Feeds:
Pos
Komentar

Oleh Erin Nuzulia Istiqamah (Universitas Indonesia)

 

Morfologi menyediakan kemungkinan lebih luas dalam hal pengklasifikasian bahasa dibanding dengan bidang fonologi. Para ahli sudah menggunakan dan mengembangkan klasifikasi tipologi morfologis ini sejak abad ke XIX dan XX namun hasilnya kurang populer. Pada abad ke XX, klasifikasi dilanjutkan dengan pendekatan lain, bukan hanya unsur kualitatif tetapi juga kuantitatif bahasa. Edward Sapir dan Joseph Greenbeg termasuk dalam tokoh-tokoh yang memasukkan unsur kualitatif bersama tokoh-tokoh lainnya.

Tipologi von Schlegel mempergunakan morfem dasar atau stem, dan morfem terikat sebagai landasan klasifikasinya. Friedich von Schlegel pada 1808 membagi bahasa-bahasa di dunia menjadi bahasa berafiks dan bahasa berfleksi. Sedangkan August W.Von Schlegel pada 1818 mengklasifikasikan bahasa menjadi tiga kelas bahasa, yaitu bahasa tanpa struktur gramatikal, bahasa yang menggunakan afiks, bahasa yang berfleksi. Berbeda dengan klasifikasi August W.Von Schlegel, Wilhem von Humboldt (1836-1840) dengan menandaskan bahwa bentuk-bentuk gramatikal bahasa memiliki pengaruh terhadap perkembangan ide seseorang, ia membagi menjadi empat kelas bahasa, yaitu bahasa isolatif, aglutinatif, sleksi, dan inkorporatif.

Setelah Wilhem von Humboldt mengajukan pembagian empat kelas bahasa, Franz Bopp menolak hal tersebut dan ia kembali menerima pembagian atas tiga kelas bahasa (1833). Ia tidak berbicara mengenai stem, ttetapi berbicara mengenai akar kata yang dibaginya menjadi bahasa dengan akar yang monosilabis (tidak berkemampuan untuk berkomposisi), bahasa dengan akar kata yang mampu berkomposisi, dan bahasa dengan akar disilabis (ditandai dengan tiga konsonan dalam pembentukkan katanya).

Pada tahun 1848, pembagian yang diuraikan oleh von Humboldt diperkuat oleh August Friedrich Pott, dan membaginya menjadi bahasa-bahasa isolatif (Cina dan Indo-Cina), bahas-bahasa aglutinatif (Tartar, Turki, dan Finn), bahasa-bahasa fleksional (Indo-Eropa), dan bahasa-bahasa inkorporatif (Amerindian).


[1] Linguistik Bandingan Tipologis, halaman 53—76

 

                                                            Erin Nuzulia Istiqomah

                                                            1006699215

                                                            Penyuntingan

                                                            Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

                                                            Universitas Indonesia

 

Di Indonesia, perkembangan bahasa terjadi dengan cukup cepat, mengingat Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah serta bahasa persatuan yang kesemuanya mengalami berbagai dinamika kebahasaan. Masing-masing bahasa tersebut memiliki strategi dalam menghadapi terjangan bahasa asing maupun bentuk perkembangan bahasa lainnya. Hal ini dilakukan dalam upaya mempertahankan eksistensi bahasa tersebut atau upaya menghindari kepunahan bahasa yang saat ini marak terjadi.

Masyarakat bahasa, terutama yang berada di masyarakat perkotaan akan semakin mudah menerima berbagai unsur yang masuk dalam mempengaruhi perkembangan bahasa. Masyarakat bahasa yang berada di perkotaan merupakan sekumpulan masyarakat yang berasal dari berbagai etnis suku bangsa, latar belakang sosial, serta mata pencaharian yang berbeda. Pada masyarakat bahasa, terdapat sikap bahasa yang dimiliki oleh masyarakat bahasa dalam menyikapi kebahasaan mereka. Sikap bahasa ini juga sewajarnya dimiliki oleh masyarakat kota yang juga merupakan masyarakat bahasa dalam kehidupan berbahasa.

Sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenal bahasa, mengenai objek bahasa, yang memberikan kecendrungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya (Anderson, dalam Chaer, 1995:151). Sikap bahasa itu bisa positif jika dinilai disukai atau bisa negatif jika tidak disukai. Sikap bahasa inilah yang digunakan masyarakat dalam menyikapi berbagai fenomena kebahasaan yang dewasa ini begitu banyak terjadi di masyarakat Indonesia.

Fenomena kebahasaan yang kini begitu booming terjadi adalah maraknya penggunaan kata-kata gaul oleh remaja Indonesia, khususnya remaja perkotaan di kehidupan sehari-harinya. Adapun penggunaan bahasa gaul yang saat ini marak digunakan oleh remaja, baik yang masih duduk di bangku sekolah atau bahkan yang tidak mengenyam pendidikan adalah bahasa-bahasa gaul yang sejatinya diperkenalkan oleh media massa elektronik seperti iklan di televisi, sinetron khusus remaja, atau bahkan bahasa yang digunakan oleh selebritis di infotainment.

Menurut Sahertian (1990), bahasa gaul sendiri sudah terkenal di Indonesia pada akhir 1980-an. Awalnya istilah dalam bahasa gaul itu adalah untuk merahasiakan isi obrolan atau pembicaraan dalam komunitas tertentu, namun karena sering juga digunakan di luar komunitas mereka, lama-lama istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari. Bahasa gaul awalnya digunakan oleh para preman yang kehidupanya dekat dengan kekerasan, narkoba, dan minuman keras. Istilah-istilah baru, mereka ciptakan agar orang- orang di luar komunitas mereka tidak mengerti. Penggunaan bahasa gaul mulai ramai digunakan setelah Debby Sahertian menerbitkan kamus yang berjudul Kamus Bahasa Gaul.

Kosakata bahasa gaul di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Bahasa gaul berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasa gaul, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain.

Kata-kata yang merujuk pada bahasa gaul yang booming pada saat ini seperti ciyus ‘serius’, miapah ‘demi apa’, dan enelan ‘beneran’. Sepintas, kata-kata seperti itu terkesan lumrah terdengar sehari-hari. Penggunaannya marak digunakan oleh berbagai kalangan khususnya para remaja. Banyak yang menganggap jika penggunaan kata-kata tersebut dianggap wajar dan lucu atau bahkan mencirikan identitas dari sekelompok masyarakat bahasa tertentu.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah identitas.  Identitas terbagi menjadi dua, yaitu identitas personal dan identitas sosial. Identitas personal menurut William James, dalam Walgito (2003:97) merupakan skema yang berisi kumpulan keyakinan dan perasaan mengenai diri sendiri yang terorganisasi. Konsep ini merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dan kemudian akan mempengaruhi perilakunya sehari-hari.  Pembentukan identitas personal dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain.  Identitas sosial adalah pribadi yang terlibat dalam interaksi sosial (James, dalam Walgito, 2003:98).  Dalam hal ini, seseorang tidak dilihat sebagai satu individu, tetapi merupakan bagian dari suatu kelompok sosial tertentu atau disebut juga depersonalisasi.  Identitas seseorang, baik personal maupun sosial, akan sangat mempengaruhi penggunaan bahasanya.

Maraknya penggunaan kata-kata gaul tersebut dalam kehidupan remaja dianggap mencirikan sebuah kelompok tertentu yang bangga akan eksistensi identitas kelompok tersebut. Identitas sosial yang terkandung dalam penggunaan kata-kata gaul tersebut sangat mempengaruhi penggunaan bahasa dari seorang individu, terutama remaja,  sehingga penggunaan kata-kata gaul tersebut kian eksis dalam jangka waktu tertentu. Adapun penilaian ini didasarkan pada sikap masyarakat bahasa khususnya masyarakat kota yang memiliki sikap bahasa negatif atas kata-kata yang mereka gunakan.

Penggunaan kata-kata tersebut pada masa kini tak lagi diucapkan pada kelompok tutur sebaya, namun terkadang remaja saat ini dengan tidak sadar ataupun tidak sengaja melakukan tindak tutur dengan menggunakan bahasa tersebut kepada orang yang lebih tua. Unsur-unsur atau pihak-pihak yang terlibat dalam tindak tutur itu sama sekali tidak dihiraukan dalam tindak bahasanya. Hal ini amat mengkhawatirkan. Hanya dari kesalahan penggunaan bahasa, bisa menimbulkan banyak kesalahan persepsi yang menyebabkan berbagai gesekan yang timbul dalam masyarakat. Hal inilah yang menimbulkan masyarakat bahasa cenderung bersikap negatif atas penggunaan kata-kata gaul tersebut.

Tidak hanya itu, penggunaan kata-kata tersebut cukup mengkhawatirkan bagi masyarakat Indonesia. Mengingat pengaplikasian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan belum terkondisikan dengan cukup baik. Penggunaan bahasa Indonesia masih harus diperhatikan lebih lanjut karena posisinya yang juga bersaing dengan penggunaan bahasa daerah maupun bahasa asing yang masuk di wilayah Indonesia.

Kata-kata gaul yang digunakan oleh para remaja dianggap mampu mengganggu stabilitas penggunaan bahasa Indonesia. Remaja yang merupakan agen pembawa keberlangsungan bahasa Indonesia harus berjuang lebih keras dalam upaya mempertahankan bahasa persatuannya dari berbagai pengaruh yang cenderung negatif tersebut. Oleh karena itu, remaja Indonesia diharapkan mampu memberikan usaha terbaiknya dalam mempertahankan keberlangsungan bahasa Indonesia yang baik, tanpa menghilangkan identitas  kebahasaan sehingga remaja Indonesia tidak mudah terpapar oleh pengaruh-pengaruh negatif dalam hal kebahasaan tersebut.

Bahasa dan Identitas

Oleh Erin Nuzulia Istiqomah / 1006699215

Qori Syahriana Akbari / 1006764593

Sosiolinguistik—9 Maret 2012

 

            Pengkajian bahasa dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu secara internal dan eksternal. Sosiolinguistik termasuk pada kajian bahasa secara eksternal karena bidang ini membutuhkan disiplin ilmu lain, yakni sosiologi,  untuk membantu melihat faktor-faktor di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa oleh penuturnya.  Sosiolinguistik mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat pemakainya.  Holmes (1992) mengatakan bahwa sosiolinguistik berusaha menjelaskan mengapa kita memakai bahasa yang berbeda pada konteks sosial yang berbeda dan mengidentifikasi fungsi sosial dari bahasa serta cara yang digunakan untuk menyampaikan pesan sosial. Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunaan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Yuwono, 2009:3).

Salah satu faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah identitas.  Identitas terbagi menjadi dua, yaitu identitas personal dan identitas sosial. Identitas personal menurut William James, dalam Walgito (2003:97) merupakan skema yang berisi kumpulan keyakinan dan perasaan mengenai diri sendiri yang terorganisasi. Konsep ini merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dan kemudian akan mempengaruhi perilakunya sehari-hari.  Pembentukan identitas personal dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain.  Identitas sosial adalah pribadi yang terlibat dalam interaksi sosial (James, dalam Walgito, 2003:98).  Dalam hal ini, seseorang tidak dilihat sebagai satu individu, tetapi merupakan bagaian dari suatu kelompok sosial tertentu atau disebut juga depersonalisasi.  Identitas seseorang, baik personal maupun sosial, akan sangat mempengaruhi penggunaan bahasanya.

Konsep bahasa dan identitas ini berkaitan erat dengan sikap bahasa.  Sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagaian mengenai bahasa, mengenai objek bahasa, yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya (Anderson, dalam Chaer, 1995:151).  Adapun ciri-ciri sikap bahasa menurut Garvin dan Mathiot, dalam Chaer (1995) ada tiga, yaitu kesetiaan bahasa yang mempengaruhi seseorang untuk mempertahankan bahasanya, kebanggaan bahasa yang mendorong seseorang untuk mengembangkan bahasanya, dan kesadaran adanya norma bahasa yang mendorong orang untuk menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun.

Sikap bahasa inilah yang digunakan sebagai kacamata untuk melihat hubungan antara pemakaian bahasa dan identitas.  Penyebab utama adanya perbedaan bahasa adalah kesadaran manusia untuk mempertahankan identitasnya (Chambers, 2003:274). Penialian identitas dalam penggunaan bahasa dapat dilihat dari dua arah, yaitu penilaian terhadap diri sendiri dan penialain terhadap orang lain.  Penilaian identitas yang dilakukan terhadap diri erat kaitannya dengan identitas personal. Bedanya, penilaian ini tidak hanya berlaku pada satu individu, tetapi bisa juga pada satu kelompok tertentu. Seseorang atau kelompok akan mempertahankan eksistensinya agar bisa dibedakan dengan individu atau kelompok yang lainnya. Salah satu cara untuk mempertahankan eksistensi tersebut adalah dengan menggunakan bahasa. Sebagai contoh, seorang anak remaja akan membedakan bahasa yang digunakannya dengan bahasa yang digunakan orang dewasa. Motif mereka melakukan itu bukan semata-mata agar memperoleh superioritas moral atau intelektual, melainkan untuk melepaskan dirinya dari ketidakmandirian mereka di bawah peran orang dewasa (Chambers, 2003:275).  Bahasa merupakan alat yang paling tepat untuk mengidentifikasikan diri dari orang lain. Contoh lainnya adalah sikap kaum intelektual Indonesia pada tahun 1950-an yang menganggap negatif bahasa Indonesia (Chaer, 1995:151).  Pada masa itu, bahasa Belanda dianggap sebagai bahasa yang lebih baik oleh kaum intelektual karena mereka pernah menuntut ilmu di sana.  Mereka menganggap pemakai bahasa Indonesia adalah orang-orang yang tidak terpelajar.

Selain itu, ada pula penilaian identitas yang dilakukan orang lain terhadap satu individu atau kelompok lainnya.  Dari cara seseorang berbahasa, orang lain akan dapat menilai siapa identitas orang tersebut, baik dari segi usia, jenis kelamin, kelas sosial ekonomi, etnik, maupun kepribadiannya. Berikut adalah cuplikan kalimat dari dua orang yang berbeda:

  1. 1.      I don’t know, it’s jus’ stuff that really annoys me. And I jus’ like stare at him and jus’ go … like, “huh”. (YRK98/S014c)

  2. 2.      It was sort of just grass steps down and where I dare say it had been flower beds and goodness-know-what… (YRK/v)

(Taglimonte, 2006:7)

 

Kutipan pertama Taglimonte bertaruh bahwa itu adalah ucapan dari seorang remaja perempuan berusia 18 tahun, sedangkan kutipan yang kedua diucapkan oleh seorang wanita berusia 79 tahun.  Penilaian ini sangat bergantung pada budaya dan kebiasaan masyarakat bahasa setempat.  Usia penutur dan bahasa yang digunakan dapat dibedakan dari nada, kosa kata, pelafalan, dan struktur tata bahasanya (Holmes, 1992:183).

Orang lain juga dapat menilai bahasa yang digunakan berdasarkan jenis kelamin dan kelas sosial.  Di dalam masyarakat barat, perbedaan penggunaan bahasa  pada laki-laki dan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perbedaan kelas sosial mereka berasal (Holmes, 1993:168). Berikut ini merupakan hasil survey yang dilakukan oleh Sydney Community tentang pelafalan glottal pada perempuan dan laki-laki yang berasal dari kelas menengah dan kelas pekerja di masyarakat Tyneside.

 Untitled

Gambar 1: Glotalisasi huruf [p] yang dilafalkan oleh perempuan dan laki-laki di Tyneside dari dua kelas sosial yang berbeda (Fasold, 1990:101).

 

Bunyi glottal yang diucapkan untuk huruf [p], [t], [k] pada masyarakat penutur bahasa tersebut merupakan ciri bahasa vernacular Tyneside yang cenderung banyak digunakan oleh kelompok masyarakat pekerja (Holmes, 1992:180).

Bahasa juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasikan kepribadian seseorang.  Menurut Litauer, ada empat kepribadian, yaitu sanguinis, plegmatis, koleris, dan melakonkonis.  Misalnya saja ketika memilih tempat untuk makan malam (ini merupakan hasil observasi dari pengalaman pribadi penulis melihat bahasa yang digunakan oleh berbagai macam kepribadian dari teman-teman penulis), kalimat yang diucapkan oleh masing-masing orang yang memiliki kepribadian tersebut berbeda-beda, orang berkepribadian sanguinis cenderung akan mengatakan, “Menurutku….” Salah satu ciri orang berkepribadian sanguinis adalah ingin terlihat menonjol sehingga dari kalimatnya pun sudah sangat terasa keakuannya.  Berbeda dengan orang plegmatis yang tidak ingin menyakiti orang lain, mereka lebih sering mengatakan, “Terserah, gimana baiknya aja…”  Orang koleris lain lagi, mereka adalah orang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat unggul, untuk tidak menyebutnya otoriter, sehingga biasanya akan mengatakan, “Kita ke sana aja!”

Sikap bahasa juga akan berpengaruh pada identitas seseorang dalam pergaulan sehari-hari.  Ada orang yang tetap mempertahankan identitas personalnya ketika bergaul.  Ia akan membawa identitasnya tersebut ke kelompok sosial mana pun yang ia masuki.  Orang-orang seperti ini memiliki motif untuk mempertahankan eksistensinya di tengah pergaulan.  Hal ini bisa pula terjadi karena orang tersebut merasa bisa diterima oleh kelompok mana pun tanpa mengubah identitasnya sehingga ia tidak memiliki alasan yang kuat untuk mengubahnya atau bisa juga karena faktor kebiasaan.  Di sisi lain, ada orang yang ingin melebur pada suatu kelompok sosial tertentu dalam pergaulan sehingga ia menyamakan dirinya dengan kelompok tersebut agar bisa diterima.  Contoh fenomena ini adalah penggunaan kata sapaan di kalangan mahasiswa di Jakarta.  Ada orang-orang yang tetap menggunakan kata sapaan “aku”, “kamu”, terlepas ia berasal dari daerah atau tidak, di tengah-tengah pergaulan yang akrab dengan kata sapaan “gue”, “lo”.  Berlawanan dengan itu, ada mahasiswa yang tadinya tidak biasa menggunakan kata “gue”, “lo”—biasanya mahasiswa daerah—mengganti kata sapaan yang mereka gunakan agar terasa lebih akrab dalam pergaulan dan bisa diterima oleh kalangan mayoritas yang menggunakan kata sapaan tersebut.

Trask (1999) memberikan contoh penggunaan bahasa pergaulan seorang tukang ledeng di London.  Ia dan teman-teman sesame tukang ledeng, biasanya menggunakan bahasa Inggris ‘Cockney’—bahasa yang digunakan oleh kalangan pekerjadi daerah terebut. Apa yang kemudian terjadi jika tukang ledeng itu merasa tidak puas akan bahasa yang digunakannya dan ia ingin mengubah bahasanya dengan menggunakan bahasa Inggris yang digunakan oleh masyarakat menengah yang dinilai lebih baik. Dalam beberapa detik, teman-teman dan keluarganya akan mnyadari usaha tukang ledeng tersebut untuk mengubah bahasanya dan mereka akan merasa terganggu akan hal tersebut.  Mengapa demikian? Karena tukang ledeng itu sudah tinggal bersama keluarga dan teman-temannya dalam waktu yang lama sehingga mereka sudah mengidentifikasikan diri sebagai satu kelompok yang sama yang menggunakan bahasa yang sama.  Namun, jika tukang ledeng itu mengubah caranya berbahasa, ia sudah mendeklarasikan dirinya keluar dari kelompok masyaraat bahasa tersebut.

Kesadaran identitas yang mengakibatkan perbedaan penggunaan bahasa ini memberikan dinamika dan warna pada masyarakat bahasa sehingga individu atau kelompok yang satu dapat dibedakan dengan individu atau kelompok yang lain.  Perbedaan ini ada yang bersifat vertikal dan horizontal. Perbedaan yang bersifat vertikal, yaitu membentuk strata dari atas ke bawah, biasanya terjadi karena ada motif memurnikan kelompok dari kelompok lain. Sebagai contoh, dalam stata Hindu, kaum Brahmana sangat mengeksklusifkan kelompok mereka agar kebanggaan dan kehormatan kaumnya tetap terjaga dan tidak tercampur dengan kelompok lain di luar kaumnya.  Kaum Brahmana memahami dengan baik naskah Devanagari dibandingkan dengan kaum non-Brahmana.  Naskah tersebut mereka dapatkan bukan dari literatur Marathi (bahasa yang digunakan di India), melainkan dari kitab suci berbahasa Sansekerta yang hanya bisa dibaca oleh kaum Brahaman.  Tentu hal ini akan mengakibatkan perbedaan penggunaan bahasa antara Brahmana dan non-Brahmana (Strauss, 1979:371). Chamber (2003) mengatakan bahwa perbedaan seperti ini akan terus bertahan karena didorong oleh masyarakat kelas atas yang melabel diri mereka sebagai penempat posisi teratas dalam suatu hierarki sosial.  Padahal di sisi lain, ada kelompok yang ingin berusaha masuk ke dalam kelas atas tersebut, seperti halnya kaum non-Brahmana yang berusaha ingin menjadi sama seperti Brahmana yang memiliki berbagai keistimewaan.  Faktor lain yang dapat menyebabkan perbedaan secara vertikal adalah faktor ekonomi.

Perbedaan dari penggunaan bahasa akibat identitas dalam masyarakat juga bisa terjadi secara horizontal.  Tidak ada hierarki yang terbentuk, hanya sekadar membedakan satu kelompok dengan kelompok yang lain secara sejajar, tidak ada satu lebih tinggi di anatara yang lain.  Perbedaan horizontal ini terjadi karena faktor usia, jenis kelamin, etnik, kepribadian, dan lain-lain.

Beberapa contoh penelitian yang sudah dilakukan berkaitan dengan penggunaan bahasa dan identitas adalah sebagai berikut:

  1. “Fenomena Bahasa Gaul sebagai Bahasa Komunitas pada Kalangan Gay di Kota Bandung”, penelitian ini dilakukan pada tahun 2007 oleh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia.  Dalam penelitiannya, mereka menelusuri bahasa verbal yang digunakan oleh kalangan gay sebagai komunikasi untuk mengidentifikasikan kelompok mereka.
  2. “Bahasa Using: Sebuah Eksistensi Bahasa di Ujung Timur Pulau Jawa”. Penelitian ini memperlihatan memperlihatkan bagaimana eksistensi dan perubahan yang terjadi dalam Bahasa Using terkait dengan hubungannnya dengan Bahasa Jawa dan Bahasa Bali melalui pendekatan teori sosiolinguistik. Bahasa Using adalah suatu bahasa yang penutur aslinya terdapat di bagian tengah kebupaten Banyuwangi Jawa Timur yang tidak hanya bertahan dari pengaruh bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tetapi juga dari bahasa Jawa Mataraman yang biasa digunakan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahasa ini memiliki keunikannya sendiri jika dibandingkan dengan bahasa Jawa atau bahasa Bali yang posisinya mengapit Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa.
  3. “Bahasa dan Identitas Sosial: Kajian Tingkat Tutur Bahasa Bima”. Penelitian ini dilakukan oleh Syamsinas Jafar dari Universitas Mataram. Hasil penelitiannya diterbitkan di Departemen Pendidikan Mataram.  Ini adalah penelitian yang menerangkan tingkatan tutur bahasa yang digunakan dalam bahasa Bima.
  4. “Bahasa Bali Sebagai Simbol Identitas Manusia Bali”. I Made Suastra, Universitas Udayana. Penelitian ini menerangkan tentang penggunaan bahasa Bali yang masih digunakan sebanyak 95% di Bali sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
  5. “Tinjauan Sosiolinguistik Bahasa Alay dalam Konstelasi Kebahasaan Saat Ini” oleh Andri Wicaksono, UNS. Hasil penelitiannya adalah mengenai bahasa alay yang merusak bahasa dan membuat perubahan identitas itu melahirkan generasi yang berani bersikap dan asosial atau individualis.

 

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rineka Cipta

Chambers, J.K. Sociolinguistic Theory. 2003. Oxford: Blackwell Publishing.

Fassold, Ralph. Sosiolinguistic of Society. 1990. Oxford: Blackwell Publishing.

Holmes, Janet. An Introduction To Sociolinguistics. 1999. London: Longmann.

Littauer, Florence. Personality Plus. 1996. Jakarta : Binarupa Aksara

Strauss, Claude Levi. ed. Sol Tax. Language and Society. 1979. New York: Mouton Publisher.

Tagliamonte, Sali A. Analyzing Sociolinguistic Variation. 2006. New York: Cmabridge University Press.

Trask, R.L. Key Concept in Language and Linguistic. 1999. London: Routledge.

Yuwono, Untung, dkk. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. 2009. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. 2003.Yogyakarta:Andi Offset.

 

Erin Nuzulia Istiqomah

1006699215

Gender dalam Sastra

Rabu, 10 Oktober 2012

Gender menjadi salah satu hal yang menarik untuk dibahas pada perkembangannya kini. Hal ini tentu saja bukan karena keberhasilannya dalam meyakinkan publik jika kesetaraan gender bisa tercapai dalam keberlangsungan kehidupan, khususnya di Indonesia. Indonesia yang secara umum menganut sistem patriarki, mengahadapi beberapa kesulitan untuk dapat menciptakan keadilan gender. Ketidakadilan gender terhadap perempuan masih sering terjadi di masyarakat Indonesia. Ketidakadilan gender ini masih termanifestasikan dalam berbagai bentuk kehidupan terutama dalam bentuk marginalisasi,  suubordinasi, stereotipe, beban ganda, dan kekerasan terhadap perempuan dalam masyarakat. Lanjut Baca »

           Erin Nuzulia Istiqomah, 1006699215

Khairani, 100

Luthfiana, 100

Suci Indriyani, 1006699644

            Terdapat dua hal penting untuk melihat bagaimana bahasa Austronesia di daratan Asia dan Madagaskar. Pertama, letak geografis, memberi label (nama) terhadap bahasa-bahasa yang belum diinvestigasi sebelumnya merupakan tindakan yang tidak mudah. Bahasa Austronesia di luar Asia dan Madagaskar sulit untuk diidentifikasi karena belum pernah diteliti sebelumnya. Sebagai alternatif, para ahli menggunakan bahasa ekspresi Austronesia Barat sebagai bahan kajian penelitian karena menunjukkan adanya korelasi.
Lanjut Baca »

cover buku

Judul : Iklan Politik dalam Realitas Media

Penulis : Sumbo Tinarbuko

Tebal : 140 halaman

Penerbit : Jalasutra

Idealnya sebuah buku diterbitkan ketika konteksnya atau tren buku sejenisnya masih hangat. Kalau hanya hangat-hangat kuku, ada risiko buku itu akan segera ditinggalkan. Apa efeknya? Tentu saja stok buku tersebut akan memenuhi gudang penerbit. Pada akhirnya, penerbit terpaksa membanting harganya di pesta-pesta buku atau cuci gudang.

Rupanya hal ini sangat diperhatikan ketika menerbitkan buku berjudul Iklan Politik dalam Realitas Media. Buku karya Sumbo Tinarbuko ini diterbitkan Maret 2009 lalu ketika rakyat Indonesia sedang diuber-uber oleh antek-antek partai politik. Waktu itu Indonesia sedang berada dalam masa kampanye pemilu tahap pertama.

Dengan jeli Tinarbuko membedah iklan-iklan politik yang digelar dalam kampanye tersebut. Pisau analisis utamanya adalah desain komunikasi visual. Namun, buku ini tetap menarik untuk dibawa oleh orang-orang yang awam sama sekali terhadap bidang tersebut.

Contoh-contoh yang dipajang sangat mutakhir. Kita dapat menemukan berbagai macam iklan politik dari berbagai macam partai. Tinarbuko tidak hanya mengkritik iklan-iklan ini dari segi baik-buruknya dalam kacamata desain. Dia juga membahas hal-hal menarik seperti iklan caleg yang hanya menonjolkan ketenaran dan apa pengaruhnya terhadap hasil pemilu.

Buku ini juga dilengkapi hasil wawancara seputar iklan politik dengan para pakar komunikasi politik. Beberapa di antaranya adalah Daniel Rembeth (CEO Harian The Jakarta Post), Dody Oktavian (pendiri Komunitas Film Iklan Telesklebes), dan Dyah Pitaloka (dosen periklanan FISIP Undip). Wawancara-wawancara tersebut dapat menambah wawasan kita tentang iklan politik.

Tentu kita tidak lupa bahwa pada tanggal 8 Juli 2009 nanti, kita memilih lagi? Ada 3 calon presiden yang sudah sibuk menarik-narik kita supaya menjatuhkan pilihan kepadanya. Seperti yang dilakukan oleh para calon legislatif beberapa bulan lalu, ketiga capres ini membombardir kita dengan berbagai macam iklan politik.

Hal inilah yang membuat buku Iklan Politik dalam Realitas Media panas lagi. Kita dapat membaca buku ini sebagai acuan menilai iklan-iklan politik yang dilancarkan oleh para capres berkantong tebal itu.

-Melody Violine

Perempuan Punya Cerita

 Oleh Erin Nuzulia Istiqamah

Perempuan Punya Cerita adalah antologi empat film pendek dengan gaya dan cerita beragam. Keempat film yang masing-masing berdurasi 25 menit berkisah tentang permasalahan yang menyelimuti kehidupan dan keseharian perempuan Indonesia. Film produksi PT Kalyana Shira Films ini melibatkan empat sutradara perempuan, dua penulis skenario perempuan, dan dua produser perempuan. Pada kelas Gender dalam Sastra, Rabu 12 Desember 2012 lalu, kami berkesempatan menonton film tersebut. Film dibuka oleh Cerita Pulau yang ditulis oleh Vivian Idris dan disutradarai oleh Fatimah T. Film kedua adalah Cerita Yogyakarta yang juga ditulis Vivian Idris dan disutradarai Upi. Lanjut Baca »