Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Ucapan’ Category

Perempuan Punya Cerita

 Oleh Erin Nuzulia Istiqamah

Perempuan Punya Cerita adalah antologi empat film pendek dengan gaya dan cerita beragam. Keempat film yang masing-masing berdurasi 25 menit berkisah tentang permasalahan yang menyelimuti kehidupan dan keseharian perempuan Indonesia. Film produksi PT Kalyana Shira Films ini melibatkan empat sutradara perempuan, dua penulis skenario perempuan, dan dua produser perempuan. Pada kelas Gender dalam Sastra, Rabu 12 Desember 2012 lalu, kami berkesempatan menonton film tersebut. Film dibuka oleh Cerita Pulau yang ditulis oleh Vivian Idris dan disutradarai oleh Fatimah T. Film kedua adalah Cerita Yogyakarta yang juga ditulis Vivian Idris dan disutradarai Upi. (lebih…)

Read Full Post »

Maria Christa (0806466292)

 

Jenis-jenis kalimat dapat ditandai oleh beberapa hal seperti jumlah klausa, kategori predikatnya, amanat wacana, ada atau tidaknya objek, dan susunan subjek dan predikatnya. Pada tugas ini, kami akan membandingkan teks Hikayat Sri Rama dan Helm Gaya Bukan Yang Utama melalui kategori predikatnya dan susunan subjek dan predikat kalimat-kalimat pada kedua teks tersebut. Data diambil dari 5 kalimat di bagian awal, 5 kalimat di bagian tengah, dan 5 kalimat di bagian akhir. Berikut ini adalah data yang diperoleh. (lebih…)

Read Full Post »

Terima kasih atas perhatian pembaca sampai saat ini. Mohon maaf jika sudah lama kami tidak bernyanyi di blog ini.

Kini kami kembali, demi melantunkan nyanyian bahasa lagi.

Ngomong-ngomong, selamat Idul Fitri 1433 H

 

Admin

Wahyu Awaludin dan Melody Violine

Read Full Post »

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 59.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 22 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Read Full Post »

Persyaratan

A.    Persyaratan Umum
1.      Peserta Sayembara adalah Mahasiswa S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (baik Program Studi Pendidikan atau Non-Pendidikan) di seluruh wilayah Indonesia.
2.      Karya harus asli, belum pernah dipublikasikan, dan belum pernah diikutsertakan dalam sayembara apa pun (jika diketahui karya merupakan karya jiplakan, proses hukum akan diberlakukan).
3.      Karya ditulis dalam bahasa Indonesia berbentuk naskah diketik rapih 1,5 spasi di atas  kertas A4 dengan huruf Time New Roman 12 dan rata tepi kertas 3-3-3-3 (tidak bolak-balik).
4.      Karya dikirim kepada panitia ke alamat pos-el/e-mail berikut: psdmimabsii@gmail.com. Karya paling lambat sudah diterima oleh panitia pada tanggal 24 April 2011.
5.      Peserta harus melampirkan biodata, bukti/pernyataan sebagai mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia (Pendidikan atau non-pendidikan), alamat lengkap, dan nomor telepon/HP agar mudah dihubungi melalui pos atau telepon.
6.      Apabila di kemudian hari pemenang diketahui melakukan kekeliruan, manipulasi, dan/atau kecurangan dalam data, predikat kepemenangan serta hadiah akan dibatalkan.
7.      Cerita yang masuk akan menjadi milik IMABSII.
8.      Antologi ketujuh karya ini tanpa biaya pendaftaran.
B.     Persyaratan Khusus
1.      Makalah Simposium
a.       Tema makalah adalah “Melacak Perkembangan Bahasa-bahasa Serumpun”.
b.      Jumlah halaman isi minimal 10 lembar.
c.       Mencantumkan refrensi secara lengkap.
d.      Peserta hanya boleh mengirimkan satu makalah kepada Panitia Semarak Tujuh Tahun IMABSII.
e.       Pemenang sayembara harus bersedia mempersentasikan makalahnya pada Simposium Internasional Mahasiswa.
2.      Esai Sastra
a.       Tema esai bebas tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
b.      Panjang karangan maksimal 5 halaman.
c.       Peserta hanya boleh mengirimkan satu judul naskah esai kepada Panitia Semarak Tujuh Tahun IMABSII.
3.      Naskah Drama
a.       Tema sayembara penulisan naskah drama ini bebas, tidak mengandung pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
b.      Naskah drama yang diikutkan sayembara ini harus asli (bukan saduran, terjemahan, dan jiplakan).
c.       Jika dipentaskan drama ini berdurasi kurang lebih 30 menit.
d.      Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu judul naskah drama yang terdiri atas 10—30 halaman.
4.      Cerita Pendek
a.       Tema cerpen bebas, tidak mengarah pada pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
b.      Cerpen harus asli (bukan saduran atau terjemahan)
c.       Panjang karangan minimal 5 halaman.
5.      Biografi Tokoh Bahasa, Sastra, atau Budaya Lokal
a.       Tokoh yang diangkat masih hidup.
b.      Tokoh pantas menjadi panutan atau dapat memotivasi karena kesungguhannya dalam bidang yang digeluti.
c.       Tokoh belum begitu dikenal dikalangan nasional.
d.      Panjang karangan maksimal 5 halaman.
6.      Cerita Rakyat
a.       Cerita bersumber dari cerita rakyat yang masih dilisankan dan belum pernah dipublikasikan.
b.      Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim satu cerita.
c.       Panjang cerita sekitar 8—15 halaman.
7.      Puisi
a.       Tema Sayembara Cipta Puisi ini tidak ditentukan oleh panitia, tidak mengandung pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
b.      Naskah puisi ini harus asli (bukan saduran, terjemahan, jiplakan).
c.       Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu karya.
*Informasi lebih lanjut mengenai Sayembara dapat menghubungi
Adi/Universitas Negeri Jakarta (08568167600)
Dissa/Universitas Diponegoro (085696103430)

Read Full Post »

Sejak zaman dahulu, sastra diyakini mempunyai hubungan tertentu dengan masyarakat. Hal ini karena sastra adalah semacam lembaga sosial yang memakai medium bahasa. De Bonald mengatakan bahwa “sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat”.

Hakikat hubungan antara sastra dengan masyarakat bisa dibagi menjadi tiga poin. Pertama adalah sosiologi pengarang. Termasuk di sini adalah latar belakang pengarang, status sosial pengarang, dan ideologi pengarang. Kedua adalah isi karya sastra tersebut, terutama yang berkaitan dengan hal-hal sosial. Ketiga adalah dampak karya sastra tersebut terhadap pembaca dan masyarakat secara umum.

Sejauh manakah latar belakang pengarang menyumbang hubungan antara sastra dan masyarakat? Statistik menunjukkan bahwa pengarang-pengarang Eropa berasal dari kelas menengah. Namun, ternyata pengarang-pengarang komunis seperti di Rusia tidak hanya berasal dari kelas menengah. Akhirnya, penulis berkesimpulan bahwa latar belakang pengarang hanya mempunyai andil kecil dalam menjawab hubungan antara sastra dan masyarakat.

Apakah sebuah buku benar-benar mempunyai hubungan dengan masyarakat? Apakah Uncle Tom’s Cabin benar-benar penyebab perang saudara di Amerika? Kohn-Bramstedt mengatakan bahwa hanya  orang yang mempunyai pengetahuan mendalam di luar sastra lah yang dapat merumuskan hubungan antara sastra dan masyarakat. Namun, jika ingin mencari buktinya, memang ada karya sastra yang mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya itu ditulis. Misalnya, pada zaman awal kebudayaan, kita menganggap bahwa lintah darat itu buruk. Citra buruk ini turun ke dalam karya Moliere yang berjudul L’avare, Shakespeare, ataupun Shylock. Memang jika diteliti lebih jauh, kita bisa mendapati ciri-ciri sosial pada zaman itu pada karya-karya sastra yang ada, misalnya alegori-alegori yang aneh atau gambaran kehidupan gembala dan alam pedesaan.

Tentang pengaruh karya sastra terhadap masyarakat, penulis sendiri belum bisa mengambil kesimpulan yang pasti. Hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan para sastrawan itu sendiri. Max Scheler, Max Weber, dan Karl Mannheim mengupas sosiologi pengetahuan. Namun, teori ini mempunyai kelemahan karena masih melihat dari satu sisi saja. Misalnya, Weber hanya membicarakan faktor agama saja. Bisa jadi hubungan sastra dan masyarakat itu terjadi lewat faktor yang lain (agama hanya salah satu saja). Kita baru bisa menjawab dengan pasti apakah sebuah karya sastra berpengaruh terhadap masyarakat kalau faktor penentu sosial dan bentuk-bentuk sastra sudah diketemukan.

Read Full Post »

Senja di Citayam

perjalanan semakin terasa jauh

saat tubuh kian rapuh

apa sebaiknya menunggu?

tidak, tidak,

menunggu adalah pekerjaan paling tolol

yang sering kulakukan

aku tak ingin menunggu

biar saja orang-orang menunggu

aku ingin berlari

dan terus berlari

sampai nanti

sampai mati

tapi aku tak mau menunggu

sebab menunggu

adalah jemu

adalah kelu

Asep Sambodja

Citayam, 5 Juni 2009

Puisi di atas dikutip dari buku kumpulan puisi Asep Sambodja yang ini

Read Full Post »

Older Posts »