kata pada masing-masing nama

Perusahaan tersebut.

  1. PT Telkomsel (Telekomunikasi Selular)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat menjadi KBBI),

telekomunikasi termasuk dalam kelas kata nominal. Adapun ciri nominal adalah tidak dapat diwali dengan kata tidak dan dapat diawali dengan dari. Sedangkan selular –bentuk baku: seluler–  termasuk dalam adjektiva atau kata sifat. Meskipun Ramlan tidak memasukkan kata sifat ke dalam pembagian kelas kata, penulis mencoba meletakkannya pada kata keterangan. Dimasukkannya selular pada keterangan disebabkan oleh kata ini sebagai keterangan dari telekomunikasi.

Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Telekomunikasi Selular

N               ket

2. PT Telkom (Telekomunikasi)

Seperti dikemukakan sebelumnya, telekomunikasi dimasukkan ke dalam kelas nomina karena ia tidak dapat diwali dengan tidak, tetapi dapat diawali dengan dari. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Telekomunikasi

N

3. PT Excelcomindo Pratama

Excelcomindo merupakan nama diri sehingga penulis memasukkannya dalam kelas nominal. Dalam KBBI, pratama dimasukkan dalam kelas numeralia atau kata bilangan. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Excelcomindo Pratama

N             N

4. Natrindo Telepon Seluler

Telepon dan KBBI dalam KBBI dimasukkan dalam kelas kata nominal. Sedangkan seluler dimasukkan dalam adjektiva. Sebagaimana sebelumnya, seluler dimasukkan dalam kata keterangan. Jadi, dapat didimpulkan menjadi

Natrindo Telepon Seluler

N             N          Ket

5. PT Indosat Mega Media

Indosat merupakan nama diri sehingga penuis memasukkannya dalam kelas kata nomina. Sedangkan mega yang berari besar termasuk dalam bentuk terikat. Karena Ramlan tidak memasukkan bentuk terikat ke dalam pembagian kelas kata, penulis memasukkannya ke dalam kata keterangan. Adapun media yang memiliki arti sebagai alat dan dimasukkan dalam kelas kata nominal. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Indosat Mega Media

N          Ket    N

6. PT Pasifik Satelit Nusantara

Dalam KBBI, pasifik tidak ditemukan. Akan tetapi, ditemukan pasifikasi yang berarti pengamanan dan dimasukkan ke dalam kelas kata nominal. Melihat kasus ini, penulis teringat bahwa imbuhan -asi akan mengubah kata sifat menjadi kata nominal. Jadi, kata sifat yang penulis memasukkannya ke dalam kelas kata keterangan. Adapun satelit dan nusantara dimasukkan ke dalam kelas kata nominal. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Pasifik Satelit Nusantara

Ket       N        N

7. PT Aplikasi Lintasarta

Aplikasi memiliki arti penerapan. Imbuhan pe-an menandakan kelas nominal. Sedangkan lintasarta merupakan pemendekan dari kata lintas ’trayek’ dan arta ’uang’. Kedua kata tersebut masuk ke dalam kelas nominal. Jadi, dapat disimpulkan menjadi

Aplikasi Nusantara

N            N

BAB III

PENUTUP

Melihat pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kelas kata yang paling sering muncul pada nama perusahaan telekomunikasi di Indonesia adalah kelas kata nominal. Kelas kata nominal memiliki ciri tidak dapat diawali dengan kata tidak dan dapat diawali dengan kata dari. Tingginya intensitas kemunculan kelas kata nominal pada nama perusahaan terbilang wajar karena memang nama-nama perusahaan merupakan hal untuk merujuk pada dirinya sendiri yang merupakan kata benda.

DAFTAR PUSTAKA

Kridalaksana, Harimurti. 1999. Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga. 2007. Jakarta: Balai Pustaka.

Read Full Post »

by Melody Violine


1. Introduction

Ellipsis occurs when some essential structural element is omitted from a sentence or clause and can only be recovered by referring to an element in the preceding text (Nunan, 1993: 25). What about ellipsis in mobile phone text messages? As one message can only accomodate 160 characters, people try to put as many things as possible in a message, therefore ellipsis is very common to this particular medium of communication. However, this limitation also hampers people from creating to many ellipsis, concerning that the receivers would not understand their messages due to the lack of referrence.

This essay discusses what elements are common to be omitted, and how the gaps can be filled from the available text. Indonesian is deliberately chosen in order to cater some information about its text messages which is rarely found in books of learning this language. In the end, this composition would help foreign speakers to comprehend text messages written by Indonesians.

Data are taken from real text messages made by Indonesians in 2008. They ranged in age of 18 to 22, and were college students. Two years ago, the same data have been employed in a research of Indonesian cohesion markers. Since it is seen that there is no significant change in the style of text messaging, these data are considered as still acceptable.

2. Analysis

The first part of each datum is the actual message of which there are many informal abbreviations and vocabularies. The second part provides its standardized version. The third part is the translation of the second part in linguistics form. The last part is the overall translation. The sign [/] indicates the end of rows in the text messages, and the parenthesis [(…)] is filled by a prediction of what has been omitted. Words in italic are interjections.

i.          aku jg lg stress/mikirin acara aku../aku lg megang/acara.. kmu udh/uas aja.cepet/bgt.ayo kmu/smangat.pdhal/jumat ini aku pgn/ajakin ktemuan..

Aku juga sedang stres memikirkan acara aku…

Aku sedang memegang acara…

Kamu sudah UAS saja.

(Itu) Cepat sekali.

Ayo, kamu bersemangat.

Padahal, Jumat ini aku ingin mengajak (kamu) bertemu (aku)…

1SG also be distress MEN-think-KAN event 1SG…

1SG be MEN-handle event…

2SG already UAS just.

(That be) Quick very. Come.on, 2SG BER-spirit.

Actually, Friday this 1SG want MEN-ask (2SG) see (1SG)…

I am also having a distress of thinking my event…

I am handling an event…

You are already facing the final exam.

(That is) Very quick. Come on, you have to be full of spirit.

Actually, this Friday I want to ask (you) to see (me)…

This message contains three ellipsis. In the first one, the sender refered to the condition stated in the previous sentence. The second and the third ellipsis occur in an understanding that there is no other individual mentioned in the message, and hence they refers to the sender and the receiver.

ii.          Pg Ipin.. Pin,nNti bS/Dtg lbh awal g? Ad/yg mau Imau/omongin!! Cz imaU/Mo crita k’ipin aj./BuTuh saran nech/pin..He.

Pagi, Ipin..

Pin, nanti (aku/kamu) bisa datang lebih awal, tidak?

Ada yang ingin Imau bicarakan!

Karena Imau ingin bercerita pada Ipin saja.

(Aku) Butuh saran nih, Pin… He.

Morning, Ipin…

Pin, later (1SG/2SG) can come more early, NEG?

Be REL want Imau talk-KAN!

Because Imau wants BER-tell.a.story to Ipin only.

(1SG) Need suggestion nih, Pin… He.

Morning, Ipin..

Pin, later (you) can come earlier, or not?

There is something that Imau wants to talk about!

Because Imau only wants to tell a story to Ipin.

(Aku/Imau) Needs suggestion, Pin… He.

This message contains two ellipsis. The first ellipsis has two possibilities, but 2SG is more likely to be proper because 1SG would be more suitable with may come than can come. The sentence containing the second ellipsis is a plain statement that someone needs something. The sender should not be able to know the condition of the receiver, thereby 1SG can fill this gap.

iii.         Mba lu bsk ada drmh/gag/jam brP pulang/kmpuz blz

Mbak, kamu besok ada di rumah, tidak?

Jam berapa (kamu) pulang dari kampus?

Balas (pesan ini).

Big.sister, 2SG tomorrow be at home, NEG?

Hour how.many (2SG) return from campus?

Reply (message this).

Big sister, will you be home tomorrow, or not?

On what time will (you) go back from campus?

Reply (this message).

The third message also contains two ellipsis. The first one makes the second sentence, which is an extended question of the first sentence, has no subject. Since the subject of the first sentence is 2SG, the second is as well. The last line is a common code in Indonesian text messaging if the sender truly expects the receiver to reply his/her message. Therefore, the second ellipsis should be filled by this message.

iv.         Gk ad,Mar,,jdnya/qta ngsh list/formula itu+jualin/cd rkaman karina/yg uangnya dksh k/kpngurusan slnjtnya,,/eh, snin ngmpln tgs/apaan aj c?,,

Tidak ada, Mar…

Jadi kita memberi list formula itu ditambah menjual cd rekaman Karina yang uangnya diberikan kepada kepengurusan selanjutnya…

Eh, (pada hari) Senin (kita) mengumpulkan tugas apa saja sih?

NEG be, Mar…

So we give list formula the di+add sell CD recordings Karina REL money-NYA DI-give-KAN to committee subsequent…

Eh, (on) Monday (1PL) submit tasks what also sih?

There was none, Mar…

So we give a list of the formula and sell CD of Karina recordings which the money will be given to the subsequent committee…

Eh, (on) Monday (we will) submit what tasks?

This message has two ellipsis which both occurs in the last sentence. Preposition on was omitted because the sender refered to Monday, and not before Monday (Sunday or Saturday), or after Monday (Tuesday or Wednesday). That is why the preposition could be omitted without any further concern. The subsequent ellipsis is readable from the clause submit what tasks which implies that it was something both the sender and receiver (1PL) should had known.

v.         Bebb,ntar lw khuz/gw ajj bsk c re2 da/uas../Kan gg enk klo/ganggu dy

Bebb, nanti kamu (pergi) ke rumah aku saja besok.

Si Rere ada UAS…

Kan tidak enak kalau (kita) mengganggu dia.

Bebb, later 2SG (go) to house 1SG tomorrow.

Si Rere be UAS…

For (1SG/1PL) NEG fine if (1PL/2SG) MEN-distract 3SG.

Baby, later you (go) to my house tomorrow.

Si Rere is having final exam…

For (I/we) would not feel fine if (we/you) distract him/her

The first ellipsis in this message occurs by omitting a verb. It is common in colloquial Indonesian to eliminate the word go when it is followed by the preposition to which is considered as sufficient to represents go to. The second ellipsis has two possibilities because the sender could not have known exactly how the receiver would feel. However, the last ellipsis only has one similar option to the second, because there is a possibility that only 2SG who would distract him/her (Si Rere).

vi.         Ndut,jgn lpa bliin/cd ksong gw../ingt yh ndut,bli ny/3 cd!

Ndut, jangan lupa belikan CD kosong (untuk) aku…

Ingat ya, Ndut, (kamu) membelinya 3 cd!

Fatty, NEG forget buy-KAN empty CDs (for) me…

Remember ya, Fatty, buy-NYA 3 CDs!

Fatty, do not forget to buy empty CDs (for) me…

Remember, Fatty, the purchase is 3 CDs!

The only ellipsis in this message is actually critical. Beginners might do not realize this particular ellipsis. The key is the word belikan (buy-KAN) containing KAN which is a benefactive affix (to subject perform the action for someone else). Therefore, membelikan CD kosong aku means ”buy empty CDs for me”, not ”buy my empty CDs”.

In this message, it has to be noted that -NYA does not only used to form a possessive phrase. If -NYA is adhered to a verb, it would nominalize the verb. Therefore, the last sentence in this message does not contain any ellipsis as if the word belinya (buy-NYA) is still considered as a verb — (you) buy 3 CDs!


vii.        Waduh Ti.., gw malez ke/warnetnya malem2.. Lo/Udah slesai blm? Msh lama ataw/dikit lg.coz gw lg di margonda,/mau sampe rmh lo. Klo msh lama.senin aja deh..bgm?

Waduh, Ti…

Aku malas (pergi) ke warnet malam-malam…

Kamu sudah selesai (…) belum?

(Kamu) Masih lama atau sedikit lagi?

Karena aku sedang di Margonda, akan sampai (di) rumah kamu.

Kalau (kamu) masih lama, (aku pergi ke rumah kamu) (pada hari) Senin saja deh…

Bagaimana?

Waduh, Ti…

1SG lazy (go) to internet.café at.night…

You already finish (do something in the internet café), NEG?

(2SG) still long or a.little.bit more?

Because 1SG be in Margonda, will arrive (at) house 2SG.

If (you) still long, (I will go to your house) (on day) Monday just deh

So?

Ouch, Ti…

I am lazy to (go) to internet café at night…

You have finished (do something in the internet café), or you haven’t?

(You are) still long or a little bit more?

Becaure I am in Margonda, going to arrive (at) your home.

If (you) still long, (I will go to your house) (on) Monday…

So?

The last message is the most complicated one, and it contains seven ellipsis. The first ellipsis is the same one as the first ellipsis occurred in the fifth message. We can predict the clause do something in the internet café for the second ellipsis in this message from the previous sentence which only has internet café as its distinct information.

The third ellipsis occurs in a question extending the previous one, thereby both sentences have the same subject – 2SG. The fifth ellipsis has a connection to the fourth sentence, being marked by the word long. That is why 2SG is acceptable to fill this gap.

The fourth ellipsis should have been a preposition in to complete the spatial phrase. The sixth ellipsis I will go to your house is derived from the information provided in the previous sentence going to arrive (at) your home. The last ellipsis in this message is employed in the same way with the first ellipsis in the fourth message.

3. Conclusion

The most common ellipsis in Indonesian text messaging are pronouns 1SG, 2SG, and 2PL. The others are prepositions and clauses. There is only on verb, go, omitted in the messages analysed in this essay, but it is possible that there are other verbs (single verbs, not verbs in clauses) ommitted in Indonesian text messaging.

The gaps can be filled by considering some aspects in the messages. First, if the sentence is an extending of the previous one, the subject might be omitted because the sender refers to the same subject. Second, the meanings of affix adhered to a verb in the sentence can also make the sender feel he/she can eliminate a preposition. Omitting a preposition may also be done when the sender refers to the exact time unit, for example days, and not before or after the time mentioned. Moreover, a verb can be omitted when the following preposition is sufficient to transfer what the sender’s mean.

In the end, even though avoiding ellipsis is the best way to transfer messages thoroughly, foundings in this essay has proven that, in Indonesian, the existence of ellipsis in text messages would not hamper the receiver from obtaining the full meaning of the message. Furthermore, ellipsis in Indonesian text messages are limited and predictable.

REFERENCES[1]

Nunan, David (1993) Introducing Discourse Analysis. London: Penguin English.

Kridalaksana, Harimurti (2001) Linguistics Dictionary Third Edition. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti and Research Team on Linguistics of the Faculty of Literature of University of Indonesia (1999) “Syntax (Fifth Draft).” Study Material of Department of Indonesian Literature, Depok.

Simanjuntak, Dumaria (2008) “Cohesive Markers as Discourse Synchronizer: A Study on Kompas Short Stories Anthology.” A Magister Thesis of the Faculty of Humanities University of Indonesia, Depok.

The Dictionary Compiler Team of The Language Center (2002) The Big Dictionary of Indonesian Language. Jakarta: Balai Pustaka.


[1] English translation

Read Full Post »

Fitrah Pengakuan

oleh Nila Rahma


Ajip Rosidi bukan hanya seorang kritikus sastra, melainkan juga seorang penulis karya sastra. Laki-laki kelahiran 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, ini mulai muncul dalam majalah-majalah kebudayaan terkemuka di Jakarta sejak tahun 1952. H.B. Jassin memasukkan beliau ke dalam angkatan ’66.

Sebagai penyair, Ajip telah menerbitkan beberapa kumpulan sajak, yaitu Ketemu di Djalan (1956) bersama dengan S.M. Ardan dan Sobron Aidit; Pesta (1956) yang menjadikannya sebagai pemenang hadiah sastra nasional dari B.M.K.N. untuk puisi tahun 1955-1956; Tjari Muatan (1959); Surat Tjinta Endaj Rasidin (1960), dan Djeram (1970). Dalam tulisan ini, penulis akan membahas kumpulan sajak Jeram melalui dua sajak yang terpilih, “Sajak buat Tuhan I” dan “Sajak buat Tuhan II”. Dalam Jeram, banyak ditemukan puisi religi. Kedua sajak tersebut mewakili sajak-sajak lainnya karena penulis mendapatkan kesan yang cukup mendalam saat membaca keduanya.

Sajak buat Tuhan

I

Kalau aku bicara pada-Mu, Tuhan

Bukan mau mengadukan dera dan derita

Tak kuharap Kau berdiri di depan

Ke dahiku mengeluskan tangan mesra

Kalau kutulis sajak ini, Tuhan

Bukan lantaran rindu-dendam atau demam

Tak kuharap Kau membacanya

Sambil duduk mengisap pipa kala senja

Karena Kau lebih tahu apa rasa hatiku

Dan mengerti bagaimana pikiranku

Karena Kau paling Aku dari aku

Yang terkadang kesamaran sama bayangan

8-1-1960

Jika dilihat sekilas, puisi ini seperti puisi lama karena terdiri dari empat baris dalam tiap baitnya dan diakhiri dengan bunyi yang sama di tiap barisnya. Akan tetapi, ada satu bunyi akhir pada baris kedua-bait terakhir yang memiliki perbedaan dengan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa puisi di atas bukanlah puisi lama, melainkan puisi modern. Seluruh barisnya mengungkapkan tema kerendahan hati terhadap Tuhan. Kerendahan hati dapat kita tangkap melalui penggunaan bahasanya. Untuk membuktikan hal ini, marilah kita membahasnya melalui satu per satu baitnya.

Kalau aku bicara pada-Mu, Tuhan

Bukan mau mengadukan dera dan derita

Tak kuharap Kau berdiri di depan

Ke dahiku mengeluskan tangan mesra

Aku lirik tengah berandai-andai jika ia dilanda derita yang cukup berat. Sebenarnya, ia ingin mencurahkan segala derita yang ia rasa pada Tuhan. Aku lirik berbeda dengan orang kebanyakan. Jika orang lain seringkali mengadu pada Tuhan saat mereka dilanda dera dan derita, ia berpikir bahwa ia tak perlu melakukannya. Kita dapat melihatnya pada Tak kuharap Kau berdiri di depan/ ke dahiku mengeluskan tangan mesra. Elusan tangan mesra merupakan simbol dari kelembutan pada seseorang yang membutuhkan perhatian. Namun, aku lirik tak menghendakinya.

Hampir sama seperti bait sebelumnya, bait kedua mengungkapkan pengandaian. Jika aku lirik menulis sebuah sajak maka bukan berarti ia akan berharap sajaknya dibaca oleh Tuhan lantaran rindu-dendam ataupun demam. Baris terakhir menggambarkan suasana yang santai dalam menikmati sesuatu, sambil duduk mengisap pipa kala senja. “Tak kuharap Kau membacanya/ sambil duduk mengisap pipa kala senja.” Dalam bait kedua ini, kita dapat menangkap harapan aku lirik bahwa ia ingin diperhatikan dengan serius, bukan dengan perhatian sambilan saja seperti digambarkan pemuisi.

Tak dilakukannya aduan yang dilakukan oleh Aku lirik ternyata bukan berarti ia tak ingin direspon oleh Tuhan. Hal ini disebabkan oleh Aku lirik sadar akan kuasa Tuhan bahwa Tuhan memiliki dua puluh sifat wajib, salah satunya adalah Mahatahu (aliman). Dari sajak ini, kita dapat menangkap kebesaran Tuhan dengan kemahatahuan-Nya. Lebih dari itu, Tuhan lebih mengetahui segala hal yang makhluk-Nya rasakan daripada  perasaan makhluk iu sendiri. Hal ini dilukiskan pada rangkaian kata berikut

Karena Kau lebih tahu apa rasa hatiku

Dan mengerti bagaimana pikiranku

Karena Kau paling Aku dari aku

yang terkadang kesamaran sama bayangan

Secara keseluruhan, pemuisi mempergunakan diksi yang mudah dimengerti oleh pembaca atau biasa disebut dengan kata konkret. Kata konkret tidak memiliki abstraksi makna karena dia mengacu pada makna sebenarnya. Kemudahan inilah yang membuat sajak ini terkesan sederhana, namun memiliki makna yang mendalam sehingga mudah ditangkap. Pengimajian dalam puisi ini dapat kita rasakan melalui rangkaian kata yang mengacu pada tema, kerendahhatian, sehingga kita merasakan suasana yang cukup sunyi. Secara keseluruhan, “Sajak buat Tuhan I” didominasi oleh bunyi vokal di tiap akhir barisnya. Hal ini menimbulkan keselarasan serta keharmonisan, keharmonisan hubungan hamba dengan Tuhan.

Dari puisi ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa Tuhan bersifat Mahatahu sehingga apapun yang kita lakukan, bahkan yang baru kita pikirkan, diketahuinya. Oleh karena itu, patutlah kita menyadari bahwa keberadaaan kita di dunia ini adalah atas karunia Tuhan dan Ia tak bosan-bosan mengontrol kita di sini, di dunia ini.

Ajip memberikan judul sajak berikut sama dengan sajak sebelumnya, hanya berbeda urutan, yakni I dan II. Inilah yang disebut dengan dua sajak-satu nafas, sajak satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Apakah sajak kedua ini juga meneruskan kerendahhatian Aku lirik? Marilah kita tilik dari satu per satu baitnya.

Sajak buat Tuhan

II

Makin terasa, betapa sendiri

Hidupku bermukim di bumi. Tiada kawan

yang mau mengulurkan tangan

dan sedia bersama menempuh jalan

tatkala tiap langkah buntu

Tak seorang pun,  juga Kau

datanng mendekat, menepuk-nepuk bahu

menganjurkan tabah dan jangan ragu.

Tiada. Hanya aku saja lagi

yang setia padaku. Hidup bersama

dalam duka dan putusasa.

Hanya aku jua, yang tetap cinta

kepada hidupku, tiada dua! Duh, tiada

lagi yang lain kujadikan gagang

tempat sirih pulang.

Rasa sendiri di dunia ramai, mengeratkan

aku padaMu, sepi-mutlak!

Rasa lengang di tengah orang, menyadarkan

antara Kau dan aku tiada jarak!

Saat seluruh bumi diam sunyi ….

16-4-1960

Bait pertama melukiskan perasaan Aku lirik yang tengah kesepian dalam hidup ini. Ia merasa tak ada orang lain yang sudi membangkitkan semangatnya kembali ketika ia terpuruk dalam keadaan yang begitu rumit. Kerumitan persoalan itu digambarkan pemuisi melalui diksi ‘buntu’. Buntu menyimbolkan keputusasaan, akhir dari segalanya, dan tak terselesaikan.

Keputusasaan aku lirik yang tak terkira membuncah hingga ia pun menyalahkan Tuhan sebab ia merasa bahwa Tuhan tak jua menyapanya. Sebenarnya, Aku lirik mengharapkan adanya kerabat yang bersedia memberikan anjuran supaya ia kuat menghadapi cobaan hidup. Akan tetapi, penantian itu sia-sia. Ia tak jua menjumpai harapannya. Dahsyatnya kesendirian si Aku lirik menjadikan ia bertambah duka dan putus asa. Kita dapat merasakannya melalui lukisan kata pemuisi, “ Tiada. Hanya aku saja lagi/ yang setia padaku. Hidup bersama/ dalam duka dan putusasa.”

Kecintaan pada diri Aku lirik hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Menurutnya, tak ada orang lain yang memperhatikan ataupun mencintainya. Ia merasa bahwa sudah tak ada tempat lagi berbagi, tak ada tempat lagi guna mengadu segala resah dan gelisah. Hilangnya tempat mengadu diungkap pada,” Duh, tiada/ lagi yang lain kujadikan gagang/ tempat sirih pulang.”

Kesendirian yang ia rasakan semakin membuncah meski dalam situasi ramai. Namun, justru kesendirianlah yang mengantarkannya pada makna sendiri. Akhirnya, ia menyadari bahwa keeratan dengan Tuhan sebagai hal yang mutlak ketika tak ada orang lain di sisi kita. Lebih dari itu, ia merasa tiada jarak antara hamba dan Tuhan-Nya karena sesungguhnya Tuhan selalu bersama kita.

Rasa sendiri di dunia ramai, mengeratkan

Anganku padaMu, sepi-mutlak!

Rasa lengang di tengah orang, menyadarkan

antara Kau dan aku tiada jarak!

Saat seluruh bumi diam suny i…

Seperti sajak-sajak Ajip lainnya, dalam “Sajak buat Tuhan” dipergunakan diksi yang mudah dimengerti atau biasa disebut dengan kata konkret. Pemuisi terlihat tak gemar mempergunakan gaya bahasa yang macam-macam. Kesederhanaan inilah yang justru memberi kesan yang mendalam karena mudah dimengerti kaum awam. Pengimajian yang tertangkap dari rangkaian kata dalam puisi itu membawa kita pada suasana yang gelisah pada kali pertama. Akan tetapi, suasana ini terasa dinamis saat perjalanan menuju akhir. Saat di tengah terjadi klimaks, yakni ketika ia merasa tak lagi punya tempat mengadu. “ Hanya aku jua yang tetap cinta/ kepada hidupku, tiada dua! Duh, tiada/ lagi yang lain kujadikan gagang/ tempat sirih pulang.”. Pada akhir bait, kita merasakan suasana yang begitu syahdu saat seorang hamba begitu merasa dekat dengan sang Pencipta.

Secara keseluruhan, “Sajak buat Tuhan II” didominasi oleh bunyi vokal di tiap akhir barisnya. Hal ini menimbulkan keselarasan serta keharmonisan, keharmonisan hubungan hamba dengan Tuhan. Penggunaan tanda baca seru juga mempertegas makna yang ingin disampaikan, seperti pada “aku padaMu sepi mutlak!” dan “antara Kau dan aku tiada jarak!”. Penegasan yang disampaikan oleh pemuisi adalah bahwa antara Tuhan dan hamba-Nya sungguh tak berjarak karena sesungguhnya Tuhan selalu dekat.

Melalui “Sajak buat Tuhan I” dan “Sajak Buat Tuhan II”, kita dapat menangkap rangkaian rasa fitrah antara hamba dan Tuhan. Keduanya merupakan suatu bentuk kerendahhatian seorang hamba meski terkadang ia merasa tak didampingi-Nya. Keduanya dapat dijadikan teladan bahwasanya kita tak pernah sendiri, di manapun dan kapanpun.

Daftar Pustaka

Al-Quran. 2005. Gema Insani Press: Jakarta

Rosidi, Ajip. 2001. Jeram: Tiga Kumpulan Sajak. PT Dunia Pustaka Jaya: Jakarta.

Rosidi, Ajip. 1991. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Binacipta: Bandung.

Read Full Post »

Ini adalah makalah yang disusun oleh Kinanti Putri Utami untuk mata kuliah Kritik Teks 2.

 

Hikayat Muhammad Hanafiyah_Kinanti Putri Utami

 

 

Read Full Post »

oleh Khairun Nisa


1. Pengantar

Gender berbeda dengan seks, pengertian diantara kedua kadang-kadang disalahartikan masyarakat umum. Pengertian seks sendiri adalah perbedaan jenis kelamin atau perbedaan perempuan dan laki-laki dilihat dari sisi biologis. Gender sendiri memiliki pengertian perbedaan antara perempuan dan laki-laki dipandang dari psikologis dan budaya (Mantik, 2006: 34—37).

Dukungan kesetaraan gender dalam sastra tidak hanya datang dari kaum perempuan, tetapi juga dari kaum laki-laki. Salah satunya adalah Putu Oka Sukanta, seorang sastrawan yang lahir di Singaraja. Tempat kelahirannya jugalah yang menjadi inspirasinya menjadikan latar untuk beberapa cerpennya, termasuk dalam kumpulan cerpennya Keringat Mutiara. Dalam kumpulan cerpennya ini Putu Oka Sukanta mencoba untuk mengatakan bahwa perempuan itu bukan manusia yang lemah, ia sebenarnya sangat tegar dan dapat menggantikan peran seorang laki-laki dalam keluarga.

Menganalisis tema perempuan dari penulis laki-laki sangat menarik perhatian untuk dianalisis. Sampai sejauh manakah Putu Oka Sukanta mengubah cara pandang para tokohnya terhadap perempuan, baik dari perempuan itu sendiri atau laki-laki yang ada di dekatnya? Apakah Oka Sukanta sanggup mengubah pandangan itu keluar dari intersivying atau penguatan stereotipe perempuan yang sudah ada sejak dulu?

2. Sekilas Tentang Pengarang

Putu Oka Sukanta adalah seorang sastrawan dan akupunturis yang sebelumnya pernah bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Beliau pernah mendekam di penjara sebagai tahanan politik pada masa orde baru selama sepuluh tahun.

Kini dengan keahliannya yang didapat dari penjara, ia membuka praktik akupuntur. Dia juga seorang aktivis pembela ODHA karena dia merasakan persamaan nasib dengan mereka, yaitu sama-sama terpinggirkan oleh masyarakat bahkan pemerintah.

Karya-karyanya yang telah terbit adalah Selat Bali (kumpulan puisi) 1982, The Song of the Starlings (kumpulan puisi) 1986, Greetings (kumpulan puisi) 1986, The Sweat of Pearls (kumpulan cerpen) 1991, Die Tasche (kumpulan cerpen) 1987, Die Sonna Die Mauer Berlin (kumpulan cerpen) 1988, Kelakar Air, Air Berkelakar (novel) 1999, Perjalanan Penyair (kumpulan puisi) 1999, Merajut Harkat (novel) 1999, Kerlap Kerlip Mozaic (novel) 2000, Di Atas Siang di Bawah Malam (novel) 2004, Rindu Terluka (kumpulan cerpen) 2005.

3. Ringkasan Cerita

a. Luh Galuh

Luh Galuh, perempuan bekas penari tenar ini harus membanting tulang menghidupi dirinya sendiri. Ia digambarkan sebagai perempuan Bali yang terpinggirkan, bahkan oleh keluarganya sendiri. Meski perkembangan zaman semakin pesat, dia harus tetap bekerja demi sesuap nasi. Luh Galuh pun membuang kehormatannya sebagai perempuan dengan malu-malu meminta uang kepada laki-laki bule yang ingin memotret foto dirinya.

b. Tas

Tokoh utama dalam cerpen ini bernama Bawa, seorang narapidana. Lia adalah kekasih Bawa yang setia menunggu Bawa dan terus mengirimanya tas berupa perbekalan makanan pada Bawa sebagai penyambung hidup. Suatu hari Bawa memintanya untuk memilih jalan yang paling membahagiakannya. Lia tetap tidak menikah dengan orang lain, tetapi tas yang biasa dikirimnya tidak lagi datang pada Bawa.

c. Mega Hitam Pulau Khayangan

Tokoh utama cerpen ini adalah perempuan yang bernama Ida Ayu Ketut Sumartini. Kebebasannya mencintai laki-laki diusik oleh keluarganya karena kasta kekasihnya lebih rendah dari dirinya. Sumartini merasa kebebasan mencintai seseorang yang berkasta rendah tidak didapat oleh dirinya yang seorang perempuan, sedangkan kakak laki-lakinya bisa. Keluarganya yang khawatir menganggap dia diguna-gunai oleh kekasihnya. Hal ini membuat Sumartini merasa kecewa. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mengambil kebebasannya sebagai perempuan yang bebas mencintainya dengan jalan kawin lari.

d. Menanti

Tokoh utama cerpen ini kembali seorang perempuan, namanya Bu Samijan. Ia harus mengambil peran ibu dan ayah sekaligus untuk kedua anaknya, Romli dan Aminah. Suaminya ditangkap karena dituduh ikut Gestapu. Ketegaran Bu Samijan tetap bertahan demi anak-anak dan suaminya. Stereotipe perempuan yang manja dan lemah tidak ada lagi pada dirinya yang harus berperan ganda dalam keluarga. Sampai akhirnya penantiannya terus berlanjut hingga suaminya dibuang ke Pulau Buru.

e. Meme Mokoh

Tokoh utama cerpen ini bernama Plutut yang merasa dirinya tidak disayangi oleh ibu kandungnya sendiri. Ia menganggap Meme Mokoh seperti ibu baginya daripada ibu kandungnya sendiri. Meme Mokoh digambarkan sebagai perempuan yang tidak hanya tegar, tapi juga mengambil peran sebagai laki-laki di dalam rumah tangga. Ia dengan mantap menolak lamaran seorang laki-laki kampung dan saat adiknya (ibunya Plutut) menikah, ia juga yang ikut membantu menafkahi keluarga adiknya itu.

4. Perempuan di Balik Pena Putu Oka Sukanta

Novel ataupun cerpen dengan tokoh sentral perempuan di Indonesia diawali dengan hadirnya novel Azab dan Sengsara tahun 1920 dan disusul dengan novel Siti Nurbaya tahun 1922 (Rustapa, 1992:1). Seperti halnya kedua novel tersebut, kumpulan cerpen Keringat Mutiara juga dikarang oleh laki-laki. Kebanyakan karya sastra yang dibuat oleh laki-laki menampilkan perempuan sebagai sosok yang manja, lemah, lembut, dan keibuan (Djajanegara, 2000:19). Namun, kumpulan cerpen Keringat Mutiara tidak demikian, perempuan-perempuan dalam kumpulan cerpen ini digambarkan sebagai sosok yang tegar dan memiliki keinginan sendiri yang merupakan pilihan hidupnya untuk bahagia.

Keringat Mutiara adalah kumpulan cerpen yang mengangkat keinginan perempuan untuk lepas dari pandangan budaya yang mengikat mereka. Dalam cerpen “Luh Galuh” kita dapat melihat Luh Galuh yang sebenarnya rikuh dan cemas dipotret oleh laki-laki bule karena pandangan budaya yang menganggap hal itu tidak baik. Meski begitu dia cukup gembira dengan uang yang didapatnya.

“Bibi Luh, ini tamu mau memotret bibi,” kata pemuda berkulit coklat itu. “Hii, aku sudah tua dan buruk. Bikin malu saja,” sahutnya seketika. Ia menutup mukanya dengan ujung handuk yang menggelayut dari bahunya. Tetapi tamu itu tanpa menunggu persetujuannya, telah menjepretnya berulang kali. Dari dekat dan dari jauh.

“Tidak apa-apa,” kata tamu itu di dalam bahasa Indonesia patah-patah.

“Saya malu,” desisnya sekali lagi. Ia melepas ujung handuk dan membiarkan tamu itu menjepretnya sesuka hati (Sukanta, 2006:16—17).

“Mintakan Bibi uang sedikit saja,” mukanya menatap laki-laki itu silih berganti. Ketiganya terdiam. Seperti ada yang menyumbat kerongkongannya. Kemudian sekali, tamu itu merogoh sakunya. Selembar limaratusan rupiah diserahkan kepada Luh Galuh. (Sukanta, 2006:18).

Cerpen “Luh Galuh” mencoba mengubah pandangan Luh Galuh menjadi decomposing. Akan tetapi, keadaanlah yang membuat Luh Galuh terpaksa menerima bahwa pandangan budaya harus berubah demi kelangsungan hidup, bukan karena pemikirannya sendiri sebagai perempuan seutuhnya.

Dalam cerpen “Tas”, decomposing terjadi pada tokoh utama yang berjenis kelamin laki-laki. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.

“… Lihat tuh, berapa banyak orang yang menjadi PA karena istrinya kawin?”

“Pernahkah kau membalik keadaan kenyataan ini? Apa yang kau lakukan, kalau istrimu yang di sini sedang engkau di luar?”

Semuanya terdiam. Bawa menghujamkan tikaman-tikaman ujung pisaunya.

“Kita terlalu egois. Kita menuntut orang lain ikut memikul beban kita. Kita selalu menilai segalanya dari sudut kepentingan kita sendiri, bukan dari kepentingan orang lain. Meskipun, itu seorang istri yang sedang kita tiduri setiap malam. Dia toh seorang manusia yang mempunyai batas kemampuan. Punya hak dan bukan embel-embel…” (Sukanta, 2006:40).

Tokoh Bawa mencoba untuk berpikir bagaimana sulitnya menjadi seorang perempuan yang harus setia menanti kekasihnya pulang. Ia mengerti bahwa perempuan tidak berbeda dengan laki-laki yang juga mempunyai hasrat seksual karena mereka sama-sama manusia.

Tokoh Sumartini dalam cerpen “Mega Hitam Pulau Khayangan” sedikit drastis. Dia telah mengubah pandangan sampai Recomposing karena ia berani menentang sistem kasta yang disodorkan budaya dan agamanya. Menurutnya manusia dilahirkan sama dan sederajat.

Pada hari-hari pertamanya di Bali ia selalu berdebat dengan Dayu Biang, ibunya. Tidak dapat diterima oleh pikirannya, mengapa kakak laki-lakinya boleh kawin dengan gadis jabe. Sedangkan ia sebagai seorang wanita Brahmana selalu dihalangi menikah dengan lelaki jabe. Mengapa? Lagipula di jaman sudah maju kayak sekarang.

“Kalau laki-laki, ia dapat mengangkat istrinya yang berasal dari jabe ke kasta kita. Perempuan itu diangkat oleh kita. Tapi kalau kamu sebaliknya. Diangakat kemana engkau oleh lelaki jabe itu? Engkau diseret ke bawah. Ke bawah! Engkau akan kehilangan martabatmu. Apakah engkau tidak malu? Kami akan malu.”

“Tapi ini tidak adil. Tuhan melahirkan kita sama.” Jawab Tini dengan ketus (Sukanta, 2006:63).

Dalam cerpen “Menanti”, Bu Samijan sebagai tokoh utama harus berjuang berperan sebagai ibu dan ayah sekaligus. Pekerjaan yang dilakukannya dengan membanting tulang seakan-akan Bu Samijan telah mencapai tingkat poses kehidupan decomposing. Ternyata tidak seperti itu, dia melakukan karena keterpaksaan, sama dengan Luh Galuh dalam cerpen “Luh Galuh”. Bu Samijan sebenarnya masih dalam tahap intersivying. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.

“Ya, suruh Ramli yang memetik. Kamu jangan naik-naik. Perempuan tidak sopan naik pohon.”

“Tapi Ibu naik ke atap.”

“Ya, sudahlah.” (Sukanta, 2006:117).

Dalam cerpen “Meme Mokoh” digambarkan satu keluarga sudah mengalami tahap decomposing begitu juga kampung yang ditinggali  mereka.

Meme mokoh tidak berhenti untuk makan sebelum pekerjaannya selesai. Kami anak-anak selalu diberi makan lebih dahulu daripada orangtua. Tidak seperti tetangga-tetangga kami yang anak-anaknya terpaksa menahan lapar dan menahan air liur menunggu sampai orangtuanya selesai makan dan jatahnya adalah makanan kelas dua. Kelas satu selalu untuk orangtua (Sukanta, 2006: 157—158).

Mereka bagaikan perempuan-perempuan yang menolak nasibnya harus bergantung kepada suami atau lelaki. Bahkan mereka menjawab dengan caranya masing-masing bahwa tanpa suami mereka juga bisa hidup dan tidak hanya hidup, tetapi juga menghidupi manusia sekitarnya (Sukanta, 2006: 169).

Dari beberapa cerpen Putu Oka Sukanta, kita dapat mengetahui bahwa para tokohnya dapat mencapai tahap decomposing karena keterpaksaan. Nasib membuat Luh Galuh dan Bu Samijan terpaksa bekerja membanting tulang yang awalnya menurut mereka harus dikerjakan laki-laki. Proses perubahan kehidupan dalam perspektif gender dinilai masih agak sulit jika kita melihat dari beberapa cerpen di atas. Namun, Putu Oka Sukanta sudah mampu meninggalkan stereotipe perempuan yang ideal haruslah setia, penurut, manja, cengeng, dan lemah.

5. Kesimpulan

Putu Oka Sukanta belum bisa membuat para tokoh dalam kumpulan cerpennya ini memasuki tahap deconstruction dan reconstruction. Dari sini kita juga dapat mengetahui bahwa budaya dan pandangan masyarakat kita belum bisa berubah secara drastis. Pandangan masyarakat tentang perempuan berada di bawah laki-laki benar-benar sudah mengakar sehingga kalau dicabut dengan paksa akan membuat guncangan kebudayaan.

Proses kehidupan manusia dalam perspektif gender, pelan tapi pasti telah melaju ke arah yang lebih baik. Sudah banyak perempuan yang merasa diperlakukan tidak adil sehingga mampu berpikir dan memberontak dengan pikiran-pikiran yang cerdas. Meski kadang-kadang perbuatan yang harus dilakukan cukup radikal, seperti Sumartini yang berani membuang keluarga dan kampung halamannya demi mendapatkan kebebasan sebagai perempuan yang merupakan manusia juga seperti laki-laki.

6. Sumber Data

Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Elson, Diane, dan Ruth Pearson. 1984. “The Subordination of Women and the Internastionalisation of Factory Production.” Of Marriage and the Market: Women’s Subordination Internationally and its Lesson. London:Routledge.

Mantik, Maria Josephine Kumaat. 2006. Gender dalam Sastra: Studi Kasus Drama Mega-Mega. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Rustapa, Anita K., dkk. 1992. Tokoh Wanita dalam Novel Indonesia Tahun 1920—1980-an. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sukanta, Putu Oka. 2006. Keringat Mutiara. Yogyakarta: Ombak.

Read Full Post »

oleh Khairun Nisa

 

 

1. Pengantar

Fakta sejarah bisa berbeda tergantung bagaimana sang saksi mata dipengaruhi sesuatu atau ada kepentingan lain di baliknya. Saat ini, sejarah mengenai kekejaman PKI diragukan, ada yang berspekulasi sejarah PKI yang sudah lama beredar karena ingin memperlihat kesuperioritasan Soeharto. Adanya fakta sejarah yang berbeda dari yang beredar selama ini ternyata juga terjadi pada peristiwa perang Paderi. Basyral Hamidy Harahap dalam bukunya Greget Tuanku Rao menyatakan bahwa kaum Paderi membunuh tanpa pandang bulu, memperkosa perempuan-perempuan, bahkan menjual mereka untuk dijadikan budak atau untuk dibarter dengan mesiu (Harahap, 2007:95).

Greget Tuanku Rao lebih menceritakan pasukan Paderi di tanah Batak dan lagi buku ini sangat kontroversial sehingga kebenarannya masih diragukan. Inilah yang membuat saya tidak bisa menjadikan buku ini sebagai data landasan utama dari novel yang saya analisis. Novel Bidadari Paderi karya Saiful A. Imam menceritakan sebuah kisah dengan latar di daerah Kamang, dekat Bukittinggi. Sama halnya dengan buku karya Dobbin, buku beliau lebih menitikberatkan pada kehidupan ekonomi di tanah Minang. Saya lebih memilih buku Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang karya Rusli Amran sebagai landasan utama analisis makalah ini. Meski bukunya terbit 27 tahun yang lalu, saya rasa buku ini lebih netral melihat gerakan paderi dari berbagai sisi dan ditulis bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Novel Bidadari Paderi berlatar belakang sejarah dengan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya merupakan tokoh fiktif. Meskipun demikian, beberapa tokoh sejarah juga disebut tanpa dilibatkan langsung dengan konflik yang terjadi pada tokoh utama. Berikut kutipan dari novel tersebut.

 

“…. Kita perlu menentukan waktu latihan dan tempatnya. Untuk pelatihnya, Tuanku Imam Bonjol siap mengirim orangnya ke mari. Selain itu, kita sudah menghubungi pula pasukan pasukan Tuanku Nan Renceh di Kamang.”(Imam, 2007:20).

Sastra sejarah menurut Zarah Ibrahim bermula dari kepercayaan mengenai adanya suatu peristiwa tertentu (Ibrahim, 1986: 7). Zarah Ibrahim lebih menitikberatkan pengertiannya untuk sastra sejarah melayu klasik. Sedangkan, jika kita melihat hasil karya sastra sejarah saat ini, kesimpulan sementara, sastra sejarah dibuat berdasarkan dari data sejarah yang sudah ada dan penulis sastra sejarah saat ini umumnya ingin memperlihatkan sebuah latar sejarah untuk memancing pembaca mencari tahu sejarah sebenarnya dari sastra sejarah tersebut.

Jika dalam sastra zaman klasik, karya tersebut dipercaya benar-benar terjadi oleh penulisnya, sekarang ini penulis karya sastra sejarah menyadari bahwa karya mereka memang tidak bisa dijadikan data sejarah karena penulisannya tidak ilmiah dan data yang diambil belum tentu berdasarkan data sejarah yang valid. Untuk itu saya ingin menganalisis sejauh mana pengetahuan penulis mengenai sejarah gerakan paderi berdasarkan data sejarah yang ada. Dengan catatan, saya menyingkirkan isu-isu yang berbau kontroversi dan SARA karena takut ada ketidaknetralan di dalamnya. Makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami novel Bidadari Paderi dengan latar yang didasarkan fakta sejarah.

 

2. Identitas pengarang[*]

Saiful A. Imam bernama lengkap Saiful Ardi Imam Sinaro, Lc, lahir di Matur, Bukittinggi, 20 November 1978 sebagai anak pertama dari empat bersaudara.

Penulis memperoleh pendidikan pada Sekolah Dasar (SD) Tengah Sawah di Bukittinggi (1985—1991), MTsN di Bukittinggi (1991—1994), dan MAN di Koto Baru Padang Panjang (1994—1997).

Pendidikan tingginya dilalui di program I’dad Lughawi (Bahasa Arab) pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta (1999—2000). Penulis juga pernah kuliah di fakultas Psikologi sebuah PTS di Jakarta selama tiga semester (1998—2000, tidak selesai).

Gelar sarjana diperoleh penulis setelah menyelesaikan program S1 di jurusan Fikih Komparatif, Fakultas Syariah Universitas Imam Muhammad Ibu Su’ud (LIPIA) Jakarta (2000—2004).

Pengalaman organisasi penulis peroleh dari mengikuti Basic Training Pelajar Islam Indonesia (PII) Bukittinggi (1996), Latihan Kepemimpinan Himpunan Mahasiswa (HMI) cabang Jakarta (1997), menjadi pengurus departemen Kajian Strategis KASTRAT Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Jakarta II (1998—2000), Ketua Komisariat KAMMI LIPIA Jakarta periode 2000—2001, dan pengurus Departemen Penelitian dan Pengembangan LITBANG Lembaga Kajian Islam LKI Al Fatih LIPIA Jakarta (2001—2002), dan Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Padang Panjang (2007—2008).

Karya penulis antara lain, cerpen “Kembali ke Nagari” (juara LMCPI Annida 2003), 7 Terapi Islami (Penerbit Al Mawardi Prima Jakarta, 2004, dan The Agent of Change Keberanian Memimpin Perubahan (Pena Pundi Aksara Jakarta, 2005).

Penulis yang menikah dengan Yusnizawati S.Ag. dan dikaruniai seorang puteri, Nafisa Imamia, sekarang bermukim di Padang Panjang, Sumatera Barat.

 

3. Sinopsis Novel

Tokoh utama dalam novel ini adalah Jauhari. Ia lahir dan tumbuh dalam masyarakat Minangkabau yang kuat memegang adat pada masa berkembangnya gerakan Paderi dalam rentang waktu 1800—1830an. gerakan paderi yang diceritakan dalam novel ini adalah gerakan yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh di daerah Kamang yang berjarak beberapa kilometer dari Bukittinggi. Cerita ini dimulai dari tahun 1821—1837.

Sebagai anak tunggal yatim piatu, Jauhari selalu membantu nenek dan gaeknya (kakek) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Setiap pagi ia mengumpulkan kayu bakar untuk dijual di pasar dan menggarap lahan sawah dengan keahlian pas-pasan, sebab nenek dan gaeknya melarang ia untuk bekerja di sawah sejak kecil. Orangtua Jauhari dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyukai tindakan ayah Jauhari yang selalu membantu gerakan paderi dengan menyumbangkan sebagian hasil perniagaannya. Setelah dewasa Jauhari menyadari bahwa hanya dengan mencari kayu bakar untuk ditukarkan dengan sedikit bahan makanan tidak dapat menjamin masa depannya. Ia bertekad untuk melanjutkan profesi ayahnya yaitu menjadi saudagar di negeri rantau.

Seorang perempuan bernama Nilam jatuh cinta pada Jauhari. Mereka sesama pengajar pengajian di surau desa mereka. Nilam sendiri adalah keponakan dari Imam Mudo, pemuka agama di desa mereka. Jauhari yang menjadi kepercayaan Imam Mudo tidak disukai oleh Johan dan kelompoknya. Mereka mengira bahwa Jauhari hendak mendapatkan Nilam, sang bungo kambang bapaga duri (bunga kembang berpagar duri), dengan berpura-pura mendekati Imam Mudo. Pada suatu malam, Johan dan kawan-kawannya melancarkan serangan pada Jauhar sambil mengenakan penutup kepala hitam agar tidak dikenali. Mereka terlibat perkelahian yang tak imbang. Jauhar dalam posisi terjepit berusaha membela diri, ia melawan gerombolan penjahat itu, hingga akhirnya salah seorang diantara mereka mengeluarkan pisau untuk membunuh Jauhar. Akan tetapi, yang terjadi sebaliknya, salah satu anak buah Johan terkena tusukan. Kejadian ini membuat Jauhari difitnah dan membuatnya terbuang dari desanya itu.

Lamaran Imam Mudo kepada Jauhari untuk keponakannya itu ditangguhkan karena kasus tersebut. Ternyata di perantauan Jauhari kembali difitnah. Hal ini membuat Imam Mudo menarik lamarannya kepada Jauhari dan Jauhari sempat akan dieksekusi mati. Beruntung fitnah tersebut dapat dibersihkan saat detik-detik terakhir. Tidak lama Jauhari menikah dengan Rafiah, puteri dari Sutan Sinaro, salah seorang pemimpin gerakan Paderi sekaligus penyelamat Jauhari.

Dalam peperangan melawan Belanda, Rafiah beserta ayah dan ibunya meninggal, sedangkan Jauhari hanya terluka parah. Akhirnya, Jauhari menikah dengan Nilam dan mendapatkan dua anak bernama Hasan dan Husein dari pernikahan mereka. Sayang, Hasan meninggal karena akal licik Johan. Nilam yang bernafsu membalas dendam anaknya, meninggal ditembak, begitu pula Jauhari yang ingin menyelamatkan isterinya.

 

4. Gerakan Paderi dalam Novel Bidadari Paderi Karya Saiful A. Imam dan Fakta Sejarahnya

Dalam pelajaran sekolah, gerakan Paderi atau perang Paderi adalah perang kaum paderi yang ingin memurnikan Islam di tanah Sumatera Barat dengan kaum adat yang tetap ingin berpegang pada adat. Perang paderi yang merupakan perang saudara ini berhasil ditunggangi Belanda dengan bergabungnya sebagian kelompok adat kepada bangsa asing tersebut (Matroji, 2000:58—59).

Pengetahuan sejarah tentang perang Paderi yang paling mendasar ini ternyata cocok dengan latar sejarah keseluruhan isi novel yang dikarang Saiful A. Imam. Kaum Paderi digambarkan sebagai kaum yang memerangi Belanda. Namun, ternyata pengarang tidak terperangkap bahwa Kaum Paderi adalah kaum yang baik dan sempurna. Pengarang juga mengakui bahwa perang saudara ini dimulai karena aliran Wahabi yang diusung kaum Paderi, padahal agama Islam sudah diterima sebelumnya oleh orang-orang Minang, tetapi kebanyakan orang adat menyukai sabung ayam dan arak yang jelas dilarang oleh agama mereka.

 

Sutan Pamuncak yang tadi bersandar maju lagi. Ia mengangkat tangan dan bersuara, “Angku Imam Mudo. Saya ingin bicara terus terang. Bagi kami lebih baik tidak ikut daripada dilatih oleh orang Paderi itu. Kami semua sudah tahu kalau kaum Paderi yang telah membuat banyak darah tumpah di Luhak Agam ini sejak dua puluh tahun yang lalu. Bagi kami, menerima ajakan orang Paderi sama saja dengan menjilat ludah. Kami, kaum pendekar dan kaum adat dari dulu sudah menyatakan perang terhadap kaum Paderi pengacau itu…” (Imam, 2007:21).

 

Seperti juga yang diungkapkan oleh Rusli Amran, gerakan paderi ini awalnya memang ingin memurnikan agama Islam dengan turun ke lapangan, sesuai dengan cara modern. Namun, seiring berjalannya waktu gerakan ini berjalan dengan memaksakan kehendak kepada orang-orang yang tidak mematuhi ajaran agama Islam, bahkan ada keharusan seperti berpenampilan kearab-araban, bagi perempuan dan laki-laki. Beberapa pemimpin kaum Paderi juga mulai melakukan tindak sewenang-wenang karena fanatik sempit, bahkan sampai menghilangkan nyawa manusia. (Amran, 1981:388).

Tokoh Jauhari dalam novel ini bertugas merakit senjata untuk berperang melawan Belanda. Senjata bagi kaum Paderi juga didapat dari pemberian dan pembelian dengan pihak luar.

 

Alhamdulillah. Akhirnya, Allah memberi jalan keluar atas kesulitan kita membeli senjata. Dengan dana 20 Rupiah ini, setidaknya kita bisa membeli beberapa senjata berikut amunisinya,” Imam Mudo tampak sangat bersyukur atas bantuan yang diterimanya. “Sambil menunggu pasokan senjata dari Bonjol dan Bukittinggi, rasanya ini lumayan.” (Imam, 2007: 147).

 

Mengenai persenjataan untuk pertempuran melawan pasukan Belanda, kaum paderi memang tidak kalah. Senapan didapat dari buatan atau rakitan sendiri, pembelian dari luar negeri, dan pemberian dari daerah-daerah yang bersimpati dengan perjuangan mereka. Mengenai teknik pertempuran kaum Paderi sebenarnya tidak kalah, hanya saja Belanda lebih lihai melancarkan akal bulusnya dengan mengadu domba orang-orang Sumatera itu sehingga perang saudara masih terus terjadi. (Amran, 1981:391).

Pada tahun 1822, perang dengan pihak Belanda kembali berkobar. Kali ini perlawanan kaum Paderi sampai pada puncaknya. Tokoh Jauhari ikut ambil bagian dalam perang besar ini demi melindungi daerah Kamang. Pada bagian ini ternyata pengarang memasukkan dua tokoh nyata ke dalam karya fiksinya. Mereka adalah Tuanku Nan Renceh dan Kolonel Raff. Latar tempat dan waktu ini memang sangat berkaitan dengan dua orang penting ini karena mereka adalah dua tokoh penting dalam fakta sejarah di Kamang tahun 1822.

 

“Angku-Angku semua. Perhatikanlah peta ini. Ini adalah wilayah kaki Gunung Merapi,” Tuanku Nan Renceh, Panglima Besar Paderi di Kamang membuka sebuah peta di atas meja. Tujuh orang Wakil Panglima mengitari laki-laki bertubuh kecil dengan sorot yang menyala-nyala itu. (Imam, 2007: 323).

 

Kolonel Raff duduk di atas kudanya dan memandang ke depan sambil tersenyum penuh kemenangan. Mengintip dari teropong di tangannya, pimpinan pasukan Belanda itu tampak girang. (Imam, 2007: 343).

 

Daerah Kampang adalah daerah terakhir yang didatangi Raff pada tahun 1822. Daerah inilah yang menjadi sisa pertempuran kaum Paderi karena setelah tahun 1822 kekuatan kaum Paderi menurun (Amran, 1981:411—415). Tuanku Nan Renceh, pemimpin kaum Paderi daerah kampang, yang terluka parah juga tidak lama bisa hidup. Meski begitu perlawanan kaum Paderi masih terus dilakukan, saat melawan Van den Bosch mereka bisa memenangkan pertempuran.

Bagian terakhir novel ini menceritakan sedikit mengenai ditangkapnya Tuanku Imam Bonjol dan berakhirlah perang antara kaum Paderi dengan Belanda.

 

“Ya. Gara-gara dia berkhianat, Belanda bisa masuk ke Matur dan menyerang Bonjol. Sekarang, Tuanku Imam Bonjol sudah tertangkap. Kabarnya dia dibuang ke Jawa.”

“Berarti, orang Paderi sudah kalah Gaek?” tanya Husain. “Berarti, ayah dan umi meninggal sia-sia?” (Imam, 2007: 390).

 

 

Hampir semua latar waktu dan tempat dapat dibuktikan kebenaran sejarahnya. Bukti bahwa pengarang tidak main-main menulis novelnya. Hanya saja ada satu bagian yang kontradiksi dengan dengan ketiga sumber bacaan sejarah yang saya pegang. Dalam novel itu digambarkan ketidaksetujuan Rafiah mengenai ibunya yang memasak singgang ayam untuk keluarga di tempat lain. Hal ini tidak ada dalam sunnah Nabi sehingga Rafiah menganggapnya Bid’ah. Ternyata Sutan Sinaro, tokoh penting kaum Paderi di Kamang, menjawab kalau hal itu bukanlah bid’ah dan merujuknya dengan kesamaan memberi hadiah yang merupakan sunnah Nabi. (Imam, 2007:304—305).

Dari ketiga sumber sejarah yang saya pegang, jelas-jelas dikatakan bahwa kaum Paderi adalah kaum yang menganut paham Wahabi yang ketat menjaga kemurnian Islam dan kadang-kadang cukup kelewatan. Bisa dikatakan mereka seperti pemerintahan Taliban di Afghanistan. Namun, jawaban Sutan Sinaro kepada anaknya itu bertolak belakang dengan fakta sejarah. Ada kemungkinan pengarang ingin mengatakan bahwa adat ada yang bisa terus dipertahankan, tapi masih sejalan dengan agama. Hal ini sah-sah saja jika mengingat bahwa novel ini termasuk sastra sejarah.

 

5. Kesimpulan

Sastra sejarah sekarang ini ditulis dengan diawali dari data dan fakta sejarah dan pengetahuan penulis dengan fakta sejarah sesungguhnya. Ada juga motif keinginan pengarang agar pembaca tergerak mencari rujukan mengenai fakta sejarah yang disuguhkan dalam karya sastra sejarah.

Novel Bidadari Paderi adalah novel romantisme Islami dengan latar sejarah dan sedikit unsur budaya. Pengarang dengan lihai memaparkan sejarah dan latar Minang sehingga pembaca dapat merasakan juga bagaimana hidup di tanah Minang pada masa gerakan Paderi. Hal ini membuat pembaca tidak jemu saat membaca beberapa paragraf mengenai latar sejarah. Tidak ada kesan bahwa novel ini merupakan dokumentasi sejarah maupun menggurui.

 

6. Bibliografi

Amran, Rusli. 1981. Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.

 

Dobbin, Christine. 2008. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri. Depok: Komunitas Bambu.

 

Harahap, Basyral Hamidy. 2007. Greget Tuanku Rao. Depok: Komunitas Bambu.

 

Ibrahim, Zahrah. 1986. Sastra Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajar Malaysia.

 

Iman, Saiful Ardi. 2007. Bidadari Paderi. Jakarta: Republika.

 

Matroji. 2000. IPS Sejarah Untuk SLTP Kelas 2. Jakarta: Erlangga.

 

 

 


[*] Diambil dari bagian “Tentang Penulis” novel Bidadari Paderi hlm. 391—392

Read Full Post »

Older Posts »